Author Topic: DON'T TOUCH MY MAID HIATUS  (Read 14553 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: DON'T TOUCH MY MAID UPDATE 17 JANUARI
« Reply #150 on: February 12, 2011, 09:41:34 am »
DON’T TOUCH MY MAID © VOLDY

CHAP YANG GAK TAU KEBERAPA TAPI PART 1

HAPPY READING

   “Ngghh...” dengan pelan Jan Di menggeliat dalam tidurnya. Setelah mengerjapkan matanya beberapa kali akhirnya nyawanya yang sempat melayang ke Amerika kembali ketubuhnya. Ia berniat bangkit dari tidurnya ketika merasakan ada beban berat di bahunya. Ia sedikit melirik kesamping. Ops...tuan muda tersayang tengah tertidur dengan pulasnya. Jan Di kemudian menggerakkan sedikit kakinya, tapi ia juga merasa ada beban dibawah sana. Dengan susah payah ia mengintip kedalam selimutnya.

Pantas saja berat, bocah ini malah menjadikanku gulingnya semalaman.

Karena sudah hapal perangai Jun Pyo yang tidak bisa diganggu ketika tidur, Jan Di dengan sangat pelan menggeser kaki Jun Pyo dari atas kakinya. Berhasil. Sekarang tinggal menyingkirkan kepala Jun Pyo yang bertumpu dibahunya. Yak, berhasil juga. Dengan gerakan yang lemah gemulai Jan Di merengsek sedikit dari samping Jun Pyo. Eh, tapi baru pergerakan satu centi dari Jan Di, Jun Pyo langsung bereaksi. Ditariknya kembali tubuh mungil maidnya itu ke pelukannya. Tangannya melingkar di bahu Jan Di.

“Mau kemana?” tanyanya masih dengan mata tertutup rapat.

“Turun kebawah. Aku ada kuliah pagi hari ini.”

Jun Pyo tidak menjawab. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya dibahu Jan Di. Perlahan Jan Di merasakan sentuhan dingin dibahunya yang sedikit terbuka. Ia menggeliat pelan. Tapi semakin ia menggerakkan tubuhnya, semakin Jun Pyo mengeratkan pelukannya.

“Ugh. Dorenim. Tolong lepaskan saya. Saya harus segera berangkat.”

“Ooo... Tidak bisaa." sepertinya virus tidak bisa-nya Sule sudah mulai TE-O-PE di Korea. "Bolos saja.”

Jan Di terbelalak.

Emang lo yang bayarin kuliah gue, tapi gak segini juga kaleee...
“Tapi, dorenim. Jadwal Anda pagi ini juga padat. Jadi Anda harus segera bangun. Mau ya?” ujarnya seperti membujuk anak kecil.

Pelukan Jun Pyo sedikit merenggang. Tapi baru saja Jan Di menghela napasnya Jun Pyo tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Alhasil posisi Jan Di sekarang tengah duduk diatas perut Jun Pyo. Jun Pyo menyeringai melihat rona merah dipipi Jan Di yang mengalahkan pepaya masak.

“Beri aku ciuman yang panjang dulu. Baru aku akan melepaskanmu.”

Jin imprit! Pengennya sun mulu! Gak puas apa semaleman jadiin gue guling? Woo Bin aja perasaan gak pernah gue gituin

Jan Di meringis dalam hati. “Hahaha. Kena kau.” kata Jun Pyo sambil menjitak pelan kepalanya. Dengan lembut ia menurunkan Jan Di dari atas perutnya dan kemudian melangkah ke kamar mandi, meninggalkan wajah Jan Di yang (sumpah!) lebih merah dari gabungan kepiting rebus dan lobster bakar (?)

OoO

   “Jan Di?” panggil Woo Bin ketika melihat Jan Di  keluar dari kediaman Goo. Sepertinya anak itu sedang terburu-buru. Terang saja. Ia bangun telat, terjadi insiden kecil dengan majikannya, memasakan sarapan khusus untuk majikannya, dan terakhir bersiap-siap berangkat ke kampus. Terkadang Jan Di bingung kenapa ada segitu banyaknya koki handal dirumah ini padahal mereka tahu bahwa majikan mereka itu tidak akan pernah mau memakan makanan lain selain masakan Jan Di. Seluruh kebutuhan Jun Pyo pun hanya boleh Jan Di yang mengurus, kenapa ada banyak pelayan disini?

“Mau kekampus?”

Jan Di mengangguk sambil tetap merapikan rambutnya dan menyanggulnya menjadi satu, menyisakan anak-anak rambut yang membingkai wajah putihnya. “Oppa bisa mengantarku? Aku terlambaaaaat.” Rengek Jan Di.

Tanpa menunggu permintaan Jan Di diulang dua kali, Woo Bin langsung melesat kearah parkiran. Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan muncul dihadapan Jan Di. Woo Bin turun sambil dan membukakan pintu penumpang untuk Jan Di, Jan Di menerimanya dengan senyum lebar yang selebar-lebarnya. Tak menyadari pandangan majikan mereka dari lantai dua.

“Segera laksanakan perintahku. Hari ini juga aku tunggu laporannya dimeja kerjaku. Kalau tidak ada, kalian kupecat.”

OoO

“Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu. Kau ada waktu nanti malam?” tanya Woo Bin. Sedan yang dikendarainya meluncur mulus dijalan berasapal menuju kampus Shinwha.

“Emm.” Jan Di meletakkan telunjuknya di dagu, kebiasaan unik ketika ia tengah berpikir keras. “Bisa. Jun Pyo akan lembur malam ini. Kurasa aku punya waktu sampai jam 11.” Jawab Jan Di. Ia tersenyum kearah Woo Bin yang dibalas dengan senyum sumringah. Jun Pyo. Lagi-lagi nama itu membuat Woo Bin keki setengah mati. Hei, mana menang dia kalau bertarung melawan Jun Pyo.

Tampang? Check punya Jun Pyo.

Tajir? Check punya Jun Pyo.

Kharisma? Check punya Jun Pyo lagi.

Kurang apa coba si bocah iblis balita itu? Lama-lama Woo Bin gemes juga kalo Jan Di keseringan nyebut nama Jun Pyo.

“Ngomong-ngomong, oppa mau mengajakku kemana nanti malam?”

“Ke suatu tempat. Aku yakin kau pasti suka.” Jawab Woo Bin. Ia tersenyum lembut kearah Jan Di, meyakinkan gadisnya itu bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja dan berdoa dalam hati rencanya berjalan mulus.

“Kenapa tidak bilang tempatnya saja sih.” Jan Di ngotot bertanya, “Supaya nanti aku bisa pakai gaun yang dibelikan Jun Pyo dari Macau, kalau aku salah kostum kan oppa juga yang malu.” Lanjutnya tanpa menyadari aura gelap yang menguar dari tubuh Woo Bin.

Jun Pyo lagi.

“Tidak perlu pakai gaun. Aku hanya perlu kesediaanmu, bukan gaunmu.” Kata Woo Bin sambil tersenyum lemah. Well, ia memang tidak akan pernah menang dari iblis balita itu.

OoO

Jun Pyo sudah mendengar berita itu. Berita tentang rencana lamaran Woo Bin pada Jan Di. Malam ini juga. Pikirannya kalut memikirkan hal itu. Segala pekerjaannya kacau balau, Tuan Park pun sudah angkat tangan menangani kecemasan majikannya. Tidak ada yang bisa dilakukannya ketika melihat Jun Pyo yang membanting semua barang yang ada didalam ruangannya itu, dan kemudian memaksa Tuan Park untuk menjemput Jan Di dan mengantarkan gadis itu ke kantornya saat itu juga. Tapi apa daya, perjanjiannya Jun Pyo tidak bisa mengganggu Jan Di jika ia sedang berada di kampus. Membiarkan Jan Di berada didekat Woo Bin sama saja dengan merelakan Shinwha Group gulung tikar. Tidak. Lebih parah dari itu.

Nilai Jan Di dimata Jun Pyo bahkan lebih berharga dari perusahaan turun-temurun keluarganya.

Segalanya berjalan buruk hari itu. Dengan tegas Jun Pyo mengutus beberapa pengawal pribadinya untuk mengawasi segala gerak-gerik Woo Bin dan Jan Di.

"Laporkan apapun yang kalian lihat! Kalau sampai ada sedikit saja kesalahan, kupecat kalian! Araso?" perintahnya dengan lagak bosnya yang biasa. Untung tidak ada Jan Di, kalau ada gadis itu dijamin dengan sekali tatapan Jun Pyo langsung sungkem di depan nenek gw (?)

Dan ia dengan cepat mengetahui Woo Bin akan melamar Jan Di di sebuah rumah makan yang jauh dari kata mewah. Dengan sombongnya ia meyakinkan dirinya sendiri Jan Di pasti tidak akan menerima lamaran itu. Maksudku, oh ayolah. Jun Pyo vs Woo Bin. Itu sama saja membedakan langit dan bumi. Parahnya Jun Pyo menganggap Jan Di dan Woo Bin adalah Beauty and the Beast. Tapi ia tidak tahu bahwa sang Beauty akan lebih memilih the Beast soalnya ia tidak pernah dibacakan dongeng sejak kecil. Sudahlah. Lupakan the Beast konyol itu.

Pikiran Jun Pyo terpusat ke; bagaimana cara Jun Pyo menggagalkan lamaran gak banget menurut Jun Pyo ala Woo Bin.

Ada saran?

TBC PART 2

Maaf mengecewakan dan kentang. Gw updatenya perpart, dan gw usahakan fict ini udah beres sebelum tanggal 7 maret. Gw udah mau ujian praktek soalnya. Karena ide dari KAKAK gw yang tersayang, gw hanya perlu nyusun kata-kata menjadi kalimat, kalimat-kalimat menjadi paragraf, paragraf-paragraf menjadi part, dan posting. Eehehehe. Maaf membosankan.  [heh]
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME