Author Topic: LOVE : "WHAT'S HAPPENING?" update 17 oktober  (Read 17375 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: LOVE : ZODIAK UPDATE 7 FEBRUARI
« Reply #135 on: February 24, 2011, 04:56:48 am »
UNICORN

Pesawat Corean Air dengan nomor penerbangan 1083 terbang diatas ketinggian 1200 meter diatas laut sejak empat jam yang lalu. Seluruh kru Boys Over Flowers sudah tertidur dengan lelap mengingat jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 waktu pesawat (?). Goo Hye Sun yang nyatanya sudah terlelap sejak pesawat take off dari bandara Incheon kini mengeluh tak bisa tidur lagi. Ia melirik Kim So Eun yang sudah terlelap di sampingnya. Kemudian berturut-turut Lee Min Ho, Kim Hyung Joong, dan Kim Bum di lorong sebelah kanan. Ia kemudian berdiri dan melihat kearah belakang. Tepat dibelakangnya ada menejer Park dan menejer Min Ho yang tidur sambil saling menyandar pada tubuh mereka. Hye Sun mengernyit memandangnya. Ada apa dengan kedua menejer ini?

Matanya tak sengaja menangkap sang sutradara yang duduk paling depan. Tuan Jang sedang membaca buku setebal Harry Potter 5, dan yang paling penting, ia tidak tidur! Secepat kilat tanpa menghiraukan bunyi kakinya yang bisa saja membangunkan orang sepesawat ia mendekati tuan Jang. Kebeneran, tuan Jang duduk sendiri.

“Anyong, tuan Jang.”

Tuan Jang yang tadinya serius dengan bukunya menoleh ke sumber suara. “Ah, Hye Sun-ssi. Anyong.”

“Bolehkan aku duduk di sini?”

“Tentu...tentu saja boleh.”

Dengan canggung Hye Sun duduk di kursi kosong itu. Matanya memandang dengan tertarik buku tebal yang dipegang tuan Jang. Tuan Jang menyadari pandangan bertanya Hye Sun yang ditujukan padanya segera menjawab. “The Last Unicorn, karya Peters Beagle.” Ia mengangkat buku tebal itu dan menyodorkannya pada Hye Sun, “Tertarik membacanya?”

Hye Sun terkekeh pelan. “Kalau Anda tidak memaksaku menghapalkan script dalam waktu dua jam.”

Tuan Jang terkekeh mendengarnya. “Bagaimana kalau garis besarnya saja?”

Hye Sun mengangguk kelewat antusias. Ia baru menyadarinya setelah beberapa detik dan langsung menunduk menyembunyikan rona merah diwajahnya. Tuan Jang kembali terkekeh pelan.

“Setahuku, novel ini dipublikasikan pertama kali pada tahun 1968 dan telah dialih bahasakan kedalam 20 bahasa (“Wow. Apa bahasa Korea termasuk?”). Novel ini dijadikan film animasi pada tahun 1982 kalau tidak salah dengan judul yang sama dan diproduseri oleh Arthur Rankin Jr. Dalam salah satu adegan film itu aku masih sangat ingat jelas suasana tegang yang menyelimuti seluruh penonton. Adegan saat satu-satunya Unicorn yang hidup bebas mengemban misi penyelamatan teman-teman spesiesnya yang ditawan dengan kejam oleh Red Bull.”

“Siapa Red Bull?” tanya Hye Sun antusias, kepalanya sedikit dimiringkan sehingga rambutnya yang di ikat ekor kuda sedikit bergoyang.

“Banteng merah yang sangat jahat.” Tuan Jang kemudian tersenyum, “Namun pada akhirnya semua dapat terselesaikan dengan baik. Dalam misinya, makhluk yang mengagumkan ini tidak merasa dirugikan sedikit pun. Entah itu dalam mengatasi rasa takutnya yang teramat sangat, besarnya tanggung jawab yang diembannya, ataupun kemungkinan besar akan tertangkap juga. Rintangan dan mara bahaya ada di setiap kesempatan dalam usaha pembebasan Unicorn lainnya.

Kecintaan Unicorn akan kebebasan dan keinginan untuk membebaskan spesiesnya yang ditawan bukanlah tanpa kesulitan. Dia harus mampu mengatasi segala macam rintangan dan hambatan, namun karena didorong oleh pengejaran akan kemuliaan hati dan sifat tanpa pamrihnya untuk mencapai kebajikan tertinggi, maka kekuatan supernormal Unicorn itu pun muncul.”

Hye Sun memandang dengan takjub buku berwarna putih dengan cover seekor kuda yang punya satu tanduk diatas kepala itu. Ia memandang tuan Jang dan berkata dengan nada lamat-lamat, “Boleh saya pinjam sebentar?”

Tuan Jang tersenyum dan menyerahkan novel itu. Hye Sun menerimanya dengan mata berbinar-binar. Untuk seorang Goo Hye Sun yang sangat menggilai novel-novel best seller, The Last Unicorn benar-benar menarik perhatiannya.

“Menurut kabar, The Last Unicorn masih ada hingga saat ini. Legenda menggambarkan Unicorn sebagai makhluk yang amat pemalu, jika seseorang melihat tanduk tunggalnya akan tertarik dan berusaha memburu hewan itu. Akan tetapi dia akan menunjukkan diri pada mereka yang mempercayai legenda atau memiliki hati dan pikiran yang sangat murni. Gadis suci seringkali menjadi pilihan Unicorn, mereka mempercayainya dan sering menampakkan diri padanya.”

“Gadis suci?”

“Benar. Dan masih menurut kabar, The Last Unicorn berdiam diri didalam hutan di New Caledonia.”

OoO

Bandara Internasional New Caledonia masih tetap ramai walaupun matahari kian menyengat. Para kru dan pemain berkumpul di satu titik didekat pintu keluar. F4 dan Kim So Eun berkumpul agak berjauhan dari para kru. Minus Hye Sun yang masih berdiri mematung di belakang tuan Jang yang sedari tadi memberikan intruksi pada bawahannya. Kisah dari tuan Jang terus menerus menghantui pikirannya. Otak jeniusnya mengkalkulasi jika The Last Unicorn masih ada dan berada di New Caledonia, itu berarti ia bisa bertemu dengan hewan bertanduk itu. Masalahnya, ia kurang paham dengan Gadis Suci seperti yang disebutkan tuan Jang tadi. Mengabaikan panggilan menejernya untuk beristirahat, Hye Sun masih setia menunggui tuan Jang.

“Ah, Hye Sun-ssi. Kau tidak ke bus?” tuan Jang kaget setengah mati mendapati Hye Sun yang berdiri dibelakangnya. Ia hampir saja jantungan kalau tidak melihat menejer Hye Sun yang ikut-ikutan berdiri dibelakangnya. Wajah Hye Sun sudah sangat pucat seperti mayat.

Hye Sun menggeleng pelan. “Emm...tuan Jang. Bisa kau jelaskan...tentang....Gadis Suci?”

“Kau tertarik?”

Hye Sun mengangguk pelan, ia menunduk menyembunyikan rona merah diwajahnya karena malu akan dianggap seperti anak kecil yang percaya tahayul.

“Kau masuk dulu kedalam bus. Aku akan menceritakannya didalam. Wajahmu sudah sangat pucat.”

Menejer Hye Sun yang mendengarnya seperti mendapat oase dipadang pasir, ia memang sudah sangat khawatir dengan keadaan Hye Sun yang pucat pasi. Setelah membungkuk hormat pada tuan Jang, menejer Hye Sun segera menyeret artisnya itu ketempat F4 dan So Eun kumpul. Hye Sun yang sudah tidak punya tenaga hanya menurut saja ketika menejernya menyerahkannya pada Min Ho. “Titip anak bandel ini dulu, aku mau urus imigrasi.”

Lima orang itu memandang wajah pucat Hye Sun dengan kening berkerut. “Onnie, kau sakit?” tanya So Eun.

Hye Sun tersentak kaget mendengarnya, “Ah...Aniyo. Hanya sedikit lelah.” Ia tersenyum memandang kelimanya.

Min Ho yang tidak percaya langsung menempelkan telapak tangannya dikening Hye Sun. “Kau demam!” ujarnya dengan nada panik yang menurut Hye Sun terlalu berlebihan.

Dengan gestur malas Hye Sun menyingkirkan tangan Min Ho dari keningnya. “Aku tidak apa-apa.”

Sudah menjadi rahasia diantara mereka ber-enam, Min Ho menyukai Hye Sun. Hal itu dibuktikan dengan pengakuan Min Ho beberapa malam lalu sebelum keberangkatan mereka. Bukannya Hye Sun tidak menyukai Min Ho, siapa yang tidak akan tertarik dengan wajah bak dewa itu, tapi masih banyak hal yang dipirkan Hye Sun. Pertama, mereka belum saling mengenal terlalu lama. Kedua, drama mereka sebentar lagi akan tayang jadi lebih baik jangan membuat skandal dulu. Dan ketiga yang paling mengganggu pikirannya, umur Hye Sun dan Min Ho terpaut tiga tahun, ia masih terlalu takut menerima perkataan orang-orang mengenai hubungan mereka nanti.

Suasana menjadi kaku sejak saat itu. Hye Sun memilih duduk di sebelah tuan Jang untuk mendengarkan kisahnya mengenai Gadis Suci. Sedangkan Min Ho mengerti, dan duduk bergabung dengan teman-teman F4-nya

“Gadis suci adalah seorang gadis yang masih perawan, baik hati, dan berbudi luhur. Unicorn sangat lemah terhadap mereka dan Unicorn pulalah yang memilih kepada siapa ia ingin terlihat, dan karena itu pula Unicorn bisa bertelepati dengan Gadis Suci.”

“Telepati?”

“Ne. Pikiran alam bawah sadar Gadis Suci akan dibangkitkan oleh Unicorn.”

“Pikiran alam bawah sadar. Maksudmu, sesuatu hal yang sebenarnya sangat kita inginkan tapi terkubur jauh didalam pikiran kita sehingga kita pikir kita tidak butuh sesuatu hal yang sangat kita inginkan itu? Begitukah?”

“Kurang lebih seperti itu,” tuan Jang berhenti sebentar, ia menerima panggilan yang masuk diponselnya. Setelah beberapa menit berbicara dengan orang diujung teleponnya, tuan Jang melanjutkan, “Unicorn akan menuntun kita terhadap pikiran alam bawah sadar itu. Kau paham?”

Hye Sun manggut-manggut mendengar penjelasannya. Senyumnya sedikit memudar tanpa diketahui tuan Jang. Baik hati eh? Hye Sun tak yakin dirinyalah yang akan dipilih Unicorn. Perlahan ia menyandarkan kepalanya dibantalan kursi, berusaha terlelap sembari menghilangkan pikiran ‘aku-ingin-bertemu-Unicorn’nya.

OoO

Syuting di pantai berjalan lancar sesuai rencana, yah walaupun masih ada beberapa masalah yang mengganjal. Seperti salah seorang kru yang tak sengaja menginjak seekor iquana, padahal iquana adalah simbol keramat di New Caledonia sehingga mereka terancam di deportase. Tapi untungnya semua berjalan dengan baik. Waktu break yang diberikan tuan Jang pun sudah lebih manusiawi, jika sebelumnya mereka hanya tidur dua jam per tiga hari, sekarang minimal tiga jam perhari yang bisa mereka dapatkan. Suasana pun masih sedikit kaku diantara Min Ho dan Hye Sun, kecuali mereka diharuskan beradegan mesra dihadapan para kamera wartawan.

Malam yang indah di New Caledonia. Hye Sun sedang browsing lewat laptopnya beberapa meter dari lokasi syuting, ia sengaja menyendiri ditempat yang agak sunyi dan dekat hutan itu. Sekarang tengah take adegan Yi Jeong dan Ga Eul didekat stan makanan. Tanpa sepengetahuannya Min Ho sudah berada dibelakangnya, mengamatinya sedari tadi.

“Unicorn?”

Hye Sun terlonjak kaget, secepat kilat ia menoleh kebelakang dan mendapati Min Ho dengan cengiran tak bersalahnya. “Sejak kapan kau berada disitu?”

“Sejak kapan kau tertarik Unicorn?”Min Ho balik bertanya sambil mengambil tempat duduk di samping Hye Sun.

Hye Sun tak menjawabnya, ia kembali melanjutkan browsingnya.

“Pernah baca buku Diana Cooper yang berjudul The Miracle of the Unicorn?”

Mendengar kata Unicorn Hye Sun kembali menoleh pada Min Ho, tapi pandangan Min Ho kini hanya tertuju pada pasangan Yi Jeong-Ga Eul yang lagi-lagi harus take gara-gara gugup.

“Buku Diana Cooper yang berjudul The Miracle of the Unicorn, menegaskan sifat kedewaan pada makhluk ini, menyamakan mereka dengan kuda putih yang mencapai kesempurnaan pada alam yang lebih tinggi. Kembalinya kuda-kuda ini secara konstan ke bumi, untuk bereinkarnasi, merupakan jalan pengingat merekauntuk mendapat pelajaran di bumi hingga dapat berubah diri menjadi seekor kuda putih dan dapat terbang ke dalam cahaya yang benderang.”

Kini pandangan Min Ho teralihkan sepenuhnya pada wajah putih Hye Sun. Keduanya saling memandang. “Diana menjelaskan dalam bukunya bahwa begitu banyak orang yang pernah bertemu dengan Unicorn serta berinteraksi dengannya. Diana melihat misi Unicorn adalah untuk menolong manusia dan mendorong manusia untuk memegang teguh tujuan dan visinya, serta mengedepankan kepentingan bersama.” Min Ho mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan, “Banyak orang mungkin berpikir  ini adalah omong kosong atau khayalan, tetapi mungkin juga terdapat sebagian kecil orang yang mempercayai keajaiban dan tertarik akannya. Bagaimana kalau ini....mirip seperti "Unicorn terakhir", dimana setiap individu menerima sebuah tugas khusus yang harus dijalankan dalam hidupnya? Beberapa diantaranya mungkin dapat mengetahui lebih cepat daripada yang lain.”

“Kau pernah membaca The Last Unicorn?” tanya Hye Sun takjub.

Min Ho mengangguk sekali, matanya masih memandang lembut Hye Sun. Beberapa menit keduanya masih saling memandang, tak memperdulikan suara-suara teriakan di lokasi syuting. Angin berhembus pelan, suara gemirisik dedaunan dibelakang tak diperdulikan.

SREK

Secepat kilat Hye Sun memutuskan kontak diantara ia dan Min Ho dan memandang dengan waspada kedalam hutan. Berusaha melihat dibalik pekatnya hutan. Min Ho ikut berdiri dan memandang hutan seperti Hye Sun. “Ada apa?”

Hye Sun mengabaikan pertanyaan itu. Tanpa memperdulikan larangan Min Ho ia berlari masuk kedalam hutan, tubuh mungilnya tertelan pohon-pohon pinus. Mata Min Ho terbelalak. Dengan panik ia memanggil Hye Sun untuk kembali.

“Yya..Hye Sun-ssi. Jangan kesana!” berkali-kali ia berteriak namun bayangan Hye Sun semakin tenggelam, ia menoleh ke arah belakang memastikan apa ada orang yang bisa membantunya menyeret Hye Sun kembali namun nihil. Semua orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Min Ho melihat kearah hutan lagi, setelah mendengus sebal melihat tingkah Hye Sun ia berlari masuk kedalam hutan.

Setelah dua puluh meter masuk kedalam hutan akhirnya Min Ho menemukan Hye Sun. Wanita itu sedang berlari sambil menghindari ranting-ranting dan akar pohon yang menyembul keluar. Min Ho segera mempercepat larinya, setelah Hye Sun telah berada dekat dengannya ia segera menarik lengan Hye Sun dan membalik paksa tubuhnya. “Apa yang kau lakukan? Kau pikir kau hebat bisa masuk kedalam hutan sembarangan hah?” sembur Min Ho.

Hye Sun mengabaikan teriakan Min Ho, sekuat tenaga ia berusaha melepaskan cengkraman Min Ho dilengannya. “Lepaskan, bodoh! Kubilang lepaskan!”

Min Ho mengabaikannya, ia malah semakin memperat cengkramannya dan Hye Sun yang semakin liar meronta ingin melepaskan diri. Hingga suara kikikan itu mengalihkan keduanya. Kepala mereka menoleh ke samping dan mendapati hewan itu. Putih bersih, mirip kuda, bulu-bulunya panjang dan bercahaya, juga...bertanduk satu. Tangan Min Ho lemas seketika, pegangannya pada Hye Sun terlepas dan itu membuat Hye Sun bisa bergerak leluasa. Kaki-kaki mungilnya bergerak maju mendekati hewan bercahaya itu, tangannya terjulur maju ingin menyentuh. Beberapa langkah lagi tapi bisikan Min Ho menghentikannya.

“Goo Hye Sun.”

Sang Unicorn yang menanti sentuhan Gadis Suci itu seperti tak sabar. Ketika dilihatnya Hye Sun berhenti lima langkah didepannya, ia maju. Menyentuhkan kepalanya dengan manja ke dada Hye Sun. Hye Sun terlonjak kaget tapi senang. Dengan senyum yang semakin lebar ia mengelus-elus kepala Unicorn itu, sang Unicorn pun semakin manja pada Hye Sun. Min Ho yang sebelumnya terdiam kaku dibelakang, merengsek maju kedepan. Pelan-pelan ia mencoba menyentuh kepala Unicorn, tapi entah karena apa Unicorn itu berkilah. Ia berlari mundur ke belakang menjauhi Min Ho dan Hye Sun.

“Kau menakutinya!”

Min Ho menggaruk pelan pelipisnya, “Maaf. Sepertinya ia benar-benar hanya ingin pada Gadis Suci.”

Bibir Hye Sun mengerucut pertanda sebal, ia kemudian maju mendekati Unicorn. Sesaat pandangan langka itu terjadi dihadapan Min Ho. Unicorn yang sedang bermanja-manja pada Gadis Suci. ‘Hye Sun memang Gadis Suci’ Seulas senyum terpampang diwajah Min Ho, ia memandang Hye Sun dengan sejuta pandangan cinta dan kagumnya.

Beberapa menit terlewat. Hye Sun baru akan kembali mengelus kepala Unicorn ketika Unicorn mendorongnya pelan kebelakang. Hye Sun mengangkat alisnya tinggi-tinggi tapi masih tetap mengikuti kemauan Unicorn. Hingga punggungnya beradu keras dengan dada bidang Min Ho. Ia mendongak, mendapati wajah Min Ho yang sama seperti wajahnya dipenuhi tanya. Tangan Min Ho secara otomatis terlingkar dipinggang Hye Sun menahan gadis itu agar tak jatuh.

Untuk terakhir kali Unicorn menaruh kepalanya dan meringkuk manja di dada Hye Sun. Bisikannya menyeruak masuk kedalam pikiran Min Ho dan Hye Sun sebelum akhirnya ia berlari masuk kedalam jantung hutan.

Ketetapan hati tanpa kompromi di tengah ribuan bahaya

Dan saat itulah Hye Sun tahu apa yang terkubur didalam pikiran alam bawah sadarnya. Seakan mengerti pikiran Hye Sun, Min Ho menggandeng tangan Hye Sun, dan segera berbalik menuju jalan keluar hutan dengan rona merah di wajah mereka masing-masing. Mungkin jika F3 dan So Eun bertanya kenapa mereka berdua jadian, jawaban mereka hanyalah, “Unicorn.”

Ketika seseorang tidak meluangkan waktu yang cukup dari rutinitas keseharian untuk berpikir dan merasakan bahwa hari berpacu lebih cepat tanpa memperoleh sesuatu apapun, mungkin inilah saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan menyadari akan tugas yang sesungguhnya.
Jadi bukalah mata Anda, meskipun seekor Unicorn mungkin tidak melintas di depan Anda, akan tetapi mungkin Anda  dapat melihat sesuatu yang tersembunyi di baliknya.


FIN

ARA’S NOTE :

Sya tahu adegan romantisnya sangat-sangat kurang, soalnya sya bukan tipe orang romantis. Jadi maaf aja ye...hahaha. Mohon komen dan kritiknya ya. Sya perlu itu untuk semakin menaikkan semangat sya yang sempat down beberapa minggu terakhir. Tidak tahu kenapa sya tiba-tiba tertarik dengan mitos ataupun legenda yang beredar. Mungkin karena pengaruh relativitas khususnya Einstein yang sya pelajari beberapa hari lalu dan semakin bertambahnya ketegangan seiring semakin dekatnya UN. Hahaha. Maafkan sya dan imajinasi sya yang semakin menggila.
Ada yang pernah nonton Inception ??? bersiaplah karena fict sya yang berjudul KRISAN mungkin akan sangat mirip dengan film itu. Huehehehe.
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME