note : sambungan dari yang di atas
![[hmpfh]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/hmpfh.gif)
”Segelas whisky .. “ Rathyan mengangkat tangannya begitu menjatuhkan diri di kursi.
Seorang bartender pria mendekati mereka. “Ne .. ,” jawab si bartender sambil menoleh pada Daze. “Bagaimana dengan agashi? Whisky juga?”
“Ti .. tidak .. ,” ujar Daze gugup.
“Dia tidak minum alkohol!” sela Rathyan. Membuat Daze langsung menundukan kepalanya. “Ada juice?”
“Yup—“ sahut si bartender keheranan. Sangat jarang—atau hampir tak ada pelangan yang memesan juice di barnya. “Kami memiliki fruit punch. Yang beralkohol dan tak beralkohol. Apakah agashi minum itu?”
“Ya. Yang tak beralkohol saja .. ,” sahut Rathyan.
“Ok .. “ si bartender meninggalkan mereka. Lima menit kemudian dia kembali lagi dengan pesanan mereka. “Whisky and fruit punch .. “
Rathyan mengangguk kaku sedangkan Daze menerima sambil terseyum kecil. “Ghamsamida .. “
Rathyan langsung menyambar whiskynya dan menghabiskannya dalam satu tegukan. Gelas di tangannya dijatuhkan dengan keras.
“One more!!”
Bartender tadi mendekat dan menuang gelas Rathyan dengan whisky kemudian menyorongkannya pada pemuda itu. “Silahkan tuan .. “
Rathyan meneguknya kembali. Kali ini juga habis dalam satu tegukan. Daze memperhatikan semua itu dari tempatnya. Perlahan dihirupnya fruit punch di tangannya dengan pandangan bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada anak ini?
Rathyan kembali meluncurkan gelasnya kepada si bartender.
“Hey—“ Dia mengangkat tangan. Si bartender yang sudah sigap dengan sikap-sikap dari para pelangannya segera berlari kearah Rathyan.
“Ne, sir .. “ Dia kembali menuang gelas Rathyan dengan whisky.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Daze memberanikan dirinya bertanya.
Rathyan menoleh padanya. Tanpa beralih, dia meraih gelas dan kembali meneguk whiskynya. Ketika tangannya terangkat kembali, Daze segera menekannya ke atas meja.
“Cukup, Rath!! Sudah cukup!! Terlalu banyak alkohol tak baik buat kesehatan!!”
Rathyan mendengus. Tubuhnya dihempaskan ke belakang.
“Ada apa?”
Rathyan tak menjawab. Kepalanya menunduk dan menatap semu ke kuku-kuku tangannya yang terpotong pendek.
“Ada masalah?” Daze menyentuh lengan Rathyan. “Kau bisa menceritakannya padaku .. “
Pemuda itu tetap membisu.
“Tak mempercayaiku?” desah Daze. “Kau tak pernah mau menceritakan apapun padaku … ,” lanjutnya pelan. “Tak pernah … “ Daze menunduk, merasa menyesal.
Rathyan bergerak. Mengangkat wajahnya dan perlahan menoleh kearah Daze. “Kau percaya padaku?” tanyanya dengan nada pelan. “Apa kau mempercayaiku?”
“Aku .. ,” Daze mengangkat wajah, tapi perkataannya tak berlanjut. Apa yang harus dijawabnya sementara dia masih meragukan perasaan pemuda ini terhadapnya? Dia tak tahu.
“Tak bisa?!” Rathyan tersenyum kecut. “Karna aku memang sulit dipahami, I ya kan?”
Daze tak menjawab.
“Tapi kau mau mencoba memahamiku kan?” lanjut Rathyan dengan nada berharap. “Aku sangat menderita .. “ Dia mendesah halus. “Sakit, itu yang kurasakan selama ini .. “ Pandangan Rathyan meredup.
Daze membalas tatapannya. Dia tak mampu berpaling. Sinar mata yang mengambarkan sejuta derita itu mengoyak kalbunya. Dia juga tak mampu menepis ketika tangan itu mulai menyentuh wajahnya, mengelus pipinya dengan lembut.
“Kau tahu perasaanku?” tanya Rathyan serak. Kemudian kebisuan menyelimuti mereka. Musik yang masih bermain-main dengan keras sama sekali tak berpengaruh pada diri mereka. Saling menatap dan menuangkan perasaan membuat pendengaran mereka seakan sudah tak berfungsi dengan baik. Hanya ada Rathyan dan Daze di bar ini, bahkan di dunia ini.
Rathyan mendekati Daze secara perlahan-lahan. Sinar matanya sayu, hanya tertuju pada gadis di depannya. Sementara tangannya yang mengelus pipi turun ke leher dan menyusup ke belakang. Pelan-pelan ditariknya Daze kearahnya. Semakin mendekat dan mendekat, sampai hidunya menyentuh pipi Daze.
Daze memejamkan matanya. Hembusan halus terasa di wajahnya. Aroma whisky yang sangat kental. Dia menghirup perlahan. Samar-samar, aroma lain juga memasuki hidungnya. Aroma khas yang sangat dirindukannya. Wangi cemara yang senantiasa melekat di tubuh Rathyan. Daze menarik nafas dalam-dalam.
Lalu bibir lembab dan kenyal itu terasa menyapu bibirnya. Tubuh Daze menegang. Tekanan di tenguknya semakin keras sehingga wajahnya semakin dekat, menempel ketat di wajah Rathyan. Dia membuka mulut dan sesuatu mulai melumat bibirnya. Lidah yang kasar menjulur masuk ke dalam mulutnya.
Daze mendesah. Sesaat kemudian dia mulai membalas lumatan-lumatan Rathyan. Dia berdiri dan berjalan kearah pemuda itu, kemudian merangkulkan tangan ke pinggangnya. Erangan-erangan kecil mulai terdengar, walaupun tenggelam dalam musik keras yang terus diputar dalam bar itu.
“Rath .. ,” panggil Daze dengan suara kering.
“Hmm—“ Rathyan memperdalam ciuman, sampai Daze gelagapan karna kehilangan nafas. Mereka menarik nafas secara bersamaan, setelah itu ciuman panas tadi berlanjut lagi.
Daze tiba-tiba merasakan sesuatu menyusup ke dalam kaosnya dan meremas dadanya. Dia tahu itu tangan Rathyan. Dan dia juga sadar di mana dia berada. Tapi dia sudah tak perduli lagi. Permainan-permainan Rathyan begitu dasyat untuk ditolak. Daze ikut menyusupkan tangannya ke balik pakaian pemuda yang sedang dipeluknya. Tapi bukan di bagian dada, melainkan di bagian belakang celana. Bottom Rathyan yang padat dan menjulang terasa enak dan kenyal buat disentuh. Daze mengerakan tangannya naik turun, menyapu bagian itu. Terdengar Rathyan mendesah kemudian mengigit bibirnya.
“Hey—“
Keasyikan itu tiba-tiba dibuyarkan oleh kepala si bartender yang condong ke depan.
“Kenapa kalian tak melanjutkannya di kamar hotel aja?” lanjut si bartender dengan tampang polos.
Rathyan dan Daze tersentak. Ciuman mereka terlepas. Dengan cepat mereka berpaling kearah si penganggu.
“Apa urusannya denganmu?!!” ujar Rathyan dongkol. Dia merogoh saku celana, mengeluarkan dompet dan melempar beberapa lembar won kepada bartender itu. “Tak usah kembali!!” dengusnya. Kemudian dia menyambar tangan Daze dan menariknya keluar dari situ. “Kita ke tempat lain!!”
“Ke .. kemana?” tanya Daze ngeri.
Bukan ke kamar hotel seperti saran bartender tadi kan?
***** oOo *****
Angin malam bertiup membawa hawa dingin yang cukup mengigit tulang. Air laut yang kelam terlihat tenang, menjanjikan sejuta misteri, namun sesekali ombak tipis menampar tiang-tiang penyangga dermaga menimbulkan suara keras yang sedikit berisik.
Rathyan diam seribu bahasa. Sementara Daze meliriknya lewat ekor mata. Pemuda ini tak mengeluarkan suara sejak keluar dari bar’Leo’. Dua gelas kopi berlabel starbucks tergenggam di tangan mereka. Daze mengerak-gerakan tangan di gelas tersebut guna menghangatkan tangannya. Kemudian dia mengigit bibir menahan rasa dingin yang semakin mengigit. Kenapa anak ini ke dermaga malam-malam begini? Daze menghembuskan nafas keras-keras.
Rathyan tiba-tiba bergerak dari posisinya. Dia membuka jaket kemudian menyampirkannya ke pundak Daze. Mata gadis itu terbelalak lebar. Apa dia bisa membaca pikiranku?
“Dingin .. “ Rathyan mengosok-gosok tangannya.
“Kau … kau tak ingin pulang .. “
Rathyan menoleh padanya. “Aku masih ingin berada di sini. Apa kau ingin pulang?”
“Hmm—“ Daze menghirup kopinya.
“Kalau begitu kau pulanglah. Omma-mu pasti sudah menunggumu .. “
Daze tak menyahut.
“Dan persiapkan dirimu. Dua hari lagi kita berangkat ke Perth .. Ada meeting dan seminar yang harus kuhadiri di sana .. ”
“Mwo?!!!” Daze terperanjat. “Ke Perth? Aku dan kau?”
“Ne .. ,” jawab Rathyan. “Kau sekretaris pribadiku, tentu saja harus ikut. Ada masalah?”
Daze mengeleng keras. “Kenapa semendadak ini?” serunya, “Aku sama sekali belum mempersiapkan tiket pesawat dan hotel tempatmu menginap .. “
“Tak perlu. Nona Kim sudah kuperintahkan mempersiapkan segala sesuatu buat keberangkatan kita. Jadi, kau tinggal mempersiapkan dirimu kemudian berangkat bersamaku. Beres!”
“Tapi .. “
“Sudah! Jangan membantah lagi!!”
Daze mendesah. Padahal yang ingin dibicarakannya adalah penolakannya terhadap keputusan tadi. Dia tak bisa menemani Rathyan menghadiri meeting dan seminarnya di sana. Beberapa hari lagi pernikahan Dave, dan dia harus menghadiri acara itu. Lagipula dia sudah rindu sama keponakan kecilnya. Bukankah dia sudah mengajukan cuti untuk itu? Apa anak ini sudah lupa?
Daze menoleh pada Rathyan, kemudian menekuk bibirnya kesal.
***** oOo *****
« Last Edit: January 10, 2011, 07:28:34 pm by mrs. Lee Min Ho »

Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ... keeps it strong!!!
Our MinSun