Author Topic: DESTINY HIATUS  (Read 21010 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: DESTINY -HIATUS AMPE MEI-
« Reply #255 on: January 14, 2011, 03:16:00 am »
Ji Eun memandang dengan datar Hye Sun ketika Hye Sun memasuki kamarnya di rumah sakit. Tatapannya menembus iris hitam Hye Sun, sedangkan Hye Sun menyeringai bak ikan mas kelelep air. Ia tahu akan seperti ini sambutan Ji Eun mengingat berita pernikahannya  dengan bos kuntilanak itu telah tersebar. Tanpa mengurangi seringainya Hye Sun menyerahkan setumpuk novel terbaru kehadapan Ji Eun. Tapi sayangnya seringaian Hye Sun disalahartikan oleh Ji Eun sebagai seringai kemenangan. Otak Ji Eun bereaksi sebagaimana mestinya, memerintahkan seluruh organ tubuhnya untuk menolak kehadiran Hye Sun.

PLAK

Tangan Hye Sun yang terjulur menyerahkan setumpuk novel itu di tepis dengan kasar oleh Ji Eun. “Mau apa kau...penghianat.”

Hye Sun terperangah. Tak menyangka Ji Eun akan semarah ini –walaupun ia sudah memprediksikan sebelumnya Ji Eun memang akan marah. Tapi ayolah, Hye Sun juga punya hak untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Hye Sun baru saja akan membuka mulutnya ketika pintu dibelakangnya terbuka. Sontak keduanya menoleh. Mom berdiri dengan rahang mengeras, dibelakangnya Jae Ha tersenyum lemas. Bahunya terangkat seolah-olah ia ingin berkata ‘Maaf. Mom Hye Sun memaksaku.’

Mom dengan langkah panjang-panjang menghampiri Hye Sun dan mencekal lengannya kuat-kuat. Ditatapnya Ji Eun yang tengah menunduk ketakutan. “Jangan dekati anakku lagi. Kalau kau masih tetap ingin biaya pengobatanmu di tanggung keluarga Goo.” kata mom pelan, tapi siapapun tahu bahwa terselip nada mengancam berbahaya. Mom beralih pada Hye Sun yang berusaha sekuat tenaga melepaskan cekalan mematikan momnya. “Dan kau Goo Hye Sun. Kau dihukum. Jangan membantah.”

Setelahnya mom keluar kamar, meninggalkan ketiganya terdiam dengan sejuta pertanyaan yang berseliweran di otak. Kenapa mom bisa sampai mengetahui kedatangannya ke rumah sakit? Kenapa mom malah pergi dan membiarkan Hye Sun masih berdiri di tempatnya semula? Baru saja Jae Ha akan bersuara sekelompok orang berjas memasuki kamar Ji Eun. Damn, kenapa aku tidak menyadarinya, maki Hye Sun dalam hati. Ia mengambil ancang-ancang memberontak tapi satu suara menghentikan gerakannya.

“Ibumu menyuruhku untuk menyeretmu. Jadi kau patuh saja daripada aku main kasar.” Min Ho berdiri dengan angkuhnya di depan pintu. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya, dan bibirnya membentuk seringai. Ingin sekali Hye Sun menghapus seringai itu dari wajah tampannya. Anak ini! Benar-benar deh. Gak bisa apa ya gak cari masalah, rutuk Hye Sun. Secepat kilat Hye Sun menoleh pada Ji Eun yang wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus. Hye Sun tersenyum pedih. Orang-orang berjas itu kembali berusaha menyeret Hye Sun tapi segera di tepis oleh Jae Ha.

“Dia bisa jalan sendiri.” kata Jae Ha dingin. Ia kemudian berbisik ditelinga kiri Hye Sun sehingga jika dilihat dari tempat Min Ho berdiri seakan-akan Jae Ha mengecup pipi Hye Sun. “Lebih baik kau pergi. Aku bisa membujuk Ji Eun dan menjelaskan situasinya.”

Hye Sun memandang Jae Ha nanar. Hampir saja air matanya merebak keluar jika Jae Ha tidak langsung mendorongnya ke arah pintu. Ia mengisyaratkan Hye Sun agar cepat-cepat pergi. Dengan lemas Hye Sun berbalik menghadap Min Ho yang tiba-tiba saja matanya menatap tajam ke arah Jae Ha. Tidak memedulikan tatapan tajam Min Ho, Hye Sun berjalan melewatinya. Baru setelah para pengawal pribadinya telah berdiri didepannya menunggu perintah selanjutnya Min Ho berbalik badan, berjalan dengan langkah panjang-panjang menyusul Hye Sun.

OoO

“Siapa pria tadi?” tanya Min Ho tanpa basa-basi. Entah kenapa hatinya tidak suka melihat kedekatan Hye Sun dan pria itu.

Alih-alih menjawab pertanyaan Min Ho, Hye Sun hanya menatap jalanan dengan pandangan kosong. Beban berat seakan-akan hinggap di pundaknya. Hye Sun mendesah mengingat kejadian barusan, tidak menghiraukan pemuda disampingnya yang tengah dilanda kemarahan. Merasa tidak ditanggapi Min Ho menambah laju mobilnya. Ferrari keluaran terbaru itu meliuk-liuk diantara padatnya lalu lintas pusat kota Seoul. Hye Sun yang tadinya hanya bengong langsung mengeratkan pegangannya di dasbor.

Mobil itu berdecit tepat di jalanan yang sepi kenderaannya. Wajah Hye Sun pucat pasi, bibirnya bergetar menahan amarah yang sudah siap diletupkannya pada pemuda kurang ajar disampingnya. Ia baru saja membuka mulutnya ketika Min Ho membuka pintu mobil, keluar, kemudian membantingnya dengan keras. Hye Sun menganga menyaksikan kelakuan Min Ho. Kenapa dia marah? batinnya. Min Ho duduk di kap depan mobil. Dirogohnya kantung celananya kemudian menarik sebungkus rokok serta pemantiknya. Min Ho merokok sambil terus mengacak-acak rambut lebatnya.

Hye Sun menyusul Min Ho setelah beberapa menit terdiam didalam mobil. Diperhatikannya keadaan Min Ho yang sudah sangat berantakan. Puntung-puntung rokok berserakan dibawah kakinya. “Sejak kapan kau merokok?” tanya Hye Sun.

Min Ho mengalihkan pandangannya ke arah Hye Sun. Rahangnya mengeras mengingat bagaimana cara pria di rumah sakit tadi bersikap pada Hye Sun. Min Ho membuang rokoknya, ia menempatkan dirinya tepat dihadapan Hye Sun. “Siapa pria tadi? Ada hubungan apa kau dengannya? Sudah sejauh mana hubungan kalian? Apa yang kau lihat darinya? Apa dia lebih baik dariku? Apa dia lebih kaya dariku?” pertanyaan beruntun tak masuk akal dari Min Ho membuat Hye Sun mengerutkan keningnya. Apa pula maksud pemuda ini, kenapa kesannya pemuda ini peduli padanya.

Hye Sun tidak menjawab pertanyaan Min Ho. Alih-alih menjawab ia malah duduk di kap mobil dan memandang kosong ke arah depan. “Menurutmu, apa pernikahan ini salah?” tanya Hye Sun dengan suara pelan. “Menurutku, ini sangat salah. Banyak orang yang tersakiti.”

Rahang Min Ho semakin mengeras mendengarnya. Dengan kasar ditariknya lengan Hye Sun sehingga tubuh Hye Sun terbentur keras dengan tubuhnya. Tangan Min Ho melingkari pinggang Hye Sun, menahan agar Hye Sun tak memberontak. Tapi semakin tangan itu menguat, semakin kuat pemberontakan yang dilakukan Hye Sun. Kedua tangan mungil Hye Sun berusaha mendorong dada Min Ho agar pemuda itu menjauh. “Apa yang kau lakukan?! Lepasakan aku!”

Menghiraukan pukulan-pukulan Hye Sun didadanya, Min Ho berkata dengan nada dingin, “Berhenti memberontak. Kalau tidak aku akan main kasar.”

Seketika Hye Sun terdiam. Suara desahan lembut angin musim semi menjadi backsound, bunga-bunga dandelion berterbangan. Momen itu bisa menjadi momen romantis jika saja Min Ho tidak dikuasai emosi.

“Siapa pria tadi?”

“B..Bo?”

“Pria. Yang. Bersamamu. Tadi.” Ucapnya lamat-lamat.

“Jae...Jae Ha maksudmu?”

“Ada hubungan apa kau dengannya?”

Hye Sun menganga. Tidak percaya akan pendengarannya barusan. Otaknya memproses. Min Ho bertanya tentang Jae Ha. Apa itu berarti Min Ho cemburu pada Jae Ha? Kalau benar Min Ho cemburu, berarti...

“ADA HUBUNGAN APA KAU DENGANNYA?!”

Teriakan Min Ho menyadarkan lamunan Hye Sun. Dengan sekuat tenaga Hye Sun mendorong tubuh Min Ho menjauh darinya. “APA URUSANMU? KAU BUKAN SIAPA-SIAPA! DAN JANGAN BERTERIAK TERHADAPKU.” balas Hye Sun tak kalah histerisnya.

Min Ho yang sudah dikuasai emosi menggenggam lengan Hye Sun dan membaringkan dengan paksa tubuh Hye Sun di atas kap mobil. Dengan beringas dilumatnya bibir Hye Sun. Dibawahnya Hye Sun meronta-ronta, tapi dengan emosi yang labil Min Ho menahan pergerakan Hye Sun. Lumatan-lumatan panas Min Ho beralih ke leher Hye Sun. Berkali-kali ia membuat bercak kemerahan disana, ingin membuat Hye Sun paham bahwa dirinya sekarang milik Lee Min Ho seorang. Perlawanan Hye Sun akhirnya berhenti sama sekali, tergantikan dengan tangisan beserta desahan-desahan. Min Ho kembali melumat bibir Hye Sun kasar tapi langsung terhenti tatkala ia merasakan air mata yang turun. Dilepaskannya cekalan dilengan Hye Sun dan ia segera menyingkir. Dengan napas memburu diambilnya sebatang rokok dan duduk disamping Hye Sun yang terbaring lemah. Tangisan Hye Sun mulai mereda beberapa saat kemudian. Hye Sun kemudian segera bangkit dan ikut duduk di kap mobil. Diliriknya Min Ho yang merokok disampingnya.

Keheningan yang meliputi keduanya selama beberapa menit dipotong Min Ho dengan suaranya. “Ayo pulang.”

Hanya kata-kata itu yang keluar. Setelah perlakuan kasarnya pada Hye Sun hanya itu yang diucapkannya. Tak ada permintaan maaf. Tak ada kata-kata penyesalan.

Disana Hye Sun berdiri mematung. Hatinya terkoyak setelah direndahkan oleh suaminya sendiri. Matanya menutup, menurunkan bulir-bulir bening. Sahabat, ibu, suami.

Disana, Hye Sun remuk. Terpecah hingga serpih.

Dan mungkin hidupnya tak akan sama lagi seperti sebelumnya...

Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME