Author Topic: DON'T TOUCH MY MAID HIATUS  (Read 14858 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: DON'T TOUCH MY MAID HIATUS AMPE MEI
« Reply #135 on: January 17, 2011, 09:05:21 am »
Woo Bin melangkahkan kakinya diundakan rumah sederhana itu. Matanya melirik kesana kemari, memastikan tidak ada orang yang mengikutinya. Dikibaskannya jas hitam yang dipakainya setelah itu ia melangkah masuk.

Sunyi menyambut kedatangannya. Tapi ia tidak terlalu terpengaruh dengan keadaan itu. Dengan langkah tenang ia menuju kesebuah kamar yang warna kecoklatan dipintunya sudah memudar. Pelan-pelan ia membuka pintu kamar itu, mengintip sedikit kedalamnya, kemudian masuk tanpa menimbulkan suara dan langsung menutup pintu.

“Aku pulang, omma.”

=====*****=====

Hiruk pikuk dibandara Seoul tidak mengurangi langkah-langkah panjang Jun Pyo. Dibelakangnya Jan Di dan para pengawalnya setia mengikuti. Jan Di berusaha mengimbangi langkah kaki panjang Jun Pyo karena ia tengah diseret oleh pemuda itu. Tubuh mungil Jan Di tidak bisa membuatnya bisa menyamai langkah Jun Pyo, napasnya tersengal-sengal tapi ia tidak punya keberanian untuk berkata; ‘Jun Pyo majikanku yang paling tampan dan tajir, berhenti bentar dong. Aku kasih kissu deh. Mau ya?’. Yah walaupun kemungkinan besar Jun Pyo mau menuruti keinginannya. Apa sih yang gak buat maid tersayang?

Tapi untungnya mobil Jun Pyo sudah didepan mata. Jan Di sujud syukur dalam hati karena penyiksaan kaki bengkak ini akan segera berakhir. Dengan berlinangan air mata karena terharu melihat mobil Jan Di langsung ngacir kedalam mobil, membiarkan Jun Pyo diluar yang tengah memberikan intruksi terhadap para pengawalnya.

Beberapa saat kemudian Jun Pyo masuk. Ia melirik Jan Di yang tengah memijit-mijit kakinya. “Kakimu kenapa?” tanya Jun Pyo.

Jan Di hampir saja mengeluarkan sumpah serapah tapi untungnya ia segera sadar bahwa pemuda dihadapannya sekarang adalah majikannya. “Kakiku sakit.” Ujar Jan Di pelan.

Jun Pyo mengangguk pelan, ia kemudian beralih pada supir didepan. “Langsung ke kantor.”

Mata Jan Di melebar sempurna, “Mwo? Lalu aku?”

“Temani aku meeting hari ini. Lalu kita pergi makan di Hongkong. Aku ingin sekali makan kepiting.”

Jika kakinya tidak sakit sudah dipastikan Jan Di akan menendang anak ingusan ini. “Tapi kita baru saja sampai, doronim. Lagipula untuk apa makan di Hongkong, biar aku saja yang masak kepiting.” Diluar rencana, Jan Di malah berbicara dengan suara lembut plus membujuk.

“Anyi. Aku tahu kau pasti capek.”

Sudah tahu capek kenapa malah mengajak pergi ke Hongkong, baka!!

Kantor Shinwha terlihat seperti neraka untuk Jan Di. Padahal tadi sewaktu masih didalam pesawat ia sudah berkhayal akan tidur dengan nyenyak dan bertemu dengan Woo Bin. Tapi apa daya, membantah kemauan Goo Jun Pyo sama saja dengan mengumpankan diri sendiri ke lubang buaya.

Semuanya tidak berubah. Para pegawai Shinwha masih menyambut kedatangan Presiden Direktur mereka, dan pandangan bertanya pun sudah berkurang mengingat mereka sudah mengetahui siapa wanita yang berjalan disamping bos mereka.

“Aku akan siap dalam waktu satu jam. Persiapkan semuanya.” Kata Jun Pyo sesaat sebelum ia dan Jan Di masuk kedalam ruangan mewahnya dilantai paling atas gedung Shinwha. “Dan jangan ganggu kami.”

Jan Di langsung menempatkan dirinya di sofa yang terletak dihadapan meja kerja Jun Pyo. Kakinya di selonjorkan ke atas meja. Masa bodoh ini ruangan presiden direktur, racaunya. Jun Pyo masuk tak berapa lama kemudian dan langsung melepas jas hitamnya. Dua kancing atas kemejanya dibuka. Ia kemudian duduk di kursi kebanggaannya dan menatap dalam diam Jan Di yang sedang berusaha tidur.

“Jan Di-ya.”

Jan Di yang sedang menutup matanya hanya bergumam pelan. “Hm?”

“Kemarilah.”

Dengan kesadaran yang sudah menipis Jan Di berjalan dengan tersaruk-saruk. Ia mendekati Jun Pyo yang memandangnya lembut. Tiba dihadapan Jun Pyo ia menguap membuat Jun Pyo terkekeh pelan. “Kau benar-benar capek ya?”

Dengan lembut ditariknya pinggang Jan Di sehingga Jan Di terduduk dipangkuannya. “Aku juga capek.” Jun Pyo meletakkan kepalanya di bahu Jan Di, cuping hidungnya menyentuh leher Jan Di. Ia menghirup aroma memabukkan khas Jan Di.

Sekali lagi Jan Di menguap. Masih tidak sadar bahwa posisinya sekarang terlihat sangat intim dengan Jun Pyo. Sedangkan Jun Pyo masih dengan nyamannya menempatkan dirinya dipelukan Jan Di. Perlahan-lahan kepala Jan Di disandarkan diatas kepala Jun Pyo, merasakan lembutnya rambut lebat milik Jun Pyo. Momen romantis milik mereka berdua sudah tercipta diruangan itu. Dan dipastikan meeting Jun Pyo yang sudah di rencanakan akan dimulai satu jam setelah kepulangan Jun Pyo menjadi terhambat karena Jan Di yang tertidur dipangkuan Jun Pyo dan Jun Pyo yang tidak tega membangunkan maid kesayangannya.

=====*****=====

Woo Bin sudah memantapkan keinginan hatinya. Malam ini juga rencananya harus berhasil. Apapun konsekuensinya ia tidak peduli. Yang terpenting satu; ommanya bahagia. Suara deruman mobil dari arah halaman membuatnya tersenyum lebar. Akhirnya kau kembali juga sayang, batinnya.

Ya, ia tidak peduli apapun konsekuensinya. Malam ini juga ia harus melakukannya. Malam ini juga ia harus melamar Jan Di. Tidak peduli tuan mudanya akan mengamuk seperti tempo hari. Ia tidak peduli. Jan Di miliknya. Hanya ia yang boleh memilikinya. Ia sudah cukup sabar membiarkan majikannya itu berada didekat Jan Di. Ia sudah cukup sabar untuk tidak menarik Jan Di ketika kekasihnya itu berada didalam pelukan Jun Pyo. Ia sudah cukup bersabar. Dan sekarang saatnya ia memetik hasil dari kesabarannya itu kan.

Jan Di miliknya. Hanya miliknya.

Melihat keberadaan Woo Bin di teras rumahnya membuat Jun Pyo agak gerah. Gosip-gosip memuakkan itu belum bisa dihapus dari pikirannya. Dengan defensif Jun Pyo merangkul pinggang Jan Di dan menatap tajam Woo Bin. Ia sengaja bersikap ambigu. Protektif sekaligus unjuk kekuasaan. Aku yang berkuasa disini, Jan Di milikku.

Tak elak pandangan tajam kedua pemuda itu saling beradu. Jan Di yang berada di dalam rangkulan Jun Pyo tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah ranjang empuk dan selimut tebal. Oh ranjang, aku merindukanmu.

Woo Bin sadar belum saatnya ia melaksanakan rencananya. Jun Pyo terlalu keras kepala, ia tidak akan mengijinkan Jan Di berada didekat Woo Bin. Mau tidak mau Woo Bin harus menunda rencananya. Biarlah, masih ada esok pagi. Jan Di tidak akan lari darinya kan? Jan Di masih miliknya kan? Iya kan?

Tidak seorang pun yang tahu apa dan bagaimana perasaan Jan Di sekarang ini. Tapi yang jelas, Woo Bin sadar bahwa hati Jan Di sudah terbelah. Matanya nanar menatap Jan Di yang balas memeluk Jun Pyo hingga keduanya berlalu ke lantai atas—kamar Jun Pyo.

Jan Di... masih miliknya kan?

=====*****=====

Perlahan Jun Pyo membaringkan Jan Di diatas ranjangnya. Ia kemudian membuka  kemejanya dan melemparkannya asal kesudut kamarnya. Ia berbaring disamping kanan Jan Di. Tangan kanannya mengelus pelan wajah putih Jan Di. Tapi tidak dengan pandangan matanya. Tajam dan ingin membunuh. Ia menarik Jan Di kedalam pelukannya. Menyembunyikan wajah Jan Di didada bidangnya dan kemudiaN jatuh tertidur dengan satu rencana yang sudah tersusun rapi didalam otaknya.

Jan Di miliknya. Hanya miliknya.

Malam itu, dua orang pria sudah bertekad. Jan Di miliknya. Hanya miliknya.[/size][/color]

END OF FICT!!
Jokking men, END OF CHAPTER

KENTAAAAAANG..... BODO!! YANG PENTING GW UPDATE. Jangan minta update lagi ya... gw udah gak sanggup. 5 fict gw update dalam waktu tiga hari. Gak sanguuuuuup..... mana besok gw ada ulangan matematika. Bwt, spoiler yang kemaren gak masuk. Soalnya aku buat chap ini kilat, kurand dari dua jam!!
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME