Author Topic: Boys Before Flowers (the missing scene) HIATUS  (Read 8253 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: Boys Before Flowers (the missing scene)
« on: February 25, 2010, 02:22:26 am »
CHAPTER 1

Bandara Internasional Seoul

Seharusnya Goo Jun Pyo sudah duduk manis di pesawat pribadinya sekarang ini, tapi selama 20 menit terakhir dia terus menunda-nunda keberangkatannya. F3 yang dengan setia menungguinya mulai merasa kesal. Pramugari pun sudah bolak-balik sebanyak tiga belas kali ke ruang tunggu untuk memberitahu Goo Jun Pyo bahwa pesawat sudah harus take off. Dan jawaban yang sama terus bergema sebanyak tiga belas kali juga, “Pesawat tidak boleh lepas landas sebelum Jan Di datang”, dan itu membuat F3 memutar bola mata mereka sebanyak tiga belas kali (juga).

Sementara di tempat yang lain tidak jauh dari bandara, Geum Jan Di sedang kesulitan. Mobil baru yang dibelikan Goo Jun Pyo khusus untuknya yang bermerek lotus berwarna pink mendapat surat tilang dari polisi karena kecepatan mengemudi Jan Di sudah melebihi aturan dan dapat membahayakan pengemudi lain.
“Lotus? Di Korea saja produksinya limited edition, darimana kau mendapatkan ini? Kau mencurinya?”, tanya salah satu petugas razia sambil menatap Jan Di curiga.
Jan Di hanya memutar bola matanya dan berkata dengan agak terburu-buru,
“Berikan saja surat tilangnya. Aku harus buru-buru ke bandara”, tapi petugas itu terlihat tidak mau melepaskan Jan Di.
“Berikan kartu identitasmu”, ujar petugas itu.
Jan Di yang sudah kesal setengah mati langsung melemparkan kunci mobilnya ke arah petugas itu dan segera berlari menuju bandara. “Hei”, teriak petugas itu,
Jan Di yang sudah hilang kesabarannya berteriak
“Itu kuncinya, semua surat-surat mobil dan kartu identitasku ada didalamnya. Aku tidak punya waktu untuk meladenimu”.
 Petugas itu hanya geleng-geleng kepala, tapi dia tetap memeriksa mobil Jan Di. Salah seorang temannya menghampirinya.
“Hei, bantu aku memeriksa mobil ini”, ujarnya.
 Petugas yang satu langsung mengambil surat-surat kepemilikan mobil dari dashboard, dan tampak terkejut ketika membacanya.
 “Hei, apa tadi kau membentak-bentak wanita itu?”, tanyanya.
 “Tentu saja, dia pasti mencuri mobil ini”, jawab petugas yang memeriksa Jan Di tadi. “Mati kau! Apa kau tidak tahu siapa wanita tadi?”,
“Memangnya dia siapa? Anak presiden?”
“Dasar bodoh! Wanita tadi adalah Geum Jan Di”,
“Geum Jan Di? Geum Jan Di? Tunangan alih waris ShinWha Group itu?”, ujarnya dengan suara yang super keras, dengan kata lain berteriak.
“Idiot! Hanya dengan melaporkanmu kepada tunangannya, hidupmu tidak akan tenang tiga belas turunan”, ujar temannya menakuti.
Petugas itu hanya menatap jalan yang beraspal dengan merana.
“Geum Jan Di?”, tanyanya lirih.

Geum Jan Di yang sudah kehabisan tenaga karena berlari mengejar waktu, mulai berjalan pelan mengembalikan kekuatannya. Dia meraba-raba saku celananya mencari ponsel, tapi panik kembali menghampirinya.
“Gawat, ponselku tertinggal di mobil. Goo Jun Pyo pasti akan marah besar”, ujarnya.
Jan Di melihat jam tangannya, dan waktu sudah menunjukkan 10.45. Dia terlambat setengah jam dari waktu berangkat Goo Jun Pyo. Dia merasa menyesal karena tadi pagi sebelum berangkat ke bandara, dia berjanji akan mengunjungi Ga Eul, tapi malah kecolongan waktu gara-gara berdebat dengan Ga Eul tentang siapa yang lebih pantas menjadi pendamping Daniel Radcliffe.

TEEEETTT…. Suara klakson motor mengagetkan Jan Di. Jan Di menoleh ke belakang dan mendapati seorang pemuda seumurannya.
“Hei nona, kau mau mati ya? Jangan berdiri di tengah jalan, kau menghalangi semua kenderaan yang mau melewati jalan ini”, ujar pemuda itu.
Jan Di memandang ke arah belakang pemuda bermotor itu, dan mendapati hampir sepuluh kenderaan berbaris dibelakangnya sambil membunyikan klakson mereka masing-masing, bahkan ada yang mengeluarkan kepalanya dan mengeluarkan sumpah serapah kepada Jan Di. Jan Di hanya meringis mendengarnya. Tapi, terbesit satu ide dikepalanya,
“Antarkan aku ke bandara”, ujarnya dengan nada memerintah.
Bagus, sekarang aku sudah seperti Goo Jun Pyo
“Hei nona, apa kau kabur dari rumah sakit jiwa? Tadi kau berdiri ditengah jalan seperti orang yang ingin mati, sekarang malah menyuruhku mengantarmu kebandara seenak jidatmu. Memangnya kau pikir kau siapa?”, ujar pemuda itu penuh dengan nada mengejek.
Jan Di mengambil dompet dari saku celananya, mengeluarkan uang sebanyak 50.000 dan langsung menyodorkannya ke arah pemuda itu. Pemuda tampan itu hanya diam dan menatap dingin Jan Di.
“Maaf nona, aku tahu kau pasti orang kaya, tapi tidak semua bisa dibeli dengan uang”
Jan Di tercengang mendengar perkataan pemuda itu, perkataan itu sama persis dengan perkataannya kepada Goo Jun Pyo, tapi Jan Di tetap tidak mau menurunkan tangannya, bagaimanapun juga dia harus sampai di bandara karena ini terakhir kalinya dia bertemu Goo Jun Pyo. Pemuda itu akhirnya menyerah melihat kelakuan Jan Di
Dasar orang kaya! Mentang-mentang punya banyak uang bisa seenaknya menghina orang lain!
“Ayo naik. Dan simpan saja uangmu itu, aku tidak butuh”
Jan Di tersenyum mendengarnya. Dengan sigap ia menaruh uangnya kembali ke dompetnya dan mengambil helm yang disodorkan pemuda itu. Sepanjang perjalanan Jan Di terus mengomel tentang lambatnya motor pemuda itu. Dan tidak sampai lima menit mereka tiba dibandara, berkat ke-cerewet-an Jan Di melebihi batas normal.
Jan Di langsung melompat bahkan sebelum motor benar-benar berhenti, Jan Di juga bahkan belum mengembalikan helm pemuda itu. Pemuda itu hanya melongo melihat kelakuan ajaib Jan Di, dan dalam hati terus mengomel karena dia harus mengejar Jan Di masuk ke dalam bandara.
Sekretaris Jun Pyo yang melihat Jan Di terlihat kebingungan mencari Jun Pyo, mendekatinya. Dia mengajak Jan Di ke ruang tunggu menemui Jun Pyo. Dengan napas yang masih tersengal-sengal, Jan Di berusaha menjelaskan pada Goo Jun Pyo mengenai keterlambatannya, tapi tidak satu pun keterangan Jan Di yang masuk ke otak Goo Jun Pyo. F4 memandang heran Jan Di yang masih mengenakan helm.
“Hei, sejak kapan ada peraturan bahwa mengemudi mobil harus menggunakan helm?”, tanya Yi Zhung heran.
Jan Di yang mendengar perkataan sunbaenya itu tersentak, dan tanpa sadar mengangkat kedua tangannya menyentuh atas kepalanya.
Gawat! Helm pemuda itu lupa ku kembalikan.
Belum sempat Jan Di menjawab keheranan F4, mereka dikagetkan dengan suara seorang  pemuda.
“Hei nonah., kenapah.. larimuh. cepat sekalihh..? hah..hah..hah..”, ujar pemuda itu sambil memegangi perutnya yang sakit.
Refleks, Jan Di berbalik dan berjalan menuju pemuda itu.
“Mianhe.. hehehe..”, ujar Jan Di menyerahkan helm sambil tertawa.
“Dasar wanita gila!”, bisik pemuda itu.
Jan Di mendengar bisikan itu, tapi karena dia merasa bersalah pada pemuda ini, dia mengabaikannya. Jan di berbalik ke arah Jun Pyo yang mimik wajahnya penuh tanda tanya.
“Yya Geum Jan Di, siapa pria itu?”, tanya Jun Pyo dengan nada sedikit menginterogasi.
“Dia yang mengantarku ke sini”, jawab Jan Di enteng.
“Mengantarmu? Memangnya kau tidak memakai mobilmu?”, tanya Jun Pyo lagi.
Belum sempat Jan Di menjawab pertanyaan Jun Pyo, pramugari yang-sudah-tujuh-belas-kali-datang itu masuk kedalam ruang tunggu.
“Maaf tuan muda, kita benar-benar harus berangkat sekarang juga. Penerbangan sudah tidak bisa ditunda lagi”, ujar pramugari-yang-sudah-tujuh-belas-kali-datang itu.
“Sudah waktunya ya?”, tanya Jan Di lebih kepada dirinya sendiri.
Jun Pyo memandang Jan Di yang sekarang menundukkan kepalanya.
“Hei laundry girl”, ucap Jun Pyo dengan lembut.
“Sudah lama aku tidak mendengar kau memanggilku sepert itu”, ujar Jan Di masih dengan tetap memandang kearah bawah.
Jun Pyo mengangkat dagu Jan Di dan langsung mendaratkan bibirnya ke bibir mungil Jan Di. Jun Pyo merasakan air mata yang meleleh dipipi hangat Jan Di. F3 yang masih ada di dalam ruangan segera keluar. Perlahan Jan Di membuka bibirnya dan membiarkan lidahnya beradu dengan lidah Jun Pyo. Jun Pyo kembali merasakan air mata yang jatuh, dan segera melepaskan ciumannya. Goo Jun Pyo menatap Geum Jan Di sesaat, kemudian menghapus air mata Jan Di. Selama lima menit mereka berpelukan dalam diam.
Kenapa bisa jadi seperti ini? Disaat semuanya sudah berjalan lancar, disaat ibu Goo Jun Pyo sudah bisa menerimaku, disaat Goo Jun Pyo sudah bisa mengingat kembali diriku, kenapa kami harus terpisah?
F3 kembali masuk ke dalam ruangan, dan berusaha menenangkan Jan Di.
“Hei yo, kemana Geum Jan Di milik F4 yang kuat dan tegar itu?”, ujar Woo Bin sambil menepuk lembut kepala Jan Di yang masih berada dalam pelukan Jun Pyo.
“Jan Di-ya, Jun Pyo harus segera berangkat. Dan lagi, jam 12 nanti kau harus ikut les agar kau bisa masuk universitas kan?. Ayo, jangan sampai kau terlambat”, ujar Ji Hoo lembut.
Jan Di melepaskan pelukannnya, dan dengan agak sedikit berjinjit dia mengacak-acak rambut keong Jun Pyo.
“Yya!”, teriak Jun Pyo sambil menghindari serangan Jan Di berikutnya.
“Tolong jaga dia”, lanjutnya sambil memandang F3.
F3 menganguk pasti mendengar permintaan Jun Pyo.
“Dan kau! Tunggu aku”, ujarnya kepada Jan Di.


***

“Bagaimana ujianmu? Mudah bukan?”, tanya sunbae Ji Hoo pada Jan Di setelah dia mengikuti ujian masuk universitas.
Jan Di hanya menganguk sekedarnya sementara matanya tetap tertuju ke layar televisi, Jan Di dan Woo Bin sementara bermain game baru milik Woo Bin. Woo Bin mengajaknya bermain game karena khawatir Jan Di akan terkena stroke ringan gara-gara berkutat dengan buku-buku tebal selama seminggu penuh.
“Kau sudah menelpon Jun Pyo?”, tanyanya lagi, kali ini dia mengambil gitarnya dan memetiknya asal-asalan.
Jan Di pun hanya menganguk sekedarnya (lagi). Dia tidak ingin kalah lagi, karena sudah tiga kali dia kalah dari Woo Bin. Ji Hoo hanya menghela nafas melihat jawaban Jan Di.
“AAAAAHH… kalah lagi!”, keluh Jan Di.
Woo Bin hanya tersenyum penuh kemenangan.
“4-0”, lanjutnya.
“Kali ini aku tidak akan kalah! Ayo main lagi”, ajak Jan Di dengan semangat membara.
Woo Bin menengok ke arah Jin Hoo meminta persetujuan. Ji Hoo menggelengkan kepalanya dan memberi pandangan waktunya-untuk-menelpon-Jun Pyo-kalau-tidak-mau-ditumis-hidup-hidup.
“Err, Jan Di-ya, lebih baik kau menelpon Jun Pyo dulu, dia pasti sedang menunggu telepon darimu”, ujar Woo Bin pada Jan Di yang sekarang sedang mencari game baru.
Jan Di hanya menggelengkan kepalanya dan berkata “Sudah ku bilang kan? Aku sudah menelpon Goo Jun Pyo dan hanya sekretarisnya yang mengangkat panggilanku”.
Woo Bin dan Ji Hoo saling berpandangan mendengar jawaban Jan di.
“Ya sudah, ku bantu kau menelponnya”, ujar Ji Hoo mengambil ponsel dari tas Jan Di.
“E, tidak perlu. Ku telepon sendiri saja”, balas Jan Di cepat dan langsung merebut ponselnya dari Ji Hoo.
Jan Di berjalan keluar dari markas berkas F4 dan berpura-pura menelpon Goo Jun Pyo. Yak, berpura-pura. Dia tahu dia harus melakukan ini, karena dia tidak ingin menganggu Goo Jun Pyo yang sekarang sedang mati-matian mengembalikan kejayaan ShinWha Group.



maaf kalo gak bagus, ini ff pertamaku [heh]
« Last Edit: February 25, 2010, 02:55:39 am by voldi »
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME