Author Topic: [RPF] Minsun ~ Life is Beautiful ~ chapter 9. last update, 04 Agustus 2010  (Read 18005 times)

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Update dah chapter 5 yah kalo gak salah maklum amnesiong mendadak neh gara2 bengkok  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


CHAPTER 5

ADDITIONAL CAST


LEE SEUNG GI aka BAKPAO  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


Lokasi : Manolin Café Pagi Hari



Pagi itu seperti biasanya, Minho datang ke Manolin setelah sebelumnya dari tempat pak Kim. Saat dia datang dilihatnya Hyesun sedang berada disana sedang berbincang dengan seorang lelaki yang seumuran dengannya. Mereka berdua bercanda dan terlihat akrab. Melihat keakraban mereka hati Minho mendadak panas seperti cemburu melihat Hyesun, namun dia mencoba untuk bersikap biasa karena dia tahu tidak ada alasan baginya untuk cemburu.

Perlahan Minho mendekati mereka.

“Anyong haseyo” sapanya wajar. Hyesun menoleh ke belakang dan melihat Minho senyuman masih menghiasi wajah cantiknya pagi ini. Entah sejak kapan Minho mulai menyukai senyuman milik Hyesun, senyuman bidadari, Minho merasa tenang setiap kali melihat senyuman Hyesun.

“Oh… Minho-ssi kau sudah datang…, kenalkan dia Lee Seung Gi partner kerjamu” seru Hyesun sembari menunjuk kepada lelaki di depannya.

“Anyong haseyo… Lee Seung Gi imnida, tapi panggil saja aku Seung Gi atau kau bisa memanggilku Hyung karena aku pikir kita sebaya” sahut Seung Gi sopan mengenalkan dirinya

“Ah anyong haseyo…. Hyung” jawab Minho tersenyum. Hyesun menatap mereka berdua.

“Ok… kalian sudah saling kenal, sekarang waktunya kerja aza!!” suara Hyesun penuh semangat sambil mengangkat kedua tangannya menyemangati mereka berdua.

Hari itu mereka pun mulai di sibuk kan dengan kegiatan masing-masing, sementara Minho masih berkutat dengan pelajaran “kopi”nya. Sesekali Seung Gi membantu Minho, mereka berdua menjadi cepat akrab. Hyesun memperhatikan mereka berdua dari jauh dan memperhatikan Minho yang sudah mulai bisa beradaptasi. Diam-diam rasa kagum mulai memasuki hatinya, entah sejak kapan dia mulai suka memperhatikan Minho. Kadang pipinya bersemu merah saat membayangkan Minho.

Saat jam istirahat mereka bertiga makan siang bersama di rooftop. Mereka makan sambil berbincang-bincang disana. Sesekali mereka bercanda.

“Sun-ah, awas panas” Seung Gi memperingati Hyesun sambil menyodorkan sup sapi yang masih panas kepada Hyesun

“Gomawo, Seunggi-ya” Hyesun  menerima makan siangnya dari Seung Gi, kemudian Seung Gi juga menyodorkan sekotak jus kepada Hyesun. Mereka berdua tersenyum.

“Uhuk..” Minho tersedak saat memakan kimchinya. Dia terkejut dengan perhatian Seung Gi kepada Hyesun dan keakraban mereka, dengan cepat diraihnya segelas air putih dan meminumnya.

“Minho-ssi, gwenchana” sahut Hyesun melihat Minho khawatir sementara Seung Gi memandang ke arah Minho.

“Ah.. gwenchana…”Minho menyahut pelan seraya meminum kembali air di gelasnya. Minho tersenyum kaku.

“Yah, pelan-pelan kalau makan” Seung Gi menggoda Minho dan tertawa sementara Minho hanya membalas dengan senyuman kecil.

“Oya, Sun-an bagaimana kabar appa, kapan beliau kembali?” Seung Gi bertanya kepada Hyesun.

“Awal bulan depan, setelah selesai semua di Jepang, aku pasti akan mengabarimu kalau dia pulang” sahut Hyesun tersenyum.

Minho hanya memperhatikan saja, batinnya merasa sedikit iri. Rupanya Seung Gi sudah mengenal Hyesun dengan baik, mungkinkah mereka sepasang kekasih. Hal itulah yang sekarang ada dipikiran Minho. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan ingin mengusir pikiran itu jauh-jauh dari otaknya.

“Minho-ssi, gwenchana” Hyesun kembali berbicara kepada Minho.

“Mwo…..” Minho menjawab bingung. Hyesun dan Seung Gi menatap kearah Minho yang sedang kebingungan mereka juga ikut2an bingung.

“Oh… gwenchana…hahhaha” Minho tertawa kikuk.

“Ah, aku sudah selesai. Aku permisi dulu kalian lanjutkan saja” lanjut Minho sesaat kemudian dia bangkit dari duduknya dan beranjak pergi tinggal Hyesun dan Seung Gi yang masih bingung bercampur penasaran melihat sikap Minho.

“Aushhh… apa sih yang kau pikirkan Minho” Minho bergumam pada dirinya sendiri ketika berada di toilet. Entah kenapa hatinya mencelos melihat keakraban antara Hyesun dan Seung Gi. Dia merasa sangat cemburu. Bayangan itu tidak mau keluar dari pikirannya. Minho membasuh mukanya mencoba menghilangkan rasa tidak enak di hatinya.

“Ingat Minho dia itu bosmu…bos.. arasso” gumamnya dalam hati melihat dirinya sendiri di cermin. Dihembuskannya nafasnya pelan sebelum keluar dari toilet itu.

Jam istirahat telah selesai, Hyesun dan Seung Gi sudah kembali ke dalam. Merekapun telah kembali kepada kesibukannya masing-masing. Saat sore hari tiba ketika jam kerja Minho hampir berakhir, tiba-tiba ada seseorang yang mencari Hyesun. Minho yang kebetulan menerima orang itu memberitahukan kepada Hyesun. Hyesun kemudian menghampiri orang itu mereka berbincang-bincang sejenak kemudian Hyesun memanggil Minho dan Seung Gi untuk mengikutinya. Minho dan Seung Gi saling menatap, guratan kebingungan terlihat diwajah masing-masing. Kemudian mereka berduapun mengikuti Hyesun di belakang.

Saat mereka sampai di galeri mereka mendapati sebuah piano besar berwarna hitam. Hyesun menyuruh orang-orang itu untuk meletakkan piano itu di salah satu sudut ruang galeri itu.
 
“Letakkan saja di situ” seru hyesun kepada seseorang.

“Baik, agashi” jawab orang itu memerintahkan anak buahnya untuk melakukan apa yang diminta oleh Hyesun.

“Tanda tangan disini agashi” kembali orang yang kemungkinan koordinatornya memberikan surat jalan dan tanda terima kepada Hyesun untuk ditandatangani.

“Kamsahamnida agashi kami permisi dulu” pamit orang itu kemudian.

Setelah mereka pergi Hyesun menghampiri piano itu, kemudian melihat kearah Seung Gi dan Minho yang masih terdiam di tempatnya.

“Waaahhhh ternyata Kyo noona benar-benar membelinya yah” tiba-tiba Seung Gi berkata. Dia tersenyum menghampiri Hyesun yang berada di depan piano itu. Hyesun tersenyum kecil, matanya bersinar memancar indah.

“Hmm…. Ini idenya Minam kok” sahut Hyesun. “Seung Gi-ya, mainkan satu lagu untukku” lanjut Hyesun lagi.

“Mwooo… ternyata kau memanggilku kemari untuk itu yah, dasar kau ini” jawab Seung Gi tertawa kecil. Minho hanya memperhatikan mereka berdua yang tengah asik di depan piano. Tidak tau apa yang harus dilakukan ataupun dikatakan. Hanya diam mematung. Hyesun melihat ke arah Minho. Sesaat kemudian dia menghampiri Minho.

“Minho-ssi, kau harus mendengarkan permainan pianonya, dia itu sangat  jago lho suaranya juga bagus” Hyesun berbicara kepada Minho. Minho tersenyum kecil. Melihat kearah Seung Gi yang kini sudah duduk di depan piano itu. Minho dan Hyesun menghampiri Seung Gi. Kemudian Seung Gi pun mulai memainkan piano yang ada didepannya.


http://www.youtube.com/watch?v=NTo3yxQqv9Y&feature=related

Hyesun terhanyut dalam nyanyian Seung Gi, senyuman kagum tidak lepas dari bibirnya. Sementara Minho meskipun dia cukup menikmati tetapi adakalanya dia merasa terganggu ketika dia melirik Hyesun yang tersenyum dari ujung matanya, hatinya kembali terasa panas. Perasaannya kembali bergejolak. Namun dia mencoba menutupinya dengan senyuman namun pikirannya kosong. Minho melamun sampai tidak sadar kalau Seung Gi selesai memainkan lagunya.

“Yeeeee…. Seung Gi-ya kau tetap tidak berubah, masih hebat seperti dulu. Seharusnya kau menjadi penyanyi di café ini saja bagaimana” suara Hyesun yang berbicara kepada Seung Gi membuyarkan lamunan Minho.

“Benar, seharusnya kau menjadi penyanyi saja” Minho tiba-tiba menimpali perkataan Hyesun, suaranya sedikit bergetar namun dia mencoba bersikap wajar.

“Hey..hey kalian berdua, kalian mau mencoba menyingkirkan aku yah” Seung Gi menjawab keduanya tertawa terkekeh, melihat ke arah Minho dan Hyesun bergantian.

“Aniyooo… aku kan hanya bicara sejujurnya, benarkan Minho-ssi??” seru Hyesun memandang ke arah Minho meminta persetujuan.

“ii..iya.. dia benar” jawab Minho tersenyum kecil.  Seung Gi tidak menjawab hanya tertawa.

“Ah, jam berapa ini” Seru Hyesun tiba-tiba. “Minho-ssi, sudah waktunya kau pulang” lanjut Hyesun memandang Minho tersenyum lembut. Minho melirik jam tangannya dan memang benar jam kerjanya sudah habis.

“oh benar juga, hey Hyung kau tidak pulang juga” jawab Minho melihat ke arah Seung Gi.

“Aku hari ini ambil 2 shift jadinya aku pulang malam” jawab Seung Gi tersenyum. “Sun-ah, kau juga pulanglah kau harus banyak istirahat jangan khawatir aku akan menjaga café ini” Lanjut Seung Gi tersenyum kearah Hyesun yang kini tepat berada di sebelahnya. Hyesun hanya mengangguk pelan. Kemudian mereka berdua kembali ke atas, Minho pergi keruang ganti untuk mengemasi barangnya sementara Hyesun dan Seung Gi masih sibuk menyelesaikan sedikit urusan.

“Hyung… “ seru Seung Gi melambai ke Minho yang baru keluar dari ruang karyawan. Minho pun berjalan menghampiri Seung Gi dan Hyesun.

“Ada apa??” Tanya Minho pendek

“Sun-aa, kau yakin tidak mau kuantar” Seung Gi berbicara kepada Hyesun.

“YYa…. Aku sudah bilang tidak perlu kan, aku bisa pulang sendiri, don’t worry about me” tolak Hyesun halus.
“Hyung, minta tolong kau hentikan taxi untuk nona ini di jalan nanti” Seung Gi berbicara kepada Minho. Sementara Hyesun hanya diam, wajahnya kelihatan tidak senang. Minho hanya mengangguk pelan dan tersenyum kecil. Kemudian diapun berpamitan kepada Seung Gi dan melihat ke arah Hyesun. Suasana menjadi sedikit canggung.

“Aku pergi” seru Hyesun pendek kemudian diapun mengayuh kursi rodanya keluar. Minho mengikutinya dari belakang. Selanjutnya mereka hanya diam sepanjang perjalanan keluar, Minho melihat wajah Hyesun yang sedikit kesal dan tidak seperti biasanya.

“Ehmmmm” Minho berdehem kecil mencoba memecah kebisuan di antara mereka. Saat ini mereka sudah berada di taman kota. Hyesun menoleh ke arah Minho. Sementara Minho berpura-pura tidak melihatnya. Di edarkannya pandangannya ke arah taman.

“Tidak perlu mengasihaniku, aku tidak butuh bantuanmu aku bisa sendiri kok” Hyesun berbicara pelan namun tajam kepada Minho.

“Mwo….??” Minho memandang ke arah Hyesun. “Baiklah” sahutnya kemudian dengan nada cueknya. Hyesun menjadi sedikit bingung dan salah tingkah dengan jawaban Minho. Biasanya orang lain akan mencari seribu alasan untuk menghibur atau membujuknya namun Minho malah bersikap cuek.

“Kk..kau…” seru Hyesun terputus.

“Mwooo???” jawab Minho. Alisnya terangkat ke atas.

“Ah..ahniyoo” jawab Hyesun pelan.

“Aku lapar, disana ada penjual fish cake, kau mau?” jawab Minho seraya mengarahkan dagunya sembari menunjuk ke sebuah stand jajanan di pinggir jalan. Hyesun mengikuti arah pandangan Minho. Tidak menjawab namun dia langsung mengayuhkan kursi rodanya ke arah stand tersebut. Minho tersenyum. Kemudian diapun berjalan menyusul Hyesun.





Saat mereka sampai di depan stand Minho mengambil beberapa stick fish cake dan memberikannya kepada Hyesun.

“Hati-hati panas” kata Minho menyodorkan chopstick kepada Hyesun.

“Gomawo” jawab Hyesun pendek, menerima stick itu dari Minho dan memakannya. Mereka berdua begitu menikmati jajanan itu sampai tidak terasa mereka berdua telah menghabiskan puluhan stick fishcake.

“Ahhh.. kenyang sekali” Hyesun berbicara dan memegangi perutnya. Minho tertawa melihatnya.

“Ternyata selera makanmu besar juga yah kau makan seperti babi” Minho bicara dan tertawa menggoda Hyesun. Hyesun tersenyum malu. Pipinya merona bersemu pink. Namun dia berpura-pura cemberut karena Minho menyamakan dia dengan babi. Bibirnya cemberut memandang Minho.





“Yya… aku tidak pernah tau kalau rasa fishcake ini begitu enak” jawab Hyesun. Minho mengernyitkan alisnya bingung.

“Hampir seumur hidupku aku habiskan diluar negeri, berpindah-pindah mengikuti appa. Baru 1 tahun ini saja aku bolak-balik kemari dan sudah 2 bulan ini aku menetap disini karena Kyo unnie akan menikah dan menetap disini” Minho mendengarkan penjelasan Hyesun dengan seksama.

“Wah, pasti menyenangkan sekali bisa melihat dunia yang lain” jawabnya. Matanya memandang lurus ke arah langit.

“Hmmm, kadang-kadang menyenangkan tapi ada juga yang membuatku tidak betah” lanjut Hyesun senyuman misteri tersungging dibibirnya, suaranya agak bergetar. “Tapi kebanyakan menyenangkan, Minho-ssi kalau kau punya kesempatan kau juga harus melihat dunia ini” sahutnya cepat sembari tertawa kecil. Minho hanya tersenyum, diperhatikannya kembali gadis itu. Minho kembali menangkap guratan kesedihan di wajah cantiknya. Namun gadis itu tersenyum lebar seakan menutupi mendung yang sesaat tadi mampir ke wajahnya.





“Hmm……” Minho bergumam pelan. Sesaat kemudian Minho berdiri menghampiri si penjual dan membayar makanan yang telah mereka makan tadi. Hyesun terkejut dan buru-buru menyodorkan uang ke arah Minho. Minho hanya memandang Hyesun datar.

“Untuk apa??” tanyanya kepada Hyesun

“Tentu saja untuk membayar yang kita makan tadi” jawab Hyesun polos. “Ini…” Hyesun masih berusaha menyodorkan uang itu ke arah Minho yang kini memasukkan kedua tangannya di saku jaketnya.

“Tidak perlu, kali ini aku yang traktir kau bisa menggunakannya lain kali” tuturnya lembut.

“Mwooo???” Hyesun bengong sementara Minho hanya tertawa dan berlalu menuju ke jalan raya.

“Yya….” Hyesun berteriak menyusul Minho.

“Apa???” jawab Minho

“Thank You” seru Hyesun saat sudah berada kembali disamping Minho.

“Yur wel..kom” sahut Minho terbata. Hyesun tertawa kecil mendengar logat Minho, namun Minho hanya cuek saja masih terus berjalan.

“Minho-ssi dimana kau tinggal” Lanjut Hyesun

“Beberapa blok dari sini” sahut Minho pendek. “Kau….?, dimana rumahmu”  lanjutnya kemudian.

“Daerah gangnam juga” Jawab Hyesun.

Oh, hanya itu yang keluar dari mulut Minho. Mereka terus berjalan dan tidak terasa mereka sudah sampai di jalan raya.

“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, kau bisa sendiri kan??” kata Minho kepada Hyesun.

“I..iya…” sahut Hyesun pelan.

Minho pun berlalu meninggalkan Hyesun. Setelah Minho pergi Hyesun mencoba memberhentikan taxi yang lewat dengan satu tangannya dijulurkan ke jalan raya. Satu kali tidak berhasil, dia mencoba lagi. Dua kali tidak berhasil dia terus mencobanya. Minho memperhatikan Hyesun dari kejauhan, dia belum beranjak dari tempat itu. Dilihatnya Hyesun yang hampir putus asa, wajahnya seperti ingin menangis. 

20 menit berlalu seperti itu. Minho tidak tahan melihat Hyesun seperti itu. Dilangkahkan kakinya ke arah Hyesun namun baru beberapa langkah tiba-tiba dia melihat Hyesun mengayuh kursi rodanya ke tengah jalan dan merentangkan tangannya. Minho kaget jantungnya berdegub kencang.

“Apa yang dia lakukan. Apa dia sudah gila” teriaknya di dalam hatinya. Sebuah taxi yang kebetulan melintas berhenti mendadak di depan Hyesun, tepat pada saat Hyesun berada di jalan. Tentu saja pengemudi taxi tersebut langsung turun dan bersungut-sungut ke arah Hyesun karena Hyesun hampir saja menyebabkan dia dipenjara gara-gara ulahnya.

“HEY AGASHI APA KAU SUDAH GILA HAH BERADA DI TENGAH JALAN SAAT AKU MELINTAS” si pengemudi taxi tersebut berteriak keras ke arah Hyesun wajahnya merah padam. Namun Hyesun hanya tersenyum sembari memamerkan senyuman malaikat miliknya kepada pengemudi taxi tersebut dan meminta maaf.

“Miane…ahjussi… aku harus melakukan ini kalau tidak aku tidak akan bisa pulang, cheongmal miane ahjussi…. bisakah anda mengantarku ke rumahku” Hyesun berbicara dengan nada penyesalan namun tetap tersenyum. Pengemudi taxi itu yang tadinya masih akan marah begitu melihat senyuman malaikat Hyesun mendadak melunak. Dibukanya pintu taxi dan membantu Hyesun masuk ke dalam taxinya. Kemudian mereka pun berlalu.

Minho masih terpaku di tempatnya, jantungnya yg tadinya seakan berhenti kini sudah mulai normal, senyuman kecil menghiasi wajahnya. “Gadis aneh” gumamnya menggelengkan kepalanya perlahan, namun rasa kagum melihat Hyesun tadi bercampur menjadi satu di dadanya.   

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^