Poll

ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha

Kubu Rath
Kubu Daze

Author Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11  (Read 105714 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
mau spoiler ga [what] only spoiler loh [biggrin]
MAUUUU.... Klo ada spoiler berarti kan uda mo launching..[clap]
[nono] [nono] [nono] baru sesai 1 part doang. kebetulan scenenya rath-daze jadi bisa dijadiin spoiler [hmpfh] [hmpfh] [hmpfh]


Spoiler ...

Daze mengigit bibir kemudian mendesah. Matanya mulai meredup, perlahan-lahan. Diangkatnya tangannya, menekan bagian dada dengan sangat pelan. Kesedihan itu menyayat kembali. Kematian halmonie, pengalaman pertama diputus seorang pria yang pertama kali dikencaninya, .. dan yang paling penting dari semua itu, ... pertemuannya dengan seorang pemuda yang telah merubah hidupnya. Pertemuan yang tidak bisa dikatakan manis tapi berkesan ... sentuhan pertama yang mengetarkan .. ciuman yang lembut, bibir yang lembab, dan perhatian yang diberikan walaupun tidak diungkapkan, .. semua begitu ... begitu terasa ... Apakah sudah setahun peristiwa itu terjadi? Tapi mengapa .. mengapa dia merasa baru kemarin? .... Rasa sakit itu .. masih sangat terasa ...

"Dazya ... "

Daze menghela nafas, menahannya sebentar kemudian berpaling perlahan. Tatapannya segera bertemu dengan pandangan Rathyan yang agak gelap. Mereka tidak bersuara. Saling menatap dengan pandangan lekat. Sesaat kemudian Rathyan mengalihkan pandangannya ke depan.

"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya dengan nada datar.

"Kau ingin tahu?" Daze balas bertanya.

Rathyan mengangkat bahu, kemudian mengeledah tas kerjanya, mengeluarkan sebuah dokumen yang terjepit rapi. "Tidak!" jawabnya datar.

Daze menghela nafas lagi. Selalu begitu! Jika memang ingin tahu, kenapa dia tidak menanyakannya saja? Apa susahnya membuka mulut dan bilang 'IYA', .. Aku pasti akan menjawabnya ...

Rathyan menyibak lembaran-lembaran dokumen di tangannya. Berlagak mempelajari padahal pandangannya nanar tertuju pada huruf-huruf kecil yang terketik rapi di situ. Tidak konsentrasi.

Rathyan Pov ...
PERTH--kembali ke sini, ... ada sesuatu--sesuatu yang membuatku rindu. Aku ingin tahu, apa kau juga merasakannya? Jawaban ini yang ingin kuketahui, Dazya. Kenangan-kenangan setahun yang lalu ... Andai saja aku diberi kesempatan memilih waktu itu, aku ingin mengatakannya padamu--'Jangan pergi, bahwa kau segalanya bagiku! Tanpamu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hidup bagaikan mayat. Bergerak di bawah sadar--tidak tahu apa yang dilakukan. Bekerja hanya karena sebuah janji 'atas kebahagiaanmu'. Aku ragu, mungkinkah itu salah?', tapi seperti biasanya--mulutku terkunci saat itu, tidak bisa dibuka. Kata-kata yang sudah tersusun rapi di pikiranku tidak mampu dikeluarkan .. Aku berharap kau mengerti 'AKU', memahamiku apa adanya, .. tapi mungkinkah bisa, sementara aku sendiri meragukan harapan itu?
Kadang-kadang, aku berharap bisa membalikan waktu meskipun kedengarannya mustahil. Tapi sungguh, ... aku berharap mempunyai kemampuan itu. Aku ingin balik ke moment itu. Mencegahmu pergi dariku, memintamu tinggal walaupun dengan resiko ditolak olehmu ... Maukah kau memberikan kesempatan itu, ... Dazya?


Sedangkan Daze, .. terus menatap Rathyan. Menelusuri setiap inci lekuk wajahnya yang sempurna. Menghayatinya, walaupun agak tertutupi oleh rambutnya yang panjang dan agak awut-awutan. Mata itu .. menempel ke dokumen di pangkuannya, tidak bergerak. Daze menghela nafas. Dia jadi bertanya, ... Apa yang dipikirkan Rathyan saat ini? Kenapa dia ... selalu membuat perasaannya tak karuan begini?

Rath--tahukah kau, .. bagaimana pengaruhnya dirimu terhadapku? Aku sudah berusaha .. berusaha mempercayaimu .. Hanya satu ucapan, satu ucapan saja darimu, aku akan percaya. Apapun yang kulihat itu, apapun yang kudengar itu, aku tidak ingin tahu. Aku hanya ingin mempercayaimu. Ingin memegang teguh perasaan ini. Aku berharap kau menyadarinya ...

Daze mengambil nafas dalam-dalam kemudian mengalihkan perhatiannya ke luar jendela. Menempelkan wajahnya di kaca yang agak berembun oleh udara dingin. Serpihan-serpihan salju masih diterbangkan angin kearah mobil mereka. Menghempas kaca jendela dan jatuh ke jalanan aspal yang sudah terselimut salju tebal. Dia merasa kedinginan. Perlahan dia merapatkan mantelnya dan menghembuskan nafasnya yang beruap. Mobil itu terus melaju, walaupun agak tersendat-sendat oleh timbunan salju, perlahan mencapai hotel Perth yang saat itu sudah buram-buram terselimut dewi malam.

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun