Author Topic: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)  (Read 25236 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter V (29 JAN 2011)
« Reply #150 on: February 10, 2011, 10:38:21 pm »
THE HOSPITAL
Chapter VI

“Mwo? Menginap?” Soe Eun terkejut. Dia tengah berada di rumah Hye Sun memenuhi undangan bosnya itu tadi siang.
“Ne, kenapa? Kau ada acara lain?”
“E…. aniyo..”

Hye Sun mengeluarkan setumpukan kertas dari dalam tasnya,”Banyak yang musti kita benahi di Instalasi, kita tidak mungkin menyelesaikannya tanpa kau menginap di sini.”

“Tapi apa tidak merepotkan,” Soe Eun mulai membantu Hye Sun menata kertas-kertas itu di atas meja. Hye Sun mengibaskan tangan,”Ah, santai saja, lagi pula aku di sini cuma sendiri.”

“Kalau Min Ho-ssi datang bagaimana?”
“Min Ho sedang ke Macau.”
Soe Eun manggut-manggut.

“Kau mulai saja dulu memeriksa kertas-kertas ini, aku mau mandi dulu, gerah rasanya, kalau kau mau makan, ada banyak makanan di kulkas, tapi kalau nasi, mungkin kau harus memasaknya dulu, beras sih ada, tapi aku kan jarang makan di rumah, jadi aku jarang menanak nasi.” perintah Hye Sun. Dia memang baru saja sampai dari pesta di rumah Min Ho. Soe Eun mengangguk mantap lalu memperhatikan Hye Sun yang ngeloyor begitu saja ke kamarnya. Kini tinggal Soe Eun sendirian di ruang tengah itu. Pandangannya mulai menyapu sekeliling ruang, dia merasa tidak sopan dengan tingkahnya itu, tapi rasa penasaran akan diri Hye Sun begitu menyeruak.

Ruangan itu cukup tertata dengan desain interior yang bagus, tetapi beberapa barang tampak berada tidak pada tempatnya. Pandangannya kini tertuju pada sebuah buffet besar di ruangan itu, sebuah buffet yang penuh dengan buku-buku tebal, dari posisinya yang kacau, Soe Eun cukup mampu menyimpulkan bahwa Hye Sun lebih banyak menghabiskan waktu berkutat dengan membaca jika berada di rumah ini. Pandangan Soe Eun kini tertuju di sebuah foto berbingkai yang terletak di atas meja kecil di samping buffet, dia mendekati foto itu, rupanya itu foto Hye Sun dan Min Ho, tapi Soe Eun heran karena sikap kedua orang dalam foto itu tampak kurang akrab bahkan canggung satu sama lain. Bukankah pasangan yang akan menikah biasanya menampakkan kemesraan jika dipotret?

“Kau pasti heran karena rumahku berantakan,” Hye Sun memulai pembicaraan. Tanpa di sadari oleh Soe Eun, ternyata bosnya itu sudah selesai mandi. Hye Sun lalu menghempaskan tubuhnya di sofa yang sedari tadi sudah direncanakan sebagai tempat untuk lembur. Soe Eun sangat kaget dengan penampilan Hye Sun saat ini, penampilan Hye Sun sungguh jauh berbeda, lebih santai dengan kaos oblong dan celana pendek, tanpa riasan make-up di wajahnya, namun karena kulit Hye Sun yang putih, tanpa bersolek pun, calon menantu Dinasti Lee ini masih kelihatan cantik.

“Ah, rumah ini cukup nyaman,” Soe Eun berusaha mengelak pendapat Hye Sun.

“Ada orang yang membersihkan dan menata rumah ini dua kali seminggu, sebenarnya baru kemarin orang itu kemari, tapi karena aku sangat ceroboh dengan barang-barang jadinya sekarang berantakan lagi.”

Soe Eun tersenyum, dia duduk di depan Hye Sun dan mulai menekuri kertas-kertas di depan mereka. “Aku memang tidak pandai berbenah,” imbuh Hye Sun.”Nanti kau bisa tidur di kamar tamu, jangan kuatir, karena aku tidak pernah masuk ke kamar itu, aku jamin kamar itu masih bersih sejak kemarin, aku tahu kau pasti tidak akan nyaman tidur di kamarku, seperti yang kukatakan tadi…. Aku tidak pandai berbenah.”

“Terserah Anda saja.”
Hye Sun tersenyum, “Baiklah kita mulai.”

Sesaat mereka sibuk membuka kertas-kertas diatas meja, Hye Sun mulai menyalakan laptopnya. “Aku sudah mulai menganalisanya melalui Managing drug cycle.” Saat Laptop telah menyala, dia segera membuka file yang dimaksud. “Kau lihat ini, kita mulai dari management support, hal yang paling krusial disini adalah financing dan human resources, tapi aku akan lebih menekankan pada human resources.”

Soe Eun manggut-mangut,”Saya sangat setuju dengan anda, memang saya akui kita masih minim SDM, dan hal itu disebabkan financing yang kurang.”

“Tapi apakah ini bisa dijadikan alasan? Bukankah idealnya tiga puluh bed dicover oleh satu orang farmasis?”
“Ne, anda benar.”
“Oke, kita lanjutkan lagi, sekarang kita memasuki manajemen obat, kau bisa baca disini, kan.”

Soe Eun mulai menelusuri tulisan di layar mulai dari seleksi sampai use yang menunjukkan kegagalan proses. Sekali lagi dia menyetujui analisa Hye Sun,”Mungkin kita harus menyampaikan hal ini pada waktu rapat pengurus?”

Hye Sun menggeleng,”Tidak, Soe Eun-ssi, tidak cukup begitu saja, kita hanya akan dianggap bodoh di sana karena hanya memaparkan masalah tanpa menawarkan solusi.”

“Dhe?”
“Kita harus menyusun strategi,” jawab Hye Sun yakin, tangannya sampai terkepal ke atas saat berkata-kata.
“Bagaimana caranya?”
“Aish, kau ini, memangnya kau tidak pernah diajari manajemen strategis?”

Soe Eun menggeleng.

“Kalau analisa SWOT, kamu pernah diajari?”

Kali ini Soe Eun mengangguk.

“Nah, coba sekarang kau susun analisis SWOTnya.”

Soe Eun mulai mengerjakan perintah Hye Sun, dia mulai menganalisis lingkungan eksternal dan internal dari Lee International Hospital, sesekali dia tersenyum dengan analisanya, bagaimana tidak? Di bagian strength, dia menulis dukungan penuh dari direktur akan pelayanan farmasi klinik dan penerapan kompetensi farmasis, hal ini sangat menggelikan mengingat dr. Jo, direktur rumah sakit itu belum tahu menahu tentang strategi tersebut, tapi karena yang punya rumah sakit ini adalah calon suami bosnya, apa salahnya kalau dia menuliskan itu, toh kendali utama tetap pada Lee Corporation.

“Kenapa kau senyum-senyum?” Hye Sun keheranan.
“Ah, aniyo.”

Hye Sun bangkit dari duduknya lalu berjalan kea rah dapur, “Kau mau kopi atau teh?”

“Saya tidak minum kopi.”
“Sama kalau begitu.”

Sebentar kemudian Hye Sun sudah kembali dengan membawa dua cangkir teh dan meletakkan salah satunya  di atas meja. “Sudah selesai?”

“Sebentar lagi.”

Hye Sun menyruput teh hangat yang sedari tadi di pegangnya. Soe Eun meneruskan pekerjaannya, STRENGTHS : Dukungan penuh dari direktur untuk pelayanan farmasi klinik serta penerapan kompetensi farmasis, Jumlah bed 1100, Upaya efisiensi pengelolaan obat. WEAKNESS : Kemitraan profesional, SDM farmasi, Sarana prasarana, SIM dan Fasilitas IFRS, Alur organisasi dan manajemen organisasi masih tanda tanya, OPPORTUNITY: Dukungan direktur pd efisiensi item obat, Farmasi 1 pintu, Pelayananfarmasi klinik, Standar pelayanan ISO 9001, TREATH: Semakin banyak apotek baru di sekitar rumah sakit, Minimnya lulusan tenaga teknis kefarmasian Yang menguasai  IT, Peraturan akreditasi makin ketat.
Setelah selesai, dia menunjukkan hasil kerjanya pada Hye Sun.

”Oke,” Hye Sun mulai berkomentar, dia meletakkan tehnya dan mulai serius dengan tulisantangan Soe Eun,”Kalau kau mengusulkan tiga point itu untuk strength dan opportunity....,”Hye Sun mencoba memahami kembali maksud tulisan Soe Eun,” Hm..., untuk SO STRATEGIC, kita tempatkan Pembuatan anggaran dana untuk pencukupan SDM, fasilitas dan sarana-prasarana serta Penentuan program-program yang mendukung farmasi klinik dan pelayanan farmasi 1 pintu. Bagaimana?”

“Usul yang bagus.”

“Lalu WO Strategic-nya….” Hye Sun mulai mencorat-coret kertas kosong di depannya, membuat tabel untuk analisaSWOT dari analisalingkungan eksternal-internal tersebut, melanjutkan lagi WO STRATEGIC sampai WT STRATEGIC.

“Lalu apa yang kita lakukan selanjutnya, Hye Sun-ssi?”

“Oke, itu tadi adalah beberapa strategi alternative yang didapat dari SWOT Analisis, bisa kau bantu aku dengan program excel sekarang?”

“Tentu.”

Hye Sun mulai memilih prioritas strategi alternative melalui penilaian bobot kesesuaian strategi alternative itu dengan visi, misi, nilai dan falsafah Instalasi Farmasi rumah sakit hingga terpilihlah Critical Success Factor berdasarkan tingkat prioritas lalu masuklah pada implementasi strategi, periodisasi pencapaian Sae Hyunran, programming And budgeting, serta key performance indicator sebagai evaluasi tak lupa action plan dan FEEDBACK, MONITORING, DAN EVALUASI.
Ternyata benar perkiraan Hye Sun, pekerjaan itu tidak akan selesai jika Soe Eun tidak menginap, pukul dua dini hari, mereka baru beranjak tidur dan bangun dengan agak malas di pagi hari. Mandi cukup membuat badan keduanya segar walau pun wajah mereka terlihat tanda-tanda kurang tidur.

“Minumlah ini, akan membuat matamu melek,” Hye Sun menyodorkan segelas minuman ke  Soe Eun. Tanpa bertanya Soe Eun langsung menyeruput minuman itu, sesaat dia batuk-batuk, lalu mulutnya menyembur-nyembur. Hye Sun melihat adegan itu dengan tertawa konyol.

“Teh ini pahit sekali,” kali ini Soe Eun sudah berhasil mengatasi rasa tidak nyaman di lidahnya dan matanya benar-benar melek.

“Ya, itu yang selalu aku lakukan jika mengantuk,” Hye Sun masih saja terkekeh.
Deburan ombak dari luar sayup-sayup terdengar. Hye Sun berjalan ke arah jendela, lalu berdiri mematung di sana, dari posisi itu, dia mampu melihat pemandangan laut yang terbentang.”Indah sekali,”gumamnya sembari meyeruput teh pahit di tangannya.

Soe Eun mendekati bosnya,”Terima kasih telah mengundang saya ke sini.”
Hye Sun menoleh ke arahnya dan tersenyum.

“Tapi kenapa kita harus membawa pekerjaan itu kemari? Bukankah kita bisa berdiskusi di ruang anda?”
Hye Sun tersenyum lagi,”Aku tidak mau ada yang mensabotase rencana kita.”

“Sa…. Sa… sabotase? Maksudnya?”
“Kemarin ada seseorang yang meletakkan tape perekam di kolong meja kerjaku.”
“M….Mwo?”

Hye Sun mengangguk.

“La…lalu?”
“Lalu? Apa maksudmu dengan lalu?”
“Lalu apa yang akan anda lakukan?” tanya Soe Eun.
“Aniyo.”
“Aniyo?” Soe Eun terkejut, bagaimana mungkin Hye Sun setenang itu?

“Tape itu masih di tempatnya.” Hye Sun menhembuskan nafas, lalu memandang ke laut lepas itu, sekali lagi dia menyeruput tehnya.

“Bagaimana mungkin? Anda seharusnya membuang tape perekam itu.”

“Kalau aku melakukan hal itu, orang itu, entah siapa mereka akan berkesimpulan kalau aku mengetahui keberadaan tape itu dan mungkin akan meletakkan tape yang lain lagi di tempat yang aku tidak tahu.”

Hye Sun berjalan ke arah meja makan sementara Soe Eun masih saja mematung di tempat semula, “Oh, iya Soe Eun, aku mendengar kabar angin tak baik antara kau dan Tae Woong….”Hye Sun yang tiba-tiba ragu dengan kalimatnya, meletakkan cangkir yang telah kosong di atas meja dan  berpikir mungkin yang akan dia tanyakan ini akan membuat Soe Eun tersinggung, “Ah, kau tak perlu menanggapi ini jika tak mau.” Hye Sun mengibaskan tangannya.

“Jika maksud Anda adalah kabar perselingkuhan itu, semua tidak benar, Tae Woong teman Hyun Joong oppa, jadi saya tahu betul watak buruknya, saya bukan perempuan bodoh.”

“Syukurlah.”
“Lalu, anda tahu siapa yang berusaha melakukan sabotase itu?” Soe Eun masih tertarik dengan tape perekam itu.
“Anhi, kau tahu siapa kira-kira orangnya, Soe Eun-ssi?”

Soe Eun menggeleng, dia tengah berbohong, dia tahu benar siapa orangnya, siapa lagi jika bukan Tae Woong dan komplotannya dan yang paling pedih lagi, Hyun Joong, kakaknya adalah salah satu dari komplotan itu. Sebenarnya masih banyak lagi, bahkan bagian keuangan, bagian yang sangat vital, juga terdapat komplotan itu, tapi jika dia melaporkan semua ini pada Min Ho atau  dr. Jo, kakaknya pasti juga akan kena, dia tidak mau itu. “Ah, Saya akan berangkat sekarang.”

“Mwo? Kenapa tergesa-gesa, ini masih sangat pagi, kita bisa naik mobilku,”Hye Sun berusaha menahan Soe Eun.
“Mianhamnida, anda lupa kalau saya bawa motor.”
“Oh  itu, tenang saja, kau bisa mengambilnya kapan-kapan, di sini aman, kok.”
“Anyi… saya benar-benar harus berangkat sekarang, ada yang harus segera saya kerjakan.”

Dengan tergesa Soe Eun mangambil tasnya dan segera keluar dari rumah itu. Pandangan heran masih dialamatkan Hye Sun padanya saat mengantar sampai ke depan rumah. Aneh, semula dia beralasan motor, dan sekarang ada yang harus dikerjakan.

Soe Eun tak perduli, dia segera mengendarai motornya  ke rumah sakit, ya, ke rumah sakit, dia tahu betul yang akan dilakukannya. Dia tahu betul kalau hari ini si Brengsek itu pasti masih di ruangannya, bukankah kemarin malam si Brengsek jadwal jaga UGD? Dan ternyata benar juga, Tae Woong masih di ruangannya. Tanpa mengetuk pintu, Soe Eun menyerobot masuk, lalu menggebrak meja kerja Tae Woong,”Kenapa kau lakukan itu? Kenapa memasang perekam di ruang kerja Hye Sun?!”

Tae Woong terkejut, dengan cepat dia berjalan ke arah pintu yang masih terbuka lebar lalu mengamati luar ruangan, setelah yakin tak ada seorang pun, dia menutup pintu. Soe Eun menarik ujung bibir melihat hal itu,”Jadi benar kau yang melakukan?”

“Kalau iya kenapa? Kau lupa kalau kita harus membalas dendam kita?”

“Kita? Dendam kita? Kalau dendammu mungkin! Aku tidak pernah punya dendam pada keluarga Lee, aku bisa melanjutkan kuliahku karena beasiswa dari mereka dan bekerja di rumah sakit. Aku tidak mungkin mengkhianati rumah sakit ini!”

“Kau !” Telunjuk Tae Woong mengarah ke Soe Eun dan menatap tajam.”Suka atau tidak, kau telah terlibat jauh dengan kami, Soe Eun-a, apa kau mau aku membeberkan rahasiamu dulu?”

Soe Eun gentar, bayang-bayang kesalahan masa lalu berkelebat. Matanya terpejam dan menggigit bibir bawahnya, takut jika Tae Woong benar-benar melakukan ancamannya.

“Ah! Kau benar-benar busuk!” Soe Eun lari dari ruangan itu sambil berteriak. Sementara Tae Woong dengan senyum liciknya, memandang ke arah pintu yang terbuka lebar itu dengan tatapan puas. “Kau lupa kalau aku punya kartu As, Soe Eun-a? Jangan macam-macam denganku!”

---------------------------------------------------------------------

Semua hadirin mengejek presentasi yang Hye Sun berikan, banyak kritik yang menyerang Hye Sun dan dari wajah Hye Sun yang lesu, terlihat jelas bahwa itu bukan kritik yang membangun, hanya kritik, tanpa solusi atas alternative lain untuk melepaskan diri dari keterpurukan instalasi farmasi. ****! Seharusnya aku mengadakan survey atau pooling dulu, begitu rutuk Hye Sun dalam hati.

Soe Eun hanya mampu memandang wajah murung bosnya itu. Dia tidak bisa apa-apa, komplotan itu terlalu banyak. Sementara mereka tetap saja mencerca presentase Hye Sun yang dinilai terlalu perfect dan tidak memperdulikan analisa lingkungan.

“Anda harus ingat, Farmasis Goo, kondisi keuangan rumah sakit sangat tidak memungkinkan bagi pengembangan instalasi farmasi, apalagi untuk pemasangan system informasi seperti tadi,”protes Kim Nam Gil, bagian keuangan. Soe Eun Cuma bisa memejamkan mata, di pikirannya mulai terbentuk satuan angka yang dikorupsi oleh orang ini.

“Kau benar, Nam Gil-ssi,” kali ini Hyun Joong yang bersuara,”Masih saya ingat perkataan Lee Min Ho beberapa waktu yang lalu, bahwa keuangan rumah sakit sedang defisit, bahkan mendapat subsidi silang dari Lee Corporation, dan saya tidak yakin, pihak Min Ho-ssi mau membantu lagi.”

Hye Sun mengangkat bahu,”Kalian sama sekali lupa bahwa farmasi menyumbangkan empat puluh persen laba bersih bagi rumah sakit, hanya dari sediaan farmasi, kita bisa bermanuver harga. Hal ini sangat berbeda dari biaya atas jasa. Jadi jika farmasi dikelola dengan baik melalui strategi yang saya usulkan, tidak akan ada defisit keuangan lagi.”

Tae Woong bertepuk tangan. Sangat tidak jelas mengingat pertemuan ini bersifat resmi,”Oke, saya rasa penyelesaiannya simple saja. Anda harus menyakinkan calon suami anda itu untuk mengeluarkan uangnya dalam proyek anda.”

Semua hadirin seketika ribut, mereka mulai mempertanyakan lagi profesionalitas Hye Sun. Dan Hye Sun hanya bisa mengepalkan tangannya, hingga pintu ruangan itu terbuka lebar-lebar dan Min Ho muncul sebagai penyelamat. “Ada masalah apa di rapat ini?”

Dan hadirin pun tambah terkejut, tak terkecuali Hye Sun yang tak menyangka Min Ho kembali dari Macau secepat itu. “Presentasi penting apa ini?” tanya Min Ho setelah duduk di salah satu kursi dan mengamati layar.

“Presentasi Farmasis Goo tentang pengembangan instalasi farmasi,” jawab dr. Jo. Serta merta Min Ho mengamati Hye Sun,”Sepertinya hebat, bisa kau ulang lagi presentasinya?”

Hye Sun menghela nafas, dengan berat hati dia mengulang presentasinya dan Min Ho menikmati dengan seksama. Dalam hati Hye Sun merutuki semua itu, kenapa Min Ho harus datang tiba-tiba dan semakin membuat semua orang semakin meragukan profesionalitasnya.

“Ini proyek hebat, Farmasis Goo,” puji Min Ho saat presentasi itu berakhir. Ah In hanya bisa melirik wajah Hye Sun yang mulai merah padam tanpa tahu isi hati Hye Sun. “Saya suka bagian SIM dan reorganisasi, saya rasa kita memang perlu orang-orang baru yang lebih fresh dan idealis,” sambung Min Ho lagi. Kini Ah In merasa harus ikut bicara,”Lalu bagaimana dengan karyawan lama, anda tidak perhatikan mereka, Min Ho-Ssi?”

Min Ho tersenyum,”Buat apa mempertahankan sesuatu yang sudah matang, padahal yang pasti akan terjadi adalah membusuk.” Dan Tae Woong jadi tambah geram karena Min Ho mengatakan itu sambil meliriknya. Hye Sun bisa merasakan hawa permusuhan di antara keduanya. Sebenarnya ada apa dengan mereka? Apa karena masalah Yo Won Uni beberapa tahun lampau?

Soe Eun semakin menunduk. Dia yakin benar Min Ho sudah mengetahui belang Tae Woong. Dalam hati, dia mulai ngeri juga jika Min Ho bertindak tegas, dia merasa bagai orang yang paling durhaka mengingat kebaikan keluarga Min Ho selama ini padanya. Min Ho tertawa terbahak-bahak melihat satu per satu wajah tegang yang ada di situ,”Tentu saja saya hanya bercanda, asalkan mereka masih menunjukkan prestasi dan keloyalan di rumah sakit ini, mereka masih bisa bekerja.”

Min Ho menoleh ke arah Hye Sun,”Aku terima proyek ini, sementara ahliku akan menghitung nilai NPV dan RRRnya, kalian bisa memulai recruitment.  Kalau pun nantinya NPV dan RRR tidak memenuhi syarat, mungkin uang pribadiku yang akan membiayai proyek ini. Aku juga akan membentuk tim khusus untuk mengawasi proyek ini.”
Sontak suara dengungan membahana lagi seantero ruang. Hye Sun membatin hal yang tidak mengenakkan karena semua mata memandang penuh judstifikasi negative ke arahnya, dan dia semakin emosi terhadap Min Ho.

“Rapat ditutup!” sekali lagi Min Ho menampakkan kuasanya, bagaimana mungkin dia semena-mena menutup rapat, padahal tadinya rapat dibuka oleh dr. Jo, dan anehnya lagi dr. Jo sama sekali tidak protes dengan kelakuannya. Pria paruh baya itu malah menyalami Min Ho dan membisikkan sesuatu kepadanya. Hye Sun semakin bingung di tempat, tak perduli Ah In yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya, dan Tae Woong  serta gerombolannya yang meninggalkan tempat itu dengan hidung bersungut-sungut karena kesal.

Kekesalan Hye Sun masih saja mengganjal saat dia sudah berada di ruang kerjanya. Kali ini dia mempersiapkan semua materi yang  akan dihadapkannya pada Ketua Panitia Farmasi dan Terapi. Kemaren, dia sudah melayangkan surat permintaan pada Direktur akan rencana perombakan formularium yang baru atas saran ketua PFT, dan sepertinya dr. Jo menyetujuinya. Beberapa kali, dia menghela nafas panjang demi mengatur emosinya. Calon istri Lee Min Ho, entah kenapa dia menjadi muak dengan posisinya itu sekarang, karena dengan begitu orang-orang di rumah sakit ini mempertanyakan keprofesionalannya sebagai farmasis.

Pintu diketuk dari luar, dan tanpa dipersilakan masuk, orang yang mengetuk pintu sudah menongolkan kepala dan tersenyum lebar ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan orang yang menjadi biang kekesalannya hari ini, Lee Min Ho. “Masih sibuk?”

Hye Sun menoleh sebentar ke arah pria itu, memandang dengan tatapan penuh emosi,lalu membuang muka untuk meneruskan aktifitasnya dengan file-file yang sedari tadi memenuhi meja kerjanya. Seakan tahu bahwa dirinya terabaikan, Min Ho mendekat dan segera meraih tubuh mungil itu dalam pelukan. Sesaat Hye Sun tercekat dengan keagresifan kekasihnya, apalagi saat Min Ho mencium pundaknya, dan menghirup aroma tubuhnya, telinganya mampu menangkap setitik gelora dari helaan nafas pria itu. Dan saat pria itu melonggarkan pelukan dan memandangnya lekat,”Tidakkah kau merindukanku?” tanya pria itu. Hye Sun mendorong tubuh jangkung itu, amarahnya meluap, namun hanya dia tampakkan dari pandangan matanya yang berkilat,”Aku tidak suka caramu di meeting tadi!”

Min Ho mengkerutkan kening, dan barulah tersadar, wanita di depannya ini sedang marah. Apalagi saat telunjuk Hye Sun tiba-tiba teracung sembari berucap,”Kau tahu? Sangat sulit bagiku untuk berada di sini. Statusku sebagai calon istrimu, membuat para petinggi di rumah sakit ini meragukan keprofesionalanku. Dan mengingat apa yang kau lakukan di meeting tadi…

Hye Sun menghentikan ucapannya, dia mengatur nafasnya yang turun naik, tangan yang teracung itu akhirnya lunglai,”Caramu tadi hanya akan membuat mereka semakin yakin aku tidak professional!”
Min Ho melengkungkan bibirnya, lalu mulailah tawa itu. Tawa yang membuat Hye Sun semakin dongkol, kenapa setiap kali aku marah, pria ini malah tertawa?

“Chagiya,” Min Ho memanggil sembari tangannya menekan kedua bahu Hye Sun,”Kenapa harus kau perdulikan anggapan mereka. Sangat konyol!”

Min Ho duduk di kursi di depan meja kerja Hye Sun, kakinya yang panjang disilangkan, sungguh sikap tubuh yang sempurna, dan dengan suara berat dia berkata,”Kau tahu apa yang mereka katakan saat akhirnya aku yang menggantikan Almarhum Appa di Lee Corporation?”

Min Ho tersenyum, sesaat dia menaikkan bahu,”Mereka juga meragukanku waktu itu. Lalu apakah aku harus mengingkari statusku sebagai putra Appa?” Min Ho menghela nafas,”Mereka lupa bahwa waktu aku masih kecil, di saat anak-anak lain masih asyik dengan mainan mereka, aku sudah harus belajar nilai annuity dari uang, bahkan harus mendampingi Appa ketika liburan sekolah untuk bisnis, padahal waktu itu umurku baru tiga belas tahun.”

Hye Sun berbalik, di hadapannya kini adalah jendela kaca hingga dia mampu melihat pemandangan taman rumah sakit di luar. Mengingkari status? Perkataan Min Ho tadi serasa menohok dirinya, tak bisa dipungkiri, bahwa tadi dia sempat muak dengan status itu, status sebagai calon istri Min Ho.

“Chagiya… ” Dari belakang, Min Ho memeluk Hye Sun kembali. Pria itu sangat merindukan kekasihnya, lebih dari sebelum-sebelumnya. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi. Tidak hanya sekali dia meninggalkan Hye Sun untuk perjalanan bisnis luar kota bahkan luar negeri sekali pun, tapi entah kenapa pikirannya tidak tenang selama di Macau hingga memutuskan untuk pulang lebih cepat dari rencana.”Janganlah berpikir terlalu keras,” itulah yang dia bisikkan di telinga Hye Sun.

“Anggap saja mereka tak ada,” sambung Min Ho lagi,”Ibarat penonton sepak bola, mereka hanya bisa berteriak dan bersorak, bahkan memaki saat tim yang mereka unggulkan kalah, padahal mereka tidak merasakan betapa kerasnya usaha pemain di lapangan. Kau mengerti maksudku, kan?”

Min Ho menghirup rambut Hye Sun yang harum, lalu seperti biasa menopangkan kepalanya di bahu kekasihnya itu, sesaat pandangan mereka sama-sama tertuju pada pemandangan taman di luar gedung instalasi farmasi itu.

“Sampai kapan kau memelukku?” tiba-tiba Hye Sun bersuara.
“Mwo?”

“Aku harus bertemu ketua PFT,” Hye Sun berusaha melepaskan diri dari pelukan itu lalu memunguti file-filenya kembali. Min Ho tertawa sambil menggelengkan kepala.

“Pergilah,”kata Hye Sun halus.
“Kau mengusirku?”
Hye Sun mengangkat bahu,”Ne…, I am still on duty now.”

Dan Min Ho semakin keras tertawa, dia tidak pernah menyangka akan diperlakukan seperti itu oleh seorang pegawai di rumah sakit miliknya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena pegawai itu adalah Hye Sun, wanita yang sudah menawan hatinya sejak mereka bertemu.”Oke, lakukan semaumu, Chagi.”

Dengan telunjuknya, Min Ho menyentuh ujung hidung Hye Sun. “Lakukan apa yang kau rasa benar di rumah sakit ini, dan tentang proyek itu…. Hmm, lakukan hal-hal yang sederhana dulu, seperti perekrutan personel baru, misalnya.”
Hye Sun hanya tersenyum menanggapi ucapan Min Ho. Pria itu mengecup keningnya lalu mulai berjalan ke arah pintu, dan saat tangan kokoh itu sudah menggenggam ganggang pintu, Min Ho menoleh lagi ke arahnya,”Kau benar-benar mengusirku?”

“Oh, Min Ho-ssi, aku mohon mengertilah,” Hye Sun menjelaskan dengan putus asa. Min Ho pun terkekeh lagi, lalu segera keluar dari ruangan itu sesuai permintaan Hye Sun.


TO BE CONTINUED
« Last Edit: February 10, 2011, 10:42:10 pm by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]