Author Topic: Black Swan (Chapter 1 ~March 12, 2011~)  (Read 5695 times)

Offline Graciela

  • Newbie
  • *
  • Posts: 87
    • View Profile
Re: Black Swan
« Reply #90 on: March 11, 2011, 11:49:27 pm »
CHAPTER 1


Additional Cast




Jun In Hwa as Barbara Kim (Angela's Mother)



Angela memandang sekelilingnya dan tersenyum bahagia ketika ia mendapati bahwa dirinya tengah dikelilingi oleh para orang-orang yang dikasihinya. Saat ini mereka sedang berada di suatu taman bunga yang indah. Musim semi yang sedang melanda daerah tersebut menjadikan semua bunga yang berada di taman itu bermekaran dengan indahnya. Angela memetik salah satu bunga mawar putih yang berada didekatnya dan menghirup dalam-dalam wangi semerbak yang ditimbulkan oleh bunga tersebut. Ia memang sangat menyukai bunga, terutama mawar putih, karena baginya bunga tersebut selain melambangkan kesucian juga ketulusan dan kelembutan –yang secara kebetulan juga menjadi sifat dasar dari dirinya.

Ia kemudian melayangkan pandangannya kepada orang-orang yang berada disekitarnya. Dilihatnya kedua orang tuanya sedang duduk berdua sambil bercakap-cakap ditepian danau yang berada di dalam area taman tersebut. Lalu dilihatnya para sahabat-sahabatnya, secara berkelompok sedang berkerumun di suatu tempat sambil bersenda gurau. Ia baru saja memutuskan untuk pergi menghampiri ayah dan ibunya ketika tiba-tiba tertangkap olehnya suatu sosok yang sangat asing lewat didepannya. Itu adalah sosok seorang pemuda. Ia berperawakan tinggi dengan rambut hitam pendek yang agak berantakan dan berpakaian serba hitam. Angela tidak dapat melihat wajah pemuda tersebut karena pemuda tersebut berjalan dengan cepat di depannya. Penasaran, ia akhirnya memutuskan untuk mengikuti langkah pemuda tersebut.

“Tunggu…” panggilnya, tapi tampaknya pemuda tersebut sama sekali tidak menghiraukannya dan tetap terus berjalan semakin jauh meninggalkan keumunan orang banyak tersebut diikuti oleh Angela yang tanpa sadar terus saja melangkahkan kakinya kearah pemuda tersebut.

Cahaya matahari semakin lama semakin redup menerangi jalan yang mereka berdua tempuh dan udara disekitarnya mulai terasa dingin. Pada awalnya Angela mengira bahwa akan turun hujan, tetapi kemudian ia menyadari bahwa cahaya matahari yang redup tersebut bukan karena langit mendung dan hujan akan turun tetapi karena mereka telah melangkah sangat jauh meninggalkan taman tersebut dan keramaian yang ada didalamnya sehingga masuk kedalam suatu hutan yang gelap. Makin lama mereka melangkah, semakin gelap pulalah keadaan disekitar mereka. Angela memandang berkeliling, ia mulai takut akan kegelapan yang perlahan-lahan mulai menyelubunginya tetapi ia sama sekali tidak dapat melepaskan dirinya dari rasa penasarannya akan pemuda tersebut sehingga ia tetap terus mengikuti langkahnya.

Lalu tiba-tiba mereka sampai disebuah gua yang sangat besar. Dapat dilihat dari luar bahwa gua tersebut sangat gelap. Kemudian secara tiba-tiba pemuda tersebut berhenti dan memalingkan wajahnya ke arah Angela. Angela sangat terkejut begitu mendapati betapa tampannya pemuda tersebut. Menyadari akan rasa takjub Angela kepada dirinya, pemuda itu pun tersenyum.

“Kau sudah mengikutiku sampai sejauh ini. Ayo kita sama-sama masuk kedalam sana” ujarnya seraya mengulurkan tangannya kearah Angela. Dan seolah tersihir oleh pesonanya, Angela menyambut uluran tangan itu dan melangkahkan kakinya untuk ikut serta masuk kedalam kegelapan tersebut.




“Nona….nona”

Tiba-tiba di rasakan olehnya ada yang mengguncangkan tubuhnya. Angela terbangun dari tidurnya. Ia memandang sekelilingnya dan menarik nafas lega ketika menyadari bahwa hal tersebut hanyalah sebuah mimpi. Cahaya matahari yang bersinar dengan terangnya menerobos masuk melalui jendela disisi sebelah kanan dari tempat duduknya. Ia kemudian menoleh kesisi sebelah kirinya untuk melihat kearah pramugari yang tadi telah membangunkannya

“Ya, ada apa?” tanyanya

“Sebentar lagi kita akan mendarat, harap anda segera menegakkan kembali sandaran kursi anda dan mengenakan sabuk pengaman” ujar sang pramugari.

“Ah, ne…gamshahamnida”kata Angela sambil tersenyum ramah. Angela segera saja menegakan sandaran kursinya yang sudah agak kebawah setelah ia pergunakan untuk tidur tadi, merapikan selimut yang ia gunakan untuk melindungi tubuh mungilnya dari dinginnya AC di pesawat dan kemudian memasang sabuk pengaman yang berada di kedua sisi pinggangnya lalu setelah itu bersandar santai pada kursinya sambil memperhatikan keadaan diluar melalui jendela.

Sebentar lagi pesawat yang ditumpanginya akan mendarat di Seoul. Diluar terlihatlah olehnya rentetan awan-awan putih yang lembut. Berdasarkan pemandangan yang dilihatnya di luar, Angela dapat menyimpulkan bahwa suhu udara di Seoul saat ini pasti sangat panas. Bagaimana tidak? Sinar matahari yang terik dan sangat menyilaukan matanya diluar sana telah cukup mengatakan bahwa keputusannya sebelum berangkat untuk mengenakan kaos tanpa lengan memang suatu pilihan yang sangat tepat.

Keadaan tersebut memang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan apa yang terjadi di dalam mimpinya tadi. Angela mencoba-coba untuk mengingatnya tetapi entah mengapa semuanya tampak sangat kabur. Hanya ada dua hal yang ia ingat, yaitu pemuda yang berpakaian serba hitam dan berwajah sangat tampan serta kegelapan yang menyelimutinya.

Angela lalu menggelengkan kepalanya sekuat-kuatnya, mencoba untuk menghapus bayang-banyang mimpi buruknya tersebut. Ia putuskan untuk tidak mau lagi mengingatnya, karena setiap kali ia mengingat akan keadaan gelap yang menyelimutinya seperti yang dialaminya di dalam mimpinya tersebut, seketika itu pula bulu kuduknya akan langsung berdiri.

Angela memang tidak menyukai kegelapan. Ia selalu takut akan tempat yang gelap. Baginya kegelapan itu sama seperti seorang penyihir jahat yang akan memakannya hidup-hidup seperti yang dulu sering ia dengar dalam dongeng-dongeng yang dibacakan oleh ibunya sebelum ia tidur. Maka dari itu ia tidak pernah mau mematikan lampu kamar tidurnya setiap kali ia tidur di malam hari.

Ia pun mencoba untuk tenang dan memfokuskan dirinya pada rasa sukacita karena akan bertemu kembali dengan keluarga dan teman-temanya di Seoul. Sudah lama ia menantikan saat ini, dan sekarang ia tidak mau membiarkan satu hal pun mengganggunya dan merusak sukacitanya tersebut.

Roda pesawat yang ditumpanginya akhirnya menyentuh landasan Incheon Airport. Ada sedikit gemuruh dan goncangan kecil yang terjadi ketika pesawat tersebut mendarat. Dalam hati angela bersyukur kepada Tuhan karena pada akhirnya ia dapat kembali lagi ke tanah kelahirannya.

Setelah mengurus segala keperluan mengenai masalah dokumen kedatangannya dan mengambil barang-barang bawaannya, Angela pun melangkahkan kaki keluar dari Lapangan Udara utama di Korea Selatan tersebut. Akhirnya ia tiba kembali di Seoul setelah sekian lama ia meninggalkan kota kelahirannya itu untuk menuntut ilmu di Royal Academy Of Dance -sebuah sekolah yang bergerak dalam bidang pendidikan tari, khususnya balet klasik yang berada di Inggris. Ia mengakhiri program studinya disana dengan sebuah prestasi yang gemilang, yaitu tampil sebagai pemeran utama dalam pagelaran balet "Sleeping Beauty" di depan keluarga kerajaan dan para kalangan aristokrat Inggris.

Gemuruh tepuk tangan yang tiada henti ketika pertunjukan itu berakhir menunjukan betapa suksesnya ia menarikan Princess Aurora kala itu. Kerja kerasnya dalam berlatih balet selama ini akhirnya terbayar lunas. Banyak orang yang terpikat akan tariannya. Teriakan 'Encore' dari para penonton pun membahana ketika layar pertunjukan diturunkan. Memang sungguh suatu prestasi yang membanggakan bagi seorang penari asing, terutama yang berasal dari kawasan Asia dimana Balet tidak begitu memasyarakat.

Dan dengan ukiran keberhasilan yang hebat itu pulalah, Angela mengakhiri karir baletnya di benua Eropa. Ia memutuskan untuk kembali ke negeri asalnya dan menempuh pendidikan disana selain juga untuk lebih mengabdikan dirinya guna memajukan Balet di Korea Selatan. Memang sungguh sangat disayangkan, apalagi ia baru saja menerima tawaran beasiswa dari Moscow State Academy Of Choreography atau yang lebih dikenal dengan nama Bolshoi Ballet Academy -sebuah sekolah balet yang sangat terkenal di Moskow, Russia yang juga merupakan "pusat" dari dunia perbaletan- untuk belajar disana. Angela memang sangat tersanjung atas tawaran tersebut, tapi keputusannya sudah bulat bahwa ia akan pulang kembali ke Seoul. Maka dengan diiringi rasa kecewa oleh para petinggi Bolshoi, ia pun menolak tawaran tersebut.

"Apa kau yakin dengan keputusanmu ini?" tanya Alexei Sergeyev yang merupakan gurunya selama belajar di Royal Academy dan juga merupakan salah satu jebolan dari Boshoi, ketika ia mendengar bahwa anak didiknya tersebut telah menolak tawaran yang diajukan kepadanya.

"Ya pak, saya yakin sekali" jawab Angela mantap ketika itu "Saya rindu kampung halaman dan juga kedua orang tua saya, pak"

Dan disinilah ia sekarang, berdiri kembali di tanah kelahirannya tercinta. Ia menghirup dalam-dalam udara di tempat dimana ia berdiri saat ini "Korea....nomu nomu nomu nomu bogoshipeo!" ujarnya sambil setengah berteriak membuat para orang yang lalu lalang disekitarnya memandangnya dengan tatapan yang aneh, menyangka bahwa ia adalah orang yang tidak waras. Angela yang menyadari akan kebodohannya segera menundukan kepalanya karena rasa malu yang sangat menghampiri dirinya. Ia kemudian segera berjalan keluar tetap dengan kepala yang tertunduk.

"Angela..."
Tiba-tiba di dengarnya seseorang memanggil namanya. Ia pun segera mencari asal-muasal suara tersebut. Di tengokkannya kepalanya ke kiri dan ke kanan sebelum akhirnya pandangannya jatuh kepada sosok seorang wanita yang berdiri di luar area pintu keluar bandara. Setelah mengenali siapa wanita itu, Angela segera berlari kearahnya.

 “Eomma" katanya sambil memeluk erat-erat wanita yang merupakan ibunya tersebut yang juga dibalas dengan pelukan yang tak kalah erat dari sang mama.

 "Eomma....Bogoshipeo" ujar Angela setelah mereka saling melepaskan diri. Ia hampir saja menangis ketika mengatakan hal tersebut. Selama ini ia memang sangat merindukan ibunya. Ketika ia masih tinggal di London, ia hanya bisa berkomunikasi dengan kedua orang tuanya melalu telepon dan internet saja. Hal inilah yang menyebabkan ia menjadi sangat rindu kepada mereka berdua selama ini. Dan kini setelah sang ibu berada tepat di depannya, hanya ada satu hal yang ingin ia lakukan yaitu menangis dipelukan sang bunda sambil menumpahkan segala perasaan rindunya selama ini.

 "Kau ini, sudah besar masih saja cengeng" kata Barbara Kim sambil mengusap-usap wajah cantik, putih dan mulus milik putri tunggalnya tersebut.

 Angela langsung memasang tampang cemberut, berpura-pura marah atas gurauan ibunya tersebut tetapi sedetik kemudian keduanya sudah langsung tertawa tebahak-bahak bersama. Hal seperti inilah yang sangat dirindukan oleh Angela yang tidak ditemuinya selama ia menempuh pendidikan di Eropa, sang ibu yang menggodanya dan ia yang berpura-pura marah atas godaan tersebut.

"Mana Appa, Eomma?" Tanya Angela ketika ia menyadari akan ketidakhadiran ayahnya dalam reuni kecil keluarga tersebut.

"Appamu masih ada urusan, sayang. Ia harus bertemu dengan walikota untuk membicarakan mengenai pameran lukisan yang akan diadakan di gedung kesenian milik Appa" jelas ibunya.

Mulut Angela seketika itu juga membulat, membentuk huruf 'O' ketika ia mendengarkan penjelasan yang diberikan mamanya. Sebenarnya ia kecewa karena ayahnya tidak ikut serta menjemputnya di bandara saat ini karena ia pun sangat merindukan Appa-nya tersebut.

Barbara yang menyadari akan hal itu segera mencoba untuk membujuk putrinya tersebut. Ia membelai-belai kepala Angela dengan lembut seraya berkata "Tapi Appa sudah berjanji akan menemuimu di rumah nanti"
"Jeongmalyo?"

 "Ne..."

"Kalau begitu ayo kita segera pulang sekarang, Eomma. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Appa" kata Angela sambil menarik lengan ibunya. Barbara hanya mampu tertawa meihat kelakuan anaknya yang masih seperti anak kecil ini. Akhirnya dengan di iringi oleh canda tawa, pasangan ibu dan anak ini bersama-sama memasuki mobil yang akan membawa mereka berdua kembali ke rumah.

Ketika mobil yang ditumpangi oleh Angela dan ibunya telah melaju untuk meninggalkan bandara, tiba-tiba datang sebuah mobil hitam dari arah yang berlawanan sedang memasuki area bandara Incheon. Dan ketika mobil tersebut tepat berada di sisi mobil Angela, ia tanpa sengaja memandang keluar jendela dan melihat penumpang yang ada dalam mobil tersebut. Seorang pemuda yang berpakaian hitam dengan rambut pendek yang berantakan serta mengenakan kaca mata yang berwarna hitam pula tampak sedang duduk dengan tenang di bagian belakang dari mobil tersebut.

Entah kenapa Angela merasa bahwa ia pernah bertemu dengan pemuda tersebut di suatu tempat sehingga tanpa sadar pandangan matanya pun terus terpaku kea rah pemuda yang berada di dalam mobil tersebut. Bahkan ketika mobil yang ditumpangi oleh pemuda itu telah melewati mobilnya, Angela terus saja memperhatikannya. Dibalikannya badannya untuk memandang ke arah mobil itu melalui jendela belakang mobilnya.

Mobil tersebut akhirnya berhenti tepat di depan pintu gerbang keberangkatan di Incheon Airport dan pemuda yang berada di dalamnya pun segera melangkah turun setelah salah seorang petugas bandara membukakan pintu baginya. Ia memandang berkeliling di sekitar area tersebut sebelum akhirnya membuka kaca mata hitam yang sedari tadi menghiasi wajahnya.

Dari kejauhan Angela tampak sangat terkejut begitu mendapati bahwa rupa dan perawakan dari pemuda tersebut sangatlah mirip dengan pemuda yang berada dalam mimpinya tadi. Seketika itupula wajahnya menjadi pucat dan ia dapat merasakan tangannya menjadi dingin. Bagaimana mungkin ada orang yang begitu sama persis dengan yang ada di dalam mimpinya. Ia tidak berani melihat lebih jauh lagi. Dibalikannya badannya dengan segera dan menundukan kepalanya.

“Angela, ada apa?” Tanya ibunya begitu menyadari perubahan pada raut wajah anak gadisnya tersebut.

“Tidak ada apa-apa, Eomma” jawab Angela berbohong “Aku hanya lelah saja dan butuh istirahat”

Barbara kemudian merangkul pundak anaknya dan secara perlahan membawanya kedalam pelukannya. Ia mulai membelai-belai sayang rambut Angela sebelum akhirnya membaringkan kepala putrinya tersebut diatas pangkuannya.

“Tidurlah kalau begitu. Nanti eomma akan membangunkanmu jikalau kita sudah sampai dirumah” ujarnya lembut.

Angela hanya mengangguk pelan kemudian ia mulai memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur. Dalam hati ia berharap ketika ia bangun nanti segala hal yang telah terjadi tadi dapat ia lupakan.