Author Topic: Never Forget You (SPOILER FOR NEXT CHAPTER)  (Read 9673 times)

minsunlover

  • Guest
Chapter 4

Jan Di dan Hyun Joong berjalan bergadengan tangan menyusuri pinggiran kota Busan pada malam harinya. Di atas langit, bintang-bintang bertaburan dengan indahnya menemani sang rembulan menyinari kelamnya malam. Setelah mendapatkan limpahan rezeki dari bernyanyi di tempat Jan Di bekerja tadi siang, Hyun Joong pun mengajak Jan Di untuk makan malam bersama. Acara makan malam itu bukanlah merupakan acara makan malam di suatu restoran mewah dengan aneka menu lezat yang menelan biaya yang besar, sebaliknya itu hanya merupakan acara makan malam sederhana di sebuah kedai makan kecil yang menjual aneka macam ramen di pinggiran kota Busan. Setelahnya mereka berdua pergi berjalan-jalan disebuah pasar malam yang letaknya tak jauh dari tempat mereka makan tadi.
 
Lima tahun sudah Jan Di dan Hyun Joong membina hubungan percintaan mereka. Pertemuan pertama mereka berawal ketika Hyun Joong dan keluarganya pertama kali pindah ke Busan setelah mereka diusir dari tempat tinggal mereka sebelumnya di Ulsan karena tidak mampu membayar uang sewa. Saat itu, Hyun Joong mencari nafkah dengan bernyanyi di pinggiran jalan di sebuah pasar yang biasa didatangi oleh Jan Di setiap hari. Awalnya Jan Di memang sama sekali tidak pernah memperhatikan pria berwajah tampan dan bersuara merdu yang selalu menyanyikan lagu-lagu yang romantis itu sampai ketika suatu saat pria tersebut menolongnya untuk menangkap seorang pencuri yang membawa kabur dompetnya. Sebagai rasa terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh Hyun Joong saat itu, Jan Di kemudian mengundangnya untuk makan di tempat ia bekerja dan sejak saat itulah keduanya menjadi dekat sampai pada suatu hari di musim dingin lima tahun yang lalu, Hyun Joong memberanikan diri untuk “menembak” Jan Di.

“Apa kau senang malam ini?” Tanya Hyun Joong sambil menatap wajah Jan Di.

“Ne” Jawab Jan Di sambil membalas pandangan Hyun Joong. “Aku sangat senang sekali malam ini. Gomawo Oppa”

Hyun Joong tersenyum mendengarnya. Ia semakin mempererat genggamannya pada Jan Di. “Aku yang seharusnya berterima kasih, Jan Di-aa. Jikalau kau tidak memaksaku untuk bernyanyi di restoran tadi siang mungkin saat ini aku tidak akan memiliki uang yang lebih seperti yang saat ini kudapat”

“Kau tidak perlu berterima kasih padaku, Oppa. Aku senang bisa membantumu” jawab Jan Di lembut.

“Lain kali jikalau ada rejeki lebih lagi aku akan mentraktirmu untuk nonton film, Jan Di-aa” janji Hyun Joong.

Jan Di hanya tertawa kecil. “Lain kali jikalau kau punya rejeki lebih lagi sebaiknya kau gunakan untuk membiayai keperluan hidupmu dan keluargamu saja, Oppa…..” jawabnya.

Hyun Joong memandang pujaan hatinya tersebut. Sejak dulu Jan Di memang selalu bijaksana dalam hal penggunaan uang. Setiap uang yang diperolehnya selain dipakainya untuk membiayai keperluan hidupnya sehari-hari pasti selalu ditabung olehnya. Tak pernah ia lihat Jan Di menghambur-hamburkan uang yang miliki untuk hal-hal yang tidak penting. Yaa memang kadang kala Jan Di juga sering mengajak ia dan keluarganya ataupun juga Shin Hye untuk makan diluar bersama sesekali, tetapi itupun tidak sampai yang terlalu berlebihan.

“Tapi kau kan sangat suka menonton film Jan Di-aa” papar Hyun Joong “Aku sering melihat kau memperhatikan poster film-film yang sedang dan akan beredar setiap kali kita melewati gedung bioskop”

“Iya, aku memang sangat suka menonton film, tetapi aku juga tahu bahwa kau juga sedang membutuhkan banyak biaya untuk keperluan hidup keluargamu sehari-hari juga biaya uang sekolah adik-adikmu….jadi lebih baik uang yang kau peroleh kau gunakan saja untuk hal itu”

Hyun Joong menghentikan langkahnya. Perkataan Jan Di tadi sangat menyentuh hatinya. Tidak ia sangka bahwa gadis itu sangat memperhatikan akan kondisi hidup keluarganya. “Kau tahu, Jan Di-aa…aku sangat beruntung bisa memilikimu”

“Aku juga beruntung bisa bertemu denganmu, Oppa. Kau adalah orang yang sangat baik dan penuh perhatian kepadaku selama ini”

Hyun Joong tersenyum kecil “Itu semua karena aku sangat mencintaimu, Jan Di-aa….” Ujarnya sebelum akhirnya ia menekan bibirnya secara lembut namun mesra ke bibir kekasihnya tersebut.

Ciuman tersebut terasa sangat manis. Jan Di merasa begitu terbuai olehnya. Ia pun langsung melingkarkan kedua lengannya ke leher Hyun Joong dan bermaksud untuk memperdalam ciuman tersebut, namun tiba-tiba saja Hyun Joong menarik dirinya dan mengakhiri ciuman tersebut. Jan Di hanya bisa berdiri tertegun sambil menatap Hyun Joong. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah yang menyebabkan Hyun Joong tiba-tiba menarik dirinya?

“Baiklah….kurasa ini adalah saat yang tepat” kata Hyun Joong.

“Saat yang tepat untuk apa?” Tanya Jan Di kebingungan. Ditatapnya wajah tampan Hyun Joong dengan serius.

“Saat yang tepat untuk ini….” tiba-tiba saja Hyun Joong berlutut di depan Jan Di. Lalu kemudian ia mengeluarkan sebuah benda kecil yang bulat dari dalam saku celananya. Jan Di kemudian mengenali bahwa benda kecil yang kini tengah dipegang oleh Hyun Joong itu adalah sebuah cincin langsung tersentak kaget. Awalnya ia memang bingung akan apa yang hendak dilakukan oleh Hyun Joong dengan berlutut di depannya seperti ini, tetapi kini setelah ia melihat akan cincin tersebut ia menjadi paham dan mengerti akan apa yang hendak dilakukan oleh Hyun Joong.

“Geum Jan Di…” Ujar Hyun Joong seraya meraih tangan kanan Jan Di dengan sebelah tangannya yang bebas sementara tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk menggenggam erat cincin tersebut. “Sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh hati padamu. Saat itu memang kau sama sekali tidak memperhatikan aku, tapi aku selalu memperhatikanmu. Hanya dengan melihat wajahmu yang cantik dan manis saja setiap hari sudah membuat hatiku bahagia dan setelah aku mengenalmu duniaku pun menjadi semakin berwarna. Hari-hari yang telah kita lalui bersama selalu membawa kenangan yang indah dalam hidupku, Jan Di karena setiap hari yang kulalui bersamamu merupakan saat-saat terindah dalam hidupku dan aku sama sekali tidak mau menukar semua itu demi apapun di dunia ini. Maka dari itu, aku ingin agar kita dapat selalu bisa melewati setiap hari bersama-sama seumur hidup kita” Hyun Joong berhenti sejenak untuk mengambil napas dalam-dalam sebelum ia mengucapkan kalimat terpenting yang selama ingin ia ucapkan kepada pujaan hatinya tersebut…

“Geum Jan Di, apakah kau bersedia untuk menjadi istriku?” Ia mengangkat kepalanya dan memperhatikan wajah Jan Di yang berdiri tepat di depannya. Tampak olehnya mata Jan Di telah berkaca-kaca setelah mendengar kalimat yang ia ucapkan tadi. “Aku memang tidak bisa menjanjikan suatu kehidupan yang mewah dan berkelimpahan kepadamu, Jan Di-aa. Aku juga tidak bisa memberikanmu suatu kehidupan laksana seorang ratu di dalam istana yang megah. Tapi aku berjanji, Jan Di-aa bahwa sampai akhir hayatku kau adalah ratu di hatiku dan aku akan selalu membahagiakanmu dan juga melindungimu seumur hidupku”

Lalu tiba-tiba setetes air mata mengalir dari mata Jan Di sesaat setelah Hyun Joong mengakiri ucapan-nya tersebut. Ia sungguh-sungguh tidak mampu berkata apapun juga. Kaget, bahagia dan juga rasa cemas dan kuatir bercampur-aduk di dalam dirinya saat ini sehingga akhirnya yang bisa ia lakukan hanyalah berdiri diam membisu.

“Jan Di-aa….” Panggil Hyun Joong pelan, namun Jan Di masih saja diam seribu bahasa. Akhirnya Hyun Joong memutuskan untuk berdiri dan mengoyangkan tubuh Jan Di secara lembut untuk menyadarkannya. “Jan Di-aa…” panggilnya lagi. Diletaknnya jemari tangannya di dagu gadis tersebut untuk mengangkat wajahnya.

“Oppa…” ujar Jan Di ketika pandangan mereka akhirnya bertemu.

“Ada apa, Jan Di-aa?” Tanya Hyun Joong cemas “Apakah kau tidak mau menikah denganku?”

Jan Di menggelengkan kepalanya “bukan begitu, Oppa…”

“Lalu ada apa? Kenapa kau diam saja?” Tanya Hyun Joong kembali semabri menghapus air mata yang kini mulai mengalir di pipi Jan Di.

“Aku takut, Oppa…” jawab Jan Di.

“Apa yang kau takutkan, Jan Di-aa?”

“Oppa…kau tahu bagaimana kondisiku saat ini bukan? Walaupun aku mencintaimu dan juga sangat bahagia bisa berada disisimu, tapi aku takut jikalau suatu saat nanti aku memperoleh kembali ingatanku yang hilang semua hal yang kurasakan padamu itu akan berubah” ujar Jan Di sambil menangis tersedu-sedu. Hyun Joong kemudian meraih tubuh mungil gadis tersebut dan memeluknya dengan erat.

“Jikalau hal itu terjadi, Jan Di-aa….aku pasti akan bisa membuatmu untuk kembali jatuh cinta kepadaku” kata Hyun Joong meyakinkan sambil memberikan ciuman hangat di kening Jan Di “Aku tidak akan membiarkan siapapun dan apapun memisahkan kita, Jan Di-aa”

“Oppa…”

“Karena itu, apakah kau bersedia untuk menikah denganku, Jan Di-aa?” Tanya Hyun Joong kembali.

“Ne Oppa…aku bersedia untuk menikah denganmu” jawab Jan Di sambil tersenyum.

Hyun Joong lalu kembali memberikan ciuman mesra di kening Jan Di. Kemudian ia meraih tangan Jan Di bermaksud untuk memakaikan cincin emas yang sedari tadi digenggamnya di jari manis Jan Di. Namun ketika ia hendak memasangkan cincin itu, tampaklah olehnya bahwa Jan Di masih mengenakan cincin perak yang berukirkan inisial “LMH” dijari manisnya.

“Jan Di-aa…kurasa sudah saatnya kau mengganti cincin itu dengan cincin ini” kata Hyun Joong.

Jan Di menundukkan kepalanya untuk memandang cincin perak yang melingkar manis di jarinya tersebut. Memang telah berulang kali ia ingin untuk menanggalkan cincin tersebut, tetapi entah mengapa setiap kali ia hendak melakukannya, setiap kali itu pula keinginannya untuk tetap mempertahankan cincin itu agar tetap melingkar di jari manis tangan kirinya semakin besar. Jan Di memang selalu merasakan suatu perasaan yang aneh setiap kali ia memandang dan menyentuh cincin tersebut.

“Miane Oppa…tapi aku tidak bisa melepaskan cincin ini” tukas Jan Di “Cincin ini adalah satu-satunya benda yang berkaitan dengan masa laluku, Oppa. Ini adalah satu-satunya benda yang menghubungkan aku dengan kehidupanku dimasa lalu maka dari itu aku sama sekali tidak akan pernah bisa untuk melepaskan cincin ini, Oppa. Miane…jeongmal miane”

Hyun Joong menghela napas dengan berat. Sebenarnya walaupun ia tahu bahwa cincin itu sangat penting bagi Jan Di, tapi tetap saja ia tidak menyukai akan keberadaan cincin tersebut. Terutama dikarenakan oleh insial nama yang terukir didalam cincin itu “LMH”. Jan Di pernah berkata padanya bahwa mungkin saja LMH itu adalah merupakan singkatan dari namanya yang sebenarnya, tapi Hyun Joong sama sekali tidak berpikir demikian. Jikalau dilihat dari bentuknya, cincin tersebut bukanlah tergolong cincin biasa. Cincin tersebut jikalau diperhatikan dengan seksama tampak sepeti sebuah cincin pertunangan atau mungkin pernikahan. Lagipula sepanjang yang ia tahu jarang sekali ada orang yang mengukir namanya sendiri di dalam cincin yang mereka kenakan. Jikalau seseorang mengenakan cincin yang terdapat ukiran inisial nama dibalik cincin tersebut, besar kemungkinan bahwa ukiran inisial nama tersebut merupakan nama dari pasangan orang tersebut.

Hyun Joong memang pernah memikirkan akan hal ini, yaitu bahwa ada kemungkinan bahwa Jan Di telah bertunangan atau bahkan telah menikah. Tetapi setelah ia pikirkan dengan seksama, jikalau memang benar seperti itu keadaannya kenapa selama sepuluh tahun ini tidak ada seorangpun yang datang untuk mencarinya? Juga mengenai perihal ingatan Jan Di yang hilang, ia memang juga sama seperti Jan Di mengkhawatirkan jikalau suatu saat nanti ingatan Jan Di akan pulih kembali…tetapi sama seperti pandangannya terhadap cincin tersebut, sudah sepuluh tahun berlalu sejak Jan Di mengalami amnesia dan selama itu pula Jan Di sama sekali tidak bisa mengingat walau hanya sedikit pun hal mengenai kehidupannya dimasa yang lalu, sehingga Hyun Joong akhirnya berkesimpulan bahwa ingatan Jan Di tidak akan pernah pulih kembali.

“Baiklah, aku mengerti akan hal itu Jan Di-aa” kata Hyun Joong setelah berpikir agak lama “Aku tidak akan memintamu untuk melepaskan cincin itu, tetapi bagaimana jikalau kau memindahkan posisinya saja sehingga aku dapat mengenakan cincin ini dijari manis tangan kirimu ini?”

Jan Di tersenyum. Ia lalu kemudian mencopot cincin perak tersebut dari jari manis tangan kirinya untuk kemudian dipindahkannya ke jari manis tangan kanannya. Dan kini cincin emas pemberian Hyun Joonglah yang melingkar menghiasi jemari putihnya tersebut.

“Miane Jan Di-aa, aku tidak bisa membelikanmu cincin yang baru. Ini adalah cincin milik ibuku, almarhum ayahku yang memberikannya ketika ia meminta ibu untuk menikah dengannya, dan kini dengan cincin peninggalan ayah untuk ibu aku ingin melakukan hal yang sama seperti yang telah dilakukan oleh ayahku dulu” ujar Hyun Joong beberapa saat sebelum ia menyelipkan cincin tersebut ke jari manis Jan Di.

“Tetapi aku berjanji, Jan Di-aa bahwa mulai saat ini aku akan bekerja lebih giat lagi agar nanti aku dapat membelikanmu sebuah cincin baru yang akan kau kenakan di hari pernikahan kita nanti” tambah Hyun Joong sembari mencium lembut tangan Jan Di.

 Jan Di hanya bisa tersenyum manis. Rona bahagia terpancar dari wajahnya saat ini. “Aku tidak membutuhkan cincin yang baru, Oppa….asalkan kau berada di sisiku, aku sudah merasa sangat bahagia” katanya.

Hyun Joong sangat tersentuh mendengarnya. Ia lalu melingkarkan lengannya di pinggang Jan Di dan membawa gadis itu ke dalam dekapannya sebelum akhirnya ia menyatukan bibirnya dengan bibir Jan Di dalam sebuah ciuman yang mesra.

~oOo~

Seoul

“Mino-ssi….”

Lee Min Ho membalikan badannya ketika mendengar suara seseorang memanggil namanya. Kemudian terlihatlah olehnya sosok seorang wanita seksi yang berambut panjang sebahu dan memakai pakaian yang minim datang mendekat kearahnya. Mino menghela napas sesaat setelah ia mengenali siapa wanita yang datang mendekat kearahnya tersebut. Ia adalah Son Ye Jin, salah satu aktris yang sangat terkenal di Korea saat ini. Banyak orang yang menobatkannya sebagai aktris Ratu dunia perfilman Korea karena prestasinya yang melimpah dalam dunia tersebut.

“Ye Jin-ssi….apa kabar?” ujar Mino kepada wanita itu.

Son Ye Jin merapatkan tubuhnya kepada Mino untuk memberikan kecupan di kedua pipi actor tampan tersebut. Mino yang mendapatkan perlakuan itu hanya bisa terdiam kaku saja. “Aku baik-baik saja, Mino-ssi” Ujarnya sambil tersenyum kepada lawan bicaranya. “Bagaimana dengan kabarmu sendiri?” kini giliran ia yang bertanya sambil bergelayutan manja di lengan Mino.

“Aku?....aku juga baik” Jawab Mino, sedikit risih atas apa yang dilakukan Ye Jin kepadanya.

“Sungguhkah?” Ye Jin mendekatkan wajahnya kembali kearah Mino, tapi kali ini bukan untuk memberikan ciuman kepadanya, tetapi untuk memperhatikan wajah tampan bak dewa yang ada di depannya itu dengan teliti. “Tampangmu tidak menunjukan bahwa kau baik-baik saja, Mino-ssi” ujarnya sambil menyetuh bagian pipi Mino yang berwarna biru gelap.

“Aahh…” Mino sedikit kesakitan ketikan Ye Jin menyentuh lebam di wajahnya yang diakibatkan oleh pukulan Geun Suk pada saat ia mengunjungi makan Hye Sun kemarin.

“Apa yang terjadi, Mino-ssi? Apa kau berkelahi dengan seseorang?” Tanya Ye Jin kuatir. Kini ia mulai membelai-belai bagian lebam di pipi Mino tersebut sambil sesekali meniupnya seolah-olah dengan berbuat seperti itu lebam tersebut akan langsung hilang dalam sekejap mata.

“Tidak apa-apa…” Ujar Mino. Ia menaikan tangannya dan menyentuh tangan Ye Jin dengan maksud agar tangan wanita itu menjauh dari pipinya karena jujur saja ia merasa tidak nyaman dengan semua perhatian yang diberikan oleh Ye Jin kepadanya saat ini.

“Kau ini….masih saja berdusta” ujar Ye Jin dengan nada sedikit kesal “Kalau kau punya masalah, kau bisa menceritakannya padaku, Mino-ssi”

Mino melihat ke arah gadis itu. Ia tahu dan sangat sadar bahwa Ye Jin memiliki perasaan khusus kepadanya. Hal itu sudah ia rasakan sejak pertama kali mereka bertemu. Mulai dari gayanya berbicara, bahasa tubuhnya dan juga segala jenis perhatian yang diberikan gadis itu kepadanya memang sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa gadis itu memang mempunyai suatu perasaan khusus kepadanya. Manager dan juga teman-temannya pun sudah seringkali mengatakan akan hal ini. Mereka semua bahkan sangat bersemangat untuk mempersatukan Ye Jin dengan dirinya karena bagi mereka jikalau Mino dapat jatuh cinta lagi maka ia akan dapat melupakan segala kepedihan dan penderitaan yang ia rasakan semenjak kematian Hye Sun. Minho sendiri, bukannya ia tidak suka pada Ye Jin, hanya saja  apa yang ia rasakan terhadap gadis itu hanyalah sebatas teman dan rekan kerja saja, tidak lebih daripada itu sehingga sangat susah baginya untuk membuka hati bagi cinta yang ditawarkan oleh Ye Jin.

 “Aku tidak mau merepotkanmu dengan semua masalahku, Ye Jin-ssi” kata Mino menganggapi permintaan Ye Jin. Dalam hati ia berharap agar Ye Jin dapat menangkap maksud “Tolakan secara halus”-nya ini.

“Anyi! Aku sama sekali tidak merasa repot dan keberatan jika kau mau menceritakan masalah-masalahmu padaku. Aku justru akan sangat senang sekali, Mino-ssi” Ujar Son Ye Jin.

Mino hanya bisa menarik napas saja mendengarnya. Ye Jin tampaknya selalu punya jawaban untuk mematahkan semua ucapannya. “Gomawo” akhirnya hanya itu yang dapat ia katakan karena sekarang ini pikirannya sudah terlalu lelah untuk mencari kalimat penolakan bagi Ye Jin.

Ye Jin tersenyum senang. Digandengnya lengan Mino sambil menuntunnya untuk berjalan menyusuri lorong panjang di salah satu station televisi terbesar di Korea. Beberapa waktu yang lalu mereka berdua telah mendapat tawaran untuk bermain bersama di sebuah drama. Karena alur ceritanya yang mereka berdua nilai cukup menarik, maka mereka pun setuju untuk bermain bersama di dalam drama tersebut.

“Mino-ssi” kata Ye Jin memecah kesunyian yang terjadi antara dirinya dan Mino selama mereka berjalan berdua. Mino memang selalu lebih banyak diam jika ia sedang berada bersama Ye Jin. Jarang sekali ia berbicara dan mengutarakan pendapat dan isi hatinya kepada gadis itu. Bahkan jarang juga Mino berinisiatif untuk membuka percakapan diantara mereka.

“Hmm?” jawab Mino datar

“Apa kau tahu bahwa nanti kita akan syuting juga di wilayah Busan?” Tanya Ye Jin.

Mino menoleh kepadanya “Tidak, aku sama sekali tidak tahu akan hal itu. Kau mendapat informasi dari mana?” katanya.

“Tadi aku bertemu dengan pak sutradara dan beliau mengatakan bahwa pengambilan gambar pertama nanti akan dilakukan di wilayah Busan” jelas Ye Jin.

“Oh ya? Lalu kapan kita akan berangkat kesana?” Tanya Mino lagi.

“Kita akan berangkat kesana dua hari lagi” jawab Ye Jin.

“Mwo?!! Dua hari lagi?!” Mino tampak sangat terkejut mendengar jawaban Ye Jin tersebut. Mereka akan berangkat lusa namun selama ini sama sekali tidak ada yang mau bersusah payah untuk memberitahukan akan rencana itu kepadanya, bahkan managernya sekalipun.

“Apa kau memang sama sekali tidak mengetahui hal ini, Mino-ssi” Tanya Ye Jin heran

“Anyi….aku sama sekali tidak tahu. Kalau begitu aku harus segera pulang untuk bersiap-siap” tukas Mino sambil melepaskan dirinya dari Ye Jin dan bergegas untuk pulang.

“Tunggu, Mino-ssi” panggil Ye Jin ketika Mino sudah berlari meninggalkan dirinya.

“Ada apa? Apa masih ada lagi yang perlu kuketahui tentang syuting di Busan?” ujar Mino sambil menghentikan larinya.

“Tidak…bukan begitu, hanya saja bagaimana jikalau aku ikut pulang ke rumahmu sekarang ini sehingga aku bisa membantumu untuk berkemas-kemas?” kata Ye Jin memberi saran.

Mino yang mendengarnya hanya bisa melongo saja. “Dhe?”

“Aku bisa membantumu menyiapkan segala keperluan yang kau butuhkan selama syuting di Busan nanti, Mino-ssi” ulang Ye Jin.

“Ah….tidak perlu. Aku akan meminta bantuan dari managerku saja untuk menyiapkan segala keperluanku nanti. Lagipula daripada kau membantuku untuk berkemas-kemas lebih baik kau berkemas-kemas untuk dirimu sendiri saja” kata Mino. Lalu setelah itu ia langsung lari meninggalkan Ye Jin seorang diri disana.

Ye Jin yang ditinggal seorang diri oleh Mino hanya bisa tersenyum kecut. Tadinya ia sudah berharap agar Mino memperbolehkannya untuk ikut pulang bersama ke apartemennya, tapi ternyata ia malah ditolak mentah-mentah oleh Mino. Tak apa, toh kami akan bersama terus selama syuting ini berlangsung. Lagipula masih ada satu hal lagi yang tidak diketahui oleh Mino bahwa kami berdua nanti harus beradegan ranjang di drama ini. ujar Ye Jin dalam hati.

~oOo~

Busan
Tiga hari kemudian

Mino sedang berjalan-jalan seorang diri menikmati keindahan kota Busan. Ia dan juga para kru drama baru saja tiba disini kemarin malam dan mereka telah langsung memulai syuting perdana untuk drama terbarunya pada pagi harinya. Waktu kini telah menunjukan bahwa tiba saatnya untuk mereka beristirahat sejenak sebelum melanjutkan syuting. Sementara yang lainnya memilih untuk beristirahat dengan hanya duduk-duduk saja di lokasi syuting, Mino malah memilih untuk memanfaatkan saat break-nya ini dengan berjalan-jalan di sekitar lokasi syuting tersebut. Ia bersyukur bahwa syuting kali ini belum melibatkan lawan mainnya, sehingga ia leluasa menikmati waktu luangnya seorang diri saja tanpa adanya gangguan dari pihak-pihak yang lain.

Dengan berbekal kaca mata hitam dan sebuah topi kupluk, Mino akhirnya pergi mengitari daerah-daerah disekitar kawasan tersebut. Ketika ia sedang berjalan-jalan di tepian pantai, tiba-tiba telinganya mendengar suara seseorang sedang bernyanyi dengan merdunya. Mino kemudian mencoba mencari sumber suara itu. Lalu tampaklah olehnya seorang pemuda yang ia perkirakan berusia sama dengan dirinya sedang bermain gitar sambil bersandar pada sebuah tembok di sebuah sudut jalan. Mino melangkahkan kakinya untuk mendekati pemuda tersebut. Suara yang dimiliki oleh sang pemuda itu sangatlah merdu demikian pula lagu yang sedang ia bawakan juga sangat bagus. Di depan pemuda tersebut banyak sekali orang yang berdiri mengerubunginya hanya untuk mendengarkan suara dan nyanyiannya. Dan tanpa sadar, Mino sudah menjadi salah satu bagian dari kerumunan orang banyak tersebut.

Ketika pemuda tersebut mengakhiri lagunya terdengarlah tepuk tangan riuh dari para penonton yang berdiri mengelilinginya tersebut. Lalu mereka semua secara bersama-sama mulai menuangkan koin-koin yang mereka punya kedalam tempat gitar pemuda tersebut yang saat ini sedang terbuka lebar di depannya. Lalu setelah itu satu per satu dari mereka mulai meninggalkan tempat tersebut untuk kembali kepada aktifitas mereka masing-masing. Hanya Mino saja yang masih berdiri disana. Ia kemudian berjalan mendekati pemuda tersebut lalu menjatuhkan selembar uang won yang bernilai sangat tinggi kedalam “celengan” pengamen tersebut. Sang pengamen yang menyadari akan besarnya nilai pemberian Mino tersebut tampak sangat terkejut. Ia lalu mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk untuk menatap Mino.

“Suaramu sangat merdu juga lagu yang kau bawakan tadi sangat bagus sekali” puji Mino saat pandangan mereka berdua akhirnya bertemu. Ia membuka kaca mata hitamnya dan menatap wajah pemuda terebut.

“Gomawo” kata pemuda itu sambil menundukkan kepalanya sedikit kepada Mino.

"Kenalkan, aku Lee Min Ho" tutur Min Ho sembari mengulurkan tangannya kepada pemuda itu.

"Aku tahu, kau aktor muda yang sangat terkenal itu kan?" Jawab si pemuda sambil menerima uluran tangan sang aktor gagah di depannya itu. Min Ho hanya tersenyum saja mendengarnya. "Aku Kim Hyun Joong" kata si pemuda lagi.

"Senang berkenalan denganmu, Kim Hyun Joong-ssi" kata Min Ho.

"Begitu pula denganku, Lee Min Ho-ssi"

"Apakah kau selalu bernyanyi di tempat ini setiap hari?" Tanya Min Ho.

"Ya. Di tempat inilah setiap hari aku biasa mencari nafkah untuk membiayai hidupku dan juga keluargaku" jawab sang pengamen sambil memasukan beberapa uang receh yang tadi ia terima dari para orang yang terpesona akan suaranya. Angin yang bertiup kencang membuat rambutnya yang berwarna agak pirang itu ikut berkibar. Lee Min Ho hanya diam dan memperhatikannya. Dalam hati ia berpendapat bahwa pemuda yang saat ini sedang berdiri di depannya sangat tampan, ia pun sebagai seorang pria mengakui ketampanan yang dimiliki oleh si musisi jalanan ini.

"Selain di tempat ini, dimana lagi kau biasa bernyanyi?" Tanya Mino kembali. Entah kenapa di dalam dirinya ada suatu perasaan aneh terhadap pemuda ini. Ia merasa bahwa dirinya dan pemuda itu sama-sama "terikat" oleh sesuatu dan oleh karena hal itu pulalah yang menyebabkan ia ingin untuk lebih mengetahui mengenai pemuda itu lebih jauh lagi.

"Aku biasa bernyanyi di restoran tempat tunanganku bekerja" Jawab pemuda tersebut. "Itu dia tempatnya" katanya lagi sambil menunjuk suatu restoran kecil yang terletak tidak begitu jauh dari tempat tersebut. "Tunanganku bekerja sebagai pelayan di restoran itu dan aku sering menyanyi disana"

Min Ho melayangkan pandangannya ke tempat tersebut. Tiba-tiba ia tertegun sejenak. Ada suatu dorongan aneh yang ia rasakan dalam dirinya untuk melangkahkan kaki menuju tempat tersebut. Tempat itu memang bukanlah suatu restoran yang mewah yang biasa ia kunjungi tetapi entah mengapa Min Ho merasa bahwa ada sesuatu -atau bahkan seseorang yang memanggil namanya- dari restoran kecil itu.

Mino baru hendak melangkah menuju tempat tersebut ketika tiba-tiba terdengarlah suara seseorang berteriak memanggilnya

"Lee Min Ho, syuting akan segera dimulai kembali!"

Mino seketika itu juga tersentak dan menoleh kearah sumber suara itu.

"Ya, baiklah...aku akan segera kesana" balasnya. Lalu kemudian ia menoleh ke arah si pemuda tadi untuk mengucapkan beberapa kata terakhir sebelum mereka berpisah.

"Hyun Joong-ssi, apakah kau mau menjadi penyanyi utama untuk film terbaruku nanti? Aku sangat tertarik dengan suaramu dan aku merasa bahwa kau memiliki potensi yang besar untuk menjadi seorang penyanyi terkenal" tawar Mino.

Hyun Joong tampak kaget sekali oleh tawaran tersebut sehingga ia tidak mampu berkata apa-apa untuk menanggapinya.

"Bagaimana?" Tanya Mino kembali "Dengan begitu kau tidak perlu lagi menyanyi di pinggir jalan maupun di restoran kecil itu dan kau pun akan memiliki penghasilan yang jauh lebih besar untuk menafkahi hidupmu dan keluargamu kelak".

"Baiklah! Aku bersedia" Jawab Hyun Joong segera tanpa berpikir panjang lagi. Bayangan bahwa ia akan mendapat penghasilan yang lebih besar saja sudah membuat ia terbuai. Dalam pikirannya ia berpendapat bahwa dengan demikian ia dapat menepati janjinya kepada Jan Di untuk membelikannya cincin yang baru pada hari pernikahan mereka nanti.

"Baguslah! Kalau begitu ini kartu namaku" kata Mino riang. Ia kemudian mengeluarkan dompet untuk mengambil kartu namanya. Tetapi kemudian tiba-tiba foto Hye Sun yang selama ini selalu ia simpan di dalam dompetnya terjatuh ke tanah. Hyun Joong melihat sekilas ke arah foto yang jatuh tersebut. Tampaklah olehnya bahwa gadis yang berada dalam foto itu begitu mirip dengan tunangannya, Geum Jan Di. Tetapi ketika ia hendak melihat lebih jelas lagi untuk memastikan, foto tersebut sudah diambil kembali oleh sang empunya.

"Siapa dia?" Tanya Hyun Joong penasaran.

"Oh dia adalah tunanganku" jawab Mino. Di usapnya foto Hye Sun lembut dengan jemari tangannya. Sinar matanya begitu sayu dan redup serta memancarkan sejuta kerinduan ketika ia melihat foto tersebut.

"Tunanganmu?" Tanya Hyun Joong heran. Bagaimana mungkin Jan Di bisa menjadi tunangan dari pria ini? pikir Hyun Joong dalam hati.

“Wah aku sama sekali tidak tahu bahwa kau sudah bertunangan. Lee Min Ho-ssi. Selama ini tidak pernah terdengar berita akan hubunganmu dengan seorang wanita” ujar Hyun Joong. Ia bermaksud untuk mencari tahu lebih jauh lagi tentang tunangan Lee Min Ho.

Mino hanya tersenyum saja mendengarnya. Wajar saja jika pemuda didepannya ini terkejut pada fakta bahwa ia sebenarnya telah bertunangan dengan sesorang gadis, karena memang selama ini semenjak kematian Hye Sun, ia sama sekali tidak pernah terlibat suatu hubungan percintaan dengan gadis manapun juga.

“Siapa nama tunanganmu itu, Lee Min Ho-ssi” Tanya Hyun Joong

“Namanya Hye Sun. Goo Hye Sun” jawab Mino sambil memasukan foto Hye Sun kembali ke dalam dompetnya.

“Goo Hye Sun?” ulang Hyun Joong

“Ne. Itulah namanya. Nama yang indah bukan? Seindah orangnya jikalau saja kau berkesempatan untuk bertemu dengannya” tukas Mino “Tetapi sayangnya ia sekarang telah tiada”

Hyun Joong tampak terkejut ketika mendengar pernyataan terakhir dari Mino mengenai tunangannya tersebut. “Ia sudah meninggal?” Tanya Hyun Joong.

“Ya, sepuluh tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan ketika kami sedang berpergian dengan sebuah kapal pesiar” jelas Mino.

“Oh, aku turut berduka cita”

“Gomawo” ujar Mino sambil tersenyum “Baiklah, aku sudah harus pergi sekarang. Ini kartu namaku, kau dapat menghubungiku di nomor telepon yang tertera disitu”

“Ne. Gamshahamnida, Lee Min Ho-ss” balas Hyun Joong “Maaf aku tidak bisa memberikanmu nomor teleponku, karena aku sama sekali tidak memiliki telepon. Tapi jikalau kau mau bertemu denganku kau dapat datang saja ke restoran tempat tunanganku bekerja. Aku setiap hari selalu berada disana”

“Baiklah. Senang bertemu denganmu, Kim Hyun Joong-ssi. Sampai Jumpa” kata Mino sambil melambaikan tangannya kepada Hyun Joong sebelum akhirnya ia melangkah pergi dari tempat itu.

Hyun Joong memperhatikan kepergian Lee Min Ho dengan pandangan yang penuh tanda tanya. “Jikalau aku tidak salah lihat tadi, wajah gadis yang menjadi tunangan Lee Min Ho tersebut sangatlah mirip dengan Jan Di”  pikirnya “Ia mengatakan bahwa tunangannya tersebut telah meninggal sepuluh tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan kapal pesiar. Sedangkan Jan Di menurut apa ia ceritakan kepadaku ditemukan terapung-apung oleh para nelayan di lautan sekitar sepuluh tahun yang lalu juga lal menderita hilang ingatan. Jan Di, apakah kau sebenarnya adalah…………………………………”