Author Topic: * Bag Scandal * ~Chapter 14 update 290312~  (Read 33691 times)

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Ok guys punk punk punk
Silahkan menikmati chapter 2 nya semoga bisa menghibur fakir minsun semua [smiley-gen013] [smiley-gen013] [smiley-gen013]...


Additional Cast :

Choi Min-Su - Minki Lee adalah ayah dari Lee Min Ho

Lee Mi Sook - Sonia Lee adalah ibu dari Lee Min Hol

Kwon Hae Hyo - Henry Goo adalah ayah dari Goo Hye Sun

Choi Myung Gil - Myra Goo adalah ibu dari Goo Hye Sun



Chapter 2


Di ruangan kantor yang besar dan elegant dengan lantai mengkilap yang didesain dengan sedemikian rupa dan sangat mewah bagi orang awam melihatnya bukan terlihat seperti ruang kerja tapi istana karena lantainya terbuat dari marmer dan dinding dihiasi lukisan dari pelukis terkenal, di di sisi kanan dan kiri berdiri kokoh rak yang penuh dengan buku-buku tebal. Di sudut dekat pintu masuk ada sofa hitam berbentuk hurup L dan di dinding seberang sofa bertengger tv LCD besar yang dilengkapi dengan sound system di sudut-sudut dinding. Di belakang meja duduk seorang pemuda tampan yang mukanya terlihat keruh yang tangannya memukul-mukul meja di depannya sampai file dan laptop serta semua benda yang ada di atas meja bergetar. Sepertinya ia sangat marah dan melampiaskan kemarahan ke meja yang tidak bersalah jika saja ada orang di sampingnya mungkin orang tersebut sudah babak belur di buatnya.

Lee Min Ho :
Bagaimana bisa aku dipermainkan oleh gadis sial itu. “Heh dasar sial..” umpatnya kepada dirinya sendiri.
“Kenapa aku harus mengikuti kemauannya…aku khan bisa saja langsung ke rumahnya dan jika dia tidak mau membukakan pintu, aku bisa saja mendobraknya. Tapi apa kata  orang jika nanti tersiar kabar pewaris Lee’s mendobrak rumah seorang gadis hanya karena tidak sabar untuk mengambil tas yang tertukar…haahh tidak…” Semua itu berkecamuk di otaknya yang seakan membuat kepalanya mau pecah memikirkannya.
“Tapiii…gadis itu cantik…sangat cantik malah walaupun aku jarang bergaul dengan gadis-gadis tapi aku bisa melihatnya dia beda dengan yang sering aku lihat…wajahnya mulus, matanya besar dan bibirnya ranum…walaupun tubuhnya terlihat kurus tapi semuanya sempurna…hahhh…apa yang aku pikirkan sih…tetap saja dia gadis pembawa sial…untuk apa aku memikirkannya yang penting tasku cepat kembali.”

Min Ho menggeleng-gelengkan kepalanya dan berdiri dari kursinya untuk menuju ke ruang rapat ketika hpnya berbunyi.

“Yeoboseyo…” Suara Min Ho terdengar malas.

“Min Ho-ya…ini eomma…gwenchana nak…?” Tanya Sonia Lee khawatir mendengar Min Ho menjawab dengan ogah.

“Eehhh…Gwenchana eomma…Ada apa eomma menelpon ?” Sahut Min Ho tanpa basa-basi karena ia tahu pasti ibunya tidak akan menelpon jika tidak ada yang dia mau dan pasti bukan urusan kerjaan karena hal itu biasanya yang menghubunginya sekretaris mereka Mr. Park.

“Ooh…Tidak ada apa-apa Min Ho-ya… Eomma hanya mengingatkan tentang pertemuan penting besok malam…Eomma sudah memberitahu kamu minggu lalu dan kami tidak ingin pertemuan ini gagal hanya karena kamu tidak bisa datang…arasso..?” Sahut Sonia Lee menegaskan.

“Arasso eomma…tapi…jika boleh saya tahu pertemuan itu penting bagi saya atau bagi eomma dan appa…?” Min Ho tahu pertanyaan ini tidak di sukai oleh ibunya.

“Min Ho-yaa….Kamu akan tahu sendiri besok malam jadi jangan sampai kamu telat…Kami sudah mengatur makan malam itu 1 bulan yang lalu agar bisa terlaksana karena kamu tahu sendiri kita semua sibuk… Ingat anakku!...”  Jawab Sonia Lee dengan tegas.

“Iya eomma…saya usahakan…” Sahut Min Ho sekenanya.

“Bagus….Eh iya Min Ho…Makan malam di restoran hotel Goo pukul 7 malam…Ingat jangan sampai telat!!!” Sonia Lee mengingatkan lagi.

“Iya eomma…Iya, saya ingat...” Sahut Min Ho kesel kemudian terdengar suara klik tanda hubungan telpon diputus sepihak.

***********

Di depan Café Manolin.

Jam sudah menunjukkan pukul 08.02 malam tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran Hye Sun. Min Ho sudah menunggu 5 menit tapi yang di tunggu tidak kelihatan batang hidungnya, ia mulai kelihatan kesel dengan memukul-mukul kap lotus merah di sampingnya. Min Ho orang yang menghargai waktu dan ia tidak suka orang yang buat janji dengannya telat. Mulutnya sudah komat-kamit mengeluarkan kejengkelannya lalu masuk kembali ke dalam mobil dan bermaksud berlalu dari situ ketika dilihatnya seseorang berjalan mendekatinya dari arah belakang mobil. Min Ho tidak langsung ke luar tapi memperhatikan siapa yang datang dari kaca spion. Kelihatannya seorang gadis   menenteng sesuatu ditangannya. Penampilan gadis itu sederhana dengan celana hitam dan hodie abu-abu.

Min Ho ke luar lagi dari mobil dan bersandar dengan menyilangkan tangan di dada ketika melihat yang datang adalah orang yang ditunggunya. Hye Sun semakin mendekat dan memicingkan matanya karena cahaya remang-remang melihat ke Min Ho untuk memastikan bahwa ia orang yang mau ditemuinya.

 

“Hei …Gadis sial…ini sudah pukul berapa heeh..?” Kata Min Ho sengit.

“Tahu…sekarang pukul 08.05 malam…kenapa memangnya?” Sahut Hye Sun dengan tampang tidak bersalah.

“Kamu tahu gadis sial heh….berapa lama saya menunggu di sini…?” Sahut Min Ho tambah sengit.

“Hei…nama saya Goo Hye Sun bukan gadis sial…dan anda kira ini salah saya ya….jadi anda menunggu la_…” Belum selesai Hye Sun bicara sudah dipotong.

“Iya…saya tahu…ini salah anda yang datang telat…saya tidak suka menunggu apalagi oleh kamu dan saya tidak suka dipermainkan oleh kamu…arasso ?” Min Ho mukanya sudah merah menahan marah.

“Oh ho ho ho….Anda menyalahkan saya….Apakah anda ingat kita janji di mana ?” Hye Sun mulai habis kesabarannya menghadapi Min Ho yang merasa dirinya benar.

“Iya…saya ingat di depan Café Manolin, memangnya anda pikir saya sudah pikun apa..?” Jawab Min Ho tidak mau kalah sambil berkacak pinggang.

“Oh begitu…lalu apa anda sadar…anda sekarang berada di depan Café Manoiln atau di seberang jalannya..?” Hye Sun berusaha untuk tidak tetawa.

“Omo…?” Min Ho menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil memperhatikan lingkungan disekitarnya. Ia merasa malu telah salah karena tadi waktu mau belok ke Café Manolin ada mobil ngebut yang membuatnya malah berbelok ke seberangnya tapi ia tidak suka mengakuinya.

“Yaa…sama saja khan…kita tidak janji bertemu di dalam Café tapi di luar, jadi terserah saya mau menunggu di mana…Sekarang mana tas saya, serahkan?” Min Ho mengulurkan tangannya untuk mengambil tas tapi Hye Sun diam saja tidak bereaksi.

Min Ho sadar tas Hye Sun masih di dalam mobil kemudian ia mengambil tas di jok belakang. Ia bergerak mendekati Hye Sun untuk menukar tas. Hye Sun menyerahkan tas ke tangan kanan Min Ho dan tangannya yang lain bermaksud meraih tas di tangan kiri Min Ho tapi tas itu malah dilemparkan dengan kasar oleh Min Ho ke samping Hye Sun. Hye Sun dongkol sekali melihat kelakuan Min Ho, ia menggerutu dalam hati tidak ingin lagi bertemu dengan pemuda sombong itu sambil memungut tasnya dan dilihatnya Min Ho sudah berlalu dari situ tanpa mengatakan apapun…”Dasar pemuda yang tidak tahu sopan santun” kata Hye sun menggumam.

Min Ho tersenyum licik setelah melempar tas Hye Sun, ia masuk ke dalam mobilnya dan menstarter mobil bermaksud pergi ketika matanya tertumpu pada tas yang diletakkan di jok di sampingnya tidak ada namanya tergantung. Min Ho berpikir mungkin gantungan namanya copot tapi tidak ada salahnya mencoba kemudian ia ambil tas dan memasukkan pin tapi tas tidak terbuka  lalu dicobanya lagi dan tetap saja tidak terbuka.
Min Ho memukul stir dengan mulut maju merasa di tipu oleh Hye Sun, ia melihat di kaca spion Hye Sun belum jauh berjalan maka ia cepat ke luar dari mobil dan setengah berlari menyusul Hye Sun.
Begitu dekat ditariknya tas Hye Sun sampai terlepas yang membuat Hye Sun kaget dan hampir jatuh untung saja ia cepat berpegangan pada tiang listrik yang ada didekatnya.

“Anda….apa-apaan anda berbuat begitu heh…?” Hye Sun masih berusaha mengatur nafasnya karena kaget.

“Hei gadis sial…Kamu mau menipu saya yaa…?” Min Ho kelihatan sudah sangat marah.

“Apa maksud anda?…Itukan tas anda yang tertukar kemaren… dan saya tidak membukanya walaupun saya bisa melakukannya jika saya mau.” Hye Sun tidak gentar menghadapi kemarahan Min Ho.

“Tas saya katamu..?.... Ini bukan tas saya tahu…. Tas kamu saya tahan sampai kamu mengembalikan tas saya yang sebenarnya.” Min Ho mengeluarkan ultimatum dan meletakkan tas di samping Hye Sun kemudian berlalu dari tempat itu.

Hye sun hanya bengong dengan mulut ternganga bagaimana ia menemukan tas pemuda itu pikirnya dan kemudian Hye Sun sadar kalau ia belum tahu nama pemuda itu.

“Hei…Tunggu….tunggu sebentar..”

Min Ho berhenti sebentar dan menoleh ke belakang.

“Mwo..?”

“Bagaimana saya menemukannya…?” Tanya Hye Sun.

“Itu urusan kamu bagaimana caranya…Yang saya tahu tas saya harus segera kembali…Arasso..?” Sahut Min Ho tidak perduli.

“Tapiii….” Hye Sun jadi bingung sendiri  menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Apa lagi…?” Tanya Min Ho tidak sabar ingin buru-buru pergi.

“Ehhh…. Nama anda siapa dan…bagaimana caranya nanti saya menghubungi anda?” Tanya Hye Sun sambil menggigit jarinya.

“Ehmf… Nama saya Min Ho…Lee Min Ho…dan kamu bisa menghubungi saya lewat nomor yang ada di hp kamu…” Min Ho memperhatikan Hye Sun yang kelihatan ragu-ragu.

“Apa nomor saya sudah kamu hapus heh…?” Tanya Min Ho kesel melihat tingkah Hye Sun.

“Eee…eee… Iya..” jawab Hye Sun gugup sambil menunduk dalam hati ia berkata siapa mau menyimpan nomor telpon yang orangnya selalu marah dan tidak sopan begitu.

Min Ho menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian mengambil hp dari kantong jasnya dan memencet nomor Hye Sun.

Hye Sun kaget hpnya berdering lalu mengambilnya dan dilihatnya sederet nomor yang telah mengganggunya sejak dini hari tadi muncul lagi.

 

Min Ho melihat Hye Sun hanya diam memperhatikan layar hpnya jadi makin jengkel.. “Hei…kenapa bengong…simpan nomor itu, jangan sampai di hapus lagi dan ingat segera temuka tas saya!…arasso..?”

Hye Sun hanya mengangguk, di otaknya banyak pertanyaan yang mengelayut. Bagaimana ia menemukan tas Min Ho? Lagi pula ia tidak sempat melihat muka orang yang menabrak mereka kemaren. Terus kenapa harus ia yang mencari dan disalahkan ? Bukan salahnya jika tas mereka tertukar…”Heeh aku pusiiing!!” Hye Sun memukul-mukulkan tangan ke kepala.

***********

Jam sudah menunjukkan pukul 08.30 pagi ketika Hye Sun ke ruang makan untuk sarapan, ayahnya sudah tidak terlihat hanya ibunya yang lagi asyik membaca koran.

“Good morning mommy…Annyeong Haseyo.”

Myra Goo menyibak korannya ketika Hye Sun menyapanya dan duduk didepannya.

“Oh good morning Hye Sun…Gwenchana?” Tanya Myra Goo melihat muka Hye Sun yang lesu.

“Gwenchana mommy...”

“Mommy perhatikan kamu tidak seperti biasanya bangun siang selama kembali dari Amerika…Apa kamu marah sama mommy dan dady karena memaksamu kembali ke Korea?” Tanya Myra Goo menyelidik.

“No…saya hanya kelelahan saja mommy…” Kata Hye Sun berbohong dan tidak berani memandang ibunya. Matanya tertumpu pada sarapan di depannya dan memasukkannya ke mulut dengan malas. Ia pusing dan bingung memikirkan bagaimana caranya menemukan tas Min Ho sampai-sampai acaranya bertemu teman-temannya di Café Manolin tadi malam dibatalkan karena ia kehilangan semangat untuk bercengkrama padahal sudah lama mereka tidak bertemu.

“Oh baguslah kalau begitu….Nanti mommy akan kirim petugas spa untuk melulur kamu di sini jadi kamu bisa istirahat dan tidak perlu ke luar rumah sehingga pada waktu makan malam nanti kamu terlihat segar.” Myra Goo berbicara tanpa mengalihkan matanya dari koran yang dipegangnya.

“Makan malam…?” Hye Sun kelihatan bingung.

Myra Goo melipat dan meletakkan korannya ke meja, matanya beralih ke Hye Sun…“Apa kamu lupa Hye Sun-ya..?.. Nanti malam kita akan membicarakan wasiat terakhir haraboji-mu sambil makan malam di hotel.”

Hye Sun ingat kemaren siang ibunya memang memberitahunya bahwa akan ada pertemuan penting nanti malam berkaitan dengan wasiat kakeknya. Hye Sun diminta datang ke butik langganan ibunya untuk mengepas baju yang sudah dipesan oleh ibunya. Awalnya Hye Sun menolak karena ia masih punya banyak baju bagus yang bisa dikenakan tapi ibunya memaksa dan tidak mau dibantah.

“Ehhmmp…Mommy tidak mengatakan tentang makan malam hanya berkata bahwa ada pertemuan penting tentang wasiat haraboji…” Sahut Hye Sun mengelak sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Myra Goo berdiri mendekati putrinya dan mencium keningnya.

“Mianae…mommy lupa memberitahu kamu tentang makan malam…sekarang mommy mau pergi ke hotel untuk mempersiapkan semuanya…mungkin mommy dan dady tidak pulang dan menunggu di sana tapi mommy sudah minta hair styles untuk mendandani kamu nanti secantik mungkin…Ok, Sayang.”

“Ok, Mommy..” Hye Sun mencium pipi ibunya. Myra Goo meraih tas dan pergi menuju pintu ke luar dengan senyum bahagia.

Hye Sun bingung dengan sikap ibunya dan semua persiapan yang dilakukan untuknya. Berbagai pertanyaan muncul dikepalanya….Pasti ada sesuatu yang direncanakan orang tuanya.

************[/color]

Note : Mian gak ada picunya dah berkali-kali upload gak iso-iso photobucket dan picasa malah error  banghead banghead banghead terus dari tadi mana lemot lagi  [guns] [guns]
Nanti klo dah bisa aku edit lagi....
« Last Edit: March 09, 2010, 09:41:01 am by Amira »