Author Topic: THE HOSPITAL-- Chapter 19 (11 Agustus 2011)  (Read 23964 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE HOSPITAL--Chapter IX (27 maret 2011)
« Reply #270 on: April 02, 2011, 11:21:08 pm »
THE HOSPITAL
Chapter 10


Additional Cast :
Yoon Eun Ye as Yoon Eun Ye



“Ckckck, Omo…. Besar sekali,” seru gadis muda berkaca mata tebal itu, kagum pada kemegahan bangunan Lee International Hospital. Di tangannya memegang map berkas lamaran kerja, tas selempang menyampir di salah sisi bahunya. Dia masih saja berjalan sambil tolah-toleh, sekali lagi kagum pada bangunan yang baru saja dimasukinya. Sangat katrok, bak orang desa saja. Saat dia akhirnya mengorek-korek isi tas selempangnya dan menemukan sobekan Koran pagi yang sudah disiapkannya dan membaca huruf demi huruf di kertas itu. “Lee International Hospital!” serunya, lalu manggut-manggut.”Benar…, ini memang Lee International Hospital.”

Tingkahnya semakin lucu saat telunjuknya mengetuk-etuk bibir, itu memang kebiasaannya jika sedang berpikir.”Interview dilakukan di lantai tiga,” sekali lagi dia berbicara sendiri lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Saat matanya menyapu letak lift, dia segera berlari ke arah lift yang sudah penuh sesak itu dengan lengan terbuka.”Ckakman!”

Untung saja dia bisa memasuki lift sebelum pintunya tertutup, tapi… tunggu! Dia tidak sendiri, seorang pria dengan jas dokternya juga memasuki lift bersamaan dengannya, dan tak sengaja menyikut perutnya. Alhasil, lift yang sudah penuh itu semakin sesak hingga orang-orang semakin berhimpitan saat pintu lift tertutup.

Ting tong! Pintu lift terbuka lagi padahal belum juga bergerak naik. Suster Soon, yang ternyata ada di antara gerombolan itu bersungut. “Kelebihan muatan! Hei, Agashi ! Kau keluar, mengalahlah sedikit!”omelnya pada gadis katrok itu.

Gadis itu mendengus sebal. “Bo? Kenapa musti aku? Kenapa bukan dokter gila ini,” protesnya sambil menaikkan wajahnya pada dokter yang masuk bersamaan dengannya itu. Dia memang agak sebal dengan pria itu karena perutnya yang agak tersikut.

“Aku?” tanya pria yang dimaksud sambil menunjuk hidungnya sendiri.
“Ne…, kamu!” gadis itu mengangguk mantap, lalu mengeja tagname yang bertengger di dada sebelah kiri sang pria,”Dokter Kim Hyon Joong!” Dia melakukan itu untuk menegaskan perintahnya. Merasa tak dihargai Hyon Joong protes,”Kau! Kau jangan macam-macam. Di atas sana! Pasienku menunggu sudah bukaan empat, preeklamasia!”

Gadis katrok itu malah tertawa,”Hahaha, jangan membodohiku, Dokter, kalau pasienmu Preeklamasia, kenapa kau tidak menyarankan pemacuan dari dulu-dulu.”

“Kau!” sekali lagi Hyon Joong menunjuk. Orang-orang yang yang juga ada di situ merasa gemas, lift tidak juga naik, malah jadi saksi pertengkaran yang tidak penting.”Sudah, sudah, Dokter Kim, lebih baik kalian berdua yang keluar!” usul suster Soon lagi yang segera mendapat dukungan dari yang lain.

“Mwo?” kedua orang yang bertengkar sontak menoleh kea rah gerombolan itu. Belum sempat memberi pembelaan lanjut. Gerombolan itu sudah mendorong mereka keluar Lift, termasuk Suster Soon. “Miane, dokter Kim. Pasienku menunggu!” seru suster genit itu bersama bunyi dentingan lift, tanda tertutupnya pintu lift.

Hyon Joong dan gadis katrok itu berdiri terhuyung-huyung akibat dorongan dari dalam lift. Dengan geram Hyon Joong menendang-nendang pintu lift, sedang gadis itu membenahi kaca mata tebalnya yang agak melorot, dan saat lensa itu bertengger manis hingga pandangan matanya jelas, Hon Joong sudah marah-marah tepat di mukanya,”Gara-gara kau, aku jadi terlambat menangani pasien!”

“Huh!” gadis itu mencibir,”Gara-gara kau, aku telat mendatangi interview!”
Mendengar kata interview, Hyun Joong tambah muntab karena dia tahu interview yang dilakukan Soe Eun tempatnya di gedung sebelah, bukan di gedung ini. “Pabho!” makinya pada gadis katrok itu.

“Mwo!” gadis itu mendelik, tak terima dengan umpatan Hyun Joong.

“Jika yang kau maksud interview instalasi farmasi, tempatnya di gedung sebelah!” teriak Hyun Joong nyaring. Dan saat itulah pintu lift di depan mereka terbuka. Gadis itu jadi merasa bersalah, penyakit gagapnya jadi kambuh saat minta maaf pada Hyun Joong,”Miane…miane… .”

Gadis itu terbungkuk-bungkuk meminta maaf. Hyun Joong yang masih emosi hanya bisa memasuki lift sambil menjerit,”Haaahhh!!!”

Gadis itu terkejut mendengar teriakan Hyun Joong. Mulutnya membentuk huruf O. Ting tong! Pintu lift tertutup lagi, mengangkut  naik Hyun Joong yang didalamnya. sang gadis katrok masih saja memandangi pintu lift yang tertutup itu sambil cekikikan.”Dasar dokter aneh, tampan sih sebenarnya….. tapi masa marah sama orang sampai teriak-teriak begitu.”

Saat akhirnya langkah kaki gadis itu mulai menapak gedung sebelah, karena sifat gugupnya, sekali lagi dia menabrak seseorang hingga berkas lamaran yang dipegangnya berhamburan ke tanah. Dia segera memunguti kertas-kertas itu sebelum angin menerbangkan.

“Miane,” sesal wanita yang dia tabrak, malahan wanita itu membantunya memunguti kertas. Saat pandangan keduanya bertemu…

“Eun Ye-ssi?” panggil wanita yang ditabraknya itu.

“Hye Sun-ssi?” panggil gadis itu balik, tak percaya kalau orang yang ditabrak ternyata dia kenal. Akhirnya kedua wanita itu berpelukan sambil meloncat-loncat bak teletubis. Tawa riang tentu saja terdengar.

“Aku agak pangling dengan penampilanmu, mana Eun Ye yang modern yang selalu gonta-ganti softlense?” tanya Hye Sun saat mereka mulai melepas pelukan. Eun Ye tertawa sembari membetulkan letak kaca matanya yang melorot.”Aku lupa mencuci semua softlensku, alhasil tidak ada yang bisa kupakai pagi ini. Terpaksa ku pakai kaca mata kuda ini.”

Hye Sun  tertawa mendengar candaan Eun Ye. Well, sahabatnya ini memang tidak pernah berubah dari dulu.”Kau kerja di sini?” tanya Eun Ye kemudian.
“Ne..,”Hye Sun tersenyum mengiyakan. Eun Ye meyodorkan sobekan Koran paginya,”Mereka bilang membutuhkan master graduation of Clinical Pharmacy. Itu sesuai dengan pendidikanku.”

Mulut Hye Sun menganga, sungguh tak percaya dengan pernyataan Eun Ye, lalu dengan tersenyum dia memastikan,”Jadi kau benar-benar meneruskan pendidikan master di Clinical Pharmacy?”

“Ne!” Eun Ye mengangguk sambil menepuk dada narsis lalu menunjukkan fotokopi ijazahnya pada Hye Sun, gadis di depannya itu jadi manggut-manggut membaca.

”Well, memang kuakui nilai farmakoterapiku jelek di pendidikan profesi, tapi malah melanjutkan ke Clinical Pharmacy… Kau sendiri… nilai farmakoterapimu selalu A, tapi malah memilih Master Management. Dunia sudah kebolak-balik.” Lanjut Eun Ye sambil geleng-geleng kepala.

Hye Sun hanya tertawa mendengar ocehannya.”Jadi kau mau mengikuti interview?” tanya Hye Sun.
“Ne!”
“Tidak perlu! Kau diterima!” seru Hye Sun.
“Mwo?”
“Ne,” Hye Sun mengangguk,”Selamat datang di instalasi farmasi Lee International Hospital!” seru Hye Sun sembari merentangkan tangan.
“Mwo?”
Sekali lagi Hye Sun mengangguk, meyakinkan. Eun Ye menggelengkan kepala tanda tak percaya,”Jangan bilang kalau kau…
“Ne… , aku kepala instalasi farmasi di rumah sakit ini,” jawab Hye Sun
“Wow!” sekali lagi mereka berpelukan. Eun Ye begitu girang karena diterima kerja, sedangkan Hye Sun senang karena akhirnya mendapatkan partner kerja yang sudah akrab dengannya.

“Eun Ye-a…, aku senang bertemu lagi denganmu. Kau harus bisa memajukan farmasi klinik di rumah sakit ini, menegakkan Pharmaceutical Care,” suara di benak Hye Sun menghantarkan harapan tingginya terhadap Eun Ye, akan kemajuan dunia farmasi di Lee International Hospital.


--------------------------------------------------------------------------


“Ah in?” panggil Eun Ye keheranan saat melihat Ah In di bangsal siang itu. Orang yang dipanggil menoleh padanya lalu agak memiringkan kepala, mengingat-ingat siapa sebenarnya gadis di depannya itu. “Eun Ye?” tanya Ah in memastikan.
Eun Ye mengangguk sambil senyum-senyum tak jelas. “Jadi kau bekerja di sini juga?” tanya Eun Ye.

“Ne,” kali ini Ah In yang mengangguk. “Dan kau?”

“Hye Sun merekrutku sebagai tenaga farmasi klinik,” jawab Eun Ye. Ah In jadi manggut-manggut. Gadis itu mengehela nafas, lalu dengan agak menaikkan bahunya, dia berujar,”Well, aku rasa jelas sekarang.”

“Jelas? Apanya yang jelas?” tanya Ah In heran, apalagi saat melihat senyum Eun Ye yang seperti membatin sesuatu.

“You and Hye Sun on the same work place!” Eun Ye berkerling menggoda Ah In. Pria itu jadi mengkerutkan kening. “So… What the problem?”

Sekali lagi Eun Ye cengar-cengir tak jelas. “Aniyo,” jawabnya kemudian.

“Selamat bekerja!” sahut Eun Ye mengakhiri pertemuan itu lalu meninggalkan Ah In yang bengong begitu saja. Eun Ye mengelilingi bangsal demi bangsal. Hari  ini  memang hari pertamanya kerja, jadi dia ingin mengenal areal tempat kerjanya itu hingga tak terasa jam pulang telah tiba. Dia menyadari itu saat melihat Hye Sun sudah menunggu mobilnya di lobi rumah sakit lalu menghampiri sahabatnya itu.

“Sudah mau pulang?” tanya Eun Ye. Hye sun mengangguk sambil memamerkan deratan giginya yang putih. “Bagaimana hari pertamamu kerja?” tanya Hye Sun kemudian.
Eun Hye menaikkan bahu,”Baru kulakukan observasi terhadap lokasi. Tapi aku sudah bisa mengira-ira konsep bagaimana yang diperlukan rumah sakit ini untuk mendukung farmasi klinik.”
“Bagus,” Hye Sun manggut-manggut. Seminggu lagi akan ada sepuluh orang tenaga farmasi klinik yang kurekrut untuk membantumu.

“Jeongmal?”
“Ne.”

Tiba-tiba Eun Hye teringat pada Ah In, lalu agak menggoda dia memanggil Hye Sun,” Hye Sun sayang.”
“Mwo? Tumben pake sayang-sayang?”
“Aku tadi lihat Ah In, lho. Ternyata dia juga kerja di sini, ya? Jadi kau kerja di sini buat mengejar Ah In?” tanya Eun Hye asal.
“Bo?” Hye Sun jadi tertawa, tak habis pikir dengan jalan pikiran Eun Hye. Memang sahabatnya itu tahu hubungannya dengan Ah In waktu kuliah dulu tapi tidak tahu dengan perkembangan terakhir.

“Ayo… ngaku saja,lah.. Kenapa kalian tidak langsung menikah saja.”

GUBRAK!

Sebuah mobil tanpa atap tiba-tiba membunyikan klakson. Mereka menoleh bersamaan dan melihat seorang pria tampan tersenyum lebar duduk di belakang kemudi, di samping anak kecil berumur enam tahun yang berteriak nyaring,”Aunty!!!”

Hye Sun jadi agak mendelik melihat anak itu,”Sae Hyun?” batin Hye Sun.

“Nugu, Hye Sun-a?” tanya Eun Hye yang juga melihat kedua orang itu.
“Tunanganku dan keponakannya,” jawab Hye Sun cepat.
“Bo?” kali ini gantian Eun Hye yang terkejut. Hye Sun segera menghampiri Min Ho. “Sampai jumpa lagi, Eun Ye-a,” salamnya sambil melambai ke arah Eun Hye.

Eun Hye masih bengong saat Hye Sun sudah berlalu dengan dua orang yang menjemputnya tadi. “Jadi HYe Sun sudah putus dengan Ah In? tapi sejak kapan?”

“Ah, dia harus menjelaskan semua ini besok!” batin Eun Hye sebelum meninggalkan lobi untuk kembali ke ruang kerjanya.

Sementara di perjalanan itu, Min Ho dan Sae Hyun menyanyi-nyanyi asal. Hye Sun Cuma bisa menahan tawa mendengar suara dua orang itu yang kadang tidak pas sama sekali. Mending gak usah nyanyi saja, deh… batin Hye Sun.  Anehnya dua orang itu sungguh tidak berperikemanusiaan, tetap saja menyanyi. Gak sadar diri banget, batin Hye Sun lagi. Oh, iya… kalian pasti bertanya-tanya bagaimana posisi duduk mereka sekarang. Karena Sae Hyun dari awal sudah duduk di samping Min Ho dan tidak mau pindah ke belakang, akhirnya Hye Sun yang harus duduk di bagian belakang.

“Aunty kenapa diam terus?” tanya Sae Hyun sambil menoleh ke arah belakang.
Gubrak ! ni anak tahu juga kalau aku membatin dia.
“Aku capek,” jawab Hye Sun asal.
“Oma menunggu kita di bridal untuk mengepas baju pengantin,” kata Min Ho kemudian. Muka Hye Sun jadi berseri-seri. “Jinja?” katanya sambil memeluk Min Ho, dari belakang tentu saja.

“Ne,” Min Ho mengangguk sambil menepuk-nepuk tangan kekasihnya.
“Nanti Sae Hyun juga akan nyoba gaun. Halmoni bilang gaun yang banyak renda dan pita-pitanya,” samber Sae Hyun.

Cih!! Ni anak main samber aja.

“Kenapa Sae Hyun bisa sama kamu?” tanya Hye Sun pada Min Ho.
“Kau lupa janjimu pada Noona untuk menjaganya selama mereka pergi?”
Hye Sun jadi menepuk jidat. Dia memang lupa kalau seminggu yang lalu dia berjanji pada Yo Won buat menjaga Sae Hyun.

“Sae Hyun juga sudah bawa baju banyak, Lho, Aunty,” kata Sae Hyun sambil memiringkan kepala dan matanya dikedip-kedipkan gaya puppies eyes.

HUa!! Ni anak kayaknya tahu kalau aku selalu mati gaya tiap sama dia, batin Hye Sun. Seminggu yang penuh penderitaan. Ho ho ho….

Benar saja. Di bridal, Sae Hyun lebih banyak mendominasi. Karyawan bridal terpingkal-pingkal karena tingkah konyolnya. Alhasil Hye Sun mencoba gaun pengantinnya sambil uring-uringan. Ada saja kritik bocah itu. Dia bilang pitanya kurang banyaklah. Rendanya terlalu menumpuk. HUwaaaaa!!! Yang mau nikah aku atau Sae Hyun, sih… . Hye Sun Cuma bisa membatin tapi tidak berani bilang. Takut dicap jadi bibi yang gak baik.

“Oke. Ini yang terakhir,” batin Hye Sun di ruang ganti. Dia memang sedang di depan cermin saat ini, mematut-matut diri, takut dikritik Sae Hyun habis-habisan lagi. Sudah capek gonta-ganti gaun terus. “Kalau anak setan itu masih saja mengkritik, aku pasti langsung pingsan di tempat,” umpat Hye Sun.

Dengan langkah perlahan, Hye Sun keluar dari ruang ganti. Memperlihatkan diri pada Min ho, Hyo Young dan Sae Hyun. Kali ini Min Ho sudah memakai tuksedo pernikahannya. Hye Sun begitu terpana padanya. Begitu pula sebaliknya, Min Ho juga terpana melihat penampilan tunangannya. Hyo Young tersenyum melihat keduanya dan kali ini tidak ada kritikan pedas dari si cerewet Sae Hyun.

“Kau cantik sekali, Chagiya,” puji Min Ho sambil menatap kagum wanita di hadapannya itu. Hye Sun menundukkan wajahnya yang memerah sambil berucap lirih,”Kau juga sangat tampan.”

“Kalau begitu, ayo kita menikah sekarang,” kata Min Ho sambil menarik tangan Hye Sun. Hyo Young jadi mendelik,”Eits! Sudah kubilang delapan bulan lagi!” cegahnya.

“Kenapa harus delapan bulan lagi kalau pakaian pengantinnya saja sudah siap sekarang!” protes Min Ho. Hye Sun jadi tertawa kecil menutupi mulutnya dengan tangn.

“Gaun dan tuksedo ini hanya contoh, Min Ho-ssi,” kata sang perancang. “Saya akan lebih memodif-nya nanti.”

“Dari seminggu kemarin kau sudah tidak sabaran saja, Min Ho-a,” kata Hyo Young galak.”Ikut saja kata, Omma.”

Min Ho jadi cemberut. Hye Sun memeluknya untuk menenangkan. Pria itu tersenyum kemudian, menikmati pelukan hangat itu. Dia mencium kening Hye Sun saat gadis itu mengelus-elus dada bidangnya. “Delapan bulan… sangat lama menurutku… lama sekali,” batin Min Ho.

Hyo Young  tersenyum melihat rona kebahagiaan di wajah putranya dan Sae Hyun memandang kagum dua orang dewasa di depannya itu. “Seperti Cinderella dan pangeran tampan,” batinnya. Setidaknya mulut kecil itu tidak bawel lagi.

Tapi ternyata tidak lama. Makhluk kecil yang menyebalkan itu sudah berhasil merayu sang paman untuk membawanya ke taman ria. Kini di tempat itulah mereka bertiga. Mencoba wahana demi wahana diiringi keantusiasan Sae Hyun. Kadang Hye Sun yang kecapekan membiarkan saja paman dan ponakan itu menaiki wahana sendiri, sedangkan dia lebih memilih duduk-duduk sambil memijit-mijit kakinya yang agak capek karena menggunakan hak tinggi.

Kali ini Hye Sun terpaksa mencopot sepatunya karena merasakan telapak kaki kirinya kram. Sambil meringis, dia berusaha meluruskan kaki dan memijit-mijit telapak kaki yang kram. Keringat seketika menetes di dahinya.

“Kakimu kram lagi?” tanya Min Ho yang tiba-tiba sudah hadir di dekatnya.  Hye Sun mengangguk, ringisannya semakin memprihatinkan karena rasa menyiksa itu menyebar ke telapak kaki kanan juga.

Min Ho berjongkok di depannya, mencopot sepatu dari kaki Hye Sun yang sebelah kanan lalu memijit-mijit kedua telapak kaki wanita itu. “Bukankah dokter Jo sudah melarangmu memakai sepatu hak tinggi?”

“Ini Cuma lima centi, Min Ho-a,” terang Hye Sun.
“Tetap saja menyiksamu, bukan?”
Hye Sun merengut. “Apa kau tidak malu, jalan sama aku yang pendek sementara kau tinggi begini?”
“Omongan macam apa itu?” kata Min Ho emosi.”Jangan diulangi lagi! Omongan orang-orang berpikiran picik!”

Min Ho berusaha meluruskan kaki Hye Sun. “Kau sama sekali tidak mau cerita tentang kecelakaan itu?” tanya Min Ho.

Hye Sun menghela nafas. “Mana Sae Hyun?” dia berusaha mengalihkan topik.
“Aku meninggalkannya main bom-bom car,” jawab Min Ho. Pria itu menggeledah tas Hye Sun.”Kau tidak bawa minyak urut?”
“Ada di kantong depan.”

Sekali lagi Min Ho mengurut kaki Hye Sun dengan bantuan minyak sebagai pelicin. Orang yang lalu-lalang jadi memperhatikan tingkah mereka. Anehnya Min Ho sama sekali tidak merasa risih. Muka Hye Sun jadi memerah, merasa jadi obyek tontonan. “Sudah baikan?” tanya Min Ho. Pria itu menatap  dengan sungguh-sungguh hingga gadisnya mengangguk. Min Ho memang sudah tahu benar cara menangani penyakit Hye Sun yang satu ini. Dia juga yang mendorong Hye Sun memeriksakan diri pada dr. Jo.

Min Ho kini duduk di samping Hye Sun, merangkul kekasihnya. Hye Sun memasukkan kembali minyak urut itu ke dalam tas. Sesekali Min Ho memperhatikan tingkahnya. “Kau masih menjalani fisioterapi, bukan?” tanya Min Ho yang diiyakan Hye Sun dengan anggukan.

“Aku lebih memilih kau tampil sehat di depanku daripada berusaha anggun tapi tersiksa,” argument Min Ho kemudian. Hye Sun hanya tersenyum, dalam hati jadi tidak enak mendengar kalimat Min Ho yang penuh perhatian itu. Tanpa sadar, Hye Sun menyandarkan kepala ke dada Min Ho. Menikmati kehangatan dada bidang calon suaminya di sore itu. Hingga Sae Hyun yang sudah selesai bermain bom-bom car mendekati mereka berdua dan menarik-narik lengan baju Hye Sun,”Aunty… Aunty!”

Keduanya menoleh. Anak itu tersenyum lebar dan mengajak,”Main ontang-anting, yuk!”

“Kaki Aunty lagi sakit! Kau main sama uncle saja,” larang Min Ho. Lelaki itu berdiri dan menarik tangan Sae Hyun. Tapi sebelum pergi Min Ho berpesan,”Kau di sini saja, Chagiya. Biar kuturuti kemauan anak ini dulu setelah itu membelikan sandal jepit untukmu. Oke?”

Sekali lagi Hye Sun mengangguk. Keduanya kini meninggalkan Hye Sun, menuju wahana ontang-anting yang dimaksud Sae Hyun. Hye Sun menatap punggung mereka berdua sampai menghilang di kerumunan orang. Seketika Hye Sun teringat kecelakaan itu. Semua masih begitu jelas di kepalanya. Satu tahun sesudah kelulusannya. Ah In menjalani sumpah profesi hari itu dan Hye Sun  sudah terdaftar sebagai mahasiswa master bidang manajemen di Korean University. Hubungan mereka sudah putus selama satu bulan, namun walau begitu, dia ingin memberi ucapan selamat pada Ah In. Dia juga ingin berkenalan dengan Ibunda Ah In waktu itu.

Tapi nasib berkata lain. Saat Hye Sun menuruni bis secara tergesa-gesa, dia terjatuh dengan posisi telapak kaki kiri tertekuk karena sepatu hak tinggi yang dipakainya. Betis kirinya bengkak berminggu-minggu. Dokter yang merawat merekomendasikan Hye Sun melakukan rontgen. Dia begitu lega, saat foto rontgen tidak menunjukkan adanya fraktur, dan dokter yakin itu hanya bengkak biasa.

Ah In segera pulang ke asalnya-Busan- setelah sumpah profesi. Kisahnya dengan Ah In pun terlupakan begitu saja seiring kedekatannya dengan Min Ho, teman barunya saat kuliah di Korean University. Memang tidak ada fraktur yang terjadi, tapi dia tidak menyangka pembengkakan itu membuat beberapa syaraf di telapak kakinya tidak normal. Terkadang Hye Sun begitu tersiksa jika kakinya kelelahan ditambah adanya hawa dingin, serta merta kakinya serasa layu. Hasil pemeriksaan dokter Jo mengharuskannya melakukan fisioterapi dan pelarangan menggunakan sepatu hak tinggi. Min Ho tahu betul itu, tapi Hye Sun enggan menceritakan perihal kecelakaan itu. Kecelakaan kecil memang, tapi hal dibalik kecelakaan itu begitu menyiksa. Bisa dibilang, saat kejadian Hye Sun melamun. Waktu itu dia belum siap kehilangan Ah In. Pria yang selama lima tahun menyertai hari-harinya.

Miane, Min Ho-a. biarlah cerita ini menjadi rahasiaku saja. Aku bersedia berbagi apa pun padamu. Asal jangan mengenai Ah In. Aku tidak mau perasaaan cintamu berubah menjadi kecurigaan atau cemburu. Aku belum siap menghadapi kecemburuanmu, Min Ho-a. Pasti sangat menakutkan, atau bahkan mungkin aku bisa kehilanganmu. Aku tidak mau kehilanganmu, Sayang.

“Aunty!” teriak Sae Hyun sambil berlari kecil. Saat sampai di depan Hye Sun, bocah itu menyodorkan bungkusan yang dibawanya. Min Ho pun menyusul dan segera duduk di samping Hye Sun.

“Apa ini?” tanya Hye Sun saat bungkusan itu berpindah ke tangannya. Sae Hyun terkekeh,”Sandal jepit dari uncle.”

“Ya.. kenapa kau tertawa?” protes Min Ho yang merasa ditertawakan.
“Habisnya Uncle aneh, masa menghadiahi ceweknya sandal jepit,” kata Sae Hyun tak mau kalah.
“Aish…,” Min Ho jadi keki. Hye Sun membuka bungkusan itu, sepasang sandal jepit berwarna kuning tampak jelas di tangannya. Sae Hyun duduk mendesak di tengah mereka. Min Ho jadi berdiri dan jongkok di depan Hye Sun, memakaikan sandal jepit itu di kaki Hye Sun kiri dan kanan.

“Yah… ini sih bukan cinderela sepatu kaca namanya, tapi Cinderela sandal jepit,” samber Sae Hyun. Tawa mengejek mengikuti kalimat itu. Dua sejoli itu kini harus menahan malu di depan anak kecil sejahil Sae Hyun. Ha ha ha ha ha….!


BERSAMBUNG


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]