CallMinsun
Welcome,
Guest
. Please
login
or
register
.
1 Hour
1 Day
1 Week
1 Month
Forever
Login with username, password and session length
News:
Home
Search
Calendar
Login
Register
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #33061
Poll
ayo ayo milih di antara dua kubu di bawah ini hahaha
Kubu Rath
Kubu Daze
« previous
next »
Print
Pages:
1
...
136
137
[
138
]
139
140
...
252
Go Down
Author
Topic: from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11 (Read 99035 times)
Be my self
Admin
Hero
Posts: 7360
that winkkkk!!! *fainted
Re: from Seoul to ... Perth II, chapter seventeen updated!!! 12 Mar' 2011
«
Reply #2055
on:
April 10, 2011, 01:04:34 am »
Song of the day :
http://www.youtube.com/watch?v=17Tpxa1fhBw&feature=player_embedded
Lyrics :
Day after day
Time pass away
And I just can´t get you off my mind
Nobody knows ... I hide it inside
I keep on searching but I can´t find
The courage to show ...
To letting you know ...
I´ve never felt so much love before
And once again I´m thinking about
Taking the easy way out ...
CHORUS:
But if I let you go
I will never know
What my life would be
Holding you close to me
Will I ever see
You smiling back at me
How will I know?
If I let you go ...
Night after night
I hear myself sayin´
Why can´t this feeling just fade away?
There´s no one like you ...
You speak to my heart...
It´s such a shame we´re worlds apart ...
I´m too shuy to ask ...
I´m too proud to lose
But sooner or later I gotta choose
And once again I´m thinking aboutTaking the easy way out ...
CHORUS
Once again I´m thinking about ....
Taking the easy way out ....
*CHORUS
Tiga postur duduk mengelilingi meja teh ruang depan dengan posisi saling berhadapan dalam diam. Si gadis berjarak agak jauh, terpisah oleh meja. Sepasang tangannya saling meremas dan sesekali melirik gelisah dua pria yang duduk di depannya. Sedangkan dua pria tersebut menempati sofa yang sama, sofa panjang warna coklat kusam, dengan posisi yang berjauhan, menempel di kedua sisi sofa.
Carlson menatap Daze dengan pandangan bertanya, seperti pertanyaan yang diajukannya beberapa menit yang lalu, setelah mendapati keberadaan Rathyan di situ dan sebelum memasuki rumah.
Sementara Rathyan menatap gadis itu dengan pandangan menuntut dan tajam, seolah sebuah janji telah dikhianati. Kepercayaan yang berangsur-angsur sudah dihimpunnya, ternyata tidak dianggap oleh gadis itu, .. yang dengan sendirinya mengoyahkan keyakinan terhadap janji tersebut.
Daze memejamkan mata perlahan-lahan. Dia tidak tahu harus menjawab pandangan yang mana dulu. Sampai detak detuk bunyi langkah kaki menuruni anak tangga yang mendekati ruangan mereka berada, menyadarkannya. Drekk, suara pintu dibuka.
"Nak Carls, kamarnya sudah siap ... " Perkataan omma memelan dan berhenti sama sekali ketika bertatapan langsung dengan Rathyan.
Daze tidak mampu bereaksi lagi. Tubuhnya kaku dan lemas seketika.
Habis sudah ... Tidak hanya Carlson dan Rathyan yang harus dihadapinya sekarang, .. tapi juga omma ...
"Kenapa?" Mata omma melebar dan menunjuk Rathyan. "Kenapa dia bisa berada di sini?" tanyanya sambil berpaling pada Daze.
Daze mendesah. "I .. itu ... "
Sebelum perkataannya berlanjut, omma sudah beralih kembali pada Rathyan dan melanjutkan perkataannya. "Sudah kuperingati waktu itu kan? Agar kau tidak mengusik Daze lagi! Dan kau juga sudah menjanjikan itu!"
"Kapan?" Untuk pertama kalinya sejak memasuki Han's mansion, Rathyan mengeluarkan suara. Nadanya dingin dan datar.
"Waktu itu!" Omma berkeras.
"Saya tidak pernah menjanjikan apa-apa!!" tukas Rathyan tegas.
Omma mengepal tangannya, lalu menghembuskan nafasnya kuat-kuat. Daya tampung paru-parunya terasa hampir meledak menghadapi sikap pemuda ini. Dengan tampang capek, dia beralih kembali pada Daze. Menatap gadis itu dengan pandangan 'menuntut jawaban'.
"Daze!"
"Omma .... ," desah Daze lirih. Tubuhnya lemas saat ini.
Bagaimana cara memulai penjelasan ini? Harus mulai dari mana?
"Daze Han!!" Tegur omma begitu dilihatnya Daze masih membeku di tempatnya.
"Saya .. saya ... "
"Kenapa dia bisa berada di sini?!" ulang omma terhadap pertanyaannya semula. "Jawab pertanyaan omma, Daze! Dia mengikutimu? Apa dia membuntutimu sampai di sini?" buru omma dengan serentetan pertanyaan-pertanyaannya.
"Bukan!!" seru Daze mendadak, .. seraya meloncat dari sofa, sampai mengejutkan orang-orang yang berada di sekitarnya. Selain Rathyan, yang tetap tidak bereaksi dan menatap kaku ke arah mereka.
"Aku yang ikut dengannya! Bukan dia yang mengikutiku!" lanjut Daze sambil mengigit bibirnya.
"Mwo?" balas omma. "Apa maksudmu?"
"Maksudku--Dia majikanku!! Majikan baruku!" Kelegaan yang dirasakan Daze setelah mengeluarkan perkataan ini. Lenyap sudah batu yang selama ini menghimpit dadanya. Apa yang akan dilakukan omma selanjutnya, terserah .. dia sudah tidak perduli lagi. Yang jelas, dia tidak ingin menyembunyikan kenyataan ini dari omma. Sudah saatnya beliau mengetahui masalah yang sebenarnya, .. bahwa majikan baru yang sering dibicarakannya adalah Rathyan Jang.
"Majikanmu ... ," ujar omma tak percaya.
Bagaimana bisa? Dan bagaimana mungkin sementara pemuda yang dikenalnya setahun yang lalu di Perth ini sama sekali tidak memperlihatkan statusnya itu? Pewaris dari Max-Global--?
Omma mengeleng pelan.
"Benar ... Miane omma karna sudah merahasiakannya selama ini .. "
"Kau berkeras kembali padanya?" tanya omma datar. Dia masih belum mampu menerima kenyataan ini. Masalah yang dirasanya sudah rumit jadi semakin rumit. Rathyan Jang--pemuda yang pernah dicap tidak becus dan tidak punya masa depan, ternyata calon waris tunggal dari Max-Global, perusahaan paling berpengaruh di Korea saat ini.
Daze menghela nafas, namun tidak mampu menjawab. Begitu beradu pandang dengan omma, dia segera menunduk dalam-dalam. "Miane .. "
"Sudah!--cukup!" Omma mengangkat tangan dengan cepat. "Hubungan kalian terlalu ribet, bercabang-cabang dan membingungkan! Omma tidak mau lagi mencampuri urusan kalian ..," lanjut wanita paruh baya itu dengan nada putus asa. "Terserah apa yang kau inginkan, Daze Han! Asal kau tidak menyesal saja!!" tukas omma keras, seraya beranjak lebar-lebar dari situ. Dia sangat marah, ya--benar-benar marah .. namun dia tidak mampu berbuat apa-apa. Melarang terus hubungan mereka kayaknya tidak akan membuahkan hasil. Anak-anak muda itu terlalu susah diatur.
Sepeninggal omma. "Ehmm--!!" Deheman Rathyan mencairkan kekakuan yang sempat tercipta di antara mereka. "Beberapa hari ini, saya tinggal di sini!" ujar Rathyan dengan nada 'tidak bisa dibantah--dan sudah keputusan mutlak' seraya bangkit dari duduknya. "Di mana saya bisa tidur?"
"Mwo? Kau tinggal di sini?" Daze kelihatan serba salah. Bagaimana tidak? Semua kamar di rumah ini sudah terisi penuh. Kamar satu-satunya yang seharusnya masih kosong, yaitu bekas kamar Ye Jin, sudah diberikan pada Carlson.
"Ne. Ada masalah?" tanya Rathyan dingin.
"Kenapa tidak tinggal di hotel saja?" Bukannya menjawab pertanyaan Rathyan, Daze malah mengajukan pertanyaan lain.
Rathyan hanya mengangkat bahu cuek, melewati Carlson yang masih duduk di posisinya, .. seakan menganggap pemuda itu angin lalu yang kasat mata, dia beranjak ke pintu.
"Yaa--" Daze segera mengejar Rathyan, tanpa menyadari pandangan Carlson yang sedari tadi tertuju padanya .. , mengharapkan sebuah jawaban yang belum diberikan Daze padanya. "Mau ke mana?! Sudah kubilang tidak ada kamar untukmu?!" Suara Daze memelan seiring menghilangnya dua sosok itu dari pandangan Carlson.
ooooOoooo
"Untuk sementara kau tidur di sini .. ," kata Daze sambil meletakan bantal dan selimut ke atas ranjang.
Rathyan mengerutkan alis tidak senang. Lalu pandangannya beralih pada Carlson yang duduk di sudut ranjang.
"Kenapa harus sekamar dengannya?" tanyanya dingin.
"Kau boleh tidak sekamar dengannya!" sahut Daze malas. Sudah sejak tadi masalah ini diperdebatkan dengan Rathyan, .. bahwa di rumah ini tidak ada kamar baginya, dan lebih baik dia tinggal di hotel saja, .. tapi pemuda ini tetap keras kepala dengan keinginannya. "Itu berarti--kau harus tinggal di hotel!" lanjut Daze tegas.
"Benar!" sambar Dave yang sudah berada di ambang pintu. Senyum tipis tersungging di bibir pemuda itu. "Kau tidak mungkin sekamar denganku karna .. sudah ada anak dan istriku di situ .... "
Tampang Rathyan yang sudah bete menjadi makin suram mendengar penjelasan Dave.
Lalu Daze melanjutkan perkataan dongsengnya. "Kamar halmonie sudah ditempati omma dan appa. Gudang belakang juga tidak mungkin, karena sudah tidak ada lagi, .. sudah dibongkar dan dijadikan garasi .. Jadi, terimalah apa adanya!"
"Kau juga sih--datang tidak bilang-bilang!" sela Dave dengan nada menegur.
"Saya bisa sekamar denganmu!" tukas Rathyan mendadak--pada Daze, tanpa memperdulikan teguran Dave.
Yang dituju terperanjat kaget dan segera melirik Carlson, begitu juga Dave. Dilihatnya Carlson agak bergerak dari posisinya membaca buku. Perhatiannya yang mula-mula diusahakannya menghayati buku, sirna sudah.
"Kau gila ya?! Siapa yang mau sekamar denganmu?!" Daze melempar bantal yang disambarnya dari ranjang ke arah Rathyan, yang segera ditangkis pemuda itu, .. seraya bergegas keluar dari kamar.
"Kau--ckckck .. " Dave mengerak-gerakan telunjuknya di depan Rathyan. "Menyinggung perasaan noona lagi. Selalu begitu .. " Dia mengeleng-gelengkan kepala seraya memutar badan berlalu dari kamar itu, .. meninggalkan Rathyan sendirian dengan Carlson.
ooooOoooo
Rathyan menoleh dan menatap Carlson sekilas, .. kemudian menyambar bantal dan selimut dari ranjang, untuk kemudian menghempaskannya ke lantai. Lalu tubuh jangkungnya dijatuhkan begitu saja di atas selimut, sambil menerawangkan pandangannya ke langit-langit kamar.
Setelah keheningan yang cukup lama ...
"Tuan Jang, .. tidur di ranjang saja. Biar saya yang tidur di lantai .. ," tawar Carlson sembari bergegas bangun dari ranjang.
"Tidak perlu!" sahut Rathyan ketus.
"Tapi .. " Carlson berusaha membantah, tapi segera diputus Rathyan.
"Sudah kubilang tidak perlu!!" tukasnya sembari memutar tubuh membelakangi Carlson. Matanya ditutup rapat-rapat, berusaha mengatur pernafasannya yang memburu, .. berharap dengan tindakan ini emosinya dapat diredakan. Namun dia percaya, dan bahkan sangat yakin--kemarahannya tidak mungkin sirna sebelum Daze menjelaskan semua masalah di antara mereka.
Carlson terlihat menghela nafas, ... Melihat punggung tegap yang sedang membelakanginya di atas lantai, akhirnya dia mengangkat pundak menyerah. Carlson naik kembali ke atas ranjang, untuk kemudian menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Pikirannya masih bertaut dengan masalah yang terjadi beberapa jam yang lalu, sampai alam mimpi perlahan merayap masuk ke pikiran bawah sadarnya.
ooooOoooo
Sekitar jam setengah duabelas malam, ponsel di atas meja membangunkan Tuan Park dari tidurnya. Masih dengan pikiran menerawang, asisten pribadi itu meraih ponsel tersebut dan meliriknya dengan mata dipicingkan. Tubuhnya langsung menegak begitu melihat nama yang terpampang di layar ponsel.
"Anyongheseyo, pak presiden!" Kesadarannya pulih sudah.
"Tuan Park, bagaimana?" tanya suara di seberang, tanpa basa basi lagi.
"Beres ... ," jawab Tuan Park ragu-ragu.
"Beres?" Oliver Jang terdengar tertawa sengau. "Rencana kerjasama dengan Aussie Land sampai saat ini belum dimulai dan kau bilang beres?"
Tuan Park tercekat. "Eh--sosoengmida, pak presiden .. ," ujarnya gentar.
"Kau tahu apa yang paling tak kusukai, Tuan Park?" Oliver kembali melancarkan pertanyaannya dengan nada dingin.
"Maafkan saya, pak .. ," kata Tuan Park penuh penyesalan.
"Saya paling tidak suka dibohongi!!"
"Ya, saya mengerti pak presiden ... "
"Rath yang membatalkan meeting itu, iya kan? Ada apa sebenarnya?" tanya Oliver datar.
"Doronim ada urusan penting .. ," jawab Tuan Park setelah terdiam beberapa menit.
"Urusan penting? Apa itu?"
"Ada sahabatnya yang menikah .. Dan doronim sudah berjanji untuk menghadirinya ... "
"Dan itu semua lebih penting dari masalah pekerjaan?!!" tukas Oliver berang.
"Sosoengmida. Ini salahku .. ," sahut Tuan Park pelan.
Beberapa menit keheningan menyelimuti mereka. Tuan Park menunggu dengan sabar perintah selanjutnya dari seberang.
"Ah--sudahlah!" Akhirnya Oliver berkata. "Semua sudah terjadi. Pastikan Rathyan tidak keluar batas, Tuan Park. Setelah acara pernikahan itu, desak dia ke Aussie dan teruskan perundingan yang tertunda!"
"Ne .. ," jawab Tuan Park nurut.
"Satu hal lagi, Tuan Park!" lanjut Oliver setelah sempat terdiam beberapa detik.
"Ne?"
"Saya akan terbang ke Perth setelah semua urusan di sini beres. Jenny sudah merengek-rengek pada ayahnya supaya diijinkan menyusul Rath. Dan saya tidak ingin rencana semula berantakan gara-gara tingkah lakunya yang sembarangan itu, araso?"
"Ne, .. " Tuan Park menganggukan kepalanya walaupun sadar Oliver tidak mungkin melihat tindakannya itu. "Ada perintah lain, pak presiden?"
"Aniyo!" sahut Oliver. "Segitu aja! Dan ingat, jangan lengah! Rath biasanya susah diatur kalau sudah dipaksa .. "
"Agashimida .. "
Tuan Park meletakan ponselnya setelah terdengar suara 'tuttt' panjang dari seberang. Dia menghela nafas, .. sepertinya, perseteruan ayah dan anak ini akan semakin panas saja.
ooooOoooo
Pesta pernikahan Dave dan Natalie diselenggarakan secara sederhana di ballroom sebuah hotel kecil yang terletak di sudut kota Perth keesokan harinya. Para tamu yang diundang tidak banyak, dan sebagian dari mereka berasal dari rekan kerja dan sahabat-sahabat dekat kedua mempelai. Sedangkan sebagian lagi berasal dari keluarga masing-masing.
Dave dan Natalie terlihat menawan dalam balutan pakaian pengantin warna putih. Wajah mereka berseri-seri mendapat restu dan doa dari para undangan. Apalagi ditambah kehadiran buah hati mereka. Daze mengendong Cherryl dan membawanya berkeliling sambil mengenalkannya kepada orang-orang dalam ruangan. Dan ajaibnya, si kecil yang biasanya rewel itu seperti mengerti bahwa hari itu hari yang sangat bermakna bagi kedua orangtuanya. Sepanjang acara tersebut, dia tidak merengek sedikitpun, bahkan setiap dipanggil, si mungil itu tersenyum manis sambil memperdengarkan suara malaikatnya yang membuat orang-orang cekikikan.
Acara sudah mendekati pertengahan, dan para undangan mulai menikmati hidangannya ketika Dave mendekati Rathyan yang sedari permulaan acara menyandar di dinding dekat pintu.
"Hey--bro!" sapa Dave seraya melayangkan tangannya--meninju pelan dada Rathyan.
Rathyan tersenyum hambar. "Hy--," balasnya. "Congratulation for you wedding .. "
"Thanks .. ," sambut Dave hormat, selanjutnya dia tertawa lebar. "Terimakasih karna sudah menyisihkan waktu menghadiri pernikahanku. Saya benar-benar menghargainya. Dan satu hal lagi--thanks for your present. I'm really like it ... "
"Bagus jika kau menyukainya .. ," ujar Rathyan lirih. Lalu dia meneguk wine di tangannya, sampai habis setengahnya.
"Come on! Ferrari terbaru, Man--siapa yang tidak menyukainya?!" tukas Dave.
Kembali Rathyan menyunggingkan senyum datarnya.
"Kenapa?" Dave bersuara lagi begitu melihat paras Rathyan. "Kau kelihatannya mengkhawatirkan sesuatu?"
Rathyan mengangkat lalu menghabiskan winenya dengan sekali teguk, .. diletakannya gelas di tangannya ke atas meja, setelah itu perhatiannya beralih ke tengah ruangan. Dave melihat itu, sehingga ikut mengalihkan perhatiannya--mengikuti arah pandang Rathyan. Dia menghela nafas begitu melihat Daze, noonanya, sedang mengendong putrinya bersenda-gurau dengan seorang undangan.
"Ada masalah dengan noona?" tanya Dave.
Rathyan berpaling padanya, tapi tidak bersuara.
"Benar kan dugaanku?" tanya Dave kembali, seraya berusaha mengendalikan keadaan dengan menyunggingkan senyumannya. Dia takut membangkitkan emosi Rathyan. "Terjadi sesuatu antara kalian?"
Rathyan mengerutkan alis perlahan, lalu .. lambat-lambat membalikan pandangan ke tengah ruangan. Dia tidak menjawab.
"Aku tahu kau tidak akan menjawabnya .. ," kata Dave lebih lanjut. "Aku menanyakan ini, juga tidak mengharapkan jawaban darimu .. " Lalu pengantin pria itu mengelus dagunya, seolah berpikir bagaimana caranya melanjutkan pembicaraan ini. Dari dulu, teramat susah memang--berbicara hati ke hati dengan Rathyan. Dibutuhkan kesabaran yang teramat sangat buat menghadapi sahabatnya yang satu ini. Sikapnya lebih susah dihadapi daripada dirinya sendiri, yang dirasanya sudah lebih sukar dari orang lain.
"Hmm--sudah berapa lama kita saling mengenal?" ujar Dave kemudian. "Hampir dua tahun ya?"
Rathyan meliriknya, lalu berpaling kembali ke depan.
"Tapi aku tetap tidak memahamimu sama sekali ... ," sesal Dave sambil mengelengkan kepalanya. "Sejak kepergianmu setahun yang lalu, aku berpikir .. Apa yang kuketahui tentangmu? Keluargamu, asal-usulmu, apa yang kau pikirkan--TIDAK ADA! Selain kecintaanmu pada seni, tidak ada lagi yang kuketahui tentang dirimu .. "
Terdengar Rathyan menghela nafas, tapi pemuda itu tetap tidak mengeluarkan suaranya.
"Karena itu, aku berusaha mengulang kembali apa yang sudah kita jalani selama setahun itu .. ," lanjut Dave. "Dan kau tahu tidak apa yang kudapat? Aku menyadari satu hal, .. ternyata kau sudah melakukan banyak sekali buat kami. ... Di mulai dari putusnya hubungan noona dan Carls hyung--kau selalu menemaninya walaupun secara diam-diam, karena kau belum dikenalnya waktu itu dan kau tidak ingin mengejutkannya, .. juga kematian halmonie yang mendadak--kau senantiasa menghibur dan menjaganya dengan penuh perhatian walaupun tidak berucap apa-apa, .. lalu apa yang terjadi padaku--kau juga yang membantuku keluar dari barang-barang laknat itu, .. dan segalanya dan segalanya--itu membuktikan satu hal, bahwa kau perduli. Kau bukan pria berdarah dingin seperti anggapan kami semula ... Kau--seorang penyayang, Rath-ssi .. "
"Penyayang?" Akhirnya Rathyan bersuara. Dia tersenyum kecut. "Apa gunanya penyayang jika dikhianati?"
"Maksudmu--noona?" tanya Dave heran.
Rathyan kembali memperlihatkan senyum pahitnya. Namun dia tidak menyahut.
Cukup sudah rasanya dia berkata-kata untuk hari ini, sekalipun pada Dave--sahabat karib satu-satunya ini.
"Kau salah, Rath-a!" tukas Dave cepat. "Kau telah salah memahami noona. Dia tidak pernah mengkhianatimu!"
"Kutahu kau akan membelanya!" ucap Rathyan malas. Tangannya bergerak dan menyambar gelas yang berada pada tumpukan teratas, kemudian meneguk anggur di dalamnya sampai habis. Setelah itu dihentakannya ke atas meja. "Saya tidak ingin membicarakan apapun yang berhubungan dengan Daze, untuk hari ini!" sambungnya ketus, seraya bergerak ke dalam ruangan.
Meninggalkan Dave yang hanya mampu mengangga di tempatnya. Seperti dugaannya semula, Rathyan sungguh-sungguh susah dihadapi.
ooooOoooo
Daze keluar dari kamarnya, .. udara terasa menusuk kala itu, perlahan dirapatkannya sweater wol pembalut tubuhnya. Dengan langkah yang agak-agak berat, Daze mengerakan kaki ke balkon belakang. Namun langkahnya terhenti seketika begitu mendapati sesosok postur jangkung sedang berdiri memunggunginya di balkon itu. Perlahan-lahan Daze menyusut sampai menempel ke pintu, lalu dia memutar tubuh dan berganti haluan, menjauh dari tempat itu.
"Daze!!"
Panggilan dari belakang menghentikan langkahnya. Daze memejamkan matanya lambat-lambat. Seakan mempunyai kekuatan yang tidak mungkin dibantah dari panggilan itu, Daze berbalik perlahan.
"Rath ... "
"Bisa kita bicara?" ujar Rathyan dengan pandangan tak berkedip.
"Yah--" Daze mengerakan pundaknya. Lalu--mau tidak mau, dia bergerak ke balkon.
Kebisuan menyelimuti mereka setelah itu. Dua postur berdiri sejajar, dengan tatapan nanar tertuju ke serpihan-serpihan salju yang diterbangkan angin. Daze merasakan udara semakin dingin. Dan tamparan-tamparan halus yang diberikan di wajahnya terasa perih. Dia melipat tangan di depan dada dan menoleh pada pemuda di sebelahnya.
"Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan, saya masuk sekarang .... " Daze bergerak, dengan maksud masuk ke dalam rumah. Tapi sebuah tarikan keras menghentikan langkahnya. Rathyan mengenggam sangat erat pergelangan tangannya, dengan posisi masih tertuju ke arah taman.
"Aku ingin mendengar penjelasanmu?"
Mata Daze melebar. "Mwo?"
"Pemuda itu?!!" sela Rathyan tajam, sambil menoleh padanya. "Jangan berpura-pura bodoh, Daze Han!! Kenapa pemuda itu bisa berada di sini? Kau yang mengundangnya?!"
Daze membalas tatapan Rathyan. Sesaat kemudian dia mengibaskan tangannya. "Bukan urusanmu!!"
"Bukan urusanku?!" seru Rathyan. Kesabarannya sudah habis sekarang. Itu terlihat dari wajahnya yang berubah garang. "Ini bagian dari kepercayaan yang kau janjikan? Bagaimana mungkin kau mengharapkan kepercayaan dariku setelah kau sendiri merenggut kepercayaan itu?!!"
"Merenggut?" Daze menjadi berang. Sungguh, sangat capek rasanya kalau setiap hari harus beradu mulut dengan pemuda ini. "Apa kau juga mempercayaiku? Belum apa-apa, kau sudah marah-marah tak karuan, .. lalu apakah ini yang kau namakan kepercayaan? Kau terlalu egois, Rathyan Jang!!"
"Siapa yang egois?" Rathyan membelalakan matanya. "Demi pemuda itu--kau bertengkar denganku?!" lanjutnya emosi. "Kau tidak berubah, Daze Han! Dan kau tidak mungkin 'pernah' akan berubah!"
"So do you, Mr. Jang!!" teriak Daze.
"Okay!!" balas Rathyan keras. "Up to you!!"
Mereka saling bertatapan dengan emosi meluap-luap. Wajah Rathyan menjadi merah padam. Begitu juga Daze, .. kulitnya yang putih semakin merah akibat darah yang sudah naik sampai ke ubun-ubun. Selama hampir lima menit mereka tidak bergerak, .. ataupun bereaksi--sedikitpun.
Sampai ... Mendadak Rathyan meraih pinggang Daze, dan menarik tubuh mungilnya kearahnya. Daze terperanjat, dan berupaya memberontak .. tapi percuma karena rangkulan Rathyan teramat erat. Tangan kekar itu tidak bergeming walaupun kepalan tangan Daze sudah berkali-kali dihantamkan ke dadanya.
"Kau mau apa?!!" teriak Daze. "Lepaskan aku!!"
Buk, buk, buk, ... Daze yakin dada bidang itu sudah memerah. Walaupun pakaian yang dikenakan Rathyan cukup tebal buat mengusir aura dingin di musim yang membeku itu, namun pukulannya tidak bisa dianggap enteng. Dia sudah mengerahkan segenap kekuatannya, karna cuma satu yang dipikirkannya saat ini--Dia ingin melepaskan diri, .. muak rasanya mendapat perlakuan kasar seperti ini.
Namun lingkaran tangan Rathyan menahannya. Pemuda itu tidak bergeming sedikitpun. Matanya juga tidak berkedip ketika pukulan-pukulan Daze mendarat di dadanya, .. seolah urat rasanya sudah mati. Dia tidak merasakan apa-apa, .. jangankan sakit, ngilu saja tidak!
"Lepaskan aku!!!" Daze masih terus meronta.
Dan yang terakhir, telapak tangannya mendarat dengan keras di pipi Rathyan. Plakkk!!
Daze mengangga--tidak menyangka tamparannya meleset sejauh itu. Pipi Rathyan memerah sudah.
"Oh--" Daze menutup mulutnya.
"Kau muak padaku?!" Seolah tidak terjadi apa-apa padanya, Rathyan bertanya dengan mata berkilat-kilat. Dia sangat marah. Ya, dia sangat murka saat ini. Bukan akibat tamparan Daze--tapi karna dia merasa dipermainkan. Semua pemberontakan gadis ini seakan menunjukan padanya bahwa dia tidak lebih penting dari pemuda itu, Carlson Kim. "Apa sebenarnya yang kau pikirkan, Daze Han?!!"
Rathyan mendorong Daze sampai menempel ke dinding. Menekannya sampai tidak bisa bergerak, untuk kemudian menguncinya dengan sepasang tangan. Ditariknya wajah gadis itu ke arahnya, kemudian .. tanpa memberi kesempatan pada Daze untuk menolak, dilumatnya bibir gadis itu dengan kasar.
Daze berusaha meronta dan mendorong tubuh jangkung itu ke belakang. Namun, tentu saja tidak berhasil. Seperti kesetanan, Rathyan terus melahap bibirnya--sampai terasa perih. Dirasakannya gigi-gigi pemuda itu mengiris bibirnya, dan bagian dalam mulutnya. Kemudian cumbuan laknat itu menurun ke lehernya. Lidah kasar itu menjilatinya sampai basah, bermain dari atas ke bawah. Daze terisak perlahan. Namun Rathyan tidak menghentikan kelakuannya. Desahan nafasnya yang memburu terdengar jelas oleh Daze.
"Segitu muaknya kah?" tanya Rathyan di sela-sela telinga Daze.
Daze mengerakan kepala perlahan-lahan sampai bertemu langsung dengan tatapan redup Rathyan. Dia membuka mulut bermaksud menyahut pedas, tapi tidak ada suara yang keluar. Seolah ada kekuatan yang menahannya untuk tutup mulut. Hatinya teriris kini. Penolakannya ternyata meninggalkan dampak mengejutkan terhadap Rathyan. Pemuda itu terlihat terguncang, .. pandangan itu--begitu ... begitu rapuh dan pedih.
"Pemuda itu lebih pen ... "
Pertanyaan Rathyan tidak berlanjut karena Daze sudah meraih bibirnya. Mata pemuda itu melebar, .. tidak menyangka mendapat balasan mendadak dari Daze. Apalagi gadis itu sudah mulai melumat bibirnya, bermain dengan ahli dan bergelora. Bibirnya disesap dengan begitu erat. Rathyan melihat mata Daze terpejam, .. desahan-desahan halus keluar dari bibir mungilnya. Rathyan ikut memejamkan mata, ... Ciuman itu pun berlanjut kembali, .. namun bukan dari sebelah pihak kali ini. Keduanya kelihatan begitu menikmati, ... tanpa menyadari sepasang mata tengah memperhatikan mereka.
Daze melingkarkan tangannya ke leher Rathyan. Kakinya berjinjit sehingga lumatan-lumatan mereka lebih leluasa. Rathyan memindahkan ciuman-ciumannya ke segala area--baik itu bibir, hidung, jidat, dagu, maupun leher, tidak luput dari permainannya. Erangan-erangan kecil pun terus-menerus terdengar dan membanjir dari balkon kecil itu.
Rathyan menyusupkan tangannya ke balik sweater Daze, mengelus halus punggungnya, lalu berpindah ke depan dan meraba perutnya, terus naik ke atas sampai menyentuh bagian dada yang membusung. Tanpa melepas cumbuan-cumbuannya pada bibir Daze, disentuh dan agak ditekannya bukit dada itu. Daze menjerit tertahan.
"Ahh--"
Tangan Rathyan bergerak lebih nakal lagi, menyisip masuk ke balik bra yang dikenakan Daze, lalu meremas dada yang menonjol itu--memberi sentuhan dan sensasi yang luar biasa bagi gadis itu. Sampai Daze tidak tahan dan segera memeluk dan merangkul erat-erat tubuh jangkung Rathyan sampai terasa susah bernafas.
Di tengah-tengah permainan yang panas itu, tiba-tiba Rathyan melonggarkan pelukannya dan menekan tangan Daze hingga terlepas dari tubuhnya. Si pengutit yang sejak tadi berdiri kaku di balik pintu juga bergerak sedikit dari posisinya. Mungkin takut ketahuan, perlahan dia mundur dan berlalu dari situ.
Rathyan mengangkat tangan dan menyentuh wajah Daze dengan tatapan redup yang jatuh tepat ke matanya.
"Haruskah aku melepasmu?" tanya Rathyan halus. Suaranya berupa desahan dan sangat pelan. " .. tapi, jika kubiarkan kau pergi--aku tidak akan pernah tahu sampai di mana hubungan ini .. ," lanjutnya sambil mengeleng perlahan. "... dan sungguh--aku tak menginginkan itu ... ," Lalu diangkatnya wajah Daze dan ditatapnya dalam-dalam, seolah meminta keyakinan dari gadis itu. "Dapatkah kau menunjukan jalan keluarnya padaku, Dazya?"
Daze tertegun--sungguh, dia tidak pernah menyangka akan mendapat pertanyaan seperti ini dari mulut seorang Rathyan. Sejujurnya, pertanyaan ini juga termasuk dalam rentetan pertanyaan yang ingin ditanyakannya sejak dulu--
apa jadinya jika dia membiarkan dan merelakan Rathyan pergi? Apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya? Akankah kehidupan mereka lebih baik dari sekarang atau sebaliknya? Mungkinkah dia dapat melihat Rathyan tersenyum kembali?
DIA TIDAK TAHU, jadi .. bagaimana dia bisa menjawab pertanyaan itu?
"A .. aku tidak tahu ... ," jawab Daze sambil menghela nafasnya. "Aku sungguh-sungguh tidak tahu ... " kemudian dia mundur perlahan. " ... jangan mendesak ku .. "
Daze memutar tubuhnya, .. dengan agak sempoyongan dia berlalu dari hadapan Rathyan, .. meninggalkan pemuda itu terhempas memprihatinkan di dinding kelam yang dingin nan beku. Rathyan memejamkan matanya. Ketika dibuka kembali, sepasang mata itu sudah berkabut, beriak-riak yang akhirnya membentuk dua titik air yang menuruni sepanjang pipinya ... hatinya terasa perih dan menyayat. Dia tidak habis pikir ... kenapa bisa begitu.
ooooOoooo
Daze sedang menuruni anak tangga dengan pikiran melayang ketika panggilan halus terdengar dari belakangnya.
"Dazya ... "
Layaknya orang linglung, Daze menoleh. "Carls ... ?" balasnya lirih.
"Mau ke mana?" Carlson menghampirinya sampai mereka berdiri sejajar.
"A .. aku .. " Daze melirik ke segala arah, namun tidak tahu bagaimana untuk melanjutkannya.
"Jangan menghindar lagi!" tukas Carlson cepat.
Daze mengangkat kepalanya. "Dhe?"
"Kataku--jangan menghindar lagi? Sebenarnya, apa yang kau takutkan?"
"Hah--?" Daze melebarkan matanya, makin tidak mengerti arah pertanyaan Carlson.
"Aku melihat segalanya .. " Carlson terlihat menghela nafas.
"Mwo?" Alis Daze berkenyit. Sungguh, perkataan-perkataan Carlson makin membingungkan.
"Ciuman kalian .. tadi ... ," ujar Carlson kemudian.
"Oh!" Daze mengambil nafas dalam-dalam seraya menghembuskannya. Semburat merah mulai mewarnai sepasang pipinya, sampai menyentuh ke cuping hidungnya yang bangir.
Adegan tadi terlihat Carlson? Memalukan sekali ...
, begitu--pikirnya.
"Mian, .. aku tidak bermaksud menguntit. Tadi hanya berniat mencari udara segar di balkon belakang, dan tidak sengaja melihat perdebatan kalian, dan ... "
"Ne .. " Daze segera memutus perkataan Carlson. Wajahnya makin memerah saja.
"Jadi--bisa jawab pertanyaanku, Dazya?" tanya Carlson kemudian, sembari menatap Daze lekat-lekat.
"Mwo?"
"Apa yang kau takutkan?"
"Aku?"
"Ya .... "
Daze terlihat menghela nafas, beberapa saat kemudian dia mengelengkan kepalanya. "Entahlah ... Mungkin status seperti yang pernah dikatakan halmonie .. " Kepalanya menunduk perlahan.
"Status?" Carlson mengenyitkan alisnya. "Maksudmu?" tanyanya tak mengerti.
"Aku tidak tahu!" tukas Daze dengan nada dikeraskan. "Jangan tanya lagi. Aku sungguh tidak tahu!" Sambil merentangkan tangannya, dia berbalik dan melangkah ke bawah.
"Dazya!!" seruan Carlson terdengar kembali. "Apa kau mencintainya?!"
Langkah Daze terhenti seketika itu juga.
"Aku tidak pernah melihatmu bercumbu seperti itu. Selama hubungan kita, kau tidak pernah seagresif dan seliar itu .. " Carlson menghampiri sampai berhadapan dengan Daze. "Jadi katakan padaku sejauh mana perasaanmu padanya!"
"A .. aku ... "
"Apa kau mencintainya?"
Daze tidak bersuara.
"Tidak?"
Sekali lagi, kebisuan yang didapat Carlson.
"Atau hanya nafsu yang berbicara? Karna kau belum pernah mendapat perlakuan seperti itu jadi kau terbuai dan menikmatinya?!"
"Bukan begitu!!" jerit Daze tiba-tiba. "Kau tidak mengerti apa-apa!!!"
"Jadi?" Carlson menatapnya tak berkedip. "Bagaimana perasaanmu?" tanyanya paksa.
"Aku mencintainya!!" Setelah sekian lama, akhirnya kata-kata itu melesat dari mulut Daze.
Ya--Dia mencintai Rathyan, dan ini kenyataan. Mengapa harus sengan mengakuinya?
Tanpa Daze sadari, Carlson mengulum senyum tipis. Walaupun hatinya terasa perih, namun dia bahagia mendengar pengakuan gadis itu. "Lalu kenapa tidak kau ungkapkan?"
"Aku?" Daze terbelalak.
"Ne .. ," jawab Carlson.
"Tapi kenapa harus aku?" ujar Daze gusar.
"Kenapa tidak?" kini balik Carlson yang bertanya.
"Aku seorang wanita, Carls-a!"
"Lalu apa masalahnya?" lanjut Carlson enteng.
"Mwo?"
"Apa cinta memandang hal itu?" tukas Carlson. "Kenapa harus mempermasalahkan siapa yang memulainya lebih dulu?"
"Karna aku seorang wanita!" sahut Daze tegas. "Aku memerlukan pengakuan dan keyakinan--hanya itu!!" katanya sambil memalingkan wajah ke arah lain.
"Bagaimana jika selamanya dia tidak mampu memberi pengakuan dan keyakinan itu? Apakah kau akan menunggunya seumur hidup?" tanya Carlson kembali.
Daze tercekat. Pertanyaan Carlson mengetarkan hatinya.
Benar--bagaimana jika Rathyan tidak mampu memberikan pengakuan yang diinginkannya selama ini? Apakah hubungan mereka akan begini terus, seumur hidup? Terombang-ambing tanpa menemukan titik terang?--Menuju happy ending yang diimpikannya?
Berpikir sampai di sini, Daze jadi merinding.
Ending ini akan lebih mengerikan daripada ditolak langsung oleh Rathyan!
, pikirnya sambil mengambil tekad.
"Aku tidak punya kesempatan itu karna aku yang telah melepasmu terlebih dulu .. ," terdengar Carlson melanjutkan perkataannya dengan nada pelan. "Sudah terlambat bagiku, maka aku tidak berani mengharapkannya lagi .. "
"Carls ... " Mata Daze meredup. "Miane .. "
"Aku tidak apa!" Carlson mengangkat pundaknya. Lalu dia melanjutkan, "Karna itu, jangan melepas kesempatanmu, Dazya ... " Pemuda itu tersenyum lembut. "Berjuanglah sebelum kau menyesal! .. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Tuan Jang, tapi--dari pengamatanku selama dua hari sekamar dengannya, ditambah sikapnya terhadapmu, kurasa--dia juga menyimpan perasaan terhadapmu. Jadi, jangan menyerah, Dazya .. percayalah, .. Usaha keras pasti akan membuahkan hasil. Dan kejujuran merupakan inti dari semua itu .. " Carlson mengangkat tangan dan menepuk pundak Daze. "Araso, Daze-ssi?"
Daze manggut-manggut. "Kurasa, aku mengerti arah perkataanmu .. ," katanya sambil tersenyum. "Kejujuran--Akan kuusahakan ... "
"Bagus!" Carlson mengangkat jempolnya.
Daze tertawa. "Gumawo, Carls-a .. "
"You're welcome ... " Carlson lalu membungkukan badannya dengan gaya hormat.
"Ha ... ha .. , tapi aku harus pergi sekarang. Ngobrolnya kita lanjutkan nanti saja. Sampai bertemu kembali nanti malam .. " Daze memutar badannya.
"Mau kemana?" tanya Carlson.
"Ada yang mesti kuurus!" ujar Daze tanpa berbalik.
"Ok. Kalau begitu, hati-hati .. "
Daze mengangkat jari ke atas. "Beres ... "
Carlson memperhatikan punggung Daze sampai menghilang di balik lorong ruang depan.
Kelihatannya--mulai hari ini aku harus melepasmu, Dazya! Selamat tinggal, dan semoga bahagia ... Tuan Jang pasti juga mencintaimu, percayalah--Semua terlihat jelas dari sikapnya selama beberapa hari ini. Dan entah mengapa aku punya perasaan--
Carlson mengerutkan alis perlahan. Dia berpikir, dan memantapkan perasaan bahwa yang dipikirkan selanjutnya benar adanya.
setelah mengetahui bahwa kau telah mengenalnya jauh hari sebelum peristiwa genting yang dialami Korean Capital terjadi
, aku punya perasaan bahwa dialah yang berada dibalik penyelamatan perusahaan kami ....
ooooOoooo
Logged
EVIL SMILE ^^
'LOVE' ...
keeps it strong!!!
Our MinSun
Print
Pages:
1
...
136
137
[
138
]
139
140
...
252
Go Up
« previous
next »
CallMinsun
»
FANFIC
»
Regular Fanfic
»
from Seoul to ... Perth II #SPOILER# 30 Oct' 11
(Moderators:
revynska
,
Amira
) »
Message #33061