ETERNITY DALAM ELEGI © VOLDI FT ITARAYA
[/size]
Warning : CERITA BERBELIT-BELIT, GAJE, TAK MASUK AKAL, SINETRON BANGET, VOLDI PAKE AGAMA KRISTEN DALAM FICT INI, JADI MOHON MAAF JIKA NONKRISTEN, KENTANG KHAS ITARAYA *gw juga sih*. UPDATE MUNGKIN AKAN LAMA KARENA MASING-MASING PUNYA KESIBUKAN *tapi tetap posting fict*
[/size]
CHAPTER 3 PART 1
[/size]
Tubuh jangkung Min Ho terasa sangat menjulang di hadapan Hye Sun. GLEK. Hye Sun menelan ludahnya dengan susah payah. Baik, jika ia memang ia ingin dipecat langsung saja pecat, tidak perlu bosnya ini harus menunjukkan betapa tingginya ia. Dia pasti ingin membunuhku, inner Hye Sun mulai bicara ngawur.
“Kenapa kau takut padaku? Aku tidak menggigit kok.” Seringaian khas Min Ho muncul di wajahnya membuat Hye Sun semakin ketakutan. “Kau dipecat.”
Hanya dua kata itu yang terucap tapi sanggup membuat Hye Sun menghela napas lega sekaligus sedih. Lega karena ia akan segera terbebas dari bos, ehm maaf, mantan bosnya ini dan sedih karena...ayolah, zaman sekarang cari kerjaan susah. Nyari duit harus susah payah dulu. Dan hanya karena masalah sepele Hye Sun harus memulai segala usahanya dari awal lagi. Poor Hye Sun.
Hye Sun mengangguk singkat dan kemudian berbalik menuju pintu keluar. “Apa aku menyuruhmu keluar?” Suara bariton itu membuat Hye Sun terhenti, perlahan ia berbalik dan menatap Min Ho dengan pandangan bertanya.
“Maksud tuan?”
“Mulai sekarang kau kuangkat jadi asisten pribadiku. JANGAN MENOLAK!” tegas Min Ho ketika dilihatnya bibir Hye Sun sudah terbuka setengah. Tubuh Hye Sun mengkeret dibawah tatapan tajam Min Ho. Dengan tertaih-tatih (?) ia berkata, “Ne, tuan.”
“Bagus. Besok jam 9 pagi kau sudah harus berada disini. Sekretarisku akan memberitahukan padamu apa-apa saja yang harus kau lakukan. Jangan lupa berikan alamatmu dan nomor ponselmu padanya, kalau nanti ada apa-apa aku gampang menghubungimu. Araso?”
Sekali lagi Hye Sun harus mengkeret. Ia masih berdiri di tempatnya ketika Min Ho sudah akan keluar dari ruangannya.
“Eh, tuan.”
Min Ho menoleh singkat padanya, “Ada apa.”
“I-itu, gajiku...” Hye Sun mengaruk pelan tengkuknya dengan gugup.
“500.000 won. Setuju?”
Mata Hye Sun membulat sempurna mendengar penawaran gaji yang ‘waw’ itu. Dan tanpa pikir dua kali Hye Sun mengangguk lagi. “Ne. Setuju.” Ia tersenyum lebar ke arah Min Ho yang disambut pandangan bertanya.
“Apa uang sebegitu berarti untukmu?”
Hye Sun hanya tersenyum sumringah.OoO
[/color]
Kenderaan padat merayap di jalanan distrik sembilan Seoul. Jarum jam sudah menunjukkan pukul lima sore dan itu sudah waktunya pulang. Anak sekolahan, pegawai kantoran, tumpah ruah di trotoar-trotoar. Klakson-klakson mobil mulai bising tatkala beberapa pejalan kaki melanggar rambu lalu lintas. Disalah satu mobil di jalanan itu adalah mobil pribadi Min Ho yang dikemudikan oleh sekretasisnya. Di jok belakang duduk dengan manis Hye Sun disamping Min Ho yang sibuk dengan I-pad-nya.
“Kau mengatakan sesuatu kepada teman-temanmu?” tanya Min Ho memecah keheningan yang sudah tercipta selama kurang dari setengah jam yang lalu.
“Ne? Mengatakan apa maksud tuan?”
Tanpa memandang Hye Sun, Min Ho melanjutkan, “Tentang pekerjaan barumu. Dan gajimu.” Dikalimat terakhirnya Min Ho sedikit menyeringai.
“I-ituu...untuk apa memberitahukan kepada mereka? Kupikir semua pekerjaan sama. Semua manusia tidak ada yang berbeda, mungkin hanya tingkat iman saja yang berbeda.”
“Mwo?” Min Ho menoleh pada Hye Sun dengan kening terangkat, “Semua pekerjaan sama? Yyaa...Goo Hye Sun-ssi, kupikir kau belum tahu apa itu kejamnya hidup, hm?”
Sekali lagi pertanyaan Min Ho hanya terbalaskan dengan senyuman.
“Ah, berhenti saja di sini tuan Jang.”
Mobil yang dikendarai mereka berhenti dengan pelan di pinggir jalan. Min Ho memandang Hye Sun lagi dengan kening terangkat, “Bukankah rumahmu masih jauh? Kenapa turun dekat sini?”
“Eehehehe...saya ingin singgah di gereja sebentar. Tidak apa-apa. Saya bisa pulang dengan bus. Terima kasih atas tumpangannya tuan.” Kemudian dengan segera Hye Sun turun dan melangkah masuk kedalam sebuah bangunan tua. Min Ho masih mengikutinya dengan pandangan. Keningnya semakin terangkat ketika dilihatnya Hye Sun memberikan uang kepada seorang kakek tua yang sedari tadi berdiri disamping mobilnya.
‘Gadis aneh.’
“Kembali ke apartemen, tuan Jang.”
Beberapa detik kemudian, sedan mewah itu kembali melaju membelah padatnya jalanan kota Seoul. Satu pikiran yang terus membebani Min Ho malam itu, tentang perkataan Hye Sun.
‘Semua manusia tidak ada yang berbeda, mungkin hanya tingkat iman saja yang berbeda. Apa maksudnya?’
Hye Sun disambut dengan pelukan-pelukan erat dari anak-anak yatim piatu ketika ia sampai di dalam gereja. Dilihatnya Ah In sedang membacakan dongeng pada beberapa anak yang duduk di kursi roda. “Oppa.” Sapanya.
Ah In menoleh kearahnya dan melemparkan senyuman lembut. Tiba-tiba dari arah belakang seseorang menepuk lembut bahu Hye Sun, seketika Hye Sun menoleh. “Suster. Anyong.” Hye Sun memeluk suster tua itu dengan erat.
Suster kepala yang tubuhnya sudah ringkih hanya tertawa didalam pelukan Hye Sun. “Sudah lama kau tidak kemari, sayang.”
“Hehehe. Miane, suster. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk.”
Keduanya lalu mendekati Ah In dan anak-anak kurang beruntung itu. Dan kemudian hanyut dalam haru dan kegelian berkat tingkah laku mereka yang sering kali diluar nalar pemikiran orang dewasa.“Didunia ini hanya ada dua jenis manusia.”
“Apa itu, omma?”
“Manusia yang jahat dan manusia yang baik. Manusia hanya dibedakan oleh iman, Hye Sun-a. Hanya itu. Kau paham kan?”
[/color]
>>>>>>>>------<<<<<<<<<
[/color]
SAYA STUCK!!! Terserahlah. Part dua masih tanggung jawab saya.