THE MAESTRO
Chapter 4
Addititional cast :
Jang Geun Suk as Nicholas Jang
Song Of The Day
Beautifull girl- Jose mari chan
Beautiful girl, whenever you are
I knew when I saw you, you had opened the door
I knew that I'd love again after a long, long while
I'd love again
you said 'hello' and I turned to go
but something in your eyes left my heart beating so
I just knew that I'd love again after a long, long while
I'd love again
c/o
It was destiny's game, for when love finally came on
I rushed in line only to fine that you were gone
wherever you are i fear that i might
have lost you forever, like a song in the night
now that I've loved again, after a long, long while
I've loved again
*repeat c/o
beautiful girl, I'll search on for you
till all of your loveliness in my arms come true
you've made me in love again, after a long, long while
in love again
and I'm glad that is you...
hmmmmm... beautiful girl…
(Diharapkan sambil mendengarkan lagu Beautifull girl - Jose Mary Chan, agar fill dari chapter ini dapat)
Malam yang khidman, berhiaskan alunan music lembut yang berasal dari dentingan piano tua, dan suara lembut Joana pun mengalun, seiring dengan gerakan indah jari-jari lentiknya pada alat music itu. Beautifull Girl, lagu lawas yang pernah dipopulerkan oleh Jose Mary-chan itu disenandungkan Joana dengan indahnya, selaras, tak kalah dengan penyanyi aslinya.
Di ruang kerja, Aldian tengah berbincang hangat dengan tamunya, Nicholas Jang, pria tampan lulusan fakultas hukum yang sudah bekerja selama lima tahun di dinas pencatatan sipil di kota itu. Pria satu ini memang tertarik berbisnis, dia bahkan mengajak Aldian bekerja sama membuka usaha design grafis, sementara alunan music indah sayup-sayup terdengar dari ruang tengah.
Status sebagai pegawai tetap di kantor pemerintahan, rupanya tidak membuat Nicholas merasa puas, dia ingin memulai bisnisnya sendiri, tapi pengalaman bisnis pun dia masih minim, karena itu dia membutuhkan Aldian untuk membantu. Dia sudah mencari dan melirik tiap Bisnis yang mungkin akan digeluti, dan keputusannya jatuh pada bisnis design grafis.
“Bisnis yang lagi trend tahun ini adalah design grafis,” jelas Nicholas pada sahabatnya,”Baliho, poster, bahkan advertensi lewat Koran semakin marak saja. Apalagi saat masa-masa kampanye pemilihan umum, pesanan membludak.’
Aldian menanggapi dengan setengah hati, tampak bahwa dia kurang tertarik dengan tawaran Nicholas.”Well, mungkin benar banyak order, tapi jangan kau lupa, banyak juga yang melarikan diri jika mereka kalah di pemilihan umum, Nicky-ssi.”
Nicholas tertawa seketika, lalu tanpa membantah perkatan Aldian, dia berargumen,”Itu resiko bisnis, Sobat. Sebagai pembisnis yang ulung, kurasa kau juga tahu masalah itu.”
Aldian tersenyum tipis. Lalu secara jujur dia mengakui bahwa dunia bisnis adalah hal yang penuh ketidakpastian dan dia belum siap untuk lepas dari nama Lee Corporation, bisnis warisan Ayahnya itu. Pria di depannya hanya manggut-manggut.”Kalau begitu aku akan berdoa supaya ada Sesuatu yang membuat kau terpaksa meninggalkan Lee Corporation,” ujar Nicholas asal.
“Kau ada-ada saja. Lee Corporation adalah awal mula aku dikenal di kancah bisnis Korea, dan aku cukup nyaman di sana.”
“Jangan terlalu lena pada zona nyaman, Aldian-ssi. Karena zona nyaman itu bagai candu. Diriku, misalnya, kalau dipikir-pikir, apanya yang kurang. Sudah jadi pegawai tetap di pencatatan sipil, masih juga berpikir masalah bisnis advertensi,” terang Nicky panjang lebar lalu sambil agak mencondongkan tubuhnya pada Aldian, dia mencoba menekankan kata demi kata yang keluar dari mulutnya,”Ini bisnis hebat, Aldian-ssi. Jika kau tertarik, kita bisa membentuk CV, aku juga sebenarnya ragu melangkah karena menjadi pengusaha adalah hal baru bagiku. Kau sendiri tahu, kan…. Selama lima tahun aku jadi pegawai yang digaji tiap bulan, kenaikan gaji tergantung pangkat, pangkat tergantung pendidikan dan masa kerja, bisa-bisa aku tua dan bongkok pun tidak bisa menjadi kaya, karena itu aku butuh bantuanmu di sini.”
