Author Topic: *When a Gay met a Young Mom (in love again)* ~chp 22 (ending), 22 Jan'2011  (Read 98236 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Lima menit kemudian, Mr. Lee kembali ke ruang tamu bersama Eun Chae dan Insung.

“Hy—Minho-a .. ,” sapa Insung pada Minho yang sedang sibuk membilas bokong Sun Ki. “Sibuk ya?”

Minho menghentikan kesibukannya. “O hyung, kapan sampainya?” katanya sambil menerima diaper dari tangan Mr. Lee. Eun Cha sudah diturunkan ke lantai dan bermain-main sendiri dengan mainannya.

“Beberapa menit yang lalu .. ,” jawab Insung. “Pak direktur sendiri yang membukakan pintu untuk ku .. ,” kemudian pandangannya diedarkan berkeliling-liling. “Kayaknya para pembantu diliburkan semua ya?”

“Ne .. Hyesun yang mengurus semua itu.” Kata Minho. “Katanya, dia ingin hanya keluarga sendiri yang hadir dalam acara makan malam bersama ini. Dia tak ingin diganggu jadi semuanya dilakukan sendiri .. mulai dari persiapan sampai memasak .. “

“Wah—jadi .. saya sudah dianggap keluarga sendiri?” Insung tertawa.


“Tentu saja!” sahut Minho. Tapi ketenangan yang hanya sebentar itu kembali terusik oleh kenakalan Eun Chae. Anak itu kembali memanjat sofa.

“Pha .. pha .. pha .. pha .. ”

“No, sayang. Kau bisa jatuh .. “ Minho segera menyambar Eun Chae ke dalam pelukannya. Tapi di saat lain, si Sun Ki mulai merengek. Rupanya dia tak suka berbaring terlalu lama di sofa. Bayi itu memprotes pingin digendong. Minho jadi kalang-kabut. Eun Chae yang diturunkan ke sofa di sebelahnya, langsung memanjat lagi. “Yaa—yaa—no!!!!”

“Minho benar-benar sibuk ..” kata Insung pada Mr. Lee yang kini sudah berada di sebelahnya.

“Benar.” Mr. Lee tertawa.

“Apa tak terlalu ribut kalau setiap hari begini?” Insung ikut tertawa.

“Kadang-kadang memang .. ,” ujar Mr. Lee. “Kepala sampai mau pecah kalau anak-anak ini ribut bersamaan. Kau tahu—enam anak bandel dalam satu ruangan?” Tawa Mr. Lee semakin keras.

“Saya bisa membayangkannya .. ,” timpal Insung ngeri.

“Walaupun demikian .. “ Mr. Lee menghentikan tawanya. Suaranya berubah pelan dan lembut. “Suasana ini memberi kehangatan dan kenyamanan tersendiri. Jika salah seorang di antara mereka memanggilmu ‘haraboji’, kau akan merasakan kebahagiaan yang tiada taranya—semua kekesalanmu pasti akan meluluh saat itu jua .. Ataupun ketika mereka menunjukan keberhasilan-keberhasilan yang berhasil dicapainya, baik di sekolah maupun dalam kegiatan-kegiatan biasa … semua sangat ajaib, Insung-a .. “

Insung tersenyum. “Pak direktur sangat puas dengan kehidupan sekarang?”

“Ne .. ,” Mr. Lee kembali memperlihatkan ketawanya. “Mereka sangat berarti bagiku. “ Kemudian dia meletakan tangan ke pundak Insung. “Lalu bagaimana denganmu? Kudengar dari Minho, kau cuti dua minggu .. ”

“Iya .. ,” jawab Insung. Sesaat dia terdiam. Kepalanya menunduk, sampai sekitar dua menit kemudian, dia mengangkatnya lagi.

“Bagaimana masalahmu dengan Won Bin?” tanya Mr. Lee agak risih. Dia tak ingin menanyakan pertanyaan ini, sesungguhnya—sejak dulu dia tak pernah mengubris masalah pribadi Insung.

“Dia memutuskan kembali ke ayahnya dan menerima perjodohan yang sudah direncanakan semula .. “

“Mwo?” Mr. Lee terbelalak. “Apa itu mungkin?”

“Saya rasa tak masalah.” Ujar Insung cepat. Dia tersenyum. Bukan senyum hambar ataupun pahit, melainkan senyum ikhlas. “Wanita itu dikenalnya sejak kecil, dan Won Bin menyayanginya. Abojinya ingin penerus buat keluarga Won dan Won Bin tak bisa berkata lain, karna itu … “

“Kau kecewa?” sela Mr. Lee.

Insung menoleh padanya. “Untuk apa?”

“Karna Won Bin memutuskanmu sepihak .. “

“Tidak .. ,” Insung mengeleng. “Bukan keputusan sepihak. Kami sudah mendiskusikannya bersama—dengan kepala jernih. Dan .. tak ada pilihan lain.”

“Lalu apa rencanamu sekarang?”

“Libur seperti yang saya katakan tadi .. “ Insung tersenyum.

“Kau tak bermaksud menghadiri pernikahan mereka?”

“Hadir .. “ Insung menegakan badannya. “Saya sudah akan pulang waktu itu.”

“O—“ Mr. Lee mengangguk. “Apa kau pergi sendirian?”

“Tidak ..,” Insung tiba-tiba tertawa. “Sangat aneh. Beberapa hari yang lalu saya ketemu Bum. Dia bilang akan menghabiskan waktu beberapa minggu di New Zealand ..”

“Kau ikut dengannya?” tanya Mr. Lee tak percaya.

“Ne .. “

“Apa .. kalian berpeluang .. “

“Tidak tahu!” sela Insung. “Untuk saat ini, saya tak ingin memikirkan apapun selain relaks. Tapi … “

“Iya?”

“Mungkin tak menutup kemungkinan itu. Bum kelihatan jauh lebih dewasa dari pertemuan kami yang terakhir … Saya rasa kami bisa menghabiskan hari-hari yang menyenangkan di sana .. “

“Semoga saja .. “

“AKH!!!”

Teriakan itu membuyarkan pembicaraan pribadi kedua pria tersebut. Keduanya berpaling kearah Minho. Mengenaskan, ayah muda itu tergeletak di lantai dengan Eun Chae menimpa sepasang kaki dan Sun Ki terpeluk dalam genggaman sepasang tangannya.

“Pha .. pha .. pha .. pha .. “ Eun Chae merangkak naik di sekujur tubuh Minho, sampai mencapai dadanya dan seinci lagi hampir menimpa dongsengnya.

“Yaaa—yaaa—tak boleh begitu, sayang!!!” jerit Minho panik. Dia segera beranjak bangun—tangannya masih memeluk putranya erat-erat. Malang, Eun Chae yang berada di dadanya terpelanting ke belakang. Minho berteriak, secepat kilat dia menahan jatuhnya tubuh Eun Chae dengan sepasang kakinya.

“AKHH!!!” teriakan Minho terdengar kembali.

“Pha .. pha … pha … “ Eun Chae bertepuk-tangan.  

“Oh—“ Mr. Lee dan Insung melebarkan mata bersamaan, kemudian mereka saling melirik, berpandangan dengan ekspresi bengong. Sebentar saja, mereka tertawa terbahak-bahak.

SPECIAL : Hyesun menceritakan asal usul Kangsan setelah anak itu memasuki sekolah menengah. Saat itu Kangsan sudah berusia enam belas tahun dan Hyesun merasa sudah saatnya dia mengetahui segalanya.

Atas dukungan Minho, Hyesun membeberkan semua di hadapan Kangsan—tanpa terkecuali. Mengenai kecelakaan tragis yang menimpa kedua orangtuanya dan bagaimana kejadian tersebut masih berhubungan dengannya, Goo Hye Sun—bibinya sendiri, dan juga semua kebohongan-kebohongan yang tercipta selama ini. Hyesun menangis kesengukan ketika melakukannya. Selain teringat kembali akan kejadian yang sudah berhasil dilupakannya itu, dia juga takut Kangsan akan marah dan membencinya. Ya, setelah mengetahui kebohongan-kebohongannya selama ini, siapa yang tidak?

Beruntung Minho senantiasa menenaminya--berada di sisinya. Mengenggam erat setiap jemari tangannya dan menyalurkan kekuatan yang luar biasa sehingga dia mampu bertahan sampai titik terakhir. Setelah itu, Hyesun hanya dapat menunggu. Menunggu reaksi dari pemuda tanggung di depannya.

Sepasang mata Kangsan meredup. Dia mendekati Hyesun dan menyentuh tangannya. Sungguh mengejutkan Hyesun ketika mendengar perkataaan yang tak disangka dari Kangsan. Keponakan yang sudah dianggapnya anak kandung sendiri ini memaafkannya? Benarkah?

“Omma—apapun yang terjadi, kau tetap ommaku. Omma tersayang yang melindungi dan menjagaku sejak dulu—dengan sepenuh hati.” Kangsan mengerakan-gerakan tangannya di atas punggung tangan Hyesun. Menatap ommanya dengan lembut. Suaranya terdengar parau tapi menyentuh dan mengandung sejuta keyakinan. “Aku tak pernah perduli siapa orangtua kandungku—siapa mereka dan apa yang telah mereka lakukan. Bagiku—kau segala-galanya. Persetan dengan sindiran-sindiran dan tebakan-tebakan simpang-siur mengenai asal usulku dari orang-orang munafik itu. Aku tak perduli--jeongmal. Ya, walaupun aku cukup senang setelah mengetahui ternyata orangtuaku tidak seperti yang kubayangkan semula. Aku menyayangimu omma. Apapun yang kau lakukan—demi kebahagiaanku, aku tahu itu. Kau pasti juga sangat menderita ketika harus menyembunyikan semua dariku. Aku memahaminya, omma. Gumawo, karna telah memberikan sebuah keluarga bagiku. Sebuah keluarga yang hangat dan penuh cinta. Jika bukan begitu, jika bukan kebohongan-kebohongan yang kau lakukan, mungkin—mungkin masa kecil-ku tak akan sebahagia ini. Sekali lagi, gumawo .. “

“San-a .. “

Kemudian, ibu dan anak itu berpelukan erat, menangis terisak-isak, saling melepas segala keganjalan-keganjalan yang selama ini tertanam di hati masing-masing. Hyesun sangat bersyukur. Ternyata semua berakhir indah.

Minho menyaksikan adegan-adegan mengharukan itu dari tempatnya. Dia tak bersuara karna memang tak tepat buatnya untuk bersuara. Perlahan, dia tersenyum. Senyuman paling indah dan paling lebar dari seorang pria yang berbahagia di dunia ini.


 
><> THE END <><



p.s. : ya, akhirnya story ini berakhir juga hmpfh.. Gw harap endingnya ga mengecewakan. Agak capek juga dikejar updatean yang bejubun, karna itu para readers--gw berjanji tak akan membuka tret baru lagi. NOT FOR THIS TIME. Gw akan lebih menfokuskan ke ff yang sudah ada, meneruskan dan menamatkan mereka.

Di ff ini, happy ending buat semua karakter—termasuk insung, yg wlp pd akhirnya tak bersatu ama wonbin, ga apa deh masih ada kimbum wkk. Yup, akhirnya mereka bersatu kembali setelah berpisah bertahun-tahun. Mereka lebih cocok, hubungan mereka tak akan dihalangi oleh keluarga karna mereka memang tak punya keluarga. Lain ama wonbin yang mempunyai appa dari golongan hitam, yg otomatis menginginkan keturunan/penerus buat keluarganya.

Akhir kata, selamat berpisah buat bengkok. Satu tahun sudah tret ini menemani kita2 jadi sudah saatnya dia berlalu hahaha, kalau tidak—mana ada bengkok ke-2, bener ga?
« Last Edit: January 21, 2011, 11:28:58 pm by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun