CHAPTER SEVEN
Part 1 :
Tentang Music Jung
"Yang ini juga enak .. " Aku menaruh beberapa bungkusan makanan kering ke dalam troiler yang didorong Music. Lalu menatapnya. "Sebenarnya apa lagi yang ingin kau beli selain makanan-makanan ringan ini?"
"Hmm--" Music mengelus-ngelus dagunya. "Kudengar Wine keluaran Dream High juga sangat bermutu ... ," katanya beberapa saat kemudian.
Aku langsung menjentikan jemari di depan matanya. "Kau memang paling tahu barang-barang berkualitas!" seruku semangat. Sambil tersenyum aku segera menariknya ke lorong yang menyediakan minuman-minuman beralkohol. Kuraih sebotol wine keluaran Wine's field. "Wine's Field Dream High keluaran tahun 75 hampir bisa disamakan dengan wine-wine berkualitas dari luar negeri!!" jelasku sambil menyorongkan botol wine di tanganku.
Music menerimanya sambil mengamatiku. "Kelihatannya .. kau sangat memahami produksi-produksi wine dari Wine's field .. "
"Tentu saja!" sahutku nyaring. "Selain Wine's field, Strawberry's field juga ... Mereka menemaniku sejak kecil, memberi warna pada masa pertumbuhanku. ... Segala yang berada di sini sangat berarti bagiku .. "
"Wine juga?" gumam Music pelan, yang tidak terdengar olehku.
"Dhe?" Aku mengalihkan perhatian dari jejeran botol-botol di atas rak. "Mworagu--apa katamu?" tanyaku dengan alis berkerut.
Music kelihatan berusaha tersenyum. Lalu dia mengeleng. "Tidak apa .. "
"O--" Aku mengangguk seraya meraih sebotol wine jenis lain. "Yang ini juga bagus. Harganya lebih terjangkau dari yang kutawarkan semula .. "
Music mengangkat botol di tangannya. "Tidak usah. Saya pilih yang ini saja .. "
"Well--" Aku mengangkat bahu. "Terserah kau deh--" Lalu kutaruh kembali wine tadi ke tempatnya. "Apa lagi yang ingin kau beli?" tanyaku sambil menyelusuri barang-barang yang tertata rapi di atas rak.
"Ini semua sudah lebih dari cukup .. ," jawab Music.
Aku berhenti dan menatapnya. "Sudah cukup? Memangnya berapa anggota keluargamu?"
Music tiba-tiba mencondongkan badannya ke arahku. "Kau ingin tahu?" tanyanya dengan nada mengoda.
"Mwo?" Aku terbelalak. "Ten .. tentu saja tidak!" sahutku cepat. "Lupakan saja!" Parah deh--padahal aku bertanya ngasal saja, tanpa bermaksud apa-apa. Kenapa disalah-pahami begini?
"Saya tidak keberatan memberitahumu .. "
Perkataan Music menghentak ku.
"Dhe?"
Music tersenyum. "Kataku--aku tidak keberatan memberitahumu .. "
"Itu tidak perlu!" ucapku sambil mendahuluinya.
"Tapi aku ingin kau tahu!!"
Seruan ini segera menghentikan langkahku. Aku memejamkan mata lalu berbalik.
"Aku ingin kau mengetahui semuanya--tentang ku .. ," kata Music lebih lanjut. Dia mendekatiku dengan kereta dorongnya. "Mungkin kau sudah mendengar rumor tentang keluargaku? .. Ya, benar. Aku putra dari Tuan Richard Jung, pemilik perusahaan ter-elite Korea, Korean Contruction Engineering atau yang lebih dikenal dengan KCE .. "
"O--" Aku membuka mulut lebar-lebar tanpa mampu memberi komentar terhadap ceritanya.
Sampai Music melanjutkannya kembali. "Namun berlainan dengan gosip-gosip yang beredar bahwa aku merupakan pewaris tunggal dari keluarga Jung, .. itu tidak benar!" Dia tersenyum kecut. "Aku masih mempunyai seorang adik, putra dari istri resmi dari abojiku .. "
"Oh--" Tanpa sadar, aku menutup mulut dengan tangan. Kurasa, tanpa perlu dibeberkan lebih lanjut, aku sudah bisa menebak kearah mana pembicaraannya.
"Ya, aku putra tidak resmi dari ayahku!" Seperti mengerti jalan pikiranku, Music mengangguk. "Meskipun aku putra sulung, tetap saja kedudukanku dalam keluarga sangat sulit .. ," lanjutnya dengan nada pelan.
"Mi .. miane ... ," ujarku menyesal. "Kayaknya aku telah menyinggung sesuatu yang tidak mengenakan .. "
Music menghela nafas sambil mengangkat bahunya. "Bukan salahmu. Seharusnya aku menceritakan ini setelah peresmian hubungan kita. Mian karna telat .. "
Aku tersenyum dan berusaha menghiburnya. "Lupakanlah .. ," kataku sambil menepuk pundaknya.
"Tidak apa!" ucap Music agak keras. Wajahnya ditekuk seperti mengambil tekad bulat. "Aku tidak akan menyerah. Suatu saat, mereka akan mengakui keberadaanku .. "
"Ne!" Aku meninju lengannya pelan. "Itu baru Music namanya!"
"Yes!" Music mengiyakan dengan mengayun tinjunya yang terkepal. Sebentar kemudian tawa kami pecah.
Lalu kami menuju ke kasir. Setelah membayar barang-barang yang dibeli, kami keluar dari supermarket menuju ke tempat parkir. Kami menaruh barang-barang ke dalam bagasi dan mengambil posisi masing-masing di dalam mobil. Music menghidupkan mesin, lalu melajukan mobil tersebut ke jalan desa.
"Berry .. ," mulai Music tanpa menoleh padaku.
"Ne?" Aku berpaling padanya setelah melayangkan pandangan ke luar jendela dalam jangka waktu yang cukup lama.
"Aku pulang sehari sebelum liburan sekolah ... "
"Dhe?" Mataku melebar. "Weeyo?"
"Ada urusan sedikit .. ," sahut Music pendek.
"O--" Aku membuka mulut dan mengangguk pelan, tanpa berusaha bertanya lebih lanjut. Kemudian pandanganku kembali kualihkan ke luar jendela. Sebentar lagi mobil ini akan memasuki area perkebunan strawberry.
"Boleh aku menanyakan sesuatu?" tanya Music tiba-tiba, mengusik kebisuan di antara kami.
Kembali aku berpaling. "Dhe?"
"Hubunganmu .. dan Wine .. " Music mengantung pertanyaannya.
"Ya?" tanyaku tak mengerti.
"Se .. seperti apa?" lanjut Music ragu-ragu. "Bukan bermaksud apa-apa!" selorohnya cepat, seakan takut aku salah paham. "Hanya saja-- ... tadi, di kantin sekolah, aku melihatmu menolongnya ... "
"Maksudmu?" tanyaku kembali--masih tidak mengerti dengan pertanyaannya.
"Me ... nolong .. Wine .. ," sambung Music perlahan-lahan.
"O--itu .. " Aku tertawa riuh.
"Mwo?"
Aku berdeham pelan dan berusaha mengatur diri. Setelah kegelianku agak reda, aku menghadap ke Music. "Masalah Wine dan Pear bermula dariku .. ," jelasku sambil menunjuk diri. "Aku yang semula mencomblangkan mereka .. jadi kurasa--sudah sepantasnya aku ikut berpartisipasi dalam menyelesaikan permasalahan mereka ..... "
"Bukan pribadi yang ingin menolong Wine?" selidik Music.
"Omo--" Aku tertawa sumbang. "Tentu anhi!! Wine tidak sepenting itu .. "
Music balas menatapku lekat-lekat, seakan ingin mendapat kepastian dari perkataanku. Sejenak kami terdiam, sampai dia menyadari kalau sedang menyetir. Secara perlahan mobil yang dikendarainya dihentikan di gerbang masuk perkebunan.
"Ok--terimakasih buat semuanya .. " Music tersenyum.
Aku mengangguk dan melepas sabuk pengaman yang melingkari tubuhku. "Kuharap kau segera kembali .. "
"Tentu." kata Music. "Dan aku akan sangat merindukanmu .. "
Dan seperti yang sudah-sudah, dia mencondongkan badan ke depan, berusaha mencuri kecupan dari bibirku. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa hari ini bukan hari keberuntungannya karna aku segera mengelak, tanpa kusadari apa yang terjadi.
"Gagal lagi?" Music tersenyum hambar.
"O--miane .. ," ujarku penuh penyesalan.
"Sepertinya kau belum siap jua?"
"Miane .. ," desisku sekali lagi.
"Ok--" Music mengangkat bahunya. "Pulanglah. Ini sudah malam .. "
Aku mengangguk. Setelah membuka pintu, aku keluar dari mobil. Memberi ucapan perpisahan terakhir padanya, kemudian melangkah masuk ke dalam perkebunan, tanpa berpaling lagi.
******
Hari itu sudah agak sore .. dan situasi di sekitar mulai sepi. Wine bersiul-siul menyusuri jalan sempit yang diapit rumput-rumput liar dan pohon-pohon rapat ketika sayup-sayup sebuah pembicaraan memasuki telinganya. Langkahnya terhenti, begitu juga ranting kering yang sejak tadi dikibas-kibaskannya ke semak-semak. Kepalanya miring ke samping, lalu perlahan-lahan dia mengeser posisi. Ditajamkannya pandangan ke depan. Sepertinya pembicaraan itu berasal dari pinggir kali yang tidak kelihatan dari tempatnya berdiri sekarang, .. karena tertutupi beberapa batang pohon lebat. Wine berjalan mendekat, .... salah satu suara itu menarik perhatiannya, di antara kumandang suara yang lain.
Perlahan Wine menyibak daun lebar dari batang pohon yang menutupi pandangannya, dan terlihatlah sosok Music yang sedang berdiri berhadapan dengan seorang asing.
"Strawberry's field?!" tanya Music agak keras.
Pria asing berbadan langsing dan kurus di depannya mengangguk. "Ne!"
"Tapi kenapa secepat itu sampai ke ladang strawberry?" seru Music lebih lanjut. "Bagaimana dengan penduduk lain?"
"Tidak masalah ... ," jawab pria itu. "Lebih dari separuh penduduk sini sudah menandatangani penjualan tanahnya pada kita. Sedangkan sisanya lagi sedang mempertimbangkannya. Namun kurasa tidak ada hambatan yang berarti. Harga yang kita tawarkan cukup mengiurkan bagi mereka .. "
Wine perlahan-lahan mengepalkan jemarinya, sehingga urat-urat tangannya tersembul semua. Gerahamnya merapat dengan pandangan tak berkedip tertuju pada dua orang di depan. Jadi ini jawaban dibalik misteri yang terjadi di Dream High selama ini?--Alasan para penduduk, yang sebagian besar merupakan para pekerja wine's field, meninggalkan tanah yang menghidupi mereka dan keluarga sejak dari dulu?
"Tapi--meskipun begitu, kenapa harus strawberry's field dulu?" terdengar Music terus memberondong dengan pertanyaannya. "Bukankah wine's field jauh lebih luas dan berpengaruh dari strawberry's field di tanah ini?"
"Karna ini perintah tuan besar ... , " sahut pria kurus itu dengan nada ditekan.
"Perintah appa?" Music mendesis.
"Ya." jawab pria itu lagi.
"Tapi kenapa?"
"Karena tuan berencana mematahkan pertahanan wine's field!"
"Dhe?"
"Jika strawberry's field JUGA jatuh ke tangan kita maka tidak ada lagi alasan atau landasan bagi keluarga tua pemilik anggur itu buat bertahan di sini ... Semuanya sudah pindah, jadi apa lagi yang bisa mereka diharapkan?"
"Tapi ... ," Music berujar pelan, berusaha membantah kembali.
Tapi orang itu segera mengangkat tangannya. "Lakukan saja perintah tuan besar, doronim. Jangan lupa, keberhasilan proyek ini akan membawa dampak positif bagi anda, dan bukankah--doronim sendiri yang sudah menjanjikannya pada tuan besar? .. "
Music tak mampu menjawab. Pria di depannya terlihat menghela nafas dan menepuk lengannya. Setelah membungkuk pendek pria itu memutar badan dan mulai melangkahkan kakinya.
"Tuan Moon ... ," panggil Music, menghentikan langkah orang itu.
Wine memicingkan matanya. Ternyata pria ini yang bernama tuan Moon!
"Saya perlu waktu ... ," lanjut Music sangat pelan dan hanya berhasil ditangkap samar-samar oleh Wine.
Tuan Moon terlihat mengangguk. "Baik. Akan kulanjutkan pada tuan besar. Tapi jangan lama-lama. Setelah kepulangan ke sini, doronim harus sudah mengambil keputusan!"
"Ne. Saya tahu ... "
Sekali lagi Tuan Moon membungkukan badannya, setelah itu beranjak dari situ.
Wine menghembuskan nafas keras-keras. Sepeninggal Tuan Moon, dia bergerak mendekati Music yang masih berdiri kaku menatap air kali, dengan langkah lebar dan pandangan lekat. Tangan Wine terkepal erat.
"Music Jung!!" teriaknya.
Music menoleh dan, matanya melebar perlaha-lahan. Begitu terkejut mendapati kehadiran Wine di situ. "Wine .. ," desisnya lirih.
"Kau cowok berengsek!!!!"
Bukk!!! Belum sadar dari keterkejutan, kepalan Wine sudah mendarat di wajahnya. Cowok yang tidak menyadari serangan tiba-tiba itu tersungkur ke tanah.
"Akh--!!" Music memegang pipinya yang terasa nyeri. Sambil meringis, diusap kemudian dihapusnya darah segar yang menetes dari sudut bibirnya.
"Jadi ini maksud kedatanganmu ke Dream High?" tanya Wine geram. Ditatapnya Music tajam-tajam, membuat pemuda yang masih tergeletak di tanah itu tak berkutik. Dan tanpa memberi kesempatan padanya untuk menjawab, Wine mendengus kemudian memutar tubuhnya.
"Wine, tunggu!!" Agak sempoyongan Music merangkak bangun dari posisinya. Disambarnya tangan Wine yang saat itu masih terkepal erat.
"Jangan menyentuhku, berengsek!!" Wine menepis tangan Music dengan kasar.
"Saya mohon .. ," ujar Music dengan nada agak meratap. "Jangan .. jangan beritahu Berry. Dia .. dia tidak tahu apa-apa tentang masalah ini. Saya ... saya akan mencari kesempatan untuk .. memberitahunya ... , jadi saya mohon .. ," lalu dia kembali menyentuh tangan Wine. "Wine .. "
Wine mengatupkan gerahamnya kemudian berbalik menghadapi Music. Telapak tangan Music yang masih menempel di pergelangan tangannya ditekannya sampai terlepas, sementara sepasang matanya menatap tajam pemuda itu. Tangan Wine terangkat dan menarik kerah baju Music untuk kemudian dihempaskannya sampai tertekan dan terjepit di batang sebuah pohon.
"Kau kira aku sudah gila apa?!!" bentak Wine sengit. "Apa arti Strawberry's field bagi Strawberry, aku lebih tahu dari kau! Ladang itu segalanya buat Strawberry. Kehilangannya, sama saja kehilangan segalanya .. " Masih dengan mata menyala-nyala akibat luapan api amarah yang membakar hatinya, Wine melepas cengkramannya pada kerah baju Music kemudian memutar tubuh. Dia melanjutkan perkataan tadi sambil melangkah. " .. bila kuketahui kau melakukan sesuatu yang berlebihan, akan kupatahkan batang lehermu!!"
"Kenapa?" Mendadak Music berteriak. "Kau menyukainya? Apa kau menyukai Berry?"
Langkah Wine terhenti, terhenyak begitu saja. Pertanyaan Music menghentaknya. Kenapa? Dia tidak tahu. Oleh karena itu dia hanya bisa berucap dengan nada dingin, "Kau gila!" sambil melanjutkan langkahnya tanpa berpaling kembali pada Music.
Music memejamkan mata perlahan-lahan, lalu menyandarkan punggungnya ke batang pohon yang berada di belakangnya. Dia mendesah pelan, .. bekas tamparan Wine tadi masih meninggalkan rasa nyeri tapi tidak sebanding dengan perasaannya saat ini. Dia menyadari sesuatu, ... hubungannya dengan Strawberry berada di ujung tanduk, bukan hanya misi yang bakal menghancurkan Dream High penyebabnya namun terlebih .. perasaan gadis itu yang samar-samar diyakininya, bukan padanya.
******
« Last Edit: April 05, 2011, 09:46:21 am by mrs. Lee Min Ho »

Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ... keeps it strong!!!
Our MinSun