Author Topic: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)  (Read 25317 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter VI (11 FEB 2011)
« Reply #180 on: February 25, 2011, 07:12:01 am »
THE HOSPITAL
Chapter VII



Seperti komplek pemakaman pada umumnya, suasana begitu muram, batu nisan putih berjajar rapi dengan jarak tertentu, dan diantaranya rumput hijau terbentang luas. Soe Eun berdiri di depan salah satu batu nisan tersebut, ditangannya menggenggam seikat buket bunga lili putih. ‘Kim Gab So’ , tulisan yang tertera di nisan itu. Dia berjongkok, membersihkan beberapa daun kering yang jatuh di atas pusara, lalu menyandarkan buket bunga yang dibawanya. Tangannya pun terulur, mengelus batu nisan hingga mulai mencurahkan segala isi hatinya,”Appa…., keadaan semakin tak terkendali sekarang.”

Matanya serasa perih kini, dan dengan hati yang pilu, mengalirlah butiran-butiran bening menelesuri lekuk-lekuk wajah cantiknya. Angin musim kering berhembus, menambah kegalauan pikirannya yang kalut. “Aku sangat mengkawatirkan Oppa. Jika suatu saat Min Ho bertindak tegas, apa yang akan terjadi pada kami, Appa?”

Membayangkan semua itu, Soe Eun merasa ngeri. Semua itu salahku. Salahku, Appa. Tae Woong menggunakan kesalahanku untuk memeras Hyun Joong Oppa! Batin Soe Eun menjerit. Kesalahan itu memang sangat menyakitkan karena membuatnya kehilangan Sang Ayah. Sebuah medication error, dan dia masih sangat mengingatnya.

Di Lee International Hospital enam tahun yang lalu,  dia masih berstatus sebagai mahasiswa tingkat pertama dan karena sang ayah adalah farmasis yang bekerja di rumah sakit itu, dengan mudahnya dia bisa melakukan magang. Semuanya begitu lancar waktu itu, hingga sesuatu terjadi. Kepanikan melanda dirinya, air mata penyesalan tak henti-hentinya mengalir, dan mulutnya berdesis, komat-kamit, mengucapkan suatu kalimat berulang-ulang,”Ini salahku. Semua ini salahku!”

Dia berlari ke ruangan koas karena yakin betul Hyun Joong ada di sana, dan menjerit histeris saat kakaknya itu sudah di depannya bersama Tae Woong,”Ini salahku, Oppa! Salahku!”  Hyun Joong segera menariknya duduk. Sementara Tae Woong memandang dengan penuh tanya,”Ada apa sebenarnya?”
Dia menggeleng, terduduk sambil menutup muka dan tergugu. Hyun Joong semakin bingung,”Hei, Kau membuatku bingung, Dongsaeng. Ceritakan dengan tenang!”

“Tidak!” dia malah menjerit, dan hal itu membuat kedua pria  di depannya semakin kalut. Dia mengatur nafas, kenyataan itu sangat tidak dia mengerti, nyawa seseorang sedang berada di ujung tanduk, dan semua itu karena kecerobohannya.”Resep itu begitu sulit di baca, Oppa…. Begitu sulit…. Pasien itu….. pasien itu kritis…. Dan semua itu…. Itu salahku!... Salahku!”

“Kritis?” Hyun Joong memandang penuh tanya. Dia semakin tidak sabaran menghadapi tingkah Soe Eun, dan penjelasan yang terbata-bata itu hanya membuatnya semakin panic. Dengan penasaran dia  berjongkok di depan Soe Eun yang tengah duduk itu dan menggoncang-goncang tubuhnya,”Beri penjelasan yang lengkap!”

Hyun Joong gagal. Bagaimana pun usahanya,tidak ada satu pun kata dari Soe Eun. Tae Woong memandangi kakak beradik itu, keheranan.”Aku akan cari tahu, Hyun Joong-ssi. Kalian tetaplah di sini,” ujar Tae Woong sebelum akhirnya meninggalkan mereka. Soe Eun masih saja terisak. Hyun Joong di depannya berjalan mondar-mandir. Hanya dari Tae Woong-lah, semuanya akan jelas nantinya. Sepuluh menit kemudian, Tae Woong memasuki ruangan itu kembali. Hyun Joong segera menghamburkan pertanyaan padanya,”Bagaimana, Songsaenim? Ada apa sebenarnya?”

 Tae Woong memandangi Soe Eun. Gadis itu masih saja menunduk dengan kedua tangan menutup muka. “Anak berumur lima tahun. Penderita asma. Dr. Jo sedang menanganinya di UGD. Overdosis theopillin dan kejang-kejang! Dongsaengmu salah membaca dosis.”

Dengan berakhirnya kalimat itu, tangisan Soe Eun semakin meledak. Hyun Joong menekan pundak gadis itu dan membentak,”Diamlah!”

Tae Woong menghela nafas. Menurutnya, semua ini begitu konyol, bagaimana mungkin seorang mahasiswa magang seperti Soe Eun bisa mengerjakan resep tanpa pengawasan sama sekali? “Antar dongsaengmu pulang, Hyun Joong-ssi. Biar aku yang mengamati perkembangan pasien itu di sini, semoga saja segera tertolong,” perintahnya itu segera diiyakan oleh Hyun Joong. Setelah mengangguk mantap, Hyun Joong mulai membimbing adiknya meninggalkan ruangan itu, memasrahkan semuanya pada Tae Woong, seniornya di stase penyakit dalam.

Namun keadaan tidak seperti yang diharapkan. Pasien malang itu meninggal. Kasus pun dibawa ke Mahkamah profesi. Setiap hari, Sang Ayah, Farmasis Kim, selalu berunding dengan Farmasis Jung dan Soe Eun mendengarkan semuanya dengan harap-harap cemas.

“Jika mahkamah profesi memutuskan hal ini benar-benar malpraktek, maka akulah yang harus bertanggung jawab, Farmasis Jung,” ujar Farmasis Kim  di suatu sore, saat mereka mendiskusikan kasus itu di Kim Mansion. Farmasis Jung menatap Farmasis Kim nanar. Kim Gab So, senior yang selalu diidolakannya ketika kuliah itu, terlihat kacau kini. Personil instalasi farmasi yang sangat minim, membuat skrining terhadap resep begitu lemah, hingga Soe Eun melakukan kesalahan fatal dengan Teophyllin yang terkenal mempunyai indeks terapi sempit. Dalam hati, farmasis Jung membenarkan perkataan seniornya itu. Status Soe Eun di sini adalah mahasiswa magang, dan dia belum mempunyai kewenangan sehingga bekerja di bawah pengawasan farmasis Kim, jika Soe Eun berbuat kesalahan, maka tanggung jawab tertuju pada Farmasis Kim. “Langkah apa yang akan anda lakukan, Hyung?”

Kim Gab So menghela nafas,”Jika aku harus menghadapi kasus ini, maka aku titip anak-anakku padamu, Dongsaeng.”
“Hyung… ,” perlahan, Farmasis Jung memanggil. Dia merasa kalimat Kim Gab So seperti wasiat terakhir, dan dia jadi kawatir karena getaran aneh mulai menjalar di hatinya. Apakah itu? Perasaan akan kehilangan seseorang. Ya, itu dia?
Mahkamah profesi benar-benar telah memutuskan. Itu semua adalah medication error. Kim Gab So menyembunyikan semuanya, rahasia tentang Soe Eun yang sebenarnya mengerjakan resep itu pun, tertutup rapat, hingga saat keluarga pasien menuntut, pihak kepolisian pun melakukan penahanan terhadapnya. Dan Soe Eun begitu histeris saat hal itu terjadi.”Pak Polisi, Saya yang salah. Tahan saya! Saya yang salah! Saya Yang salah!” mulut Soe Eun terus saja berteriak, sementara tubuhnya yang meronta tertahan oleh cengkeraman kuat Hyun Joong dan Tae Woon.

“Urus dongsaengmu, Hyun Joong-a!” perintah Kim Gab So pada putranya. Hyun Joong mengangguk, bersama Tae Woong, ditariknya sang adik secara paksa agar memasuki kamar. Tiba-tiba Tae Woong membekapkan sesuatu ke hidung Soe Eun, pertama-tama tercium bau yang sangat menusuk, hingga akhirnya hilanglah kesadaran Soe Eun.

Saat Soe Eun tersadar. Dia segera mencari sosok sang Ayah di sekeliling rumah, begitu kecewa saat kenihilan yang didapat. Apalagi saat mendapati kisah itu, sang Ayah benar-benar harus ditahan karena perbuatan yang dia lakukan. Dia mulai histeris kembali, dan nasibnya semakin malang di keesokan harinya, saat menerima berita kematian Ayah tercinta akibat serangan jantung di dalam penjara. Dia semakin merutuki diri.

Farmasis Jung benar-benar melakukan wasiat Ayahnya. Soe Eun dan Hyun Joong pindah ke kediaman Jung, atas permintaan pria bijak itu. Bisa dibilang farmasis Jung adalah ayah kedua bagi mereka. Saat keadaan Soe Eun begitu labil hingga enggan meneruskan kuliahnya, Farmasis Jung yang selalu menyemangati. Dia selalu membelai kepala Soe Eun, membisikkan harapan-harapan Indah pada gadis itu,”Soe Eun-a, hal yang disukai Appamu dari dunia farmasi adalah, bagaimana farmasis bisa  mengubah racun menjadi sesuatu yang bisa menyembuhkan.”

Soe Eun memandang penuh tanya. Air mata masih tertumpah meratapi kematian Ayahnya.”Kau tahu lambang farmasi, bukan?” tanya Farmasis Jung. Soe Eun membuang muka, diskusi tentang lambang farmasi yang berupa gambar ular yang melilit di gelas piala, bukanlah hal yang ingin dibicarakannya saat ini. Hal yang ingin diratapinya adalah Ayahnya. Bukan lambang ular yang tidak jelas.

Farmasis Jung tersenyum. Meskipun tak bersuara, Soe Eun bisa mendengar senyuman itu.”Ular itu melilit gelas piala, dan kepala ular mengarah ke mulut gelas dengan lidah yang menjulur,” perkataan Farmasis Jung untuk menjawab pertanyaannya sendiri.

“Itu adalah lambang, Soe Eun-a, ular mengeluarkan racun dan gelas piala diibaratkan penakarnya,” sambung farmasis Jung lagi.”Obat itu sebenarnya adalah racun, tapi karena farmasis memberikan takaran yang tepat sesuai dengan indeks terapi, racun itu akhirnya bisa menjadi  sesuatu yang menyembuhkan. Yang biasa kita sebut obat.”

Sekali lagi farmasis Jung tersenyum. Soe Eun masih saja membuang muka, tapi setidaknya dia mulai memikirkan lambang itu sekarang. Dan saat farmasis Jung mendapati Soe Eun mulai berpamitan untuk berangkat kuliah keesokan harinya, pria itu berkata riang,”Aku yakin ini yang diinginkan Appamu, Soe Eun-a. Masih kuingat kebahagiaan yang terpancar di wajahnya saat kau memutuskan kuliah di fakultas farmasi.”

“Ne, Ajhussi. Appa sangat senang waktu itu,” keceriaan terdengar dari tanggapan Soe Eun sekarang, dan Farmasis Jung pun semakin berbunga-bunga, menghantarkan gadis itu ke motornya untuk menuju ke kampus.

“Kau tahu, Soe Eun-a? Ada suatu lagu yang selalu dinyanyikan Appamu ketika bekerja,” kata Farmasis Jung di suatu hari. Saat itu Soe Eun sudah menuntaskan sarjana farmasi, dan bekerja menjadi asisten di Lee International Hospital sambil menjalani pendidikan profesinya.

“Apa, Ajhussi? Apa lagu itu?” tanya Soe Eun antusias. Farmasis Jung mengangkat bahu,”Aku tidak tahu judulnya. Lagu itu sebenarnya berbahasa Indonesia. Appamu mempelajari lagu itu saat mengikuti pertukaran mahasiswa di Indonesia, tapi aku tahu sebagian arti liriknya.”

“Aish, ajhussi…., katakan saja arti liriknya, jangan membuatku penasaran,” rengek Soe Eun sambil menggerak-gerakkan lengan Farmasis Jung. Pria bijak itu terkekeh seketika, lalu mulai menyanyikan terjemahan lagu itu dalam bahasa Hanggul dengan nada sumbang,”Madu di tangan kananmu, racun di tangan kirimu. Aku tak tahu mana yang akan kau berikan padaku?”

Soe Eun mengkerutkan kening. Lalu Farmasis Jung meletakkan sebutir tablet Theopillin di tangan kanan Soe Eun dan sepuluh butir di tangan kiri Soe Eun. Dipandanginya Soe Eun lekat-lekat,”Sebagai calon farmasis, mana yang kau pilih untuk kau berikan pada pasienmu dalam dosis sekali pakai,Soe Eun-a?”

Soe Eun terkesiap. Kenapa Farmasis Jung harus memilih Theopillin untuk menerangkan lagu itu? Lalu pria itu menunjuk tangan kanannya,”Yang di tangan kananmu? Atau….

Telunjuk itu beralih ke tangan kiri Soe Eun,”atau yang di tangan kirimu?” Soe Eun tersenyum di antara linangan air matanya, lalu mengangkat tangan kanannya yang masih menggenggam sebutir tablet theophyllin. Farmasis Jung menyeringai hingga tampak kerut-kerut di sekitar lekukan matanya dan garis rahangnya yang tegas,”Kini kau tahu maksud lagu itu, Soe Eun-a.”

Soe Eun mengangguk cepat. Dia tidak pernah menyadari bahwa profesi yang dipilihnya semulia itu. Selama ini dia iri dengan Oppanya yang berprofesi dokter, karena selalu dokter yang tampak di garda terdepan di semua rumah sakit, tapi tidak, semua begitu jelas baginya sekarang. Apakah pasien bisa sembuh hanya dengan tutulan stetoskop? Apakah operasi-operasi yang dokter lakukan bisa berhasil tanpa anaestesi dan antibiotic? Tantu tidak! Pasien baru sembuh setelah minum obat dan anaestesi dan antibiotic termasuk dalam obat. Obat adalah buah tangan farmasis dan farmasis adalah profesi yang dia pilih. Kini dia tahu. Jika guru selalu diberi gelar pahlawan tanpa tanda jasa, tapi farmasis adalah “Silent hero’. Pahlawan yang diam, yang walau pun hanya diam, buah tangannya telah mampu menyembuhkan berjuta-juta insan di dunia.

Soe Eun beralih ke makam farmasis Jung. Tanah di makam itu masih merah, rumput belum tumbuh di atasnya. Sungguh dia tidak menyangka akan begitu merindukan farmasis Jung saat ini. Apalagi melihat semangat Hye Sun di rapat tadi pagi. Sangat mirip dengan Farmasis Jung, di matanya.

“Ajhussi…..,” tangan lembut itu terulur ke batu nisan,” Bogosipho, Ajusshi. Bogosipho….”

---------------------------------------------------------------------------------------

Hyo Young hanya tersenyum simpul melihat tingkah Min Ho. Sudah tiga puluh menit pemuda itu mondar-mandir di depannya. Ya, tiga puluh menit putranya itu berbuat demikian, hanya untuk menunggu telepon Hye Sun. Gadis itu memang menolak saat Min Ho berniat menjemputnya untuk makan malam dengan alasan masih banyak kesibukan di rumah sakit, dan sebagai gantinya, dia berjanji untuk menelphon setelah sampai di rumah, hanya untuk ngobrol. Hanya untuk ngobrol lewat telephon, dan Min Ho sudah tak sabar dengan moment itu. Agak berlebihan memang. Min Ho yang malang. Sehari dia tidak menemui gadisnya dan rencananya untuk makan malam ditolak begitu saja oleh gadisnya itu karena tugas.

“Kenapa kau tidak menjemputnya, Nak?” tanya Hyo Young, dia sudah cukup pusing dengan gerakan mondar-mandir itu. Min Ho menghembuskan nafas. “Omma sudah tahu alasannya.”

Hyo Young tertawa renyah. Dia mulai menganggap semua ini konyol. “Kemarikan handphonmu!” perintahnya pada Min Ho sembari mengulurkan tangannya yang indah.

“Mwo?” tampak keterkejutan di mata putranya itu.

“Kemarikan!” perintahnya lagi. Tak ada hal lain yang bisa Min Ho lakukan selain  menuruti kemauannya. Handfon pun berpindah tangan.

“Hye Sun sayang!” panggil Hyo Young saat telepon itu terhubung.

“Mwo?” Min Ho terperanjat mengetahui semua itu. Jadi Omma menghubungi Hye Sun? begitu pikirnya. Hyo Young tertawa memandangi Min Ho, agak susah dia melanjutkan pembicaraan via telepon itu, tapi sepertinya dia sengaja meloadspeaker handphone agar Min Ho bisa ikut mendengarkan, hingga tampaklah kegugupan dibalik suara Hye Sun,”E… Ne… , O… Omma?”

“Omma sangat merindukamu malam ini, bisakah kau makan malam bersama kami di Lee Manshion?” ungkap Hyo Young sambil berkerling pada Min Ho, hingga tampak perubahan warna di wajah anak itu. Dan tentu saja jawaban Hye Sun seperti yang diperkirakannya,”Ne, Omma. Mungkin satu jam lagi Sun tiba di sana.”

“Gomawo, Sayang,” percakapan diputus. Hyo Young mengembalikan hanphone itu kembali pada putranya. Min Ho tertawa, seakan tidak percaya dengan apa yang barusan dialaminya.

“Sekali-kali paksakan kehendakmu padanya, Min Ho-a,” tegas Hyo Young. Min Ho memeluk dan mencium keningnya,”Gomawo, Ommaku sayang.”

Hyo Young menggelengkan kepalanya perlahan, dia semakin geli mendapati semua ini, bahwa Lee Min Ho, putranya yang selama ini terkenal tegas dan keras kepala rupanya punya kelemahan, dan itu terletak pada cintanya pada Hye Sun.

“Omma jadi ingin tahu sebenarnya apa yang dipunyai gadis itu hingga dengan mudahnya dia merampas perhatianmu dari Omma?”

Min Ho tersenyum simpul. Agak sulit menjawab pertanyaan itu. Dia hanya mampu mengangkat bahu dan berkata,”Entahlah.”

“Kau sudah bertemu dengan keluarganya?” Entah kenapa Hyo Young jadi ingin tahu tentang keberadaan keluarga Hye Sun. Min Ho mengangguk mantap,”Aku ke Jeju seminggu setelah tanggal jadian kami.”

“Lalu?” Hyo Young menahan nafas. Dia tidak ingin jika pertanyaannya jadi terdengar seperti menginterogasi. Wajah Min Ho terlihat lebih sumringah lagi,”Hye Sun wanita yang hebat, dengan latar belakang keluarga seperti itu, dia masih bisa menjaga diri.”

“Maksudmu?” Kening Hyo Young mulai berkerut serius dan Min Ho kawatir jika Hyo Young berubah pikiran tentang Hye Sun.”Apakah ini akan merubah keputusan Omma jika tahu yang sebenarnya? Karena jika memang Omma berlaku demikian lebih baik aku mati.” Kalimat Min Ho itu membuat Hyo Young menghela nafas. Rupanya benar, pesona gadis itu sudah membutakan putranya sepenuhnya. “Apa latar belakang keluarga Hye Sun sangat buruk?”

Min Ho akhirnya menceritakan latar belakang keluarga Hye Sun dengan penuh rasa kawatir di benaknya,“Ommanya meninggal saat dia berumur delapan belas tahun, tiga tahun kemudian Appanya menikah lagi dengan seorang Janda  tanpa anak. Keluarga itu hidup harmonis dalam kurun waktu enam tahun, tapi Ibu tiri Hye Sun bukanlah wanita yang pintar mengelola uang, dan selalu tergiur dengan tawaran hutang, hingga akhirnya meninggalkan Hye Sun dan Appanya begitu saja dengan hutang menumpuk yang harus dilunasi oleh Appa Hye Sun.”

“Lalu bagaimana dia bisa membiayai kuliah masternya?”

“Dari beasiswa dan bekerja sebagai asisten dosen di Seoul National University,” jawab Min Ho. Dia lalu duduk di kursi berhadapan dengan Hyo Young dan menumpukan tangannya ke tangan Ibunya itu,”Aku sangat mencintai Hye Sun, Omma. Aku harap Omma tidak merubah penilaian Omma terhadap Hye Sun setelah mengetahui semua ini.”

Hyo Young tersenyum. ”Justru itu membuatku semakin kagum padanya dan Omma akan sangat kecewa jika kau sampai kehilangan dia,” tanggapan itu membuat Min Ho menanggalkan kekawatirannya. Sekali lagi dia memeluk tubuh Hyo Young dengan kebahagiaan tak terperi, hingga kekawatiran lain menyelinap kembali. Dipandanginya wajah sang Ibu lekat-lekat seakan butuh dukungan lagi, lalu mengutarakan semuanya,”Bantu aku untuk meyakinkannya mempercepat pernikahan kami, Omma.”

Dan hal itu sukses membuat Hyo Young ngakak. Dia bahkan kesulitan menghentikan tawanya untuk sekedar berkata,”Kau sudah tidak sabar rupanya?”

“Aish,” Min Ho jadi jengkel. Dia tidak suka jika kekawatirannya berubah menjadi bahan olokan bagi Hyo Young. “Kau harus membicarakannya pada Appa Hye Sun juga, Nak,” terang Hyo Young kemudian, dan Min Ho jadi teringat pembicaraan dengan Appa Hye Sun saat terakhir kali pertemuan mereka, sehari sebelum kepindahan Hye Sun ke Bussan,”Kami sudah sepakat pernikahan dilaksanakan enam bulan lagi.”

“Bo? Enam bulan?” kali ini Hyo Young jadi gelagapan.”Lalu persiapan apa yang sudah kalian lakukan? Kau ini… berita sepenting ini kenapa tidak memberitahukan pada Omma. Kau pikir persiapan pernikahan itu secepat membalikkan telapak tangan, hah!” Hyo Young benar-benar murka.

“Memangnya apa yang perlu dipersiapkan, Omma. Bukankah pernikahan itu yang penting syah di mata Tuhan dan Negara?” jawab Min Ho enteng. Hyo Young semakin emosi saja mendengar ucapan santai Min Ho. ”Hubungi Hye Sun lagi!” perintahnya.

“Buat apa? Omma dengar sendiri,kan… dia akan ke sini sekitar satu jam lagi?” tolak Min Ho.
“Hubungi dia agar cepat ke sini. Apa pun yang dia kerjakan di rumah sakit itu, suruh dia pending dulu!”

Tak ada yang bisa Min Ho lakukan selain menuruti kemauan wanita paruh baya itu. Hye Sun terlihat kesal waktu menerima telepon, tapi pada akhirnya gadis itu tiba di Lee Manshion lima belas menit lebih cepat karena telephon itu, dan segera terkunci pertanyaan beruntun dari Hyo Young tentang rencana pernikahan yang tinggal terhitung bulan itu, dan anehnya Hye Sun terkejut mendengarnya,”Enam bulan? Jeongmal?”

Mata lebar Hye Sun tampak mendelik, tak mampu menyembunyikan keheranannya. Dia menoleh ke arah Min Ho lalu bertanya,”Kapan kau bicarakan itu dengan  Appa?”

“Waktu aku menjemputmu di Jeju,” jawab Min Ho. Hye Sun tampak memutar bola matanya, semua kenyataan itu membuatnya tak habis pikir.

“Omma tidak percaya semua ini. Kalian pikir pernikahan itu permainan, hah? Lalu bagaimana dengan persiapan pesta, gaun pengantin, undangan, apa pun itu, dan kalian masih saja santai bekerja tanpa memikirkan semua itu?” Hyo Young jadi ngomel tanpa ujung pangkal.

“Semua itu tidak penting bagiku, Omma,” Min Ho membela diri,”Aku rasa cukup jika kami menikah di gereja atau catatan sipil dan tanpa pesta.” Dan kedua wanita di sampingnya serempak memandang murka, seolah ingin menelannya hidup-hidup. Hye Sun marah karena Min Ho seenaknya saja menentukan waktu pernikahan dengan Appanya tanpa membicarakan berdua terlebih dahulu dan Hyo Young murka dengan jawaban Min Ho yang dengan entengnya mendeklarasikan pernikahan hanya dilakukan di catatan sipil. Oh, No! tidak ada di kamus keluarga Lee, pernikahan hanya dilakukan di catatan sipil.

“Kau tidak bisa seenaknya, Min Ho-ssi. Oke! Kuakui Appa memang orang tuaku, dia juga berhak memutuskan, tapi yang mau menjalani kan aku, seharusnya kita juga membicarakan masalah ini berdua,” protes Hye Sun. Dia tidak menyangka keadaan jadi serumit, bukan semendadak ini. Memangnya Appanya juga sudah mempersiapkan semuanya? Bukankah Appanya beberapa hari yang lalu hanya mengabarkan kembalinya Ibu tirinya di telephon? Min Ho malah menggeser duduk di sampingnya dan memeluknya hangat,”Tapi itulah yang terjadi dan Appamu setuju.”

Min Ho melonggarkan pelukannya, kini dia memandang mata Hye Sun yang lebar itu, berusaha meyakinkan keputusannya. Rasa takut kehilangan yang aneh semakin menelusup di hatinya, dan akalnya semakin kuat menangkal semua itu. “Aku bahkan ingin pernikahan kita lebih dipercepat lagi, Changi. Bagaimana jika sebulan lagi saja.”

“Hah! Kau semakin gila saja, Min Ho-a,” ternyata malah Hyo Young yang segera bereaksi dengan teriakan nyaringnya,”Kau mau Omma mati panik karena mempersiapkan semuanya dalam jangka waktu sebulan?”

Muka Hye Sun jadi memerah karena malu. Dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Min Ho, dan agak kikuk menanggapi amarah Hyo Young,”Mianhamida, Omma. Saya rasa enam bulan cukup untuk persiapan.” Lalu dia beralih memandang Min Ho dan bicara dengan nada menekan,”Enam bulan,Min Ho-ssi!”

“Antwe! Satu bulan!” paksa Min Ho. Sontak Hye Sun terkejut dibuatnya, dia tetap menggeleng. ”Enam bulan seperti janjimu pada Appa!” bentak Hye Sun,”Itu pun sebenarnya terlalu cepat,Lee Min Ho-ssi!”

“Delapan bulan,” potong Hyo Young kemudian. Kedua pemuda di depannya pun menoleh,”Delapan bulan?” serempak mereka berseru.

“Beri Omma waktu tambahan dua bulan, dan Omma akan mempersiapkan segala keindahan dan kemewahan untuk pesta kalian. Itu keputusan Omma dan tidak bisa diganggu gugat lagi!” tekan Hyo Young.

“Tapi….,” Min Ho masih ingin memprotes tapi sekali lagi Hye Sun melirik tajam ke arahnya hingga dia mengurungkan niat. Dia jadi menggaruk-garuk rambut seperti orang bodoh sambil berpikir,”Kenapa jadi lebih lama dua bulan, sih?”

Min Ho jadi ngambek karena rencana mempercepat pernikahan gagal total. Mukanya masam saat mengantar Hye Sun ke rumahnya. Hye Sun tahu kalau kekasihnya itu sedang marah, jadinya perjalanan pulang itu berlangsung sunyi. Hye Sun membuang muka ke pemandangan di luar jendela. Min Ho semakin kesal dengan tingkahnya,”Aku tetap mau pernikahan dilakukan sebulan lagi!”

“Mwo?” perlahan Hye Sun  menoleh. Kini Min Ho menghentikan mobilnya lalu menatap Hye Sun lekat-lekat. Suara Ombak pantai Haendeae melatarbelakangi suasana, saat Min Ho akhirnya mengunci wajah Hye Sun dengan
« Last Edit: February 25, 2011, 07:29:48 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]