Author Topic: DON'T TOUCH MY MAID HIATUS  (Read 14726 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: DON'T TOUCH MY MAID : SIDE STORY M.VERS LELANG
« Reply #210 on: February 18, 2011, 06:16:22 am »
DON’T TOUCH MY MAID © VOLDY

CHAP YANG GAK TAU KEBERAPA TAPI PART 4

HAPPY READING


Gaun putih itu melekat di tubuh mungilnya. Memperlihatkan dengan jelas betapa langsingnya ia. Warnanya putih bersih, terbuat dari bahan satin yang langsung menyentuh mata kakinya ketika dipakaikan ke tubuhnya. Matanya terus mengamati gaun itu. Berbalik, berputar, hingga ia bisa melihat secara keseluruhan bagiannya. Bagian dari gaun yang akan menjadi saksi bisu akhir dari perjalanan cintanya.

Gaun pengantin.

Gaun itu jika ditilik dari siapa yang membelikan pastilah berharga mahal. Iyalah, Goo Jun Pyo gitu loh. gak mungkin banget cowok se-kece dan sekelas pemuda itu akan membelikan gaun murahan buatan perancang amatiran.

Eh? Gaun pengantin?

Kece?

Goo Jun Pyo?

Kalian sudah bisa menebaknya? Yak. Mereka akan menikah. Dalam hitungan beberapa menit lagi Geum Jan Di akan merubah statusnya menjadi Nyonya Goo. Entah setan apa yang merasukinya sewaktu Jun Pyo melamarnya dan ia dengan lantangnya langsung menerima. Lalu bagaimana dengan Song Woo Bin? Supir ganteng yang selama kurang lebih 3 tahun menjabat sebagai kekasihnya? Dan entah apa pula yang dibicarakan mrs. Goo pada anak itu hingga ia mau-mau saja menyetujui pernikahan mendadak itu. Mungkin ia sudah disadarkan bahwa sesungguhnya kastanya beda jauh dengan Jun Pyo.

Pernikahan yang sangat mendadak itu—tiga minggu setelah lamaran Jun Pyo—tak urung membuat seluruh rakyat Korea gempar. Status Jan Di sebagai maid pribadi Jun Pyo menguatkan spekulasi bahwa Jan Di adalah wanita penggoda. Dan dengan mengancam bahwa Shinwha akan mencabut seluruh saham yang mereka tanamkan di perusahaan koran-koran terkenal, akhirnya berita itu tidak lagi santer terdengar.

Berhubung Jan Di anak yatim piatu, jadi yang mengantarkannya ke altar adalah mr. Goo. Tentu saja dengan senang hati mr. Goo mau melakukannya. Jan Di sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Ia sangat menginginkan seorang anak perempuan, tapi apa daya, mrs. Goo hanya mampu memberikannya dua orang anak laki-laki yang kecenya imut-imut tapi berantemnya juga imut-imut (?). Dengan tatapan garang bak seorang ayah kandung yang tak rela putri kesayangannya diambil orang, mr. Goo menatap Jun Pyo. Padahal yang berdiri di altar sekarang adalah putra kandungnya sendiri, pewaris utama keluarga Goo. Ckckck...niat amat pengen punya anak cewek.

Jun Pyo menyambut uluran tangan ayahnya dan mengambil alih Jan Di. Ia menuntun Jan Di naik dan menghadap pendeta. Diliriknya wajah Jan Di yang tertutup kerudung putih. Pipinya merona merah akibat kedinginan.

Tenang saja sayang, sebentar lagi kau pasti akan merasa hangat [devil2]

Dengan seringaian orang mesum Jun Pyo menjawab pertanyaan pendeta. “Ne. Saya bersedia.”

Dan detik itu pulalah, kehidupan baru seorang Nyonya muda Goo akan dimulai. Dengan yakin Jun Pyo memasangkan cincin itu. Bukan emas asli. Hanya sebuah cincin dengan ukiran sederhana berwarna silver. Cincin itu adalah cincin turun-temurun keluarga Goo. Jan Di balas memakaikan cincin silver itu. Dan pendeta menyuruh keduanya berciuman.

Ini saatnya

Dengan nafsu Jun Pyo berniat mendapatkan bibir mungil itu. Menyesapnya dalam-dalam. Saling berbagi saliva dan kehangatan. Dengan pelan Jun Pyo memiringkan kepalanya, matanya mengunci bibir Jan Di. Tapi ekspresi Jan Di sulit ditebak. Bibirnya ditekuk kebawah seperti menahan amarah, tapi kedua alisnya saling bertautan seperti bertanya-tanya. Tinggal satu centi lagi hingga...

BUKK!!

“GOO JUN PYO MESUUUUUUUM!!”

...dan disinilah Jun Pyo sekarang. Dihadapkan pada realita kehidupan yang menyakitkan. Alam memaksanya menelan kepahitan dan kejamnya hidup. Seperti dijatuhkan dari atas langit dan menghantam dengan telak dasar bumi. Dan itulah yang terjadi. Jun Pyo terbangun yang sumpah demi apapun gak elit banget. Ia jatuh terduduk di bawah lantai. Matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan akomodasi cahaya yang masuk kedalam retinanya.

Beberapa detik terlewat dengan aktivitas Jun Pyo mengembalikan seluruh nyawa yang entah sudah terbang sampai Amerika atau belum. Sedangkan Jan Di dengan muka ditekuk seakan-akan wajahnya itu bisa jatuh ke lantai kapan pun juga.

“YYAA!! APA YANG KAU LAKUKAN!!” akhirnya sadar juga. Kalimat itu lebih menjurus ke pernyataan ketimbang pertanyaan. Jan Di dengan kemarahan meletup-letup bagaikan gunung merapi menatap Jun Pyo. Jari telunjuk kanannya menunjuk Jun Pyo dengan sadis.

“Kau!! Tuan muda mesum!” [whip]

“Mwo?”

Dengan linglung Jun Pyo berdiri. ia meringis ketika dirasakannya pantatnya sakit seperti habis di gebukin orang sekampung *suju [hmpfh]*. Matanya diedarkan ke sekeliling ruangan. Barulah pemahaman merasuki hati dan pikirannya. Simpel dan logis.

Ia bermimpi.

Kenyataan pahit itu membuatnya seakan-akan di lempar ke dasar bumi. Dipaksanya menatap mata Jan Di yang sedari jelayatan melihat tingkah anehnya.

“AISSSHH!!” dengan gusar ia mengacak-acak rambutnya dan melangkah cepat ke kamar mandi. Dibelakangnya mengekor Jan Di dengan suara menuntut.

“Apa sih yang kau mimpikan? Pasti mesum? Iya kan? Dasar cowok! Pasti gara-gara suster cantik kemarin itu kan? Cowok benar-benar mata keranjang!”

Dengan tiba-tiba  Jun Pyo menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap mata kecoklatan Jan Di dalam-dalam. “Kenapa? Kau cemburu melihatku memperhatikan wanita lain?” tanyanya dengan serius.

Mulut Jan Di sontak terbuka lebar. “Mwo?”

Sesaat keduanya terdiam. Saling menatap dengan pertanyaan yang berkecamuk di pikiran masing-masing.

“Sudahlah. Aku mau mandi. Hari ini aku tidak ke kantor. Jangan menasehatiku!” tegasnya ketika dilihatnya mulut Jan Di sudah terbuka setengah.

Dengan cepat ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintu dengan kasar. Di belakangnya Jan Di mengangkat kedua alisnya. “Kenapa dia?”

Sedangkan didalam kamar mandi Jun Pyo dengan frustasi menjambak rambutnya. “AISSSH!! Kenapa hanya mimpi sih!”

TBC PART 5

Maaf belum bisa kirim m.vers. sekali lagi maaf. Kalo masalah saya benar-benar sudah clear saya janji akan segera melaksanakannya. Maaf.  [heh] [heh]
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME