Author Topic: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)  (Read 24362 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter VII (25 FEB 2011)
« Reply #210 on: March 10, 2011, 07:38:28 am »
THE HOSPITAL
Chapter  8


Additional Character:
Kim Min Ji as Kim Min Ji (Yoo Ah In’s wife)
Choi Shi Won as Choi Shi Won (Kim Min Ji’s Boy friend)


Umpatan dan celaan menghiasi suasana hati Ah In di perjalanan pulangnya. Seakan tak mempercayai penglihatan waktu berada di depan rumah Hye Sun tadi.”Sial! Kenapa mereka tidak masuk ke rumah saja dan melakukannya di dalam?” Lalu dia memaki-maki lagi dengan kata-kata kotor yang mampu membuat orang-orang yang mengenalnya terheran-heran. Sementara mobil force yang dikendarainya meliuk-liuk membelah jalanan Bussan yang ramai, dia iri dengan segala peruntungan Min Ho. Sudah sejak lama saudara sepupu itu bersaing, walau pun mereka berbeda jalur profesi. Sejak kecil mereka sama-sama berusaha menarik perhatian almarhum kakek buyut mereka yang terkenal  sebagai salah seorang jenderal yang sangat dikagumi di Korea selatan, rupanya persaingan itu masih mendarah daging hingga sekarang. Dan melihat wanita yang sangat dikaguminya itu pada akhirnya akan menikah dengan Min Ho, membuat hatinya sakit.
Ah In membunyikan klakson secara membabi buta padahal jalanan mulai legang. Bisa dibilang dia stress atau gila karena cemburu tidak pada tempatnya. Apa hakku untuk cemburu? Syukurlah dia menyadari kekonyolannya di menit terakhir sebelum mobil force itu memasuki halaman Yoo Manshion.

Min Ji, sang istri rupanya sedang ada di rumah. Ah In bisa menyimpulkan itu setelah melihat mobil Min Ji yang terparkir di halaman. Segera dinaikinya tangga yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai kedua, lalu memasuki kamarnya dan mendapati Min Ji sedang memasukkan beberapa baju ke dalam travel bag.

Min Ji memandang ke arahnya sekilas, lalu meneruskan aktifitas berkemasnya. Sesaat Ah In memandang ranjang yang ada di kamar tidur itu. Ranjang itu begitu dingin setahun terakhir ini, sementara bayangan kecemburuan akan Hye Sun dan Min Ho bersliweran kembali di kepalanya. Entah setan apa yang merasukinya, dengan paksa dia memeluk Min Ji hingga wanita itu gelagapan dan meronta,”Lepas, Ah In-a. Lepas!”

Tangan mungil Min Ji memukul-mukul, bahkan mencakar lengan Ah In, tapi pria yang sudah kalap itu malah berusaha mencium paksa. Min Ji menolehkan kepala dalam-dalam agar ciuman tidak mengenai bibirnya tapi Ah In malah mencumbu lehernya hingga terhampaslah tubuh itu ke ranjang dan menindih.”Aku masih punya hak, Min Ji. Aku mau sekarang!”

“Mola! Mola !” Min Ji menjerit-jerit. Ah In menyikap gaun yang dipakai Min Ji dan mengelus paha mulusnya, dengan sigap Min Ji mengatupkan pahanya rapat-rapat agar Ah In tidak berbuat lebih lanjut. Ah In semakin kalap.”Aku suamimu, Min Ji-a!”

“Shi Won…. Shi Won…,”tersenggal-senggal Min Ji memanggil nama itu, berusaha meredam ketakutannya atas kebringasan Ah In. Dia yakin Ah In akan berhenti jika dia menyebutkan nama orang lain saat ini dan perkiraannya benar. Ah In bangkit sekarang, dengan hati yang semakin remuk redam. Min Ji di depannya menangis sesenggukan. Kenyataan ini sungguh memilukan dirinya. “Sakit, bukan?” Min Ji bertanya dengan pandangan berkilat karena air mata masih melapisi bola matanya. “Sakit, bukan, mendengar nama orang lain yang disebut pasanganmu saat bercinta denganmu?”
Wanita itu berdiri bak hakim penghukum Ah In, yang kini duduk di ranjang sambil menutupi muka dengan kedua tangannya.”Itulah yang kurasakan saat kau melakukan itu padaku, AH In-a! Bahkan dalam tidurmu setelah bercinta denganku pun kau menyebut namanya!” teriak Min Ji lagi.

“Aku berusaha mencintaimu selama ini. Padahal pada mulanya aku mengira perjodohan ini konyol,” lanjut Min Ji lagi.”Tapi ternyata kau tidak bisa menghormati pernikahan ini. Bahkan semakin tenggelam dalam hasrat terpendammu pada wanita itu, tapi menyalurkannya padaku. Kau pikir aku ini apa? Alat penyaluran seks?”

“Miane, Min Ji-a. Miane,” Ah In berucap lirih.

“Archhhh!!!” Min Ji berteriak nyaring. Lalu tangannya menunjuk-nunjuk hidung suaminya,”Aku sangat mencintai Shi Won. Aku tidak perduli lagi dengan pernikahan ini. Persetan dengan obsesi gilamu tentang Hye Sun! Aku akan benar-benar pergi sekarang!”

Min Ji menarik paksa koper besar itu walau pun agak kewalahan. Dia benar-benar muntap, sementara dia melewati Ji In yang memandanginya ketika keluar dari  kamar dan sangat yakin jika ibu mertuanya itu sudah mendengar semuanya. Dia sama sekali tidak perduli. Baginya pernikahan ini adalah sandiwara terbesar yang pernah dia mainkan dan begitu ingin mengakirinya. Shi Won sudah menunggunya di apartemennya. Shi won adalah kekasihnya bahkan sebelum menikah dengan Ah in. Kekasih yang tidak dianggap oleh abojinya mengingat profesi Shi Won sebagai penyanyi yang dianggap tidak sesuai dengan profesinya yang seorang dokter.

Di apartemen itu Shi Won memang benar-benar menunggu, dan segera menerjang dengan ciuman ganas seketika Min Ji  memasuki apartemen itu. Akhirnya nafsu lah yang merajai. Apartemen sepi itulah yang selama ini menjadi saksi bisu gairah-gairah mereka. Shi Won memang selalu kawatir jika Min Ji kembali ke rumah, takut kalau-kalau Ah In menyentuhnya. Dan saat keduanya sudah sama-sama lelah karena aktifitas penuh gairah itu, biasanya akan terdengar dengkuran lirih dari Shi Won yang tertidur atau bahkan mengigau menyebut namanya.

Itulah yang membuat Min Ji mencintai Shi Won. Bahkan dalam tidur pun, pria itu hanya memimpikannya. Apa lagi yang diinginkan seorang wanita selain dipuja oleh kekasih hatinya? Dia telah mengorbankan segalanya demi pria ini, statusnya sebagai istri Yoo Ah in, seorang dokter bedah yang terkenal, serta gelar dokternya. Setahun ini dia bahkan tidak praktek, hari-harinya selalu dihabiskan bersama kekasihnya itu, konser keliling negeri bahkan ke Jepang besok pagi.
Shi Won menggeliat di samping Min Ji hingga selimut yang menutupi tubuhnya  tersingkap. Tampaklah bekas suntikan di siku bagian dalam lengan Shi Won. Min ji menyentuh bekas suntikan itu, masih baru. Helaan nafas terdengar dari hidungnya. Shi Won pasti memakai obat-obatan laknat itu lagi. Tiba-tiba dia ingin mencari di mana letak barang laknat itu. Shi Won selalu rapi menyembunyikan benda itu darinya. Dia berusaha bangun, tapi lengan Shi Won tiba-tiba menyampir ke dadanya sehingga langkahnya terhalang.

“Mau ke mana, Sayang?” panggil lelaki itu, masih menutup mata. Min Ji menoleh ke arahnya,”Sudah bangun?”

Lelaki itu menganggukan kepala malas. Matanya masih terpejam. Min Ji tersenyum dan membelai dagu Shi Won lembut.

 “Shi Won-a… ,”Panggil Min Ji. Perlahan Shi Won membuka mata. Min Ji tampak tersenyum manis di hadapannya.

“Kau memakainya lagi?” suara Min Ji lebih menampakkan kekecewaan dari pada pertanyaan. Shi Won mengangguk. Tidak ada kebohongan dalam hubungan mereka, dia memang pecandu dan wanita ini tahu.

“Aku harap kau berhenti sebelum semuanya terlambat, Shi Won-a,” itulah kalimat dari Min Ji.
“Aku kawatir pria itu menyentuhmu. Itu membuatku gila.”

Min Ji mencium bibir kekasihnya seakan ingin meyakinkan bahwa semua baik-baik saja, tidak ada yang terjadi di Yoo Manshion walau kenyataannya Ah In hampir memperkosanya tadi.

“Kenapa dokter gila itu tidak menceraikanmu saja,” protes Shi Won. Min Ji mendengus sebal, sudah setahun dia mendeklarasikan perpisahan dengan Ah In, bahkan abojinya pun sudah angkat tangan dengan kemauannya itu, tapi Ah In tidak juga melayangkan gugatan cerai. “Semua itu karena Yoo Ji In, Ibu mertuaku.”

Shi Won membenamkan wajahnya di tengkuk Min Ji, lalu berbisik diantara rambutnya,”Lelaki itu benar-benar anak mami.” Lalu terkekeh di telinga Min Ji hingga letupan hasrat muncul kembali di keduanya.”Aku menginginkannya lagi, Min Ji-a.”

Shi Won menindih lagi. WAnita di bawahnya itu mengelinjang hebat. Erangan kambali menghiasi ruang temaram itu, mengiringi hasrat sentimental mereka hingga keduanya sama-sama memuncak.


BERSAMBUNG


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]