Author Topic: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥ ~ (LITTLE KISS., 27.03.10)  (Read 60132 times)

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Re: ♥ Minsun's OR Jundi's Short FanFiction ♥
« Reply #225 on: March 03, 2010, 12:42:09 am »
Sesuai janjiku kemaren, ini ff terbaruku  [heh] [heh] [heh] tapi jangan di [hammer] [head break] hammer2 klo jelek dan cerita ma judul gak nyambung  [hmff] [hmff]

LOST IN THE SEA
[/size][/size][/color]


CAST :

Goo Hye Sun as Goo Hye Sun



Jung Ui Chul as Jung Ui Chul aka Boyfriend Goo Hye Sun



Lee Min Ho as Lee Min Ho



CHAPTER 1
[/color]



Hari sudah beranjak siang ketika pesawat jet dari Korea itu mendarat di bandara kota Havana. Para penumpang yang terdiri dari seorang gadis berpakain hitam yang sangat cantik dengan raut muka dingin tanpa ekspresi, seorang pemuda yang cukup tampan yang selalu tersenyum kepada gadis di depannya dan sepasang kekasih yang selalu tertawa dan kelihatan ceria padahal cuaca sangat terik, mereka  hanya beristirahat sebentar di ruang tunggu sementara para awak menurunkan bagasi.



Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan limosin menuju ke pelabuhan di mana sudah menunggu kapal pesiar “Princess Mariana”. Kapten kapal menyambut ramah berbasa-basi sebentar kemudian mengajak mereka naik ke kapal untuk berkeliling melihat-lihat fasilitas yang disediakan oleh perusahaan mereka. Beberapa abk dan pelayan sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk tamu mereka yang akan berpesiar di laut Karibia selama seminggu.

Setelah puas melihat-lihat para tamu diajak ke buritan kapal yang dilengkapi kolam renang ukuran kecil untuk menikmati minuman dan camilan sebagai ucapan selamat datang.
Gadis yang berpakaian hitam berdiri melihat-lihat ke sekeliling dengan pandangan kosong. Sementara teman-temannya asyik bersenda gurau, gadis itu beranjak ke dalam kapal menyusuri lorong kabin. Ia terus saja berjalan tanpa tahu mau kemana dan berhenti di depan tangga yang menuju ke bawah. Ia turun dan melihat sebentar rupanya itu ruang mesin dan ketika hendak berbalik ia menabrak seorang pemuda berpakaian putih dan topi pelaut. Barang yang di bawa pemuda itu jatuh menggelinding di lantai dan ada cairan yang tumpah. Pemuda tersebut yang merupakan abk kapal menurunkan barang yang masih ada di tangannya dan memungut yang jatuh serta menyingkirkan yang tumpah.



Gadis itu hanya menatap tajam ke arah abk itu dan berlalu tanpa merasa bersalah dan tidak berkata sepatahpun.

Si abk menatap punggung gadis tersebut yang semakin menjauh dan hilang dibalik tikungan lorong menuju buritan. Ia hanya bisa bersungut mengepel cairan yang tumpah “Dasar gadis sombong… mentang-mentang dari kalangan jetset, sudah tahu salah malah pergi tanpa minta maaf.”

***********

Bunyi angin menderu dan ombak memecah kapal menjadi musik yang indah mengiringi kapal berlayar.
Di ruang kemudi, kapten sibuk mengarahkan juru kemudi arah mana saja yang akan mereka tuju. Penumpang mereka akan mengunjungi pulau-pulau terpencil yang banyak disukai wisatawan di Kepulauan Bahama, namun karena satu dan lain hal penumpangnya tidak ingin berlayar saat banyak wisatawan dengan alasan tidak ada privasi.

Padahal bulan-bulan ini cuaca tidak mendukung karena sering terjadi badai tapi penumpang mereka tidak perduli dan mampu membayar lebih sehingga perusahaan mereka menyanggupinya. Sebagai kapten ia tidak bisa membantah atasan walaupun sudah menjelaskan akibatnya jika memaksa berlayar, maka ia terpaksa menurutinya meskipun dengan berat hati dan ia hanya menugaskan abk-abk pilihan untuk membantunya.

**********

Angin malam menderu kencang dan terasa dingin menusuk tulang tapi para penumpang special itu tidak menggubrisnya seakan senang menikmati hawa laut di malam hari. Mereka duduk-duduk di kursi malas di anjungan kapal sambil memandang bulan dan bintang.

Salah satu penumpang special itu adalah seorang gadis kaya yang akan mewarisi seluruh kekayaan kakek buyutnya yang mempunyai jaringan bisnis bergerak di segala bidang di negaranya setelah ia berumur 20 tahun yang tinggal 1, 5 bulan lagi. Karena hanya tinggal dia yang hidup sementara ke dua orang tuanya telah tiada karena kecelakaan tragis waktu dia masih kecil.

Gadis itu bernama Goo Hye Sun, ia sangat cantik dan banyak pemuda-pemuda kaya yang melirik dan mengincarnya untuk dijadikan pendamping karena kecantikan dan juga harta yang akan diwarisinya. Tapi banyak juga yang patah hati karena tidak mendapat respon dan malah ada yang ditolaknya mentah-mentah membuat pemuda yang lain ciut untuk menggaetnya.

Namun dari sekian banyak pemuda itu ada seorang pemuda yang bernama Jung Ui Chul terus mengejar-ngejar Hye Sun walaupun sudah berkali-kali juga ditolaknya tapi karena usahanya yang gigih akhirnya Hye Sun mau menjalin hubungan dengan Jung meskipun hatinya tidak menerimanya.

Jung ke luar dari kabin membawa selimut mendekati Hye Sun dan meletakkan ke seluruh badan Hye Sun setelah membukanya, ia mengecup kening Hye Sun dan duduk di sampingnya.

“Kamu mau minum, sayang ?” Tanya Jung penuh perhatian yang mendapat anggukan dari Hye Sun.

Jung memanggil abk yang lewat untuk menyediakan apa yang mereka minta. Abk mendekat dan bertanya :

“Ada yang bisa saya bantu tuan ?”

“Tolong bawakan saya bir 3 kaleng dan….Sayang, kamu minum apa ?” Tanya Jung pada Hye Sun.

“Saya mau kopi latte panas… dan tidak pakai lama.” Sahut Hye Sun ketus ke arah abk yang ternyata pemuda yang ditabraknya tadi siang.

Abk itu mengangguk dengan senyum manis walaupun terpaksa, ia mengeluarkan radio panggil dari saku celana belakang dan memanggil temannya di bagian dapur untuk membawakan ke anjungan apa yang diminta penumpangnya.

“Tuan dan Nona, minuman anda akan diantar 3 menit lagi. Semoga anda akan menikmati malam ini…Permisi.” Abk itu berlalu setelah melemparkan pandangan dengan tatapan yang membuat Hye Sun bingung.

**********

Hari sudah larut malam, Hye Sun pamit kepada Jung dan temannya…tepatnya teman Jung karena ia tidak punya teman dekat sebab ia lebih suka menyendiri. Temannya Jung hanya melihatnya sekilas dan kembali lagi asyik bergumul berdua seakan tidak ada hari esok lagi yang membuat Hye Sun muak tapi ia tidak mau ambil pusing.

Hye Sun bergegas masuk ke kapal dan menuju kamarnya yang terletak di kabin sebelah kiri.

Jung menghabiskan birnya dan mengalihkan pandangan ke sahabatnya yang masih asik berpelukan sambil sesekali berciuman yang membuat Jung panas dan iri karena Hye Sun tidak pernah mau dipeluknya apalagi dicium bibirnya.

Jung berdiri dengan senyum licik kemudian berlalu masuk ke kapal, ia mencari-cari abk yang bertugas di kabin. Setelah ketemu mereka berbicara sebentar tapi abk itu kelihatan menggelengkan kepalanya kemudian Jung membuka dompet mengambil beberapa lembar dollar dan memasukkan ke kantong baju abk sambil berbisik yang mendapat anggukan kepala dari abk.

Abk itu pergi dan beberapa saat kemudian kembali lagi menyerahkan sesuatu kepada Jung. Dengan senyum puas Jung pergi menuju kamarnya di kabin sebelah kanan yang berhadapan dengan kamar Hye Sun.

Sekitar 15 menit kemudian Jung ke luar dari kamarnya dengan memakai kaos dan celana pendek selutut, keliahatannya ia baru saja selesai mandi karena rambutnya masih kelihatan basah.

Jung menuju pintu kamar Hye Sun, ia berhenti sebentar menarik nafas panjang lalu mengetuk pintu dengan pelan. Setelah beberapa saat mengetuk tidak ada tanda-tanda pintu di buka, ia coba panggil nama Hye Sun tapi ditunggu-tunggu tetap tidak ada jawaban.

Akhirnya Jung merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu yang ternyata kunci kamar. Ia masukkan kunci ke lubangnya dan memutarnya pelan sambil memegang gagang pintu kemudian terdengar bunyi klik. Jung terlihat senang dan memutar gagang pintu dengan perlahan pintu terbuka. Ia mengintip sebentar sebelum masuk, kamar Hye Sun gelap hanya cahaya samar-samar dari kamar mandi, Jung mengendap dan melangkah perlahan menuju tempat tidur takut Hye Sun bangun. Baru beberapa langkah Jung berjalan tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang dari balik pintu memukulnya membuat Jung terkapar tanpa suara.

************

Hari sudah siang tapi matahari enggan memancarkan sinarnya. Hye Sun dan sahabatnya Jung duduk di kabin tingkat 2 bagian belakang yang menjadi ruang makan. Mereka sedang menikmati makan siang namun bagi Hye Sun ini adalah sarapan karena ia baru bangun, sementara Jung tidak tampak batang hidungnya tapi Hye Sun sepertinya tidak khawatir melihat kekasihnya tidak makan siang bersama mereka.

Mereka menikmati hidangan tanpa ada suara yang ke luar hanya dentingan sendok dan garpu serta semilir angin laut. Hye Sun bersikap seperti biasa dingin dan tanpa ekspresi dalam diamnya yang membuat orang yang berada disekitarnya bingung harus bagaimana menghadapinya karena walaupun di ajak bicara ia tidak menjawab kalau tidak penting.

Sahabatnya Jung menatap ke Hye Sun sebentar kemudian beralih kekasihnya dengan pandangan bertanya…”Jung mana ?” Tapi kekasihnya hanya mengangkat bahu dan mengarahkan telunjuknya ke Hye Sun takut-takut memberi isyarat…”Tanya dia ?”. Tapi sahabatnya Jung hanya menggelengkan kepala dan meneruskan makan siangnya.

***********

Jung membuka mata dan berusaha bangun tapi kepalanya terasa berat dan leher belakangnya serta bahu kirinya sakit. Tangannya meraba leher dan ia mendapati darah kering serta goresan kecil di leher dan bahunya. Kemudian ia menuju ke meja rias dan melihat memar biru di bahu.

Jung kembali ke kasur dan duduk bersender memegang lututnya, ia bingung dengan apa yang telah terjadi. Bukankah ia tadi malam ke kamar Hye Sun untuk mencicipi tubuhnya tapi kenapa ia ada dikamarnya sendiri dan kenapa ada memar dan goresan di bahu kirinya.

Jung langsung terperanjat begitu ingat kejadian yang menimpanya. Cepat-cepat ia bangun dan mengganti pakaian dan ke luar menuju kamar Hye Sun. Di ketuk dan dipanggil-panggilnya Hye Sun tidak menjawab. Diulanginya sekali lagi namun belum sempat ia melakukan abk menegurnya bahwa Hye Sun ada di atas di ruang santai.

Jung bergegas menuju ruang santai dan dilihatnya Hye Sun sedang asyik membaca buku sementara tidak jauh dari situ sahabatnya sedang menonton film bersama kekasihnya.

Jung mendekati Hye Sun dan bermaksud mengecup keningnya tapi Hye Sun menunduk mengambil pembatas bukunya yang terjatuh sehingga Jung hanya mencium angin.

Jung duduk di depan Hye Sun dengan lesu, ia perhatikan Hye Sun bersikap seperti biasa seakan tidak ada yang terjadi. Jung jadi berpikir…”apakah ia salah kamar tadi malam.”

***********

Pada malam harinya setelah makan malam, Kapten “Princess Mariana” memberitahu mereka jika besok mereka berada di sekitar kepulauan Exuma dan menurut badan meteorology, klimatology dan geofisika setempat besok cuaca cerah jadi jika mereka ingin menyelam dan snorkeling maka mereka bisa menikmatinya. Jung dan sahabatnya bersorak gembira karena hari ini mereka tidak bisa berbuat banyak ketika kapal berada di kepulauan Andros sebab hujan deras turun, di samping tragedi memalukan yang menimpanya.

Jung mengalihkan pandangannya ke Hye Sun yang tetap diam dan tidak bereaksi. Kemudian Hye Sun pamit ke kamarnya dan berpesan tidak mau di ganggu. Jung hanya bisa menatap tubuh kekasihnya menjauh tanpa bisa berbuat banyak.

**********


Pagi hari cuaca cerah sekali dan kapal juga sudah menabuh jangkarnya. Jung dan sahabatnya sedang menyiapkan peralatan mereka yang di bantu oleh beberapa abk memindahkannya ke perahu karet.

Hye Sun hanya duduk memperhatikan mereka sebentar lalu larut dalam kesibukannya membaca buku.

Jung melihat ke Hye Sun yang belum berganti pakaian, ia mendekatinya karena mereka sudah siap berangkat kalau tidak ingin kesiangan.

“Sayang…Kenapa kamu belum bersiap-siap ?... Kita sudah siap dan tinggal menunggu kamu…” Kata Jung lembut.

Hye Sun menurunkan buku dari wajahnya dan melihat sekilas ke Jung dan yang lain lalu kembali ke buku.

Jung hanya menghela nafas panjang sambil berkacak pinggang melihat sikap Hye Sun. Ia sudah mulai tidak sabar dengan segala tingkah dan sikap Hye Sun yang dingin dan sulit di tebak. Jika saja bukan karena pamannya yang selalu memberinya semangat dan mengingatkan akan apa yang akan mereka dapatkan nanti maka sudah lama ia campakkan gadis didepannya.

“Sayang…Jika kamu tidak mau ikut, kami akan pergi sekarang…Itupun  jika kamu tidak keberatan..?” Kata Jung berusaha selembut mungkin padahal ia sudah dongkol.

Hye Sun tidak bereaksi, ia masih saja tenggelam dalam bukunya. Jung ingin sekali merebut buku itu dan membuangnya ke laut karena selama 2 hari ini, ia pikir Hye Sun akan meninggalkan bukunya tapi ternyata malah tambah parah.

“S a a y a a a n g ….” Kata Jung lagi dengan kesabaran yang sudah semakin terkikis. Sementara sahabatnya sudah beberapa kali menunjuk ke jam ditangannya.

“Pergilah…” Jawab Hye Sun pelan hampir tidak terdengar yang membuat Jung menghembuskan nafas lega.

“Terima kasih, sayang..” Sahut Jung berusaha mencium pipi Hye Sun tapi keburu Hye Sun berdiri mau masuk ke dalam kapal sehingga ia sekali lagi hanya mencium angin.

***********

Hari mulai beranjak meninggalkan pagi dan jam menunjukkan pukul 09.00 ketika Hye Sun ke buritan melihat 2 abk menyiapkan perahu karet dan menurunkannya ke air. Ia merasa penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan karena ia mulai bosan terus berada di kapal dan ia tidak suka menyelam.

“Kalian mau kemana ?” Tanya Hye Sun kelihatan angkuh.



“Apaa…? Ooo…kami mau pergi memancing ikan untuk makan siang nanti.” Jawab abk yang berkulit hitam setelah Hye Sun mengetahui mereka yang ditanyanya.

Bolehkah…saya ikut …kalian ?” Hye Sun bertanya sedikit ragu karena ia sesekali ingin juga melihat orang mancing tepatnya sih pergi dari rutinitasnya berkutat dengan buku.

Abk itu hanya bengong menatap ke Hye Sun tidak percaya dengan pendengarannya. Tapi Hye Sun meyakinkannya kalau ia benar-benar ingin ikut. Abk itu mendekati temannya yang masih sibuk memeriksa barang yang akan dibawa. Mereka berdebat sebentar kemudian temannya abk berkulit hitam yang ternyata abk yang pernah bertubrukan dengannya dulu. Abk itu hanya melihat ke Hye Sun sekilas lalu berlalu pergi tanpa menghiraukan Hye Sun yang menunggu jawaban.

**********


TBC........


Note : selamat membaca, semoga suka dan ceritanya gak garing dan gak  [bored] [bored] yak....