Author Topic: * Bag Scandal * ~Chapter 14 update 290312~  (Read 33103 times)

Offline Amira

  • Police
  • Senior
  • *****
  • Posts: 613
  • Location: East kal
    • View Profile
Ok...Guys  punk punk punk Silahkan menikmati chapter 3 semoga gak  garing dan bosenin yah   dan mianhae surrender surrender jika geje........


CHAPTER 3
[/size][/size][/color]


Hye Sun sampai di hotel Goo pukul 06.50, ketika ia berjalan memasuki lobi hotel menuju restoran banyak orang yang berpapasan dengannya memandang terkagum-kagum bahkan ada yang sampai berbalik untuk melihatnya lagi.

 


Penampilan Hye Sun kelihatan beda dari biasanya mengenakan dress selutut warna kuning dengan bahu terbuka dan sepatu kuning serta dilengkapi tas yang juga warna kuning tampak serasi dengan kulitnya yang putih walaupun riasan wajahnya minimalis tapi membuat setiap mata yang melihat berdecak kagum.

Begitu sampai di depan pintu yang dituju seorang pelayan membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk. Matanya menyapu ruangan dan dilihatnya di tengah ruangan telah siap meja makan untuk 6 orang dengan taplak sutra dan hiasan bunga mawar dan tulip diatasnya, jelas kelihatan sekali ibunya telah bekerja keras mempersiapkan semua itu.

Di restoran itu tidak ada siapapun karena restoran ini khusus untuk tamu-tamu yang menginginkan privasi lebih selain ke dua orang tua Hye Sun dan sepasang suami istri yang berpakaian mewah dan elegant yang duduk berhadapan dengan orang tuanya, Hye Sun tidak tahu siapa pasangan itu karena ia hanya bisa melihat punggungnya. Hye Sun berjalan pelan mendekati mereka dan Myra melihat putrinya datang melambaikan tangannya menyuruh Hye Sun mendekat dan duduk disudut meja didekatnya.

 “Annyeong Haseyo..” Hye Sun memberi salam sambil membungkukkan badannya.

“Annyeong Haseyo..” Sahut Mr.-Mrs.Goo dan Mr.-Mrs. Lee serempak.

Ayah dan ibu Hye Sun kelihatan bangga dengan penampilan putrinya yang tidak seperti biasa karena selama ini Hye Sun tidak suka berpakaian yang menonjolkan tubuhnya dan lebih sering mengenakan kaos atau kemeja dengan celana pendek atau panjang. Jika ditegur oleh orang tuanya, Hye Sun selalu mengatakan bahwa ia nyaman dengan pakaian itu dan tidak perduli dengan anggapan orang tentang penampilannya.
Suasana hening sebentar karena semua yang ada di meja makan itu seperti tersihir dengan penampilan Hye Sun. Kemudian Myra Goo memecah keheningan dengan senyum puas dan bahagia melihat putrinya sambil berdiri mendekati Hye Sun dan memeluknya.

“Hye Sun-ya … kamu datang tepat waktu…” kemudian Myra Goo berbisik ke telinga putrinya… “Kamu sungguh sempurna putriku”… Hye Sun hanya tersenyum mendengar pujian ibunya.

“Kamu mungkin masih ingat Mr. dan Mrs. Lee, Anak dari Ketua Lee?..” Kata Myra Goo mengenalkan tamunya.

Hye Sun samar-samar ingat dengan tamu orang tuanya, ia pernah 2 atau 3 kali bertemu tapi tidak pernah berhadapan begini karena mereka biasanya berbicara dengan kakeknya atau ke dua orangtuanya dan terakhir bertemu 4 tahun yang lalu ketika kakeknya meninggal dunia.
Hye Sun sering berjumpa Ketua Lee waktu kakeknya masih hidup karena tiap kali kakeknya bertemu dengan Ketua Lee untuk main golf, ia selalu di ajak walaupun ia sering berbohong dengan berbagai alasan karena ia merasa tidak cocok bergaul dengan kakek-kakek terutama Ketua Lee suka sekali membicarakan cucu lelakinya dengan bangga yang membuat Hye Sun gerah mendengarnya.

“Iya mommy…Saya masih ingat….” Kata Hye Sun pada ibunya lalu mengalihkan pandangan pada Mr. dan Mrs. Lee… “Annyeong Haseyo…Ottokhe Jhinaeseyo paman dan bibi ?” Hye Sun membungkukkan sedikit badannya.

“Oh …Annyeong…Kami Jhal Jhinaeyo..” Jawab Mr. dan Mrs. Lee.

“Sudah lama kita tidak berjumpa…Kamu kelihatan makin dewasa dan tambah cantik saja.” Puji Sonia Lee yang mendapat anggukan dari Minki Lee.

“Gomapseumnida…” Sahut Hye Sun malu-malu dan pipinya memerah tomat mendapat pujian seperti itu.

Myra Goo menggandeng putrinya untuk duduk di kursi dan ia pun juga duduk.
Hye Sun jadi bertanya-tanya dalam hati..”Apa mungkin wasiat kakeknya ada hubungannya dengan Ketua Lee karena makan malam ini membicarakan tentang wasiat kakeknya… Lalu apa wasiat kakeknya?.. Dan kenapa dan untuk apa anak dari Ketua Lee hadir di sini…Apa mungkin kakeknya telah membuat kesepakatan dengan Ketua Lee yang ada hubungannya dengan cucu lelakinya….Ah….Tidak!!!”…pikirnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dan mengetuk-ngetuk kepalanya.

Mrs. Goo memperhatikan tingkah putrinya dan memberikan pandangan tajam seakan berkata “Hentikan…Apa yang kamu lakukan? Kamu ingin merusak makan malam ini.”…Hye Sun langsung menghentikan ulahnya dan tersenyum kecut kepada ibunya.

Jam di dinding menunjukkan pukul 06.59 Mr. dan Mrs. Lee tampak gelisah dengan sesekali melihat ke jam di dinding dan jam ditangannya seakan ada yang di tunggu.
Beberapa detik kemudian terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki mendekat, Hye Sun tidak bisa melihat siapa yang datang karena ia membelakangi pintu disamping itu ia tidak berminat untuk mengetahuinya.

*********

Lee Min Ho :
Orang tuaku pasti cemas karena aku belum tampak di depan mereka tapi aku berusaha untuk datang tepat waktu. Jam menunjukkan pukul 06.59 ketika aku berdiri di depan pintu restoran. Aku berhenti sejenak untuk merapikan jas hitam dan dasi kupu-kupu yang kukenakan. Pelayan membukakan pintu dan mempersilahkan aku masuk.



Di dalam kulihat ke dua orang tuaku terlihat cemas dan suami istri didepan orang tuaku kalau tidak salah Mr. dan Mrs. Goo pemilik jaringan hotel Goo tapi siapa wanita yang duduk membelakangiku.

Aku melangkah mendekati mereka dan setelah melihat kedatanganku ke dua orang tuaku terlihat senang dan lega karena aku menepati janji.

“Annyeong Haseyo..” Ucapku sambil membungkukkan badan kepada mereka semua.

“Annyeong Haseyo..” Jawab mereka dan wanita berbaju kuning tanpa menoleh kearahku.

“Ayo silahkan duduk nak…” Kata Minki Goo mempersilahkan.

Aku duduk di kursi yang ditunjukkan dan sekarang aku berhadapan dengan wanita… bukan sepertinya masih gadis dari bentuk tubuhnya tapi aku belum bisa melihat wajahnya dengan jelas karena dia menunduk dan sesekali melirik ke kiri dan kanan. Dari postur tubuhnya dan warna kulitnya sepertinya aku pernah melihat gadis ini tapi di mana…?

*********

Goo Hye Sun :
Aku hanya diam seperti patung apalagi ketika aku mendengar suara itu badanku langsung lemes. Aku tidak berani mengangkat wajahku dan aku hanya mengintipnya dari sudut mata tapi ketika dia menunduk aku beranikan melihatnya.

Aku tidak pernah tahu jika dia adalah cucu dari Ketua Goo karena photo yang pernah diperlihatkan kakeknya padaku sepertinya bukan pemuda yang ada didepanku.

Dia memang tampan…sangat tampan malah, badannya tinggi besar dan penuh berisi, bibirnya tebal dan berwarna merah tapiii sombong dan pemarahnya itu serta tidak tahu sopan santun membuat aku mual melihatnya… Lalu aku harus bagaimana ?

**********

Hye Sun hanya bisa diam dan menggigit bibir bawahnya berharap waktu cepat berlalu sementara Minho sesekali menatap Hye Sun tanpa berkedip berharap gadis didepannya mengangkat mukanya.


“Henry dan Myra…Gomapseumnida telah menyiapkan tempat yang indah ini. Seharusnya kami sebagai pengundang yang menyiapkannya...Tapi anda berbaik hati melakukannya karena kesibukan kami…Iya kan Sonia..?” Minki Lee melihat ke Mr. dan Mrs. Goo kemudian ke istrinya yang mengangguk tanda setuju.

“Cheonmaneyo…sudah seharusnya kami membantu apalagi kita sudah saling mengenal sejak kecil…jadi tidak masalah bagi kami, lagi pula tempatnya di hotel Goo sehingga tidak sulit bagi kami menyiapkannya.” Sahut Henry Goo tersenyum bangga yang mendapat anggukan juga dari istrinya.

“Baiklah karena semua sudah datang, sebaiknya kita mulai saja acaranya…bagaiamana ?” Tanya Minki Lee minta persetujuan.

“Tunggu Pa…sepertinya kita melupakan sesuatu…” Kata Sonia Lee mengarahkan pandangannya kepada Min Ho yang hanya cengar cengir tidak jelas dan sesekali melihat ke Hye Sun sementara Hye Sun yang dari tadi hanya diam dan menunduk memainkan ujung tasnya.

Ke dua pasang orang tua itu tersenyum penuh arti melihat tingkah putra dan putri mereka. Mr. Lee mengalihkan pandangannya ke putranya seraya berkata :

“Mianhae  Min Ho-yaa…Karena senangnya kita semua bisa berkumpul di sini di sela-sela jadwal yang padat…membuat Appa lupa mengenalkan kamu pada putri pewaris Goo….” Dengan senyum yang selalu mengembang Minki Lee melanjutkan :

“Min Ho-yaa, kenalkan…..ini Goo Hye Sun…. Dan Goo Hye Sun, kenalkan ini Lee Min Hoo…Pewaris dari Group Lee..” Minki Lee mengarahkan pandangannya dari Min Ho Ke Hye Sun kemudian kembali lagi ke Min Ho.

Min Ho mengalihkan pandangannya dari ayahnya ke gadis di depan yang masih menyembunyikan wajahnya. Ia merasa tidak percaya dengan pendengarannya sendiri…“Tidak mungkin gadis cantik dan seksi di depannya ini…gadis sial itu…” Kata Min Ho dalam hati.

“Bhanggapseumnida…..Lee…Min Ho-ssi…” Hye Sun mengangkat wajahnya dan menganggukkan kepalanya ragu-ragu.

Min Ho tanpa sadar menjatuhkan sendok yang tertata rapi di depannya begitu melihat jelas wajah dan mendengar suara Hye Sun. Muka Min Ho langsung pucat seperti melihat hantu di siang hari.

Ke dua orang tua mereka saling pandang dengan tampang bingung dan heran seakan melemparkan pertanyaan… “ada apa?...apa ada yang tahu?”… melihat tingkah Hye Sun dan Min Ho tapi mereka berempat hanya mangangkat tangan dan mendengkikkan bahu.

“Apakah kalian sudah pernah bertemu…dan…saling kenal ..?” Tanya Sonia Lee memecah keheningan dengan ragu-ragu.

Hye Sun hanya menganganggukkan kepala tanpa berani melihat sementara Min Ho mengalihkan pandangan tidak jelas sambil menggigit bibirnya dan mengepal-ngepalkan jarinya tanpa menjawab pertanyaan ibunya.

“Min Ho… Min Ho-yaaa…?” Sonia Lee mengarahkan matanya ke Min Ho minta jawaban.

“Mworago..?” Min Ho melihat ke ibu dan ayahnya seakan tidak mengerti kenapa ia di tegur. Sonia Lee mengalihkan pandangannya dari Min Ho ke Hye Sun seakan bertanya.. “Apa kalian sudah kenal?”

“Ehhmmf …eee…Ne…Kami…sudah kenal.” Sahut Min Ho gugup yang disambut senyum dan tawa oleh orang tua mereka.

“Yaah…Jika kalian sudah saling kenal…kenapa kalian bersikap seperti itu heeh ?” Sahut Minki Goo dan anggukan dari yang lain dengan senyum yang tersungging.

“Karena putra dan putri kita sudah mengenal satu sama lain berarti acara selanjutnya tidak ada masalah… Bagaimana jika kita mulai saja makan malamnya?” Tanya Sonia Lee minta pendapat.

“Baiklah…sepertinya semua juga sudah pada lapar.” Sahut Myra Goo yang disetujui oleh yang lain. Lalu Myra menjentikkan jarinya memanggil pelayan pertanda menu makan malam segera dihidangkan. Beberapa detik kemudian datang beberapa pelayan menghidangkan sajian pembuka yang dilanjutkan dengan menu utama lalu terakhir penutup.

Selama acara makan hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu serta gelas sepertinya semua menikmati hidangan yang disajikan, hanya Hye sun yang kelihatan tidak menikmatinya karena makanan dipiringnya masih banyak tersisa.

45 menit kemudian makan malam itu pun selesai dan mereka menuju ke ruangan yang tidak jauh dari restoran tapi masih dalam lingkup hotel untuk acara selanjutnya.

Di ruangan itu hanya ada sofa kulit warna abu-abu berbentuk oval serta meja kaca berhiaskan taplak kecil dari sutra warna marun dan bunga mawar warna putih yang diatasnya sudah ada sampanye dan 6 gelas kristal. Interior ruangan sangat sederhana, di dinding hanya tergantung beberapa lukisan abstrak dan meja kerja di sudut ruangan yang di dindingnya tergantung peta hotel serta lemari filling dan rak buku. Hampir di setiap sudut ada pot besar berisi berbagai macam bunga segar.
Ruangan ini mirip kantor daripada ruang pertemuan karena memang ini adalah kantor Mr. Goo yang Hye Sun tahu ayahnya tidak suka benda-benda mewah di dalam ruang kerjanya.

Henry mempersilahkan tamunya duduk setelah melihat-lihat. Kemudian Minki memulai pembicaraan dengan mimik serius setelah semuanya duduk.

“Kita langsung saja ke pokok masalahnya yaitu tentang wasiat orang tua kami yang sudah mendapat persetujuan dari Ketua Goo yang juga mewasiatkan hal yang sama..”

Minki berhenti sebentar dan mengedarkan pandangan ke yang ada di situ dan kemudian ke Min Ho dan Hye Sun yang duduk bersebrangan.

“Ketua Lee dan Ketua Goo bersahabat sejak kecil, mereka sama-sama merasakan asam garam dan pahit getirnya kehidupan tapi mereka tidak pernah menyerah begitu saja dan selalu saling bahu-membahu dalam menjalani hidup…..tidak pernah sekalipun mereka bertengkar begitu juga dalam usaha mereka membangun perusahaan yang maju sampai sekarang…..Semua yang mereka cita-citakan telah tercapai, dan mereka bersumpah bahwa persahabatan mereka harus terus tetap hidup walaupun mereka sudah tidak ada lagi di dunia ini…” Minki Lee berhenti sebentar untuk menghapus bulir air yang mau menetes disudut matanya dan melihat ke semua yang diam menunggu kelanjutannya.

“Tapi ada satu hal yang belum bisa mereka wujudkan dan mereka saling berjanji bahwa siapapun yang masih hidup diantara mereka maka dialah yang harus mewujudkannya… Setelah Ketua Goo wafat 4 tahun yang lalu dan berselang 2 tahun kemudian di susul oleh Ketua Lee, satu hal itu belum juga terwujud maka…kami sebagai anak-anaknya berkewajiban untuk mewujudkannya, untuk itulah kita semua hadir di sini” Minki Lee menjelaskan panjang lebar tentang tujuan pertemuan itu yang disetujui oleh Henry Goo.

Min Ho yang hanya diam dari tadi mendengarkan ayahnya menjelaskan angkat bicara :

“Appa….Apa satu hal itu yang belum bisa haraboji wujudkan ?”

“Ehmp…Hal itu adalah mengikat tali persaudaraan dari keturunannya menjadi satu keluarga…” Sahut Minki Lee yang membuat Min Ho mengernyitkan alisnya tidak mengerti.

“Tapi appa…Itukan hal yang mudah…kenapa sampai sekarang belum bisa dilaksanakan.” Celetuk Min Ho dengan mimik mengejek tidak paham maksud dibalik kata-kata ayahnya.

Hye Sun langsung mengangkat wajahnya dan memandang Min Ho dengan bibir maju beberapa centi dan tampang bertanya-tanya. Dalam hati Hye Sun berkata : “Nih orang punya otak apa tidak sih…apa dia tidak tahu maksud dari kata-kata itu atau….dia sudah tahu…dan…dan…menyetujuinya…Ahhh…TIDAAAK!!!..” Hye Sun menggelengkan kepalanya dengan keras dan menggigit bibir bawahnya hingga merah.

Beruntung tidak ada yang melihat tingkah Hye Sun karena semua mata tertuju kepada Min Ho dengan air muka heran dan tidak percaya dengan yang apa mereka dengar. Beberapa menit ke depan semua hanya diam dan saling melemparkan pandangan. Kemudian Mrs. Lee memecah kebisuan :

“Jadi….kamu menyetujuinya Min Ho-yaa..?” Sonia Lee bertanya dengan hati-hati dan semua mata mengarah ke Min Ho menunggu jawaban.

Min Ho jadi salah tingkah diperhatikan seperti itu dan ia tidak sadar juga dengan apa yang telah ia katakan beberapa saat lalu.

“Dasar bodoh..” Hye Sun hanya bergumam pelan dan tidak jelas kepada siapa.

Min Ho hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena semua orang masih memandangnya tidak berkedip yang membuatnya semakin salah tingkah.

“Mwo…?” Tanya Min Ho bingung.

“Yaaa…Min Ho-yaa… Apa kamu tidak mengerti dengan kata-katamu sendiri heh…?” Sahut Sonia Lee malu dengan sikap anaknya yang tampan tapi rada telmi sambil berucap pelan ke Mr. dan Mrs. Goo …”Mianhamnida..” yang hanya dijawab anggukan kepala dan senyum terpaksa oleh mereka.

“Min Ho… Apa kamu mengerti maksud dibalik perkataan yang appa sampaikan..?” Tanya Minki Lee meredakan suasana.

“ Appa… yang saya katakan benarkan ?... Semua itu hal yang mudah dan kenapa harus minta persetujuan dari saya…Kalau kalian mau mewujudkannya, yaa lakukan saja tidak baik menunda-nunda dan saya tidak masalah..” Sahut Min Ho pasti dan meyakinkan

Sonia Lee langsung menyerobot tidak sabar :

“Min Ho-yaa….Jadiii…?... Kamu menyetujuinya dan…tidak keberatan dengan perjodohan ini..?” Senyum Sonia langsung merekah tapi Min Ho malah terperanjat mendengar kata terakhir ibunya sampai ia mau merosot dari kursinya.

“APAA ?.... Perjodohan….?.... Maksud kalian saya dan dia…?” Min Ho berdiri dan mengarahkan telunjuknya ke Hye Sun yang dijawab anggukan kepala oleh ke dua orang tuanya dan orang tua Hye Sun.

Sementara Hye Sun terduduk lemas mendengar semua itu, apa yang ia perkirakan dan khawatirkan benar terjadi. Ia merasa pusing dan nafasnya sesak. Apa yang harus ia lakukan…karena semasa hidup dan sebelum kakeknya meninggal Hye Sun telah berjanji akan melaksanakan wasiat kakeknya dengan senang hati.

Min Ho membelakangi mereka sambil mondar-mandir tidak jelas dan memijit-mijit jidatnya. Ia pikir tali persaudaraan dalam arti hubungan sebagai adik dan kakak. Ia merasa tidak ada masalah jika hanya begitu walaupun Hye Sun telah membuatnya kesulitan tapi jika hanya sebagai saudara maka mereka juga tidak perlu sering bertemu bahkan tidak perlu bertemu sama sekali setelah malam ini.

Semua yang ada di ruangan itu tidak ada yang mengeluarkan suara karena semua bergelut dngan pikiran masing-masing. Henry dan Myra saling menatap dan kemudian mengalihkan pandangan ke Hye Sun, mereka tahu Hye Sun tidak akan menolak karena walaupun ia bisa maka ia tidak bisa melakukannya. Hye Sun telah berjanji kepada kakek dan juga orang tuanya apalagi mereka telah membuat kesepakatan waktu ia ngotot untuk meneruskan sekolah musiknya setelah ketahuan oleh mereka.

Minki dan Sonia Lee lama tertunduk diam kemudian Sonia menyenggol suaminya, Minki Lee menatap istrinya yang mengarahkan telunjuk ke Min Ho yang masih mondar-mandir. Sonia berbisik kepada Minki kemudian ia berdiri mendekati anaknya dan menepuk bahunya.

“Min Ho,….Mianhae…Cheongmal Mianhae…Appa dan eomma tidak ingin memaksamu …tapi ini keinginan haraboji…harusnya appa yang menjalani ini tapi karena anak dari Ketua Goo juga laki-laki sementara hanya kami anaknya jadi harapan mereka hanya pada cucunya…” Kata Minki menjelaskan setengah menasehati sementara Min Ho hanya diam tidak bereaksi.

“Lagipula apa yang memberatkanmu...? …Bukankah kalian sudah saling kenal dan juga setahu appa kamu juga belum punya pacar kan..?” Lanjut Minki bertanya dengan suara lembut.

Min Ho masih saja diam tidak memberikan jawaban, Minki yang masih berdiri di samping Min Ho menatap anaknya berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan sementara ibunya juga menatap penuh harapan dengan kedua tangan menangkup di dada.


Henry dan Myra Goo juga mengarahkan pandangan mereka ke belakang menunggu jawaban Min Ho. Hye Sun merasa sudah tidak tahan lagi berada di dalam ruangan itu, kepalanya rasanya makin pusing dan udara terasa panas padahal ruangan itu full ac, ia memutuskan untuk ke luar sebentar mencari udara segar kemudia ia berdiri.

“Shillye Hamnida….Saya mau ke kamar kecil sebentar..” Kata Hye Sun memecah kebisuan, semua mata mengalihkan pandangan dari Min Ho ke Hye Sun demikian juga Min Ho yang dari tadi hanya menunduk.

*****************

Lee Min Ho :
Aku serasa mendengar suara petir dan halilintar di hari yang cerah, aku tidak tahu harus berkata apa, aku memang tidak punya pacar bukan karena tidak ada satupun gadis yang mau tapi malah banyak yang antri untuk berpacaran bahkan walau hanya kencan semalam tapi aku tidak mau karena menurutku mereka hanya menyusahkan saja.
Aku tidak akan keberatan untuk memenuhi wasiat haraboji andaikan saja gadis itu bukan ia…Goo Hye Sun…kenapa harus dia….
Semua sedang menunggu jawabanku tapi aku tidak bisa menjawab pertanyaan appa ….aku aku tidak bisa menjawab sekarang dan aku perlu waktu untuk berpikir. Tiba-tiba aku mendengar suaranya, ia pamit ke luar sebelum aku sadari ia telah menghilang.

************

Tanpa menunggu jawaban Hye Sun berlalu dari situ, semua mata menatapnya sampai ia hilang di balik pintu dan sesampainya di luar Hye Sun bersandar di dinding dan menarik nafas panjang. Kemudian kakinya melangkah ke taman yang ada di luar hotel di samping restoran bukannya ke toilet yang ada di ujung lorong itu. Di taman ia berhenti lalu menghentak-hentakkan kakinya sambil memegang kepala seperti anak kecil yang lagi marah. Sekitar 2 menit ia berlaku begitu lalu diam melihat ke langit malam, menarik nafas panjang dan mengeluarkannya, begitu terus sampai ia merasa agak tenang. Hye Sun masih menatap langit menangkupkan kedua tangan di dada dan berucap pelan hampir tidak terdengar…”Haraboji…kenapa saya harus menikah dengannya ?... Andai saja ia pemuda yang sopan, tidak pemarah dan tidak sombong serta angkuh, saya mungkin tidak bingung seperti ini…tapi saya tetap tidak punya pilihan lain lagi kan haraboji ?...harabojiii?”…Hye sun menunduk menghapus beberapa titik air yang mengalir di pipi dengan punggung tangannya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, suka tidak suka, mau tidak mau ia tetap harus menerima perjodohan ini.

Setelah merasa cukup tenang Hye Sun kembali ke dalam tetapi di dalam sudah tidak ada siapapun dan baru saja ia menutup pintu  terdengar bunyi dari dalam tasnya. Ia membuka tasnya dan dilihatnya hpnya ternyata ibunya yang menelpon yang memberitahunya untuk pulang duluan dengan sopir dan belum sempat Hye Sun bertanya lebih jauh ibunya sudah memutus pembicaraan.
Belum hilang rasa kebingungan Hye Sun tentang keputusan Min Ho mengenai perjodohan sekarang ia malah di suruh pulang. Sewaktu melewati lobi hotel menuju pintu, Hye Sun mendengar seseorang memanggilnya :

“Hye sun….Goo Hye Sun..?” Tanya seorang pemuda berbadan tegap dan kelihatan kekar ragu-ragu dan setengah tidak yakin dengan penglihatannya.

Hye Sun menatap tidak yakin akan bertemu lagi dengan pemuda itu dan belum hilang kekagetannya pemuda tersebut sudah memeluknya erat.

Sementara dari kejauhan seseorang melihat kejadian itu dengan mimik kesal dan tidak senang.

*********

END OF CHAPTER