THE MAESTRO
Chapter 6
Additional Cast :
Son Hye Jin as Jenifer Son
Lee Hwo Yong as Victoria Lee
Jung Hwo Bin as Harryot Lee
Song Of The Day :
Memory--- Barbra Streisand
Midnight
Not a sound from the pavement
Has the moon lost her memory
She is smiling alone
In the lamplight
The withered leaves collect at my feet
And the wind begins to moan
Memory
All alone in the moonlight
I can smile happy your days ( I can dream of the old days)
Life was beautiful then
I remember the time I knew what happiness was
Let the memory live again
Every street lamp seems to beat
A fatalistic warning
Someone mutters and the street lamp gutters
And soon it will be morning
Daylight
I must wait for the sunrise
I must think of a new life
And I mustn’t give in
When the dawn comes
Tonight will be a memory too
And a new day will begin
Burnt out ends of smoky days
The still cold smell of morning
A street lamp dies ,another night is over
Another day is dawning
Touch me,
It is so easy to leave me
All alone with the memory
Of my days in the sun
If you touch me,
You’ll understand what happiness is
Look, a new day has begun...
Dua hari sebelum pesta ulang tahun Joana. Aldian merasa bahwa dia sendiri yang harus mengundang orang tuanya ke pesta itu. Harriot Lee dan Victoria Lee, orang tuanya yang kini tinggal di villa luar kota Seoul. Keduanya juga sangat mencintai Joana bahkan sudah menganggap sebagai anak sendiri. Tapi Aldian tidak tahu ada niatan lain dibalik hati orang tuanya tentang Joana. Apakah itu? Biarkan kisah ini yang akan menjelaskannya.
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit dengan mobil mewahnya, sampailah Aldian di vila megah orang tuanya itu. Harry menyambut sang putra dengan penuh suka cita, begitu pula Vicky. Mereka memerintahkan pelayan menyuguhkan makanan yang enak-enak. Minuman kesukaan Aldian, wine langka yang tersimpan bertahun-tahun di ruang penyimpanan, muncul juga sebagai suguhan utama. Mereka bercengkrama sampai larut, dan saat semua merasa santai, Aldian mengungkapkan maksud dari kunjungannya itu. Disodorkannya undangan kecil pada Harry.
“Pesta ulang tahun Joana?” tanya Harry setelah menekuri undangan itu.
“Ne,” jawab Aldian.
“Jinja?” tanya Vicky setelah merebut undangan dari tangan suaminya.”Aku tidak menyangka secepat ini Joana berumur sembilan belas tahun.”
“Aku juga tidak menyangkanya, Omma.”
“Sudah lama aku tidak melihat gadis itu. Setiap kali aku datang, dia selalu memanggil nyaring, Halmoni… halmoni…, tapi itu dulu. Sangat ceria. Sekarang apa dia masih seperti itu?”
“Tentu saja masih,”ujar Aldian sambil membayangkan tingkah manja Joana. Victoria tersenyum bahagia,”Oh ya, di mana pestanya?”
“JW Mariot, Omma.”
“JW Mariot,” eja Victoria kembali. “Kau pasti sangat menyayanginya hingga membuat pesta semegah itu.”
“Aku hanya ingin menyenangkannya. Dia berhak mendapatkannya karena selama ini, dialah yang selalu menghibur hatiku.”
Sekali lagi Victoria tertawa. “Seorang gadis selalu membawa suka cita di rumah mana pun yang dia tempati. Itulah sebabnya aku sangat menyayanginya, dia seperti putri yang tidak pernah aku dapat.”
“Ah, sudahlah… Kenapa kau harus mellow,” olok Harry pada istrinya.”Kau sudah mendapatkan dua orang putra yang gagah dan seorang cucu.”
“Ne, tapi mereka semua namja,” Victoria masih saja protes. Lalu wanita ini menoleh kea rah Aldian. “Oh ya, ALdian. Kami berniat menjodohkan Dany dengan Joana.”
“Ne,” angguk Harriot.” Aku lihat mereka sangat akrab.”
Victoria semakin sumringah,”Jika Joana jadi cucu menantu di keluarga ini. Itu berarti Joana menjadi keluarga kita seutuhnya. Dan aku rasa Danny juga menyukai Joana.”
Mendengar antusiasme orang tuanya, hati Aldian bagaikan teriris. Seperti ada sebuah pisau yang menekan. Tapi dia masih meyakini bahwa perasaan itu salah. Saat ini, begitu inginnya Aldian keluar dari permasalahan ini. Hingga akhirnya Harry berkata dengan sangat gamblang kepadanya,” Kau sendiri, Aldian. Sudah lama sekali kau menduda. Aku harap kesedihanmu itu sudah hilang. Aku mempunyai seorang teman dan temanku itu mempunyai seorang putri. Sangat cantik dan lulusan luar negeri. Dia bernama Jenifer.”
“Jenifer,” ulang Aldian.
“Ne…, Jenifer Son.” Kata Harry meyakinkan,”Dan aku rasa dia sangat cocok denganmu.”
Aldian manggut-manggut. Dia merasa tidak ada salahnya mencoba. Mungkin itu adalah jawaban dari doanya saat ini. Untuk keluar dari rasa yang menyiksa itu, perasaan terhadap Joana yang dianggapnya salah. Dengan menerima perjodohan ini atau mungkin menikah dengan Jenifer, perasaan salah itu pasti lambat laun akan hilang, setidaknya itu yang dipikirkan oleh Aldian karena tidak mungkin menikahi Joana, gadis suci yang selama tiga belas tahun berada di rumahnya.
Aldian pun memutuskan dengan suara lantang,”Oke, atur saja pertemuan kami. Jika semuanya sudah siap, kabarkan padaku.”
Harry tertawa mendengar perkataan Aldian. Kemudian sesuatu meluncur juga dari mulutnya,”Kalau masalah itu, tidak ada masalah buat Appa. Besok pun kau bisa bertemu dengannya. Bagaimana jika di Budhist Café?”
“Budhist Café?”
“Ne, Budhist Café. Café itu sangat tenang dengan nuansa Budhaisme yang sejuk. Tentu suasana makan malam yang sangat menyenangkan untuk calon pasangan kekasih.”
Aldian sontak tertawa mendengar canda Harry.”Apa maksud Appa dengan kekasih padahal kenal saja kami belum.”
“Entahlah,” respon Harry. “Tapi kalau kalian memang berjodoh, tidak masalah, bukan?”
Aldian masih tetap tertawa, akan tetapi pikirannya semakin bimbang. Kebimbangan itu masih menyelimuti benak Aldian saat menemui Jenifer di Budhist Café, seperti yang telah diatur oleh Harriot.
Kesan pertama yang dilihat Aldian dari Jenifer adalah seorang wanita dewasa. Jenifer berumur hampir tiga puluh tahun, dengan sorot mata tajam, penuh dengan misi. Tentu saja, dia adalah gadis berpendidikan lulusan luar negeri, yang tahu betul apa yang akan dilakukannya. Bicaranya sungguh menggoda. Dia adalah gadis berpikiran dewasa. Setidaknya itulah yang berhasil ditangkap oleh Aldian di pertemuan itu.
“Aku bekerja di Lee Corporation,” ujar gadis itu.
“Lee Corporation?”
“Ne…, Divisi pemasaran.”
Aldian menggeleng lemah.”Aku adalah owner Lee Corporation.”
“Jinja ? Jadi kau adalah bosku?”
Aldian keheranan.”Bagaimana mungkin aku tidak tahu.”
Jenifer menertawakan keheranan Aldian,”Kau adalah owner karena itu urusan manajer rendah seperti aku tentu luput dari pengamatanmu.”
“Itu bagus, Jeny. Tapi kau tahu, kan? Bahwa di pertemuan ini bukan pekerjaan yang kita bicarakan.”
“Aku tahu, Aldian-ssi. Mereka berusaha menjodohkan kita.” Jawab Jenifer.
“Lalu bagaimana pendapatmu?” tanya Aldian. Kali ini gadis di depannya itu tersenyum.”Entahlah. Aku sendiri juga kurang tahu. Kau sendiri?”
“Aku juga.”
Mereka pun tertawa berdua. Dan kemudian, Aldian berkata, “Tapi aku berpikir tidak ada salahnya mencoba.”
“Mencoba?”
Aldian mengangguk.”Kita jajagi perasaan masing-masing dulu dan jika kita memang cocok dan jodoh, kenapa tidak?” Aldian berkata seperti itu tapi sebenarnya, pikirannya tertuju pada Joana. Kebersamaan selama bertahun-tahun dengan Joana itulah yang membuat perasaan aneh itu muncul dan mungkin kebersamaannya dengan Jenny akan memunculkan perasaan itu pula pada Jenny. Setidaknya itulah yang dipikirkan Aldian.
Jenny tersipu malu. Mengira Aldian memandanginya, padahal yang sebenarnya pandangan itu kosong. Di benak Aldian, Joana yang manja menari-nari. Janifer sudah salah sangka. Aldian sedang melamun dan yang dilamunkan adalah Joana.
“Baiklah,” putusan Jenifer. “Saya juga akan mencoba hubungan ini, Aldian-ssi,” jawab Jenifer mantap yang agak membuyarkan lamunan Aldian. Itu adalah akhir dari pembicaraan serius mereka karena setelah itu, pembicaraan jadi lebih santai, lebih menceritakan diri masing-masing. Tentang Jenifer, siapa dirinya, kesukaannya, dan kehidupannya selama ini, dan juga Aldian, tentang dirinya, dan cinta masa lalunya, serta Joana, adik Almarhumah istrinya.
Di Lee Manshion, Joana menikmati makan malam yang kurang menyenangkan bersama Chintya. Aldian tidak tampak di ruang makan. Tentu, karena Aldian sedang di Budhist Café sekarang. Tampak Joana tidak nafsu makan, sesekali diliriknya kursi yang biasa diduduki Aldian. Dia mendengus, dan agak malas memasukkan makanan ke dalam mulut.
“Kalau makan jangan sambil bengong,”sindir Chintya.”Emang enak, ya? Makan sambil bengong?”
Joana mengkerucutkan bibir. Kepalanya menoleh lagi ke kursi kosong Aldian. “Uni…,” panggilnya.
“Mwo?”
“Uni tahu, tidak dimana Oppa?” tanyanya memelas.
Chintya mengangkat bahu. “Oppamu pria dewasa, Joan-a. Mungkin dia ada acara dengan temannya. Seperti Uni yang akan ada janji dengan Nicholas Jang.”
“Mwo?” Joana terkejut dan menoleh pada Chintya.”Uni dan Nicky Oppa berkencan?” tanyanya kemudian.
Chintya mengangguk sembari tersenyum.”Sepertinya nanti Uni akan menginap di tempat Uncle Harry. Kau mau ikut?”
Joana menggeleng.”Joan belum ijin sama Oppa. Salam saja buat Haraboji dan Halmoni.”
Panjang umur juga orang yang sedang mereka bicarakan karena sebentar saja Nicholas Jang sudah memasuki ruangan itu. “Anyong, Nona-nona,” sapanya. Kedua gadis itu mengangguk bersamaan. Dia mendekati Chintya dan mengecup keningnya lembut,”Sudah siap, Sayang?”
Chintya mengangguk.”Tunggu sebentar, aku harus merapikan dandananku dulu.” Gadis itu pun melesat ke kamarnya meninggalkan Joana dengan Nicholas.
“Mana Oppamu?” tanya Nicholas pada Joana yang membuat gadis itu tambah mayun. “Tahu…,” jawab Joana.
“Oppa!” panggil Joana sambil menggerak-gerakkan lengan Nicholas.
“Wae?”
“Apa Aldian Oppa ada bercerita kalau dia sedang dekat dengan seseorang?” tanya Joana, hatinya bagai teriris menanyakan itu. Tampak dari lagaknya yang menggigit bibir, menanti jawab Nicholas dengan harap-harap cemas.
“Ye…Bukankah seharusnya kau yang lebih tahu karena kalian serumah?” tanggapan Nicholas sambil mengelus kepala Joana.
“Aku sudah siap,” panggil Chintya mengakhiri percakapan Nicky dan Joana.
”Kacha!” ajak Chintya lagi. Nicky memohon diri pada Joana dan menerima uluran tangan Chintya untuk meninggalkan ruang makan.
Mereka berjalan menuju mobil, beriringan sambil bergandengan tangan. Lalu saat sampai di dalam mobil, Chintya menanyakan percakapan Nicholas dengan Joana,”Apa yang kalian bicarakan tadi di ruang makan.”
Pria itu tersenyum, sambil mengaitkan sabuk pengaman ke perut Chintya, dia menjawab,”Anak itu menanyakan perihal Aldian.”
“Maksudnya?”
“Dia tanya apa Aldian sedang dekat dengan seseorang,” sambung Nicholas lalu tersenyum saat mulai menghidupkan mesin mobil.
“Kenapa kau tersenyum?” Chintya heran melihat ekspresi anehnya. Dia menoleh sebentar untuk menjawab,”Ada hal aneh diantara mereka.”
“Aneh?”
Sesaat mobil sudah meninggalkan areal Lee Manshion. Pembicaraan dua orang di dalamnya masih berlanjut. “Mungkinkah mereka tertarik satu sama lain?” tanya Nichola tiba-tiba.
“Nughu?” Chintya bertanya balik.
“Aldian dan Joan.”
“Mwo?” sontak Chintya terkejut,”Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Aldian dengan anak kecil itu?”
Nicholas tertawa mengolok,”Dia bukan anak kecil lagi, Chintya.”
Chintya jadi kepikiran juga. “Kalau itu yang terjadi….
Gadis itu menoleh pada Nicholas. Mobil masih lurus membelah jalan raya.”Orang yang paling pertama menentang tentu Uncle Harry,” pikir Chintya.
Chintya jadi menghembuskan nafas panjang, memikirkan kenyataan itu. Joana yang semakin mirip Alicia dan sepanjang pengetahuannya, Harry sangat ingin menjodohkan Joana dengan Danny.”Tidak mungkin. Jangan sampai ini terjadi.”
------------------------------------------
Jam dua belas malam tepat. Tidur Joana terganggu oleh deringan telephon, dengan suara serak di jawabnya panggilan itu,”Yoboseyo?”
“Bangun, gadis yang berulang tahun!” hardik dari balik telephon.
“Oppa?” Joana melonjak kaget, mengira Aldian yang menelphon.
“Anhi! Melek dulu, lah… masa tidak kelihatan kalau ini nomorku,” masih jawaban dari seberang. Serta merta Joana mengamati layar Hp.”Dan.. Danny?”
“Ne, turunlah kau ke lapangan tenis, kutunggu kau di sini.”
Bip! Sambungan diputus. Joana mengucek-ucek mata, sesekali menguap untuk menghilangkan kantuk. Turun dari ranjang untuk mencuci muka, lalu mengenakan kimono dan segera menemui Daniel ke lapangan tenis.
Dia agak menyusutkan kimono saat memasuki lapangan tenis, udara serasa dingin menusuk, sepertinya akan hujan. Dan…. Oh, My God! Dany sungguh tak perduli cuaca karena di lapangan itu, meja candle light dinner sudah tersedia, dan pria itu berdiri di sampingnya dengan senyum sumringah, tampil bak pangeran bertuksedo menggenggam seikat buket mawar.
“Saengil Chukae,” sapa Dany sambil menyodorkan buket mawar itu dan disambut dengan senang hati oleh Joana.”Gumawo.”
Pria itu tiba-tiba menjetikkan jari, lalu di tengah lapangan yang biasanya terpampang net, kini spanduk besar meluncur turun dengan tulisan,”Would you be my lovely?”
Joana tertegun melihatnya. Di depannya kini Dany menanti jawab dengan penuh pengharapan dan terus terang dia jadi tak enak hati. Selama ini, dia hanya menganggap Dany sebagai kakak, tiba-tiba Dany menawarkan asa itu padanya. Mawar itu pun terlepas, meluncur begitu saja ke lantai, lalu dia melangkah menjauhi tempat itu.
Danny yang terkejut segera mengejar Joana. Dia menghalangi langkah gadis itu saat sampai di depan Joana.”Joan-a, Miane… mungkin ini terlalu tiba-tiba, ya?”
Joana mendongak, menatapnya teduh, tapi gadis itu tidak pandai berbohong. Dalam hatinya telah terpatri nama seseorang, masih samar sebenarnya. Bahkan dia sendiri tidak tahu, cinta ini akan berbalas atau tidak tapi dia begitu ingin mempertaruhkan semuanya. Dia tidak tahu kapankah semua ini bermula, dari manakah timbul perasaan itu. Perasaan suka pada Aldian Lee, walinya sendiri.
“Anhi, Dany-a. Hanya saja….
Joana tak mampu meneruskan kalimatnya. Pria di depannya begitu penasaran hingga bertanya,”Mwo?”
“Sudah ada seseorang di hatiku,” jawab Joana akhirnya. Tubuh Dany pun lemas sudah, kakinya bagai melumer seperti agar-agar, dan itu karena cinta yang tertolak, tapi dia berusaha berbesar hati. Dengan mantap dia mengulurkan tangannya,”Aku mengerti, Joan-a. Sekali lagi Chukae.”
Ragu-ragu Joana membalas jabat tangan itu. Angin semakin kencang bertiup, mengibarkan rambut panjangnya.”Akan hujan, Dany-a. Sebaiknya kau pulang. Tentu Halmoni sangat mengkawatirkanmu.”
Danny tersenyum. Joana berbalik, lari ke dalam manshion. Hujan turun seketika dan Danny masih saja terpaku menekuri pengalaman malam ini. Dia menoleh ke lapangan tenis, lilin di atas meja itu sudah padam, begitu pula asa di hatinya lalu berjalan menuju mobil untuk kembali ke Vila.
Saat akan menaiki tangga, Joana mendengar suara mobil Aldian memasuki pekarangan Lee Manshion, urunglah niatnya dan segera menyambut kedatangan Aldian dengan senyum yang paling manis.
“Belum tidur?” tanya Aldian saat gadis itu mengapit lengannya. Joana hanya menggeleng. “Joan bawakan tas Oppa ke ruang kerja,ya?”
Aldian tersenyum mengangguk, tas itu pun berpindah tangan untuk menuju ke ruang kerja, sementara Aldian naik tangga memasuki kamarnya.
Di ruang kerja, Joana meletakkan tas kerja Aldian di tempat biasa. Tiba-tiba sesuatu meluncur turun ke lantai, berasal dari kantong depan tas yang agak terbuka. Joana memungut sesuatu itu yang ternyata sebuah foto. Foto seseorang yang kini tengah dia amati. Tepatnya foto seorang wanita. Dibaliknya foto itu dan di sisi lain lembaran itu tertera sebuah nama,’Jenifer Son.’
Joana masih mengamati dengan alis berkerut. Tiba-tiba suara gemuruh langit menggelegar, Joana yang selama ini takut akan petir menyusut, dirasakannya rumah megah itu sangat sunyi dan itu menambah ketakutannya. Sekali lagi bunyi petir terdengar, hujan di luar rupanya semakin deras. Foto di tangannya terlepas sudah, dia berlari menaiki tangga, lalu memasuki sebuah kamar.
Kamar Aldian yang dimasukinya. Pria itu sudah pulas di atas ranjang. Sekali lagi suara gemuruh terdengar. Joana yang ketakutan meringkuk tidur di samping Aldian. Tentu saja gerakan bed yang tiba-tiba membuat Aldian terbangun.
“O… Op.. Pa..,” panggil Joana takut. Aldian memandanginya sambil menahan kantuk. “Joan tidur di sini, ya?” pinta gadis itu. Memang sudah kebiasaan gadis itu tidur di sampingnya jika ketakutan pada suara petir. Aldian mengangguk. Joana membenamkan diri ke dalam selimut, sesaat mereka berpelukan dan akhirnya sama-sama terlelap.
BERSAMBUNG