Author Topic: BEHIND THE SHINNING STAR (Season IV) part II (3 Juli 2011)  (Read 12327 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
BEHIND THE SHINING STAR III
PART 2

Siang ini terasa terik, udara musim panas di Seoul memang tak kalah ekstrim. Ibu kota sekaligus pusat bisnis di korea selatan ini memang selalu sibuk dengan suasana yang kurang bersahabat, apalagi untuk Sun yang kembali merasa mual setelah mencium bau kopi yang dia buat untuk Mr. Goo.

Dokter Lu masih sibuk dengan catatan kesehatan Sun, sementara pasien di depannya yang tak lain adalah Sun menunggu dengan penuh tanya. Dokter keturunan Cina itu tersenyum, sesaat tampak manggut-manggut. Sun jadi tambah heran dibuatnya. Beberapa menit yang lalu dia musti menjalani test laboratorium singkat, dan petugas-petugas itu hanya membutuhkan urinnya. Sun curiga, benarkah? Mengingat waktu datang bulannya yang tidak mudah dipegang, dia menepis anggapan itu, bahkan berharap hal itu tidak terjadi.

“Sepertinya saya perlu merujuk anda ke doker kandungan, Nyonya Lee.”
“Maksud anda?”

“Selamat, anda mengandung.” Dr. Lu mengulurkan tangannya. Sun bengong sejenak. Dokter muda itu agak menggerakkan tangan yang terulur untuk menarik respon Sun. “Gamsahamnida,” Sun akhirnya membalas jabat tangan itu.

“Apakah semuanya baik-baik saja, Dokter? Saya agak kawatir karena telah mengkonsumsi Morning after pill selama ini.”

“Oh, obat itu tidak menjadi masalah, Nyonya. Yang saya kawatirkan adalah kebiasaan anda meminum minuman beralkohol, dan sepertinya anda bangga dengan hal itu. Sedapat mungkin hindari minuman itu selama mengandung,” dokter itu menghela nafas,”Untung saja istri saya orang Indonesia, jadi dia tidak bermasalah dengan alkohol.”

Sun jadi geli mendengar curhatan dokter Lu. Istri dr. Lu memang orang Indonesia, mereka bertemu saat dr. Lu jadi relawan pasca gempa Jogja tahun 2006. Bisa dibilang hikmah cinta dibalik bencana. Sun pernah ingin mengangkat kisah ini di filmnya, tapi dr. Lu jelas-jelas tak mau jadi narasumber, alhasil urung juga niat itu.

“Ah, jangan berpikir tentang film itu lagi, Nyonya Lee,” tepat sekali tebakanmu dr. Lu. Memang Sun ingin merayumu lagi akan rencana film itu,”He he he, Mianhamnida, Dokter. Berapa usia kandungan saya ?”

“Kira-kira satu bulan, itulah kenapa saya akan merujuk anda ke bagian obsgyn agar lebih bisa memastikan. Sudah berapa lama anda merasa mual-mual?”

“Baru tadi pagi.”
“Berapa lama anda berhenti mengkonsumsi tablet kontrasepsi?”
“Kira-kira satu bulan lebih.”

“Hm, berarti benar perkiraan saya,” Dokter Lu berpikir sejenak. Dia menuliskan sesuatu di selembar kertas lalu menyerahkan kertas itu pada Sun.”Ini surat rujukan untuk anda, Nyonya Lee. Anda bisa langsung ke Dr. Kang sekarang.”

Hasil pemeriksaan Dr. Kang ternyata sama, Sun positif hamil dan umur kandungannya tiga minggu. Sun terlihat bingung saat harus menunggu obat di apotek. Sesekali tampak dia mengelus-elus perutnya. Di satu sisi dia bahagia akan kehamilannya, tapi di sisi lain angka-angka itu semakin mencekik leher saja jika mengingatnya. Sun menghembuskan nafas kuat-kuat,”Sepertinya aku harus siap bangkrut sekarang.” Dia mulai merogoh tasnya. Hal yang akan dia lakukan adalah menghubungi suaminya, tapi dia agak ragu akan hal itu, hingga dia memutuskan untuk mengirim pesan singkat, “HUSKY, AKU HAMIL”

“Yuhuuu…!” Mino menari-nari tak jelas saat menerima kabar itu. Dia yang memang lagi kosong menunggu giliran syuting langsung tak bisa menahan diri, akibatnya sutradara marah-marah setelah meneriakkan kata,”Cut!”

“Miane. Miane,” Mino membungkukkan badan demi meminta maaf. Dia segera menuju ruang pribadinya lalu menelphon Sun,”Baby, kau di mana?”

“Aku menunggu di klinik rumah sakit.”
“Perlu ku jemput?”
“Anyi, aku sedang menunggu jemputan manajemen.”

Mino tersenyum di balik telephon, ingin rasanya dia memeluk Sun saat ini,”Nanti malam kau langsung tidur saja, Baby. Jangan tunggu aku, kau harus banyak istirahat sekarang.”

“Ne, aku pergi dulu, sudah dijemput.”
“Baik-baik dengan anakku ya, Baby..”

“Ne..,” Sun mengakhiri pembicaraan lalu memasuki mobil van di depannya. Manajernya memandang heran. Sun membuang muka, dia memilih menikmati view luar saat mobil itu melaju. Sementara Mino masih di ruang pribadinya. Kali ini manajernya datang untuk mengantar makan siang,”Kenapa kau senyum-senyum sendiri?”

Senyum Mino jadi tambah lebar, dia segera membuka bungkusan nasi di depannya,”Sun sudah makan belum, ya?” tiba-tiba Mino memikirkan hal itu. Dia lupa menyuruh istrinya itu makan siang di telephone tadi,”Manajer, jam berapa aku bisa pulang ke apartemen?”

“Kira-kira jam sebelas malam, kenapa?”

Mino memajukan bibirnya, dia sudah tak sabar bertemu Sun dan mengelus perutnya.

“IPO melonjak,”kata manajer itu setelah menekuri koran di depannya. Mino menoleh ke arahnya,”Kapan mereka membagikan devident?”
“Kira-kira awal tahun depan, kenapa?”

“Aku ada rencana dengan uang itu, tapi tidak begitu yakin, harus kudiskusikan dengan Sun dulu.” Mino mulai melahap makan siangnya setelah mengingatkan Sun untuk makan siang lewat SMS.

------- < * > ------

Waktu telah menunjuk pukul dua belas malam, saat Mino sampai di apartemennya. Didapatinya Sun sudah tidur di ranjang mereka. Mino memandang wajah pulas itu lekat-lekat, lalu duduk di samping Sun. Digapainya tangan Sun, mencium buku-buku jari lentik itu lalu pandangan matanya terarah pada perut Sun. Mino tersenyum.  Tangan kanannya beralih ke perut Sun sementara tangan kirinya masih menggenggam tangan Sun, lalu dia menundukkan wajahnya dan mencium perut itu lembut. Perlakuan tersebut membuat Sun terbangun,”Sudah pulang?”

“Miane mengganggu tidurmu, Baby,” sesal Mino.
“Gwencana, mau kubuatkan teh hangat?”

“Tidak perlu, aku sudah banyak minum tadi,” Dia mencium kening Sun.”Gomawo, Baby. Ini adalah hadiah terindah bagiku.”

Sun tersenyum. Mino mengecup bibir yang tersenyum itu dengan lembut, “Sekarang kau kembali tidur, ya… Jangan perdulikan lagi suamimu ini. Aku bisa mengurus diri sendiri,” bisiknya di telinga Sun. Sun menutup kembali matanya untuk menuruti perintah Mino padahal pikirannya masih tertuju pada angka-angka itu. “Appa…., aku benar-benar membutuhkan uang itu sekarang….,” bisik hati Sun.

------ > * < ------

Hari demi hari berlalu bagi mereka berdua, semakin kandungan Sun membesar, semakin banyak denda yang harus dibayar Sun akibat kontrak yang gagal. Seperti janjinya, Mr. Goo pun membantu keuangan putrinya. Rahasia ini diketahui oleh Mino walau pun Sun menutupnya rapat. Tanpa sepengetahuan istrinya, Mino bahkan menemui Mr. Goo untuk mengembalikan uang, alhasil Mr. Goo merasa tersinggung dan dia harus minta maaf pada mertuanya itu. “Cukup buat putriku bahagia, Mino-ssi, itu yang terpenting bagi Appa,”begitulah nasehat orang tua itu.

Sun akhirnya resmi menjadi istri saja bagi Mino, sepertinya memang dia harus melepaskan gelar keartisannya. Dia masih mengisi waktu luang dengan menulis dan melukis dan selebihnya hanya dipergunakan untuk mengurus keperluan rumah tangga saja. Terkadang dia merindukan saat-saat syuting. Mino tahu hal itu sehingga terkadang dia mengajak Sun ke lokasi agar bisa bercanda dengan rekan sesama artis.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Mino saat dia mendapati Sun melamun. Sun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Seperti biasa yang mereka lakukan di Minggu pagi, adalah duduk-duduk di balkon apartemen mereka, menikmati suasana pagi sambil minum teh.

“Dia baik-baik saja, kan?” Mino memegang perut Sun. Sun mengangguk, kandungannya sudah memasuki bulan keempat. ”Miane karena tak berterus terang akan kontrak-kontrak itu.”

Mino menghembuskan nafas kuat-kuat,”Kau tahu ayahmu sangat tersinggung saat aku berusaha mengembalikan uang itu.” Sun menunduk,”Miane.”

“Bisakah lain kali kau lebih jujur? Kita suami istri sekarang!” perintah Mino. Sun mengangguk. Entah kenapa akhir-akhir ini Sun semakin menurut. Angin pagi menerpa tubuh mereka, Sun terlihat meringkuk di tempatnya. Mino langsung berdiri dan menuntun Sun memasuki apartemen. Dia menutup pintu balkon setelah mendudukkan Sun di sofa di depan TV. Perhatiannya terhadap Sun memang agak berlebihan akhir-akhir ini dan terkadang membuat Sun risih, Sun tidak suka dianggap gelas yang mudah pecah olehnya.

Mino duduk di samping  Sun, lalu mulai menyalakan televisi. Suasana ruangan itu sesaat hening, hanya terdengar suara dari televisi. Sun yang merasa bosan menyandarkan punggungnya di sofa. Matanya mencoba terpejam sementara tangannya mengelus-elus perutnya, Mino semakin mencuekkannya dengan acara televisi. “Husky….,” Sun berucap lirih. Sepertinya suaranya masih kalah dengan bunyi-bunyian dari  TV, Mino masih saja asyik menatap layar. Sun menghela nafas, kenapa akhir-akhir ini susah untuk mengajaknya? pikir Sun.

“Husky,” kali ini Sun menyenggol lengan Mino dan sukses membuat Mino menoleh ke arahnya,”Mworago?”

Sun menampakkan senyumnya yang paling manis untuk menjawab pertanyaan itu dan wajahnya yang memerah membuat Mino terkekeh,”Ada apa denganmu, Baby?”

Sun cemberut seketika, “Husky…., aku sangat merindukanmu pagi ini,” rujuk Sun manja. “Aku juga rindu, sini ku peluk!” Mino meraih tubuh Sun ke pelukannya, tapi kemudian perhatiannya terpusat ke TV lagi. Sun semakin frustasi dibuatnya,”Apa kau hanya mau menonton TV saja di waktu liburmu?”

“Hm?” Mino mulai memandang wajah istrinya.”Baiklah, aku akan memasakkan sesuatu untukmu,” ucap Mino kemudian. Sun menggeleng, dia mendekatkan bibirnya ke telinga Mino lalu berbisik,”Bercinta denganku, ya?”

Mino memandang heran. Sun tidak perduli, perlahan dia mencium bibir padat itu. Tak ada respon sama sekali. Sun semakin memberanikan diri, mencoba membuka bibir itu dengan lidahnya. Mino yang masih ragu mulai memberi ruang pada lidah panas Sun untuk menulusuri rongga mulutnya. Sun tidak puas, merasa hanya mencium tembok, tangannya mulai membuka satu persatu kancing kemeja Mino lalu mengelus dada bidang itu tanpa mematahkan ciumannya. Masih tidak ada reaksi, tangan Sun mulai turun, menarik resleting celana suaminya, lalu menelusup, membelai area sensitive itu. Mino mulai mendesah saat jari-jari halus itu mempermainkannya. Sun menghentikan ciumannya, lalu menatap Mino lekat-lekat. Mino memandang sendu ke arahnya, matanya mulai tertuju ke bibir mungil Sun, tangan kanannya menekan tengkuk Sun agar lebih dekat dengannya lalu diciumnya bibir merah itu dengan penuh gairah yang berhasil dibangkitkan Sun.

Ting tong ! Bel apartemen berbunyi. Mereka menghentikan aksi. Sun menampakkan muka sebal. Mino terkekeh melihat ekspresi istrinya, dalam hati dia bersyukur karena urung melakukan itu, dia merasa tidak tega menyentuh Sun di saat hamil, bahkan sempat kaget melihat keagresifan Sun tadi. Mino membenahi tampilan kemeja dan celananya lalu berdiri untuk membuka pintu depan setelah mengacak-acak rambut Sun yang masih terduduk di sofa dengan mulut manyun.

“Anyeong, Sun-ssi!” sapa si tamu yang tak lain adalah manajernya. “Anyeong!” jawab Sun ketus. Mino tersenyum geli.

“Kenapa kau sadis sekali padaku?” tanya manajer itu.
“Bukan urusanmu!”

“Maafkan dia manajer, kau tahu kan orang hamil itu labil emosinya?” Mino yang sudah duduk kembali di tempatnya membela sambil mengelus sayang perut Sun. Manajer itu mengangguk. Dia segera menyodorkan amplop coklat yang sedari tadi dibawanya, “Tawaran baru untukmu, Sun.”

“Mwo?” mata Sun langsung membulat ketika menyamber file-file itu. Manajer itu manggut-manggut sambil menggaruk-garuk dagu,”Selama tiga bulan ini aku mencari job buatmu, ternyata tawaran ini datang sendiri ke manajemen.”

Sun menelusuri kata perkata dalam kertas itu,”Tidak akan ada pembayaran denda jika aku punya anak, kan?”  Terus terang Sun masih belum pulih dari kebangkrutan. Mino akhirnya mengambilalih kertas-kertas itu dan mulai membaca.

“Tentu tidak, Sun-si. Seperti yang kalian baca, kau akan menjadi MC acara talkshow seputar ibu, bayi dan balita. Sponsor tunggal acara ini adalah toko perlengkapan bayi ‘Mom & Baby Shop’, memang honornya tidak besar dan hanya ditayangkan oleh stasiun TV daerah, sih. Penayangan dua hari dalam seminggu dan kau harus syuting empat hari dalam satu minggu. Mengingat kau tidak sibuk akhir-akhir ini, aku rasa jadwal itu tidak begitu memberatkanmu.”

“Aku terima!”

Mino melirik Sun. Sejak pertama kehamilannya baru sekarang Sun seantusias ini dan Mino bahagia karenanya. “Ada partner kerja dalam proyek ini, Manajer?” sekali lagi Sun mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

“Ne, ada dr. Kang sebagai narasumbaer.”
“Dr. Kang spesialis Obgyn?”
“Ne, dan dokter Su sebagai spesialis anak, seperti yang kubilang tadi, ini sesuai dengan tema talkshow.”

“Itu bagus, Baby. Kau bisa menimba ilmu dari mereka nantinya,” Mino menepuk-nepuk punggung tangan Sun. Sun mengulum senyum. Dia membisikkan sesuatu pada Mino yang membuat wajah suaminya itu langsung memerah seperti tomat. Manajer jadi cengoh melihat perubahan wajah itu.

“Aku terima, Manajer. Kapan tanda tangan kontraknya?”  Sun sudah tidak sabar agar tamunya itu segera pergi. Kenapa, ya? Mino jadi gugup dan menundukkan pandangan ke file-file itu lagi.

“Kira-kira besok pagi, jam sembilan dan kau juga bisa langsung bertemu dengan dr. Kang dan dr. Su.” Manajer itu meminta kembali file-file itu dari tangan Mino.”Baiklah, aku pulang sekarang. Jangan lupa besok, Sun-si.”

“Ne,” jawaban Sun mengantarkan kepergian manajernya. Mino langsung ngeloyor ke dapur setelah mengunci pintu depan. Sun langsung protes,”Husky….”

“Mworago?” Mino sudah sibuk mengeluarkan bahan-bahan untuk kimbab dari dalam kulkas. Sun menghampirinya dan memasukkan semuanya dalam kulkas, lagi? Mino jadi garuk-garuk kepala.

“Aku belum lapar, Husky. Kita lanjutkan lagi yang tadi, ya?”

Mino mendelik  dengan wajah kepiting rebusnya,”Baby…., aku kasihan dengan anak kita, kau tidak memikirkan dia?”

“Aku kan sudah bilang tidak apa-apa. Aku sudah mengkonsultasikan dengan dr. Kang.”

“Tapi aku-nya yang tidak tega,” tegas Mino. Sun mulai ngambek. Dia memasuki kamar dan membanting pintunya keras-keras. Mino menghela nafas. Akhir-akhir ini gairah Sun tidak bisa dibendung, dan mungkin ini yang paling puncak jika sampai ngambek begitu. Memang selama tiga bulan terakhir Mino menahan diri untuk tidak menyentuhnya, takut terjadi apa-apa pada kandungannya. Apa benar semuanya aman jika melakukannya di saat ini? Mino jadi bertanya-tanya. Bunyi HP membuyarkan lamunannya, dengan segera dia mengangkat dan memperhatikan perkataan lawan bicaranya di telephone. Lengkungan senyum mulai terbentuk di wajahnya,”Sudah saya bilang kalau saya tertarik, lakukan saja apa yang diperlukan, saya ingin semuanya siap sebelum istriku melahirkan.”
Mino menutup telephon dengan perasaan lega. Kini tinggal bagaimana caranya menenangkan wanita hamil yang sedang ngambek di dalam kamar. Mino terkekeh lalu menghampiri Sun di kamarnya. Tampak Sun sedang berbaring di ranjang dengan bantal menutupi wajahnya.

“Baby… , kita makan di luar, yuk! Ada restoran baru yang direkomendasikan Bumie.”

Sun tidak bergeming. Mino mendekati Sun, lalu duduk di tepi ranjang,”Atau kita ke rumah Appamu? Ku dengar Noona juga ada di sana siang ini.”

“Baby, kau tidur?” Mino mengangkat bantal dari Sun dan terlihat wajah Sun yang begitu sedih dengan kedua mata yang membengkak. Mino jadi serba salah,”Baby, kau kenapa? Apa yang sakit?”

Tangisan Sun semakin menjadi saja, Mino pun semakin bingung. Sun bangkit dari tidur sambil memegangi perutnya,”Hu hu hu, Aku tahu kalau aku… aku tidak menarik lagi, karena itu kau menolakku!.... Huh u hu…..!”

Aish, kok jadi begini? Bukan begitu maksudnya, Mino jadi pusing dengan jalan pikiran Sun.
“Kau… kau lebih sayang pada anak ini daripadaku!”

Bagus! Sejak kapan ada Ibu yang cemburu pada anaknya yang sedang dikandung? Mino jadi bingung antara geli atau prihatin melihat Sun sekarang. Mino pun memeluk Sun yang masih terisak,” Kau salah, Baby. Sampai kapan pun aku akan menyayangimu. Saranghae, istriku.”

Sun melepaskan diri dari pelukan Mino. Pandangannya mengarah pada mata Mino, berusaha mencari kepastian di sana,”Ceongmal?”

“Ne…” jawab Mino sambil tersenyum maut. Sun memanyunkan bibirnya,”Buktikan kalau begitu!”
“Mwo?”

“Buktikan sekarang, Husky,” sekali lagi Sun menantang dengan pandangan sayu. Mino menjadi serba salah. Ragu-ragu dia mendekatkan wajahnya kepada Sun. Sun menutup matanya dan bisa mendengar dengan jelas detak jantung Mino yang memburu. Detik berikutnya bibir padat itu telah menempel erat di bibir mungilnya, lidah panas segera terulur menelisik seluruh rongga mulutnya. Sun membalas ciuman itu, tak kalah bergairah, dia agak menengadah saat ciuman itu turun ke leher untuk lebih memberi ruang pada Mino di permainan ini, sementara jari-jari tangan kanan Mino dengan cekatan membuka satu persatu kancing kemejanya. Tak mau kalah dengan suaminya, Sun menarik kemeja Mino hingga kancing-kancingnya berloncatan tak tentu arah.
 
Saat tubuh keduanya benar-benar polos, di sinilah Mino mulai kembali ragu, dia berusaha memastikan diri dengan menenggelamkan diri di dada Sun. Sun mendesah saat Mino mulai mengulum, dan gigitan kecil itu membuatnya menggigit bibir bawah. Kuluman itu berpindah posisi, sementara tangan Mino mulai mengusap-usap perut Sun yang membuncit, hatinya semakin urung, Sun menyadari hal itu saat permainannya semakin memelan. Sun menggeliat dengan susah payah, Mino agak memberi ruang hingga Sun bisa berganti posisi di atas. Sun mendekatkan bibirnya ke telinga Mino sementara jari-jari lentiknya membelai  area sensitive Mino, ” Aku mohon, Suamiku. Aku juga membutuhkanmu, jangan hanya memikirkan bayi kita.”

“Hmmm…,” Mino sangat terbuai dengan perlakuan itu tapi keraguan masih ada. Sun kembali berbisik,”Ku bisa menunjukkan caranya.”

Kesadaran Mino hilang sudah. Dia mengangguk. “Duduklah, Sayang,” bisik Sun memerintah. Mino menurutinya dan menyandar di ranjang. Sun berbalik dan segera menyatukan dirinya dengan Mino. Mino yang mulai mengerti maksud Sun, menelangkupkan tangan kanannya di dada Sun, tangan kirinya melingkar ke perutnya. Sun mulai memimpin permainan dan Mino menikmatinya sambil menciumi tengkuk dan leher istrinya itu dari belakang, sementara kedua tangannya mengelus-elus perut dan memijat dadanya lembut. Dalam posisi itu, Sun bisa mengatur kedalaman sehingga tidak terlalu menusuk rahimnya serta tidak terlalu menekan perutnya. “Hm, kau hebat, Baby. Terus, lanjut, Baby….”  Mino sudah sangat melayang, Sun mulai kehabisan nafas, jantungnya berdetak cepat, dia mulai terjebak oleh permainannya sendiri,”Min-a……”

“Hmm? Cuup….” Bibir padat itu mencium lehernya dan menghisap keras. Sun memekik,” Cukup…. Husky, cukup…”

“Sebentar lagi,” Mino belum sampai. Dia menggeliat, merebahkan Sun di ranjang, mengganjal bagian bawah perut Sun dengan beberapa bantal lalu membuka paha Sun lebar-lebar dan mulai memasuki tubuh Sun lagi. Rupanya dia sudah mulai bisa mengira-ira kedalaman dan ritme yang aman bagi Sun. Kini dialah yang memimpin, Sun semakin terbuai. “Yah, sampai, Baby.” Mino buru-buru melepaskan diri. Bantal di bawah Sun jadi basah karena sesuatu yang keluar. Mino segera menyingkirkan bantal-bantal itu dan memastikan segalanya aman bagi Sun. Senyum berkembang di wajah mereka dan akhirnya Mino mencium kening Sun,”Gumawo, Baby… .”

TO BE CONTINUED


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]