Author Topic: DON'T TOUCH MY MAID HIATUS  (Read 15115 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: DON'T TOUCH MY MAID UPDATE 12 Februari
« Reply #165 on: February 14, 2011, 01:54:01 am »
DON’T TOUCH MY MAID © VOLDY

CHAP YANG GAK TAU KEBERAPA TAPI PART 2

HAPPY READING

Jun Pyo terpana. Ia gusar bukan main. Dengan kasar ia menendang pintu rumah makan di distrik 7 kota Seoul itu, restoran sederhana dipinggir jalan yang bahkan ia tidak ketahui sebelumnya eksistensi keberadaannya, namun sekarang ia berada disini. Memastikan gadis yang dicintainya tidak jatuh ketangan orang lain. Tapi, gagal. Bukan karena Jan DI sudah menerima lamaran Woo Bin, tapi karena keduanya tidak berada ditempat sesuai laporan yang diterimanya.

Cih. Hebat juga supir brengsek itu

Tanpa basa-basi dengan pemilik restoran yang kaget setengah mati akan kedatangan Presdir Shinwha Group ke restorannya, Jun Pyo langsung pergi. Dengan langkah besar-besar ia menghampiri mobilnya dan langsung memerintahkan kembali ke rumah.

“Bagaimana bisa kalian salah informasi seperti ini!” bentaknya pada Tuan Park.

“Kami benar-benar minta maaf, dorenim. Tapi, informasi yang kami dapat benar-benar akurat. Sepertinya Woo Bin-ssi sudah mengetahui bahwa mungkin Anda akan datang ketempat itu.” Jawab Tuan Park hormat. Ia yang duduk di samping kanan supir menengok kebelakang dengan kepala menunduk sedalam mungkin. Ia yakin sesampai dirumah majikan mudanya ini pasti akan membanting barang lagi.

Dan benar. Woo Bin sudah merencanakan semuanya. Informasi yang diberitahukannya pada salah satu temannya yang juga bekerja sebagai bodyguard kepercayaan Goo Jun Pyo pasti akan membocorkannya pada Jun Pyo. Ia tahu pasti perangai Jun Pyo. Woo Bin memang kalah fisik dari Jun Pyo. Ia juga memang kalah kedudukan, tapi setidaknya ia masih punya ide untuk mempertahankan apa yang seharusnya menjadi miliknya. Dan disinilah ia dan Jan Di sekarang, berdiri berhadapan disalah satu lorong didalam istana Goo.

“Oppa bilang akan mengajakku kesuatu tempat, tapi kenapa disini?” tanya Jan Di kesal.

Woo Bin tersenyum lembut. Ia merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah darah, disodorkannya kotak itu pada Jan Di.
“Bukalah.”

“Untukku?”

“Aa.”

 Dengan ragu Jan Di mengambil kotak itu dari tangan Woo Bin kemudian membukanya perlahan. Matanya membelalak ketika mendapati sepasang cincin berlian yang berkilauan. Cahayanya menimpa iris coklat Jan Di, memantulkan refleksi di lorong sunyi itu yang hanya terhiasi cahaya bulan purnama. Romantis.

“Oppa.” Jan Di reflek menutup mulutnya, spechless. Tidak tahu harus berkata apa karena shock dengan perilaku Woo Bin.

Woo Bin melangkah mendekat, menutup jaraknya dengan Jan Di. “Geum Jan Di, be my honey,” bisiknya, “Would you?”

Air mata Jan Di menetes perlahan. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan sekarang. Sebagian sisi hatinya memerintahkahnya untuk segera berkata ‘Iya’, tapi sebagian lagi diam.

Jun Pyo.

Nama itu tiba-tiba muncul dibenaknya. Ia tidak tahu akan seperti apa reaksi majikannya itu jika tahu hal ini. Jangan kira Jan Di bodoh karena tidak mengetahui perasaan Jun Pyo padanya. Tapi mengingat statusnya yang hanya sebagai pelayan ia memikir ulang tentang perasaannya itu, dan juga perasaan Woo Bin. Dan ibunya.

“Tolong beri aku waktu, oppa.” Jawab Jan Di. Ia menunduk melihat lantai berkarpet dibawahnya, enggan menatap Woo Bin yang ia yakin tengah memancarkan aura kekecewaan.

Tiba-tiba ia merasakan seseorang menyentuh puncuk kepalanya, ia mendongakkan kepalanya. Hatinya teriris melihat senyum lemah Woo Bin, “Jangan terlalu memaksakan dirimu. Aku akan menunggu sampai kau siap.”

Hatinya mendua

“Miane oppa. Miane.”

Tapi sayang, Woo Bin menganggapnya sebagai permintaan maaf karena tidak bisa menjawab lamarannya sekarang. Apabila Woo Bin bisa melihat dalam hati Jan Di ia pasti akan sangat kecewa.

“Miane oppa. Joungmal miane.” Jan Di terus mengucapkan kata-kata itu. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Ingin jujur ia takut menyakiti Woo Bin, ingin menerima lamaran ini ia takut ekspresi kecewa Jun Pyo. Ia hanya sanggup meminta maaf.

“Besok aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kau mau?”

Dengan pelan Jan Di mengangguk. Woo Bin tersenyum lagi. Perlahan ia mendekatkan kepalanya ke Jan Di. Dan jarak keduanya semakin menutup seiring menempelnya kedua bibir dingin itu. Saling menyesap dan saling mengisi. Bergantian memporak-porandakan benteng pertahanan pasangan.

BUGH...

Woo Bin terlempar jatuh keatas lantai. Ia meringis kesakitan. Saat ia dan Jan Di hampir hanyut dalam ciuman itu, ada tangan kekar dan berisi memisahkan mereka dengan paksa dan memukulnya dengan kasar.

BUGH...BUGH...

Pukulan dan tendangan dilayangkan bertubi-tubi kewajah dan perut Woo Bin. Woo Bin hanya bisa meringkuk kesakitan. Ia tak berniat melawan ataupun membalas Jun Pyo. Ini pantas diterimanya. Bagaimana pun ia mengerti perasaan Jun Pyo. Siapa yang tak sakit hati dan marah jika melihat orang yang dicintainya dicium oleh rivalnya sendiri. Woo Bin pun mungkin akan melakukan hal yang sama jika berada pada posisi Jun Pyo sekarang.

" Hentikan! Hentikan Goo Jun Pyo...kumohon.." Jan Di menahan tubuh Jun Pyo dengan cara memeluknya dari belakang. Ditahannya tangan Jun Pyo yang hendak memukul wajah Woo Bin dengan sekuat tenaga. Hal ini sukses membuat Jun Pyo menatap tajam dirinya.

" Kenapa kau mencegahku...?" Desis Jun Pyo tajam.

" Woo Bin tak salah atas semua ini...yang salah aku! KALAU KAU MARAH, MARAHLAH PADAKU DAN PUKUL AKU!" Jerit Jan Di. Air mata kembali mengalir deras diwajahnya.

" Ti...dak...ukh! Aku yang menciumnya...kau pukul saja ak...aku!" Ucap Woo Bin terputus-putus. Sesekali ia memutahkan darah yang keluar dari mulutnya. Wajahnya sudah babak belur akibat ulah bungsu Goo ini.

BUGH...BUGH...

Kembali Jun Pyo melancarkan serangannya pada Woo Bin.

“TAPI KAU TIDAK PUNYA ALASAN UNTUK MARAH! KAU BUKAN SIAPA-SIAPA UNTUKKU!” terlanjur. Jan Di sudah mengucapkan kata-kata itu. Ingin sekali ia menariknya dan meminta maaf. Tapi Jan Di tidak melakukanya, ia masih terlalu marah pada Jun Pyo yang seenaknya menyakiti Woo Bin.

PLAK...!

Sebuah tamparan keras mendarat dipipi mulus Jan Di. Itu menyebabkan ia jatuh tersungkur. Tak apa baginya, toh tamparan Jun Pyo tak ada artinya jika dibandingkan dengan rasa sakit hati yang melanda Jun Pyo ataupun sakit fisik yang di rasakan Woo Bin saat ini.

BUGH..! BUGH...BUGH..!

" Akh..!" Woo Bin merintih kesakitan. Jun Pyo masih terus saja memukulnya dan menendangnya tanpa ampun. Rasa sakit hati, marah dan kecewa begitu kental terasa disorot mata Jun Pyo. Inikah cara seorang Goo Jun Pyo meluapkan rasa kecewa dan marahnya?

" Jun Pyo...hentikan..." pinta Jan Di memohon. Ia memegang kaki Jun Pyo dan menghentikannya. Tapi itu tak berhasil karena Jun Pyo dengan kasarnya melepaskan pegangan Jan Di dikakinya.

" Ukh...ka...kau...be...lum...puas?" Tanya Woo Bin

" Belum! Sampai kau mati!" Desis Jun Pyo sebelum kembali melayangkan tendangannya ke perut Woo Bin. Seketika darah langsung mengalir deras dari bibir Woo Bin. Berkali-kali ia memuntahkan darah.

Jun Pyo hanya memandang tubuh Woo Bin dengan ekspresi campur aduk. Ia segera mengalihkan pandangannya ke Jan Di yang sedang merangkak kearah Woo Bin. Hatinya terasa remuk redam saat melihat Jan Di memeluk tubuh tak berdaya Woo Bin lalu mengelap darah yang mengotori wajah pucat Woo Bin. Jan Di terus menangis selama memeluk tubuh Woo Bin. Kesadaran Woo Bin sudah hampir hilang. Matanya semakin redup. Darahnya sudah banyak berceceran dilantai.

Pandangan Jun Pyo tiba-tiba menggelap. Rahangnya mengeras sejalan dengan napas Jan Di yang terputus-putus. Dengan kasar ia menarik pergelangan tangan Jan Di hingga gadis itu tersentak bangun dan menabrak dadanya, “Akan kutunjukkan alasannya.”

Ia kemudian menyeret Jan Di masuk kedalam kamarnya. Dengan keras ia membanting pintu dan melempar Jan Di ke ranjangnya. Jan Di memekik keras dan berusaha kabur dengan menendang kaki Jun Pyo tapi Jun Pyo lebih kuat darinya. Tanpa sadar Jun Pyo menampar pipi kanan Jan Di, mengakibatkan gadis itu terdiam. Air matanya bertambah deras. Belum selesai keterkejutannya akan tamparan Jun Pyo ia kembali dikagetkan dengan Jun Pyo yang menciuminya secara brutal. Lidah Jun Pyo memaksa masuk kedalam rongga-rongga mulutnya, mengabsen satu-satu giginya. Ia berusaha mendorong dada Jun Pyo yang sudah menempel dengan dadanya. Tapi nihil. Kedua tangan Jun Pyo dengan kasar meremas buah dadanya, membuat Jan Di meringis dan mendesah sekaligus. Ciuman panas Jun Pyo sudah turun ke lehernya, membuat bercak-bercak merah disana sini. Tangan kanan Jun Pyo hampir saja membuka resleting celananya jika saja Jan Di tidak memohon-mohon dengan isakan yang mengiris hati Jun Pyo.

“Jangan...kumohon jangan...” tangannya masih tetap berusaha mendorong tubuh Jun Pyo agar menjauh darinya.

Kesadaran Jun Pyo kembali. Dengan nanar ia menatap tubuh Jan Di yang penuh bercak-bercak hasil ciptaannya. Matanya menangkap pipi kanan Jan Di yang memerah. Air mata Jun Pyo perlahan mengalir. Ia menjatuhkan dirinya hingga menindih tubuh Jan Di yang sudah sangat lemah dibawahnya.

“Miane. Miane, Jandya...Miane.” bibir Jun Pyo kemudian menyentuh pundak Jan Di yang juga dihiasi bercak merah. Kepalanya semakin ditenggelamkan ke lekukan leher Jan Di dan akhirnya keduanya tertidur dengan posisi itu.

TBC PART 3

Yak, sudah masuk konflik. Semoga gak bosan dengan jalan ceritanya yang berbelit-belit
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME