Spoiler ..
Daze melihat jam tangan kulitnya. Setengah jam berlalu sudah sejak perintah dari Rathyan buat menunggunya di halaman parkir hotel bersama tuan Park. Kemana perginya anak itu? Katanya cuma ganti baju, .. kenapa selama ini? Daze mengerutu. Dia berpaling pada tuan Park dan mengangkat alisnya. Tapi asisten pribadi itu hanya memberi reaksi dengan mengangkat sepasang tangannya, tidak tahu.
"Huh--" Daze menghembuskan uap ke udara. Suhu di sekitar situ semakin dingin. Agak mengigil dia merapatkan mantel panjangnya, beserta menaikan kerah sweaternya ke atas, menutupi lehernya yang sedikit terbuka.
"Daze-ssi ... , doronim .. "
Perkataan tuan park membuat Daze mengalihkan perhatiannya. Dia melihat kearah yang ditunjuk pria itu. Sebuah sosok jangkung terlihat melangkah keluar dari pintu utama lobi hotel. Kepala orang itu tertunduk ke lantai. Tubuh panjangnya terbalut kemeja kotak-kotak merah yang tertutupi oleh mantel panjang warna hitam. Celana belel ketat berwarna coklat gelap membalut ketat sepasang kakinya yang jenjang, sedangkan sepasang tangannya terselip ke dalam saku mantel yang dikenakannya.
"Doronim .. " Tuan Park membungkuk hormat pada Rathyan.
"Hmm--" Rathyan membalasnya dengan dingin.
Dia berpaling pada Daze yang segera membuang muka ke arah lain. Sungguh, penampilan Rathyan membuatnya kikuk. Pemuda ini terlihat begitu mempesona dengan dandanan casualnya.
"Kita pergi ke suatu tempat .. ," kata Rathyan pada Daze.
"Dhe?" Gadis itu berpaling padanya.
Namun Rathyan tidak berkata lebih lanjut. Dia merogoh ke dalam saku celana dan menyodorkan secarik kertas kecil pada tuan Park.
"Tiga jam kemudian jemput aku di alamat ini .. "
"Dhe, doronim?" tanya pria itu tidak mengerti.
"Kau tak perlu ikut dengan kami!" sahut Rathyan sambil menyambar tangan Daze agar mengikutinya. "Kacha!" katanya pada Daze, lalu berbalik lagi pada tuan Park. "Tunggu aku di sini sampai tiga jam kemudian .. ," lanjutnya, tanpa berpaling pada lawan bicaranya itu. "Sekitar jam enam, jemput aku di alamat yang kuberikan padamu ... "
"Tapi doronim .. "
"This is an order, mr. Park!!"
Terakhir, tuan Park hanya bisa mengangkat tangannya menyerah. "Ne .. "
"Ki .. kita mau kemana?" tanya Daze gugup, sambil bersusah payah mengimbangi langkah Rathyan yang terlalu lebar.
"Ke suatu tempat!" sahut Rathyan tegas.
"Iya, .. jadi kemana?"
"Kau berisik sekali!" dengus Rathyan. Tidak memberi kesempatan Daze untuk berkata lebih lanjut, dia menghentikan sebuah taxi yang melintas di depan mereka. "Nanti kau juga tahu sendiri!"