Aldian sontak terpingkal-pingkal mendengar uraian sahabatnya, membayangkan Nicky berubah jadi tua dan bongkok. Untuk menenangkan Nicki, dia berkata,”Oke, aku pikir-pikir dulu kalau begitu, jangan gegabah di kancah bisnis baru, Nicky-ssi.”
Nicholas mengangguk tak iklas. Aldian masih saja menampakkan wajah ramahnya. Saat teringat sesuatu, Aldian mengabarkannya pada Nicholas,” Chintya akan tiba besok.”
“Jeongmal?” Wajah Nicholas berseri seketika. Aldian mengangguk, “Ne.”
“Kontrak kerjanya di Australia sudah kelar?” tanya Nicholas antusias. Sekali lagi Aldian mengangguk,”Dia dipindahkan ke cabang di Korea.”
“Ah, sepupumu itu… Pamannya punya perusahaan besar malah bekerja untuk perusahaan lain,” ujar Nicholas sambil mengibaskan tangan.
“Lalu apa bedanya denganku jika memilih mendirikan CV denganmu,” balas Aldian. Keduanya pun tertawa.
“Lalu dia akan tinggal di sini atau di Villa?” tanya Nicholas.
“Di sini. Karena tempat ini lebih dekat dengan kantornya,” jawab Aldian. “Kenapa kau antusias sekali? Apa kalian masih berhubungan?”
Nicholas menggerakkan bahu seiring hembusan nafasnya lemah.”Dia sepertinya masih marah padaku karena ngamuk-ngamuk saat mendengar kontrak kerjanya di Australia,” sesalnya sambil menggeleng. Hal ini membuat Aldian terkejut,”Jadi selama ini kalian tidak ada kontak?”
Nicholas menggeleng lagi. Aldian menghela nafas.”Aku harap dengan kembalinya Chintya, hubungan kalian akan terjalin lagi.”
“Gumawo doanya,” perkataan Nicholas mengamini ucapan Aldian. “Kau sendiri? Kapan kau menikah lagi? Tiga belas tahun menduda, apa tidak kering?”
Dan jawaban Aldian adalah sama seperti yang lalu-lalu. Jawaban yang selalu dia berikan setiap orang menanyakan kapan menikah lagi adalah tertawa.
Alunan piano di ruang tengah lambat laun memelan lalu berakhir dengan nada yang indah. Telinga Nicholas yang mendengar menyesalinya dan berbisik,”Kenapa suara itu berhenti? Padahal obrolan sedang seru-serunya.”
“Maksudmu?” Aldian bertanya dengan menaikkan alis.
“Suara piano dan lagu merdu itu,” jawab Nicholas. Aldian mulai mengerti maksud sahabatnya, bibirnya segera membulat. “Ini waktunya tidur bagi Joana.”
“Joana?”
“Ne, Joan.”
“Nugu?”
“Adik almarhumah Alicia. Kau lupa?”
Lalu gantian bibir Nicholas yang membulat. Aldian tersenyum.”Dia sangat hebat bermain piano, tehniknya berkembang semenjak kuliah di Seoul Art Cholege.”
“Aku jadi ingin bertemu dia, sebesar apa dia sekarang?” Nicholas jadi sangat ingin melihat sosok Joana, di otaknya membayangkan gadis cilik yang sering ditemuinya delapan tahun yang lalu.
Aldian meraih ponsel dalam saku celananya lalu mengirim pesan singkat pada Joana agar hadir di ruang kerja. Dua menit kemudian terdengar pintu ruangan diketuk. “Masuk, Joan!” perintah Aldian.
Gadis manis itu muncul dari balik pintu, dan duduk di pangkuan Aldian sambil tangannya bergelanyut manja di leher pria tampan itu. “Anyong, Oppa.”
Mata Nicholas terbelalak melihat adegan itu, seorang gadis remaja bertingkah bak anak kecil manja terhadap pria dewasa. Well, jika Joana masih anak-anak seperti tiga belas sampai delapan tahun yang lalu, hal ini sih biasa dilihatnya, tapi sekarang… ? Nicholas jadi menafsirkan lain jika saja tidak tahu kedekatan mereka selama ini. Dan anehnya Aldian tidak risih dengan tingkah adik iparnya, dia malah mencolek hidung mungil Joana dan berkata,”Ada yang ingin bertemu denganmu.” Lalu tangan Aldian mengarahkan wajah Joana ke Nicholas,”Kau masih ingat dia, kan?”
Joana memandang penuh tanya. Alisnya jadi agak berkerut karena mengingat-ingat siapa pria didepannya. Lalu saat memori di otaknya sudah ketemu, dia melonjak girang dan memeluk Nicholas. ”Nicky Oppa!” serunya.
Nicholas terkejut, dia memandang Aldian sementara Joana masih memeluknya erat. Aldian Cuma menaikkan bahu, seperti memberi pernyatan tanpa suara,”Well, begitulah dia.” Pada akhirnya Nicholas membalas pelukan hangat Joana dengan menepuk-nepuk punggungnya. Saat pelukan itu telah terlepas, gadis itu sudah duduk manis lagi di samping Aldian. “Kau sangat cantik sekarang, Joan. Pasti Oppa tidak mengenalimu jika bertemu di jalan.”
“Usianya akan sembilan belas tahun tanggal sembilan nanti. Pestanya diadakan di JW Mariot jam setengah delapan malam, kau datanglah!” undang Aldian sambil mengelus kepala Joan yang bersandar di dadanya.
”Tentu-tentu, Aldian-ssi,” Nicholas menyanggupi undangan itu.
“Joan sayang, kau sudah besar sekarang, jangan manja seperti itu pada Oppamu,” nasihat Nicholas saat semakin risih dengan tingkah kedua orang didepannya itu. Alis Joana jadi berkerut.”Memangnya kenapa, Oppa?”
“Kalau pacarmu tahu lalu cemburu, bagaimana?” Nicholas menjawab pertanyaan Joana dengan pertanyaan.
“Joan tidak punya pacar,” jawab Joana.
Nicholas jadi berdehem, melancarkan tenggorokannya yang tiba-tiba serak.”Kalau ada ular yang bangun bagaimana?” canda Nicholas sambil berkerling ke arah Aldian.
Dahi Joana jadi tambah berkerut.”Ular? Maksudnya?” Lalu Joana mendongak ke wajah Aldian, dan bertanya dengan mimic serius,”Memangnya tadi ada ular masuk ruangan ini, Oppa?”
Nicholas jadi menahan tawa mendengarnya sementara wajah Aldian mulai merah padam.”Aniyo,” jawab Aldian. “Sudah… sudah, kau tidak belajar?”
Joana menggeleng,”Anyi! Aku kan kuliah seni. Buat apa belajar? Main piano tadi juga sudah belajar.”
“Kalau begitu, pergi ke kamarmu dan tidur,” perintah Aldian.
“Ne, Oppa,” Joana mengangguk, berdiri setelah mencium pipi Aldian lalu meminta diri pada Nicholas,”Selamat malam, Nicky Oppa.”
Nicholas berdiri, meraih tangan Joana dan menciumnya.”Selamat malam, Nona manis. Nice dream.” Gadis itu tersenyum dan segera berlalu dari ruangan.
Nicholas geleng-geleng kepala. “Gadis itu lugu sekali, dia benar-benar tidak tahu masalah seks?” tanya pria itu usil. Aldian jadi agak emosi tapi sedapat mungkin dia menahan,”Aku menyekolahkannya di sekolah katolik yang ketat, mungkin itu sebabnya. Baru di masa kuliah ini, aku memasukkannya di Universitas umum.”
“Jadi adegan tadi murni adegan anak kecil yang bermanja-manja pada Oppanya?” tanya Nicholas memastikan.
“Tentu saja,” Aldian menegaskan.”Jangan berpikir yang macam-macam dan jangan racuni gadis itu dengan hal-hal semacam itu tadi.”
“Apa benar dia tidak punya pacar?” Nicholas masih saja penasaran pada Joana. Aldian mengangguk.”Dia akrab dengan beberapa teman pria, tapi belum pernah memperkenalkan salah satu dari mereka sebagai pacarnya.”
“Wah, rupanya kau tahu benar tentang adik iparmu. Asal jangan jatuh cinta saja, Aldian-ssi?” goda Nicholas. Aldian semakin emosi.”Apa maksudmu dengan jatuh cinta? Dia adik Almarhumah Alicia.”
“Oke, kalau begitu… boleh, kan-kalau aku mendekatinya?” goda Nicholas lagi. Aldian jadi tertegun, dia tidak tahu menjawab apa, lalu dengan tergagap dia membelokkan keadaan,”Apa-apaan kau ini? Cinthya akan pulang, kau tadi bilang pingin balikan dengannya. Jangan permainkan Joan, atau ….
“Atau apa?” tantang Nicholas masih dengan kerling menggoda. Suasana hening sejenak. Hati Aldian panas, dan Nicholas mulai menertawakan keadaan itu. Nicholas berdiri tegak di depan Aldian dan berkata,”Tampak semburat cinta di wajahmu pada gadis itu, Sobat.”
Aldian jadi menatap lurus ke arahnya dan dia menghela nafas. “Well, anggap saja anggapanku ini salah, mungkin raut wajah itu hanyalah kekawatiran jika aku mempermainkan Joan tapi orang lain pasti menafsirkan lain, mereka pasti mengira kau cemburu.”
Aldian mengelak. “Omong kosong!”
Nicholas mengangkat bahu.”Whatever you are! Aku pulang dulu. … Anyong!” Lalu dia berjalan menuju pintu dan keluar. Aldian jadi berpikr ulang terhadap sikapnya barusan. Selama ini hubungannya dengan Joana adalah kakak-adik, kini Joana sudah besar, bahkan mereka tidak mempunyai ikatan darah dan gadis itu masih saja bertingkah manja padanya. Ah, tidak… dia berusaha menepis semua itu.
“Ini adalah perasaan antara Oppa dan dongsaeng, bukan antara pria dan wanita,” pikirnya demi meyakinkan perasaan. Tapi ada hal yang tidak Aldian ketahui, bahwa alam selalu menolak kata ‘bukan’ dan ‘tidak’ (B, Rhonda). Bahwa apa yang diyakini terkadang berbanding terbalik pada kenyataannya dan tanpa dia sadari, di hatinya berlaku hukum alam itu.
Bait demi bait lirik lagu ‘Beutifull girl’, secara tak sadar bersenandung di hatinya. Tak dipungkiri, dia mengagumi penampilan Joana waktu pertama kali memasuki ruangan tadi. Gadis itu memang pandai memadupadankan pakaian sehingga tampak apik melekat di tubuhnya yang mungil, dan bau tubuhnya…. Bagaikan aroma sore di musim semi berpadu daun jeruk, Aldian sangat menyukai aroma menyegarkan itu. Serta mata Joana yang lebar dan jernih itu, selalu menatapnya teduh, penuh ketulusan cinta, hingga Aldian mulai bingung dengan perasaannya sendiri.
“ Beautiful girl…, whenever you are…. I knew when I saw you…, you had opened the door…,”senandung lirih terdengar. Aldian menoleh ke samping kanan. Bayangan Alicia sudah duduk di sampingnya, dan mendendangkan bait itu. Aldian tersenyum, Alicia seakan tahu isi hatinya lalu berucap salam,”Anyong, Aldian-a.”
“Kau datang lagi?” tanya Aldian,”Apakah aku perlu bantuan?”
Alicia mengangguk.”Alarm pemadam kebakaranku berbunyi.” kemudian Alicia meneruskan bait syair yang terputus,”…. you said 'hello' and I turned to go …. but something in your eyes left my heart beating so….”
Aldian masih saja tersenyum, namun kini semburat malu tampak di wajah tampannya. Alicia mengkerling menggoda, lalu mendekatkan wajahnya pada Aldian dan mengunci pipi pria itu dengan kedua telapak tangannya. “I just knew that I'd love again after a long, long while….I'd love again.”
Aldian berusaha melepas telapak tangan Alicia dari kedua belah pipinya lalu mencium punggung tangan kanan Alicia lembut.”Perasaan macam apakah ini, Sayang ? Cinta antara Oppa dan Dongsaeng atau cinta pria pada wanita.”
Suara lembut dan dalam dari Alicia terdengar untuk menjawab pertanyaan itu,” Biarkan satu ciuman yang meyakinkan itu semua.”
Aldian mulai memandang penuh tanya, dan Alicia yang seakan tahu arti tatapan itu menjawab,” Dan jika ciuman itu tiba, sekali lagi segala keputusan ada di tanganmu dan….
“Jika keputusan benar yang kuambil, kau mungkin tidak lagi menemuiku,” potong Aldian, dia sudah hafal betul ucapan akhir itu. Sekali lagi Alicia tersenyum, lalu sosoknya lambat laun menghilang dan masih sambil bersenandung yang makin lama makin lenyap pula,”… It was destiny's game, for when love finally came on… .”
Sosok cantik itu lenyap sudah. Aldian hanya terpaku di tempat duduknya. Tidak ! Dia tidak bermimpi, lamunan yang begitu nyata. Alicia muncul di lamunan itu dan masih juga berteka-teki, tapi setidaknya sudah ada satu tanda, sebuah ciuman…. Ya, sebuah ciuman yang akan membuktikan segalanya.
“Beautiful girl, I'll search on for you …. till all of your loveliness in my arms come true…You've made me in love again, after a long, long while …. in love again,” Aldian meneruskan bait lagu yang dinyanyikan Alicia,” and I'm glad that is you...hmmmmm... beautiful girl.”
Senyum indah mulai tersinggung di bibir Aldian di antara perasaan yang masih samar dan membingungkan itu.(Daftar pustaka: B, Rhonda, The Secret, Gramedia…..Wkwkwkwkwk, LOL…..)
BERSAMBUNG