Author Topic: SECRET RAINBOW, colab by me, voldi and itaraya--> Green : Part 4, 6 August 2011  (Read 16164 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
RED : PART ONE
by voldi [biggrin]

 

Entah sejak kapan ia merasa seperti ada seseorang yang selalu mengikutinya. Tuhan? Bukan. Tapi seseorang. Seseorang dengan wujud seperti dewa, dan juga selalu muncul seperti jelangkung. Selalu mengulurkan tangannya ketika Eryn terjatuh, menopang tubuhnya ketika ia lelah—seperti dewa. Selalu datang tanpa diundang dan selalu pergi tanpa pamit—seperti jelangkung. Eryn sadar ‘seseorang’ itu ada didekatnya, si Secret Rainbow—sebutan Eryn untuk ‘seseorang’ itu. Tapi entah kenapa ia selalu merasa otaknya buntu jika harus menebak siapa ‘seseorang’ itu.

Eryn Joo, seorang penjaga toko alat musik di pinggiran kota Seoul. Hidupnya kalo mau dibilang naas, tidak, beruntung juga tidak. Ia yatim piatu, kedua orangtuanya tidak meninggalkan apapun untuknya. Ah, bukan. Bukan kedua orangtuanya. Tapi ibunya. Hingga umurnya 12 tahun ketika ibunya meninggal, Eryn tidak pernah tahu siapa jati diri ayah kandungnya. Tidak pernah tahu, tidak akan pernah tahu, dan tidak akan pernah mau tahu. Silahkan anggap ia sebagai anak durhaka. Tapi mata dan telinganya sudah kebal mendengar semuanya. Sebutan anak haram yang seharusnya anak berumur lima tahun tidak tahu apa artinya, ia sudah tahu. Caci maki dan hinaan dari semua orang yang memandangnya sudah dianggap sebagai bagian dari ‘kesenangan’ hidup.

Hanya ada dua hal yang mampu membuatnya bertahan untuk tidak menyusul ibunya ke surga. Sang Secret Rainbow dan Piano tua di sudut toko tempatnya berkerja. Setiap hari ia selalu memandangnya. Berharap suatu saat ia punya uang dan akhirnya membebaskan sang Piano dari tutupan kain putih yang bahkan warnanya tidak jelas antara putih atau abu-abu saking kotornya.

“Memandangi piano itu lagi?” Eryn mengalihkan pandangannya ke kiri. Majikannya, Tuan Song sedang memandangnya dengan senyum yang tak pernah hilang dari bibirnya.

“Ah..aniyo.” Eryn melanjutkan pekerjaannya membersihkan sebuah klarinet. Sebisa mungkin ia tidak melirik tuan Song yang masih setia berdiri disampingnya.

Sebuah tepukan pelan mengalihkannya lagi dari pekerjaanya. Senyum tuan Song masih terpatri di wajah keriputnya. Terkadang Eryn heran—dan juga iri—kenapa senyum majikannya itu tak pernah hilang dari bibirnya. Seakan-akan tuan Song tak pernah punya beban hidup.

“Jangan khawatir. Piano itu akan tetap berada di situ sampai kau punya cukup uang untuk membelinya.”

Senyum Eryn melebar. “Ne. Gamsahamnida, tuan Song.”

Setelah menepuk pundak Eryn pelan, tuan Song langsung pergi. Naik ke lantai dua, tempatnya mengelola toko kecil ini

 

>>>>>>>>>>.<<<<<<<<<<

 

Lalu lintas pusat kota Seoul tetap padat seperti biasa. Para pejalan kaki masih tetap saling berebut tempat. Masalah piano tua masih menggelayuti pikiran Eryn walaupun tuan Song sudah memberitahukannya bahwa ia bisa memiliki piano itu.

DEG

Perasaan itu lagi muncul. Perasaan dimana Eryn merasa ada seseorang yang mengikuti dan mengamatinya dari jauh. Eryn mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Nihil. Lautan manusia menghalangi pandangannya. Ia menghela napas pelan lalu melanjutkan langkah kakinya. Ia tahu bahwa ia sudah berada di penyebrangan khusus pejalan kaki, tapi pikirannya kembali melayang ke piano tua itu tanpa menyadari bahwa lampu hijau sudah berganti merah. Ia tetap terus berjalan.

Suara-suara peringatan dianggapnya angin lalu, raungan klakson truk dianggapnya dentingan tuts piano. Ia baru sedetik menoleh ke arah kanan, baru sedetik ia membelalak kaget melihat truk besar melaju ke arahnya, hingga tangan kekar itu menarik pinggangnya dan memeluknya erat. Gravitasi membuat keduanya jatuh dengan bantingan cukup keras ke aspal jalanan. Tapi Eryn sama sekali tak merasakannya karena ia berada di atas. Matanya kemudian membuka perlahan. Yang pertama dilihatnya adalah orang-orang berwajah khawatir dan terus bercuap-cuap ‘kau baik-baik saja’ atau ‘perlu kupanggilkan dokter’ tapi ia tak memperdulikan semuanya. Matanya nyalang mencari sosok yang telah menyelamatkannya.

DEG

Perasaan itu muncul lagi ketika matanya bersibobrok dengan iris seseorang yang sekelam malam. Ia hanya bisa melihat matanya. Eryn kemudian berusaha berdiri dan memanggil orang itu. Tapi seakan takdir mempermainkannya, hasilnya nihil. Lautan manusia semakin menenggelamkan sosok pemuda itu, suara teriakan meredamkan suaranya sendiri.

Hanya punggung tegap itu yang selalu diingatnya. Punggung tegap yang pertama kali dilihatnya sejak ia berumur dua belas tahun, namun punggung itu terlihat lebih lebar dan tegap sekarang.

Ia tersenyum lembut dan berbisik, “My Secret Rainbow, gamsahamnida.”

 

TBC


EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun