Author Topic: "I HEART YOU" HIATUS  (Read 12689 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Re: "I HEART YOU" SUMMARY WITH CAST
« Reply #15 on: February 28, 2011, 05:55:27 am »
I HEART YOU © VOLDI ‘unyunyuuu’

FAIRISH © ESTI KINASIH

CENAT-CENUT 1
[/b][/u][/size][/color]

Gerbang utama Shinwha School akan segera ditutup kurang dari tiga menit lagi. Sementara cewek itu—cewek berambut panjang, pendek, tapi berwajah unyu masih berada di trotoar yang berjarak 100 meter dari gerbang. Hell, Zeus pun tahu bahwa anak itu tidak mungkin selamat.

2 menit menjelang eksekusi.

...........................

50 detik menjelang hukuman mati.

...........................

35 detik menjelang—

“TUNGGU AHJUSIIIIII!!!” teriakan si gadis unyu itu mengalihkan perhatian sang satpam bertubuh gembul tapi berpipi tirus yang tadinya akan menutup gerbang. Ia memicingkan matanya karena ia menderita rabun jauh. Si gadis unyu melambaikan kedua tangannya ke udara, memancing perhatian si satpam padanya. Berhasil. Dengan kecepatan kilat si satpam itu membuka pintu gerbang seluas corp cycle di Jogja. Hye Sun—si gadis unyu—tersenyum sumringah. Dalam hati ia berdoa kepada Dewa Jashin agar si satpam diberikan sandal jepit akhir bulan ini (?).

Dengan napas yang ngos-ngosan Hye Sun menghampiri satpam tadi. Masih dengan senyum lebarnya ia membungkuk dihadapan satpam itu. “Gamsahamnida, ahjussi.” kata Hye Sun dengan suara imutnya. Gak wajah gak suara, sama-sama imut. Uuuhh....Goo Hye Sun onnie unyuuuu~~

Si satpam hanya memandangnya heran. Kedua alisnya terangkat tinggi-tinggi. Hye Sun tanpa mengacuhkan alis si satpam yang bisa saja terbang ke antariksa saking tingginya langsung berlari masuk ke dalam halaman sekolah yang luasnya naudzubillah. Si satpam terus mengikuti gerakan Hye Sun lewat mata sipitnya. “Kenapa anak itu?”

Beberapa detik setelah Hye Sun masuk, sebuah mobil sport berwarna hitam melesat masuk. Meninggalkan si satpam gembul berpipi tirus bermata sipit tadi yang hampir terjengkang ke belakang. Mobil sport itu terus melaju hingga rem cakramnya terdengar tepat di depan gedung utama Shinwha School. Dari dalam mobil turun seorang pemuda jangkung dengan tampang bak dewa Apollo. Dengan angkuhnya ia berjalan masuk kedalam gedung.

Hye Sun yang berlari dengan kecepatan 1000 tahun cahaya terus-terusan mengomel tak jelas. Permasalahannya hanya satu; IA TAK TAHU DIMANA LETAK HALL SHINWHA SCHOOL! Demi Aphrodite, ia benar-benar bisa dihukum mati jika ia terlambat—padahal ia memang sudah terlambat lebih dari lima menit. Diarahkan pandangannya ke seluruh penjuru lantai satu. Banyak koridor, banyak lorong, banyak ruangan, dan banyak lantai. Ia bingung harus melewati jalan yang mana. Tapi sepertinya Dewi Aphrodite masih menyayangi Hye Sun yang diyakini masih keturunan Aphrodite saking imutnya. Matanya menangkap siluet pemuda jangkung yang berjalan ke arahnya. Ia memakai seragam yang sama dengan Hye Sun. Tapi jalannya itu loooh...lambat kek siput, angkuh kek kucing persia. Jidat Hye Sun berkedut, perempatan mulai muncul di jidat putihnya. Dengan langkah lebar-lebar ia mendekati pemuda itu.

“Jalanmu lambat sekali sih.” tanpa basa-basi, tanpa perkenalan, Hye Sun langsung menunjuk pemuda itu plus bentakan dengan suaranya yang bisa merobohkan Namsan Tower.

Si pemuda jangkung hanya mengernyit. Ia memandang Hye Sun dari atas kebawah, keatas lagi, kebawah lagi. Alisnya semakin bertaut. Oke oke, penampilan Hye Sun emang gak banget pagi ini. Rambut panjangnya yang dikuncir kuda acak-acakan, blazer hitam yang dipakainya kusut, dan roknya terdapat sedikit noda, dan jangan lupakan sepatu Convers merahnya yang kumal minta ampun.

Hye Sun memonyongkan bibirnya ketika dilihatnya reaksi pemuda corettampancoret ini tidak sesuai dugaannya. Tanpa menunggu jawaban—sebenarnya sih Hye Sun tidak butuh jawaban, ia kan tidak bertanya—Hye Sun langsung menarik tangan pemuda itu sehingga mau tidak mau si pemuda harus mengikuti langkah Hye Sun.

“Kau tahu dimana letak Hall sekolah gila ini? Oh Tuhan, aku bisa jadi perkedel goreng kentang kalo terlambat. Ya ya ya...aku tahu aku memang sudah terlambat, tapi lebih baik terlambat kan daripada tidak hadir di upacara penerimaan murid baru. Ugh, padahal kan ini pertama kalinya aku menghadiri upacara penerimaan di sekolah elit. Di SMP dulu aku tidak sempat soalnya aku masuk rumah sakit gara-gara kecapekan belajar. Malahan yang kudengar, pemilik sekolah ini mau berpidato loh. Aku kan penasaran ingin melihat secara langsung siapa si Lee Min Ho itu, kata orang dia itu playboy tapi homo, tidak tahu apa maksudnya. Tapi banyak yang bilang juga kalo dia itu tampan, Dewa Apollo saja kalah. Aku sih berdoa saja semoga Dewa Apollo tidak menyerang si Lee Min Ho itu karena ia merasa kalah tampan. Aku masih ingat, waktu itu aku punya bla bla bla yang bla bla bla lalu kemudian bal bla bla terus terus kau tahu...bla bla bla...” Hye Sun terus bercuap-cuap sepanjang jalan dengan tangannya yang masih bertautan erat dengan tangan pemuda jangkung itu. Sedangkan si pemuda terus-terusan tersenyum misterius. Dan tanpa Hye Sun sadari, genggaman tangannya dibalas tak kalah erat oleh pemuda tampan itu.

“INI DIA HALL-NYA!!” Hye Sun berteriak histeris ketika ia sudah menemukan ruangan besar yang dari luar sudah terdengar suara-suara orang banyak. Ia menoleh ke arah pemuda yang berada dibelakangnya, “Ayo masuk.” Lagi-lagi, tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari yang bersangkutan, Hye Sun dengan seenak dengkulnya menyeret pemuda itu masuk kedalamnya.

Upacara memang sudah dimulai. Tapi Hye Sun yang notabene siswa paling cuek memilih berjalan ke barisan paling belakang. Tak peduli ia berada di kelas yang mana yang penting ia berbaris. Masih dengan menyeret si pemuda Apollo ia nyengir ke beberapa anak lain yang menatapnya aneh dan...kagum? orang terlambat kok dikagumin. Tak berapa lama ia dan pemuda itu berbaris, sekelompok orang berjas mendatangi keduanya. Mereka berbungkuk hormat ke arah Hye Sun. Ah, tidak tidak...tapi ke arah...

Dengan gerakan slow motion yang berlebihan Hye Sun menoleh ke belakang, iris coklatnya bersibobrok dengan tatapan tajam pemuda Apollo. Si pemuda Apollo tersenyum misterius sekali lagi. Kemudian dengan lembut ia mengacak rambut Hye Sun dan berkata, “Jangan terlambat lagi ya, Junior.”

Mulut Hye Sun sontak ternganga dengat tidak elitnya. Ia memiringkan kepalanya sehingga sebagian rambutnya yang tidak terikat menutupi pipi sebelah kanannya dan itu membuatnya semakin unyuu...~~ Dengan tangan yang dimasukkan ke dalam kantung celana dan wajah yang sudah di setel sedatar mungkin, pemuda itu meninggalkan Hye Sun masih dengan kebingungannya.

Sepeninggalan si pemuda Apollo dan orang-orang berjas tadi seorang siswa perempuan yang berbaris di hadapan Hye Sun menepuk bahunya pelan. “Sejak kapan kau kenal dengan Min Ho sunbae? Kau pacarnya ya?”

Ee-eeeeh???

CENAT-CENUT 1 IS TUBERCULOSIS (TBC)

Hiyaaaaaaaa....kentang kentang kentang!!!!!! Maaf...kan saya ratu kentang *nyengir watados*. Yang saya sudah sms dan mau membalas sms saya, makasih banyak yaaa....ada yang jawab kucing, burung merak, serigala, tikus got, Anaconda peliharaan Orochimaru, makasiiiiih.... humornya garing banget yak, maksa lagi. Maaf...saya orangnya datar jadi emang kurang kerjaan buat humor kriuk-kriuk kek gitu. Curcol dikit boleh?? BENTAR LAGI SAYA UJIAN PRAKTEK!! HAHAHAHAYY!! Astagah, gak nyangka banget, bentar lagi saya mau LULUS *insya allah, amin* terus terus terus...saya ngetik chap ini sambil dengerin lagunya Peterpan yang judulnya Semua Tentang Kita, alhasil saya harus nyiapin banyak tisu disamping karena saya ingat terus sama kenangan-kenangan waktu masih kelas satu dan dua. Apalagi pas kelas dua...beuuuhh......percaya deh, saya siswa paling cuek yang ada disekolah.

Oke, cukup sesi curcolnya... GIMME A FEEDBACK??
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME