Author Topic: SECRET RAINBOW, colab by me, voldi and itaraya--> Green : Part 4, 6 August 2011  (Read 16253 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Additional cast : Kim Sang Bum as Joe Kim

SECRET RAINBOW
A 2011 MinSun Fanfiction Colaboration by Lovelyn, Voldi, Itaraya

MERAH : PART FOUR
[/size][/color]

Hari pertama Eryn berada di istana appa kandungnya. Tak ada yang bisa dilakukannya selain berdiam diri di dalam kamarnya. Ia tak bisa menebak kenapa appa—dan juga Gavin—sangat melarangnya keluar bahkan hanya sekedar jalan-jalan di taman kota. Gavin senantiasa berada di luar kamarnya, berjaga-jaga jika Eryn memerlukan bantuannya, padahal dengan seabrek pelayan yang dimiliki keluarganya, Gavin sebenarnya tidak perlu melakukan itu.

“Ada yang aneh disini.” desis Eryn untuk yang kesekian kalinya. Ia sedang berbaring terlentang diatas tempat tidur mewahnya, memandangi langit-langit kamarnya yang tinggi dengan pandangan tertarik.

“Benar-benar ada yang aneh.”

Ia terus mendesis ‘ada-yang-aneh-disini’ tapi tidak melakukan apapun. Hell, jelas ia tidak berani melakukan apapun. Walaupun statusnya sekarang adalah anak kandung dari tuan besar pemilik istana ini, tapi tidak membuat Eryn bisa bebas melakukan segalanya.

Eryn hampir saja tertidur ketika seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ia bangun perlahan dan mengarahkan pandangannya ke arah pintu.

KRIEET

“Agashi, ada yang ingin bertemu dengan Anda.” Sosok jangkung Gavin muncul dibalik pintu. Ia kemudian bergeser sedikit kesamping. Seorang pemuda sekitar 20-an muncul. Diwajahnya terpatri senyum ramah hingga hampir menyentuh matanya.

“Anyong, noona.” Sapanya.

Eryn berdiri dari tempatnya dengan bingung. Matanya bergantian memandang Gavin dan pemuda itu. Mengerti ketidaktahuan Eryn, Gavin menunduk hormat kearahnya dan berkata, “Beliau adalah tuan muda Joe Kim. Putra tuan besar, agashi.”

Eryn tersenyum kaku mendengar penjelasan Gavin. Ditatapnya Joe dengan pandangan datar. Tak bisa dipungkiri, hatinya teriris melihat pemuda itu sekarang berada di hadapannya. Memang appanya telah menceritakan padanya soal adik tirinya ini, tapi bertemu secara langsung membuat hatinya yang telah susah payah ditata menjadi kacau. Pemuda ini adalah buah cinta appanya dengan perempuan lain—walaupun perempuan itu bukanlah wanita yang dicintai appanya, tapi ketika melihat pemuda ini berdiri dihadapannya, dengan darah dan kromosom yang hampir mirip dengannya membuat hatinya sakit. Membayangkan appa kandungnya saling berbagi peluh dan erangan di atas ranjang dengan wanita lain sedangkan ibunya bersusah payah melawan kejam kehidupan membuat dirinya harus menahan diri sekuat tenaga untuk tidak mencakar wajah imut dihadapannya sekarang ini juga.

Joe masih berdiri ditempatnya, menunggu Eryn mempersilahkannya masuk. Tapi ketika dirasanya Eryn menatapnya dengan sorot mata dingin, senyum diwajahnya hilang seketika. Ia menoleh menatap Gavin yang juga menatap Eryn dengan pandangan bingung.

“Agashi...”

“Bisakah kalian keluar? Aku ingin istirahat.” Ujar Eryn dingin.

Joe melihat jam tangannya. Pukul 4 sore. Masih terlalu sore untuk kembali tidur. Ia kembali menoleh kearah Gavin. Tapi dilihatnya Gavin malah membungkuk singkat ke arah Eryn. “Jika Anda butuh sesuatu saya berada diluar.” Ia lalu menoleh ke arah Joe, “Mari, tuan.” Dengan sedikit paksa ia menuntun Joe keluar dari kamar Eryn.

Joe dengan bingung mengikuti tarikan paksa Gavin. Setelah menutup pelan pintu kamar Eryn dengan pelan ia melepaskan pegangan tangannya pada lengan Joe dan berkata dengan nada datar seperti biasa.

“Agashi ingin beristirahat. Mohon jangan diganggu.”

Joe menatap Gavin dengan bingung. Ia baru akan membuka suara ketika Gavin menjulurkan tangannya kesamping—mengusirnya dengan halus. Menghela napas pelan Jo berbalik melangkah pergi, ia bergumam pelan tapi masih bisa didengar oleh Gavin. “Padahal kan aku hanya ingin berbicara dengannya.”


OoO
[/size][/color]

Setelah kepergian Gavin dan adik tirinya, Eryn merasa dirinya harus menghajar sesuatu. Ia bukan perempuan yang kasar, tapi pikiran-pikiran kesal tak bisa lepas dari otaknya. Dengan gusar ia melangkah ke pintu dan membukanya dengan kasar. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah punggung Gavin yang berdiri memunggunginya.

Mendengar pintu yang terbuka, Gavin berbalik. Ia menatap Eryn dengan bingung, “Perlu sesuatu, agashi?”

Eryn menggeleng pelan. Ia menatap Gavin dan berbicara dengan pelan serta agak tersendat-sendat. “Mmm...bisakah..mm...aku...mmm...ah, anyi, maksudku..mmm...akuuu...”

“Ne?”

“Mmm...akuuu...aduh, bagaimana mengatakannya?? Mmm...begini...akuu...aduuuh...”

Gavin memandang Eryn dengan bingung. Majikannya ini berbicara dengan nada pelan, dan  tersendat-sendat. Terkadang ia mengacak-acak rambutnya dan kemudian berbicara pelan lagi.

“Agashi.” Panggil Gavin pelan.

Eryn masih tetap sibuk dengan kegiatannya sendiri; berbicara pelan-mengacak rambutnya-berbicara pelan lagi-menghantamkan kepalanya ke dinding.

.

.

Apa itu tadi? TAKE ULANG!

.

.

“Agashi!” Gavin memegang lengan Eryn dengan lembut. “Ada apa?”

Eryn memandang Gavin dengan tatapan memelas. Mata bulatnya bercahaya seperti anak anjing yang ingin di pungut, bibirnya dimajukan sehingga ia tampak seperti bayi unyu. Gavin segera mengalihkan pandangannya ke lain arah sebelum serangan Eryn mengenainya. Serangan puppy eyes no jutsu. Hiyaaaaaaat.

“Aku...ingin jalan-jalan sebentar boleh?”

Gavin masih memandang dinding di sebelah mereka seakan-akan dinding itu adalah hal paling menarik.

“Emm..tuan Joen. Bisakah?”

Gavin menghela napas pelan. Setelah yakin perisainya aman dari terjangan jurus mematikan milik Eryn, ia menoleh. Tapi kesalahan fatal, Gavin Joen. Binar-binar pengharapan memancar dari kedua bola mata Eryn. Dengan imajinatif Gavin memutar bola matanya.

“Tapi kita harus minta iji pada tuan besar dulu, agashi.”

Dengan semangat ’45 Eryn mengangguk, dan tanpa sadar ia menggandeng lengan kanan Gavin dan menyeret pemuda itu menuju ruangan tuan Kim.

Mereka berdua memang sedang jalan-jalan. Mereka memang diijinkan untuk keluar dari istana mewah itu. Tapi tetap saja membosankan kalo jalan-jalannya hanya di taman belakang rumah.


Ini sama saja bukan jalan-jalan, gerutu Eryn dalam hati. Ia menoleh ke arah Gavin yang berjalan dibelakangnya dengan tampang datar.

“Hei.” Sapanya. Gavin menoleh, tapi tidak menjawab.

“Wajahmu itu, memang sudah seperti itu ya?” tanya Eryn dengan polos. “Maksudku, selalu datar.”

Gavin tak berkata apa-apa. Ia hanya menengok ke atas memperhatikan langit yang mulai menghitam. “Sepertinya akan ada badai malam ini. Lebih baik kita kembali kedalam, agashi.”

Eryn merutuk sebal. Tanpa berkata apa-apa lagi ia berbalik dan menaiki tangga yang menghubungkan taman dengan rumah bagian belakang. Dibelakangnya Gavin setia mengikuti dengan wajah stoicnya.


OoO
[/size][/color]

“Sudah bertemu noonamu?”

Joe menghela napas berat. Ia kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. “Dia seperti tidak menerimaku.”

Sesaat tuan Kim menghentikan pekerjaannya di depan laptop, ia menatap putra bungsunya itu dengan kasihan. “Dia butuh adaptasi, Joe. Jangan terlalu memaksanya.”

“Aaa. Aku tahu.”

Hening kemudian. Suara keyboard beradu dengan jari-jari tuan Kim mendominasi ruangan itu.

“Appa, sudah memberitahukannya?”

Mendengar pertanyaan Joe, tuan Kim segera menghentikan pekerjaannya. Diiringi napas berat ia berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju jendela besar di belakangnya.
“Belum saatnya. Ia masih harus beradaptasi, kemudian ia harus menikmati status barunya sebagai putru Eros Kim.”

“Setelah itu?” Joe ikut berdiri di samping ayahnya. Ikut menatap Eryn dan Gavin yang sedang saling berhadapan.

“Aku tidak suka pemuda itu.” Tandas Joe.

Tuan Kim menoleh dan menatap tajam tepat di bola manik matanya, “Appa sudah bilang berapa kali, urusan Eryn biar appa yang tanggung. Kerjakan saja apa yang sudah menjadi bagianmu.”

“Dia bisa jadi bumerang untuk kita, appa.”

“Cukup.” Tuan Kim mengangkat sebelah tangannya, “Kembali ke tempatmu. Jika tidak ada yang bisa kau kerjakan, malam ini kita makan malam bersama.”

Joe mendengus pelan, tapi ia tetap menuruti perintah ayahnya. Dengan langkah cepat ia berlalu meninggalkan ruangan itu.

Ya, belum saatnya Eryn tahu yang sebenarnya.


TBC

Full of GavErn. Terlalu cepat mengupdate ya? Hahaha.
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME