Poll

kira-kira lagu apa yang cocok buat MP Aljoana

"Wonderful Tonight" By Eric Clapton
3 (18.8%)
"Baby Can I Hold You Tonight"  By. Boyzone
3 (18.8%)
"One Night" By The Corrs
10 (62.5%)
terserah author (glodak!)
0 (0%)

Total Members Voted: 16

Author Topic: Re: THE MAESTRO (chapter 22 ---- 31 Juli 2011)  (Read 37197 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO chapter 4(27 Feb 2011)
« Reply #150 on: March 05, 2011, 11:52:27 am »
THE MAESTRO
Chapter 5

Additional Cast :
Kim Hyun Joong as Albert Kim
Park Shin Ye as Chintya Park


Seoul Art University, salah satu perguruan tinggi seni di korea selatan. Banyak artis Korea berbakat yang merupakan alumnus institusi ini. Tak salah, jika melihat kreativitas anak-anak muda di sini. Di setiap lorong, tampak aktivitas seni, bahkan dinding-dinding tembok itu penuh dengan gravity. Beberapa remaja tampak berkerumun. Eits.. mereka bukan demonstrasi, tapi demo masak, eh.. salah… demo main musik, sekilas seperti pengamen saja, jangan salah… mereka mahasiswa di sini.

Jika kau tilik satu per satu studio di sini, jangan harap telingamu bisa tenang. Mungkin kau akan bernasib sial jika kebetulan membuka tempat yang memperdengarkan music rok dari dalamnya, atau kepalamu akan berdenyut-denyut karena music underground yang kacau tapi vokalisnya bernyanyi dengan suara mengerang, dan anehnya mereka masih saja menganggap itu seni.

Tapi jika kau membuka studio yang di dalamnya para mahasiswa berlatih music klasik, telingamu itu pasti sangat beruntung, bermanja-manja dengan keanggunan melodinya. Seperti studio satu ini, misalnya. Di sini tampak seorang pemuda yang melatih kepiawaian pianonya. Seorang dosen berumur kira-kira setengah abad, dan beberapa mahasiswa yang lain mengamati.

“Stop!” teriak dosen setengah abad itu, agaknya dia mendengar suara sumbang dari melodi itu.”Ada yang salah di sini, Albert-ssi,” protesnya. Orang yang dipanggil Albert, yang terpaksa menghentikan gerakan jari jemari di atas piano, menoleh lalu memutar-mutar bola matanya,”Ne…ne.. aku tahu, songsaenim!”

“Lalu kenapa masih kau lakukan?” tanya sang dosen lagi. Albert mendengus dan menjawab,”Kau sendiri ada ide, songsaenim?”

“Ye… ini kan simphoni gubahanmu dan aku yang menilai, kok kamu minta ideku ?” cibir  sang dosen.

“Ye… bilang saja idemu kering!” ejek Albert tak mau kalah lalu jari-jarinya memencet-mencet piano asal, tak berima sama sekali, bahkan lebih jelek dari sumbang. Para mahasiswa music klasik yang terbiasa dengan nada beraturan jadi panik, tak terkecuali sang dosen. Mereka serempak menutup telinga dan berjejal-jejal keluar studio. “Albert ngamuk!” begitu pikir mereka.

Joana yang sengaja datang terlambat, kaget saat hamburan orang tiba-tiba keluar dari studio itu. Seketika pula dia mendengar suara pekak dari dalam studio. Saat berpapasan dengan dosennya, Joana bertanya,”Si… siapa penghianat seni music klasik itu, Songsaenim?”

“Albert Kim !!!” jawab pria itu sambil lari dan masih menutup telinga. Joana jadi menggeleng-gelengkan kepala, lalu menyumpal kuping dengan headset, memutar MP5 agar tidak mendengar music gila itu, tapi dia masuki juga studio itu.

“Hai, penghianat seni !” panggil Joana saat sampai di depan Albert. Musik ngawur itu berhenti juga, Albert menoleh dengan wajah cengo. “Mwo?”

Joana mengkerucutkan bibir lalu tiba-tiba tangannya memukul kepala Albert.
“Auw! Apho…,” teriak Albert, kini dia meringis sambil mengelus-elus kepalanya yang kena damprat.

“Musik apaan, tuh? Bahkan Heavi Metal pun lebih merdu dari suara piano tadi, bisa main tidak, sih?” cerca Joana. Pria di depannya itu Cuma cengar-cengir,”He he he, aku sudah pilih-pilih nada, sampai sekarang gak ada yang cocok, sumbang melulu.”

Joana mengkerutkan kening, lalu diamatinya buku not di atas piano dan di baca not satu persatu. “Yang bagian mana?”

“Refrend pertama, sesudah la,”Albert menunjuk not yang di maksud. Joana pun manggut-manggut. “Kalau menurutku….,” suara Joana.” Di sini memang aneh, sesudah la langsung do e…..”

Joana jadi mengetuk-etuk bibir.”Aha !” teriaknya sambil menjentikkan jari. “Naikkan nada do ini satu oktaf!” ide Joana.

“Mwo?”
“Ye… Sudah… ikuti saja perintahku!” bentak Joana
“Araso!”

Albert pun mengulang bagian itu dan terlihat puas dengan perubahan yang terdengar.”Yup! Benar juga,” ujarnya sambil manggut-manggut.

“Hu!” teriak Joana sambil mendorong kepala pria itu. Sekali lagi Albert tampak cengengesan lalu dengan girang memeluk dan mencium pipi Joana.”Gomawo.”

“Arkkh !! Cheonmayo,” jerit Joana sambil mengelus-elus pipi yang kena cium, takut alergi kayaknya.
“Ye… kenapa dihapus? Ciuman dari namja seganteng aku, lho… . Banyak yoja yang merindukan ciuman itu sampai mewek-mewek, kau yang kukasih gratis malah dihapus.”

“Cih…! Ganteng? Iya.. ..Ganteng kalau dilihat dari Namsan Tower dan pakai sedotan,” Joana jadi nyinyir. Orang lain pasti langsung nyadar dikatain begitu, tapi bukan Albert namanya kalau tidak menang.”Oh…, gumawo karena kau sudah repot-repot melihatku dari Namsan Tower.”

GUBRAK!!

Bibir Joana jadi tambah mengkerucut,”Gara-gara kamu…., Songsaenim dan yang lain pada bubar, padahal giliranku belum tiba, apa kau sengaja biar aku tidak dapat nilai?”

“Ye… dosen itu sama yoja, hatinya gak tegaan, pasti juga ada ujian susulan,” jawab Albert asal. Joana jadi tak habis pikir,”Ah.. , terserah kau lah!”

“Ehm.. ehm..,” suara deheman Albert.”Sudah punya pacar, belum?”
“Mwo?”
“Pacar… tahu, kan?”
Joana menggeleng.
“Jinja?” tanya Albert.
“Ne…”
“Lalu… anak ekonomi Korean University itu siapa?” tanya Albert lagi.
“Korean University?” tanya Joana balik.
“Ye..”
“Dany? Maksudmu Dany?”

Albert mengangguk. Joana jadi cekikikan.”Dia itu sudah kuanggap kakak! Keponakan Aldian Oppa,” terang gadis itu. Wajah Albert serta merta sumringah,”Kalau begitu…
“Kalau begitu apa?” Mata Joana jadi mendelik.
“Jadi pacarku, ya?”
GUBRAK!!

“Antwe!” tolak Joana mentah-mentah. Dia langsung lari keluar studio sebelum Albert mengeluarkan jurus rayuan mautnya.

“Ya… Ya…Joan-a…! Jangan lari dulu, ya…”

Joana tak perduli. Dasar namja aneh!!! Nembak tidak lihat sikon. Joana jadi membatin seperti itu. Kini dia harus merayu Mr. Lu, dosen yang kabur gara-gara penghianatan seni Albert tadi untuk ujian susulan.

“Jangan kawatir, Manis,” kata dosen itu. Joana jadi risih dipanggil manis.” Masih banyak juga temanmu yang belum ujian. Ujian diteruskan besok senin jam sepuluh pagi,” imbuh Mr. Lu lagi.

“Gumawo, songsaenim,” ucap Joana sambil meminta diri. Mr. Lu menghantar kepergian Joana dengan tatapan kagum.”Hm…, yeopo…,” gumamnya.

Sekarang sudah tidak ada lagi kegiatan Joana di kampus, akhirnya diputuskannya untuk pulang. Dan betapa terkejut dia saat sampai di Lee Mansion, para pelayan sedang mengangkat beberapa koper. “Siapa yang datang?” tanya Joana pada salah satu pelayan itu.

“Chintya Park, Agashi,” Joana jadi girang mendengar jawaban itu. Segera dicarinya sosok Chintya dan menghambur ke pelukan tamu yang dimaksud. “Uni, Bogosipho.”

Chintya yang mulanya kaget dengan pelukan dadakan itu, akhirnya menepuk-nepuk punggung Joana sambil tertawa geli. Aldian yang melihat semua itu hanya geleng-geleng kepala. “Sudah pulang,Joan?” tanya Aldian.

“Opa sendiri kenapa sudah pulang?” tanya Joana balik.
“Oh…, tadi Oppamu menjemput Uni, Joan,” jawab Chintya sambil mengelus sayang rambut Joana. Gadis itu hanya mengangguk, lalu merebahkan kepala di bahu Chintya,”Uni akan tinggal di sini, kan?”
“Ne,” jawab Chintya. Joana memandang dengan tatapan bersinar.”Jinja?”
Gadis itu meloncat girang setelah Chintya mengangguk. Kedua saudara sepupu itu tertawa.
“Joana,” panggil Aldian. Joana serta merta menoleh,”Ajak Unimu ini ke kamarnya, biarkan dia istirahat,” perintah Aldian.

“Ne, Oppa,” gadis itu mengangguk juga lalu menggandeng Chintya menuju ke kamarnya,”Kacha, Uni!”
-------------------------------------

Alunan laras melodi mengalun lembut dari VCD player yang berada di ruang kerja. Telinga sensitive Aldian mendengar dengan seksama, begitu terbuai hingga menutup mata. Tak di sadarinya, Joana yang baru selesai berbincang dengan Chintya, memasuki ruangan itu. Gadis itu tahu bahwa kakak iparnya tidak sedang tidur, hanya terlena dengan alunan music itu. Akhirnya, Joana mendekat, duduk di samping Aldian dan merebahkan kepala di pundaknya hingga Aldian tersadar, membuka mata dan menoleh ke Joana. Gadis itu tersenyum lalu berujar,” Kitaro…. Karavansari…”
“Musisi Jepang. Simphoni modern, tapi aku  lebih suka yang klasik,” tambah Joana lagi.
“Klasik?”
“Ne, Oppa. Klasik!” pasti Joana.”Musik klasik lebih memiliki kerumitan yang tinggi, Oppa. Dan….

Gadis itu tampak berpikir sebelum meneruskan bicaranya,”Aku suka itu. Bach….Mozart… Beethoven…., mereka semua adalah pelopor. Pelopor simphoni modern.”

Aldian tertawa mendengarnya, sambil menggeleng-gelengkan kepala, dia berkata,”Aku pasti kalah jika beradu denganmu. Aku bahkan tidak kuliah seni sedangkan kau….. , kau kuliah di situ.”

“Jika Oppa mau…, Oppa bisa melakukannya. Oppa mempunyai bakat tapi sayang sekali karena Oppa tidak mengambil jurusan seni.”

Aldian hanya bisa tersenyum mendengar kalimat Joana. Dalam hati dia tahu betul alasan tidak mengambil jurusan seni. Karena Alicia menyukai seni. Karena seni pula mereka bertemu, dan seni membuat semuanya berakhir. Itu akan membuat Aldian sedih, sangat sedih hingga memutuskan mengambil kuliah lain, jurusan dengan suasana baru, tentu saja untuk melupakan Alicia.

Tiba-tiba Joana berjalan ke arah gramafon tua koleksi keluarga Aldian. “Kenapa gramafon tua ini masih ada di sini? Dan kenapa pula masih diproduksi piringan hitam? Ini sangat aneh.”

“Mungkin ada beberapa orang yang lebih suka suara music dari gramafon daripada VCD,” jawab Aldian asal. Joana masih saja menekuri pemutar music kuno itu, disentuhkannya ujung-ujung jarinya ke benda itu. “Tapi akan lebih bagus jika gramafon ini memperdengarkan simphoni atau music orchestra. Oke, Beethoven,” kata Joana kemudian memilah-milah piringan hitam koleksi Aldian, lalu memilih… ,”Beethoven, Oppa… Symphony number nine….Scherzo.” Lalu memasang piringan hitam  dengan sangat lihai. Joana memang sudah terbiasa dengan pengoperasian gramafon tua itu. Musik orchestra pun terdengar, seiring gerakan dansa wals Joana mengikuti alunan itu dan Aldian yang tertawa-tawa melihatnya. “Kau adalah anak muda berselera tua. Gadis seumuranmu lebih menyukai Suju, Shinee bahkan SNSD, tapi kau….

“Aku menyukai apa yang Oppa sukai. Apakah itu salah?”
“Tentu tidak, Nona,” jawab Aldian. Joana mengkerutkan dahi mendengar panggilan itu.”Nona?”

“Apakah Oppa sudah menganggapku wanita dewasa hingga memanggilku seperti itu?” sambung Joana lagi.

“Tentu saja. Seminggu lagi usiamu bahkan sudah sembilan belas, Nona,” pasti Aldian. Kemudian Joana mendekat, memandang lekat ke arah Aldian hingga timbul perasaan aneh yang menjalar di antara keduanya. Entah kenapa ada sesuatu letupan-letupan kecil di dada Joana, sesuatu yang sangat liar ketika memandang Aldian. Hingga hati gadis itu bisa menyimpulkan…., inilah cinta!

Cinta…. Perasaan itu pula yang kini tengah menelusup di benak Aldian. Tapi, Aldian jadi ketakutan sendiri. Gadis di depannya ini begitu suci. Gadis di depannya ini adalah adik dari Alicia, almarhum istrinya, yang sudah dia besarkan selama tiga belas tahun. Dan… ya, Tuhan…, ternyata benar kata Nani. Gadis ini benar-benar mirip Alicia. Secara tidak disadari, dia sudah menciptakan Alicia kedua. Anhi…, semua ini tidak mungkin.

Aldian segera bergerak. Mundur beberapa langkah dari Joana lalu keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Joana yang masih terpaku di tempatnya, memandangi sosok tubuh jangkung itu hilang dibalik pintu yang tertutup.


BERSAMBUNG

Miane.... pendek, lagi sibuk diubeng-ubengke pembimbing tesis, soalnya... buat juga kayak orang balapan... jadi sekali lagi maaf jika pendek dan banyak kata-kata yang salah.
« Last Edit: March 05, 2011, 11:57:31 am by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]