Author Topic: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~CHAPTER 18, ENDING, update 27 Mar'12~  (Read 44496 times)

Offline Be my self

  • Admin
  • Hero
  • *****
  • Posts: 7360
  • that winkkkk!!! *fainted
    • View Profile
Re: ^THIRTY DAYS CHANGES^ ~only spoiler!!!
« Reply #945 on: April 03, 2011, 07:23:12 am »




Additional Cast :


Bosco Wong as Bosco Wong



HONGKONG, ... di antara gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi di Central ...


"Leader!!" Nathan menongolkan kepalanya di balik pintu begitu ada perintah dariku.

Aku mendongak. "Masuklah!" ujarku, mengulangi perintah yang telah kuberikan. "Bagaimana?" lanjutku kemudian, sambil mengeser tumpukan sketsa kasar yang sedang kuperiksa sejak tadi.

Nathan memasuki ruang kantorku setelah ragu-ragu sejenak. "Semua sudah menunggu di meeting room .. "

Aku mengangguk. "Bagaimana dengan Tuan Lau?" tanyaku sambil beranjak bangun dari kursi. Kubereskan beberapa lembar sketsa yang masih bertebaran di atas meja kemudian menjadikannya satu dengan tumpukan yang tadi kutekuni, untuk kemudian menyerahkannya pada Nathan.

"Tuan Lau juga sudah berada di sana ... "

"Kita ke sana sekarang .. ," tukasku sambil mendahuluinya menuju ke pintu. "Apakah semuanya sudah lengkap?"

"Ne, " sahut Nathan sambil mengiringi langkahku. "Raymond sudah membawa sisa sketsa lainnya ke ruang rapat .. "

"Bagus. Kalau begitu bergegaslah .. "

"Ok .. "

Kami berjalan agak tergesa keluar dari ruang kantor. Setelahnya pintu ditutup olehku,--kami berbalik menghadap lorong yang memisahkan beberapa ruang kantor para manajer lain.

 
***** oOo *****



Langkah kami terhenti di depan pintu ketika sekelompok orang melintas di lorong depan--lorong penghubung beberapa ruang meeting. Mereka menghentikan langkah dan memandang kearah kami. Senyuman menyengir dan mengejek tersirat dari wajah masing-masing. Terutama yang berkemeja hitam dengan jas hitam.


“Hah—look, who is this? Mr. Lee Min Ho? Hampir dua bulan tidak bertemu, belum karatan juga rupanya?”

Tampangku berubah kaku. Pria ini—Bosco Wong, rivalku sejak dua tahun yang lalu. Dia masuk ke Great Building atas perantaraan saudaranya yang merupakan manajer SDM di sini. Orangnya rada sombong dan angkuh. Terlalu percaya diri dan dikenal terlalu memaksa pada para bawahan. Sifat ini sebenarnya tidak berbeda jauh denganku. Hanya saja, aku lebih suka menyelesaikannya sendiri apabila para bawahanku sudah tidak bisa memberikan masukan apa-apa .

Kami seangkatan dan dipercayakan memimpin tim desainer yang dibagi ke dalam dua bagian. Bosco tidak suka padaku karena tim elite perusahaan diserahkan Tuan Lau dibawah kendaliku. Sedangkan dia, hanya mendapat para desainer kelas dua.

Semula segalanya tidak mengangguku. Aku hanya melakukan tugas saja. Masa bodoh dengan segala kedengkian-kedengkiannya. Tapi semua berubah setelah keberangkatanku ke Seoul dua bulan yang lalu. Bosco ternyata telah melebarkan sayapnya. Dia mendapat kepercayaan penuh dari Tuan Lau setelah berhasil merampungkan beberapa proyek dengan hasil memuaskan. Bisa dibilang, sekarang posisinya sejajar denganku di mata Tuan Lau.

Masa sebulan kepulanganku tidak merubah apa-apa. Bosco tetap dengan kuasanya. Medongak-an kepala dan membusungkan dada di depanku. Itu—sebenarnya, juga bukan masalah bagiku. Tapi sulitnya, pertikaian kami tidak bisa dihindari lagi. Great Building baru mendapat job besar, .. belum pasti sih, masih diadakan penyeleksian desain-desain yang cocok oleh pihak kontraktor, .. yang tugasnya diserahkan kepada tim kami berdua, yaitu aku dan Bosco. Desainer siapa yang lebih disukai dan dipilih oleh pihak kontraktor, China Assets Engineering Co., maka pendesainan-nya akan diserahkan padanya.

“Kenapa? Takut?”

Pertanyaan mengejek dari Bosco menyadarkanku.

Aku mengeraskan wajah.“Tidak! Kita lihat saja siapa yang lebih unggul!”


Bosco mengeluarkan sepasang tangannya yang menancap di saku celana, lalu bertepuk tangan.

“Bagus! Saya lihat sampai di mana kehebatan seorang desainer berbakat Lee Min Ho!!"

"Hmm--" Aku melirik Nathan. "Kita ke ruang rapat Nat!"

"Yes, Leader .. " Nathan yang masih menatap tajam Bosco dan para bawahannya menjawabku.

Kami melintasi lorong pengapit ruang kerjaku, dan melewati rombongan Bosco yang sedang menyengir lebar.

"Cih--begini tampangnya para losers, guys!" sindir Bosco yang langsung disambut tawa mengejek dari para pengikutnya. Beberapa dari mereka bersiul-siul dan saling nyeletuk riuh, tanpa memperdulikan lirikan-lirikan tidak senang dari para pekerja bagian lain.

Aku mengepalkan tangan dan berusaha meredam emosiku. Kulihat gelagat tidak baik dari Nathan, jadi segera kutarik tangannya. "Don't!! Tidak ada gunanya melayani mereka. Yang perlu kita lakukan sekarang, menyelesaikan yang terbaik buat proyek Sanna ... "

Terlihat Nathan menghela nafasnya.

"Jagalah emosimu!" Kutepuk lengannya buat menenangkan. "Semua akan baik-baik saja, percayalah. Saya tidak akan membiarkan mereka menang .. "

Nathan menatapku. "Leader yakin?"

Aku tersenyum walaupun ku akui bukan senyum kepastian. "Nothing impossible, right?"

Nathan mengangguk. "Yeah--right! Selama ada Leader!" sahutnya sambil mengalungkan lengannya di leherku.

"That's good .. ," ujarku sembari meninju pelan perutnya.

"Ha .. ha .. ha .. " Lalu kami tertawa bersama, tanpa menghiraukan lagi sindiran-sindiran yang masih mengaung dari belakang.


***** oOo *****

 

Rapat Proyek Sanna dimulai setelah utusan-utusan dari China Assets Engineering Co. yang terdiri dari pemimpin tertingginya Tuan Mok, dan beberapa direktur yang bersangkutan, mengambil tempat masing-masing. Pembukaan rapat dipimpin oleh Tuan Lau. Setelah menjelaskan maksud dari diadakannya rapat tersebut, selanjutnya diserahkan pada pihak kontraktor. Tuan Mok angkat bicara.

"Kami yakin tuan-tuan sudah mempersiapkan apa yang kami inginkan." mulai Tuan Mok sembari menatap satu-persatu orang-orang dalam ruang rapat. Matanya sangat tajam dan berwibawa sehingga tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Gesekan pelan dari kertas yang disibak PUN tidak terdengar. "Waktu kami tidak banyak, jadi diringkas saja ... ," lanjutnya kemudian. "Kami ingin yang terbaik buat pulau Sanna,--perkembangannya dan yang akan dihasilkannya kemudian. Pulau ini merupakan satu-satunya pulau yang agak terpisah dari daratan besar, tapi kekayaan alamnya luar biasa. Selain pasir putih, juga hasil laut dan cuacanya yang rada stabil. Jika dibangun dengan rencana matang, kami percaya pulau ini akan menghasilkan keuntungan memuaskan bagi China Assets, ... bukan itu saja--tapi juga bagi perusahaan kalian." Tuan Mok menegakan badannya dan menyilangkan tangan di depan dada. "Sekarang aku ingin mendengar apa yang bisa tuan-tuan berikan, bisa diutarakan sekarang .. ? ," lalu dia beralih dariku, kemudian pada Bosco. "Siapa yang akan memulainya?"

Bosco mengangkat tangan. Tuan Lau melihatnya maka menunjuknya. "Kau dulu, Bos .. "

Bosco berdiri sembari membersihkan tenggorokannya. Dia tersenyum tipis sambil melirik ku, setelah itu tangannya bergerak pada seorang bawahan yang duduk di sebelahnya, menjentikan jarinya. Pria itu mengerti dan segera menyodorkan rentetan sketsa pada Bosco.

Bosco mengangguk pendek sembari menerima sketsa-sketsa tersebut, yang untuk kemudian diserahkan pada Tuan Mok dan para pengikutnya. Orang-orang dari China Assets mulai membuka sketsa-sketsa dari Bosco dan mengamatinya.

"Jadi .. ide dari rancangan anda .. ?" tanya Tuan Mok sambil mengalihkan pandangan pada Bosco.

"Kediaman elite!" sahut Bosco, ringkas dan padat. "Apartemen-apartemen mewah dengan sistem keamanan yang terjamin. Semua bahan akan didatangkan dari luar negeri, dengan kualitas nomor satu. Tidak perlu diragukan karna kita akan melengkapinya dengan fasilitas-fasilitas lengkap, termasuk sarana-sarana olahraga yang memadai. Orang-orang sekarang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kesehatan, terutama para kalangan atas. Jadi sarana-sarana seperti ini pasti sangat menarik bagi mereka. Kami juga sudah melengkapinya dengan klinik-klinik dan rumah sakit yang diperlukan .. "

Hening sebentar, .. sampai suara Tuan Mok terdengar. "Kelihatannya sempurna .. ," gumamnya.

Yang segera disambut Bosco. "Yang penting, akan mendatangkan laba yang besar bagi Tuan .. "

Tuan Mok mengangkat wajah dan menatap Bosco. Sesaat kemudian pria umur limapuluhan itu mengangguk dan tersenyum puas. "Anda paling tahu apa yang kuinginkan, Tuan Wong .. "

Bosco tertawa seraya mengerakan tangannya. "Bisnis memang seharusnya mendatangkan laba yang sebesar-besarnya. Bukankah begitu, Tuan Mok?"


"Ha .. ha .. ha .. " Plok, Plok, Plok--Tuan Mok menepuk tangannya. "I agree with you! Karna itu, kupastikan anda akan berhasil di bidang ini ... "

Merasa disanjung, Bosco mengangguk dengan pongah. "Thank you .. "

Setelah berbasa-basi sebentar, Tuan Mok beralih padaku. "Bagaimana dengan anda, Tuan Lee? Saya dengar, Tuan Lau selalu memujimu sebagai arsitek muda berbakat .. "

Aku tersenyum. "Tuan Lau terlalu membesar-besarkan .. " Aku lalu menoleh dan mengangguk pada Tuan Lau. "Thank you ... "

"Kau pantas mendapatkannya .. ," kata Tuan Lau.

Kemudian aku berbalik kembali pada Tuan Mok. Kuserahkan berkas-berkas berisi sketsa-sketsa yang kubawa.

Tuan Mok dan orang-orangnya menerimanya. "Yang ini, apa perbedaannya?" tanya pria itu setelah memperhatikan sketsa-sketsa tersebut selama beberapa lama.

"Juga dalam bentuk apartemen-apartemen seperti ide tim Bosco, tapi bukan tempat tinggal elite dan mahal. Kami bermaksud memanfaatkan kekayaan alam dalam pengerakannya. Seperti di Hongkong ini dan beberapa pulau di negara-negara kepulauan lain, terdapat pulau-pulau yang segala keperluan dan tenaganya berasal dari sumber daya alam. Dengan begitu, kita bisa ikut berpartisipasi dalam perlindungan lingkungan. Pulau Sanna sangat kaya akan sumber dayanya, jadi saya rasa tidak masalah jika menerapkan sistem ini di sana. Dengan begitu, kita tidak perlu mengkhawatirkan perusakan-perusakan yang mungkin terjadi karna pemborosan energi yang berlebihan .. "

"Memanfaatkan sumber daya alam?" Tuan Mok terlihat mengerutkan alisnya. "Apa anda sudah mendapatkan caranya?" tanya pria itu lebih lanjut.

Aku tercekat. Jawaban dari pertanyaan ini sungguh tidak terpikirkan olehku. "Masih dalam tahap percobaan ... ," ucapku perlahan-lahan.

"Berapa lama waktu yang diperlukan?" tanya Tuan Mok kembali. Dia menatapku dalam-dalam.

"Itu ... ," sekali lagi--pertanyaan ini tidak termasuk dalam perhitunganku.

"Satu tahun? Dua, atau lima tahun? Atau bahkan lebih dari sepuluh tahun?" buru Tuan Mok.

Aku menghela nafas. Untuk kesekian kalinya aku tidak bisa menjawab. "Sorry, kami tidak punya batas waktu yang pasti .. "

"Idemu tidak buruk, Tuan Lee .. ," ujar Tuan Mok menenangkan. "Menjaga kelestarian alam itu perlu tapi .. jangan lupa kami orang bisnis .. ," pria itu tersenyum.

"Ya, saya tahu .. ," balasku ngetir. "Maaf tidak memperhitungkan aspek ini ... "


Sebenarnya Raymond cs sudah memperingatiku. Rencana ini tidak akan berhasil, bahwa orang bisnis hanya memperhatikan laba, dan aku bukannya tidak tahu karna pada dasarnya aku juga bagian dari orang-orang itu--dulu, sebelum pertemuanku dengan Hyesun. Ya, mungkin benar apa yang sering digaungkan Raymond cs padaku--Aku sudah berubah!

"Ok!" Perkataan Tuan Mok menyadarkanku dari lamunan. "Aku sudah mendengar rancangan-rancangan dari anda sekalian. Untuk sementara, aku belum bisa memutuskan rancangan mana yang akan kami pakai. Masih harus melihat representasi dari perusahaan sebelah. Begini saja, .. kuberi waktu tiga bulan bagi kalian untuk merombak ulang dan memperbaiki kelemahan-kelemahan dari desain-desain tadi. Setelah itu aku ingin melihat sketsa jadi dari proyek ini, bukan sketsa kasar lagi .. "

"Tidak masalah ... ," sahut Tuan Lau. "Bagaimana dengan kalian?" tanyanya padaku dan Bosco.

"Kami juga tidak masalah!" jawab kami lantang dan hampir bersamaan.

"Bagus!" ujar Tuan Lau dan Tuan Mok.

"Kalau begitu kami pamit dulu, masih ada rapat lain .. ," lanjut Tuan Mok.

"Biar kuantar, Tuan Mok .. ," tawar Tuan Lau seraya berdiri dari kursinya.

"Oh--terimakasih--" Tuan Mok menerimanya senang hati.

Sebentar saja para petinggi dari dua perusahaan yang bersangkutan keluar dari ruang rapat, diikuti para pengikut setia mereka. Tinggal tim ku dan tim Bosco yang masih tersisa dalam ruangan.

"Losers ..  " Bosco tersenyum mengejek.


Dia mendorong kursi ke belakang dan bangkit dari duduknya. "Jangan terlalu lama berada di sini, guys. Nanti kita ketularan loser .. " Bosco mencibir sembari bergerak ke pintu, diiringi para bawahannya yang tertawa ngakak dan pandangan merendahkan.

Aku melihat Ken bergerak dan meraih buku, bersiap mengarahkannya ke rombongan Bosco, segera kutarik tangannya. "Kau gila ya?!" bentak ku. "Jangan memperkeruh masalah!"

"Tapi .. " Ken mengigit bibirnya. "Mereka menyebalkan ... "

"Kita sudah tahu sejak semula .. " ujarku seraya merapikan lembaran-lembaran sketsa yang bertebaran di atas meja. "Tapi tindakanmu tidak membantu .. ," lanjutku padanya dengan nada menegur. "Sebaiknya bereskan sketsa-sketsa ini dan kembali ke ruangan ku. Kita mesti mendiskusikan perubahan dari desain-desain ini .. Sepertinya diperlukan ide-ide baru .. "

Raymond cs mengangguk dan mulai membantuku merapikan berkas-berkas dari meja, setelah itu kami keluar ruang meeting secara bersamaan.


***** oOo *****

 

Aku baru saja menghempaskan badan di kursi ketika ponselku berbunyi. Aku merogoh ke dalam saku kemeja dan mengeluarkan ponsel tersebut. Telepon itu datang dari Angel. Setelah menghela nafas, kutekan tombol terima sambil memberi isyarat pada Raymond cs buat melanjutkan pendiskusian dulu.

"Angel ... ," sapaku.

Kudengarkan sesaat. Suara tersendat-sendat di seberang membuat alisku berkerut.

"What's going on?" tanyaku, mulai khawatir.

Tanpa kusadari Raymond melirik ku sekilas sambil berusaha memberikan respon terhadap pertanyaan-pertanyaan dari yang lain.

"Ok, aku akan pulang segera ... Jangan takut .. " Kuputuskan hubungan seraya menyambar tas yang tergantung di sandaran kursi.

"Aku harus pergi sekarang, guys!" kataku pada Raymond cs.

"Ada apa?" tanya Raymond sambil menatapku lekat-lekat, seolah ingin memastikan segala sesuatu baik-baik saja. Entah apa yang dipikirkannya, untuk saat ini aku tidak ingin menebak.

"Ada sesuatu--Angel memintaku pulang. Katanya tidak begitu sehat--" jelasku sambil mengambil nafas. Terlalu banyak masalah yang kuhadapi, selain masalah pekerjaan yang masih terbengkalai, sekarang ditambah masalah Angel yang belum kuketahui. Dalam suaranya, dia terdengar menderita.

Setelah menghembuskan nafas, kutepuk lengan Raymond. "Aku pergi dulu--tolong urus semuanya--"

Raymond mengangguk. "Jika memang diperlukan, tidak usah balik ke sini. Aku dan yang lain akan melanjutkan, dan setelah itu meluluskannya pada Leader .. "

Aku menyambut dengan rasa terimakasih. "Thanks alot!" Setelah itu aku beralih pada yang lain. "See you, guys!"

"Bye!" ujar mereka sambil mengangkat tangan dan melambaikannya padaku.


***** oOo *****

 

Aku tiba di rumah sekitar setengah jam kemudian. Dan Angel sudah menungguku di ambang pintu depan. Dia tidak bersuara, terlihat sangat lusuh dan pucat. Sebagian rambutnya acak-acakan dan menutupi wajah. Belum lagi aku bersuara menyapanya, dia sudah berlari memasuki rumah sambil membekap mulutnya.

"Hey--are you okay?"

Aku mengejarnya sampai ke kamar mandi. Angel menjatuhkan diri berlutut di depan kloset dan memuntahkan isi perutnya.

"Huek!! Huekk!!"

"Are you okay?" Aku mengulang pertanyaan tadi. Kali ini agak khawatir begitu melihat keadaannya yang terlihat buruk. Aku berjongkok dan menempelkan tangan ke punggungnya lalu mulai mengelus-ngelus buat melegakannya. "Agak baikan? Apa yang kau makan siang ini?"

Angel tidak menjawab. Atau mungkin, dia memang tidak mampu menjawab. Keadaannya memang tidak memungkinkan. Dia mengerakan-gerakan tangan sebagai respon buat ku--mungkin ucapan terimakasih. Setelah berhasil mengatur pernafasaannya yang tersengal, dia berdiri dan membuka air keran lalu mulai membasuh mukanya.

"Bagaimana? Agak baikan?"

Angel mengangguk.

"Apa perlu kuantar ke dokter?" Aku bermaksud menuntunnya, tapi segera ditepiskan olehnya.

"Tidak usah!"

"Ya?" Aku menoleh penuh tanya.

"Aku sudah memeriksakan diri tadi pagi .. ," desisnya.

"Ya?" tanyaku, makin tidak mengerti. "Lalu .. apa kata dokter?"

Angel tiba-tiba terdiam. Dia menatapku lekat-lekat, seakan berusaha membaca reaksiku selanjutnya.

"Kau .. ingin tahu?" tanyanya kemudian, sangat perlahan.

"Tentu saja!" jawabku tegas. "Apa hasilnya?"

Angel mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian berpaling kearah lain. "Aku .. hamil .... ," sahutnya sangat pelan, .. sampai-sampai aku tidak yakin telah mendengarnya.

"Ha .. hamil .. ?" ulangku lambat-lambat sementara mulutku mengangga. Aku tidak mampu percaya. "Se .. sejak kapan?" tanpa sadar, aku bertanya.

Angel menghela nafas, kemudian beralih kembali padaku. "Sudah dua setengah bulan ... "

"Really?" Perlahan-lahan aku menyandar ke dinding. Kabar ini terlalu mengejutkan. Aku masih berharap sedang mendengarnya dalam mimpi. Dinding di belakangku terlalu dingin dan beku sehingga membawaku kembali ke alam nyata. Ditambah tangan dingin Angel yang menyentuhku, aku makin sadar semuanya bukan mimpi. Ini kenyataan!

"Yes .. ," desah Angel. "Apa kau menyesal?"

Aku tersentak. "No!!" tandasku.

Aku ingin menunjukan padanya tidak ada yang perlu disesali. Bahwa perkataannya tidak benar. Dengan segera aku mengenggam sepasang tangannya. "Aku tidak menyesal! Kenapa kau berpikir begitu?"

"Entahlah ... "

Aku menguncang tangannya. "Dengar Angel Yeung! Kedatangannya adalah berkah. Aku tidak mungkin menyesalinya. Hanya saja .. aku agak kaget .. Berita ini terlalu mendadak, tapi .. ," Aku tersenyum. "Aku sangat bahagia .. "

"Are you serious?" Sepasang mata bulat itu melebar. "Kau bahagia?"


"Tentu saja .. " Aku tertawa kemudian merangkulnya. "Mulai detik ini aku akan menjagamu dan anak kita baik-baik .. "

"Sungguh?"

Aku tidak mengerti, mengapa dia terus-menerus menanyakan pertanyaan itu? Mengapa dia ragu? Apakah dia masih tidak mempercayaiku?

"Iya. Kenapa? Kau tak percaya?"

"Bukan!" sahutnya cepat. "Hanya saja .. maafkan saya .. "

Alisku berkerut. Perlahan kulepaskan rangkulan dari tubuhnya. "Untuk apa minta maaf?"

Dia terlihat gugup. Dengan cepat dia berusaha mengelak dan menepis pandanganku. "Tidak apa .. ," lalu dia berusaha tersenyum. "Hanya .. maaf buat keterlambatan pemberitahuan ini .. "

"O--" Aku mengangguk dan tidak bertanya lebih lanjut. Kubimbing dia keluar dari kamar mandi.

Seharian itu aku menghabiskan waktu bersamanya, tanpa memusingkan pekerjaanku yang masih terbengkalai di kantor.


***** oOo *****



Batas waktu tiga bulan representasi ulang Proyek Sanna yang ditetapkan China Assets sudah memasuki bulan kedua ... Dan rancangan-rancangan kami belum menemukan kemajuan. Solusi buat melancarkan rancangan semula belum kami dapatkan. Para bawahanku mendesak agar memakai cara lama, yaitu membatalkan rencana penghematan daya dan tenaga dengan memanfaatkan kekayaan alam dalam upaya perlindungan lingkungan yang kuterapkan semula dengan jalan yang lebih praktis, mengutamakan laba dengan mendirikan gedung-gedung pencakar langit yang menjamur dan berkualitas tinggi seperti tim sebelah. Kami bisa mendesain gedung yang lebih mewah, yang memiliki kelebihan melebihi tim Bosco. Misalnya dengan bahan-bahan yang lebih mahal dan istimewa, didatangkan langsung dari luar negeri. Ataupun mempekerjakan para tukang yang sudah bernama di Korea, kalau bisa--bahkan di luar negeri.

Tapi aku melarang keras semua masukan-masukan itu. Aku bukanlah--'Alat perekrut modal/laba'. Aku masih mencintai bumi ini, ... sehingga--menginginkan yang terbaik buat anak cucu ku kelak. Siapa lagi yang akan menjaganya buat mereka jika bukan aku?

"Tidak bisa!" Aku melempar file di tangan ku ke atas meja.

Raymond melirik yang lain kemudian, "Tapi .. "

"Lupakan semuanya!" Aku memutar kursi ke samping untuk kemudian mengambil sketsa-sketsa yang baru selesai setengahnya. "Kita kembali ke rencana semula. Aku tidak percaya tidak mampu menyelesaikannya .. "

"Tapi waktu kita terlalu sempit!" tukas Nathan setelah ragu-ragu sejenak.

"Aku tahu .. " Aku mendesah. "Karna itu kita harus berjuang mulai dari sekarang ... "


"Leader yakin?" Raymond yang menanyakan pertanyaan ini. Dia menatapku.

Aku membalasnya. "Yeah--"

"Tapi ada sebuah masalah lagi?!!" Tiba-tiba pintu di depan kami dibuka oleh Ken. Dia memang pamit untuk mengambil segelas air tadi. "Tidak sengaja kudengar pembicaraan orang-orang Bosco di pantry, mereka sedang mengajukan permohonan mencongkel orang-orang kita .. ," papar pemuda itu seraya melangkah lebar-lebar ke arah kami. Sepasang tangannya ditumpukan di atas meja tepat di hadapanku. "Kekurangan tenaga kerja salah satu aspeknya, sedangkan Proyek Sanna ini sudah sangat mendesak. Kudengar, Bosco mengajukan ... " Ken perlahan-lahan mengalihkan perhatian pada Raymond. " ... kau--Ray .. ," katanya, menunjuk pemuda itu.

"What?!!" Raymond terperanjat kaget. "Apa-apaan ini?! Kenapa mesti aku?" serunya.


"Tunggu sebentar--" Aku berusaha menenangkan. Kutekan dada Raymond yang terlihat emosi, untuk kemudian berbalik lagi pada Ken. "Apa sudah pasti?"

Ken mengangguk lambat-lambat. "Ya, .. tidak salah lagi. Aku mendengarnya sendiri .. "

"Omong kosong!! Aku tidak terima!!" tukas Raymond sambil menghempaskan diri di kursi. "Sekalipun Tuan Lau yang memintanya sendiri, aku tidak akan menerimanya! Lebih baik aku mengundurkan diri daripada harus bekerja pada orang seperti itu!"

"Jangan mengambil keputusan dulu!" Aku segera menegurnya. Tapi walaupun aku berlagak tenang, sebenarnya masalah ini semakin memberatkanku. Bila benar Raymond yang dipilih, maka aku akan kehilangan orang yang paling bisa diandalkan. "Kita tunggu saja bagaimana tanggapan Tuan Lau. Jika benar dia memutuskan kau yang mesti pindah, kita tidak bisa berbuat apa-apa .. "

"Leader akan meluluskannya?" tanya Nathan tak percaya. "Tapi selama ini Ray yang paling membantu. Kehilangannya bisa berakibat fatal buat tim ini ... "

"Ya, aku tahu .. ," kusandarkan punggung ke belakang, lalu memejamkan mata rapat-rapat. "Terlalu banyak masalah yang terjadi .. , untuk saat ini--aku tidak bisa memutuskan apa-apa .. Biarlah waktu yang menjawabnya ... "


***** oOo *****



Dan jawaban itu datang dua hari kemudian. Raymond benar-benar dikorek tim sebelah. Dia harus pindah dan membantu tim Bosco buat merampungkan Proyek Sanna sebelum desainer-desainer baru yang didatangkan dari Korea sampai.

Raymond semula menolak keras, tapi setelah kunasehati panjang lebar dan kuberi iming-iming bahwa setelah rampungnya proyek ini aku akan meminta pada Tuan Lau agar dia dikembalikan ke tim ku, barulah dia bersedia menerimanya.

Sepeninggal Raymond, pekerjaan tim kami semakin berat. Bukannya Nathan dan yang lain tidak bisa membantu tapi mereka memang tidak seteliti Raymond. Banyak hal-hal kecil yang sering luput dari pengamatan mereka. Alhasil, aku mesti mencek ulang setiap sketsa-sketsa mereka, takut ada yang terlewati.


Saat itu aku sedang berkutat dengan lembaran kertas sketsa. Untuk kesekian kalinya kugoreskan pencilku sambil mengelengkan kepala. Ada bagian yang tidak kumengerti. Mendadak ponsel di atas meja berdering nyaring ...

Aku menghembuskan nafas seraya meliriknya sekilas. Panggilan dari Angel. Ku-ulur tangan ke depan dan menekan tombol reject. Akhir-akhir ini Angel agak-agak menyebalkan--aku malas untuk meladeninya. Dia sering menghubungiku, dan membuat berbagai alasan agar kutemani. Seakan dia tidak tahu aku ini sedang sibuk sekali.

Sampai deringan keempat, aku me-rejectnya. Ponsel itu berdering lagi ...

"Ya, Angel!" sahutku tidak sabar dan agak kasar. Kudengarkan sesaat, sampai menit selanjutnya. "Whattt?!!!"



***** oOo *****



“Angel!!!”

Aku membuka pintu depan dengan hampir mendobraknya. Pintu terhempas, dan mengenai dinding di belakang sehingga menimbulkan bunyi keras, brakkkk!! Tapi aku tidak perduli. Hampir berlari, aku menuju ruang tengah dan mendapatkan Angel tengah duduk di sofa sambil mengurut-ngurut kakinya yang membengkak.

“Apa yang terjadi?” Tanpa memberi kesempatan padanya untuk bersuara, aku bertanya. Nafasku tersengal ketika sudah berada di depannya. “Bagaimana? Baik-baik saja?” tanyaku lebih lanjut, dengan nada yang tidak kuyakini dapat tertangkap olehnya.

“Aku .. ya .. … ,” jawab Angel sambil terisak perlahan.

Aku segera menjatuhkan diri di sebelahnya. “Sakit? Bagaimana kandunganmu?” Tanpa sadar, tanganku sudah mendarat di perutnya yang sudah agak membesar.

Tiba-tiba isakan Angel terhenti. Rautnya berubah. Semula—yang kuyakini tersirat semburat kebahagiaan melihat perhatianku, berubah kesal. Segera saja dia menepis tangan ku dari perutnya.

“Baik-baik saja!!” sahutnya ketus.

“Hey—what’s up?” Aku memicingkan mata, jadi tidak mengerti. Pekerjaanku sudah cukup berat, jadi please--jangan bersikap begini?!! Aku ingin meneriakan kata-kata ini, tapi yang keluar dari mulutku bahkan sebaliknya.“Apa yang terjadi padamu?”tanyaku khawatir.

“Selalu begini!” jerit Angel. Tiba-tiba dia berdiri dari sofa dan menangis kesenggukan. “Aku sudah berusaha .. hu .. hu .. tapi, … tapi percuma saja … Kau .. kau tetap tak perduli … hu .. hu .. “

“Siapa bilang?” Aku jadi garuk-garuk kepala sendiri. Perkataan-perkataannya barusan membuat ku semakin tidak mengerti. Mengapa pembawaan Angel jadi sensitive begini? Apa benar wanita hamil memang akan seperti ini? Namun, dia sudah berlebihan kan? Sejak kapan aku tidak memperhatikannya?

“Buktinya, .. kau .. kau lebih memperhatikan bayi dalam kandungan ku … “

“O—itu .. ,” Aku tertawa. Tampang Angel semakin gulana. Baiklah, aku rasa bukan saatnya aku tertawa. Langsung saja aku memasang tampang serius. “Tapi, ini wajar kan? Aku memperhatikan bayi dalam kandunganmu karna aku juga perduli padamu. .. Okay, anggaplah aku keceplosan tadi .. Aku tidak bermaksud begitu, sorry .. “

“Semua sudah terbukti, Lee Min Ho!!” sela Angel. Untuk kali ini, sepertinya tidak mudah membujuknya. Tekadnya terlihat bulat. Untuk apa, aku juga tidak tahu. Dia menghapus airmatanya dengan punggung tangan, kemudian berkata, “Kau tidak bisa mempungkirinya … ,” sementara isak tangis masih terus menyertainya.

“Apa maksudmu?”

“Sepulang dari Seoul, kau tidak pernah menyentuhku! Setelah mengetahui kehamilanku, terlebih lagi. Kau malah mengunakan alasan itu untuk menghindariku. Aku tahu, Tuan Lee! Kau masih tidak mampu melupakan wanita itu!!”

“Angel .. “ Aku mendesah. “Kenapa membawa-bawa Hyesun ke dalam masalah ini .. ,” sesal ku. Setelah itu, hening. Aku tidak mampu menjawabnya lagi. Entah karna melihat kemarahannya ataupun … semua yang dikatakannya ‘benar adanya’.

“Benar kan?” Angel tersenyum pahit. Perlahan dia menunduk dan mendudukan diri di sofa kembali. “Aku pikir .. ‘tidak apa-apa’. Aku bisa menerimanya. Aku bersedia menerimanya. Asal aku berusaha, aku yakin suatu saat nanti, ditambah bayi ini, … “ tangannya mengelus perutnya, “ … kau akan sadar, bahwa yang paling penting bagimu adalah kami .. Kau akan segera melupakan wanita itu .. tapi ternyata salah … SEMUA SALAH … Mungkin .. mungkin ini hukuman bagiku .. “

"Hukuman?" aku menyela tak mengerti. "Maksudmu?"

Angel terlihat mengigit bibir. "Ya, hukuman. Karna aku .. aku sudah membohongimu ... "

Perkataan ini lebih tidak kumengerti lagi. Sebenarnya kebohongan apa yang sudah dilakukannya?

"Aku berdusta .. ," lanjut Angel lirih. "Aku berdusta tentang bayi ini ... " Tangisannya mengeras lagi. "Aku berdusta dengan mengatakan bahwa ... bahwa kau ayah dari bayi ini ... "

"What?" Aku melebarkan mata. Kalau ditanya apakah aku kaget--Ya, memang. Hal ini tidak pernah terpikir olehku. Karna Angel tega menciptakan kebohongan sebesar ini? Mengapa? .. Tapi kalau dibilang apakah aku membencinya, atau menyalahkannya? Jujur--tidak. Kenapa? Aku juga tidak tahu. Hanya kelegaan yang kurasakan saat ini. "Benar yang kau katakan?" tanyaku kemudian.

Angel masih tersedu-sedu ketika mengangguk. "Yes--"

"Lalu kenapa kau membohongiku?" tanyaku ingin tahu.

"Kau tidak membenciku?" Angel malah balas bertanya.

Aku mengeleng perlahan. "Entah kenapa tapi, aku merasa ini pasti kesalahanku .. Kapan terjadinya?"

Angel tidak menjawab. Dia menghapus airmata dengan punggung tangan dan menunduk dalam-dalam.

"Siapa pria itu?" tanyaku lagi ketika dia masih saja membisu. "Apa aku mengenalnya?"

Angel mengangkat wajah. Bukannya menjawab pertanyaanku, dia segera membelokan pembicaraan ke arah lain. "Aku akan terbang ke New Zealand besok ... "

"New Zealand? Kenapa? Kau tak perlu pindah dari sini!"

Angel mengeleng. "Aku sudah tidak pantas tinggal di sini ... "

"Angel .. " Aku menyentuh lengannya. "Sorry .. "

"Kau tak perlu minta maaf .. ," ujar Angel. "Semua terjadi karna kekanak-kanakanku ... Aku tidak percaya padamu, malah membiarkan diri terjerumus dalam api cemburu yang menyesatkan. Seharusnya--akulah menanggung akibatnya .. " Dia tersenyum kecut.

"Namun, itupun tidak perlu sampai ke New Zealand kan? Terlalu jauh, Angel .. "

"Bibi dan paman ku berada di sana. Kau lupa?"

"O--" Aku membuka mulut.

"Yang kukatakan memang tak pernah kau anggap ya?" Angel berkata ngetir.

"Sorry--" Kembali aku menyatakan penyesalan yang mendalam.


Angel mengangkat bahu perlahan kemudian bangkit dari sofa. "Aku harus bersiap buat keberangkatan besok. Kuberanikan diri mempertaruhkan segalanya buat jawaban ini dan, .. kelihatannya aku kalah ... " Dia kembali tersenyum, dan kali ini terlihat ikhlas. "Ok--see you, Lee Min Ho--"

Aku memperhatikan punggungnya sampai hampir menghilang di balik pintu. "Angel!" panggilku tiba-tiba. "Kau--" Aku berhenti, tidak mampu melanjutkannya.

"Ya?" Angel menoleh padaku.

"Kau--tidak bermaksud ... " Kembali pertanyaanku tersangkut di tenggorokan.

Seperti bisa menebak arah pembicaraanku, Angel mengelengkan kepalanya. "Tidak! Jangan lupa aku seorang pengacara .. ," dia tersenyum. "Aku tidak akan melakukan sesuatu yang melanggar hukum .. "

"Oh--jadi?" Aku ingin lebih memastikan.

"Aku tidak akan mengugurkan kandungan ini. Jadi kau tidak perlu khawatir .. "

"Syukurlah .. " Aku mengangguk lega. "Satu hal lagi--" cegahku begitu melihatnya kembali memutar badan.

"Ya?"

Aku menelan ludah kemudian, "Siapa ayah dari bayi dalam kandunganmu?--" memberanikan diri bertanya.

Selama beberapa lama tidak terdengar jawaban dari mulut Angel. Posisinya kaku, tak bergerak sedikitpun seolah terkunci. Kami tenggelam dalam kebisuan sampai, ... Angel menghela nafas berat. Dia terlihat mengambil keputusan dari caranya mengepalkan tangan.

"Jangan bilang padanya ... " Akhirnya dia berkata dengan lirih. "Aku tidak ingin dia merasa 'harus' bertanggung-jawab buat kesalahan yang sebenarnya sama-sama tidak diinginkan ini ... "

"Ok ... " Aku menyetujuinya. Lalu kutunggu jawaban selanjutnya. Tapi Angel tidak segera menjawab. Jarum jam bergerak secara perlahan-lahan, berdetak-detak seakan menjadi saksi ketegangan kami.

"Raymond ... " Akhirnya nama itu meluncur jua.

"Ray .. mond?" Aku terbelalak lebar. Rasanya sulit dipercaya pendengaran ini. Benarkah Angel barusan mengatakan 'Raymond'?

"I'm sorry ... " Angel menunduk dan kudengar isak tangis kembali terdengar dari mulutnya. "Kami sama-sama tidak sadar waktu itu ... Aku mabuk berat, dan--"

"Kejadian malam itu?" potongku cepat. "Waktu aku meminta Ray untuk mencarimu?"

Angel mengangguk.

"Oh--" Aku segera memejamkan mata sambil menekan jidat. Seharusnya--siapa yang mesti disalahkan buat masalah ini? Angel? Raymond? Atau--aku? Atau takdir yang telah mempermainkan kami? Sungguh--aku tidak bisa menjawabnya .. "Sorry--seharusnya aku yang mengatakan ini .. "

"Tidak!" Angel mengeleng. "Semua karna takdir ... ," desahnya lemah. Dia membuka pintu kamar lalu masuk ke dalam.


***** oOo *****



Grrrggg Grrrggg Grrrggg, kupandangi mesin pembuat kopi beroperasi. Kopi pekat yang mengalir keluar memenuhi cangkir warna merah di bawahnya. Pandanganku hampa tertuju ke cangkir tersebut. Pikiranku melayang. Tanpa terasa, kuremas kertas kecil dalam genggamanku.

Angel telah pergi, dan dia tidak memberi kesempatan padaku untuk menghantarnya. Pagi-pagi sekali kutemukan kamarnya sudah kosong. Hanya meninggalkan secarik kertas bertuliskan alamatnya di New Zealand dan, .. kata perpisahan berupa 'Terimakasih atas perhatianmu selama ini--Aku tidak akan melupakannya .. '

"Good morning, leader. Kopinya sudah penuh tuh!"

Sapaan yang lumayan keras itu menyadarkanku dari lamunan.

"Oh--" Aku menoleh. "Good morning .. ," balasku pada Raymond yang sudah berdiri di sampingku.

Raymond tersenyum. Setelah menepuk pelan lenganku, dia mengambil sebuah cangkir dari rak dan mulai membuat kopi. Aku memandanginya sejenak sambil mengambil cangkir kopiku dan menyeruputnya.

"Bagaimana rancangannya?" tanya Raymond sambil lalu.

"Baik .. ," jawabku pendek, sementara pikiranku masih berkecamuk dengan peristiwa kemarin.

"O--ya, benar .. " Raymond tertawa. "Seharusnya aku tidak bertanya ya? Aku sudah merupakan bagian dari tim sebelah .. ," lanjutnya pahit.

"Bukan begitu maksudku .. ," tukasku cepat.

Raymond kembali menepuk lenganku. "Aku mengerti kok .. " Setelahnya, dia mengambil cangkirnya yang sudah terisi penuh dan berjalan ke pintu. "See you, leader .. "

"Ray!!" Panggilku tiba-tiba, menghentikan langkahnya yang sudah berada di luar pantry.

Raymond menoleh. "Yes?"

"Bagaimana perasaanmu pada Angel?" Sudah kuputuskan untuk menyakinkan semuanya, perasaan Raymond yang sebenarnya. Jika memang, dia menyimpan perasaan pada Angel, maka--inilah yang terbaik.

"What?!!" Raymond terbelalak. "Why are you asking like this?" tanyanya heran, bahkan terlihat khawatir.

"Aku sudah mengetahui segalanya--" jawabku sambil mendekatinya. "Kejadian malam itu--antara kau dan Angel .. "

"Oh--" Mulut Raymond terbuka perlahan-lahan. "I'm sorry ... ," ucapnya lirih. "I'm really sorry, leader ... "


"Tidak!" Aku mengeleng. Kepahitan yang kurasakan saat ini, mungkin lebih besar dari yang dirasakannya. "Seharusnya aku yang minta maaf .. "

"Tidak! Aku--"

Raymond berusaha membantah, tapi segera kupotong. "Sudahlah! Semua sudah berlalu. Tidak ada gunanya kita saling menyesali. Jika ingin disalahkan, kita semua punya salah, jadi untuk apa terus berlarut-larut dalam masalah ini?" Aku terdiam buat mengambil nafas, kemudian melanjutkan, "Tahukah kau?"

"Apa?" Raymond mengangkat wajahnya yang tertunduk.

"Angel sudah mengambil keputusan. Dia pergi pagi ini--meninggalkan Hongkong .. "

"WHAT?!!" seru Raymond kaget. "Kenapa begini? Bagaimana dengan kandungannya?"

"Karna dia tidak ingin hidup dalam kebohongan .. "

"Kebohongan apa?" tanya Raymond tidak mengerti.

Aku tidak mampu untuk segera menjawab. Larangan Angel kembali tergiang dalam pendengaranku. Haruskah kulanggar janji itu? Sementara aku tahu itu bukan jalan terbaik?

"Leader ... "

Teguran dari Raymond menyadarkanku. Aku berdeham pelan, kemudian melanjutkan, "Angel tidak ingin aku mengatakannya tapi, .. kurasa kau patut mengetahuinya .. "

"Apa itu?"

Aku tidak langsung menjawab. Setelah memastikan bahwa Raymond sungguh-sungguh ingin mengetahuinya, dan melihat kecemasan dalam matanya, membuat aku yakin bahwa apa yang akan kuutarakan ini tidak salah.

"Bayi dalam kandungan Angel adalah .. bayimu ... "

"WHATTT?!!!"

Kurasa keterkejutan ini sudah membuktikan segalanya. Dan aku puas. Semua pertanyaan sudah terjawab kini. Segera kutepuk lengannya seraya menyodorkan kertas yang masih kugenggam erat.

"Ini alamatnya di New Zealand. Dia akan tinggal di sana bersama paman dan bibinya. Kapan kembali, saya tidak tahu. Dan semua keputusan kuserahkan padamu. Apakah kau akan menyusulnya atau tidak .. "

Kutepuk-tepuk tangannya, untuk kemudian berjalan menjauhi pantry.

"Leader ... "

Desahan Raymond menghentikan langkahku.

"Bagaimana denganmu?" lanjut mantan bawahan yang sudah kuanggap saudara itu.

"Kami tidak apa .. ," sahutku sambil tesenyum. "Dan kurasa .. kepergianmu juga tidak berpengaruh lagi bagi kami .. ," lanjutku, berusaha mengodanya. "Jangan lupa, kau sudah bukan bagian dari kami ... "

Raymond ikut tertawa. Kurasa ketengangannya sudah berangsur-angsur hilang. Dia mengangkat cangkirnya ke atas, "Thanks .. ," ucapnya bersungguh-sungguh.


Aku ikut mengangkat cangkir kopiku. "Sama-sama .. "


***** oOo *****



Dua hari kemudian, ... Raymond sudah sampai di New Zealand, dan dia mengabariku bahwa sudah mencari dan bertemu dengan Angel. Walaupun wanita itu belum menerimanya, dia berkata--tidak akan menyerah. Dia akan membuat Angel bertekuk lutut dan percaya bahwa dialah pria yang paling cocok baginya. Mendengar itu, sungguh--aku berbahagia untuk mereka. Aku mengenal Raymond dengan baik, dan ku percaya dia akan memberi kebahagiaan yang selama ini diinginkan Angel.

Aku menarik selembar sketsa ketika ruang kantorku diketuk dari luar.

"Masuk!" Perintahku tanpa beralih dari sketsa yang sedang kugeluti.

Kudengar suara pintu dibuka, dan langkah halus mendekatiku.

"Leader, data-data dari arsitek-arsitek junior yang didatangkan dari Korea ... " Ken berkata.

"Taruh saja di situ!" tunjuk ku di meja, sambil meraih lembaran sketsa lain dan mengamatinya.


"Mereka sudah sampai .. ," lanjut Ken, yang membuatku menurunkan sketsa di tanganku dengan kesal, dan memandanginya lekat.

"Baik. Sekarang keluarlah ... ," usirku tak sabar.

"Tim Bosco sudah memilih seorang di antaranya .. ," ucap Ken keras kepala.

"Persetan dengan mereka .. ," tukasku ketus. "Siapapun yang diberikan pada kita, tidak ngaruh .. " Aku menyambar sketsa lain dan membandingkannya dengan sketsa tadi.

"Tapi sisanya ... "

Ken kembali berucap tapi segera kuputus.

"Bisakah kau meninggalkanku sendiri?"

"Leader, .. tapi orang itu ... " Ken terlihat ingin melanjutkan, namun segera membungkam begitu melihat tampang ku mengeras. Perlahan dia menghela nafas.

"Keluarlah ... " Kugerakan tangan mengusirnya. Kali ini lebih halus. "Aku tidak ingin diganggu ... " Kemudian aku kembali tenggelam dalam kesibukanku, tanpa menghiraukannya lagi.

Beberapa menit kemudian terdengar pintu dibuka, tapi aku tidak berpaling. Dia pasti Ken yang kembali karna tidak puas telah diusir olehku.

"Aku tidak membutuhkanmu, Ken!" kataku seraya mengeser lembaran-lembaran sketsa di depan.

Tapi bukan suara Ken yang kudengar.

"Lupakan idemu tentang perlindungan alam dan penghematan energi itu! Membuang-buang waktu percuma saja!"

Deg, tanganku yang terulur mengambil pensil terhenti. Kenapa suara itu begitu kukenal? Dengan gerakan lambat aku mengangkat kepala.

"Hyesun .... ," desisku pelan, hampir tak terdengar.

Gadis itu, benar Hyesun adanya. Dia terlihat menatapku heran.


"Weeyo? Kau belum tahu?" tanyanya. Lalu pandangannya tertumpu ke dokumen yang tadi diletakan Ken. "O--jadi kau belum melihatnya? Pantas ... ," sambungnya sambil mengangguk-anggukan kepala.

Aku ikut melirik dokumen mengenai data-data para pekerja baru. Perlahan kubuka map tersebut, dan--aku melihat data mengenai Hyesun di situ.

"Oh--" Aku menghela nafas. Pekerjaan yang menumpuk membuatku tidak bersemangat terhadap hal lain. Apalagi mengecek data pegawai baru yang menurutku tidak akan memberi bantuan apa-apa.

"Kenapa bisa ... ?" lanjutku sambil menatapnya.

Hyesun tidak menjawab. Dia malah tersenyum mengoda. Senyuman nakal dan mengemaskan yang sudah lama tidak kulihat dan--sangat kurindukan.


"Seperti janjiku padamu--" ucap Hyesun. "Kita pasti akan bertemu lagi ... " Dia mengulurkan tangan dan bergaya mengenalkan diri dengan semangat. "Anyongheseyo, Lee Min Ho-ssi ... Goo Hye Sun immida ... "

Aku tidak mampu bersuara, atau bereaksi apa-apa. Kejadian ini sangat mengejutkan. Kutatap tangannya yang terulur, lalu--secara perlahan-lahan berpindah ke wajahnya. Wajah yang berseri-seri. Dia terlihat lebih cantik dari Hyesun yang kukenal lebih dari tiga bulan yang lalu.


***** oOo *****
« Last Edit: April 04, 2011, 07:39:50 am by mrs. Lee Min Ho »

EVIL SMILE ^^

'LOVE' ... keeps it strong!!!

Our MinSun