Author Topic: Angel By My Side~Chapter 22 Updated 9 January 2011~  (Read 50071 times)

Offline karin.lullaby

  • Senior
  • ****
  • Posts: 557
  • Always you in my eyes, in my life, in my breath...
    • View Profile
CHAPTER 5

ADDITIONAL CAST FOR THIS CHAPTER :

HAN HYO JOO-GOO HYE SUN'S FRIEND AND MANAGER

Di dalam pesawat, Hye Sun kembali menghela napasnya. Ia takut ia keterlaluan dalam sikapnya di telepon tadi. Dengan sikap acuh tak acuh, ia mengembalikan sebuah majalah yang baru saja ia baca, atau sebenarnya yang baru saja ia bolak balik. Pria asing di sampingnya tersenyum ketika melihat hal yang baru dilakukan Hye Sun, dan ini untuk yang kesekian kalinya.

Hye Sun membalas senyum pria asing itu. Ia bule. Dan tak ada kesempatan untuk seorang bule mengenal Hye Sun lebih dalam lagi. Akhirnya, Hye Sun membenarkan posisi duduknya dan tertidur di pesawat itu.

Ms.”panggil seseorang sambil mengguncang-guncangkan tubuh Hye Sun. “Ms. ? Can you hear me? We arrive in New York.

“Hah?”jawab Hye Sun sambil mengusap-ngusap matanya beberapa kali. Ini pria asing itu. “Oh, ok, thank you.

Hye Sun segera mengambil tasnya di atas dan turun dari pesawat itu. Ia tak perlu lagi mengurus imigrasi, ia adalah warga negara Amerika, dan itu membuatnya sangat beruntung. 15 menit lamanya ia menunggu bagasinya tiba. Ketika melihat koper hitam yang kelihatan sekali punyanya ia segera mengambilnya.

Setelah ini ke mana? batin Hye Sun dalam hati. Ini sama sekali tak mudah baginya. Amerika memang tak asing lagi. Tapi ia tahu kunjungannya kali ini sama sekali berbeda dengan kunjungan sebelumnya.

Entah kenapa sekarang ia ingin sekali buang air kecil. Ini sungguh membuatnya kesal. Siapa nanti yang akan menjaga kopernya? Akhirnya, ia berhasil membujuk seorang ibu muda berparas asing yang sedang bersama anaknya untuk menjaga kopernya. Tanpa ingin merepotkan bule itu, ia segera berlari ke toilet terdekat dengan wayfarer yang masih menempel di wajahnya dan pakaian serta syal serba hitam.

Ia masuk ke toilet itu. Setelah selesai dengan urusannya, ia segera menuju cermin untuk mengecek penampilannya, dan memoleskan lip gloss berkali-kali di bibirnya yang mungil. Dilihatnya ke samping, seorang perempuan berambut pendek, coklat kemerah-merahan, tebal dengan earphone yang tergantung di lehernya juga kelihatan sedang berurusan dengan make up-nya.



Perempuan itu tiba-tiba saja melirik Hye Sun, atau mungkin ke lip gloss yang dipakainya. Tapi, ketika bunyi ponsel terdengar, jemari-jemari perempuan itu segera mengambil Blackberry yang terletak di atas wastafel terang-terangan.

“Yobseoyo?”kata perempuan itu. Hye Sun agak terkesiap ketika perempuan itu berbicara menggunakan bahasa Korea. Padahal, penampilan perempuan itu tak begitu tampak seperti orang Korea, apalagi rambutnya.

“Sudah. Aku sudah sampai di sini. Tadi pesawatku baru saja mendarat dan sebentar lagi aku akan ke rumah bibi. Iya. Aku akan segera makan, ibuku sayang. Ya. Da.”jawab perempuan itu dengan bahasa Korea dan ia segera menutup ponselnya.

“Lip gloss-mu merk apa?”tanya perempuan itu tanpa berhenti dari kegiatan ber-make up-nya.

“Uh-huh?”jawab Hye Sun keheranan. Ia terkejut perempuan ini mengajaknya bicara dengan menggunakan bahasa Korea.

“Maksudku, lip gloss-mu keren.”tanya perempuan sekali lagi pada Hye Sun ini, ia bahkan sama sekali tak menatap Hye Sun.

“Oh. Merk-nya Mary Kate-Ashley.”Hye Sun ketika ia tidak lagi terkejut.

 “Hmm-hmm. Mary Kate dan Ashley Olsen itu ya?”tanya perempuan itu lagi.

“Dari mana kau tahu aku orang Korea?”tanya Hye Sun pada perempuan itu,  ia penasaran bagaimana dengan percaya dirinya perempuan ini mengajak Hye Sun berbicara dalam bahasa Korea.

 “Kalau tidak salah tadi kau kelihatan mengerti percakapanku tadi di telepon.”jawab perempuan itu lagi.

Hye Sun tersenyum pada perempuan berambut merah ini.

“Kau tak mau memperkenalkan diri?”tanya perempuan ini lagi.

“Goo Hye Sun.”kata Hye Sun sambil mengulurkan tangan.

“Han Hyo Joo.”kata perempuan itu, ia berhenti dari kegiatan make up-nya sebentar, kemudian membalas uluran tangan itu.

“Oh, maaf sekali. Aku masih harus mencari tempat tinggal di sini.”kata Hye Sun sambil menatap jam tangannya itu dengan cemas dan perasaan bersalah. “Aku harus pergi dulu. Senang sekali bertemu dengan Anda.”

Perempuan berambut merah itu tersenyum padanya. “Tidak apa-apa. Semoga kau bisa menemukan tempat tinggal yang cocok. Senang juga bertemu dengan Anda.”

Setelah itu, Hye Sun tersenyum sekali lagi dan melepaskan wayfarer hitamnya, memperlihatkan bagian wajah yang sedari tadi ia tutupi oleh kacamata itu. Ia mengecek penampilannya sekali lagi dan memakai wayfarer kembali.

“Aku pergi dulu, Hyo Joo-ssi.”kata Hye Sun sekali lagi. Ia kemudian meninggalkan toilet dan perempuan berambut merah itu.

***

Han Hyo Joo.

Tiba-tiba saja ia merasa kalau ia sedang berpikir sangat lambat hari ini.

Goo Hye Sun? Sebentar, itu bukankah nama pewaris Seoul Sun? Dan yang tadi itu, ketika ia membuka kacamata, wajahnya sangat mirip dengan model internasional Korea itu yang baru saja diberitakan meninggalkan Korea.

“Goo Hye Sun-ssi?”gumam Hyo Joo, suaranya nyaris tak dapat didengar oleh dirinya sendiri. Bukankah dia yang tunangannya baru saja meninggal? Jang Geun Seuk itu? Dan bukankah dia yang baru-baru ini juga diberitakan akan menikah dengan pewaris tunggal Lee Corporation? Lee Min Ho itu?

Akhir-akhir ini, banyak sekali berita tentang Goo Hye Sun. Hampir setiap hari nama pewaris Seoul Sun itu disebut di koran berita Korea, berita televisi, dan infotaiment.

Bahkan majalah yang ia lihat di pesawat tadi hampir semuanya membahasnya. Dan majalah yang tadi ia beli… Majalah itu, juga memberitakannya!

Cepat-cepat ia mengeluarkan majalah Korea itu dari tote bag nya. Di satu halaman, tertera tulisan besar-besar dan di-bold.

Goo Hye Sun Pelarian ke Italia?!?

“Goo Hye Sun yang itu?!”seru Hyo Joo. Buru-buru ia membereskan peralatan make up-nya dan berlari ke arah perempuan bernama Goo Hye Sun itu dengan koper super besar warna merahnya. Goo Hye Sun sudah tak kelihatan lagi batang hidungnya, namun, pandangan Hyo Joo terhenti pada seorang perempuan berpakaian serba hitam yang sedang berbincang-bincang dengan seorang perempuan asing yang menggendong anaknya.

“GOO HYE SUN-ssi!!!”teriak Hyo Joo. Perempuan bernama Goo Hye Sun itu segera berbalik ketika mendengar namanya dipanggil.

“Ya! Goo Hye Sun-ssi.”teriak Hyo Joo sambil segera meraih bahu Goo Hye Sun, dia kelihatan sangat heran, tapi ekspresinya tak terbaca karena ia memakai kacamata hitam super besar yang menutupi wajahnya yang mungil.

Sorry?”tanya Goo Hye Sun dengan polosnya dalam bahasa Inggris, padahal Hyo Joo tahu persis tadi perempuan ini bisa berbahasa Korea, tetapi kenapa ia berpura-pura tak mengerti bahasa itu.

“Anda bilang Anda butuh tempat tinggal, kan?”tanya Hyo Joo, tanpa menggubris perkataan Hye Sun sebelumnya, ia cuek saja menggunakan bahasa Korea. “Aku bisa memberikan tempat tinggal sementara. Untuk biayanya, kita bisa bicarakan nanti.”

Seheran apa pun Hye Sun, nampaknya bule yang sedang berbincang-bincang dengannya lebih heran lagi, ia baru saja mendengar bahasa yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

What? I didn’t catch what you said.”Hye Sun masih kelihatan tidak mengerti, kali ini dengan ekspresi yang menggemaskan, memelas, sekaligus menyebalkan di saat yang sama. Hyo Joo menggerutu dalam hati, “Perempuan ini pura-pura tidak mengerti atau memang tidak mengerti?”

“Begini, aku akan memberikanmu tempat tinggal untuk sementara.”kata Hyo Joo, ia sudah tak sabar melihat Hye Sun yang semakin lama semakin bertingkah seperti orang bodoh. Hey, Nona, bisa bahasa Korea tidak sih? Kenapa malah bicara dengan bahasa Inggris?

Sorry, I must go.”Perempuan asing itu tiba-tiba menginterupsi pembicaraan mereka.

“Ah? That’s ok.”Hye Sun mengangguk beberapa kali ketika bule itu berlalu dan meninggalkan mereka berdua.  Hyo Joo memperhatikan kepergian perempuan asing bersama dengan anaknya itu.

Hye Sun menghela napas. “Hyo Joo-ssi...
***
   
Hye Sun tak tahu apa yang dipikirkan perempuan bernama Han Hyo Joo ini. Demi Tuhan! Perempuan ini meneriakkan namaku berkali-kali di tempat umum, di depan publik! Ia menghelas napas dalam-dalam.
   
“Sungguh. Aku senang sekali atas tawaran yang kau berikan.”Hye Sun berkata penuh kelemah lembutan. Tapi, demi Tuhan, Nona! Aku sedang merencanakan comeback-ku di caltwalk. Dan kau membuat semua orang dapat tau tentang ini.

Jujur, Hye Sun tak suka publikasi. Sejak masih kecil sekali ia melakukan kegiatan modeling, tapi, ia melakukan itu hanya karena ia menyukainya, ia hanya ingin melakukan hal yang dia cintai, dan ia tak pernah melupakan tanggung jawab sebagai pelajar.

“Jadi, kau terima tawaranku?”tanya Hyo Joo.

“Aku bertaruh kau sudah tahu siapa aku.”kata Hye Sun, ia menghela napas beberapa kali lagi. “Tapi, sungguh, Anda tak perlu meneriakkan namaku di depan umum.”

“Baiklah. Jadi aku panggil kau siapa?”tanya perempuan berambut merah itu lagi.

Hye Sun tak menggubris perempuan ini, tapi bagaimana pun juga ia masih harus menghargai niat baik Hyo Joo dalam membantunya mencari tempat tinggal. “Hyo Joo-ssi, jadi kau bisa menyediakan tempat tinggal bagiku?”

Hye Sun sadar ia agak mendesak perempuan ini. Tapi, ekspresi perempuan ini berubah menjadi agak serius. “Tentu. Rumah bibiku cukup besar.”

“Lagipula, ia sepertinya adalah penggemarmu. Kau tahu kau keren ketika berjalan di atas catwalk?”Hyo Joo-ssi malah kelihatan seperti bercanda sekarang.

Hye Sun tersenyum, ia sudah kembali seperti biasa.

“Kau selalu saja tersenyum. Padahal di atas catwalk, kau kelihatan sombong, lho.”kata Hyo Joo-ssi. Hye Sun baru memperhatikan koper merah besar Hyo Joo yang sangat menarik perhatian, Hye Sun kemudian mendongak ke arah perempuan itu.

“Aku memang harus begitu di atas catwalk.”kata Hye Sun sambil tersenyum manis.

“Oh…”jawab Hyo Joo acuh tak acuh padahal ia yang memulai candaan yang kedengaran tak lucu itu. “Sudah. Kita panggil taksi. Tapi, kita bayar berdua, ya?”

Hye Sun tertawa ketika mendengar perkataan perempuan itu. “Ya. Tentu.”
***
   Rumah bibi Hyo Joo memang cukup besar, bergaya Eropa, dan terletak di perumahan elit.

“Bibiku menikahi bule kaya.”bisik Hyo Joo pada Hye Sun. Hye Sun mengangguk-ngangguk. Rumah ini memang tak lebih bagus dan besar dari rumahnya, tapi paling tidak rumah ini terasa nyaman, padahal ia baru berada di luarnya saja.

“Sepertinya hanya Bibi Jae Min yang bernasib baik dari keluarga ibuku. Tinggal di Amerika dan tanpa sengaja bertemu dengan seorang bule yang cukup kaya.”kata Hyo Joo. Dahi Hye Sun berkerut ketika mendengar ucapan itu.

“Ayahku itu tukang judi dan mabuk-mabukkan. Kau tak mungkin, kan, mengkategorikan ibuku sebagai orang bernasib baik jika mendapat suami seperti itu?”tanya Hyo Joo pada Hye Sun. Hye Sun mengaku heran dengan perempuan ini. Kenapa perempuan ini dengan enaknya saja menceritakan hal-hal pribadi pada orang yang baru dikenal?

Hyo Joo kemudian menekan bel beberapa kali, setelah puas mengamati rumah besar dan mewah itu.

“Oh, ya. Bibiku tak punya anak.”kata Hyo Joo. Astaga, apakah itu termasuk hal penting untuk diberitahu? “Tolong jangan menyinggung-nyinggung soal anak di hadapannya. Ia sensitif jika sedang bicara soal anak.”

“Kau tahu, kan, orang bule tak suka jika punya anak?”kata Hyo Joo. Jujur, itu juga lebih tak penting lagi. Kemudian, seorang perempuan paruh baya disusul oleh seorang perempuan yang masih kelihatan muda keluar dari rumah itu. “Hyo Joo!!!”teriak perempuan yang lebih muda itu.

“Bibi!!!”teriak Hyo Joo sambil meloncat-loncat.

“Hyo Joo! Sudah lama sekali Bibi tak melihatmu.”seru perempuan muda itu lagi.

“Dia bibiku.”bisik Hyo Joo dalam satu bisikan singkat. Namun, ia segera mengalihkan lagi pandangannya pada Bibi Jae Min.

Bibi Jae Min kelihatan senang sekali. Tapi, wajahnya penuh dengan tanda tanya ketika perempuan itu menyadari keberadaan Hye Sun di samping Hyo Joo. Ketika gerbang dibuka, Bibi Jae Min segera bertanya pada Hyo Joo. “Hyo Joo, ibumu sepertinya tak bilang kau ingin membawa teman dari Korea. Siapa dia?”

“Ini temanku. Dia boleh tinggal di sini, kan, Bibi?”tanya Hyo Joo dengan nada manja. Bibi Jae Min lalu tersenyum lagi melihat Hye Sun yang sedang memakai wayfarer-nya. “Hai, Nona cantik, namamu siapa?”

“Namaku—”Hye Sun agak ragu. Namun, Hyo Joo menjawab dengan penuh kepastian. “Sudahlah. Tak perlu malu. Dia ini Goo Hye Sun, Bibi. Model yang kau bilang cantik itu!”

Setelah itu, Bibi Jae Min tersenyum lebar, tak tahu apa yang lebih bagus lagi dari menerima perempuan ini tinggal bersamanya.
***
   Seoul, 25 Februari 2006, 1.18 pm

   Hye Jung Noona tiba-tiba menerobos masuk ke ruang kerja Min Ho.
   
“Min Ho, kau dapat kabar dari Hye Sun?”tanya Hye Jung Noona. Ia mengambil kursi yang bersebrangan dengan Min Ho yang masih agak terkejut dengan pekerjaannya.
   
“Seminggu lalu, dia menelponku.”jawab Min Ho sambil berhenti dari semua kegiatannya.

“Lalu? Dia bilang apa?”tanya Hye Jung Noona.

“Dia bilang dia sedang ingin check in untuk pergi ke New York.”kata Min Ho dengan senyum yang agak dipaksakan.

Hye Jung Noona lalu merogoh tasnya, kelihatannya ada sesuatu yang ingin dia tunjukan ke Min Ho. Maka, Min Ho terus memperhatikan gerak-gerik Hye Jung Noona,

“Suamiku mendapat tugas ke New York, lalu ia sedang berada di sini.”kata Hye Jung Noona, itu tak penting, tapi kenapa Hye Jung Noona mengatakan itu? “Dan ia merasa sangat terkejut ketika melihat sebuah majalah Amerika tentang Hye Sun. Well, dia memang belum tahu comeback  Hye Sun, tapi, lihat ini, majalah yang sempat dibeli suamiku.”

Min Ho menyipitkan matanya melihat tulisan bahasa Inggris itu. Dicetak tebal dan besar-besar sehingga tak mungkin ada yang tidak melihatnya, karena tulisan itulah yang paling menarik untuk dibaca.

Ku-Hye Sun Go Back To America After Her Fiancé Death and Her Long Vacuum?

Min Ho membaca artikel itu baik-baik. Isinya sebenarnya hanya ingin memberitahukan kalau Hye Sun kembali ke Amerika. Foto-fotonya ketika di bandara bertebaran di mana-mana di majalah itu.

“Dia kurang hati-hati. Dan kupikir, ia sudah kecolongan.”kata Hye Jung Noona datar. Min Ho hanya terdiam, tak bisa berkomentar.

“Dongsaeng, aku tahu sebagian dari hatimu sekarang ini sedang memberontak dari sikapmu yang terlalu percaya kalau Hye Sun akan kembali. Tapi, percayalah, dia adalah tipe yang selalu menepati janjinya, ia akan kembali.”jelas Hye Jung Noona panjang lebar.

Min Ho memegang keningnya sendiri, ia memang sering menghadapi dilema, sebagian dari hatinya meragukan kalau dirinya bisa menunggu Hye Sun terus menerus, tapi sebagian lagi mengatakan kalau ia tak bisa berhenti mencintai perempuan itu. Lalu bagaimana?
***
   New York, USA

   “Jadi, Anda akan kembali ke dunia modeling?”tanya Mr. Robinson dalam bahasa Inggris pada Hye Sun yang sekarang didampingi Han Hyo Joo, manajernya.
   
“Mr. Robinson, Anda tidak keberatan, kan?”tanya Hye Sun pada Mr. Robinson, Direktur Utama Looks Management.
   
“Tentu tidak!”seru Mr. Robinson cepat-cepat, ia mengibaskan tangannya dan tersenyum puas. “Anda pasti akan laris. Saya jamin itu. Setahun yang lalu, banyak disainer kelas dunia yang ingin memakai Anda sebagai model, tapi sayangnya Anda sudah keburu vacuum. Saya yakin comeback Anda akan membuahkan hasil yang baik.”
   
Hye Sun tersenyum, Hyo Joo juga ikut tersenyum. Kenyataan bahwa Hyo Joo dapat berbahasa Inggris dan Korea menjadi keberuntungan baginya. Di satu sisi, Hyo Joo akan jadi tempat curhat yang baik dan di sisi lain, ia juga pasti mengerti akan apa yang berhubungan dengan karir Hye Sun.
   
“Anda mau tanda tangan kontrak sekarang juga?”tawar Mr. Robinson. “Saya sama sekali tidak keberatan jika Anda mau melakukannya sekarang.”
   
Mr. Robinson sekarang menyodorkan selembar kertas putih yang berisi tulisan dalam bahasa Inggris. Hyo Joo membacanya terlebih dahulu, kemudian ia menyerahkan kertas itu pada Hye Sun beserta bolpoin hitam.
   
Hye Sun membacanya sekilas, ia sudah cukup percaya dengan manajer barunya ini. Kemudian, ia menandatangani surat kontrak itu pada saat itu juga.
***
   “Jadi, kau hanya diberi waktu satu tahun di sini, Hye Sun-a?”tanya Hyo Joo sungguh terkejut ketika Hye Sun memberitahu semua yang telah terjadi setelah kematian tunangannya.
   
Hye Sun mengangguk halus. “Aku harus kembali ke Seoul lagi tahun depan.”
   
Tiba-tiba saja raut wajah Hyo Joo berubah drastis. Wajahnya yang putih kemerahan menjadi pucat pasi.
   
“Hyo Joo-ssi? Ada yang salah?”tanya Hye Sun, ia mengamati perubahan raut wajah Hyo Joo yang sangat mencolok.
   
“Aisshhh—Kenapa kau tidak beritahu aku dulu soal itu?”Sekarang nada bicara Hyo Joo malah terdengar sedikit marah dan kesal.
   
“Memang kenapa?”tanya Hye Sun hati-hati.
   
Hyo Joo menghela napas. Ia tak tahu ada yang harus ia katakan sekarang pada Hye Sun, orang yang telah memberikannya pekerjaan saat ia baru dipecat dari pekerjaannya di Seoul, orang yang telah memberikannya upah $20.000 per bulan.
   
Hyo Joo sekarang memanyunkan bibirnya sambil tersenyum pahit, ia mengurungkan niatnya untuk memberitahu kejadian yang sebenarnya, lagipula ia belum tahu pasti, mungkin saja ia tadi salah mengingat.
   
“Nanti setelah kau kembali ke Seoul dan tidak menjadi artis lagi, berarti aku dipecat dari posisiku sebagai manajermu, kan? Kapan lagi aku bisa mendapat gaji sebesar $20.000 per bulan kalau bukan dari dirimu?”tanya Hyo Joo bertubi-tubi, ia mencoba tersenyum dan berusaha santai.
   
Untungnya usahanya yang sekarang berhasil. Hye Sun tertawa mendengar perkataannya. “Kau jangan takut. Jika Anda bekerja dengan baik, aku akan membawamu pulang ke Seoul dan memberikanmu posisi di Seoul Sun.”
   
 “Wah, Anda baik sekali, Bu Direktur.”kata Hyo Joo sambil tertawa, sejenak ia melupakan hal itu. Hal yang membuatnya ingin mengutuk dirinya sendiri.
***
   Malam-malam sekali, hampir tengah malam, Hyo Joo menyelinap ke kamar Hye Sun dengan sembunyi-sembunyi. Ia mencari-cari sesuatu di dalam tote bag yang tadi dipakai Hye Sun saat mereka pergi menemui Mr. Robinson.
   
“Dapat!”bisik Hyo Joo pada dirinya sendiri. Setelah mendapatkan apa yang dia cari, ia kembali ke kamarnya sendiri dan menjatuhkan dirinya di ranjang.
   
Miane, Hye Sun-ssi.”gumam Hyo Joo pada dirinya sendiri, ia membuka amplop coklat yang ia dapatkan dari tas Hye Sun tadi.
   
Ia membaca judul surat itu.

Surat Kontrak Antara Hye Sun-Ku dengan Looks Management
   
Maka, selama 4 tahun ke depan, Hye Sun-Ku terikat kontrak kerjasama dengan Looks Management.
   
Deretan kata-kata itu sempat membuat Hyo Joo terguncang. Ia merasa ia tak bisa bernapas. Jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik. Ternyata benar…
   
Dan jika kurang dari 4 tahun Hye Sun-Ku memutuskan kerjasama antara dirinya dan Looks Management, maka Hye Sun-Ku bertanggung jawab untuk membayar denda sebesar $2.000.000.

OH MY GOD!!!
, batin Hyo Joo.
   
Hyo Joo menjatuhkan surat kontrak itu dengan putus asa sambil menghela napas dalam-dalam.
   
“Hye Sun-ssi tak boleh melihat surat kontrak ini. Dia mungkin bisa marah besar.”gumam Hyo Joo. Ia bertekad untuk membakar surat kontrak itu, tapi resikonya terlalu besar, ia tak mungkin membakar sesuatu malam-malam begini. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyimpannya di kotak tempat ia biasanya menyimpan barang-barang berharganya.
   
“Kau aman di sini. Jeongmalmianatta, Hye Sun-ssi.”gumam Hyo Joo lagi. Kemudian, ia kembali ke ranjangnya, membalut dirinya rapat-rapat dengan selimut dan tidak membiarkan wajahnya kelihatan sama sekali.
***
   Seoul, 1 Maret 2006, 11.35 pm

   Min Ho tahu ini sudah larut malam sekali. Tapi, baru beberapa menit yang lalu pekerjaannya selesai dan itu membuatnya hampir melompat kegirangan.
   
Ia merasakan sesuatu yang menggelitiknya. Ia mulai merindukan Hye Sun. Ia sering sekali merasakan ini saat ia di London, jadi seharusnya ia memang sudah harus terbiasa.
   
Kemudian, ia membuka Internet Explorer-nya. Dan kemudian mengetik website terkemuka di USA, yang memuat berita-berita terbaru dari selebritis Hollywood.
   
Dan kemudian, tak perlu mencari-cari lagi, berita tentang Hye Sun ada di urutan paling atas. Min Ho membacanya dengan teliti dan merasakan sesuatu yang bergejolak dalam hatinya. Ia melihat judul dari berita itu.

Ku-Hye Sun, The Next Top Model in 2006

Ia melihat foto-foto Hye Sun yang ada di sana dengan seksama. Memperhatikan foto itu satu per satu. Ingin sekali perempuan itu ada di sampingnya, di sisinya, walaupun ia tahu keinginannya terlalu egois, melihat foto perempuan ini saja seharusnya sudah dapat membuatnya bersyukur setengah mati.






    
Ketika membaca isi beritanya, ada deretan kalimat yang mengganggunya.
   
“Jadi, Ku Hye Sun bernaung di bawah nama management kita selama 4 tahun ke depan.”
   
Empat tahun? Apa itu empat tahun? Bukankah ia bilang hanya satu tahun?
   
Min Ho bisa merasakan dirinya berhenti bernapas, jantungnya berhenti berdetak, dan badannya mati rasa.
   
Belum apa-apa, Min Ho sudah mengetahui kalau Hye Sun pasti akan mengingkari janjinya.
***

End of Chapter


Mian ya all.... Updatenya terlalu lamaaa... Hehehe....
Nanti bonus chap 6 yg panjang(padahal belum dibuat juga sihhh....) [heh] [heh] [heh]
« Last Edit: April 11, 2010, 07:06:25 am by karin.lullaby »

it was CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE