«
Reply #90 on: January 07, 2011, 11:02:58 pm »
BEHIND THE SHINING STAR II
Part 3
Detektif Han tertawa melihat penampilan temannya, pria di depannya terlihat sangat necis dengan kemeja yang terselip rapi di celana dan jas yang sangat serasi dengan kemeja itu, rambut pria ini sangat stylist, dan Han semakin ngakak melihat celanannya, celana pensil.
“Ha ha ha, terus saja tertawa,” pria di depannya merasa diperolok. Dengan susah payah, Han menghentikan tawa. Gedung kosong itu tampak tak terawat, dan hanya orang gila saja yang mau mengadakan pertemuan di tempat ini, tapi tempat bobrok inilah yang paling aman untuk pertemuan keduanya.”Apa yang kau dapat?” tanya Han. Pria stylist itu menyerangai,”Apa yang kau beri?”
Han menarik sudut bibirnya,”Kau perhitungan sekali!”
“Kau sudah berjanji, lagi pula kasus ini bukan prioritasku, aku sedang menangani pembunuhan gay,”terang pria itu. Itulah sebabnya polisi yang satu ini berpenampilan demikian, rupanya dia sedang menyamar untuk penyelidikan. Detektif Han selalu kesulitan dengan penyamaran karena tampangnya yang terlalu serius dan para penjahat itu langsung bisa mencium aroma polisi dari tubuhnya, maka dia meminta bantuan temannya itu. Han mengeluarkan sesuatu di balik mantelnya lalu menyodorkan ke arah pria itu.
“Apa ini?” tanya sang ahli menyamar.
“Dua tiket ke Haway, anggap saja ini bantuanku agar kau bisa berkencan dengan pasangan gaymu,” sekali lagi Han tertawa.
“Kau!” pria itu memukul bahu Han, Han meringis kesakitan.
“Get it or not?” Han merebut dua tiket itu. Pria itu terkejut dan cepat merebutnya kembali,”Seorang actor.”
“Apa kau bilang?”
“Pelakunya adalah actor.”
“Actor!”
“Ya, itu yang aku dapat.”
“Siapa?”
“Mereka bilang tubuhnya jangkung.”
“Hah, kau kira berapa banyak actor jangkung di Korea ini?” hardik Han,”Yang kau katakan sangat konyol.”
“I don’t care. Hanya itu yang ku dapat. Setidaknya kasus ini besar, korbannya warga negara asing dan pelakunya actor local, kau pasti akan naik pangkat jika berhasil memecahkan kasus ini. Senang berbisnis denganmu, Han,” pria stylist itu berlalu.
“Hai, hai!” Han memanggil pria itu, tapi yang dipanggil tidak menghiraukannya, hanya melambaikan tangan dan tetap meninggalkan tempat itu. Ponsel Han berdering dan segera diangkat.
”Nick Stollen sudah sadar,” kata Hoongkie di ujung telephon. Han melonjak girang,”Lakukan sketsa wajah secepatnya.”
“Akan kita usahakan, semoga tim medis mengijinkan kita melakukan itu mengingat keadaan Nick.”
“Terserah, yang penting pelaku segera dikenali,” seloroh Han. Dia tiba-tiba merasa penasaran. Seorang actor! Hm, actor jangkung? Siapa? Mungkin benar kalau ini akan jadi kasus besar.
=====< * >=====
Sehari sudah semenjak pertengkaran Sun dengan B-lady. Sun terlihat sangat tidak bersemangat pagi ini, semua pekerjaan dijalaninya dengan setengah hati, bahkan semalam dia sudah melarang Mino menemuinya, dia tidak ingin Mino melihat wajah sedihnya, dia berbohong ketika Mino menelephon, mengatakan bahwa hubungan dengan Oemmanya tetap baik-baik saja.
Hari merangkak siang, percuma Sun tetap memaksakan diri bekerja, sangat susah berkonsentrasi, akhirnya dia mendatangi Manolin Café, menghibur diri dengan menjadi barista di café miliknya itu.
Seorang wanita karir terkejut melihatnya, hal langka bagi wanita ini dilayani oleh artis sekaligus pemilik café,”Anda tidak sibuk siang ini?”
“Seperti yang anda lihat,” jawab Sun.
“Bisa berikan saya Coffelatte?”
“Tentu,” Sun menjawab dengan menampakkan lesung pipitnya dan segera membuatkan pesanan.
“Bisa ganti saluran tv-nya dengan siaran infotainment?” pinta wanita itu lagi saat Sun menyajikan pesanannya.”Infotainment? Anda suka acara itu?”
“Iya, siapa tahu ada Anda di sana?”
Sun menurutinya, saluran TV segera menayangkan acara infotainment. Para pengunjung café mulai menoleh ke layar televisi. Sun tersenyum saat satu persatu berita dari teman sesama artis muncul. Semua kaget saat sebuah berita yang akhirnya terpampang,
“Aktor LMH ditangkap di apartemennya atas sangkaan penusukkan terhadap turis asing.”
Wanita karir itu berbalik ke arah Sun,”Menurut Anda, apakah dia benar melakukan itu?”
“Siapa?”
“Lee Min Ho,” jawab wanita itu sembari menunjuk TV. Sun mengikuti arah telunjuk itu dan menyadari semuanya. Serta merta Sun memperhatikan berita itu lebih seksama, dan dia mulai gugup. Sun segera menuju ruang pribadinya di Café itu, perasaannya tidak karuan, berjalan mondar-mandir sambil menggigiti kuku.”Tidak mungkin, itu semua tidak mungkin, malam itu dia bersamaku….. Bumie! Ya, Bumie, aku harus menelphon Bumie.”
“Bumie!” seru Sun saat ponselnya terhubung.
“Oh, ya, Noona, aku sudah mendengar kabar itu,” rupanya Bumie sudah tahu maksud Sun menelphon.
“Itu tidak mungkin. Malam itu Mino ada bersamaku!”
“Aku kurang tahu dengan kasus ini, Noona. Tapi aku berencana menemuinya di penjara siang ini.”
“Aku ikut! Aku harus mengatakan pada polisi yang sebenarnya.”
Bumie diam sebentar,”E… aku tidak tahu, Noona, tapi… tidakkah hal itu akan membongkar hubungan yang kalian rahasiakan selama ini?”
“Persetan dengan semuanya!”
“Aku kenal Mino, Noona. Dia pasti tidak setuju.”
“Tidak peduli! Aku harus menemuinya!”
Bumie semakin gusar,”Begini saja. Noona ke kantor polisi dengan memakai mobil orang lain, terserah mobil siapa asal jangan mobil Noona, tapi jangan langsung masuk, tunggu di tempat yang agak jauh dari kantor polisi. Biar aku yang menemui Mino dulu, sebenarnya aku tidak yakin Mino mau Noona temui, biar aku pastikan dulu, jadi tunggu aku untuk menjemput. Araso!”
“Apa saja, aku ikut saja, Bum.” Jawab Sun. Bumie menghela nafas,”Tenanglah di sana, Noona. Jangan gegabah.”===== < * > =====
“Mino, kau harus memikirkan semua ini. Ini adalah alibi yang sangat kuat!” ujar Manajer Mino. Bumie yang ada di ruangan itu tampak gusar, sepuluh menit yang lalu Sun mengirim SMS bahwa dia sudah menunggu di dalam mobil, di pertigaan sekitar tiga ratus meter dari kantor polisi.
“Sido!” tolak Mino. Bumie menghela nafas,”Benar kata Manajer. Dengan mengatakan bahwa kau bermalam bersama Sun waktu itu, kau segera bebas dari tuduhan.”
“Kau bodoh, Bum. Oke, aku mengatakan kalau aku bersama Sun, lalu mereka menanyai Sun, Sun mengiyakan, dan tidak sampai di situ saja, wartawan-wartawan brengsek itu akan bertanya lebih lanjut, lalu mau ku jawab apa? Bercinta semalaman dengannya? Dan bagaimana nasib Sun setelah itu? Kalian pernah memikirkan itu?”
Mino memijit pelipisnya, dia tidak pernah menyangka kejadian ini menimpa dirinya. Menjadi tersangka penusukkan turis asing hanya karena sketsa wajah.”Aku boleh saja hancur, asal jangan Sun. Jalan Sun masih sangat panjang!”
“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya sang manajer.
“Ah, kau manajer bodoh, bisa-bisanya kau bertanya padahal itu tugasmu,” hardik Bum. Manajer itu mendelik ke arahnya,”Pihak manajemen sudah menunjuk pengacara, tapi jika pengacara itu tahu alibi ini, dia pasti juga akan menggunakannya.”
Mino memejamkan mata, perkataan manajer itu ada benarnya juga, sekarang bagaimana caranya agar pengacara itu tidak tahu,”Aku akan menjadi Goo Jun Pyo. Goo Jun Pyo menyelesaikan semuanya dengan uang.”
Bumie terkekeh, perkataan sahabatnya ini terdengar konyol,”Jangan melucu, Mino-ssi. Ini bukanlah serial drama.”
“Kita sudah hidup di dunia itu. Di situ ada aktor dan sutradara, untuk sementara biarkan aku menjadi sutradara sekaligus aktor untuk keluar dari kasus ini,” pinta Mino. “Pak manajer, tawari turis itu dengan sejumlah uang agar mau berdamai.”
“Kau gila, Mino-ssi. Mereka orang Amerika, sudah pasti mereka langsung berlindung di kedutaan besar Amerika!” tolak sang manajer.
“Itulah sebabnya aku menyuruhmu, kau pintar bernegosiasi.”
Ponsel Bumie berbunyi. Sun mengirim pesan untuk ke sekian kalinya. Dia semakin gusar. “Siapa itu?” tanya Mino.
“Hye Sun Noona,” jawab Bum,”Dia menunggu di pertigaan seberang.”
“Pabo!” teriak Mino. Bumie menghempaskan punggung di sandaran kursi.”Telephon dia sekarang, bilang agar tidak bertindak yang macam-macam,” perintah Mino.
“Dia hanya ingin menemuimu!”
“Antwe! Katakan saja aku tidak bisa ditemui, sedang ada pertemuan dengan pengacaraku, apa saja agar dia segera pulang!”
Bumie melakukan apa yang diperintahkan Mino. Dia menjauhkan diri dari Mino dan manajernya untuk menelphon Sun. Sementara Mino dan manajer itu meneruskan permbicaraan,”Seperti yang ku bilang tadi tawari mereka uang, aku rela kehilangan apa saja agar mereka mau melepas kasus ini.”
“Jika mereka tidak mau?”
“Tekan mereka agar mau menerimanya.”
“Maksudmu aku harus bekerja sama dengan geng seperti Woo bin dalam BOF?”
“Oh my God, Manajer! Mereka turis asing, cari kelemahan mereka, ijin tinggal, visa yang habis masa, atau apa saja!” Mino semakin tidak sabaran, tidak biasanya manajernya ini begitu lamban berpikir.
“Araso! Araso!” sahut manajer. Mino menarik ujung bibirnya. Bum yang sudah selesai menelphon Sun kembali di antara mereka,”Sangat sulit meyakinkannya, tapi akhirnya dia mau mengerti setelah aku bilang kalau akan menemuinya setelah ini.”
Kini giliran Mino menyandarkan diri di kursi,”Bilang padanya aku tidak mau ditemui selama di penjara.”
Bumie mengangguk. Mino memerintah lagi,”Bilang juga padanya agar tidak bicara apa pun mengenai pertemuan kami yang terakhir!”TBC Part 4
« Last Edit: January 07, 2011, 11:10:42 pm by sisicia »

Logged