I HEART YOU © VOLDI ‘unyunyuuu’
FAIRISH © ESTI KINASIH
CENAT-CENUT 3
[/color]
Angin semilir menebarkan rambut panjang Hye Sun. Ia sekarang tengah duduk disalah satu bangku ditaman belakang kota. Bunga kamboja menjadi backroundnya. Sudah lebih dari 15 menit ia duduk dan menunggu si Pangeran, dan hasilnya; gerutuan, rutukan, dan makian yang terdengar. Siapa juga yang tidak kesal, yan membuat janji malah terlambat datang, sudah mengancam pula.
Hye Sun baru saja memutuskan akan pergi ketika suara bariton itu terdengar dari arah belakangnya.
"Mau kemana?"
Hye Sun tanpa mau repot-repot menoleh berkata dengan ketus, "Pulang!"
"Kenapa pulang?"
"Kau terlambat! Dan aku sibuk sekarang!"
"Terlambat? Maksudmu?"
Kali ini Hye Sun menoleh dengan wajah kesal. "Kau terlambat hampir setengah jam, Pangeran! Dan kau sebut itu bukan terlambat? Ternyata hanya wajahmu saja yang tampan, tapi otakmu korslet!" makinya.
Min Ho mengangkat alisnya tinggi-tinggi. "Aku kan tidak bilang pukul berapa kau harus datang. Aku hanya bilang pulang sekolah, dan jam pulang kelas dua belas baru saja."
Hye Sun sweatdrop. Ia memonyongkan bibirnya sembari membuang mukanya ke tempat lain asal tidak melihat wajah tanpa dosa milik pemuda Apollo dihadapannya ini.
"Kau mau jadi pacarku? Aku tahu kau belum punya pacar."
Perkataan Min Ho yang diucapkan dengan nada datar tak ayal membuat Hye Sun terlonjak kaget. Kedua bola matanya membesar, ia menatap Min Ho dengan pandangan horor.
"Tidak." Pukulan telak. Tapi Min Ho hanya menyeringai. Ia berjalan pelan mendekati Hye Sun.
"Aku tahu kau suka melukis. Aku punya seperangkat alat lukis dari buatan tangan Van Gogh asli (bola mata Hye Sun melebar) dan juga lukisannya yang terkenal itu. Setuju jika kau jadi pacarku? Jika iya, semua benda itu akan menjadi milikmu."
"Maaf ya, tuan. Walaupun aku memang menginginkan alat-alat lukis dan lukisan itu, tapi harga diriku lebih tinggi! Kau tidak bisa membeliku!"
Hye Sun baru saja berbalik ketika Min Ho mencekal salah satu lengannya dan menariknya dengan paksa. "Apa aku pernah bilang aku ingin membelimu? Penawaranku hanya sederhana, kau cukup jadi pacarku dan bersikap mesra HANYA dilingkungan sekolah. Diluar itu, aku tidak akan mengganggumu. Setuju?"
Mulut Hye Sun ternganga (lagi).
Tapi Min Ho masih ingin melanjutkan ucapannya. "Aku tidak akan penah mencampuri urusanmu. Hubungan kita hanyalah sandiwara. Dan aku bersumpah aku akan melepaskanmu jika kau sudah bertemu dengan orang yang kau suka. Bagaimana?"
Hye Sun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ini pertama kali dalam hidupnya ia di'tembak' cowok, tapi naas hanya sandiwara. Tak bisa dibohongi, ia juga sangat amat menginginkan alat-alat lukis yang bernilai ratusan juta itu, oh jangan lupakan juga lukisan karya Van Gogh. Walaupun Hye Sun bekerja seumur hidupnya, ia masih tidak akan pernah memiliki lukisan itu.
Dengan pelan Hye Sun mengangguk. Di hadapannya Min Ho tersenyum tipis. "Besok semua barang itu akan dikirimkan kerumahmu. Ayo pulang."
Keduanya lalu berjalan beriringan menuju mobil sport Min Ho yang terpakir tidak jauh. Min Ho langsung masuk tanpa membukakan pintu untuk Hye Sun seperti pria-pria gentle lainnya.
Hye Sun memanyunkan bibirnya. Kesal dengan sikap cuek Min Ho.
'Kok bisa sih dia cuek begitu? Kenapa juga banyak cewek yang suka? Oh tidaaak...dunia kiamat!'
Lamunan Hye Sun terganggu dengan suara klakson mobil. Wajah Min Ho muncul dari balik kaca mobil.
“Mau sampai kau berdiri disitu? Ayo masuk.”
Hye Sun merutuki Min Ho dalam hati. Memang sih mereka hanya pura-pura pacaran, tapi tetap saja Hye Sun kan wanita. Sopan dikit kek. Masih dengan bibir dimonyonkan Hye Sun masuk kedalam mobil mewah itu. Yang kemudian melaju dengan kecepatan tinggi.
Mulai besok, kehidupan Goo Hye Sun akan berubah drastis.OoOoOoOoOoOoOoOoO
[/color]
Kabar bahwa Lee Min Ho berpacaran BETULAN dengan Goo Hye Sun membuat gempar seluruh sekolah di Seoul. Kamis yang indah, tidak seperti biasanya, hampir seluruh siswa Shinwha School berkumpul di gerbang utama Shinwha. Bahkan ada beberapa siswa yang berasal dari sekolah lain. Mereka berkumpul hanya untuk membuktikan dengan mata kepala sendiri bahwa berita itu benar adanya. Karena selama ini, hanya gosip panas yang beredar.
Tak berapa lama, mobil sport hitam itu tiba. Melaju membelah kerumuan para siswa. Tiba didepan gedung utama, Min Ho dengan seragamnya turun dan berjalan menuju pintu penumpang. Teriakan histeris dari para wanita yang patah hati membahana tatkala Hye Sun turun dari mobil. Menghiraukan suara hiruk-pikuk Min Ho langsung menggandeng pinggang Hye Sun, menuntun’gadisnya’ masuk kedalam gedung utama.
Walaupun mereka berdua akan melewati kelas Min Ho terlebih dahulu, tapi Min Ho memilih mengantarkan Hye Sun kekelasnya baru ia turun kembali kekelasnya sendiri. Ia agak khawatir dengan keadaan Hye Sun sejak mereka tiba di sekolah. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya sedikit gemetaran. Tatapan membunuh yang dilayangkan para fangirls Min Ho sekarang lebih terang-terangan. Mereka seakan tidak peduli ada sang Pangeran di samping gadis itu. Maka dari itu, ia tidak akan membiarkan para gadis-gadis kurang kerjaan itu menyakiti Hye Sun. Bagaimana pun, Hye Sun adalah tanggung jawabnya sekarang walaupun mereka hanya bersandiwara.
Wajah Hye Sun menunduk semakin dalam ketika mereka hampir mencapai kelas Special-X.A. Pelukan Min Ho juga semakin erat dipinggangnya. Tepat didepan kelas, tanpa antisipasi Hye Sun, Min Ho langsung membungkukkan tubuhnya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Hye Sun dan kemudian melumat pelan bibir mungil itu. Wajah Hye Sun yang semula pucat pasi berubah menjadi merah padam. Matanya melotot tapi pandangannya terhalang oleh tubuh jangkung Min Ho. Dilihatnya mata tajam Min Ho menutup seolah menikmati ciuman itu. Tersihir dengan ciuman lembut Min Ho, Hye Sun ikut menutup matanya. Kedua tangannya terangkat melingkari leher Min Ho, sedangkan tangan Min Ho semakin meniadakan jarak diantara keduanya. Ciuman panas itu tidak berhenti walaupun bel masuk sudah berbunyi. Para siswa yang berkumpul di koridor itu ikut-ikutan memerah, tak peduli kepada para guru yang sudah berada di dalam kelas—mereka tidak berani menginterupsi kesenangan Pangeran. Tontonan gratis di pagi hari, siapa yang tidak senang eh?
Ciuman itu harus berakhir ketika pasokan udara mulai tipis. Keduanya saling menatap dengan wajah merah padam. Setelah bisa mengatur napasnya, Min Ho berbisik pelan ditelinga Hye Sun, “Ciuman yang sangat hebat, baby.”
Hye Sun melotot memandang Min Ho, tidak menyangka Min Ho akan melepaskan ciuman panas itu (oops!). Setelah mengecup kening Hye Sun, Min Ho langsung berbalik menuju kelasnya yang berada di lantai dasar. Meninggalkan Hye Sun yang hampir pingsan saking malunya.
‘EMAAAAAKK......ANAKMU SUDAH JADI ORANG, MAAAAAK. ANAKMU SUDAH JADI ORAAAAAANG.’ Lah? Emang dulunya apa? Monyet?. Inner Hye Sun berteriak histeris ketika Min Ho sudah pergi.
Sepertinys, kehidupan Goo Hye Sun benar-benar sudah berubah.CENAT-CENUT 3 IS TUBERCULOSIS (TBC)
Saya merasa sense humornya agak sedikit berkurang, Hye Sun juga kurang bawel di chap ini, kisahnya juga datar, ciumannya gak panas dan gaje. Well, maafkan saya.
GIMME A FEEDBACK??