Author Topic: LOVE : "WHAT'S HAPPENING?" update 17 oktober  (Read 17647 times)

Offline voldi

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1051
  • Location: Indonesia
    • View Profile
Sekuat tenaga Min Ho dan Hyung Joong mengangkat karung-karung pasir itu ke atas reaktor. Hanya ini yang bisa dipikirkan Min Ho mengenai cara pencegahan tingkat radiasi yang semakin meluas. Sudah hampir lima jam ia dan pekerja lain berkerja sama menutup bagian atas reaktor dengan karung-karung pasir. Sedangkan dari atas kepala mereka pesawat-pesawat terus menyiramkan air dengan debit yang tidak sedikit. Beruntung pakaian standar kerja yang mereka pakai bisa melindungi mereka dari terpaan air-air itu.

Setelah menguras tenaga yang tidak sedikit akhirnya pekerjaan itu selesai juga. Mereka semua hanya bisa berharap semoga timbunan pasir-pasir itu bisa mencegah—atau setidaknya memperlambat radiasi yang semakin menyebar.

“Min Ho—ssi, Min Ho—ssi.”

Min Ho yang sedang berbicara dengan Hyung Joong berbalik. Keningnya berkerut melihat salah satu pekerjanya berlari kearahnya dengan panik.

“Wee?”

“A—ano...itu...disana...” pekerja itu terengah-engah menjelaskan situasinya pada Min Ho.

Hyung Joong yang berada di belakang Min Ho maju dan menepuk pelan punggung pekerja itu. “Ne Hang In—ssi, tarik napas dulu. Setelah itu bicaralah.”

Hang In menurut. Perlahan di hirupnya napas dalam-dalam dan dihembuskannya, membuat partikel-partikel udara kecil membentuk uap dan membekas di penutup kaca yang dipakainya.

Setelah merasa tenang barulah ia bersuara. “Min Ho—ssi, dua pekerja ditemukan tewas di reaktor tiga, tepat disamping ladang bayam.”

“MWO?” Hyung Joong dan Min Ho berteriak dengan suara keras sehingga beberapa pekerja yang masih ada disekitar mereka mendekat.

“Ada apa Min Ho-ssi?” tanya salah satu pekerja itu.

Min Ho tidak menjawab. Otaknya tiba-tiba stuck. Reaktor tiga? Samping ladang bayam?

Apa itu berarti...


A 2011 Minsun Fanfiction

Starring

Lee Min Ho
Goo Hye Sun

Kim Hyung Joong
Lee Min Jung

Kim Sang Bum
Kim So Eun

DEDICATED TO
FUKUSHIMA “50” AND FAMILY
KOMUNITAS CM YANG SUDAH MEREVIEW CHAP SEBELUMNYA


Ketika kesempatan itu datang lagi...

Tuhan memilihmu...

Berlari menangkap udara dengan tangan kosong

Dengan semua resiko yang kau tanggung

Ketika kesempatan itu datang lagi...

Sesungguhnya

Semua ini hanyalah sebuah permulaan



INCEPTION © VOLDI



PART 1
[/size][/color]

Ryuu melihat ibunya lagi-lagi menangis. Tapi tenda pengungsian yang ribut mengalahkan isak tangis ibunya. Rhea, adik kembarnya, juga ikut-ikutan menatap ibunya. Sedetik kemudian ia berpandangan dengan kakaknya, ingin ia tanyakan, ‘Kak, kenapa omma menangis?’ tapi kalimat itu tertahan di ujung lidah ketika melihat pandangan kakaknya yang seolah mengatakan ia juga tak tahu. Keduanya kembali mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu tenda—tempat dimana ibu mereka sepanjang hari terus duduk, menunggu ayah mereka kembali.

Kaki kecil Rhea melangkah mendekat ke arah ibunya. Tangan mungilnya dijulurkan, ingin menyentuh paha ibunya.

“Omma.”

Hye Sun tetap terpaku. Matanya seakan terkunci di depan sana—jalan raya yang mulai padat oleh kenderaan pengangkut bahan-bahan untuk pengunsi. Berharap suaminya, pemimpim reaktor satu PLTN Fukushima turun dari salah satu mobil itu dan berlari kearahnya dan memeluknya dengan erat.
Rhea terdiam. Tangannya perlahan diturunkan kembali. Ia lalu berbalik menatap kakaknya.

“Oppa.”

Ryuu akhirnya tersenyum juga. Ditariknya pelan tangan Rhea.

“Kita main saja. Omma lagi menunggu appa.”

Rhea mengernyit bingung, “Ne? Memangnya appa kemana?”

Ryuu terdiam. Dia bingung harus menjawab apa pada adiknya.

“Appa lagi kerja, sayang. Melindungi orang-orang disini.”

Kedua kembar itu mengalihkan pandangan mereka ke arah Hye Sun yang sekarang tengah memandang mereka dengan senyum. Hanya sebuah senyum datar tanpa cahaya. Bukan sebuah senyum yang biasa mereka dapatkan ketika mereka tiba di rumah.

“Melindungi orang-orang?”

“Ne.” Hye Sun kemudian berdiri dari duduknya dan menghampiri mereka. Ia berjongkok menyamakan tingginya dengan tinggi Rhea, pelan diusapnya puncak kepala anak perempuan itu. “Appa kan orang baik, jadi appa harus melindungi orang-orang disini. Makanya, Rhea jangan nakal ya, nanti appa sedih. Araso?”

“Ne.”

“Nah sekarang, Rhea main dulu sama oppa sama teman-teman yang lain. Nanti kalau Rhea lapar, bilang saja sama bibi Jung. Rhea kenal bibi Jung kan? Yang semalam.”

“Ne.” Dan dengan semangat sambil bergandengan tangan dengan Ryuu, anak itu pergi berlari keluar tenda.

Sepeninggal kedua anaknya, Hye Sun kembali ke tempatnya semula. Kembali memandang hampa ke depan.


OoO
[/size][/color]

Min Jung dan So Eun sedang asyik bercengkrama ketika Hye Sun datang menghampiri mereka. Mereka berdua tersenyum kearah sahabatnya itu. Sejak suami-suami mereka pergi melawan maut di PLTN sialan itu, ketiganya menjadi sangat tertutup dengan lingkungan disekitar mereka. Mereka bertiga hanya mau berkomunikasi dengan sekitarnya jika perlu. Diluar itu, mereka bertiga seakan dikelilingi baja.

“Bagaimana kabar anak ini? Tidak nakal kan?” ujar Hye Sun sambil membelai perut buncit So Eun.

So Eun ikut membelai perutnya dengan lembut. “Akhir-akhir ini dia sangat nakal, bibi. Dia sering menendang perut ibunya dengan sangat keras.” Ujarnya dengan intonasi suara mirip anak kecil.

Ketiganya kemudian tertawa pelan. Hye Sun lalu beralih ke Min Jung.

“Hyung Joong sudah menghubungimu?” tanyanya serius.

Raut wajah Min Jung perlahan meredup. Ditatapnya Hye Sun dengan lemah, “Anyi.” Jawabnya singkat.

Hye Sun mengangguk pelan. Ia kemudian tersenyum. Dengan lembut ditepuknya pundak Min Jung dan So Eun. “Sabar saja. Mereka pasti akan selamat.”

Setiap berkata seperti itu, jauh didalam sana, Hye Sun merasa remuk. Hatinya semakin rapuh setiap detiknya. Sebuah doa dipanjatkannya ke Yang Kuasa.

Min Jung dan So Eun tahu. Hye Sun berkata seperti itu hanya untuk menguatkan dirinya sendiri. Mereka berdua tahu, Hye Sun lebih rapuh dan lebih lemah dibandingkan mereka jika sudah menyangkut suami mereka. Mereka sangat tahu bahwa cinta Hye Sun begitu besar untuk Min Ho.

Keheningan yang menyelimuti mereka terpecah oleh suara desingan. Ketiganya kemudian menoleh. Seorang polisi datang tergopoh-gopoh menghampiri ketiganya.

“Andakah yang bernama Nyonya Kim?” tanyanya pada So Eun.

So Eun mengangguk. Sebuah desiran halus merayap dihatinya membuat bulu kuduknya merinding. “Ne. Ada apa?”

“Suami Anda, Kim Sang Bum ditemukan tewas di sekitar reaktor tiga pagi ini pukul 9. Jasadnya sekarang berada di rumah sakit distrik 3. Anda ingin melihat jasadnya sekarang?”

Dan saat itu juga, ketiga wanita itu merasa dunia mereka runtuh. Sejalan dengan teriakan panik dari sekitar mereka, So Eun terjatuh pingsan ke pelukan Hye Sun.


TBC
[/size][/color]

Dilanjutkan ntar, kalo lagi ada waktu dan ide dan mood dan lappi dan mood dan lappi dan mood dan pizza dan minho dan mood dan ide dan pulpy dan mood dan mood lagi dan mood lagi (sangat terlihat bahwa segala sesuatu itu dipengaruhi oleh mood)
Me, Myself, and I. DON'T DISTURB ME