Poll

kira-kira lagu apa yang cocok buat MP Aljoana

"Wonderful Tonight" By Eric Clapton
3 (18.8%)
"Baby Can I Hold You Tonight"  By. Boyzone
3 (18.8%)
"One Night" By The Corrs
10 (62.5%)
terserah author (glodak!)
0 (0%)

Total Members Voted: 16

Author Topic: Re: THE MAESTRO (chapter 22 ---- 31 Juli 2011)  (Read 37170 times)

Offline sisicia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1974
  • My Lovely Sunny
    • View Profile
Re: THE MAESTRO chapter 9 (3. 4. 2011)
« Reply #405 on: April 09, 2011, 01:07:02 pm »
THE MAESTRO
Chapter 10

Song of The Day :

Immortality
by.  Celine Dion

so this is who I am
and this is all I know
and I must choose to live
for all that I can give
the spark that makes the power grow

and I will stand for my dream if I can
symbol of my faith in who I am
but you are my only
and I must follow on the road that lies ahead
and I won't let my heart control my head
but you are my only
and we don't say good bye
and I know what I've got to be

Immortality
I make my journey through eternity
I keep the memory of you and me inside

fufill your destiny
is there within the child
my storm will never end
my fate is on the wind
the king of hearts, the joker's wild
but we don't say goodbye
I'll make them all remember me

cause I have found a dream that must come true
every ounce of me must see it through
but you are my only
I'm sorry I don't have a role for love to play
hand over my heart I'll find a way
I will make them give it to me

Immortality
there is a vision and a fire in me
I keep the memory of you and me inside
and we don't say goodbye
with all my love for you
and what else we may do
we don't say goodbye


Aldian mematut-matut diri di cermin. Bayangan pria dengan tuksedo pernikahan yang tiada lain adalah bayangan dirinya terpampang sudah. Altar dadakan sudah riuh dengan tamu undangan yang berdatangan. Pria itu membuang nafas demi menghilangkan kegalauan hati lalu duduk di sofa di kamarnya itu.

Aldian merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sesuatu dari situ. Sebuah kotak beludru berisi sepasang cincin yang rencananya adalah cincin pernikahan nantinya. Dia membeli cincin itu dari tabungannya sendiri, bukan dari uang Lee Corporation, harta Abojinya yang selalu memanjakannya itu. Dia mencabut salah satunya dan mengamati lengkungan bagian dalam benda itu. Inisial terukhir di situ.

‘A & J’…. ‘Aldian dan Jenifer’…..Ataukah Aldian dan Joana? Saat merancang desain dari inisial itu, dalam hati yang paling dalam… nama Joana-lah yang dia ukir. Kenapa semuanya begitu similar? Kenapa pula harus huruf J? Terduduklah aku di sini. Di sisi kegalauan menghempas sunyi. Menyelami hakekat diri. Akankah tiada akhir ?

Pucuk dicinta ulam tiba. Joana memasuki kamar itu. Balutan gaun pengiring pengantin membuat kecantikannya semakin membuai Aldian. Rambut Joana yang tergerai berhiaskan manik-manik, sengaja disisipkan di beberapa helai. Semakin berkilau dan membuat Aldian semakin gugup. Pria itu kawatir jika kejadian semalam terulang lagi. Ciuman itu.

“Oppa..,”panggil Joana. Aldian berdiri di depannya, masih memandang takjub. Gadis itu mengulurkan tangan, memberi selamat,”Chukae, Oppa sangat tampan pagi ini.”

Aldian mengembalikan cincin yang tadi diamatinya itu, lalu menutup kotak beludru yang ada di tangannya. Dia tersenyum menyambut uluran tangan Joana,”Gumawo.”

Aldian mampu merasakan genggaman tangan Joana yang tanpa tenaga. Terlihat mata Joana menahan tangis.”Bolehkah Joan mencium, Oppa?” pinta gadis itu.

Aldian menggeleng, takut jika Joana melakukan hal semalam lagi.

“Hanya ciuman di pipi, Oppa…,” yakin Joana. Pada akhirnya Aldian mengangguk enggan dan sesaat mampu merasakan bibir Joana yang menempel lembut di pipinya kiri dan kanan.

Langit di luar semakin cerah, hingga angin sejuk mampu bertiup diruangan itu. Joana menatap Aldian secara misterius. Akankah langit menyiratkan yang harus tersurat, atau malah bertambah surut ? Carut marut di sekitarku. Menambah bopengnya merah padam muka.

“Miane,” ucapan lirih Joana  setelah kecupan pipi itu berakhir. Aldian tersenyum. “Hanya sebuah ciuman, Nona. Tidak perlu dipermasalahkan.”

Joana tersenyum lebar lalu berbalik  meninggalkan Aldian. Pria itu tak mampu menangkap makna di balik kata, “Miane.”

Raga ini tetap di sini. Sementara jiwa lelah berloncatan dari satu asa ke asa lain. Meniti sejuta mimpi tergantung tinggi, hingga ku menengadah dengan pandang terawang.

Langkah Joana beringsut ke ruangan di mana Jenifer siap dengan gaun pengantin. Wanita itu terlihat sedang berdiri membelakanginya, mematut-matut di cermin. Memastikan sanggulan rambutnya rapi.

“Uni.” Jenifer menoleh mendengar panggilan Joana. Jenifer pun tersenyum ketika Joana merentangkan tangannya memberikan pelukan. “Chukae. Uni sangat cantik pagi ini.”

Jenifer tersenyum dalam pelukan Joana lalu pelukan itu agak renggang, dia mengelus-elus pipi Joana.”Gumawo.”


“Bolehkah Joan mencium pipi Uni?” pinta Joana. Jenifer mengangguk. Joana mencium kedua belah pipi Jenifer lembut lalu berkata,”Miane…”


Jenifer  tersenyum. Joana berbalik, pergi dari ruangan itu saat Mr. Son menjemput putrinya agar segera ke altar. Aku berharap mimpi menghampiri sehingga jiwa tetap beraga dan harapan terbentang.

Di altar, Aldian sudah menunggu. Jenifer berjalan ke arahnya dalam balutan gaun pengantin, tapi bayangan Joana yang ada di mata Aldian, berjalan menuju ke arahnya. Aldian agak memicingkan mata agar bayangan itu hilang. Namun tidak berhasil. Joana benar-benar membuat segalanya teralihkan.

“Lihat itu! Apa yang wanita itu lakukan!” teriak salah seorang undangan yang membuat semua hadirin menoleh lalu menelusur pandang  mengikuti arah telunjuknya. Suasana kidmad mendadak heboh. Di sebuah balkon di lantai tiga villa itu, seorang wanita bergaun putih dengan rambut tergerai, berdiri di dinding balkon dengan kaki bersepatu tumit tinggi.


“Joana!” jerit Mina Im mengkhawatirkan wanita di dinding balkon. Vicky dan Harry tak kalah kawatir. Aldian-lah yang paling kawatir, melesat masuk ke dalam villa diikuti Danny. Aldian yakin bahwa balkon itu adalah balkon kamarnya. Harry jadi tak habis pikir,”Apa-apaan ini ? Ada apa sebenarnya?”

Vicky menggeleng saat tatapan Harry menuju dirinya. Dia memang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Joana terlalu rapi menyimpan perasaan. Harry berteriak ke arah pengawal, “Ambil sesuatu yang bisa menahan tubuhnya agar tidak celaka saat jatuh ke bawah. Jarring, tamborin atau apa saja!”

Aldian menaiki tangga dengan kepanikan yang membuncah. Dia bahkan tidak tahu jalan pikiran Joana. Miane… apa maksudnya ‘miane’? Jangan nekat, Joan.

Aldian berhenti saat berada di balkon itu. Joana masih berdiri di dinding balkon. Sepatu berhak tinggi yang lancip makin mempertinggi kemungkinan baginya untuk terjatuh, dan itu membuat Aldian kawatir setengah mati hingga pria itu berjalan pelan ke arahnya.

Angin mengibarkan rambut Joana. Manic-manik memantulkan cahaya mentari, rambut itu tambah berkilau.

“Joana….,”Aldian mendekati Joana gugup.”Apa yang kau lakukan?”

Joana merentangkan tangan. Orang-orang yang berada di bawah semakin  histeris, sementara para pegawai Villa sibuk mencari-cari letak yang pas untuk jaring penyelamat, sejajar dengan balkon.

Aku berharap mimpi turun ke bumi. Agar tidak terlalu lama menengadah. Berbinar melihatnya menari di sekelilingku. Begitu dekat !

“Oppa…, kini aku tahu kenapa orang ingin naik ke atas… karena dari atas kita bisa melihat pemandangan yang indah.”


“Joana!” kali ini Danny yang berteriak. Aldian menoleh ke arahnya.”Aku mohon jangan gila, Joana,” pinta Danny putus asa.


Joana hanya tersenyum. Lengannya masih terlentang, menantang angin yang semakin keras menerpa tubuhnya. Tubuh itu sesekali oleng, membuat panic dua namja yang ada di balkon dan orang-orang di taman. “Aku tidak gila, Danny-a. Apa jadinya jika ragaku jatuh tapi sukmaku naik begitu tinggi. Tentu aku bisa melihat pemandangan yang lebih indah lagi.”

“Terbersit tanya dariku, akankah mimpi menghampiri? Raga pun menengadah, mencari jawab di antara mega-mega. Berharap langit menyiratkan apa yang harus tersurat.” Hati Aldian teriris mendengar kalimat itu. Puitis…, Joana lebih puitis dari kakaknya, itulah perbedaan Joana dan Alicia. “Aku mohon Joana…. Jangan melakukan hal yang membuatku bersedih.”

Mata Joana bertambah sembab. Bersedih?

“Oppa…, apakah ini adil bagiku… selama ini aku yang selalu berusaha mengerti perasaan Oppa tapi Oppa sendiri….

Joana sesenggukkan,”Bahkan Oppa mengingkari perasaan Oppa sendiri!” teriak Joana. Dia tak tahan lagi. Semua ini begitu menyakitkan untuknya. Buat apa hidup?  Memendam perasaan selama tiga belas tahun, dan ketika yakin orang yang dicinta merasakan hal yang sama, memilih menanggalkan perasaan itu.

“Anhi, Joana,” Aldian mengakui dengan kabut di pelupuk matanya,”Cinta ini tidak mungkin… ini tidak benar.”

“Apanya yang tidak benar?” bentak Joana, menoleh dengan pandangan garang tak perduli tubuhnya oleng. “Kita bahkan tidak sedarah!”

“Cukup, Joana! Oppa sangat marah! Saat ini orang tua Oppa dan orang tua Jenifer sedang menunggu di bawah sana. Jadi hentikan kekonyolanmu!”


“Konyol? Oppa bilang perasaanku konyol? Oppa jahat!” terhentinya teriakan itu, Joana meluncur ke bawah. Aldian dan Danny berteriak memanggilnya. Semua orang panic. Petugas berusaha mempertegang jaring di bawah dengan mata memejam, berdoa agar Joana tidak celaka.  

Aldian berlari keluar kamar, menuruni tangga menuju ke taman tempat tubuh Joana terjatuh. Doa selalu dia panjatkan agar Joana selamat ketika langkahnya sudah mencapai lantai kedua. Dia berjanji jika Joana selamat, akan mengakui perasaan cintanya. Aku mohon… selamatkan dia… selamatkan dia….

.

.

.

.

.

.

.


.



.



.


Joana selamat!  Aldian melihat Joana selamat. Jaring penyelamat berhasil menahan tubuhnya agar tidak membentur tanah. Aldian menghambur memeluk gadis itu dengan rasa syukur yang tak henti-hentinya terucap, menciumi wajah Joana dengan membabi-buta karena kekawatirannya sudah berlalu dan doanya terkabul.


“Oppa…,” Joana menangis di pelukan Aldian. Semua ini tidak mungkin. Dia selamat dan Aldian mengkawatirkannya, begitu mengkawatirkannya. Hatinya pun trenyuh. Oppa…, aku mohon… aku mohon tetaplah seperti ini. Aku mohon…

“Apa-apan ini?” Harry berkacak pinggang.
“Haraboji,” panggil Danny lirih.

Vicky memandang penuh tanda tanya. Mina bersimpuh sambil menangis. Nicky menyeringai tipis, opera sabun berakhir, Chingu…

“Aldian?” panggil Jenifer. Harry berkata tegas,”Sudah tidak ada yang perlu dikawatirkan lagi. Lanjutkan pernikahan ini!”

Aldian memandang Joana. Gelengan lemah kepala Joana melarang semua itu. Aldian bimbang. Joana memukul-mukul dadanya dengan tangis yang pecah lagi,”Nikahi aku, Oppa! Nikahi aku! Aku mohon! Aku mohon!”

Tangisan Joana semakin pilu. Keduanya berpelukan kembali. Lalu saat Aldian menoleh ke arah Jenifer, dia berkata,”Miane, Jeny…”

Tubuh Jenifer lunglai dan pingsan di tempat. Aldian sudah memutuskan. Pria itu mencintai wanita lain. Dia harus bisa menerima semua itu walau pun perih. Kasak-kusuk para undangan memperpanas suasana. Sementara Joana membenamkan tangisan lagi di dada Aldian. Pria itu menggiring gadis tercinta ke depan Altar.

