CHAPTER SIX
Part I :
Wine, Wine, Wine, ckckckck!!!!
”Sial, sial, sial. SELALU SIAL!!!” Wine mengumpat-umpat sendiri sepanjang perjalanan kembali ke villa Wine. Didobraknya pintu yang sedang dibukakan seorang pelayan baginya begitu sampai di villa sehingga hampir terhempas ke pelayan tersebut. “Ngapain berdiri di situ!” Wine mendelik tajam. “Menganggu saja!!”
“Mi .. miane, doronim .. ,” ujar ahjuma paruh baya itu gugup. Kemudian ketakutannya berganti keheranan begitu melihat bintik-bintik merah darah di sekujur lengan, leher dan wajah Wine. “Omo—kenapa bisa begitu?” Dia akan menyentuh lengan Wine, kalau saja tidak segera ditepiskan cowok itu.
“Jangan menyentuhku!” tandas Wine ketus.
“Eh—apakah doronim alergi lagi?” tanya ahjuma itu polos.
“Bukan urusanmu!” Wine mengeser pelayan itu sampai merapat ke pintu dengan tangannya, lalu memasuki ruangan. “Siapkan air buatku mandi!” lanjutnya dengan nada memerintah.
Si ahjuma menghela nafas pelan, lalu membungkukan badannya. “Ne, doronim .. “
******
Wine memasuki ruang tengah dan mendapati Tuan dan Nyonya So sedang duduk bersantai di sofa.
“O—sudah mengantar Stro sampai ke rumah?” Nyonya So bertanya ketika melihat Wine.
Wine mengangguk dan menghempaskan dirinya di sebelah wanita itu.
“Bagaimana? Apa semuanya beres?” lanjut Nyonya So lagi, antusias.
Wine berpaling dengan ekspresi tidak senang. “Maksud omma?”
“Apa lagi?” Nyonya So tersenyum. “Tentu saja tentang hubunganmu dan Stro!” Mendadak wanita paruh baya itu mencondongkan badan ke arah putranya itu. “Apa saja yang kalian bicarakan dalam perjalanan pulang tadi?” tanya Nyonya So ingin tahu. Matanya berkilau-kilau membentuk puppy eyes.
“OMMA!!” jerit Wine. Badannya segera ditarik ke belakang sehingga terantuk ke sandaran sofa.
“Kenapa?” tanya Nyonya So heran. “Masih belum lancarkan seranganmu?”
“Serangan apaan?!!” Wine mengumpat. “Lihat tanganku! Dan juga leher dan wajahku!” Wine mengulurkan lengannya, begitu juga memperlihatkan leher dan wajahnya kepada Nyonya So. “Dia yang melancarkan serangannya bukan aku!!” dengusnya kesal.
“Omo—“ Mata Nyonya So membulat. Baru terlihat olehnya bintik-bintik yang bertaburan di sekujur tubuh putranya itu. “Lagi?”
“NE!!” cetus Wine. “Nggak tahu cewek apaan dia!!!”
“Itu kesalahanmu sendiri!” celetuk Tuan So, ikut membaurkan diri dalam percakapan istri dan putranya setelah berdiam diri cukup lama. “Kenapa kau tidak terus terang aja ke Stro kalau kau alergi terhadap aroma tubuhnya?”
“Mwo?!!” Wine meloncat bangun, kaget setengah mati. “Kenapa harus berterus-terang padanya?!!” Dia mendelik tajam. “Dia bukan apa-apa ku!!”
“Mungkin sekarang tidak!” Nyonya So beranjak bangun dari sofa dan berjalan ke lemari kecil di sudut ruangan. Dia mengambil sesuatu, untuk kemudian kembali lagi ke tempatnya semula. “Tapi setelah kesepakatan kami dan orangtuanya, maka kalian .. “
“Omma!!” potong Wine cepat. Dia sudah tahu kearah mana pembicaraan orangtuanya, dan dia tidak ingin mendengar. Dengan cepat diserobotnya sekotak kapsul dari tangan Nyonya So dan menuangkan beberapa butir ke telapak tangannya. “Seperti yang kutegaskan sejak dulu, tidak ada ceritaku dan si Strawberry!” tegasnya kemudian.
“Kenapa sih—“ Nyonya So berdecak. Dia meraih teko di atas meja dan menuang segelas air, untuk kemudian disodorkan pada Wine. “Kau selalu menghindari pembahasan ini?!!”
“Omma sudah tahu jawabannya!” Wine memasukan beberapa butir kapsul ke dalam mulut lalu menelannya dengan meneguk air dari dalam gelas.
“Itu terlalu menyiksa, anak ku .. ,” ujar Nyonya so sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. “Kenapa kau tidak meminta bantuan dokter Kwon?” tambahnya kemudian, mengeluarkan solusi yang sebenarnya sudah lama mereka ketahui.
“Tidak perlu!!” sahut Wine tegas.
“Tapi .. “ Nyonya So berusaha menyela tapi segera diputus Wine.
“Selama saya tidak menyentuh, mencium atau memakan yang namanya strawberry—semua akan baik-baik saja!” tandasnya yakin.
“Tapi kau tidak bisa menghindari Stro!” celetuk Nyonya So. “Bukan benda mati yang menjadi kendalamu sekarang, tapi makhluk hidup. Kau tidak bisa terus-terusan menghindari Stro, karma dia ada di sekitarmu. Apa yang akan kau jelaskan padanya jika sekali lagi dia melihat bintik-bintik yang tumbuh di badanmu?”
Sunyi selama beberapa menit. Wine kemudian mengambil nafas dan bangkit dari duduknya. “Saya akan mengambil salep dari dokter Kwon dan mengolesi bintik-bintik ini .. Semoga saja cepat pudar .. Aku jijik melihatnya .. “
“Kita belum selesai, Wine!”
Wine berpaling dengan cepat. “Omma, please!!”
“Tapi .. “
Tangan Tuan So terasa menyentuh lengan istrinya. “Biarkan saja, yeobo .. ,” kata pria paruh baya itu. “Kurasa Wine perlu waktu. Jangan terlalu didesak, nanti malah hasilnya terbalik .. ,” nasehatnya bijak.
*******
Aku berjalan santai menuju kantin sekolah. Sesuai perjanjianku dengan Music, kami akan bertemuan di situ seusai jam sekolah. Beberapa hari lagi liburan panjang dan Music akan kembali ke Seoul setelah itu. Hari ini dia memintaku menemaninya ke supermarket kecil buat membeli makanan-makanan khas Dream High buat dijadikan oleh-oleh untuk keluarganya.
“STRAWBERRYYYYYY!!!!”
Deg! “Mw .. mwo .. ooo …?” Aku berpaling dengan gugup.
Mataku melebar begitu mendapatkan wine berlari terbirit-birit ke arahku.
“U .. urus .. sahabatmu .. !!” serunya seraya melayangkan telunjuk ke belakang. “Dia gila!!”
“Mwo?” Aku mengerutkan alis tidak mengerti. “Apa maksudmu?”
Wine sampai di sebelahku dengan ekspresi ngeri. Sambil membalikan badan, kembali dia menunjuk kearah pintu masuk kantin.
“I .. itu … “ Kemudian dia mendorongku supaya menangkap apa yang dimaksudkannya. “Jangan biarkan dia mengetahui keberadaanku!!”
“Mwo?” Aku kembali bertanya. Kali ini sudah sangat kesal. Cowok geblek ini ditanya berulang-ulang kali, eh malah tidak dijawab-jawab. Aku berbalik, namun bayangannya sudah menghilang. Kutajamkan pandangan ke depan, dan akhirnya, samar-samar aku berhasil menangkap ujung seragam wol dan sosok jangkungnya yang tersembunyi di balik pilar pojok kantin, sekitar satu setengah meter dariku. Apa yang dilakukannya? Mataku memicing. Sudah gila ya?
“Stro … ,” terdengar suara tersengal-sengal menyapaku.
Aku menoleh. Pear tampak menghampiriku dengan wajah bersemu merah dan nafas memburu laksana sudah melakukan olah raga berat, marathon misalnya.
“A .. apa .. kau .. melihat Wine?” tanyanya sambil membungkuk dan memegangi perutnya. Dia terlihat menderita sekali.
“Mwo?” balasku heran. “Apa yang terjadi padamu?” Alih-alih menjawab pertanyaannya, aku malah melancarkan pertanyaan berikut ; “Gwencana?”
Pear segera mengibaskan tangannya tidak sabar. “Saya .. gwencana .. ,” ujarnya terbatah-batah, sambil menelan ludah buat mengatur pernafasannya yang masih sangat memburu. Lalu dia mengenggam tanganku erat-erat. “Yang penting, … Wine, a .. apa kau .. melihatnya? Tadi .. kulihat dia berlari kemari .. “
“Wine?”
“Ne—Wine!!” Pear menekankan. “Apa kau melihatnya?”
Mataku melirik ke atas, berpikir. Apa kukatakan saja? Bibirku sudah terbuka ketika beberapa kalimat tiba-tiba berseliweran dalam otak ku. Urus sahabatmu! Dia gila! Jangan sampai dia mengetahui keberadaanku!!
“O—“ Aku mengangguk. Akhirnya aku mengerti juga apa yang sebenarnya terjadi.
“Stro!!” Pear mendorong lenganku. “Sadar!!”
“Dhe?!!”
“Aku bertanya padamu!” Pear memberengut kesal. “Apa kau mendengarnya? Ke mana Wine?” tanyanya kembali. “Aku sedang asyik-asyiknya menekankan padanya kalau aku tidak akan menyerah buat mendapatkannya, eh tiba-tiba dia main kabur begitu saja, .. dasar—pemuda aneh .. “
“Iya loh—pemuda aneh!” Aku mengiyakan. “Jadi buat apa membuang waktu percuma untuknya .. “ Bagus, Strawberry—apa urusanmu? Untuk apa ikut campur? Aku jadi garuk-garuk kepala sendiri.
“Itu keistimewaannya .. “ Pear menyengir lebar. “Itu yang kusukai dari Wine .. “
“Kau ini aneh .. ,” omelku.
“Karna itu cocok ama Wine .. ,” sahut Pear ngasal.
“Cih—“ Aku mencibir. Anak ini memang keras kepala ><
Mendadak Pear menegakan badannya, seperti baru teringat akan sesuatu. “Sudah ah. Saya harus segera mengejar Wine nih, tar dia kabur pulang lagi. Apa dia tadi kemari?”
“Ehmm—“ Aku mengelus dagu, masih ragu-ragu terhadap keputusan selanjutnya.
“Stro!!” tegur Pear jengkel.
“Eh—ne .. ,” jawabku gugup.
“Jadi?”
“Dia tadi kemari!” sahutku kemudian. “Tapi .. sudah kabur lagi lewat pintu belakang .. ,” lanjutku sambil menunjuk ke pintu belakang yang berhadapan dengan taman.
“Jinja?” tanya Pear.
“Ne!” Aku mengangguk dengan yakin.
Pear tersenyum puas, lalu dia menekan lenganku dengan sangat keras sehingga terasa nyeri. “Gumawo!!” Mendadak anak gila ini mendaratkan ciuman yang sangat lengket ke pipiku, cupp!! Dia menarik diri ke arah pintu dan melambaikan tangan padaku. “See you .. “
“IH—“ Aku berseru jijik. Liurnya membekas di pipiku. Dengan tidak rela kuhapus dengan lenganku. “Ckk—“ Aku berdecak kembali.
“Eh—“
Teguran datar itu membuatku berpaling. Wine keluar dari persembunyiannya dan kehadirannya membuat rautku berubah masam.
“Puas?!!!”
“Well—“ Wine mengangkat pundaknya sambil mengibaskan ujung seragamnya yang agak kotor oleh cat dinding. Tangannya diselipkan ke dalam saku celana seraya mengarahkan pandangan ke depan.
Memandangku saja tidak? Si geblek ini benar-benar kurang ajar!! Tahukah dia seharusnya berterimakasih buat penolongnya dan bukannya bersikap menyebalkan seperti ini?
“Dia sahabatmu .. dan sudah sepantasnya kau yang menanganinya. Lagipula, kau yang memulainya .. “ Wine melanjutkan sambil melewatiku.
“Tunggu sebentar!” Aku segera mengejar dan menarik kemeja seragamnya. “Apa maksudmu dengan aku yang memulainya?” tanyaku sengit.
“Jangan menyentuhku!” Bukannya menjawab pertanyaanku, si geblek ini malah mengibaskan lenganku. “Kuperingatkan untuk terakhir kalinya—jangan sekali-kali menyentuhku LAGI!”
“Terserah!” Aku mendelik jengkel. “Jadi jawab pertanyaanku!”
“Kau yang menjadi dalang dan mak comblang dari hubungan mustahil ini!!” balas Wine ketus. “Araso?! Dan puas, Strawberry Im?!!”
“Tapi aku sudah mengundurkan diri dari tugas itu!” tandasku tak mau kalah.
“Apa itu penting?” seru Wine. “Kau tahu sendiri siapa sahabatmu!! Dia tuh hantu gentayangan. Dia tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya—begitu katanya padaku. Lalu sekarang apa yang kau harapkan bisa kulakukan?!!”
“O—“ Aku membuka mulut perlahan-lahan. Benar. Pear itu cewek antusias. Dia tidak akan berhenti sebelum mendapat kepastian di suatu titik bahwa dia harus berhenti. Dan dia juga tidak akan menyerah sekalipun Wine menolaknya terus-menerus sebelum dia yakin bahwa usahanya itu sungguh-sungguh tidak akan membuahkan hasil. Benar kata Wine—aku yang memulainya. Dan sekarang, kurasa Pear tidak akan berhenti berjuang untuk itu. “Miane .. ,” desahku pelan. “Aku salah … “
“Ehmm—“ Wine menatapku sekilas. Entah mengapa aku menangkap kerisihannya—mendadak? Di samping ketakutan-ketakutan dan kengerian-kengerian membingungkan yang sering ditunjukannya selama ini.
Kami terdiam dengan posisi saling berhadapan dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga tidak menyadari sepasang mata yang mengawasi gerak-gerik kami sejak sepuluh menit yang lalu.
*******