CallMinsun
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
1 Hour
1 Day
1 Week
1 Month
Forever
Login with username, password and session length
News:
Home
Search
Calendar
Login
Register
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
SPIDERWEB HIATUS
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #24475
« previous
next »
Print
Pages:
1
2
3
[
4
]
5
6
...
8
Go Down
Author
Topic: SPIDERWEB HIATUS (Read 5464 times)
voldi
Hero
Posts: 1051
Location: Indonesia
Re: SPIDERWEB chap 1 17 desember
«
Reply #45
on:
January 14, 2011, 03:01:56 am »
CHAPTER 2
Dengan tangan bersedekap didada dan kaki yang dengan tidak sopannya di angkatnya ke atas meja didepannya, GeeGee memandang dengan bosan pemandangan disekitarnya. Hingar bingar lokasi syuting, teriakan-teriakan sutradara, dan histeria cewek-cewek kurang kerjaan yang setiap kali melihat kakaknya pasti akan berteriak –yang untungnya tidak mimisan– membuat telinganya sakit . Dia menghembuskan napas bosan. Pemandangan seperti ini sudah sering ditemui di Holywood (“Kecuali cewek-cewek gila ini!!” batinnya kesal.). Aktor sekelas Justin Chatwin saja bisa diajaknya jalan.
“Kau bosan?” tanya Jae Ha.
“Menurutmu?”
Jae Ha tersenyum maklum. Diletakannya naskah drama yang sedari tadi digenggamnya ke atas meja. Ia menatap GeeGee dengan pandangan defensif, “Biasakan dirimu memanggilku ‘oppa’, araso?”
GeeGee memutar bola matanya. Sudah hampir dua minggu ia tingga di Korea, dan selama itu belum pernah sekalipun ia memanggil ‘kakak’nya ini dengan sebutan ‘oppa’. Terang saja, dua belas tahun terpisah dari mereka –keluarga kandungnya– membuatnya tidak terbiasa dengan panggilan-panggilan seperti itu. “Ya ya ya... oppa.”
GeeGee kembali mengedarkan pandangannya selagi Jae Ha kembali menekuni naskahnya. Mereka berdua –Jae Ha sebenarnya, tengah break makan siang. Mereka duduk tidak jauh dari kerumunan fans Jae Ha yang menatap GeeGee dengan pandangan sengit plus aura membunuh. GeeGee mendengus melihat salah seorang dari mereka mengacungkan jari tengah kearahnya. Berasa ingin menambah kejengkelan cewek-cewek kurang kerjaan itu GeeGee bergelayut dengan manja di lengan kiri Jae Ha.
“Weo?” tanya Jae Ha heran. Ia mengikuti arah pandang GeeGee yang menatap dengan pandangan puas kearah fans-fansnya.
Ia tersenyum tipis dan kemudian melanjutkan membaca naskah. Membiarkan GeeGee bergelayut manja dilengannya. Darahnya berdesir ketika tak kala benda kenyal milik GeeGee tak sengaja bersentuhan dengan lengannya. Seketika wajahnya memerah. Walaupun sudah beberapa kali ia beradegan intim dengan lawan mainnya tak urung jantungnya berdetak lebih cepat. Yang berada di sampingnya kini adalah GeeGee, Han Jae Kyung, adik manisnya yang telah bertranformasi menjadi gadis remaja yang pastinya di idolakan banyak pria. Tak bisa dipungkiri rasa rindu yang menggebu-gebu ketika terpisah dari adiknya membuat Jae Ha secara tidak sadar telah menumbuhkan sifat obsesi akan diri sang adik.
“Ehm.” Jae Ha berdehem membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba kering, “Tidak akan ada gunanya kau membuat mereka cemburu, Dolly. Sebentar lagi mereka pasti akan tahu bahwa kau adalah adikku.” Setitik penyesalan datang dengan cepat melingkup ruang hatinya ketika menyebut kata ‘adik’, tapi perasaan itu kembali hilang secepat datangnya perasaan tadi.
“Ugh!” GeeGee melepaskan gelayutannya di lengan sang kakak. Dengan bibir ditekuk ia memandang Jae Ha dan berkata, “Kenapa kita harus jadi kakak adik sih? Perasaan wajah kita tidak mirip.”
JLEB
Perkataan GeeGee sontak membuat Jae Ha terpaku. GeeGee berkata seperti tadi bukankah berarti GeeGee tidak menginginkan adanya ikatan darah diantara keduanya? Apakah itu berarti GeeGee juga...?
Dengan cepat Jae Ha menghapus pikiran-pikiran itu dari otaknya. Ia mengacak rambut panjang sebahu GeeGee membuat sang empunya mendengus keras. “Siapa yang bilang kita bukan kakak adik? Kalau kau bukan adikku lalu kau anak siapa?”
“Mom and Dad.” tandas GeeGee. “Ngomong-ngomong, kenapa kau sering memanggilku Dolly?”
Jae Ha tidak menjawab. Ia menunggu hingga GeeGee memperbaiki kata-katanya.
GeeGee mendengus keras melihat sang kakak tidak bereaksi terhadap pertanyaannya. “Araso araso. Oppa, kenapa kau sering memanggilku Dolly, hm?” tanya GeeGee dengan suara yang dibuatnya selembut mungkin. Melanggar peraturan yang diberlakukan kakaknya ternyata tidak semudah melanggar peraturan momnya.
“Kau tahu apa artinya dolly?”
“Aaa. Boneka?”
“Apa kau tidak ingat jika masih kecil dulu kau sangat menyukai boneka?”
GeeGee mengangkat alisnya tinggi-tinggi, “Aku? Menyukai boneka?” sekali lagi dia mendengus. “Jangan sampai teman-temanku mendengar ini.”
“Wee?”
“Dengar. Di Amerika anak-anak seharusnya tidak bermain boneka. Itu sangat memalukan. Setidaknya kau harus memiliki dua nintendo, lebih dari itu kau akan dianggap berkuasa.”
“Mwo?”
GeeGee tidak tertarik meneruskan pembicaraan ini, ia lebih memilih memandang seorang wanita separuh baya yang tengah berjalan kearah mereka. Belum sempat ia bertanya pada kakaknya, wanita itu telah memanggil kakaknya terlebih dahulu.
“Jae Ha.”
Jae Ha sontak menoleh. Sohn Ye Jin berjalan semakin tergesa-gesa ketika dilihatnya Jae Ha menoleh kearahnya. Ketika wanita itu telah sampai ditempat mereka Jae Ha segera berdiri menyambutnya.
“Noona. Anyong.”
“Anyong, Jae Ha.” Mereka saling kecup pipi kanan kiri. Berbincang-bincang dengan bahasa yang sedikit tidak mengerti oleh GeeGee (ingat, GeeGee baru dua minggu di Korea). Baru setelah ia berdehem, Jae Ha menoleh padanya dan menarik GeeGee berdiri dari tempatnya.
“Han Jae Kyung.” Jae Ha berkata pada wanita dihadapannya itu.
“Call me GeeGee.” Kata GeeGee bahkan sebelum wanita itu bersuara untuk menyapanya.
Ye Jin mengangguk pelan sambil tersenyum mengulurkan tangannya. “Sohn Ye Jin.”
GeeGee menatap tangan itu dengan pandangan err—jijik mungkin. Ye Jin tersenyum melihatnya, sedangkan Jae Ha? Kembali sibuk berkutat dengan naskahnya.
OoO
“Bagaimana dengan syutingnya?” tanya omma ketika mereka sekeluarga sedang makan malam.
“Seperti biasa.” jawab Jae Ha sambil terus melahap makanannya.
Omma mengamati perilaku GeeGee yang diam seribu bahasa ketika ia dan Jae Ha baru tiba dari lokasi syuting. Ia menunggu sampai makan malam selesai dan kemudian menghampiri putri bungsunya itu di kamar.
“Ada yang mengganggu pikiranmu, sayang?” tanya omma, ia mengelus pelan puncak kepala GeeGee.
GeeGee membalikkan tubuhnya yang semula tengkurap menjadi telentang. Ia tersenyum tipis -nyaris tak terlihat kepada omma. “Nothing. I just.... umm... I miss mom and dad, omma.” ujar GeeGee polos. Tak menyadari dampak yang ditimbulkan akibat pernyataannya. Omma terpaku. Beberapa jam setelah GeeGee tiba di Korea ia telah menyadari kesalahannya membiarkan pasangan Watson membawa putri kesayangannya pergi dua belas tahun yang lalu. Andaikan waktu itu semuanya baik-baik saja, GeeGee pasti akan menjadi anak manis, bukan menjadi seperti sekarang -manja, egois, sombong, arogan. Omma mengerti bagaimana pasangan Watson, apalagi adiknya yang telah di vonis dokter tidak bisa mengandung, memanjakan GeeGee. Ia tidak bisa menyalahkan siapapun, kecuali takdir yang begitu kejam.
Omma tersenyum lembut menutupi kegundahan hatinya. Ia mengecup kening GeeGee dan beranjak meninggalkan kamar dalam diam. Belum sempat ia memegang handle pintu, ia terlonjak kaget ketika mendengar pertanyaan GeeGee, “Apa aku boleh kembali ke Amerika, omma?”
Dan malam itu, Omma menangis sepuasnya dihadapan Tuhan. Menumpahkan seluruh beban yang telah dipikulnya selama dua belas tahun. Membiarkan dirinya terlihat begitu lemah dihadapan Maha Kuasa. Menangkup kedua tangan ringkihnya hanya untuk satu permintaan.
Kembalikan Han Jae Kyung miliknya.
OoO
Pagi itu angin musim semi bertiup lembut membawa bunga-bunga dandelion. GeeGee telah bersiap-siap memasuki hari pertamanya di sekolah barunya. Semula ia menolak dengan keras ketika mengetahui bahwa ia akan di sekolahkan. Ia menuntut agar home schooling saja, tapi appa menolak dengan keras tuntutan itu. Dan akhirnya disinilah GeeGee sekarang. Di depan salah satu sekolah swasta paling terfavorite di Korea, Shinhwa School, dan memakai seragam yang telah dipermaknya habis-habisan.
Seluruh siswa yang melihatnya berdecak kagum melihat penampilan GeeGee yang sangat Amerika. Tidak ada yang berani menegur akan seragamnya yang telah membuat satu sekolahan heboh. GeeGee tersenyum puas melihat pandangan iri serta kagum yang dilayangkan padanya. Matanya berkilat aneh.
Kehidupan baru seorang Han Jae Kyung akan dimulai dari sekolah ini. Karena.
Shinwha adalah milik keluarga Han.
POJOKAN AUTHOR :
Hueeee.... lagi-lagi pendek. Nyiahahahaha (ketawa setan) terserah mau hammer saya, saya mau kabur dulu. Mau buat fict oneshoot pake pairing Yoo Ah In-Goo Hye Sun. Daaaaaaah.....
Logged
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME
Print
Pages:
1
2
3
[
4
]
5
6
...
8
Go Up
« previous
next »
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
SPIDERWEB HIATUS
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #24475