Author Topic: DON'T TOUCH MY MAID HIATUS  (Read 14938 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: DON'T TOUCH MY MAID PART 2 IS UP
« Reply #180 on: February 14, 2011, 07:27:33 am »
DON’T TOUCH MY MAID © VOLDY

CHAP YANG GAK TAU KEBERAPA TAPI PART 3

HAPPY READING

Sejak insiden pemukulan Jun Pyo terhadap Woo Bin, Jan Di sontak menjaga jarak dengan majikannya itu. Kali ini perbuatan Jun Pyo sungguh tak termaafkan. Woo Bin masuk rumah sakit dan koma beberapa jam (“Demi Tuhan Jan Di! Ia hanya koma beberapa jam!), setiap hari Jan Di menjenguk Woo Bin dirumah sakit walaupun pandangan menusuk dari Jun Pyo ia dapatkan. Aktifitasnya tetap berjalan seperti biasa. Kuliah, mengurus Jun Pyo, dan menjenguk Woo Bin.

Kabar pemukulan Jun Pyo terhadap salah satu pegawainya membuat Jun Bi menunda perjalanan bisnisnya. Goo Jun Bi baru tiba di Korea beberapa jam setelah kejadian. Tentu saja ia memberikan petuah untuk adik kesayangannya itu.

“Kalau kau benar-benar suka pada Jan Di kenapa tidak bilang saja?” tanya Jun Bi. Ia dan Jun Pyo tengah duduk-duduk di taman belakang Goo Mansion.

“Cih.” Jun Pyo membuang wajahnya yang sudah memerah menahan amarah. Mendengar nama Jan Di membuatnya ingat bahwa gadis itu tengah berada di rumah sakit. Otaknya membayangkan Jan Di yang tengah menyuapi Woo Bin dan keduanya bermesra-mesraan. Alisnya berkedut-kedut jika membayangkannya. Jika ini anime, di kening Jun Pyo pasti sudah muncul perempatan.

Jun Bi geleng-geleng kepala melihat tingkah laku adiknya itu. “Pantas Jan Di lebih memilih Woo Bin. Kau kekanak-kanakan.” Tembak Jun Bi langsung tepat di jantung Jun Pyo.

Jun Pyo meilirik kakaknya itu dengan pandangan horor, aura pembunuh sudah menguar dari dalam tubuhnya. “Mwo?”

“Kau.” tunjuk Jun BI dengan telunjuknya, “Kekanak-kanakan. Kalau masalah status untuk apa kau pikirkan. Omma dan appa sangat menyukai Jan Di. Mereka bahkan sudah menganggap Jan Di sebagai anak mereka. Setiap kali mereka kembali ke Korea aku selalu saja iri melihat omma yang terus-terusan memanjakan Jan Di daripada kita berdua. Sekarang tunggu apa lagi? Tunggu sampai Ja Di menerima lamaran Woo Bin? Tunggu sampai mereka sudah punya anak? Kalau di dongeng-dongeng kau ini adalah seorang pangeran jahat yang ingin merebut putri dari pria yang dicintainya. Hmm... apa ya nama dongengnya? Hmm...” tanpa menyadari pandangan mematikan dari orang di sebelahnya Jun Bi terus saja mengoceh. “AHAA!! SHREK! Kau tau kartun itu? Kau adalah pangeran tampan anak ibu peri dan kau mencintai putri Fiona, Putri Fiona itu adalah Jan Di, sedangkan Shrek Woo Bin. Bagaimana? Cocok?”

“Jadi aku tidak akan pernah menikah dengan Jan Di? Begitu menurutmu?” Jun Pyo berkata dengan nada datar mematikan.

“Yaa...aku tidak bilang begitu. Aku hanya ingin kau lebih berusaha lagi. Oke?” dengan wibawanya sebagai seorang kakak Jun Bi sok menepuk pundak Jun Pyo.

“YAISHH!! SINGKIRKAN TANGANMU!” dengan kasar Jun Pyo menepis tangan Jun Bi yang nangkring di atas bahu kanannya dan mendorong kakaknya itu hingga terjatuh dari kursi. Jun Bi yang tidak terima balas menendang kaki Jun Pyo. Akhirnya di taman belakang itu keduanya perang. Saling menjatuhkan hingga terguling-guling di rumput hijau yang basah.

“Ada apa ini?” suara seorang perempuan menghentikan pertarungan tak penting dua ahli waris Goo itu. Seorang wanita cantik setengah baya muncul dari balik pintu. Memandang heran kedua pemuda itu yang masih dalam posisi err—sangat tidak elit. Jun Bi berada di bawah Jun Pyo, kakinya melingkar di pinggang Jun Pyo sedangkan Jun Pyo dengan sangat tidak berperi-kekakak-an menarik rambut Jun Bi. Inikah cara mereka berdua saling melepas rindu? Huh, pikiran orang kaya tidak bisa ditebak.

“Omma.” Jun Bi yang duluan sadar bahwa wanita cantik di pintu itu adalah ibu mereka. Jun Bi yang menyadari posisi mereka berdua yang sangat banget tidak elit langsung mendorong Jun Pyo hingga anak itu terduduk.

“Yaish!!” Jun Pyo segera bangun dan membersihkan bagian belakang celananya yang kotor. Kemudian ia langsung menyusul Jun Bi yang sekarang tengah memeluk ibu mereka dengan sekuat tenaga saking kangennya.

“Omma...gwenchana?”

“Gwnchanayo.” Mrs. Goo mengelus-elus punggung Jun Bi. Ia kemudian melepaskan pelukan maut itu dan bertanya, “Mana Jan Di?”

Tuh kaaaaaaan... saking sayangnya sama Jan Di, dua putra tampan yang ada dihadapannya ini tidak dipedulikan. Ia hanya menanyakan soal Jan Di. Pantas mulut Jun Bi langsung di tekuk. Jun Pyo yang melihatnya langsung menjitak sayang kepala kakaknya itu. “Kau sangat tidak cocok seperti itu, bodoh.” Desisnya.

Mrs. Goo hanya geleng-geleng kepalanya melihat kedua anaknya. Walaupun sering sekali bertengkar, kedua kakak beradik ini saling menyanyangi. Mungkin itulah cara keduanya melampiaskan kerinduan karena jarang sekali bertemu.

“Jan Di ada dirumah sakit, omma.” Jawab Jun Bi pelan, takut mendapat bogem mentah lagi dari Jun Pyo karena sudah mengingatkan akan hal yang paling ingin ia lupakan.

“Mwo? Jan Di? Masuk ruamh sakit? Oh Tuhan. Kenapa kalian tidak langsung menghubungi omma! Untung saja omma pulang ke Korea. Kenapa Jan Di? Dia kecelakaan? Apa lukanya parah?”

“Err—omma. Tenanglah. Bukan Jan Di yang masuk rumah sakit. Tapi...” Jun Bi melirik sedikit Jun Pyo yang aura membunuhnya sudah mulai menguar. Ia bergidik.

“Tapi?”

“Ehm.” Jun Bi berbatuk pelan membersihkan kerongkongannya, “Pacarnya.” Bisik Jun Bi telinga Mrs. Goo. Berharap adiknya itu tidak mendengar.

“MWO? Pacar? Jan Di sudah punya pacar? Siapa namanya? Apa pemuda itu tampan? Ia baik pada Jan Di-ku? Ia tidak pernah menyakitinya kan? sudah berapa lama mereka pacaran?” tanpa memperdulikan wajah Jun Pyo yang sudah di tekukan stadium akhir Mrs. Goo terus saja menyerocos menanyakan pacar Jan Di.

Dengan langkah besar-besar, rahang yang mengeras, dan aura pekat yang semakin menyelimuti Jun Pyo, pemuda itu melangkah masuk kedalam rumah.

“Kenapa adikmu itu?” tanya Mrs. Goo dengan polosnya.

Sebagai jawabannya Jun Bi hanya mengangkat bahu tanda tak tahu. Tapi Mrs. Goo adalah wanita yang merawat Jun Pyo sejak masih kecil, jadi ia tahu masalah apa yang sedang dihadapi anak bungsu itu. “Panggil adikmu dan segera ke mobil. Kita susul Jan Di rumah sakit.”

“Nyonya?” Jan Di dan Woo Bin melengos melihat kedatangan Nyonya Besar di rumah sakit itu. Dibelakangnya berturut-turur Jun Bi dan Jun Pyo. Jan Di langsung membuang mukanya ketika tanpa sengaja pandangan keduanya bertemu. Dengan gusar Jun Pyo melotot ke arah Woo Bin yang diyakininya sebagai penyebab tingkah Jan Di yang terus-terusan menghindarinya. Sikap Jan Di sontak membuat Jun Pyo geram sekaligus kesal dan ingin sekali memaksa Jan Di berbicara empat mata dan meminta gadis itu milik Goo Jun Pyo seorang. See? Ego seorang Goo Jun Pyo. Memaksa apapun yang ingin dikehendakinya, bahkan dalam hal percintaan sekalipun.

Mrs. Goo memperhatikan tingkah keduanya dengan pandangan berkerut. Oke, ada yang musti diselesaikan disini. “Jan Di Jun Pyo, bisa bantu omma? Tolong belikan kopi di bawah.”

Jan Di melotot memandang Mrs. Goo sedangkan Jun Pyo anteng-anteng aja. Ia memang perlu bicara empat mata dengan Jan Di. Dengan langkah yang tak rela Jan Di berjalan keluar mengikuti Jun Pyo diiringi pandangan tak rela dari Woo Bin.

“Woo Bin-ssi. Anda tidak apa-apa?” mau tak mau Woo Bin harus melayani Nyonya Besar yang entah kerasukan apa mau menjenguknya dirumah sakit.

OoO

Keduanya berjalan dalam diam. Tidak ada seorang pun yang mau memulai percakapan, Jan Di marah, Jun Pyo gengsi *makan tuh gengsi!*. hingga akhirnya keduanya tiba di konter minuman. Dengan tiba-tiba Jun Pyo memeluk Jan Di dari belakang. Tangannya memeluk erat pinggang, wajahnya di benamkan dalam-dalam di tengkuknya.

“Kita menikah saja.”

GUBRAK

TBC PART 3
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME