Bukankah dua insan yang saling mencinta harusnya berbahagia? Tapi mengapa tidak berlaku pada Minho dan Hyesun? Pasangan yang tengah memadu kasih ini justru dirundung duka. Mereka tertimpa masalah yang tak ada habisnya. Belum juga kasus interview sembunyi-sembunyi Shin Bi teratasi, sudah muncul lagi berita heboh seputar video Minho.
Bocornya video lamaran menjadi head line di tiap harian. Aksi kepahlawanan Minho menyelamatkan Hyesun dari serbuan Minoz juga turut diperbincangkan. Media cetak dan elektronik sama-sama memilih terbongkarnya hubungan asmara Minho-Hyesun sebagai topik utama. Tayangan infotainment pagi, siang, sore hingga malam terus-terusan mengangkat terkuaknya jalinan rahasia ini.
Minho jadi gerah dengan kisahnya yang terkonsumsi publik. Ia putuskan untuk menggelar konferensi pers. Maka di sinilah Minho. Duduk berhadapan dengan berpuluh wartawan. Wajahnya bermandikan kilatan lampu blitz. Tangannya menggenggam erat jemari lentik. Sebuah cincin perak tersemat di jemari itu.
Hyesun duduk tertunduk di samping Minho. Ia memandangi cincin perak di jari manisnya. Minho juga melingkari jari dengan cincin yang sama. Minho mendesak untuk mengikutsertakan cincin itu di acara sidang yang digelar para pewarta.
“Anyonghaseyo. Saya mewakili Lee Min Ho dan Goo Hye Sun ingin berterima kasih atas kehadiran anda semua di sini” Sang Ji yang bertindak sebagai MC mulai membuka acara.
“Kami mengadakan konferensi pers ini bertujuan untuk menjelaskan berita-berita seputar Lee Min Ho dan Goo Hye Sun yang belakangan banyak beredar” lanjut Sang Ji.
“Acara ini akan dibuka dengan penuturan dari Lee Min Ho-ssi” Sang Ji mempersilahkan Minho berbicara.
“Anyonghaseyo, Lee Min Ho-imnida” Minho mulai angkat bicara.

Suasana berubah menjadi sunyi tanpa suara. Hanya bunyi jepretan kamera yang saling menyahut. Wartawan terus saja membidik wajah Minho yang keningnya terbalut. Luka di pelipis Minho terbungkus perban putih. Luka akibat anarkisme Minoz itu lumayan besar hingga harus menerima 5 jahitan.
“Kehadiran saya di sini untuk menjelaskan perihal video yang beredar saat jam tayang PT” ucap Minho.
“Sebelumnya saya ingin menghaturkan beribu maaf pada MBC dan seluruh pemirsa PT karena kemunculan video tersebut telah mengganggu ketentraman PT” sesal Minho.
“Saya akui bahwa saya lah yang membuat video itu” aku Minho. Pengakuan jujur Minho langusng membuat situasi gaduh.
“Foto-foto dalam video itu adalah kepunyaan saya dan semua foto tersebut adalah …” suara Minho tertahan.
“… asli” sambung Minho. Kasak-kusuk wartawan semakin parah hingga menimbulkan suara ricuh.
“Jadi isi video itu benar? Kalian berdua berpacaran?”
“Sejak kapan kalian bersama? Benarkah kalian akan segera menikah?”
“Bagaimana kelanjutan karir anda berdua? Apa ada kontrak yang dibatalkan sepihak akibat skandal ini?”
“Lee Min Ho-ssi, beri kami pernyataan seputar status hubungan anda dengan Goo Hye Sun-ssi”
Pertanyaan wartawan sambung-menyambung tanpa henti. Wartawan saling menimpali pertanyaan tanpa memberi kesempatan Minho bicara.
“Hadirin diharap tenang. Biarkan Lee Min Ho-ssi bicara dulu” Sang Ji berusaha menenangkan suasana.
Setelah kembali senyap, Minho meneruskan kalimatnya. “Ne … saya dan Hyesun adalah sepasang kekasih” ucap Minho mantap.

Suasana tambah panas. Pernyataan yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar juga dari mulut Minho. Hubungan yang selama ini ditutup-tutupi telah diakui Minho di depan khalayak ramai.
Aneka pertanyaan wartawan kembali meluncur deras. Minho kebingungan untuk menjawab pertanyaan yang mana dulu. Ia putuskan menanggapi pertanyaan mayoritas.
“Sejak kapan kalian berkencan?” pertanyaan inilah yang lebih mendominasi.
“Hubungan kami dimulai saat syuting BOF berakhir” jawab Minho.
“Saya mengutarakan perasaan pada Hyesun setelah konferensi pers BOF. Seusai acara tersebut, saya mengunjungi galeri Hyesun pada malam harinya” urai Minho.
“Tapi sayang, saya ditolak …” ujar Minho sambil tergelak.

“MWO! Goo Hye Sun sempat menolak anda?” tanya para wartawan tak percaya.
“Ne … Hyesun tidak langsung menerima saya. Ia justru marah saat saya menyatakan cinta. Hyesun bilang hubungan ini tidak mungkin. Dia sadar ada banyak pertentangan di luar sana. Agensi kami, fans-fans kami dan masih banyak lagi” ujar Minho.
“Hingga akhirnya … ada kejadian yang membuka mata Hyesun. Kejadian itu sangat saya syukuri karena telah membawa Hyesun menjadi milik saya” kenang Minho.
“Kejadian apa yang anda maksud?” cecar wartawan.
“Hmm … Mianhe … kejadian itu biar saya dan Hyesun saja yang tahu” Minho menolak membeberkan kecemburuan Hyesun terhadap iklannya bersama Sandara Park.
Wartawan sempat kecewa dengan ketertutupan Minho. Namun kekecewaan itu hanya sesaat sebab wartawan lain sudah keburu menyerang dengan pertanyaan baru.
“Mengenai wawancara Han Shin Bi, apa komentar anda?” seorang wartawan mengubah topik pembicaraan.
“Terus terang saya kecewa dengan wartawan yang mewawancarai Shin Bi. Dia sangat pengecut. Dia hanya berani menemui anak kecil. Saya tidak tahu dari mana dia mendapatkan ide mewawancarai Shin Bi. Tapi yang jelas saya dan Yeo Won noona sangat kecewa dengan tindakan mewawancarai Shin Bi. Keponakan saya masih di bawah umur jadi harusnya wartawan itu meminta izin wawancara dulu pada orang tuanya” jawab Minho dengan geram.
“Apa anda atau Lee Yeo Woon-ssi berniat melaporkan wartawan itu ke polisi?” selidik wartawan.
“Anhi. Saya dan noona tidak ingin memperpanjang masalah ini. Kasihan Shin Bi jika harus berurusan dengan polisi” jawab Minho bijak.
“Bagaimana dengan isi wawancara itu? Anda ingin membenarkan atau ada yang keliru?” tanya wartawan yang sama.
“Shin Bi masih polos. Ia belum pandai berdusta apalagi sampai mengarang cerita tentang hubungan ku dengan Hyesun” jawab Minho.
“Jadi yang diucapkan Han Shin Bi benar semua?” cecar wartawan itu lagi.
“Ne … tidak ada yang salah sedikit pun dengan ucapan Shin Bi” jawab Minho.
“Saya dan Hyesun memang pernah membawanya berkeliling mall. Waktu itu kami menyamar. Itu adalah kencan pertama kami” Minho tersenyum sambil melirik Hyesun. Yang dilirik juga ikutan tersenyum simpul.

“Lalu bagaimana dengan masalah cincin yang sempat diungkit keponakan anda?” tanya wartawan lain.
“Ini …” Minho mengangkat jarinya dan Hyesun memamerkan cincin yang dimaksud Shin Bi.
“Saya memberikan cincin ini pada Hyesun di kencan pertama kami” jawab Minho.
Kilau lampu blitz langsung menyambar jari Minho dan Hyesun. Sepasang cincin tersemat lambang pengikat keduanya.
“Shin Bi juga menyebutkan bahwa anda berdua sudah bertemu dengan orang tua masing-masing, apa itu benar?” tanya seorang wartawan.
“Ne. Saya sudah berkali-kali menemui orang tua Hyesun begitu juga sebaliknya. Jika ada waktu kami mengadakan makan malam bersama di rumah saya atau di rumah Hyesun” jawab Minho.
“Jadi orang tua kalian telah mengetahui hubungan ini? Bagaimana tanggapan mereka?” wartawan tersebut bertanya lebih lanjut.
“Ne, sejak memulai hubungan ini mereka sudah mengetahuinya. Saya sadar bahwa dunia hiburan yang saya geluti terkadang menimbulkan rumor. Saya tidak ingin rumor itu mempengaruhi kepercayaan orang tua kami, oleh karenanya saya selalu terbuka pada mereka agar mereka tahu keadaan yang sebenarnya. Karena transparansi inilah mereka dapat menerima hubungan kami dengan tangan terbuka” urai Minho.
“Kembali ke masalah video. Goo Hye Sun-ssi, apa tanggapan anda tentang video tersebut?” wartawan beralih ke Hyesun yang dari tadi belum kedengaran suaranya.
“Tidak ada … Saya tidak bisa berkomentar apa-apa seputar video itu … Sekali pun saya belum pernah melihatnya …” jawab Hyesun.

“Ne, dia tidak tahu apa-apa tentang video itu” Minho menimpali. “Mungkin sebagian besar penduduk Korea tahu akan video itu, tapi orang yang seharusnya melihat video tersebut malah belum menyaksikan sama sekali” sesal Minho.
“Kau kurang beruntung” ledek Minho sambil tersenyum dan mengacak-acak rambut Hyesun. Ejekan Minho di depan wartawan membuat pipi Hyesun memerah.

“Mwo? Benarkah anda sama sekali belum menyaksikan video itu?” desak si wartawan.
“Ne. Saya belum menunjukkan video tersebut pada Hyesun. Rencananya saya ingin memberikan surprise padanya” Minho mengambil alih pertanyaan.
“Saya berniat memutar video itu saat melamar Hyesun. Sebuah kejutan sudah saya siapkan untuknya, tapi sayang … semuanya gagal karena kecerobohan. Saya sudah berusaha meminta video itu pada MBC tapi mereka menahannya. Saya maklumi tindakan mereka” jawab Minho.
“Jadi benar anda akan melamar Goo Hye Sun-ssi dengan video itu?” seorang wartawan minta penjelasan lagi.
“Ne, saya bahkan sudah menyewa sebuah bioskop untuk memutarkannya” jawab Minho.
“MWO!” Hyesun terbelalak kaget. Wajar saja gadis ini terperanjat. Masalahnya Minho belum pernah menyinggung rencana tersebut meski kini rencana itu tak jadi terlaksana.
Minho menatap Hyesun. Tatapannya memancarkan permintaan maaf. Tatapan yang penuh penyesalan karena baru sekarang memberi tahu rencana itu.
“Karena video anda sudah disita MBC, bukan berarti anda tidak jadi melamar Goo Hye Sun-ssi kan?” pertanyaan seorang wartawan memaksa Minho untuk menyudahi tatapannya dan kembali fokus pada acara.
“Tentu saja tidak. Niat saya untuk menikahi Hyesun tak kan pernah berubah” jawab Minho dengan serius.
“Lalu kapan anda akan melamar Goo Hye Sun-ssi? Apa anda sudah menyiapkan rencana lain untuk melamarnya?” cecar seorang wartawan.
Minho diam tak menjawab. Lalu Hyesun? Apalagi dia. Dari tadi kerjaan Hyesun hanya menunduk. Gadis ini terlihat sangat gugup. Hyesun sudah seperti artis pendatang baru yang demam panggung di hadapan wartawan.
“Kapan kalian akan menikah?”
“Resepsi pernikahan kalian akan diadakan di mana?”
“Lee Min Ho-ssi, tolong jawab pertanyaan kami. Kapan anda akan melamar Goo Hye Sun-ssi?”
Kebisuan Minho menuai pertanyaan beruntun dari para pemburu berita. Minho terdiam bukan karena kehabisan kata. Ia sedang mempertimbangkan suatu rencana yang terlintas tiba-tiba. Minho ragu dengan rencana itu. Tapi begitu ia rasa moment saat ini sangat tepat, hati Minho jadi mantap. Minho menggenggam erat tangan Hyesun. Minho seolah memberi isyarat agar Hyesun bersiap dengan apa yang akan terucap.
“Sekarang … Saya akan melamar Hyesun detik ini juga di hadapan kalian” ujar Minho dengan segala keyakinan.
Hyesun langsung menoleh ke arah minho. Mata gadis ini terbuka selebar-lebarnya sebagai kode agar Minho tidak sembarangan berstatement. Minho membalas dengan tatapan teduh seakan berkata ‘Gwenchana, semua akan baik-baik saja’.
“Hyesun-a … kita selesaikan saja perjalanan ini, kita mulai dari awal lagi. Mulailah lembaran baru sebagai istriku” ucap Minho tanpa tersirat keraguan sedikitpun.
Hyesun menahan napasnya. Ia tidak percaya Minho nekat melamar di hadapan wartawan. Seingatnya konferensi pers hari ini hanya akan menjelaskan seputar video Minho dan wawancara Shin Bi. Tidak ada sesi lamar-melamar dalam rundown acara. Hyesun yang dari awal sudah gugup jadi tambah gugup akibat lamaran Minho yang datang tiba-tiba dan tak terduga.
“Jawab aku Hyesun-a … Bersediakah kau menjadi istri seorang Lee Min Ho?” tanya Minho dengan tatapan tenang seolah adegan ini tidak disaksikan puluhan wartawan.
Minho mempererat genggaman tangannya. Berusaha menyalurkan keberanian. Berharap Hyesun mau menjawab. Hingga detik ke 15, Hyesun belum berkata apa-apa. Lamaran Minho membuat lidahnya kelu. Wartawan ikut-ikutan tidak bersuara. Mereka sibuk menjepretkan kamera, takut kelewatan moment berharga. Hingga akhirnya …
“Ne …” ujar Hyesun malu dengan kepala tertunduk dalam.
“Jeongmal? … Gomawo” sambut Minho dengan suka cita. Minho langsung memajukan badan dan mendaratkan kecupan kilat di dahi Hyesun.
Suasana sontak berubah semarak. Suara tepuk tangan bergemuruh ke seluruh penjuru ruangan. Wartawan langsung menyerbu dengan ucapan selamat dan berbagai pertanyaan. Kamera menzoom sepasang wajah berona bahagia. Dua belah pipi Hyesun menyembulkan semburat merah muda. Sedangkan Minho mengobral senyuman lebarnya. Senyum itu tak cukup lebar untuk menampung berjuta kebahagiaannya. Rasa bahagia yang belum pernah ia kecap seumur hidup.
“Kapan kalian akan menikah?”
“Tolong sebutkan tanggal yang pasti”
“Beri tahu kami perkiraan tanggal pernikahan kalian”
Sifat khas wartawan yang selalu ingin tahu membuat pasangan ini kehujanan pertanyaan. Mereka begitu antusias dengan acara jumpa pers kali ini. Terang saja para kuli tinta itu bersemangat 45. Pasalnya belum pernah ada sejarahnya seorang selebriti Korea mengajukan lamaran di depan sorotan kamera wartawan. Minho satu-satunya aktor yang berani melakukan kegilaan yang membahagiakan ini.
Minho mengambil microphone. Mendekatkan ke mulut. Bersiap menjawab antusiasme wartawan. “Aku dan Hye …” kalimat Minho terdengar sepotong.
Tiba-tiba microphone di tangan Minho tak berfungsi. Alat pengeras suara itu mati. Rupanya ini ulah panitia. Sang Ji memerintahkan staff IT untuk menon-aktifkan microphone tersebut.
“Mohon maaf rekan-rekan wartawan. Konferensi pers ini kami tutup. Terima kasih atas partisipasi anda semua” Sang Ji mempersingkat jumpa pers. Ia langsung menutup acara yang sudah menyimpang jauh dari rundown yang telah dirancang. Minho dan Hyesun segera dilarikan dari ruang konferensi. Pertanyaan wartawan yang banyak berlontaran dibiarkan mengambang.
*******
“Yya, Lee Min Ho-ssi! Apa-apaan kau ini … kenapa senekat itu?” sembur Sang Ji saat mereka tiba di back stage.
“Sudah terlanjur basah, lebih baik nyebur sekalian” jawab Minho dengan entengnya.
“MWO!!!” pekik Sang Ji.
“Kau juga, Hyesun-ssi. Kenapa ikut-ikutan Minho-ssi? Harusnya jangan kau ladeni lamaran itu” omel Na Hee.
“Miane” sesal Hyesun.
“Aish … kau membuat aku geregetan … “ bukan main geramnya Na Hee saat ini.
“Hyesun-ssi, kau tahu kan perbuatan itu sama saja bunuh diri … kau juga tahu kan per …” omelan Na Hee dicut.
“Yya, jangan marahi calon istri ku” potong Minho.
“Apa yang terjadi setelah ini akan kami terima” tantang Minho.
“Termasuk ditinggalkan fans?” tanya Sang Ji
“Ne” jawab minho mantap.
“Termasuk pembatalan kontrak?” tanya Na Hee.
“Ne” jawab Minho lugas.
“Kalian sudah tidak waras” ucap Sang Ji sambil ngeloyor pergi.
“Hyesun-ssi, kepala ku pusing. Masalah ini kau urus sendiri” Na Hee pun mengikuti jejak Sang Ji.
Kini di ruang itu hanya diisi Minho dan Hyesun. Keduanya duduk berdampingan dalam diam. Sesungguhnya mereka juga tidak menyangka akan sanggup melakukan tindakan tadi.
“Kau menyesal?” pertanyaan Minho menghentikan suasana bisu.
“Anhi” geleng Hyesun.
“Gomawo” ucap Minho.
“Waeyo?” tanya Hyesun.
“Tentu saja karena menerima lamaran ku” jawab Minho.
“Huh, habis mau bagaimana lagi. Kalau aku tolak, takut mempermalukan mu di depan wartawan” ujar Hyesun.
“MWO! Jadi itu alasan mu” Minho berubah panik.
“Memang kau pikir apa alasan ku menerima pinangan dadakan tadi?” tanya Hyesun.
“Ka … Ka … Kau …???” lidah Minho tiba-tiba kaku.
“Ne. Ucapan ku tadi tidak serius” jawab Hyesun.
Tangan Minho terkepal kuat. Bibirnya bergetar hebat. Kekecewaan langsung berkelebat. Minho tidak habis pikir ternyata Hyesun bisa setega itu. Jika tidak mau menikah kenapa pura-pura bersedia.
“Ha … Ha … Ha …” tawa yang sedari tadi tertahan, tak mampu lagi dibendung Hyesun.
“Yya, kenapa malah tertawa?” geram Minho.
“Aish, kau ini tidak bisa diajak bercanda sedikit” goda Hyesun.
“Yya, kau mau menggoda ku rupanya” Minho bangkit dari kursi.
“Ha … Ha … Ha …” Hyesun tertawa penuh kemenangan.
Minho berdiri sambil bertolak pinggang. Tadi ia benar-benar beranggapan bahwa kesediaan Hyesun menikah hanya berlaku di depan panggung. Nyatanya gadis itu sedang menggoda.
“Yya Yya Yya … kau mau apa …” protes Hyesun sambil memundurkan badan.

Perlahan Minho membungkuk. Ia bergerak mendekati Hyesun hingga posisi gadis itu tersudut ke pojok sofa. Kedua tangan Minho bertumpu pada sandaran sofa membuat Hyesun tidak bisa ke mana-mana. Minho terus menyudutkan Hyesun. Sampai akhinya tubuh Hyesun terpaksa berbaring tertindih tubuh Minho.
Minho menatap lekat wajah Hyesun. Sasaran utamanya adalah bibir ranum gadis itu. Lambat-lambat wajah Minho mendekat. Aroma tubuh Hyesun segera tercium. Membuatnya terlena dan ingin menutup mata.
Melihat Minho yang terus maju, Hyesun tidak berbuat banyak. Ia hanya sesekali berkedip. Setelah itu ia menyusul Minho memejamkan mata, menanti pendaratan Minho di bibirnya. Jangan bertanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena pastinya lumatan-lumatan itu tak dapat dihindarkan.

*******
Selesai konferensi pers, reaksi keras berdatangan dari Minoz. Mereka tidak rela karir Minho terganjal oleh pernikahan dengan Hyesun. Protes Minoz bermunculan di mana-mana. Facebook, Twitter dan Cyworld milik Minho maupun Hyesun terus didatangi komentar-komentar miring yang dikirim Minoz.
Minho melarang Hyesun membuka semua jejaring sosial tersebut. Walau Minho tahu Hyesun bisa berlapang dada, tapi ia tetap menjauhkan Hyesun dari situs-situs itu. Jika Hyesun membaca kalimat-kalimat pedas tentang mereka, sedikit banyak Hyesun pasti terluka.
Meski banyak yang menentang pernikahan Minho-Hyesun, tidak sedikit juga yang merestui ikatan sakral ini. Beragam dukungan dan semangat memenuhi wall Minho dan Hyesun. Tapi sayangnya dukungan tersebut dibalas dengan cacian dari antis. Alhasil, Facebook. Twitter dan Cyworld milik Minho dan Hyesun menjadi ajang baku hantam oleh dua kubu yang saling bertentangan.
Minho berusaha menetralkan kekacauan yang terjadi di dunia maya. Ia mengupdate Facebook, Twitter dan Cyworld dengan isi yang sama. Minho curhat habis-habisan di ketiga akun pribadinya tersebut. Minho juga mengupload sebuah tembang lawas yang didaur ulang di antara bait-bait kata yang ia torehkan. Berikut petikannya.
Selamat malam, Minoz. Bagaimana kabar kalian? Semoga bara amarah itu sudah mereda. Aku tahu kalian kecewa. Aku juga tahu kalian tidak bisa terima. Tapi .. apa kalian tahu kalau aku menderita jika tidak bersama dia? Apa kalian mengerti kalau aku bisa gila andai tidak memiliki dia?
Tragedi Manolin membuat ku sedih. Pertama karena pemiliknya tersakiti. Kedua karena tempatnya ternodai. Dia, si pemilik Manolin, menangis karena ulah ku. Kecerobohan ku telah menyulut emosi kalian. Aku yang salah karena lalai menjaga barang privasi tapi mengapa dia yang kena getahnya. Menyakiti dia sama saja membunuh ku perlahan. Menghujat dia sama saja menikam ku dari belakang.
Kesedihan ku kian menjadi karena tragedi itu terjadi di tempat yang paling aku sukai. Manolin. Tempat itu satu-satunya sarang aman buat aku dan dia. Tempat itu telah mengatapi canda tawa kami. Tempat itu saksi abadi jalinan kasih kami. Lantas mengapa harus tempat itu yang kalian pilih untuk menghakimi cinta kami?
Aku sadar … aku tidak bisa memaksa kalian untuk memahami semua ini. Kalian terlampau menyayangi ku hingga tidak rela akan kehadiran dia di tengah-tengah kita. Aku sangat bahagia memiliki kalian. Tapi kebahagiaan itu terasa hambar. Kebahagiaan itu hampa karena belum sempurna. Aku butuh dia untuk menggenapi separuh jiwa ku. Tanpa dia, aku hanyalah satu belahan gunting yang tiada arti.
Aku ibarat bulan yang tak ada apa-apanya tanpa sinar yang dia pantulkan. Aku tidak punya cahaya yang bisa dipancarkan. Percayalah, aku ini bulan yang sama sekali tidak menawan. Aku tidak seindah seperti yang kalian bayangkan. Coba saja teropongi bulan. Kalian akan tahu seperti apa rupaku yang sebenarnya. Gelap … Gersang … Tandus …
Aku adalah bulan yang perlu matahari sebagai sumber energi. Matahari ku adalah dia. Dia mampu membawa cahaya hingga aku bersinar. Dia bisa memberi warna hingga aku tak lagi pucat. Dia sanggup mendatangkan udara hingga aku tak lagi sesak. Jika mencintai dia adalah tindak pidana aku rela dipenjara. Aku bahagia terkurung dalam sel hatinya. Aku tidak keberatan terpasung bersama cintanya.
Minoz, ingin bernyanyi bersama ku? Aku punya lagu tentang dia. Lagu lawas yang sederhana. Temani aku meresapi syair lagu ini.
disarankan untuk menyimak lagu beserta liriknya agar lebih mengena
SHE by Yuna Ito
She may be the face I can't forget
The trace of pleasure or regret
May be my treasure or the price I have to pay
She may be the song that summer sings
May be the chill that autumn brings
May be a hundred different things
Within the measure of a day
She may be the beauty or the beast
May be the famine or the feast
May turn each day into a heaven or a hell
She may be the mirror of my dreams
The smile reflected in a stream
She may not be what she may seem inside her shell
She, who always seems so happy in a crowd
Whose eyes can be so private and so proud
No one's allowed to see them when they cry
She, may be the love that cannot hope to last
May come to me from shadows of the past
That I'll remember till the day I die
She, may be the reason I survive
The why and wherefore I'm alive
The one I'll care for through the rough and ready years
Me, I'll take her laughter and her tears
And make them all my souvenirs
For where she goes I've got to be
The meaning of my life is she
She … Oh She …
Kalian suka lagu itu? Rangkaian baitnya adalah cerminan hati ku. Semoga SHE bisa membantu kalian memahami perasaan ku. Jika apa yang ku rasa belum juga kalian terima, hanya maaf yang bisa terutara.
Maafkan aku, Minoz. Maafkan atas keegoisan ku memilih dia dibanding kalian. Maafkan atas kelemahan ku yang tidak bisa bertahan tanpa dia walau sudah ada kalian. Maafkan atas kelancangan ku yang telah jatuh cinta pada dia meski tersedia cinta kasih dari kalian. Aku ingin kalian tahu bahwa aku hanya pria biasa yang butuh dampingan seorang wanita.
Sudah banyak sandiwara memuakkan yang kami lakoni. Segala tindakan kami berada di bawah kontrol remote pengendali. Seluruh ucapan kami mengikuti scenario agensi. Semua itu konsekuensi demi menutupi hubungan ini. Ada kalanya komentar kami menuai kritik yang tak manusiawi. Misalkan saja interview ku beberapa waktu yang lalu.
Saat aku dicela dengan tudingan melupakan dia. Aku bisa terima karena mereka tidak tahu apa-apa. Lain hal dengan dia. Seharian dia tidak tenang. Berjam-jam dia ngomel tak karuan. Aku yang dikirimi sumpah serapah saja tidak bermasalah, malah dia yang tangisannya pecah. Kalian tahu mengapa? Karena kami ini sudah satu paket. Ketika dia yang terluka, aku yang berdarah. Ketika aku yang jadi korban, dia yang sesegukan.
Begitulah kami. Saling mengisi di setiap pergantian hari. Merajut cinta memakai benang-benang asmara. Aku dan dia telah lama bersama. Sudah banyak kenangan manis yang telah kami lukis. Cinta ini ingin segera aku akhiri. Akan aku muarakan perjalanan bersama dia di atas pelaminan. Dia yang terpilih menemani aku sampai nanti. Dia yang aku tunjuk mengemban tugas melahirkan penerus marga Lee.
Minoz, aku ingin memperistri dia. Relakan aku menyunting dia. Restui aku menjadikan dia ratu di kerajaan hati ku. Sudikah kalian mengiringi langkah kami dengan seuntai doa suci? Semoga kalian menjawab YA, KAMI BERSEDIA. Jawaban itu mungkin butuh waktu. Aku akan sabar menunggu…