Author Topic: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)  (Read 23964 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter VII (25 FEB 2011)
« Reply #180 on: February 25, 2011, 10:50:17 am »
 [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh] ternyata kepotong... ni sambungannya  [hmpfh] [hmpfh]

Min Ho jadi ngambek karena rencana mempercepat pernikahan gagal total. Mukanya masam saat mengantar Hye Sun ke rumahnya. Hye Sun tahu kalau kekasihnya itu sedang marah, jadinya perjalanan pulang itu berlangsung sunyi. Hye Sun membuang muka ke pemandangan di luar jendela. Min Ho semakin kesal dengan tingkahnya,”Aku tetap mau pernikahan dilakukan sebulan lagi!”

“Mwo?” perlahan Hye Sun  menoleh. Kini Min Ho menghentikan mobilnya lalu menatap Hye Sun lekat-lekat. Suara Ombak pantai Haendeae melatarbelakangi suasana, saat Min Ho akhirnya mengunci wajah Hye Sun dengan kedua tangannya,”Aku takut kehilanganmu.”

Mata Hye Sun mengerjap mendengar semua itu. Perasaan takut itu menjalar pula di hatinya, seolah akan timbul dinding penghalang di antara mereka, tapi semuanya masih samar, dan belum begitu jelas baginya.

“Aku meragukanmu, Chagiya. Ada sesuatu di rumah sakit itu yang aku takutkan mampu memisahkanmu dariku.”  Hye Sun semakin terkesiap mendengar ucapan Min Ho barusan. Dia mulai berpikir tentang Ah in. Memangnya apa yang akan terjadi padaku dan Ah in? bagaimana bisa Min Ho jadi sesensitif ini? Apa dia sudah tahu tentang Ah in?

“Adakah hal yang harus kuketahui, Chagiya?” tanya Min Ho. Hye Sun menggeleng,”Tidak ada kecuali…

Kalimat Hye Sun tiba-tiba terhenti. Min Ho menantinya dan menahan nafas, sementara Hye Sun ragu akankah mengucapkan kalimat itu. Selama ini Min Ho lah yang mengucapkan kalimat itu padanya, dan dia sebagai wanita menerima bahkan menikmati kenyamanan di balik makna kalimat itu, dan jika ia mampu mengatakan malam ini, maka dia mampu meyakinkan perasaan itu terhadap dirinya sendiri. “Kecuali aku sangat mencintaimu, Min Ho-ssi,” akhirnya kalimat itu meluncur juga dari bibirnya yang indah. Hati Min Ho menyejuk seketika bagai tertetes embun di pagi hari. Hye Sun kini memeluk kekasihnya, membenamkan kepalanya sejenak di dada Min Ho, menghirup aroma tubuh pria itu dalam-dalam dan dengan mata terpejam mampu merasakan Min Ho yang mencium ubun-ubunnya lembut.

Rasa ketakutan itu menyeruak lagi di hati Hye Sun sementara Min Ho sudah berhasil ditenangkan dan mulai menjalankan mesin mobil kembali. Sungguh perasaan psikopat yang aneh, dan kini ia hanya mampu memandangi Min Ho yang serius dengan jalan yang harus mereka lalui.

Sebenarnya apa yang akan terjadi pada kita, Kekasihku? Kenapa aku juga jadi ketakutan seperti ini? Apakah karena Ah In? Jika benar begitu sedapat mungkin aku harus menghindari orang itu. Miane, kasihku… aku tak punya keberanian menceritakan semuanya padamu. Aku tak ingin kau mencurigaiku setiap kali ku bekerja di rumah sakit. Aku mohon percayalah, selama ini aku berusaha mencintai seperti kau mencintaiku, suara hati Hye Sun.

“Sudah sampai,” kata Min Ho saat mobil itu telah berhenti di pelataran rumah Hye Sun.

“Aku ingin kau masuk,” pinta Hye Sun lirih. Tapi semua itu ditolak secara halus oleh Min Ho dengan gelengan kepala, lalu mendaratkan ciuman di kening Hye Sun. Gadis itu menyentuh bibirnya sendiri lalu memohon lembut,”Lakukanlah di sini, Min Ho-ssi.”

Sekali lagi Min Ho menggeleng. Dia kawatir keadaan semakin tak terkendali jika mulai menjamah bibir mungil itu.”Waeyo?” tidak puas dengan semua itu, Hye Sun meminta penjelasan.

“Semuanya akan indah pada waktunya, Chagiya… Salahkah aku jika menginginkan kejutan-kejutan kecil di malam pengantin kita akibat sama-sama belum pernah melakukannya?”

Hye Sun terharu mendengar jawaban itu. Seperti ada sesuatu yang membelai hatinya, hanya sebuah ungkapan penuh hormat, dan dia begitu terbuai hingga memeluk Min Ho kembali, menangis, menenggelamkan muka di pelukan Min Ho.”Masuklah, Chagiya… Aku akan tetap menahannya sampai semua itu halal bagi kita.”

Hye Sun mengangguk, mengangkat wajahnya hingga mampu menapak wajah tampan Min Ho yang terpahat sempurna. Pria di pelukannya ini adalah karya seni, dan bersyukur karena hati pria ini hanya terisi sepenuhnya oleh dirinya, mengagungkannya bagai wanita yang paling sempurna diantara kekurangan-kekurangan bahkan latar belakang keluarganya yang broken.

“Saranghae, Min Ho-a,” kali ini Hye Sun mengatakannya lagi, dan panggilan untuk Min Ho bukan lagi panggilan resmi, Min Ho menyunggingkan senyum ke arahnya,”Aku masih merinding setiap kau ucapkan itu. Masih belum terbiasa mengingat selama ini akulah yang berkata cinta.”

Hye Sun malu di tempat, lalu berusaha memastikan semuanya,”Kau harus membiasakannya, karena mulai sekarang aku juga akan mengucapkannya.”

Min Ho mengangguk,”Ne, sekarang masuklah. Tidur yang nyenyak dan mimpikan pernikahan kita delapan bulan lagi.”  Mereka berdua tertawa pada akhirnya. Dan Hye Sun melambaikan tangan waktu mobil  Min Ho bergerak semakin menjauhi rumahnya, lalu memasuki rumah dengan hati riang dan langkah yang ringan.

Hye Sun tidak menyadari bahwa sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan dibalik mobilnya yang terparkir tak jauh dari rumah itu. Orang itu  mengamati saat-saat pasangan itu berpelukan, dan dengan hati yang perih, menarik kesimpulan salah dari adegan itu menjadi adegan tak senonoh di dalam mobil.

BERSAMBUNG


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]