"YEAHHHHHHHHHHH!!!". Junpyo berteriak keras. Mendadak dia mengunci wajah Jandi dengan tangannya dan mendaratkan ciuman yang teramat panas di bibir Jandi. Disedotnya bibir mungil itu sepenuh hati. Keras dan agak menyakitkan, sehingga menyebabkan Jandi berteriak keras.
Desahan dan erangan lembut terdengar dari mulut mereka. Ciuman, lumatan dan jilatan semakin memanas. Junpyo mulai menurunkan ciumannya. Dan tangannya juga mulai bergerak, membuka kancing baju Jandi. Sebuah, dua buah, tiga buah ... kancing-kancing itu mulai terbuka satu persatu. Sampai kancing keempat, mereka berdua terhentak dari ketidaksadarannya oleh deringan nyaring ponsel dari saku celana Junpyo.Dengan gugup Junpyo merogoh ponsel dari saku celana. Jandi segera melepaskan diri dari dekapan Junpyo. Monitor ponsel memperlihatkan nama Woobin. Junpyo mengangkat wajah dari ponsel ke Jandi."Woobin ...", katanya pelan.
Jandi berbalik dan bermaksud pergi dari situ. Tapi tarikan dari tangan Junpyo menghentikan langkahnya."Jandyaaa .. jangan pergi!! .. saya mohon .. jangan pergi!! .. temani saya ... malam ini ...", kata Junpyo pelan, dengan nada dalam mengetarkan hati dan sinar mata redup yang menghanyutkan .