“Tunggu!” teriak Harry yang membuat pasangan itu berhenti. ”Jika kau nekat menikahinya, kau akan kucoret dari daftar penerus keluarga Lee dan keluar dari rumah ini tanpa harta keluarga Lee!”

Aldian menoleh ke ayahnya dengan senyuman tabah, dia menegaskan,”Apa susahnya melakukan itu semua, Appa?” Lalu mencopot segala harta Lee Corporation yang melekat di tubuhnya. Jam tangan rolex, dasi Armani, Jas Versace, bahkan dari dompetnya, dia hanya mengambil kartu identitas.”Untuk celana dan kemeja, akan segera saya kirim ke Villa ini besok, Tuan Harriot Lee. Saya tidak mungkin pergi dengan tubuh telanjang.”

“Nikahkan kami, pendeta,” perintah Aldian saat sampai di depan altar.
“Maaf, tapi wali mempelai wanitanya siapa?” tanya pendeta itu. Nicky tertawa sejenak, lalu menawarkan diri.”Joana yatim piatu dan sebatang kara, jadi dia perlu wali hakim. Apakah posisiku sebagai pengacara di negeri ini bisa menjadikanku hakim?”

Aldian memandang sahabatnya penuh terima kasih. Pendeta itu mengangguk. Keduanya bersumpah setia. Aldian mengeluarkan kotak beludru dari kantong celananya, membuka kotak itu dan menyematkan cincin di jari Joana. Cincin itu adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dia merasa berhak atas cincin itu karena bukan bagian dari harta keluarga Lee.

Aldian tersenyum saat giliran Joana yang gugup menyematkan cincin di jarinya. ‘A & J’ adalah Aldian dan Joana, pikirnya bahagia. Kemudian mereka berciuman saat pendeta mensyahkan sebagai suami-istri.

“Saranghe, Yeobo…,” bisik Aldian diantara ciuman itu. Dia bisa merasakan air mata Joana yang asin. Tangisan itu telah berganti tangisan bahagia, Aldian tahu itu.

Tanpa memperdulikan tatapan heran orang di sekitarnya, pasangan itu keluar villa. Berjalan kaki berangkulan menuju halte bis yang lumayan jauh dari situ. Tidak ada lagi Ferrari mewah yang selalu menaikkan gengsi Aldian atau pun sopir pribadi yang selalu mengantar Joana ke mana pun dia pergi. Mereka menaiki kendaraan bermerk Mitsubitsi, berpintu tiga, berjendela banyak. Itulah kendaraan mereka saat ini dan di hari-hari nanti.

Pasangan itu duduk di bangku penumpang bis. Joana membenamkan kepalanya di dada Aldian. Pasrah ke mana pun suaminya membawanya. Aldian menggenggam tangannya erat. Dia begitu bahagia saat ini. Tak menyangka gadis cilik berusia enam tahun itu telah memanjatkan doa yang terkabul. Aldian Oppa… Suamiku… Cintaku sungguh posesif… Miane… Aku berjanji akan selalu menjadi istri yang mendampingimu, seumur hidup. Yang selalu jadi penghiburan bagimu dengan keceriaanku. Tak akan kubiarkan terlepas. Karena cinta ini begitu dalam, bermula dari memoir di umur enam tahun, ku tutup mata hatiku pada kemungkinan cinta yang lain. Kau lah yang selalu aku harapkan, Oppa… maaf karena membuatmu tersiksa selama tiga belas tahun. Kebahagiaan akan menjelang di depan kita. Bukan begitu, Tuhan ?

Lalu Joana teringat sesuatu. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik gaunnya dan menyerahkannya ke tangan suaminya. Aldian terkejut melihat benda yang kini ada di tangannya.”Apa ini, Yeobo?”

Joana tersenyum. “Untuk membayar bus, Oppa.”
Aldian membalas senyum istri mungilnya. Benda yang ada di tangannya adalah uang. Aldian bahkan tidak memikirkan hal itu sebelumnya.

“Kita mau kemana, Oppa?” tanya Joana setelah membenamkan kepala ke dada Aldian lagi.
“Ikut saja, Yeobo… Ikut saja…”


BERSAMBUNG
« Last Edit: April 09, 2011, 01:12:04 pm by sisicia »


Aldian Ajhusi dan Istri Polosnya

[hmpfh][hmpfh][hmpfh]