Author Topic: Unconscious Love ~Chapter 13, update 7 August 2011  (Read 36947 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Author’s note : Well, here is chapter evelen. I know—I know, it’s really late, but I hope you enjoy it hehe …
Bagi yang bertanya-tanya siapakah karakter Yukie Hashimoto, silahkan cek prolognya—di situ ada disinggung tentang cewek Jepang yang satu ini .. ok, akhir tapi bukan yang terakhir,, selamat membaca buat semuanya [biggrin] [biggrin]

 



Additional Casts :


Maki Horikita as Yukie Hashimoto


Ha Ji Won as Ha Ji Won



Mentari pagi kembali menyapa dengan sinarnya yang lembut dan hangat. Mengantikan sisa-sisa dewi malam yang kelihatan enggan meninggalkan peraduannya. Jandi bergerak perlahan dalam tidurnya. Dia menguap, untuk kemudian mengucek-ngucek matanya. Dia berguling-guling sebentar sebelum membuka sepasang matanya. Ekspresinya terheran-heran.



Selama beberapa saat pandangan Jandi menyapu seisi ruangan. Kemudian dia mendesah, yang lalu diikuti dengusan dan cercaan. Sudah seminggu dia tinggal di Goo's mansion tapi entah mengapa kesadaraan tentang keberadaannya di tempat itu setiap membuka mata di setiap pagi selalu membingungkannya.

Dia sering merasakan dirinya masih berada di Geum's mansion. Masih terbaring dan uringan-uringan di ranjangnya yang empuk dan berwangi khas. Juga masih merasakan sentuhan sinar matahari yang lembut lewat jendela kamarnya yang tinggi.

Tapi sekarang, semuanya lain. Dia tinggal di Goo's mansion. Dia sudah bagian dari tempat ini--untuk setahun ke depan, dia harus menyesuaikan diri.

Jandi menyibak selimut dari tubuhnya dan berdiri dari ranjang. Sekali lagi pandangannya menyapu isi ruangan. Menjemukan. Kamar ini sangat kontras dengan kamarnya di Geum's mansion. Tidak ada yang istimewa di sini. Hanya lemari-lemari tinggi dari kayu, sebuah sofa kulit yang tinggi dan kuno serta meja teh pendek dari kayu harum. Selain itu, tak ada lagi yang menarik. Jendela-jendelanya yang tertutup gorden warna gelap, yang tersibak sedikit sehingga sinar mentari tadi berhasil menyapu wajahnya--membangunkannya dari tidur, membuat hatinya semakin suram.

Perlahan-lahan, Jandi menyandar ke bingkai jendela sambil mengarahkan perhatian ke pemandangan di luar. Pikirannya melayang ke pembicaraan dengan Jihoo beberapa hari yang lalu. Pembicaraan yang membuatnya bingung--sangat bingung buat mengambil keputusan. Apalagi selang beberapa hari kemudian Yijeong mengajukan permintaan yang sama.

Flash back ...

"Mwo?!! Pembukaan cabang Yoon's Power di sini-- di Korea?! Sunbae serius?!" teriak Jandi di telepon.

Suara di seberang tertawa keras. "Ne. Kau kedengarannya terkejut sekali, Jandiya?"

"Ne .. "

"Kan sudah kubilang di wawancara kita beberapa waktu yang lalu .. ," ujar Jihoo.

"Iya, tapi ... ," Jandi mengaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku tak menyangka Yoon's Power serius. Selama ini kan banyak pemberitaan seperti itu dan tak pernah terlaksana .., hampir bertahun-tahun lamanya ... "

"Memang, tapi sekarang aku melihat peluang market yang cukup besar di sini." kata Jihoo. "Selain itu, .. " perkataannya terhenti sebentar. Setelah menarik nafas, yang terdengar jelas oleh Jandi--bahkan dari ujung telepon sekalipun, dia meneruskannya kembali. " .. semua ada hubungannya denganmu. Kau mengerti kan, Jandiya?"

"Hmm--" Jandi segera menjauhkan gagang telepon di tangannya. Masalah itu dibahas lagi? Mengapa harus diungkit kembali? Nah--apa yang harus dikatakannya setelah dua hari lamanya berusaha menghindari pemuda ini?

"Jandiya?"

Jandi mendekatkan kembali telepon tersebut. "Ne?"

"Bagaimana?"

"Jadi, acara pembukaannya empat hari lagi?" Jandi sengaja mengeraskan suaranya, mengalihkan pembicaraan kearah lain. "Tak masalah. Aku akan menghadirinya ... "

"Bukan itu yang kutanyakan! ... " sahut Jihoo.  

Perkataannya segera disela oleh Jandi. "Bagaimana dengan Junpyo? Apa sunbae juga mengundangnya?"

Terdengar Jihoo menghela nafas berat--yang disambut Jandi dengan meruncingkan bibir bawahnya. Dia merasa menyesal dan bersalah pada Jihoo. Ingin menjawab, tapi sungguh, dia tak tahu jawaban apa yang dapat diberikannya. Menolak? Tapi, mengapa? Apa alasannya? Huh--Hubungan pria dan wanita selalu membuatnya bingung, sekalipun di usianya yang ke-23 ini.

"Tentu saja kami mengundangnya .. ," jawab Jihoo beberapa saat kemudian. "Shin Hwa merupakan partner bisnis utama Yoon's Power di sini, jadi bagaimanapun, kami harus mengundangnya. Saya rasa Goo Jun Pyo-ssi yang akan mewikili Shin Hwa."

"O--" Jandi membuka mulutnya. Benar, Goo Jun Pyo pasti diundang. Pertanyaannya barusan tolol sekali!

"Apa dia tak memberitahumu?" tanya Jihoo tiba-tiba.

"Mwo?" Jandi tersentak. "Aniyo!" Dia mengeleng keras-keras. "Goo Jun Pyo tak pernah membicarakan masalah bisnis denganku .. "

"Oh--aku mengira dia akan membawamu serta ke acara tersebut .. " Jihoo kedengaran sangat terkejut.

"Tidak!" ujar Jandi. "Dia tak akan mengajak-ku ke pesta manapun! Dia selalu takut aku mempermalukannya, huh--"

"Mempermalukan?" Jihoo mengulangi kata itu. "Mempermalukan gimana?"

"Tanyain aja padanya!" dengus Jandi. Kalau sudah membicarakan Junpyo, dia jadi emosian. "Dia munafik! Goo Jun Pyo munafik!"

"Mwo?" tanya Jihoo tak mengerti. Bola matanya berputar ke atas, berpikir. Sesaat kemudian dia mengangkat pundak, "Well, lupakan saja. Gimana kalau aku menjemputmu ke acara itu? Acara permulaan mungkin agak menjemukan. Kau ikut pesta malam hari saja, gimana? Pesta tersebut lebih dikhususkan ke anak-anak muda seperti kita .. "

"Tapi ... " Pikiran Jandi melayang ke Junpyo. Apa jadinya kalau si playboy kelas teri itu mendapatkan keberadaannya di sana? Si keriwil itu pasti bakal mengejeknya mati-matian. (Melanggar janji yang telah dibuatnya--bahwa dia tak akan sampai mempermalukan nama besar Goo?) Tapi--tunggu dulu!!! Apa pergi ke sebuah pesta juga termasuk mempermalukan nama besar Goo??!!

"Kau takut pada Junpyo, Jandiya?"

Nah--pertanyaan Jihoo pas menancap di hati Jandi--mengoyak-ngoyak kecongkakan hatinyanya yang paling tinggi. Bagaimana mungkin dia takut pada Junpyo? Omongan apa ini?!!!

"Siapa bilang saya takut pada Junpyo?!!!!" jerit Jandi. "Jemput saya di hari itu, sunbae!! Dan kuperingatkan sekali lagi. Aku tak pernah takut pada si sok ganteng itu!!"



Brakk!! Jandi melempar gagang telepon ke tempatnya--tanpa berpamitan dulu pada Jihoo. Dia baru sadar telah berlaku tak pantas pada Jihoo setelah berhasil menguasai emosinya beberapa menit kemudian -.-".

Selang dua hari kemudian ...
Jandi tak sengaja bertemu dengan Yijeong ketika berbelanja di sebuah mall. Saat itu dia memasuki sebuah restoran Jepang dan melihat Yijeong baru saja menjatuhkan dirinya di sebuah kursi di meja paling ujung bersama seorang pria bule.

Yijeong segera melambai padanya. "Jandiya!!"

"So Yi Jeong?!" Alis Jandi berkerut. Dia ingin berbalik tapi segera diurungkan begitu menyadari tak ada alasan yang masuk akal buat menghindari Yijeong dalam pertemuan tak disengaja itu. "Hi--" sapa Jandi dengan suara berat.

Yijeong terlihat menepuk rekan semejanya, mengatakan sesuatu dan mengangguk pelan. Pria bule itu juga menganggukan kepalanya, kemudian mengeleng perlahan.

"It's ok .. "

Jandi berhasil menangkap perkataan pria asing itu.

Yijeong berdiri dari kursinya, untuk kemudian mendekati Jandi.

"Jandiya, kebetulan sekali .. " Yijeong tersenyum cerah.

"Yeah--" Jandi membalasnya, agak terpaksa, walaupun samar dan hampir tak kelihatan.

"Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?" tanya Yijeong sambil menjatuhkan diri di hadapan Jandi. "Tak keberatan kan?"

"Tidak--" sahut Jandi. "Saya sendirian kok .. "

"O ya?--Emang ke mana Junpyo? Bukannya kalian masih dalam masa liburan?"

"Dia?--" Jandi mendengus. "Mana ku tahu!!" sambungnya cuek.

"Ho ho--nggak berubah walaupun sudah tunangan?" tanya Yijeong prihatin.

"Kau salah So Yi Jeong!" ketus Jandi dengan mata mendelik. "Saya yang nggak perduli ama segala tindak-tanduknya, bukan dia yang mengacuhkanku!! Dia tak akan pernah melakukannya karna semua kelemahannya ada padaku!"

"Oh--ok ... " Yijeong mengangkat tangan sambil tersenyum tipis. "Tentu saja kau yang mencuekannya. Dia bukan apa-apa tanpa pertolongan darimu, ok?" katanya, berusaha menenangkan Jandi.


"Tentu saja!" cetus Jandi.

Yijeong kembali menyunggingkan senyumnya. Senyuman yang dia yakin mampu membuat gadis-gadis di dunia ini bertekuk lutut, tapi sayang tak termasuk Jandi. Dan kenyataan ini sangat disesali Yijeong.

"Apa kau sudah mendengar rencana pembukaan Yoon's Power?" tanya Yijeong--mengalihkan pembicaraan ke hal lain.

"Ne. Memangnya kenapa?" Jandi balas bertanya.

"Tidak. Hanya memastikan apa kau mengetahui kabar itu dan diundang ke acara tersebut?"

"Iya, .. saya diundang oleh sunbae sendiri ke acara itu .. "

"O--" Yijeong menganggukan kepalanya. "Kau pergi bersama Junpyo?"

"Anhi!" Tampang Jandi berubah kesal. "Dia sama sekali tak menyinggung soal itu. Untung sunbae mengabariku sehingga aku mengetahuinya .. "

"Oh--" Yijeong terlihat berseri-seri. "Kalau begitu, kau pergi denganku saja. Kebetulan aku belum dapat partner .. "

"Mwo?" Jandi mengejapkan matanya. "Miane, Yijeong-a, .. aku sudah menyetujui sunbae untuk menjadi partnernya."

"Yaa--" Yijeong langsung loyo tak bertenaga. Tangannya terkulai lemas di sandaran kursi.

"Mianata ... ," sekali lagi Jandi menyatakan penyesalannya. "Namun, kau tak perlu kecewa begitu. Aku gabungnya di acara terakhir kok, di pesta malam harinya. Yang dikhususkan buat anak-anak muda. Menurut sunbae, pesta tersebut hanya pesta dansa biasa. Untuk acara pembukaannya, saya nggak hadir. Bosan dengan acara seperti itu .. "

Yijeong mengangkat wajah, dan tatapannya bertemu langsung dengan mata Jandi. Sesaat mereka tak bersuara--disibukan oleh pikiran masing-masing.

Jandi's POV :
Jeongmal miane, Yijeong-a. Aku tahu maksudmu, tapi .. sungguh, aku juga tak ingin jadi begini. Jika kau bertanya, mana di antara kalian yang kupilih--kau atau Jihoo sunbae--sungguh, aku tak berkutik. Tak mampu menjawab.
Andai waktu berputar kembali, mungkin seharusnya aku menolak mati-matian pertunanganku dengan Junpyo. Semua itu tak akan berhasil. Kita semua sudah mengetahuinya dari semula kan? Ne, aku sudah gila waktu itu.
Hanya karna perasaan bersalah pada Jaekyung, aku menerima segalanya. Menerima ide gila itu. Bertunangan dengan Junpyo? Apalagi sampai menikah? Pasti berakhir kehancuran. Sifat kami terlalu mirip--terlalu keras. Laksana batu bertemu batu. Tak akan ada efek lain selain kehancuran.
Seharusnya pertunangan ini tak dicoba .. ya, seharusnya tidak ...

Yijeong's POV :
Aku melihat keraguan di matamu. Kau pasti sedang mempertimbangkannya. I ya kan, Jandiya? Percayalah, .. aku tak kalah dari orang itu. Yoon Ji Hoo--walaupun dia melebihiku segala-galanya, tapi satu aku yakini, cinta dan perhatianku tak kalah darinya. Aku ingin kau mempercayaiku, Jandiya. Walaupun tidak, akan kubuat kau percaya dan merasakannya.
Dulu, aku tak menyadari perasaan ini--bahwa kau sangat istimewa dan penting bagiku. Sekarang, aku akan memperjuangkan perasaan ini. Sampai kapanpun ...


"Miane ... Yijeong-a ... ," ujar Jandi kembali, sangat pelan. Dia mendesah, kemudian menundukan kepala perlahan.


End of flash back ...


***** oOo *****


Jandi menghela nafas sambil mengangkat tangan, melindungi wajahnya dari terpaan sinar mentari pagi yang memasuki kamarnya. Perlahan dia menjauh dari jendela menuju deretan lemari dalam kamar itu. Jandi membuka salah satu lemari dan mengeluarkan pakaiannya, setelah itu keluar dari pintu penghubung satu-satunya di kamar itu. Langkahnya terhenti ketika melihat onggokan (baca : tubuh) besar tertutup selimut tebal, hampir seluruhnya, di atas ranjang. Tak terlihat tampang orang itu. Hanya rambutnya yang keriting tersembul sebagian dari balik selimut.

Jandi mendelik dan mengomel-ngomel sendiri. "Dasar pemalas!!" Dia menghentak-hentakan kakinya, sebal. Setelah itu dia melangkah lebar kearah kamar kecil. Sepuluh menit kemudian, dia keluar lagi. Keadaan onggokan di atas ranjang masih sama seperti ditinggalkannya tadi.

"Huhh--!!" Jandi menghembuskan nafas lewat hidungnya, dongkol setengah mati. Dia sudah bermaksud menyampiri tubuh itu dan menariknya turun dari ranjang, begitu teringat akan satu kenyataan "Mengapa harus dia yang melakukan ini setiap hari? Dia bukan pelayan Junpyo, jadi mengapa harus dia yang membangunkannya setiap hari?!"



Jandi mengepalkan tangannya dan berbalik. Dia sudah mengambil keputusan. Untuk hari ini dan hari-hari selanjutnya, dia tak akan melakukan hal konyol ini lagi. Biar saja tugas itu diserahkan kepada para pelayan. Jandi membuka pintu dengan satu hentakan keras. Dua orang pelayan yang kebetulan lewat di situ langsung menoleh padanya.

"Selamat pagi, nyonya muda .. " sapa kedua pelayan itu dengan hormat. Mereka membungkukan badan dalam-dalam.

"Pagi .. ," balas Jandi, dibuat seramah mungkin. Emosinya masih tertahan-tahan karna gejolak perasaannya terhadap kebiasaan molor Junpyo. "O ya--kalian bangunkan tuan muda ngih .. "

"Mwo? Kami?" sahut kedua pelayan itu berbarengan. Mereka terlihat ngeri.

"Tentu saja kalian .. ," Jandi berdecak. "Masuk sana .. " Kemudian dia mendorong kedua pelayan yang ketakutan itu dengan sepasang tangan sampai masuk ke dalam kamar. Setelah itu dia menutup pintu.

Jandi tersenyum puas. Lega rasanya tak perlu membangunkan si pemalas itu lagi. Namun, .. belum lima langkah dia berjalan, sudah terdengar teriakan keras,  sumpah serapah dan caci maki dari kamar di belakangnya.


[color=14pt]***** oOo *****


"PEMBOKAT TAK TAHU DIRI!! SIAPA YANG MENGIJINKAN KALIAN MASUK KE DALAM KAMARKU!!!" bentak Junpyo begitu tidurnya terusik oleh suara halus si pelayan di telinganya. (Biasanya diguyur air juga ga bangun lol) "APA KALIAN PINGIN DIPECAT? PINGIN MAMPUS?"

"So .. sosoengheyo, doronim ... " sahut kedua pelayan yang berdiri di sisi tempat tidurnya, ketakutan. Wajah mereka sangat pucat. Berulangkali mereka saling melempar pandang--tak tahu harus berbuat apa.

Brakkk!!

"AKU YANG MENYURUH MEREKA MELAKUKANNYA!!" Jandi tiba-tiba hadir dalam kamar itu. Dia tak tahan mendengar teriakan-terikan Junpyo yang keterlaluan. "Wee?!!!"

"Geum Jan Di-e .. " Junpyo berpaling pada Jandi, kebingungan. "Weo? Selama ini kan tugasmu?"

"Saya sudah muak denganmu!" dengus Jandi sambil menarik selimut Junpyo. "Bangun sekarang juga dan bersihkan diri sebelum kuseret keluar!!"

"Antwe!!" Junpyo membaringkan badannya kembali. "Aku masih ngantuk .. ," kemudian matanya terpejam perlahan. Tapi itu tak lama karna sebuah tangan sudah menjambak rambut keritingnya. Menariknya dengan sangat keras sehingga Junpyo berteriak kesakitan.



"Akhh!! Apho--Geum Jan Di .. "

Sementara dua pelayan di sebelah mereka, hanya mampu menyaksikan adegan tersebut dengan mulut mengangga. Liur hampir menetes dari mulut mereka saking lebarnya mulut tersebut terbuka. Mereka saling melirik. Cuma nyonya muda yang mampu mengendalikan doronim .. , perkataan itu tersirat dari pandangan mereka.

"Yaa--Geum Jan Di, lepaskan ... Sakit tahu?! Yaish--"

"Antwe, sebelum kau berjanji tak kan molor lagi!!" ancam Jandi. Tangannya masih mengenggam erat sejumput rambut Junpyo.

"Ne. Ne. Aku sudah bangun!!" sahut Junpyo sambil meringis.

Jandi tersenyum tipis, kemudian melepaskan genggamannya. "Cepat bersihkan diri! Jam sarapannya sudah sangat terlambat ... " Kemudian dia memutar tubuh, berjalan kearah pintu.

"Ne .. " Junpyo memijat-mijat kepalanya yang berdenyut-denyut. "Dijambak begini, mana bisa nggak bangun?! Udah sadar, sesadar-sadarnya!! Dasar Geum Jan Di surap .. " gerutunya sambil mempelototi dua pelayan di situ. "Keluar!!" tangannya dikibaskan keras-keras kearah mereka.

"Goo Jun Pyo!" Kepala Jandi kembali nonggol di ambang pintu. "Masih berlama-lama di situ?!"

"Ne!! Bangun, segera!!" Secepat kilat Junpyo meloncat dari ranjang dan menghambur ke kamar mandi.

Bummm!! Pintu ditutup sampai berdebam keras.


***** oOo *****


Junpyo memperhatikan penampilannya di depan kaca besar. Jas biru tua dengan dalaman kemeja putih dan pita warna senada, yang dipadu dengan celana skinny warna serupa yang teramat panjang, membuat penampilannya terlihat sempurna. Junpyo tersenyum puas. Tangannya mengibas pelan ujung jasnya. Karya Edmond Kim kali ini tak mengecewakan .. , dia bergumam halus.

Setelah itu dia meninggalkan kaca besar itu, keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju lantai bawah.


"Di mana nyonya muda?" tanyanya dengan nada dingin pada seorang pelayan yang melintas di ruang depan.

Pelayan itu tersentak dan segera berpaling padanya. Dengan kikuk dia membungkuk. "Doronim .. "

"Mana nyonya muda-mu?!!" bentak Junpyo.

"Nyonya .. muda ... katanya .. katanya ... make-up di luar .. ," jawab si pelayan gentar.

"Make-up?" Alis tebal Junpyo berkerut. "Untuk apa?"

"Tidak tahu, doronim .. " Pelayan itu semakin menyusut ke dinding.

"Tak tahu? Lalu apa kerja kalian kalau ngurus nyonya muda saja tak becus?!!!!" teriak Junpyo.

"So .. soengheyo, doronim .. "

Junpyo mendelik. Ponsel di tangannya hampir dilemparnya. "Pergi!! Aku tak mau melihat tampangmu lagi!!"

"Ne, ne ... ," pelayan itu membungkuk berulangkali. "A .. apa masih ada .. tu .. tugas lain, doronim?" Dia memberikan diri bertanya, tanpa berani mengangkat wajahnya.

"TIDAK!!!" Junpyo kemudian berbalik dan meluapkan kemarahannya dengan menyepak pintu. Brakkk!!! Ujung sepatu kulitnya yang mengkilat mencium keras daun pintu dari kayu tebal. Dia mencaci-maki ketika mendapatkan goresan-goresan halus tercipta di sana. "Berengsek!! AMBILKAN SEPATUKU YANG LAIN,, MAU GANTI SEPATU!!!"

"Neeeeeeeeeeeee ....... " Pelayan tersebut berlari terbirit-birit ke ruang dalam.


***** oOo *****


Acara pembukaan Yoon's Power cabang Korea berjalan lancar. Para tamu, karyawan dan paparazi silih berganti memberi selamat pada para petinggi Yoon's Power. Jihoo membungkukan badannya berkali-kali, menerima ucapan selamat tersebut. Begitu juga Junpyo. Dia memberikan ucapan selamatnya, dengan nada datar. Setelah itu dia tak begitu memberi perhatian pada Jihoo lagi. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bersenda-gurau sama pasangannya dalam pesta itu.

Dia seorang wanita berpostur tinggi dan berparas cantik. Seorang model terkenal Korea, nona Ha Ji Won.


Berulangkali Junpyo membisik-bisikan sesuatu di telinga model sexi itu, yang disambut dengan cekikikan kecil dari si model. Jihoo meliriknya tak senang. Tidak hanya dengan Jihoo, pria yang lain--So Yi Jeong--juga merasa tak suka dengan tindakan Junpyo. Apalagi di bawah berpuluh-puluh kamera yang senantiasa disorotkan kearahnya.

Skandal besar tentang pewaris Shin Hwa itu pasti akan mengaung lagi! Yijeong mengerutkan alisnya. Sekarang akan lebih besar, karna Junpyo sudah bertunangan. Dan dia tak suka kalau skandal ini dikaitkan dengan nama Jandi. Dulu mungkin tak begitu terasa, tapi sekarang, dia sungguh-sungguh tak suka.

Junpyo harusnya lebih menjaga diri! Tak pantas dia melakukan tindakan tak senonoh ini selama pertunangannya dengan Jandi. Mengapa dia tak menunggu sampai setahun kemudian--setelah putusnya pertunangan tersebut, baru berhubungan dengan wanita lain? Dan kalau memang tak bisa melakukannya, mengapa dia menerima begitu saja pertunangan gila tersebut? Yijeong meletakan sampanye di tangannya kemudian berlalu ke sudut lain ruangan itu. Dia tak sanggup menatap lebih lama pemandangan tak sedap di depan matanya.


***** oOo *****


Malam harinya di salah satu ballroom hotel Grand Hyatt ...

Jihoo mengandeng Jandi memasuki ruangan yang sudah ditata khusus. Para undangan pesta semalam suntuk yang seluruhnya terdiri dari muda-mudi  tersebut langsung berpaling pada mereka. Bukan hanya karna nama Jihoo sebagai tuan rumah dalam pesta yang diteriakan orang-orang di depan pintu yang menarik perhatian mereka, tapi terlebih karna penampilan menarik dari pasangan itu.

Jihoo mengenakan tuxedo putih yang menonjolkan kulit porselennya, sedangkan Jandi mengenakan gaun pink selutut yang dipadu rompi bulu-bulu putih. Gaun dan rompi mahal tersebut memperlihatkan kulit putih mulus dan postur sempurnanya. Jandi dan Jihoo terlihat sangat serasi, apalagi begitu berpuluh-puluh lampu sorot disorotkan kearah mereka, membuat para undangan segera bersuit-suit ria.


Junpyo yang berada di antara para undangan tersebut--bersebelahan dengan model Ha Ji Won--mengeratkan kepalan tangan. Pandangannya tak berkedip tertuju pada pasangan yang baru memasuki ruangan. Ji Won yang mengerak-gerakan tangan berulangkali, tak dihiraukannya sama sekali.


"Junpyo-a!!" Ji Won menekan lengan Junpyo. "Goo Jun Pyo?!!" ulangnya agak keras.

Junpyo tersentak. "Eh--dhe?"

Ji Won tersenyum. "Kau kenapa?"

Junpyo mengeleng. "Tidak. Emangnya ada apa?" tanyanya dengan nada datar.

"Tak apa-apa .. " jawab Ji Won sambil memperlebar senyumnya. "Hanya ingin bertanya, apa kau nambah sampanyenya?" tanya Ji Won sambil mengangkat gelas sampanyenya yang telah kosong.

Junpyo memandang kearah lain. "Tidak!"

"O--" Ji Won membuka mulutnya, tapi segera ditutup kembali begitu melihat sikap dingin Junpyo. "Kalau begitu, aku akan mengambil bagianku dulu .. ," katanya sambil mengerakan kaki perlahan, berharap menarik perhatian Junpyo. Tapi dia salah jika mengira tindakan kecil itu mampu mengalihkan ketidakperdulian Junpyo. Pemuda itu tetap berdiri kaku di posisinya--tak bergeming sedikitpun.


***** oOo *****


"Siapa yang menyuruhmu ke sini?"

Junpyo berdiri di depan Jihoo dan Jandi dengan pandangan menusuk. Jandi yang sedang berbincang-bincang seru dengan Jihoo berpaling, dan tampangnya langsung berubah--matanya menyipit--melihat kemunculan Junpyo yang tiba-tiba di situ.


"Kenapa berada di sini?!!" hardik Junpyo.


Jandi melebarkan matanya. Tubuhnya menegak. Dia melompat bangun dan langsung berhadapan dengan Junpyo. "Apa urusannya denganmu?! Sunbae mengundangku, jadi WEEE?!!"

"Sudah kukatakan berapa kali .. ," Junpyo mengayun-ngayunkan telunjuknya di depan Jandi dengan emosi meluap-luap. "Jangan mempermalukanku!!"

"MWO?!" Jandi mengepal sepasang tangannya. Berusaha menahan agar tak diayunkan. "Mworagu?!!--Apa katamu?!!!"

"Mempermalukanku?! Apa tak dengar?!" teriak Junpyo.

Pertengkaran tersebut membuat suasana jadi panas. Beberapa pasangan mulai mengerumuni mereka dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Sedangkan pasangan-pasangan yang berdansa di lantai dansa juga mengalihkan perhatian kearah mereka.

Ji Won kembali dengan segelas sampanye di tangannya. Alisnya berkerut. Dia segera menyibak kerumunan orang-orang dan mendekati Junpyo untuk kemudian mengelayutkan tangannya ke lengan pemuda yang sedang murka itu.

“Wegude, Junpyo-a?”

Junpyo berpaling dengan cepat. Tangannya segera dikibaskan. “Jangan menyentuhku!!”

“Mwo?” tanya Ha Ji Won keheranan. “Apa maksudmu?”

“Jangan menyentuhku!!” ulang Junpyo keras-keras. “Tak mengerti? Huh--tidak dia, tidak juga kamu, tuli semua!!”

“Hah--?” wanita itu mengangga. Tak mengerti mengapa Junpyo tiba-tiba marah padanya.

“Ho ho—lalu apa arti kelakuanmu sendiri?” Jandi tersenyum mengejek. “Aku yang mempermalukanmu, atau kau yang mempermalukan dirimu sendiri?”

“Kau—“ Junpyo mengangkat tangannya—eits, bukan bermaksud memukul loh, dia hanya tak tahu harus berbuat apa, alias kehilangan kata-kata buat menyahut Hyesun. Jadinya, dia hanya bisa menunjuk-nunjuk dengan linglung—ekspresi menyedihkan dari seorang Goo Jun Pyo. Ya— kalau dipikir-pikir, sekarang--siapa yang mempermalukan siapa?

Di saat yang genting itu, suara pembawa acara terdengar mengema dalam ruangan.

“Ladies and gentlemen, saya—Moon Jun Ho—pembawa acara anda, mewakili Yoon’s Power mengucapkan terimakasih atas kehadirannya di pesta ini. Untuk diketahui, pesta ini adalah pesta bebas, jadi kami tidak mencantumkan aturan-aturan atau membatasi ruang gerak saudara sekalian. Selamat menikmati waktu kalian dan berpestalah sepanjang malam … Silahkan berdansa sepuasnya .. cheerss … ,” tiba-tiba suara si MC tercekat. Dia berbisik-bisik sebentar dengan seorang pengurus di sebelahnya. Dia mengangguk kemudian mengangkat mic-nya kembali. “ .. sorry, ada sesuatu. Untuk memberi sedikit ketegangan dalam pesta ini, kami berharap tuan-tuan dan nona-nona sekalian, setelah berdansa sampai pergantian lagu berikutnya dapat berbalik—memutar tubuh dan berganti pasangan dengan orang di belakangnya. Tak perduli orang itu pria ataupun wanita, dia merupakan pasangan dansa anda berikutnya—“

“Omong kosong apa ini?” Junpyo melebarkan matanya.

“Ikuti saja, Junpyo-a ..” kata Ji Won. “Kelihatannya menarik .. “

“Apa aku bertanya padamu?” ujar Junpyo ketus.

Sebelum Ji Won menyahut, terdengar desahan di depannya.

“Hhh—selalu begitu .. “ Jandi mengeleng perlahan. Dia beralih pada Jihoo yang masih duduk di kursinya, meraih tangan pemuda itu kemudian menariknya berdiri. “Ayo sunbae, kita dansa bersama .. “

Jihoo tersentak kaget. Ini pertamakalinya Jandi berinisiatif mengajaknya melakukan sesuatu. Dansa bersama? Dia tak salah dengar, kan?

Terlebih lagi si Junpyo. Bola matanya menonjol, seakan mendesak keluar dari rongganya. “Yaa—apa yang kau lakukan??!!”

Jandi menoleh dengan tampang malas. “Apa urusannya denganmu?!” katanya cuek. Lalu dia melingkarkan tangannya di lengan Jihoo. “Jangan perdulikan dia, sunbae .. “

“Mwo?!” Junpyo mulai melangkah ke depan. “Apa katamu, Geum Jan Di?”

“Junpyo-a!!” tiba-tiba sebuah tangan menariknya kembali. “Kenapa bertengkar terus?” tanya si pemilik tangan, yang ternyata Ji Won. “Apa kita jadi dansa?” lanjutnya dengan nada berharap.

Junpyo memandanginya sebentar. Kemarahan masih tersirat jelas dari wajahnya. Ji Won bermaksud menjauh tapi segera ditarik kembali oleh Junpyo. “Tentu. Kita berdansa seperti rencana semua .. “ Dia mencengkram erat-erat pergelangan tangan Ji Won kemudian membawanya, atau lebih tepat, menyeretnya ke lantai dansa.

“Akhh—Jun Pyo-a!!”

Sementara itu, di penghujung ruangan, Yijeong menyaksikan adegan-adegan tersebut dalam kebisuan.



Sampai seseorang menepuk pundaknya. “So Yi Jeong!!” seru orang itu. “Benar kau, So Yi Jeong?”

Yijeong terperanjat dan menoleh dengan cepat. Alisnya berkerut ketika mendapati seorang wanita muda tak dikenal berdiri di belakangnya. Tapi, tunggu dulu …, Yijeong berpikir sebentar, Tidak benar-benar asing. Ada sesuatu—sesuatu yang seperti dikenalnya … Sangat akrab, tapi apa …

“Ka .. mu … “

“Lupa?” wanita muda itu mencondongkan badannya sehingga hampir menyentuh wajah Yijeong.

“Siapa?” Yijeong segera menarik diri ke belakang. “Anda tidak asing. Tapi … mian, aku tak dapat mengingatnya … “

“Hoh—kau ternyata sudah pikun .. ,” wanita itu terbahak. “Yuki—Yukie Hashimoto—ingat? perpisahan di musim panas, semester terakhir sekolah menengah Shin Hwa?”

“OH—“ Yijeong menepuk jidatnya. “Yuki? Yukie Hashimoto?”

“Ne … ,” Yuki tertawa lebar. “Ingat kau, sekarang … ,” katanya sambil mengarahkan jemarinya yang ditekuk berbentuk pistol ke Yijeong.

“Ne .. ,” Yijeong membalas dengan gerakan yang sama. Rasanya sudah lama sekali dia tak mendengar kabar dari cewek ini. “Bagaimana keadaanmu? Kenapa tiba-tiba muncul kembali di Seoul?”

“Perusahaan ayahku diundang oleh Mr. Yoon ke peresmiannya Yoon’s Power Korea. Karna tak bisa menghadiri, ayah mengutusku ke sini .. Acara tadi pagi, aku juga tak bisa menghadirinya jadi ya aku usahan hadir malam ini. .. Lalu, hey—bagaimana kabarmu?” Yuki menepuk lengan Yijeong.

“Baik.” Jawab Yijeong. “Apa kerasan di sini?”

Yuki mengangkat bahunya. “Biasa aja.” Kemudian dia menengok ke lantai dansa. Musik yang agak menghentak diputar dari sudut ruangan. “Kau tak dansa?” tanya Yuki.

“Tidak .. ,” Yijeong tertawa. “Aku tak bawa partner .. “

“O—chinja?” tanya Yuki tak percaya. “Pria semenarik kau?”

“Ha .. ha … ada kalanya cewek yang kita sukai tak tertarik pada pria menarik … “

“Ya, benar juga .. “ Yuki menimpali dengan tawa renyah. “O ya—tadi, aku seperti lihat Junpyo .. ,” tanyanya sambil menoleh kearah lain.

Yijeong terdiam. Diamatinya wanita di hadapannya dengan seksama. Merasa dipelototin, Yuki menoleh. “Weo?”


“Kau—bukannya kembali karna Junpyo kan?” tanya Yijeong lambat-lambat.

“Tentu saja bukan .. ,” sahut Yuki cepat. “Tak bisa dipungkiri aku memang merindukannya. Entah bagaimana jadinya dia sekarang. Sudah lama sekali kami tak bertemu. Aku masih sering mengikuti beritanya sih, dan dia—sudah tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang benar-benar menarik, tapi sungguh—bukan karna itu aku kembali ke Korea .. “

“Ya, lupakan saja .. “ Yijeong menoleh kearah lain. Ke lantai dansa di mana, Jihoo berpasangan dengan Jandi dan Junpyo berpasangan dengan model Ha Ji Won, sedang berdansa ria, agak tertutupi oleh pasangan lainnya. “Kau juga tak bisa berharap lebih kok .. “

“Kenapa?”

“Junpyo sudah bertunangan, apa kau tahu?”

“Mwo?” Yuki bergerak mendekati Yijeong. “Bagaimana mungkin? Kapan?”

“Seminggu yang lalu .. ,” jawab Yijeong tanpa menoleh padanya. “Dan apa kau tahu wanita itu? Atau .. mungkin kau bisa menebaknya?”

Yuki mengeleng perlahan.

“Geum Jan Di .. “

“Geum .. ,” mata Yuki terbelalak lebar. “Geum .. Jan Di—pewaris Korean News? Cewek yang sekelas denganku?!!”

“Ne .. “

“Oh—tapi, … mereka kan selalu bertengkar, nggak pernah akrab .. ,” ujar Yuki keheranan. “Apa sekarang mereka sudah akur?”

“Tidak!” jawab Yijeong. “Tetap saja seperti dulu, kucing dan tikus. Pertunangan itu karna desakan orangtua .. “

“O—“ Yuki mengangguk-anggukan kepalanya. “Rupanya orangtua yang berperan di situ … “

“Lalu bagaimana denganmu? Sudah menikah?”

Yuki mengeleng. “Belum. Sejujurnya, .. aku masih mengharapkan Junpyo … ,” desahnya halus. “Alasannya memutuskanku masih tak dapat kuterima sampai sekarang … “

“Gara-gara bunga?” selidik Yijeong.

Yuki melebarkan matanya. “Kau tahu?”

“Dari Jae … ,” jawab Yijeong dengan sikap menyesal. “Katanya, Junpyo ngamuk-ngamuk setelah kau tak sengaja menjatuhkan bunga Lili yang didapatnya dari seseorang. Dia langsung memutuskanmu saat itu juga, tanpa memberimu kesempatan untuk minta maaf. Benar begitu?”

“Ya—“ Yuki menghela nafasnya. “Persis begitu .. “

“Apa kau membencinya?”

“Dapatkah kita membencinya?” Yuki balas bertanya. “Kita sudah mengenalnya begitu lama .. “

Yijeong mendesah, setelah itu mengangguk pendek. “Ya … Goo Jun Pyo yang kita kenal … “        
 

***** oOo *****


Musik yang diputar hampir mencapai akhir. Junpyo mempererat rangkulan tangannya di pinggang Ji Won kemudian menariknya ke sebelah kanan. Makin mendekat, dan mendekat kearah Jihoo dan Jandi yang sedang berdansa riang.

Tiga … dua … satu … akhirnya musik tersebut berhenti dan digantikan musik yang mengalun lembut. Bersamaan dengan itu, semua pasangan memutar tubuh secara berbarengan.

Mata Jandi terbelalak lebar begitu mendapati Junpyo sudah berada di hadapannya.

“Dho?!!!”

Junpyo membusungkan dadanya. “Mwo?! Mau menghindar?!” tanyanya sambil tersenyum mengejek.

Jandi memejamkan mata dan mengepalkan tangannya. “Kau sungguh menyebalkan!!!”

“Jadi?!” Junpyo menyunggingkan senyum licik.

”Ok, tuan-tuan dan nona-nona—yang berada di depan adalah pasangan anda sekarang. Jadi, bersenang-senanglah!” Suara si pembawa acara bergema dibarengan tawa kecil.

Jandi menghembuskan nafasnya. Pesta ini membuatnya semakin tidak nyaman. Apalagi ditambah dengan tindak-tanduk Junpyo yang memuakan. Jika memang mereka punya pasangan masing-masing, mengapa si keriwil ini mengikutinya terus. Jandi berpaling ke belakang. Dilihatnya Jihoo juga menoleh kearahnya. Pemuda itu sekarang sedang berhadapan dengan seorang wanita yang dia ketahui adalah putri sulung dari pengusaha tekstil terbesar di Korea, Yoo Ha Na.

“Kenapa? Mau kembali padanya?”

Pertanyaan menusuk dari Junpyo memaksa Jandi untuk berpaling. “Mwo?” tanya Jandi tak mengerti.

“Kau boleh maksa kembali padanya … “ Junpyo mendesis. “Kalau kau memang mau melanggar aturan! Kau dengar perkataan si pembawa acara tadi kan?! Yang berhadapan denganmu sekarang adalah PASANGANMU!!” lanjut Junpyo dengan sikap menantang. Ya, dia selalu tahu kelemahan Jandi. Dia paling benci ditantang.

Dan benar perhitungannya karena Jandi langsung berteriak. “SIAPA BILANG AKU MAU MELANGGAR ATURAN!!!”

Dengan kekesalan selangit dan sangat kasar, Jandi menyambar tangan Junpyo dan mencengkram lengan satunya, kemudian menarik tubuh jangkung itu kearahnya. Kakinya mulai digerakan mengikuti irama musik, namun sangat asal-asalan. Pada langkah ketiga dia malah sengaja menginjak kaki Junpyo.


“Akh!!” teriak Junpyo. Dia mendelik kesal. “Yaa--Geum Jan Di!!!”

Jandi berlagak tak melihat semua itu. Bersamaan dengan hardikan Junpyo, dia menengadah ke atas.

“Yaishh—kau … “ Junpyo mengesek-gesekan giginya sehingga menimbulkan suara keras saking geramnya.

Tapi Jandi tetap tak bergeming dari posisi itu—terlihat sangat angkuh. Tapi beberapa saat kemudian bibirnya mulai bergerak, perlahan dia mengigit bibir bawahnya, kemudian samar-samar dia mulai tersenyum, yang pada akhirnya tak dapat ditahan lagi, pecah menjadi tawa keras.


“Ha .. ha .. ha … “

“Mwo?!” tanya Junpyo kaget. “Kau sudah gila? Ketawa-ketawa tak karuan?”

“Ha .. ha .. ha …. “ Tawa Jandi semakin keras—mengalahkan musik mellow yang sedang diputar. Para pasangan lain melirik mereka dengan pandangan bertanya-tanya.

“Yaa—Geum Jan Di—hentikan ketawamu!! Memalukan, tahu?!!”

“Biarin .. ha .. ha … ,” sahut Jandi cuek, masih dengan tawa yang semakin menjadi-jadi.

“Yaa—Geum Jan Di!! Hentikan!!” protes Junpyo risih. Dia melongok kesana-kemari. Sekarang semakin banyak pasang mata yang melirik kearah mereka. “Hentikan!!!” Telunjuknya menunjuk ke wajah Jandi. Mampus deh, kharisma yang dijaga dan dibangga-banggakannya selama ini hancur oleh kelakuan partnernya yang memalukan ini … Sekujur tubuh Junpyo langsung lemas.


***** oOo *****


”Hey—ternyata benar, .. Yang kulihat tadi, Junpyo adanya … “

Kerusuhan tadi sampai jua ke tempat Yijeong dan Yuki, yang berbincang-bincang di sudut ruangan.

Yijeong mengikuti arah pandang Yuki. “Memang .. ,” jawabnya pelan.

“Kau sudah tahu sejak semula?”

Yijeong mengangguk. “Ne … “

“Lalu kenapa tak memberitahuku? Tadi kutanya, kau juga tak menjawab .. ,” kata Yuki dengan nada menyalahkan.

Yijeong mengangkat bahunya. “Kurasa tak penting untuk dibicarakan .. “

Yuki menghembuskan nafasnya, kemudian kembali berpaling kearah Junpyo yang sedang beradu mulut dengan pasangannya.

“Dan itu—“ Yuki menunjuk. “Bukankah dia Jandi?”

“Ne .. ,” jawab Yijeong malas.

“Mereka ke sini bersama?”

“Tidak!” Yijeong mengeleng. “Mereka datang dengan pasangan masing-masing.” Yijeong kemudian menegakan badannya. “Bisakah kita tak membicarakan mereka?”

“Kenapa?” Yuki balas bertanya.

“Kau lihat sendiri—mereka sudah bersama, bertunangan .. “

“Tapi, mereka tak kelihatan seperti pasangan sesungguhnya .. ,” ujar Yuki.


“Maksudmu?” Kaki Yijeong yang sudah digerakan terhenti. Dia menoleh pada Yuki yang tersenyum-senyum penuh arti.

“Mereka tak saling menyukai—apalagi cinta.” Yuki mengerak-gerakan telunjuknya. “Menurutmu, apa hubungan itu mungkin?”

“Jadi?”

“Saya punya ide. Kemarilah!”

Yijeong mendekati Yukie dengan kening berkenyit. Sesaat kemudian Yuki membisik-bisikan sesuatu di telinganya.

“Mwo?!” Yijeong menarik badannya. “Kau serius? Apa ini bisa berjalan?”

“Mengapa tidak?” Yuki tersenyum. “Aku lihat, .. kau begitu perhatian ke Jandi. Kau … menyukainya, kan?”

“Ne. Tapi, aku tak pernah berpikir …. “ Perkataannya segera dipotong oleh Yuki.

“Ah—tak ada yang akan dirugikan dari rencana ini!” sela wanita itu sambil mengibaskan tangannya. “Bagaimana?”

“Kau yakin?” tanya Yijeong, masih ragu-ragu.


“Tentu saja!” sahut Yuki pasti. “Kita tak melakukan sesuatu yang melanggar hokum, ataupun menyakiti orang lain. KITA HANYA BERJUANG BUAT SESUATU YANG SEHARUSNYA KITA MILIKI. That’s all … “

Yijeong mengangguk-anggukan kepalanya. “Ya, ya … tak ada buruknya kita mencobanya … “

Yuki tersenyum puas. Kemudian ditepuknya lengan Yijeong keras-keras. “Sure, man!!”

  
***** oOo *****
« Last Edit: January 16, 2011, 01:26:49 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun