Author Topic: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥ ~ (LITTLE KISS., 27.03.10)  (Read 61595 times)

Offline endree_noona

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 1713
  • ^True ♥ Never Runs Smooth^
  • Location: heroes city ^^
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #195 on: February 28, 2010, 03:26:04 am »
OK DAH BONUS MINGGU INI SETELAH ITU DAKU CUTI 2 MINGGU YAH GAK UPDATE  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]



CHAPTER 2


Cukup lama Hyesun tidak sadarkan diri, saat dia mulai sadar dia membuka matanya perlahan-lahan. Masih setengah sadar mencoba mengingat-ingat kejadian apa yang sudah membuatnya pingsan. Kepalanya pusing, dia mencoba bangkit. Matanya sudah terbuka sepenuhnya, tidak dilihatnya siapapun disana. Dia membangunkan badannya masih terduduk di tempatnya pingsan. Diarahkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dapur yang menjadi satu dengan ruang tengah masih kosong, diedarkannya kembali pandangannya sampai matanya menangkap sesuatu.

Seorang pemuda sedang berdiri di salah satu sudut ruangan yang agak gelap, matanya memandang ke luar dari jendela yang ada di depannya menatap hutan yang terhampar jauh di belakang. Hyesun mengerjab-ngerjabkan matanya. Mulutnya terbuka akan menjerit namun segera ditutupnya mulutnya dengan kedua tangannya.

Pemuda itu menoleh kepadanya.

“Kau, sudah sadar” tanyanya pendek kepada Hyesun. Sementara Hyesun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Kedua tangannya masih menutupi mulutnya.

“Si…si..siap..pa..ka..ka..kau” jawabnya terbata-bata. Keringat dingin masih menetes di wajahnya yang pucat. Pemuda itu hanya tersenyum

“Ternyata kau memang bisa melihatku” jawab pemuda itu.

“Han…hannnn….tuuu?” Hyesun kembali bertanya terbata-bata. Oke dia sudah cukup dan sangat ketakutan sekarang. Jujur meskipun dia seorang cenayang yang tugasnya memanggil arwah-arwah bergentayangan namun baru kali ini dia melihat sosoknya secara langsung di hadapannya karena biasanya Hyesun hanya bisa merasakan kehadiran arwah-arwah itu saja tanpa pernah sekalipun melihatnya. Hyesun memiliki semacam sixth sense yang biasa dia gunakan untuk meramal dan juga memanggil arwah. Dan sekarang sesosok arwah mendadak muncul di depannya dengan wujudnya yang sempurna.
“Hantu??? pemuda itu mengernyitkan alisnya. “Hahaha…hmmm bisa dikatakan seperti itu aku ini hantu yang bergentayangan” lanjutnya, pemuda itu menjawab pertanyaan Hyesun sambil tertawa lebar. Kemudian dia berjalan mendekati Hyesun.

“STOPPPP jangan men..de..kat” Hyesun tiba-tiba berteriak mengagetkan pemuda itu. Tangannya terangkat dan melambai memberikan pemuda itu suatu isyarat supaya tidak mendekatinya.



“Tolong…. Ja..jangan men..de..ka..t” lanjutnya lagi. Pemuda itu mengangkat alisnya bingung.

“Mworagu??” tanyanya penasaran. Dilihatnya wajah Hyesun yang pucat pasi. Hyesun masih terdiam di tempatnya tidak menjawab pertanyaan pemuda itu.

“Hahahaha kau takut aku akan mencekikmu seperti di film film begitu” Pemuda itu tertawa keras melihat Hyesun yang masih kaku di tempatnya.

“Yya… kau ini mau saja dibohongi oleh film, dengar yah hantu itu tidak bisa membunuh manusia kau tau” lanjutnya lagi. Hyesun yang mendengarnya hanya bisa tertegun. Mencoba mencerna kata-kata pemuda itu.

“Benarkah???” tanyanya polos. Pemuda itu tertawa semakin keras dihadapannya, membuat Hyesun semakin salah tingkah dan berpikir kalau dia benar-benar terlihat bodoh sekarang. Wajahnya memerah karena malu. Hyesun tersenyum geli dan mengetok-ketok kepalanya sendiri menertawakan kebodohannya. Hyesun berdiri dari duduknya berjalan menuju ke kamarnya yang berada di lantai 2 melewati pemuda itu begitu saja tatapannya kosong pikirannya melayang, jalan setengah sempoyongan masih dengan tampang cenggonya  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

“Yya….” pemuda itu berteriak kepada Hyesun yang tidak menghiraukannya. Hyesun masih tetap berjalan menuju ke kamarnya.

“Aushhh.. dia pergi padahal aku masih ingin berbicara panjang lebar dengannya” pemuda itu mengomel sendiri, hanya memperhatikan Hyesun dari belakang.

Saat Hyesun sudah sampai di kamarnya, dia langsung merebahkan dirinya di kasurnya. Mencoba memejamkan matanya. Dia tidak ingin berpikir lagi, kejadian barusan masih membuatnya cukup shock. Ditutupnya kedua telinganya dengan bantalnya dan dibenamkannya wajahnya di bawah bantalnya sampai dia benar-benar tertidur dengan bantal di atas kepalanya.

Tanpa terasa waktu berlalu sudah pagi saja. Hyesun masih setengah terbangun namun terlalu malas untuk beranjak dari tempat tidurnya. Matanya masih setengah terpejam saat dia mendengar sebuah suara

“Selamat pagi” suara seorang laki-laki. Hyesun setengah sadar menjawab

“Pagi juga” jawabnya malas.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” tiba-tiba Hyesun berteriak kaget ketika sudah sadar bahwa pemuda itu sudah berdiri di hadapannya.

“Ka…kauuuuu lagi, kenapa kau belum pergi juga hah” Hyesun bertanya kepada pemuda itu. Satu tangannya memegang selimut sedangkan tangan yang lainnya mengarahkan jari telunjuknya ke arah pemuda tersebut. Pemuda itu tertawa.

“Pergi kemana?? Aku tidak akan pergi kemana-mana karena disini rumahku” jawabnya cuek.
“Mmm…Mwoooo?” Hyesun melongo, mulutnya terbuka alisnya terangkat.

“Oh…tidakkkkkk kenapa hidupku harus begini” gumamnya sedih meratapi dirinya sendiri.

“Yah… gwenchana??” pemuda itu bertanya kepada Hyesun yang mulai menangis.

“Kenapa aku…kenapa harus aku” sahutnya lucu. Tangannya menepuk-nepuk dadanya. “Kaaa..kauuu bisa cari tempat lainnya kan kenapa kau harus menghantuiku” lanjutnya lagi menangis semakin keras sampai-sampai pemuda itu menutup telinganya karena terlalu bising mendengar suara tangisan Hyesun yang parau.

“Hey ahjumma kau tidak perlu takut aku tidak akan mengganggumu, lagipula aku bosan sudah setahun ini aku tidak punya teman bicara” sahut pemuda itu lagi. Hyesun masih terisak di tempatnya. Hidungnya memerah.

“Mwo… ahjumma… Yyaaa…. aku ini masih muda kau memanggilku ahjumma, dasar tidak sopan” Hyesun menghentikan tangisnya saat sadar pemuda itu kini malah memanggilnya ahjumma. “OH sialnya aku sudah cukup dihantui olehnya dan kini dia memanggilku ahjumma” ratapnya dalam hati. Dipandanginya pemuda itu kembali dengan tampang memelas.

“Oh miane…. Lalu bagaimana aku harus memanggilmu” Tanya pemuda itu kemudian.

“Panggil saja aku Hyesun namaku Goo Hye Sun” sahutnya pelan masih sedikit terisak.

“Oh baiklah Hyesun-ssi” jawab pemuda itu tersenyum.

“Kau… siapa namamu” Hyesun kembali bertanya masih dengan suara paraunya.

“Aku?? Namaku Lee Min Ho panggil saja aku Minho” sahutnya tersenyum. Sementara Hyesun hanya mengangguk – anggukkan kepalanya. Sejenak kemudian dia beranjak dari kasurnya dan menuju ke kamar mandi. Minho mengikutinya di belakang.

“YYA…. Kenapa kau mengikutiku hah” Hyesun membentak Minho.

“Kau mau kemana Hyesun-ssi” tanyanya polos.

“Aku mau mandi, jangan kau kira karena kau hantu maka kau bisa keluar masuk ruanganku seenaknya, aku ingin privasiku sekarang pergilah KAaa….” Hyesun mengusir Minho dari kamarnya sementara Minho hanya bengong di tempatnya.

“PALLIIIiiiiiiiiii” teriak Hyesun kencang membuat Minho kembali menutup kupingnya.

“Aushhh…jangan berteriak kencang-kencang begitu, mending suaramu enak di dengar” Minho menyahut dan tertawa. Saat dia melihat wajah Hyesun yang sudah merah padam dan siap berteriak kembali akhirnya Minho cepat-cepat pergi dari tempat itu.

Setelah Minho pergi Hyesun menuju ke kamar mandinya. Saat dia melihat ke kaca toiletnya dia baru sadar kalau dia masih berpakaian sama seperti kemarin dengan dandanan yang sama, dia sama sekali tidak ingat kalau kemarin dia tidak sempat membersihkan dirinya. Lama-lama pandangannya menjadi agak kabur saat dia menyadari kalau kacamatanya tidak dipakainya. Hyesun kembali ke kamarnya menuju ke ranjangnya mencari-cari kacamatanya. Saat dia menemukan kacamata itu ternyata kacamata itu sudah rusak dengan gagangnya putus dan kaca sebelah kiri pecah.

“Bagussss….. satu lagi kesialanku” gumamnya “Arggghhhh…. Benar-benar sialllll, aku tau kalau aku punya firasat buruk dengan kehadirannya” lanjutnya lagi meratap sedih.

Setelah cukup lama berada didalam kamarnya, Hyesunpun akhirnya keluar dari kamarnya. Kali ini dia hanya mengenakan jubah mandi. Wajahnya polos tanpa makeup >>> emang sehari-hari juga tidak pernah pake make up  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] dia tidak memakai wignya karena dia baru saja mencuci rambutnya sementara kacamata satu2nya juga sudah rusak. Dia berjalan ke bawah untuk sarapan ketika dilihatnya rumahnya yang berantakan dengan barang belanjaannya kemarin masih berserakan di lantai. Dia ingat dia tidak sempat membereskan barang belanjaanya yang terjatuh kemarin. Segera dibereskannya barang belanjaannya itu dan dibawanya ke dapur.

Saat Hyesun sudah berada di dapurnya, dia mulai memasak makanan untuk sarapannya. Menggoreng telur dan sosis serta membuat kopi pahit, yah hari ini dia hanya ingin minum kopi yang sangat pahiitttt untuk menghilangkan kesedihannya.

>>> satu lagi kebiasaannya yang aneh.  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]

Hyesun masih sibuk menggoreng telurnya saat Minho tiba-tiba sudah berada di belakangnya dan mengagetkannya.

“Kau bisa memasak juga” cibirnya tiba-tiba kepada Hyesun yang tengah asyik dengan aktivitas memasaknya. Spontan Hyesun  menoleh ke belakang.



“YYaaaa…. KAUUUU!!!” . “Kenapa selalu mengagetkanku hah lama-lama aku bisa mati muda kalau setiap hari kau tiba-tiba datang dan pergi seenakmu saja” Hyesun mengomel kepada Minho, dia mulai kehilangan kesabarannya. Bibirnya cemberut. Sementara Minho hanya terdiam melihat Hyesun. Diperhatikannya gadis yang ada didepannya itu dari atas sampai ke bawah mengucek-ucek matanya mungkin dia salah melihat.

Gadis itu lain sekali dengan ahjumma yang dilihatnya semalam. Kecil mungil kakinya panjang dan indah kulitnya juga putih bersih, wajahnya polos tanpa polesan make up namun terlihat seperti sebuah boneka. Minho terpanah melihatnya. Sementara Hyesun memandang Minho heran. Dia mengibas-ngibaskan tangannya ke depan wajah Minho yang masih bengong di tempatnya.

“Yah…gwenchana” Tanya Hyesun masih mengibas-ngibaskan tangannya. Minho tersentak kaget tetapi segera bersikap biasa karena gengsi kalau ketahuan mengagumi sosok Hyesun sekarang.

“Ehmmm… uhuk..uhuk…” Minho terbatuk kecil “Hey, masakanmu….gosong” lanjutnya lagi.

Hyesun mengendus-enduskan hidungnya dan menoleh ke belakang. Dia kembali berteriak karena melihat sarapannya yang sudah “hancur”.

“Sarapanku…” pekiknya pelan kembali meratap. “Semua ini gara-gara KAU, sejak kemarin aku terus-terusan sial” lanjutnya memaki Minho kesal, sementara Minho hanya menggaruk-garuk kepalanya dan berlalu pergi.

“Dia pergi begitu saja, bahkan dia tidak meminta maaf  huff dasar hantu sial” Hyesun mengoceh pelan dengan nada kesal melihat punggung Minho yang berlalu.

Akhirnya setelah sarapan paginya yang hancur hari itu Hyesun memutuskan untuk sarapan hanya dengan meminum kopinya saja namun kali ini di campur dengan segelas susu. Dia duduk dengan kesal saat berada di meja makannya. Gelas kopinya diletakkan dengan sedikit dibantingnya. Maksudnya ingin menunjukkan kepada Minho bahwa dia sangat kesal dan marah kepadanya namun tentu saja karena dia membanting-banting gelas kopinya meskipun pelan, air kopi itu tetap memercik ke wajahnya sendiri membuatnya semakin kesal  [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]. Minho melihatnya diam-diam tersenyum geli melihat kekesalan Hyesun. Saat ini bibir Hyesun sudah sangat cemberut. Sesekali dia melirik Minho kesal.



Setelah selesai dengan “sarapannya” pagi itu Hyesun pun bersiap-siap pergi ke kantornya. Berdandan seperti biasanya dengan blouse terusan bercorak sunflowernya tidak lupa dengan cardigan dan syalnya serta wignya kembali dipasang, namun pagi ini tanpa kaca matanya karena dia sudah sukses merusaknya. Untung ada contact lens yang dulu pernah di berikan oleh Ga Eul namun tidak pernah dipakainya karena dia merasa sangat tidak nyaman dengan contact lens yang membuatnya iritasi namun hari ini dia terpaksa menggunakannya karena dia tidak ingin menabrak seseorang kala sedang menyetir di jalan.

Saat Hyesun keluar dari kamarnya dan turun ke bawah tidak dilihatnya sosok Minho disana. “Hmmm mungkin dia sudah menyesal dan pergi” gumam Hyesun berbicara pada dirinya sendiri. Senyuman kecil tersungging di bibir tipisnya. Hyesun berjalan ke arah garasi yang terletak disamping rumahnya tempat dia memakirkan mobilnya semalam. Distarternya mobilnya dan memasang sabuk pengamannya.

Saat dia mulai melajukan mobilnya tiba-tiba Minho sudah duduk disampingnya. Hyesun terkejut dan mengerem mendadak mobilnya.

Ciiiiiittttttt …….


Suara rem mobilnya berdecit keras. Kepala Hyesun sempat terantuk stir mobil.

“YYAAAAA…” teriaknya ke arah Minho sembari mengelus2 jidatnya yang terantuk.

“Kkk…KAUUUU….” Lanjutnya lagi.

“Mwooooo…???” jawab Minho pendek memandang Hyesun bingung. “Hati-hati kalau menyetir bodoh aku heran kau bisa lulus mengemudi apa kau sungguh-sungguh punya SIM” lanjutnya enteng. Hyesun menggigit bibir bawahnya menahan emosinya. Ditepuknya dadanya berulang-ulang, menghembuskan nafas dalam-dalam. Mencoba untuk tidak menjerit histeris.

“KAU… mau apa kau mengikutiku HAH” tanyanya tajam kepada Minho. Bibirnya cemberut menahan kesal.

“Aku sedang bosan saja sudah kubilang kan kalau aku kesepian dan aku butuh teman hehehe” Minho menjawab pertanyaan Hyesun santai sembari tersenyum kecil. Hyesun terpana dengan senyuman menawan yang dipamerkan oleh Minho. Matanya melebar dan berkedip-kedip

“Yya…gwenchana???” Tanya Minho tiba-tiba, mengejutkan Hyesun.

“Ah,,, aniyoooo..” jawabnya mengeleng-gelengkan kepalanya pelan.  Hyesun kemudian menstarter mobilnya kembali dan mulai berjalan kembali. Sepanjang perjalanan itu serasa neraka buat Hyesun karena ternyata Minho itu hantu yang sangat bawel. Dia tidak henti-hentinya mencela mobil dan aksesories yang ada di dalam mobil serta cara menyetir Hyesun, bahkan lebih parah dari Ga Eul yang menurutnya sudah memiliki kebawelan pangkat dua belas.

Akhirnya selama perjalanan mereka sibuk berdebat dan Hyesun harus selalu berteriak “SUDAH HENTIKAN!!!” atau “DIAMMM!!!”untuk menghentikan kebawelan Minho. Dan bisa ditebak saat mereka melintas di jalan raya yang lalu lintasnya cukup padat saat Hyesun berteriak sendiri karena tidak ada orang lain yang bisa melihat Minho, orang-orang sekitar yang kebetulan mendengar teriakan keras Hyesun hanya menggeleng-gelengkan kepala atau ada yang menertawakannya karena dia terlihat seperti orang yang tidak waras. Dan parahnya pada saat orang-orang itu menertawakannya, MINHO juga ikut-ikutan tertawa tidak kalah kerasnya dari mereka.

Akhirnya sampai juga dia di “kantornya” sedikit terlambat, well bisa dibilang dia sangat terlambat hari ini dan ini semua gara-gara hantu brengsek itu pikirnya. Setelah memakirkan mobilnya yang tentu saja masih harus ditambah dengan mendengarkan ocehan Minho, akhirnya Hyesun berjalan menuju ke kantornya lewat pintu belakang tentunya.

Sempat mengintip ada beberapa pasien hari ini. Saat dia sudah berada di ruang prakteknya, Ga Eul masuk ke kantornya, sedikit surprise dengan penampilan Hyesun yang minus kacamata tebalnya.

“Sun-aaa, kenapa kau terlambat, kau darimana saja sih, dan oh my Gosh lihat dirimu kau sudah mulai berubah Sun-aa” Ga Eul terus mengoceh memegang pundak Hyesun dan melihatnya heran bercampur senang.



“I..iiyeee… itu gara-gara kacamataku rusak tertindih badanku saat aku tidur hehehe jadinya aku sekarang terpaksa memakai contact lens yang kau berikan dulu” jawab Hyesun sedikit gugup. Sedangkan Ga Eul hanya mengernyitkan alisnya heran karena dia tau secerobohnya Hyesun, dia itu termasuk golongan orang yang sangat sayang dan hati-hati terhadap barang. Bagaimana mungkin Hyesun tidur dengan menindih kacamatanya. Itulah yang ada di pikiran Ga Eul sekarang dan tampaknya Hyesun sudah bisa membaca pikiran Ga Eul maka dia mencoba mengalihkan perhatian Ga Eul dengan menyuruhnya untuk mulai memanggil pasiennya.

Dia tidak mungkin mengatakan kepada Ga Eul tentang “mimpi buruknya” semalam yang baru di alaminya sampai pagi ini dan alasan sebenarnya dia sampai datang terlambat. Ga Eul pasti akan mengira kalau dia sudah benar-benar gila karena Hyesun tau dari dalam hatinya kalau sebenarnya Ga Eul bukanlah orang yang percaya dengan dunia magis dan semacamnya dia lebih realistis dan lebih rasional ketimbang Hyesun, hanya karena mereka sudah bersahabat sangat lama dan sangat dekat seperti saudara karena Hyesun sebatang kara di dunia ini dan Ga Eul lah satu-satunya temannya yang masih berada disisinya dan menemaninya adalah alasan Ga Eul membantu Hyesun di kliniknya dan bekerja sebagai asistennya sampai sekarang.


Pasien pertama Miss Sunshine hari ini adalah seorang bapak-bapak yang berumur kurang lebih 50 tahunan, dan dia mengeluh sering dihantui oleh almarhum istrinya yang telah meninggal lebih kurang setahun yang lalu. Hyesun meminta barang almarhum istri dari pasiennya itu dan pasien itu mengeluarkan sebuah sapu tangan sulaman dari sakunya dia bilang sapu tangan itu adalah benda kesayangan almarhum istrinya. Maka Miss Sunshine memulai “ritual” pemanggil arwahnya, yang dia lakukan pertama kali adalah meletakkan saputangan itu diatas telapak tangan pasiennya sementara dia meletakkan telapak tangannya sendiri menindih sapu tangan itu.

Mulailah Miss Sunshine komat-kamit membaca mantranya. Bibirnya yang tipis mulai komat – kamit dengan mata terpejam, Miss Sunshine juga menyuruh pasiennya untuk memejamkan matanya. Saat Miss Sunshine tengah asik berkonsentrasi samar-samar dia mendengar suara tawa seorang lelaki, awalnya pelan namun makin lama makin menjadi.  Miss Sunshine menghentikan aktivitasnya matanya masih terpejam namun otaknya berpikir mencoba mengingat-ingat suara yang begitu familiar yang di dengarnya. Sejenak dia berpikir “jangan-jangan… tidak mungkin dia” batinnya dalam hati. Matanya yang terpejam menjadi terbelalak lebar dan melihat ke arah suara yang didengarnya itu saat dia mendengar suara tawa yang semakin keras saja.

Dilihatnya Minho berdiri di belakangnya, tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.



Hyesun melotot namun Minho tidak melihatnya terus tertawa wajahnya menjadi merah dan matanya terpejam.

“YYAaaa…..!!!” Hyesun berteriak ke arah Minho. “DIAMMMM!!!” lanjutnya. Suaranya yang keras membuat pasiennya terkejut dan membuka matanya. “Mwoooo…” sahut pasiennya memandang ke arah Miss Sunshine dengan tatapan bingung.  Hyesun yang menyadari kalau si pasien tersebut tidak tahu menahu soal Minho si hantu brengsek itu menjadi salah tingkah.

“Ah…ahniyoooo” jawabnya pelan menundukkan kepalanya malu. Sementara Minho yang melihatnya bukannya berhenti tertawa tetapi semakin menjadi-jadi. Hyesun terdiam berpikir. Lama dia hanya memperhatikan Minho yang puas menertawai dia.

“HAHAHAHA kau lucu sekali hahahha…. Kau liat wajahmu yang komat kamit begitu…. Hahahhaa sungguh sangat lucuuu…..” Minho terus tertawa dan mengejeknya. Hyesun menggigit bibir bawahnya, rasa kesalnya semakin memuncak melihat Minho seperti itu. Rasa kesal yang sudah sampai ke ubun-ubun membuat dia tidak tahan lagi.

“YYAAAA…., KELUAR SEKARANG JUGAAAAAAA KAAAAAAA….” Teriaknya kepada Minho, namun si pasien mengira dia di usir oleh Miss Sunshine. Si pasien itupun berdiri akan beranjak pergi wajahnya ketakutan setengah mati melihat kemarahan Miss Sunshine.

“Tu..tu..tunggu dulu…anda mau kemana pak” sahutnya cepat saat dia melihat bapak pasien itu sudah berdiri.

“Bu…bukan..kah anda ingin saya ke…ke…luar Aga…shi” jawab pasien itu pelan dan terbata-bata, rasa takut terlihat diwajahnya. “Mu…mung..kin sa..sa..ya memang salah… istri sa..ya menginggal karena bunuh diri gara-gara sa..saya…berselingkuh…” lanjutnya kembali tergagap.

“Is…istri saya pasti tidak memaafkan saya karena itu dia terus menghantui saya agashi… kalau begitu saya pergi dulu saya permisiii” pasien itu kembali bicara panjang lebar sejenak kemudian dia keluar dari ruangan Miss Sunshine lebih tepatnya kabur…  [heh]

Hyesun hanya memandang kepergian pasiennya itu. Wajahnya melongo, pikirannya kosong. Dia terduduk lemas di kursinya. Sementara Minho yang melihat kejadian itu yang tadinya tertawanya sudah agak mereda kembali tertawa keras. Ga Eul masuk ke ruangan Hyesun dan melihat Hyesun yang terduduk lemas di kursinya.

“Yya…gwenchana…. Sun-aaa…gwenchana” Ga Eul berbicara sambil mengguncang-guncang badan Hyesun. Dia sangat khawatir melihat sahabatnya itu. Tatapannya kosong. Terlebih lagi setelah mendengar teriakan keras Hyesun tadi disusul pasiennya yang keluar dari tempat prakteknya dengan terburu-buru dan wajah ketakutan.

“Sun-aa… gwenchana” sahut Ga Eul lagi kali ini dia mengguncangkan tubuh sahabatnya itu agak keras.



TO BE CONTINUED ……

And if that love was true... When you love someone It will all come back to you. Coz we are MINSUN family ^^