I HEART YOU © VOLDI ‘unyunyuuu’
FAIRISH © ESTI KINASIH
CENAT-CENUT 2
[/color]
Sudah lebih dari tiga minggu Hye Sun menjadi siswa Shinwha School, dan selama lebih dari tiga minggu pulalah Hye Sun mendengar bisik-bisik mengenainya. Dimulai dari;
‘Waaah...beruntung sekali dia bisa berpacaran dengan Min Ho-ssi.’
Atau
‘Ikh...Min Ho-ssi kok bisa ya pacaran dengan si cebol itu?’
Sampai yang paling parah
‘Dia pakai pelet apa sih sampai Min Ho-ssi jatuh cinta padanya?’
Dan jangan tanya apakah Hye Sun sudah menyangkal semua itu. Yak, jawabannya adalah TIDAK!! Bagaimana ia bisa membuat konferensi pers? Uang tak punya, teman tak ada, dan orang-orang hanya mau mendekatinya dalam radius lima meter. See? Ia tidak punya pilihan untuk tetap membiarkan gosip-gosip itu semakin panas karena kebungkamannya. Plus, sang Pangeran Sekolah yang entah kenapa juga membiarkan gosip itu tetap bertahan dipuncak HOT GOSSIP majalah sekolah.
“Psst...itu dia.”
Bisikan ke 69 yang didengar Hye Sun pagi ini sejak ia tiba. Seolah sudah terbiasa dengan semua itu ia berjalan dengan acuh ke arah kelasnya. Ia menempati kelas Special X-A, kelas yang dimana semua siswanya punya prestasi akademik hingga internasional. Kelas itu berada di lantai tiga (“Demi kolor nenek, kenapa harus lantai tiga sih?”) dan itu artinya Hye Sun harus berjalan melewati koridor kelas dua belas untuk menaiki tangga dan itu juga berarti ia harus bertemu si Pangeran Sekolah—yang entah bagaimana selama tiga minggu terakhir sejak pertemuan terakhir mereka di Hall—sudah tidak kelihatan lagi batang hidungnya.
Dengan menundukkan kepala sebagai tanda hormat Hye Sun berjalan melewati setiap kerumunan kakak-kakak kelasnya. Cowok-cowok ribut bersiul ke arahnya sedangkan cewek-ceweknya JANGAN TANYA!! Ooohh...oke-oke. Kuberitahu, para ceweknya sekarang tengah asyik mengasah golok, parang, curit, pisau, silet (?), sampai-sampai sudah menyiapkan cambuk. Bohong ding...para ceweknya sekarang tengah menatap Hye Sun dengan pandangan kok-bisa-sih-lo-yang-jadi-ceweknya-pangeran-bukannya-gue-yang-lebih-bahenol atau mati-aja-lo.
Hye Sun menelan ludahnya dengan gugup. Siapa juga yang tidak takut melihat pandangan dan aura membunuh dari sekeliling yang ditujukan kearahnya. Dengan langkah cepat—hampir berlari Hye Sun menuju tangga. Tapi baru dua langkah ia berjalan—berlari—sesosok tubuh jangkung menghalanginya. “Tidak usah terburu-buru, manis.”
Hye Sun mendongak. Seorang pemuda berkumis lebat seperti tetangganya yang kemarin mati tertabrak gerobak es krim walls berdiri angkuh menghadang langkahnya. Spontan Hye Sun mundur beberapa langkah melihat sosok raksasa nan menyeramkan itu. Tapi punggungnya tiba-tiba bertabrakan dengan keras dengan dada bidang seseorang yang entah sudah berapa lama berdiri dibelakangnya. Ia berbalik dengan slow motion andalannya. “K-kau..?”
Great, sekarang Hye Sun tengah diapit dua tubuh pemuda. Bedanya, yang satu—yang kumisnya lebat— mukanya kek Sakhrul Khan keselek aspal, dan satunya lagi berwajah bak Dewa Apollo. “Ada perlu apa kau menghalangi jalannya?” tanya si dewa Apollo pada si kumis lebat.
Si kumis lebat mengkeret dibawah tatapan tajam dewa Apollo. “So-sosengheyo, Min Ho—ssi.” Ia membungkuk 90° dihadapan dewa Apollo—yang dalam kasus ini namanya Lee Min Ho.
Min Ho memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana seragamnya dan mengangkat dagunya menatap si kumis lebat. “Kau seharusnya minta maaf pada gadis ini.”
Si kumis lebat berbalik menghadap Hye Sun dan kemudian membungkuk lagi, “Sosengheyo, Hye Sun—ssi.”
Mata Hye Sun melebar, ia mundur selangkah sambil mengibaskan tangannya dengan panik. “A-aaah...ti-tidak apa-apa. Sungguh. Bangunlah, sunbae. Sungguh tidak apa-apa.”
Dan kemudian si kumis lebat berbalik badan dan mengambil langkah seribu. Anak-anak yang tadinya berkerumun didekat mereka bertiga segera ikut ngacir karena tidak ingin mendapat tatapan tajam si Pangeran. Sekarang tinggal Min Ho yang sedang menatap Hye Sun dengan intens seakan-akan jika Min Ho melepaskan pandangannya sedetik saja Hye Sun bisa pecah. Sedangkan Hye Sun tidak tahu harus berbuat apa, ingin pergi tapi takut dimarahi Min Ho, ingin tetap tinggal tapi pandangan membunuh dari kakak-kakak kelasnya belum juga hilang walaupun sudah mulai berkurang. Rona merah mulai menjalar diwajahnya ketika tahu Min Ho tengah menatapnya dengan serius.
“Pulang sekolah. Taman belakang kota. Tidak datang berarti kau cari mati. Araso?”
Mulut Hye Sun menganga lebar, ia menatap Min Ho dengan bingung. “Ne?”
“Maaf adikku yang manis, tidak ada siaran ulang.” Ia menyeringai melihat wajah merengut Hye Sun yang unyuuuu itu. Sebelum ia berbalik, ia mengacak rambut Hye Sun yang kali ini di urai, “Aku lebih suka rambutmu seperti ini daripada waktu itu.”
Min Ho berjalan meninggalkan Hye Sun dengan gaya jalannya yang seperti biasa—angkuh dan kedua tangannya dimasukkan kesaku celana—meninggalkan Hye Sun yang rona merah diwajahnya sudah dalam tahap mengkhawatirkan. Dan jangan lupakan para fangirs Pangeran yang menjerit melihat adegan ‘mesra’ keduanya. Setelah menghela napas dan merutuki nasibnya yang ‘buruk’ Hye Sun berbalik menuju kelasnya.>>>>>>>---------<<<<<<<<
[/color]
Selama seharian Hye Sun tak bisa berkonsentrasi dalam pelajaran. Pikirannya terus menerus melayang ke perkataan Min Ho di koridor kelas dua belas. Hatinya bimbang memutuskan apakah harus datang atau tidak. Dan setelah makan kemenyan dan bercurhat tetesan air mata pada penunggu di toilet sekolah, Hye Sun akhirnya memutuskan untuk BERANGKAT!! Toh tak ada ruginya, pemuda titisan Apollo itu tidak mungkin membunuhnya kan? Tapii...taman belakang kota? Itu kan tempat yang sangat sunyi. Bagaimana kalau si Apollo membunuhnya, kemudian memutilasi tubuhnya menjadi delapan bagian lalu potongan-potongan tubuhnya di buang di sungai? Atau mungkin sebelum dibunuh ia akan diperkosa dulu? Yah, kurang lebih pikiran-pikiran seperti itulah yang menjadi beban Hye Sun seharian.
Dan bel dari surga pun berbunyi. Kalo biasanya para siswa akan meneriakkan ‘SAVE TO THE BELL’ Hye Sun lain lagi. Ia berteriak, “KENAPA CEPAT SEKALI WAKTU PULANG SIIIH??” yang dihadiahi tatapan mematikan dari seluruh penjuru kelas. Dengan langkah lemas Hye Sun berjalan keluar kelas menuju gerbang sekolah. Sesampainya di depan gerbang—selangkah lagi melewati garis gerbang—Hye Sun terdiam. Sorot kebimbangan terpancar jelas di kedua matanya. Kalau ia memilih jalan sebelah kanan, itu berarti ia menutuskan untuk pulang. Sedangkan jika ia memilih yang kiri, ia berarti harus bertemu si Apollo dan membiarkan adegan-adegan sadis membayanginya sepanjang perjalanan. Hye Sun akhirnya menutup kedua matanya, batinnya berbisik; “Jika kau takut menghadapi sesuatu, maka tutuplah kedua matamu. Sebutlah nama ayah dan ibu, dan yakinlah kau akan menjadi pemenang. Hanya kau.” Spontan mata Hye Sun terbuka lebar. Keningnya berkerut dan bibirnya mengkerucut, kalian tahu apa penyebabnya. Yak benar sekali. Kalimat barusan adalah dialog yang ada di film India yang berjudul Kabhi Kushi Kabhi Gham. Kenapa malah kepikiran itu sih? Batinnya kesal.
Hye Sun menghela napas panjang. Sudah diputuskan, ia akhirnya mengambil jalan sebelah.............
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[/color]
Hahaha!! Kecewa ya? Khu khu khu... sorry. Lanjut yuuk...
Hye Sun menghela napas panjang. Sudah diputuskan, ia akhirnya mengambil jalan sebelah kiri. Dengan memantapkan hati bahwa imannya sudah kuat jika ia mati nanti, Hye Sun melangkah dengan semangat yang terlalu berlebihan. Tanpa disadarinya bahwa pemuda yang sedang dipikirkannya sedari tadi telah mengamatinya dari kejauhan. Dengan bersandar pada mobil sport hitamnya dan gaya andalannya, Min Ho menatap Hye Sun.
Seringai. “Kau beruntung, adik manis.”CENAT-CENUT 2 IS TUBERCULOSIS (TBC)Kok gue merasa ff ini kek teenlit yak?? tengks buat free yang mau repot-repot bantuin gue
![[lovestruck]](http://www.smfnew.com/Smileys/default/lovestruck.gif)
GIMME A FEEDBACK??