CallMinsun
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
1 Hour
1 Day
1 Week
1 Month
Forever
Login with username, password and session length
News:
Home
Search
Calendar
Login
Register
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #30751
Poll
ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha
Kubu Rath
Kubu Daze
« previous
next »
Print
Pages:
1
...
119
120
[
121
]
122
123
...
252
Go Down
Author
Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11 (Read 99571 times)
Be my self
Admin
Hero
Posts: 7360
that winkkkk!!! *fainted
Re: from Seoul to ... Perth II, spoiler for next chapter ^^V
«
Reply #1800
on:
March 12, 2011, 04:25:48 am »
"Di sini juga banyak lukisan?!!" seru Daze takjub.
Rathyan berdeham pelan, terus menatapnya tanpa berkedip. Senyuman tersungging di bibirnya yang lembab.
"Tapi .. ," Daze berbalik padanya. "Tempat apa ini? Milik si Gracielo itu?"
"Ini duniaku!"sahut Rathyan sambil mengalihkan pandangan ke salah satu lukisan yang tergantung di depan.
"Ne?"
"Aku mengenal Gracielo sekitar dua bulan setelah kedatanganku ke sini, satu setengah tahun yang lalu .. ," Rathyan kemudian berbalik kembali pada Daze. "Dia pelukis jalanan.... "
"Dhe?" Daze melebarkan matanya.
Rathyan mengangguk. "Aku melihat bakat alam darinya .. Lukisan-lukisannya menceritakan kehidupan, mempunyai ciri khas tersendiri. Aku merasa sangat disayangkan kalau disia-siakan begitu saja makanya aku memutuskan menyalurkannya lewat galeri ini. Selain itu, tentu saja juga karena kecintaanku pada seni ... " lalu dia mengalihkan pandangan ke depan. "Gracielo keturunan Spanyol-Amerika. Orangtuanya meninggal ketika dia masih kecil. Setelah itu dia berjuang sendiri. Dia sangat menyukai seni lukis sehingga memutuskan menjadi pelukis jalanan setelah tamat sekolah dasar. Semua itu karena dia tidak punya uang. ... Aku berkenalan dengannya hmm--Aku masih ingat waktu itu, hujan yang sangat lebat mempertemukan kami. Semua lukisannya rusak berat dan dia mengumpat-ngumpat. Aku mendapati kalau lukisan-lukisan itu sangat istimewa, lalu kami berkenalan dan menjadi akrab. Sebulan kemudian kuputuskan membuka sebuah galeri, tapi aku tidak mempunyai waktu mengurusnya, makanya kuminta Gracielo untuk mewakiliku ...." Rathyan mengedarkan pandangannya berkeliling. "Dia mengurus galeri ini dengan sangat baik .. ," katanya mengangguk-angguk puas.
"R&G--Rathyan and Gracielo .. ," ucap Daze lirih.
Rathyan menoleh padanya. "Tahu apa maksud dari semua ini?"
Daze mengeleng perlahan. "Aniyo .. "
"Karena setiap seniman harus punya dunia sendiri .. ," jawab Rathyan. "Tidak terkecuali aku. Aku berharap suatu saat dapat menjalankannya dengan tanganku, .. hidup dan berjuang buat duniaku .. "
"O--" Daze mengangguk-anggukan kepalanya lalu tersenyum. Selanjutnya dia berpaling ke depan, mulai mengamat-amati lukisan-lukisan yang tergantung di dinding.
"Semua lukisan di lantai ini hasil tanganku ... ," ujar Rathyan pelan setelah diam beberapa saat.
"Jeongmal?" Daze berpaling sambil membulatkan matanya.
"Ne. Kau tidak percaya?" tanya Rathyan tanpa menoleh padanya.
Daze tersenyum. "Anhi. Bukan begitu maksudku .. ," kemudian dia berbalik kembali ke depan.
Ini dunia Rathyan
, ujarnya dalam hati. Lalu dia tersenyum puas. Ya, setelah sekian lama akhirnya ada juga yang diketahuinya tentang pemuda ini. Setelah sekian lama akhirnya Rathyan mau juga berterung-terang padanya. Walaupun cuma sedikit tapi Daze berjanji akan berusaha memahaminya.
Aku ingin masuk ke dalam duniamu ..
"Aku pernah menjanjikan padamu .. ," ujar Rathyan tiba-tiba.
"Dhe?"
Rathyan menoleh padanya. "Membawamu ke pameran-pameran yang sering kuhadiri." Dia beralih ke depan. "Dan .. ini salah satunya .. "
"O--" Daze membuka mulut dan menyunggingkan senyumnya. Lalu dia mulai melangkahkan kaki ke sisi lain ruangan itu. Dia berhenti begitu sesuatu menarik perhatiannya. Sekilas 'sesuatu' itu terasa tidak asing. Daze menoleh dan mendapatkan bahwa benda itu sungguh-sungguh pernah dilihatnya. "I .. ini .. ," katanya terbatah-batah sambil menunjuk lukisan di sebelahnya.
"Ne?" tanya Rathyan datar. Langkahnya dihentikan di belakang gadis itu.
"Lukisan ini ... lukisan yang waktu itu .. berada di kamar Dave ... "
"Eh--?" Rathyan menengok ke arahnya.
"Wanita itu .. aku kan?" tanya Daze sambil berpaling lambat-lambat.
"Jadi kau yang mengeledahnya?"
"Eh--?" Sekarang gantian Daze yang memandangi Rathyan dengan penuh tanda tanya. "Maksudmu?"
"Orang yang mengeledah lukisan-lukisan dalam kamar Dave!" ucap Rathyan. "Aku sudah merasa kalau lukisan-lukisan itu pernah diusik orang .. Bukan Dave karena dia tidak pernah melakukannya. Dia tahu bagaimana berartinya lukisan-lukisan itu bagiku dan aku akan murka kalau ada orang yang berani menyentuhnya. Dan ternyata perasaanku benar .. "
Daze membuka mulut. Namun sesaat kemudian dia menunduk. "Mian ... " Hanya berjarak beberapa detik dia mengangkat kepala kembali. "Gentwee, .. wanita dalam lukisan itu benar aku kan?" tanyanya keras kepala.
Beberapa saat kemudian mereka saling berpandangan. Dave menatap dengan raut menuntut. Sedangkan Rathyan merapatkan gerahamnya lalu berdeham pelan. Pandangannya dialihkan dengan kaku.
"Ayo ke sana!" kata pemuda itu tiba-tiba. Tangannya menyambar pergelangan tangan Daze dan menariknya. "Ada yang ingin kutunjukan!"
"Yaa--kau belum menjawab!" protes Daze. Tapi percuma saja karena Rathyan sudah 'agak menyeretnya' ke tempat yang dia maksud.
Mereka berjalan sampai di sebuah lukisan dekat jendela.
"Lihat ini!" kata Rathyan sambil menunjuk ke depan. "Menurutmu bagaimana? Apa artinya?"
Daze memajukan bibir ke depan. Dengan malas dia berpaling ke depan. Sebuah lukisan abstrak terhampar di depan matanya sekarang. Lukisan yang hanya berupa gumpalan-gumpalan cat putih dengan coretan gambar hati di ujung paling atas. Gambar hati itu berwarna merah darah, sedangkan bagian paling bawah ada gumpalan-gumpalan cat kuning oranye yang mirip kobaran api.
"Hanya sebuah lukisan .. ," jawab Daze datar.
"Hanya sebuah lukisan?" Rathyan mengenyitkan alisnya. Hanya sepersekian detik kemudian dia tersenyum. "Ne, hanya sebuah lukisan." dia mengangguk pendek. "Tapi .. tahukah kau, ada makna penting dibaliknya?"
"O ya? Apa itu?" tanya Daze, kelihatan mulai tertarik.
"Hati perlambang hati, tentu saja. Perasaan yang tidak gampang diraih. .. Akan sulit menebak perasaan orang ... " Lalu Rathyan menunjuk gumpalan-gumpalan cat putih yang diapit antara gambar hati dan gumpalan cat kuning oranye yang mirip kobaran api. "Putih artinya polos, tidak ternoda oleh apapun .. sedangkan cat oranye di bawahnya perlambang kemurkaan ... " Dia berpaling pada Daze. "Saya ingin menekankan di sini, bahwa batas antara hati dan amarah adalah suci ... Apapun kemurkaan itu, semuanya berawal dari kepolosan dan hati yang sulit diselami .. "
"Kau ... , ingin mengambarkan tentang hubungan kita?" tanya Daze lambat-lambat.
Rathyan mengangkat bahunya. "Aku tidak tahu apa yang ingin kugambarkan lewat lukisan ini, tapi--yang jelas .. lukisan ini kubuat waktu pertentangan perasaanku tentang hubungan kita di depan orangtua-mu .. "
"Rath .. ," desah Daze lirih.
Begitu perihnya kah perasaanmu saat mendapat umpatan-umpatan dari omma?
Rathyan memutar badannya. "Apapun itu .. semua sudah berlalu . . ," katanya sambil melangkah dari situ.
"Tapi aku ingin tahu lebih banyak tentangmu .. ," desak Daze sambil berlari-lari kecil di belakangnya. "Rath .. cerita lagi ya?"
"Masih ada waktu untuk itu . . ," ujar pemuda itu.
"Rath!!"
Rathyan tidak memperdulikannya. Pemuda itu terus melangkah menuruni anak tangga dengan sepasang tangan terselip di saku mantelnya. Tenang dan tidak terpengaruh. Tapi tanpa sepengetahuan Daze, senyum tipis tersungging di bibirnya.
ooooOoooo
Rathyan dan Daze keluar dari studio R&G sekitar dua setengah jam kemudian. Tuan Park sudah menunggu mereka di samping sebuah mobil perak yang terparkir di depan galeri itu. Rathyan berjalan kearah pria itu dan melempar sebuah gumpalan kertas kecil di tangannya.
"Ke alamat itu!!" serunya sambil membuka pintu dan memberi jalan buat Daze masuk ke dalam, setelah itu dia sendiri menghempaskan tubuhnya di sebelah gadis itu.
Tuan Park membuka gumpalan kertas tersebut, lalu mengangguk pendek. Diberikannya kertas tersebut pada pak sopir dan sebentar kemudian mobil itu meluncur keluar dari area galeri.
ooooOoooo
Mobil yang membawa Rathyan, Daze, beserta tuan Park melaju di jalan raya. Melewati beberapa jalan kecil yang diapit pohon-pohon cemara di kedua sisinya, lalu mulai memasuki area-area yang tidak begitu asing bagi Daze.
"Bukankah kita akan ke bandara?" tanya Daze pada Rathyan. "Kenapa ambil jalan ini? Lagipula ... " Perkataannya memelan ketika pemandangan luar yang tertangkap olehnya semakin akrab. Sepertinya dia sudah sangat mengenal tempat-tempat ini. "Ki .. kita akan kemana?"
Rathyan tidak menjawab dan mobil juga terus berjalan. Sampai Daze menyadari tujuan mana yang akan mereka tuju.
"I .. ini .... "
Mobil perak itu berhenti tidak begitu jauh dari sebuah rumah bertingkat dua. Rathyan membuka pintu di sampingnya kemudian melangkah keluar. Dia mengitari badan mobil sampai di sebelah Daze lalu membuka pintu buat gadis itu. Namun Daze tidak bergerak. Kenyataan ini sangat menguncangnya. Bagaimana mungkin pemuda ini membawanya ke Han's mansion?
"Turunlah .. ," perintah Rathyan.
Daze menengadah padanya. "Ke ... kenapa? Bukankah kita mesti ke Sydney?"
"Kau tidak perlu ikut denganku .. ," sahut Rathyan, berlagak tidak perduli.
"Tapi .. "
"Sudah ada tuan Park yang menemaniku. Jadi kau tinggal-lah di sini. Lagipula tidak ada yang bisa kau lakukan buatku. Membawamu sama saja menambah bebanku .. "
"Mwo?"
"Keluarlah!"
Sedikit memaksa Rathyan 'membantu' Daze keluar dari mobil. Pak sopir mendekati mereka dengan menjinjing koper Daze.
"Apa diletakan di sini saja, doronim?"
Rathyan mengangguk tanpa memberi jawaban. Lalu dia mencondongkan tubuh ke arah Daze. "Anyong Daze Han .. " Dikecupnya jidat gadis itu sekilas kemudian berjalan kembali ke mobilnya. Tidak dihiraukannya pandangan mengangga dari Daze. Matanya langsung bersinar tajam begitu mendapati tuan Park sedang berbicara di telepon.
"Ne, agashimida pak presiden .. ," kata asisten pribadi itu sambil melirik tuan mudanya.
"Bisa berangkat sekarang?" tanya Rathyan dingin.
Tuan Park membungkukan badan dengan raut menyesal. "Ne, doronim .. "
Rathyan masuk ke dalam mobil dan menghempaskan pintunya dengan kesal. "Dan katakan pada-'NYA', aku akan melakukan apa yang telah kujanjikan padanya ... jadi jangan membuatku muak!!"
Tuan Park menghela nafas seraya mengangguk pelan. "Ne, doronim .. "
Sebentar kemudian mobil itu sudah melaju meninggalkan tempat itu. Daze mengikuti kepergian Rathyan dengan pandangan nanar.
tettt ,, tettt,,
Dia tersentak ketika merasa sesuatu bergetar dari dalam tasnya. Segera saja digeledahnya tas genggamnya itu dan terburu-buru mengeluarkan ponsel dari dalamnya. Ada pesan masuk.
Sampaikan salam ku pada Dave. Aku berharap dapat meluangkan sedikit waktu buat pernikahannya namun seperti yang kau ketahui jadwalku terlalu padat .... Hadiah akan kukirimkan besok. Dan kau juga--take care. Enjoy your time. Aku berharap kita segera bertemu kembali~~~
Rathyan Jang-
Daze mengusap monitor ponselnya .. dan dia tersenyum. Senyuman yang sangat lebar.
Ternyata Rathyan tidak melupakan pernikahan Dave. Ternyata selama ini dia perduli. Dia hanya berlagak tidak tahu.
ooooOoooo
Tok .. tok ... tok ...
Seraut wajah muncul dari balik pintu, dan sepasang mata itu terbelalak lebar begitu mendapati Daze berdiri di situ.
"Noona!!!"
Daze menyunggingkan senyumnya. "Anyong dongseng-a .. "
"Ba .. bagaimana ... mungkin noona berada di sini? Omma bilang .. noona tidak bisa menghadiri pernikahanku .. "
"Memang .. ," jawab Daze ringan. "Namun majikanku tiba-tiba membebaskanku ... "
"Majikan baru noona?"
Daze mengangguk. "Ne ... ," lalu dia berpikir apakah sebaiknya menceritakan tentang Rathyan pada Dave. Tapi setelah menimbang-nimbang sebentar dia mengambil keputusan untuk tidak menceritakannya. Lebih baik tidak membahas Rathyan daripada semuanya jadi kacau. Apalagi mengingat Carlson juga akan hadir dalam acara pernikahan itu.
"Apa noona tahu omma dan appa beserta Carls hyung tiba besok sore?" tanya Dave sambil meminggir sedikit untuk memberi celah Daze masuk ke dalam rumah.
"Ne .. "
"Noona ikut menjemput mereka?" tanya Dave sambil menutup pintu.
"Tentu saja . .," jawab Daze. Diletakannya kopernya ke lantai dan menyapu seisi ruangan. "O ya, kemana keponakan kecilku?"
"Dia .. ," Dave tertawa. "Nat sedang menyusuinya di kamar. Apa noona ingin segera bertemu dengannya? Tidak perlu istirahat dulu?"
Daze mengeleng keras-keras. "Anhi! Saya tidak capek .. "
"Okay. Kalau begitu noona ke kamar saja. Biar aku yang membawa koper ini ke kamar noona .. "
"Okay. Thanks, dongseng-a .. "
Lalu mereka bersama-sama naik ke lantai atas. Daze menuju ke kamar Dave buat melihat keponakan kecilnya, Cherryl. Sedangkan Dave menaruh koper Daze ke kamarnya.
ooooOoooo
"Sungguh harus melakukan ini, doronim?" tanya tuan Park serius.
Rathyan mengibaskan tangan sambil melangkah ke dalam bandara Sydney. "Lakukan sesuai perintahku!!"
"Ta .. tapi .. "
Rathyan segera berbalik dengan sepasang tangan terlipat di depan dada. "I SAID BACK TO PERTH NOW, MR. PARK!!!"
"Namun meeting besok sangat penting, doronim .. " Tuan Park berusaha memberi pengertian walaupun tahu itu percuma. Sekali Rathyan sudah mengambil keputusan maka sulit untuk membatalkannya.
"Undur sampai minggu depan .. " Rathyan memutar badan dan meneruskan langkahnya. "Jika pihak mereka tidak bisa menunggu, lempar ke firm lain. Kita tidak membutuhkan mereka!"
"Doronim .. "
"This is an order, mr. Park!!"
Tuan Park memejamkan matanya. Rathyan mulai lagi dengan kuasanya. Sekali dia bilang 'This is an order!', maka tidak ada seorangpun yang boleh membantahnya.
"Dan kuperingatkan, jangan melaporkan masalah ini pada orang itu!" ucap Rathyan dingin. "Karena apapun perkataannya, aku yang paling berkuasa dalam proyek ini!!"
Tuan Park akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. "Ne, doronim .. "
Lalu mendadak Rathyan memutar badan dan tersenyum mengejek. "Namun, aku tidak keberatan jika kau yang mewakiliki ku dalam meeting kali ini .. "
"Mereka hanya ingin berdiskusi dengan 'pemimpin' tertinggi Max-Global .. doronim .. ," jawab tuan Park tenang.
Rathyan mengangkat bahunya cuek. "Ya sudah. Kalau begitu batalkan saja!"
Setelah itu dia kembali melangkahkan kakinya. Tuan Park memandangi punggung pemuda itu sambil sekali-kali mengelengkan kepalanya.
Susah benar mengatur tuan mudanya yang satu ini.
ooooOoooo
Ting tong .. ting tong ...
"Sebentar!!!"
Daze berlari ke pintu depan begitu bell rumah dibunyikan berulangkali. Dia membuka pintu itu dan .... tampangnya langsung berubah horror, .. mulutnya mengangga sampai-sampai dagunya hampir melorot mengenai leher saking kagetnya.
"Ra .. rath ... ," panggilnya gugup.
"Wee?" Rathyan tertawa kecil. "Kau terlihat kaget sekali. Surprise, Daze Han!" Dia mencondongkan tubuh ke depan sampai mengenai wajah Daze. Lalu dikecupnya bibir yang bergetar hebat itu.
"Ke .. kenapa bisa berada di sini?" tanya Daze terbatah-batah.
"Sudah kubilang, surprise!" sahut Rathyan dengan nada bariton yang sangat khas. "Apa aku tidak diperkenankan masuk?" tanyanya sambil melayangkan pandangan ke dalam.
"Itu ... ," tanpa sadar, Daze merentangkan kedua tangannya di depan pintu. "Kau .. bukankah seharusnya berada di Aussie hari ini?"
Rathyan mengangkat bahunya. "Memang. Tapi aku memilih kembali ke sini .. "
"Wee?!!" tanya Daze keras.
Rathyan membuka mulut buat menjawab, namun panggilan dari dalam rumah menghentikan maksudnya.
"Siapa itu, Dazya?"
Daze terperanjat. Dengan gerak lambat, dia berpaling. "Ehh--"
Sedangkan Rathyan memicingkan matanya buat menajamkan pandangan ke depan, .. dan .. rautnya langsung berubah kaku.
"Tuan Jang?!" seru Carlson dari ambang pintu, di belakang Daze.
"Kenapa dia berada di sini?" tanya Rathyan dingin. Pandangannya tidak berkedip tertuju pada Carlson.
"I .. itu .. ," Daze mendesah namun tidak mampu memberikan jawabannya. Rathyan sangat murka, dan dia menyadari itu. Raut pemuda yang tadinya berseri-seri ini jadi kelam. Mata elangnya memancarkan aura membunuh dan pada saat ini Daze sangat takut dia bakal melakukan sesuatu di luar jangkauannya. Terutama pada Carlson.
"Jelaskan padaku!!" bentak Rathyan keras.
Daze terlonjak dari tempatnya. "Rath .. ," desahnya lirih. Tapi kembali mulutnya seperti terkunci. Selain desahan tadi, tidak ada lagi yang mampu dikeluarkannya.
"Tidak ada yang ingin kau jelaskan padaku?!" Rathyan mendesis. "Ini inti dari kepercayaan yang kau maksudkan itu? Kau tahu aku tidak suka, kenapa melakukannya?!!"
"Aku ... " Daze menunduk lemas.
Apa yang bisa dikatakannya sekarang? Jujur pada Carlson? Tapi dia tidak ingin menyakiti pemuda itu. Carlson sudah terlalu baik padanya. Namun untuk menyakiti Rathyan, dia lebih tidak tega lagi. Hatinya sangat sakit, seperti tertimpa palu berat ..
"Ada apa, Dazya?"
Daze merasakan sentuhan di lengannya. Dia mengangkat kepala dan mendapati pandangan Carlson.
"Gwencana?" tanya pemuda itu khawatir. Dia menyadari telah terjadi sesuatu dari wajah pucat Daze. "Katamu, tuan Jang meluluskan cutimu. Lalu kenapa dia bisa muncul di .. "
"Minggir!!" Tiba-tiba Rathyan berteriak keras.
Perkataan Carlson terpotong oleh kelakuan Rathyan yang mendorongnya sampai terhempas mengenai pintu. Carlson meringis, namun sosok jangkung tersebut melewatinya begitu saja, dengan langkah tegap dan dingin. Rathyan masuk ke dalam rumah, berbalik dan menghempaskan tubuhnya ke sofa. Tampangnya sangat mengerikan saat itu, ... dengan pandangan menusuk yang tertuju ke depan, tidak berkedip, dan ekspresi datar yang sulit ditebak, justru membuatnya terlihat menyeramkan, laksana seorang pembunuh berdarah dingin. Bahkan, segumpal awan hitam seolah-olah tergantung di atas kepalanya yang terlindungi rambut hitam panjang acak-acakan.
"Daze .. ?" Carlson menaikan alisnya. Namun Daze mengeleng pelan.
Lalu dia memejamkan mata dan menghembuskan nafas lemah. "Kenapa jadi begini?"
ooooOoooo
Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ...
keeps it strong!!!
Our MinSun
Print
Pages:
1
...
119
120
[
121
]
122
123
...
252
Go Up
« previous
next »
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #30751