Poll

kira-kira lagu apa yang cocok buat MP Aljoana

"Wonderful Tonight" By Eric Clapton
3 (18.8%)
"Baby Can I Hold You Tonight"  By. Boyzone
3 (18.8%)
"One Night" By The Corrs
10 (62.5%)
terserah author (glodak!)
0 (0%)

Total Members Voted: 16

Author Topic: Re: THE MAESTRO (chapter 22 ---- 31 Juli 2011)  (Read 35024 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO chapter 8 (27. 3. 2011)
« Reply #360 on: April 02, 2011, 09:24:09 pm »
THE MAESTRO
Chapter 9

Song of The Day :

SOMEWHERE BETWEEN

By. The Tumbleweeds

*Somewhere between your heart and mine
There’s a window that I can’t see through
There’s a wall so high
That it reaches the sky
Somewhere between me and you

I love  you so much that
I can’t let you go
Sometimes I believe you love me
Somewhere between your heart and mine
There’s a door would bound a retreat

Back to *

Somewhere between your heart and mine
There’s a love I can’t understand
It’s there for a while
Then it fades like a smoke
And then left in middle again

Back to *
Oh! Somewhere between me and you



Sebulan sudah Joana meninggalkan Lee Manshion. Kesedihan selalu membayangi hidupnya. Music sedih selalu tercipta. Bahkan Albert terheran dengan semua simphoni gubahannya. Sahabatnya itu selalu bertanya,”Waeyo, Joana? Ada masalah?”

Joana tersenyum walau terpaksa, dan dengan pandangan nanar menjawab,”Apa nadanya jelek?”

“Anhi, Joan-a. Hanya saja kau terlalu mellow akhir-akhir ini.”

Joana tersenyum perih mengingat semua itu. Sudah sebulan pula, dia bergelut dengan hati sendiri. Berusaha melupakan perasaan cintanya pada Aldian. Oppanya itu akan menikah dua minggu lagi. Semua sudah dipersiapkan. Hati Joana serasa kosong kini. Namun di saat seperti ini kreasi musiknya mengalir hingga jari-jemari mungilnya masih bisa menciptakan alunan music indah dari piano. Lagi-lagi lagu sedihlah yang dia mainkan, sementara Mina Im menungguinya sambil merajut.

“I love you so much that I can’t let you go,” bait pertama dari lagu ‘somewhere between’ yang dia mainkan. Dia mengingat kejadian dua hari yang lalu. Saat Jenifer datang ke Villa untuk mencoba gaun pengantinnya. Di pandangannya, Jenifer begitu bahagia. Berusaha mematut-matut diri di cermin. Joana hanya menunduk, memendam sembilu hatinya.

“Kenapa kau diam saja, Joana sayang?” tanya Vicky menyadari kebisuannya siang itu. Yang hanya dijawab dengan senyum tipis. Jenifer menoleh ke arahnya, lalu mengulurkan sebuah gaun yang memang dipersiapkan untuk salah satu pengiring pengantin. “Kau adalah salah satu pengiring pengantin. Ada baiknya kau coba gaunmu juga, Dongsaeng.”

Joana mengangguk.

“Sometimes I believe you love me,”  bait kedua itu menggambarkan suasana hatinya. Kadang dia merasa bahwa Aldian juga mencintainya. Dia bahkan rela mengiba jika Aldian memberi secuil saja pertanda. Menghempaskan apa saja yang diyakini orang-orang sekitar tentang dirinya sebagai ‘anak penurut’.

Penurut… bahkan dia menuruti perintah Jenifer untuk mencoba gaun pengiring pengantin itu. Vicky, Nyonya Son bahkan Jenifer sendiri memandang takjub ke arahnya waktu itu. Gaun itu memperkuat aura kecantikannya. “Ckckckck, berbahagialah pria yang berhasil mendapatkanmu, Sayang,” decak kagum Nyonya Son, Ibunda Jenifer.

Vicky mengangguk.”Berbahagialah Danny yang akan menjadi suamimu.”

“Danny?” tanya Ibu dan putri dari keluarga Son itu bersamaan. Vicky tersenyum.”Oh, ya.. perkenalkan… yang di depan kalian ini, Joana Goo, calon cucu mantu keluarga Lee.”

“Wow, great!” sorak Jenifer sambil meloncat-loncat kecil dan Nyonya Son bertepuk tangan lalu memberi selamat,”Chukae, Joana Sayang.”

Joana masih saja tersenyum tipis. Dia sudah terbiasa menutupi kesedihan hatinya.

“Somewhere between… your heart and mine… there’s a window that I can’t see through,” di bait ini Joana mulai sesenggukkan. Jari-jarinya semakin lunglai seiring suaranya yang semakin terbata-bata. “There’s a wall so high…. That it reaches the sky….

Joana tak sanggup lagi meneruskannya. Semakin ditekan, perasaan itu semakin mencuat. Dia menangis dengan tangan menekan dada. Hanya angannya yang menyanyikan syair lanjutannya, “…. Somewhere between me and you…”

Mina Im melihat hal itu dan menghampiri. Trenyuh dengan keadaan Joana yang memprihatinkan.”Waeyo, Joana?”

Joana memandang dalam kabut air matanya. Mina Im menghela nafas. “Ada apa denganmu akhir-akhir ini?”

Joana menenggelamkan diri di pelukan Mina. Tak tahu harus berkata apa pada wanita yang sudah dianggapnya sebagai Ibu itu. Mina Im membelai rambut Joana lembut. “Kenapa kau harus bersedih di saat rumah ini akan berbahagia. Berbahagialah untuk Oppamu yang akan menikah, doakan agar pernikahan mereka segera dikarunia momongan.”

Joana semakin terisak, sekuat tenaga dia menelan kepiluan. “Anak Oppa pasti lucu-lucu, Nany,” bisik Joana diantara tangisnya.

“Ne, Joana. Pasti sangat lucu dan sehat.”

“Andai saja Joan yang melahirkan anak-anak Oppa,” kalimat Joana itu membuat perasaaan Mina mencelos. Didongakkannya wajah Joana untuk melihat mata momongannya itu. Mata itu…  mata orang yang patah hati. Mina Im semakin bimbang.”Ya, Tuhan. Kau mencintai Oppamu, Sayang?”

Joana terisak lagi. Semakin tertunduk mengakui perasaan hati di depan Mina Im. Sang Nany kaget mendapati semua ini. Joana…, bukan hanya sosoknya yang mirip Alicia, tapi juga hati mereka mencintai pria yang sama. Terpampang jelas kegagalannya mendidik Joana.

“Joana Sayang… Pupuslah perasaan itu,” nasihat Mina. Sama seperti yang dinasihatkan pada Aldian. Semua ini salah. Sangat salah. Keduanya saling mencintai, tapi tidak mungkin bisa bersatu.

“Berdoalah demi kebahagiaan Oppamu,” itu lagi pesannya pada Joana lalu menghantarkan ke kapel yang berada di villa itu.  

Joana berjalan ke arah kapel masih dengan sesenggukan. Akankah Tuhan menjawab doaku? Aku dulu sangat jahat, membuat Alicia Uni meninggal karena doaku. Doa apa lagi sekarang yang harus aku ucapkan?

Saat kemudian dia bersimpuh, memejamkan mata dalam doanya. Apa benar kebahagian Oppa ada bersama Jenifer? Tuhan, kirimkanlah sebuah pertanda. Maafkan aku jika perbuatanku nanti membuatmu murka. Tapi jika memang Oppa lebih bahagia bersamaku, aku tak akan melepasnya.

Konyol, semua ini konyol. Dia bahkan yakin benar cintanya tak berbalas saat bertemu Aldian di Lee Corporation. Kenapa juga dia masih bersikeras?

Malam sebelum pernikahan pun tiba. Tak ada yang dapat menerka apa yang ada di pikiran Joana. Dia memutuskan mengunjungi makam Alicia. Entah apa yang dicarinya di sana. Sementara di sebuah bar di kota itu, Aldian bersenang-senang merayakan pesta bujangan bersama teman-temannya yang begitu tak percaya duda selama tiga belas tahun itu akhirnya menikah.

“Apa benar kau mencintai Jenifer?” tanya Nicky. Aldian menyeringai.”Jika tidak mencintai, buat apa aku berencana menikahinya.”

“Well, bisa saja karena desakan Appamu,” ujar Nicky mengangkat bahu. Orang-orang di sekitar mereka sudah sangat mabuk. Aldian memutuskan untuk pulang ke Villa saja karena jika lama-lama di sini, bisa-bisa dia ketularan gila.


Nicky tersenyum.”Kesempatan untukku mendekati Joana.”
Rahang Aldian mengeras. Sontak pukulan keras didaratkan ke muka Nicky. Pria yang dipukul kaget.”Ada apa denganmu, Chingu?”

Aldian mengacungkan telunjuknya dan mengancam,”Jangan macam-macam dengan Joana!”

Nicky tertawa walau bibirnya sobek akibat pukulan Aldian. Jelas sekali kalau Aldian menikahi Jenifer untuk melupakan perasaannya pada Joana. “Kita lihat sampai kapan kau tahan bersandiwara, Chingu… Kita lihat.”

Aldian keluar dari bar tempat pesta bujangannya berlangsung. Sesaat mobil ferarinya membelah kota Seoul. Ternyata dia tidak langsung pulang ke Villa. Dia mengunjungi rumah kecil berlantai dua peninggalan Kolonel Goo. Rumah ini memang masih menjadi hak milik Joana. Seminggu sekali Aldian memastikan ada pelayan dari Lee Mansion yang dia kirim untuk membersihkan rumah ini.

Dengan kunci rumah yang selalu dibawanya kemana pun, Akhirnya pintu depan terbuka sudah. Bayangan masa lalu hadir saat dia berada di ruang tengah rumah itu. Tempat dimana seharusnya piano tua berada dan Joana kecil di pangkuannya begitu riang menerima materi tehnik berpiano yang diajarkannya. Lalu bayangan sebulan yang lalu datang lagi. Joana yang begitu sedih, menemuinya di Lee Corporation waktu itu. Dia berusaha menjaga jarak. Takut jika perasaan cinta itu menghancurkan Joana.

Setelah puas dengan bayangan kesedihan itu, Aldian kembali ke Villa. Dia memang menginap di Villa malam ini, mengingat pernikahannya besok berlangsung di villa itu. Bintang-bintang menampakkan sinarnya saat Aldian memasuki kamarnya di lantai tiga villa itu. Joana yang baru tiba dari pemakaman Alicia mengekori Aldian. Mereka berdiri bersisihan di balkon kamar Aldian, memandangi langit berbintang. Sementara beberapa kaki di bawah mereka, di pertamanan belakang Villa, altar dadakan tempat Aldian dan Jenifer saling bersumpah setia nanti, berdiri megah.


“Lihatlah, Oppa,”tunjuk Joana,”Bahkan langit turut berbahagia malam ini.”

Aldian tersenyum, serta merta pandangannya mendongak ke atas. Bahagia? Apa benar aku bahagia malam ini?

“Oppa bahagia malam ini?” tanya Joana seakan menyerukan kata hati Aldian. Aldian mengangguk, padahal hatinya berkata tidak.

“Apakah Joan boleh mencium pria yang berbahagia ini?” tanya Joan lagi. Aldian menoleh ke arahnya. Ciuman…. Sudah lama gadis ini tidak mencium pipinya. Mungkin itu hanya ciuman sayang. Gadis ini tidak mungkin berpikir macam-macam karena sangat polos, pikir Aldian yang akhirnya mengangguk.


Joana semakin gugup dipandangi Aldian. Dalam hati dia berdoa, aku mohon, Tuhan… berikan suatu pertanda. Aldian hanya heran melihat Joana yang masih memandanginya. Apa yang dipikirkan gadis ini? Sepertinya dia sangat gugup?

Joana memantapkan hati. Dengan berjinjit, dia mencium bibir Aldian. Pria itu sontak terkejut. Ciuman itu begitu lembut, menyalurkan getar cinta dari hati terdalam Joana. Aldian menjadi sangat kaku. Tidak ada lumatan di ciuman itu, hanya bibir yang saling menempel karena kepolosan Joana. Namun kedua insan ini cukup  mampu menjalarkan perasaan masing-masing, satu terhadap yang lain.

Ya, Tuhan… Terima kasih… Terima kasih. Doa Joana terkabul. Sebuah pertanda telah dia dapatkan. Ku rengkuh engkau di dalam rindu. Bersatu antara peluh dan air mata. Menderu bersama gemuruh dada. Sungguh rindu yang tiada padam.

Joana Sayang, apakah kau mencintaiku? Aku juga, Sayang… tapi maaf, semua ini tidak mungkin, batin Aldian di ciuman itu. Ku sambut engkau di dalam angan. Saat bibir begitu kelu ungkapkan asa. Tercekat … hingga timbul dahaga akan kasih. Berjuta makna, berjuta cerita, namun tak satu pun ku mengerti.

Perlahan Joana melepaskan ciuman. Aldian memandanginya sambil mengelap bibir. Sedang Joana menggigit ujung bawah bibirnya sendiri. “Apa maksudnya ini, Joan?” tanya Aldian. Keheningan masih menyelimuti malam itu. Joana tersenyum manis sebelum menjawab,”Hanya memastikan apa yang kurasakan juga Oppa rasakan.”

Aldian terperangah. Kini Joana meninggalkannya dengan hati yang perih. Gadis itu menangis kembali dan Aldian yang masih di balkon pun juga menangis. Ini salah… ini semua salah. Ya, Tuhan apa yang akan kulakukan? Apa?

Hati yang tak menurut, sampai kapan berlarut? Haruskah diri ini turut dan tenggelam dalam ketidakpastian. Hati yang pemberontak , sampai kapan? Akankah berlanjut semua ini atau berakhir begitu saja. Tak mampukah kau berikan detik ketenangan jiwa yang mampu mengubah asa menjadi nyata, dan melangkahlah tubuh ini di atas dunia fana.

“Saatnya memutuskan, Aldian,” suara lembut itu lagi. Alicia datang lagi. Ciuman itu? Jadi yang dimaksud Alicia adalah ciuman itu?

Aldian menggeleng,”Anhi, Alicia. Joana dongsaengmu. Semua ini tidak mungkin!”

“Kalau begitu… seumur hidupmu, aku akan menghantuimu, Aldian,” putusan Alicia. Aldian semakin tak habis pikir dengan semua ini. “Kau menginginkan aku menikahi dongsaengmu, Alicia? Sungguh tak logis semua itu!”

Pertanyaan itu sia-sia. Alicia sudah lenyap. Ku rengkuh engkau di dalam jiwa. Saat berjuta kata kehilangan makna dan hati yang mulai bicara.

Tubuh Aldian merosot bersandar di dinding balkon. Meratapi kenyataan itu. Kenapa cintanya harus berlabuh pada Joana? Gadis polos yang selama tiga belas tahun dibesarkan di rumahnya. Apakah ini memang cinta? Atau kegilaan sesaat? Aldian masih saja terisak. Hanya dia dan malam berbintang menjadi saksi kepiluan kalbunya.



BERSAMBUNG
« Last Edit: April 02, 2011, 09:32:47 pm by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]