Author Topic: LOVE : "WHAT'S HAPPENING?" update 17 oktober  (Read 17225 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: LOVE : NO OTHER part 1 update 10 januari
« Reply #105 on: January 14, 2011, 08:20:01 am »
Di lamunan aku berpikir

Waktu itu terus saja berlalu

Tanpa henti dan tiada batas

Tak menunggu pun tak juga terulang

Puing-puing cinta yang putih

Kelak akan hanyut terbawa oleh sang waktu
[/b]

VENNY ROSE T. P
[/b]

UNDER THE SAME SKY
[/u]

Bulir-bulir air berjatuhan, mengetuk pintu jendelaku dengan tidak beraturan. Sayup-sayup dari kejauhan kudengar  suara binatang malam dan suara  sunyi yang beradu dengan desahan ombak, menarikku paksa untuk bercengkrama  dalam diam. Aku membuka kedua mataku,  gelap. Serangan butiran air di luar merangsek dalam telingaku,  sementara dingin mulai  menempeli kulit cokelatku. Aku pun meraba-raba lilin yang sudah kusiapkan di samping  tempat tidurku, lalu menyalakannya. Tak ada gunanya, tetap saja tak  mampu selamatkan aku dari gemuruh batin ini. Aku menatap api kecil yang menyala, lalu menutup kedua mataku. Bahkan bulan pun tidak menunjukkan cahayanya. Enggan menemani sepiku.

Mereka benci kepadaku, mereka  pantas membenciku. Aku tidak  bisa menjaganya. Menjaga dia.

Menjaga dia.

Seseorang yang  dicinta hilang ditelan waktu. Hanya terselip memori manis  yang ia sisakan yang kupastikan takkan terkikis seperti dirinya. Aku menggali ingatan dimana  kami telah mengutarakan janji suci itu di depan para kerabat. Hari yang memang membahagiakan untuk kami. Hari itu, banyak sekali bunga lili yang terpampang. Satu per satu kelopaknya menarikan  ucapan selamat. Melambai riang kemudian terpuruk di atas tanah. Aku tidak akan melupakan hari itu. Detik ketika langit memperlihatkan keajaibannnya.

Aku melihat mempelai wanita, wanitaku. Dia menatapku dengan tatapan yang agak serius di kala itu, dan ia tahu betul, bahwa ia tidak mampu bertahan lagi.
"Baby, Jangan."

"Ya."

Setelah kami mengucapkan kalimat-kalimat yang akan menyatukan kami untuk selamanya, aku menariknya ke dalam pelukanku, merasakan kehangatan tubuhnya, lalu melumat bibirnya. Aku tahu, di dalam pikiranku sekarang, aku tidak menikmati ini. Batinku terhenyak, ada komplikasi pergolakan didalamnya yang enggan kuturuti. Terus memaksaku agar ia menghentikan ini. Cukup sudah memaksakan diri. Dia sekarat, dia sudah tidak tahan lagi. Bahkan bibir lembutnya terasa kebas tak berkekuatan.

Leukimia. Itulah penyakit yang merantainya sampai sekarang. Aku tidak memberitahu siapapun untuk itu. Hanya aku yang juga dokter pribadinya, serta Yoo Ah in, sahabat karibnya yang tahu mengenai hal ini. Bahkan Ayah dan ibunya tidak kuberitahukan. Aku takut. Takut kalau mereka akan memisahkanku dengan dia. Meski kutahu, Tuhan akan segera melakukan itu.

Aku menyudahkan ciumanku, lalu menatapnya dalam-dalam. Matanya yang beriris cokelat terang di kala itu pun masih bercahaya dengan eksotika yang dimilikinya, meskipun raganya sudah digerogoti oleh penyakit yang ia derita. Raut mukanya berbeda dari yang sebelumnya. Dia berubah menjadi seorang wanita berparas cantik yang pernah aku temui. Senyumannya terkembang dengan tulus, membiarkan satu pun di antara kami menyadari deritanya yang terselubung rapi. Ekspresiku kurang lebih sama dengannya, kami melihat satu sama lain, tidak ingin saling melupakan apapun di antara kami. Seolah ini yang pertama. Seolah ini... yang terakhir.

Aku mengingat lagi kejadian  yang kemarin lalu, sebelum hari itu.

"Maafkan aku." Kata itulah yang meluncur darinya.

"Kenapa kau yang memohon  maaf?" Aku memeluknya. Dia tidak bisa  berkata apa-apa lagi. Tubuhnya bergetar hebat, pelukanku tidak bisa menghentikannya.

"Aku tidak akan memberitahu  yang lainnya mengenai hal ini."

Dia mengangguk. Aku menutup  mataku. "Jangan tinggalkan aku. Aku tidak ingin sendirian lagi."

Dia melepaskan pelukanku, lalu bergumam sesuatu yang mungkin tidak masuk akal. "Kau tidak akan sendirian" Dia menarik nafas panjang, lalu menaikkan wajahnya. Air mata yang masih tertinggal di wajah putihnya bercahaya, mengkilap seperti api membara yang masih tersisa di dalam tubuhnya.

"Apa?" Tanganku bergerak untuk memegang wajahnya, mata hitamku mencari mata cokelatnya.

"Matamu, mataku, telingamu, telingaku. Senyummu adalah senyumku, kau ingat?"

Aku pun tersenyum kecil, lalu mengatakan sesuatu. "Dua insan tidak bisa menjadi satu."

Dia tertawa bercampur tangis, lalu menggelengkan kepalanya. "Aku masih bisa bertahan, akan kuusahakan itu.  Percayalah kepadaku."

Aku tersenyum kepadanya, lalu mengenggam tangannya. "Aku tidak akan pernah berhenti untuk mempercayaimu"

Kembali aku mengingat hari dimana kami melangsungkan acara bahagia itu. Acara yang sederhana untuk kami semua. Aku bisa melihat dari kejauhan bahwa kamar wanitaku dipenuhi oleh teman-teman seangkatannya,  menggodanya untuk mengatakan dimana kami akan berbulan madu. Kami adalah pasangan yang unik, begitu kata kerabat-kerabat kami. Bunga-bunga lili gugur dengan elegannya, meskipun ditiup oleh angin, mengantarkan sedikit rasa sejuk di dalam hatiku, meskipun hatiku tidak sepenuhnya sejuk. Waktu amat berharga, aku percaya itu. Aku melihat wanitaku untuk yang terakhir kalinya.

Setiap menit.

Setiap detik...

Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku menyatukan tanganku dengan tangannya, menitikkan air mata. Aku percaya betul bahwa aku tidak akan melihatnya lagi, meski ia berkata kepadaku bahwa ia akan selalu menemaniku, meskipun dimensi kami berbeda.

Burung hantu bernyanyi di malam itu. Kamar kami gelap, kecuali untuk rembulan yang cahayanya menerobos kaca jendela. Dua hari lagi. Dia berbisik di kala ia mengucapkan kata-kata itu. Aku mengerjapkan kedua mataku, lalu menoleh ke arah samping, melihatnya. Sekecil apapun suaranya, aku bisa mendengarnya akhir-akhir ini,  meskipun itu hanyalah rintihan kecil. Aku bahkan pernah tidak tidur hanya untuk berjaga semalaman untuknya. Aku melihatnya terbaring dengan lemah di tempat tidur.  Badannya putih pucat, melawan kegelapan warna di kamar ini, dan kaku seperti batu. Bahkan hidungnya terlihat agak mancung.

Pertanda.

Aku membuka selimutku, lalu duduk dan membantunya untuk duduk. Dia mengeluh dan menyelipkan tangan-tangan dinginnya ke leherku, dan aku membawanya ke pelukanku, membantunya untuk menghangatkan diri. Aku menyingkirkan helai rambutnya yang mulai panjang yang menutupi telinganya, lalu tersenyum kepadanya.

"Kau ingat saat-saat kita menjadi artis dulu?" Ia tersenyum kepadaku, senyuman yang pucat.

Tentu aku masih ingat. Dia sudah tidak kuat lagi, aku tahu itu. Aku mencium keningnya, lalu melihatnya dengan tatapan tulus yang jarang kuperlihatkan kecuali kepadanya. "Kau akan... Kau akan menjadi indah."

Aku bisa melihat dia menaikkan alisnya, pertanda ia tidak tahu maksud apa yang kubicarakan. Tak lama kemudian ia tersenyum, kurasa ia bisa
memetik makna dari pernyataan itu.

"Kau akan menjadi segalanya, kau akan mekar menjadi bunga lili yang abadi. Eternity. Tidak akan pernah habis dimakan zaman."

Dia menelan ludahnya, lalu membalas pelukanku. Ku eratkan pelukanku sesaat, lalu membaringkannya kembali, mengelus punggungnya, memberikan kehangatan lagi sebelum ia terlelap.

"Kau akan melakukan semua yang kau inginkan. Kau akan selalu melihat bintang-bintang di langit, dan percayalah bahwa bintang-bintang itu adalah teman-teman kita, beserta aku. Percayalah bahwa kita masih ada di dunia yang sama, bersama di bawah langit yang sama"

Di bawah langit yang sama.

Para kerabat kami pun berdiri,  lalu bertepuk tangan untuk kami. Ada pula yang bersiul. Di ujung penglihatanku aku bisa melihat Ah In menitikkan air mata. Aku mengangguk. Hyung Joong berkata kepadaku, kalau mawar tidak sesuai untuk gaun ini. Aku melihat ke arah bawah, lalu tersenyum. "Aku tidak peduli. Kau terlihat mempesona, apapun yang kau pakai."

Dia mengerutkan alisnya, lalu menggerutu. "Tapi kan..." Aku mengelus pipinya dengan ibu jariku. Dia sepertinya tenang karena sentuhanku, lalu membalas dengan ikut menumpuk jariku dengan tangannya. Aku akan merindukan ini. Sangat merindukan ini...

"Aku siap menjadi bahan pelampiasan orang-orang ini." Aku berkata demikian, lalu membiarkan kening kami bersentuhan. Aku senang dia masih bersikap layaknya mempelai wanita biasa, atau melihat ekspresinya ketika ia marah. Nostalgia yang tidak akan terlupakan. Dia menyerigai. "Apakah kau bisa memegang kata-katamu itu, Lee Min Ho-ssi?"

Aku mengangguk, lalu memeluknya erat, merasakan kedinginan tubuhnya untuk yang kesekian kalinya.

Sudah dekat. Kami tahu itu.

Aku melepaskan pelukanku, lalu menatap dalam satu sama lain. Angin sepertinya bertiup agak kencang kali ini, menerbangkan daun-daun yang berguguran.Aku bisa mendengar suara-suara obisikan kerabat-kerabat kami, kelihatannya mereka bisa merasakan apa yang sedang terjadi di hadapan mereka ini. Bibir manisnya bergerak, membisikkan sesuatu untukku. Aku pun merunduk, mendengarkan kata-kata terakhirnya dari suaranya yang halus.

"Aku mencintaimu, Min Ho-a."

Dan kemudian, kejadian naas itu terjadi, seperti api menjilat kertas tipis dengan ganasnya, dia menutup matanya, lalu terjatuh ke pelukanku. Beribu-ribu pijar seperti menusuk jiwaku. Di saat terakhirnya, dia tidak mengeluh, dia tidak menunjukkan rasa sakit yang dideritanya. Mungkin ini adalah keajaiban yang diperlihatkan oleh Tuhan, sudah banyak  cobaan yang telah ia dapatkan.

Tuhan menyayangi kekasihmu, belahan jiwamu. Kekasihmu akan melihatmu di atas sana, sambil mengumbarkan senyuman yang menggetarkan hati itu.

Aku masih memegang tubuh wanitaku yang tidak bernyawa. Ingin rasanya aku memutar balikkan waktu, tapi apa daya, yang sudah terjadi tidak dapat dicegah. Aku tak punya kontrol apapun atas itu. Aku menitikkan air mata, tidak peduli dengan kehormatan seorang pria atau apalah itu.
Dekapanku terhadapnya kian mengencang, meski hatiku menolak dengan keras, ia tetap berlalu.

Sudah pergi.

Aku tidak ingin memberitahukan orang lain karena aku tidak ingin mereka bersedih juga karenanya. Diberitahu atau tidak diberitahu pun, tentu mereka pasti bersedih juga. Kulihat para kerabatku dari ujung mataku. Mereka menitikkan air mata. Min Jung dan So Eun, mereka kehilangan kata-kata. Tampak yang Ah In memalingkan wajahnya dari kami, menangis.

Ini bukan mimpi. Tubuhnya mulai mendingin, kehangatan yang dulunya selalu bersemayam di tubuh sang wanita kini tiada lagi. Detakan mesra itu tak lagi terdengar. Hanya seulas senyum yang sempat terpatri dari wajah pucatnya.

"Aku juga mencintaimu, Goo Hye Sun. Selamanya."

Aku membuka mataku, merasakan sesuatu menghangatkan tubuhku dari belakang. Aku berbalik, mendapati semburat kemerahan tengah merambat, ingin menunjukkan wujudnya. Cepat sekali waktu berlalu. Aku menggelengkan kepalaku,  lalu berdiri menuju pintu, membukanya, lalu berjalan menuju sebuah pemandangan indah yang tepat berada didepan mataku. Kudengar desahan ombak yang keras sementara mataku yang beriris hitam tengah menunggu sang mentari terbit dengan sempurna, membulat dengan terangnya yang pedih.

"Hei." Aku terkesiap, lalu menoleh ke asal suara yang kukenal itu. Aku tersenyum. "Ada apa denganmu? Kau itu seperti tidak berselera hidup saja, Min Ho."

Jeda.

"Dia akan mekar di sana, mekar menjadi bunga yang tidak pernah rontok dari dahannya." ujarku, terlihat jelas di mataku bahwa kesedihan ini perlahan mulai tekikis, lalu dengan segera tergantikan oleh sifat biasaku yang tanpa emosi itu.

"Dia itu sama sepertimu, bodoh. Meninggalkanku di saat aku membutuhkan kalian, kalian yang teramat sangat kusayangi. Beritahu aku, apakah ini adalah karma?" Aku tak lagi menoleh ke arahnya. Fokusku kini beralih pada sinar keemasan yang hampir penuh itu.

Ah In melihatku dari ujung penglihatannya, lalu mendengus kesal. Dari desahan singkat itu saja aku bisa memastikan bahwa ia jelas menentang ini. "Min Ho, semua ini bukan karma. Tiada hukum karma di dunia ini, dan ayolah, jangan pesimis seperti itu. Aku tidak ingat pernah mengajarimu untuk membuat dia yang di sana menangis."

Aku tertawa pelan. Sementara aku menyusuti air mataku dengan ujung lengan bajuku, lalu melihat ke arah mentari yang sudah muncul dari singgasananya, seolah terlahir kembali ketika termuntahkan oleh laut.

Ya. Aku tidak akan pernah melupakan dia, senyumnya, semangat hidupnya, kesabarannya, kharismanya, kecantikannya, kedewasaannya, ketegarannya. Tidak akan pernah melupakan keluhannya, jemari-jemarinya yang melingkar di leherku, mata cokelatnya yang menatapku dan
hanya aku, kaki jenjangnya yang ia lebarkan, betapa putih kedua tangan itu dan lengkungan yang sempurna di antara pinggang dan pinggulnya, tempat sensitif yang berada di leher dan bahunya, tubuhnya yang bergetar di pelukanku.

Dia percaya kepadaku, dia percaya kepadaku, dia percaya kepadaku.

Dia percaya bahwa aku tidak akan melupakannya, ingin aku percaya bahwa dia akan selalu berada di sampingku, masih di bawah langit yang sama. Bagaimana ia mengatakan rindu kepadaku, mencintainya dengan sepenuh hatinya. Air mata yang mengucur deras dengan isakan, yang seharusnya menjadi rintihan akan kesenangan. Kukatupkan kedua mataku, mendengar kesekian kalinya ombak merayu, hangatnya sang mentari pagi yang diamnya tiada henti merangkum tragedi,
 serta cakrawala yang masih dihiasi oleh warna malam.

Aku berjanji Hye Sun, aku berjanji.  Aku percaya bahwa kau masih mendampingiku saat ini, masih
berada di bawah langit yang sama, hingga suatu saat kau dan Tuhan mengajakku ke sebuah tempat dimana kau akan  menjadi bunga lili yang abadi di sana. Dan aku percaya bahwa kisah cinta kita tidak
 akan pernah berakhir.

"Jangan begitu, Ah In hyung. Kau telah mengajari semua yang tidak kuketahui."

Lalu, aku akan menapaki jalan kehidupan yang terbentang di depan mata ini.


FIN
[/b]

"Remember that we're still under the same sky and believe that our love story will keep moving as the time goes through."
[/color][/size]
« Last Edit: January 14, 2011, 08:25:10 am by voldi »
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME