Author Topic: "Thousand Year's After" [Chapter 2, Update 25 July 2011]  (Read 6605 times)

Offline Freesia

  • Hero
  • *****
  • Posts: 1547
  • ♥ sunnies ♥ minsuners ♥
    • View Profile

   



Additional Cast



Big Sonsaengnim Of White Lotus




Goddess Of Fertility



"Disini….. di Pondok inilah kami  tinggal, tempat bunga bermekaran, tempat dengan sejuta senyuman yang indah, tak ada kekhawatiran,  tak ada berprasangka, hidup damai berdampingan,
berharap melupakan Masa lalu yang seperti asap… hilang dan tak kan kembali…”


Padepokan White Lotus

Musim semi yang menyegarkan, bunga bermekaran di dalam istana, di setiap sudut kota,di setiap hati siapa saja.
Angin barat telah berhembus, memberikan untaian kesegaran di setiap kupu yang beterbangan.

Silla adalah sebuah Kerajaan yang dianugrahi kekayaan dan kemakmuran, cuacanya tidak terlalu dingin ataupun panas.
Sumber daya alamnya melimpah, dan barang-barang yang dibutuhkan, tersedia di setiap pelosok pasar di setiap kota.

Rakyat yang loyal dan setia pada Yang Mulia Raja, meski tampak kelelahan,senyum bahagia dan semangat terilhat jelas di wajah mereka.
Sungguh Kerajaan dengan sejuta pesona.

Nun jauh di sudut ibukota, dilereng Pegunungan Gyeongju , di balik sebuah bukit yang curam dan terjal.
Sebuah Padepokan  dengan beribu bunga lotus putih, bermekaran di setiap sudut tempat itu.
Tempat yang indah, orang tidak akan pernah menduga di tempat terpencil seperti itu, ada karunia Tuhan yang begitu indah-nya.




Di lihat dari dekat-pun tidak akan terlihat, karena tempat ini di kelilingi tebing yg curam dan terjal.
Pondok utama berdiri dengan kokohnya di depan gerbang padepokan, bunga lotus putih mekar dengan indahnya di sisi kanan, kiri, dan sudut sudut pendopo.
Memberikan perasaan yang nyaman bagi siapapun yang tinggal di sekelilingnya.




Di belakang pondok  utama, menyusuri jalan sepintas, berderet – deret pondok kecil tempat murid murid padepokan tinggal.

Sementara itu sedikit jauh dari pondok utama, di sayap kanan di tengah lapang yang luas, murid murid sedang  berlatih, sejauh mata memandang hanya terlihat murid laki-laki.

Tiap kelompok di pandu oleh seorang sunbae senior, beberapa tahapan latihan di lalui mereka dengan semangat tanpa mengeluh sedikitpun.

Berjalan sedikit ke sayap kiri tanah lapang, di bawah naungan rindangnya pohon pine sebuah bangsal dengan bangunan terbuka, tanpa jendela hanya dihiasi empat sisi  balkon kayu warna mahogany, memberikan kesan teduh bagi siapapun yang sedang ada didalamnya.

Di dalam bangsal beberapa murid sedang menerima pelajaran ,Sang guru besar Eleanor  Sonsaengnim, begitu murid-murid biasa memanggil , sedang memberikan petuah kehidupan pada sebagian murid-muridnya.
Sebuah kitab warna kuning  terbuka  di depannya diatas meja kayu kecil .

Murid yang sedang mengikuti pelajaran ini hanya sekitar sepuluh siswa, karena yang lain sedang berlatih ilmu kanuragan bersama para senior.

Empat orang murid duduk paling depan, kelihatan berbeda dengan yang lainnya, Tiga pemuda yang tampan dan satu gadis kecil menginjak  remaja mendengarkan dengan seksama.
 
“Pada Buku I : Xue Er Bab 16,” terdengar Eleanor Sonsaengnim dengan suara khas yang penuh wibawa mulai memberikan petuah pelajaran tentang Ahlaq Kehidupan pada sebuah Pemerintahan.
Pelajaran Ahlaq tiap hari mengambil tema yang berbeda-beda, sesuai dengan topic yang sedang berkembang di masyarakat.

“ Di dalam kitabnya Confucius berkata : Jika rakyat diatur oleh hukum, dan tata tertib diterapkan dengan ancaman hukuman, maka rakyat akan berusaha menghindari perbuatan yang salah, tapi mereka berbuat seperti itu hanya karena ingin menghindari hukuman, bukan karena memiliki rasa malu telah berbuat salah.” Lanjut Eleanor Sonsaengnim.

“ Shilla…,”panggil Eleanor Sonsaengnim pada pemuda yang duduk di deretan depan paling kiri.

“ Dheee Sonsaengnim ,”jawab pemuda yang bernama Shilla sembari mengangguk hormat.

“ Bagaimana menurutmu, apa ada pandangan lain?” Tanya Eleanor Sonsaengnim sambil menutup buku kitab di depannya.

“ Alangkah baiknya jika rakyat diatur oleh pemerintahan yang baik dan bermoral, serta tata tertib diterapkan dengan ancaman hukuman yang selayaknya, maka rakyat akan menjadi baik, karena mereka memiliki rasa malu jika berbuat salah.” Jawab Silla dengan  tenang dan lugas.

Sesaat setelah menjawab,tanpa sadar pandangan matanya berubah kelam terpekur menatap ubin kayu bangsal.

Sampai di sadarinya sebuah tangan mungil menyentuh lembut punggungnya, “ Oppa gwenchana?” Tanya Rhea gadis mungil yang duduk di sebelahnya, tak bisa dipungkiri wajah nya menyiratkan sedikit kekhawatiran.

Sementara  dua orang pemuda yang lainnya , menatap Silla dengan pandangan memahami.

Silla tersenyum hambar ,” Gwenchanayo, ……. Omoo ……….  Ele Sonsaengnim?” tangan Silla menunjuk ke tempat dimana gurunya tadi duduk, tapi Sang Guru rupanya telah meninggalkan ruangan.

“ Sonsaengnim masih harus memberikan latihan pada sunbae “ Sahut Isaura pemuda yang paling ujung dengan tenang, terlihat paling dewasa di antara ketiga-nya,.

“ Kachaaaa, kita juga harus melanjutkan latihan kita,” saut pemuda yg satunya lagi, rambut panjang nya diikat di tengah, sembari berdiri di tarik nya lengan Isaura dan tangan Rhea untuk ikut berdiri.
Menyusul kemudian Silla berdiri diantara ketiga-nya, berempat mereka berangkulan dan serempak berucap,” Zora…Fighthing…!”…hahhahhahha  ,dengan riang mereka berlari kecil menuju selasar tempat berlatih





White Lotus, Selasar / Bangsal Latihan

Terlihat Rhea dan seorang pemuda yang dipanggil Kaylee sedang melakukan pemanasan, setelah berlari selama 90 putaran mengitari tanah luas di belakang bangsal, mereka harus melakukan tahap peregangan otot.
Sementara dua pemuda lagi sedang duduk di atas sebongkah kayu, mereka sedang terlibat dalam diskusi.

" Hyung, lebih baik aku saja yang turun tangan untuk ikut peperangan kali ini," ucap Shilla dengan sungguh sungguh.

" Kita tetap pergi berempat Shilla, kami tidak mungkin membiarkanmu sendirian,'' Jawab Isaura, sambil menatap kedua adik seperguruannya yang sedang berlatih." Kaylee kepalamu kurang menekuk ke depan, ingat harus sampai menyentuh ujung kedua kaki," teriak Isaura.

" Tapi Kaylee dan Rheaa masih harus menyelesaikan tahap akhir latihannya, aku menghawatirkan mereka."
Hyung tau sendiri di antara kita berempat, kau dan aku yang sudah berhasil mengusai kekuatan elemen itu hingga tahap akhir."lanjut Shilla memberikan alasannya.

" Neee, Rheaa tinggal selangkah lagi, untuk mencapai tahap yang akhir itu dia harus menemukan Pedang Air, sementara Kaylee masih ada 3 tahapan lagi.Ditambah dia masih belum bisa menyelaraskan antara suhu sekitar dengan kekuatan api yang digunakan,jika salah sedikit saja bisa membahayakan jiwanya.
Maka dari itu Rheaa harus senantiasa ada disampingnya. Karena elemen api dan elemen air bagaikan ying dan yang hampir tidak bisa dipisahkan."

Isaura Odessa menguasai elemen udara, sedangkan Shilla O'Shea menguasai elemen tanah, Kaylee Moria menguasai elemen api, dan si bungsu Rheaa menguasai elemen air, berempat mereka di kenal dengan sebutan "Zora" yang artinya Ketenangan. Tak ada yang tidak mengenal Zora di penjuru Kerajaan Silla. Dielu elukan dan di cintai rakyat, karena meraka mengabdi pada kaum yang lemah dan tertindas.
Berjuang untuk sebuah keadilan."




Bukit Dandelion

 “whoaaa, bintang berlimpah limpah berpendar bagai riak ombak menerangi malam, bagaikan kembang yang disulam langit,” ucap Rhea lirih, mendongak menatap langit ,sambil bersila di atas sebongkah batu besar dan tebing sebagai sandaran-nya.

“ Rhea,pandanglah langit yang bertaburan ribuan bintang itu, seperti kilauan permata, bukan?” terngiang kembali ucapan eomma nya 5 tahun silam, sebelum peristiwa naas datangnya perang laut hingga merenggut nyawa keluarga yang sangat  di cintainya, eomma, appa, dan eonni-nya.

Beruntung , sesaat sebelum  Dewa Kematian menjemputnya, Eleanor Sonsaengnim dengan gagah-nya meyerang prajurit yang siap memenggal Rhea.
Dan membawanya ke padepokan White Lotus,mempertemukan dengan keluarga barunya, sekaligus ketiga Kakak angkat yang menyayanginya.

Kala itu umur Rhea baru beranjak 11 tahun, masih terlalu pagi untuk mencerna keadaan yang sedang terjadi.

Yang masih terpatri dalam ingatan-nya, kota tempat dia tinggal bersama keluarganya di serang ratusan tentara kerajaan.

Belum mengerti sengketa apa yg sebenarnya terjadi, karena seingat nya Kerajaan Silla tempat nya tinggal adalah Negara yang damai, hidup berdampingan dengan rukun.

Satu yang diyakininya, Rakyat tidak mungkin melakukan kudeta.

“ hhhehhhhh,” Rhea menghembuskan nafasnya perlahan.

“ Bintang bintang pun mempunyai kehidupan sendiri, setiap bintang mempunyai arti dan juga menanggung takdirnya sendiri sendiri,”ucapan eomma nya kembali terngiang menghiasi lamunannya.

“ Percintaan, pengkhianatan, kematian, kelahiran, keberuntungan, kesulitan, perang, dan perdamaian, hanya orang-orang yang memahami artinya yang bisa memahami arti kehidupan,seperti bintang.”Lanjut sang eomma sambil mengelus lembut rambut Rhea.”

“ Rhea –aa,” terdengar suara yg lembut memanggilnya.

Rhea tersentak dari lamunanya dan menoleh mencari dari mana sumber suara ,” Angel-aa.” Panggil Rhea setelah tahu siapa yang datang, bergegas dia beranjak dari duduk-nya, di sambutnya tangan Angel dengan riang,meloncat loncat kecil bagaikan seorang anak yang mendapat hadiah.

“ Semoga kedatanganku tidak mengganggu semedimu,” Sapa Angel sembari membetulkan
rambut Rhea yang berkibar-kibar tertiup angin.

“ Sedang apakah? Aaaaa … sedang menghitung bintang aku rasa,” ucap Angel sambil mendongak menatap langit.

“ Angel-aa  Ayo kita jalan-jalan, bintang malam ini benar-benar tercurah dari langit,” ucap Rhea riang.

Berdua merekan berjalan di bawah pendaran cahaya bintang, menyusuri jalan setapak dipinggir bukit.

 Angel  Ekvatana , Rhea mengenalnya lima tahun silam, di bukit kecil yang berdampingan dengan padepokan White Lotus. Seorang pemuda yang cantik, dengan rambut panjang terikat bandana, pandangan matanya yang sayup memberikan keteduhan bagi siapapun yang memandangnya.
Tutur katanya lembut berirama, seperti seseorang yang bicara dari zaman yang laen.

Kadang Rhea berpikir ,” Apakah Angel seorang peri?, malaikat?, atau dewa?” sampai saat ini semuanya masih merupakan teka teki.

Jika ditanya dari mana asal nya Angel hanya tersenyum simpul dan menjawab,” Kau boleh menyebutku Malaikat , ya.. Angel si Malaikat yang baik hati , pelindung dan guardian seorang Rhea Feodhora, yang akan setia menemani Rhea dalam keadaan apapun, susah, senang, sedih dan gembira.”

“ Angel lihat, bulan sebentar lagi penuh, tapi kenapa warnanya lebih ke jingga ya?” Seharusnya cahayannya selembut warna gading?” Rhea terpekur menatapnya.

“ Ini pertanda aneh, pasti akan terjadi sesuatu,”Pandangan Angel menerawang menatap bulan seakan mencari kepastian apa yang sebenarnya akan terjadi.

“ Coba kau lihat dua rasi bintang disebelahnya,  itu adalah Uranos (Uranus) dan Poseidon (Neptunus),kedua bintang itu letaknya paling jauh dari bumi, untuk sampai ke dekat bumi harus melewati rasi bintang lainnya  Hermes (Merkurius) ,Aphrodite (Venus), Ares (Mars), Zeus (Yupiter), Kronos (Saturnus) sekarang letak  keduanya begitu dekat, ini aneh!” Gumam Angel sambil bersedekap.

“ Energi kuat Uranos dan Poseidon menyebabkan kedua kutub berpapasan, ini bisa menjadi keberuntungan atau kemalangan.” Ucap Angel sambil menoleh ke arah Rhea.

“ Jangan melihatku dengan pandangan seperti itu, hahahhahaah yang ku tahu hanya itu, selebihnya aku tidak tahu,” ucap Angel ,mata sayupnya ikut tertutup seiring tawa kecil nya yang berderai.

“ Apakah kau ahli nujum atau seorang peramal, Angel?”

“ Bukan ,” Aku hanya tahu garis besar nya saja, aku tidak tahu yang pasti.”

“ Tapi kau bisa tahu hanya dengan melihat bintang?”

“ Anhii, bukan begitu? Kalau hanya dengan melihat bintang dan mengetahui artinya, itu tidak bisa di sebut sebagai peramal sejati.”

“ Kalau peramal sejati , cukup dengan merasakan saja.”lanjut Angel menerangkan.

“ Hanya dengan merasakan saja,” gumam Rhea berusaha mencerna perkataan Angel.

Dijatuhkannya tubuhnya di rerumputan , duduk memeluk lutut sambil memandang bintang, sementara  Angel ikut duduk di sebelahnya , menatapnya dalam diam, tatapan melindungi dan menyayangi.

“ Angel-aa, tahukah kamu ,jika kulihat bintang itu aku merasa menjadi seperti bintang, bercahaya di antara yang bercahaya, di kelilingi sesama bintang yang saling menerangi seperti memberi kekuatan, seperti …….. keluarga ku sekarang ini.” Rhea terpekur menatap rerumputan di bawah kakinya.

“Oya, bagaimana khabar Eleanor Sonsaengnim dan ketiga Kakakmu?”

“ Mereka baik-baik saja, mungkin dalam waktu dekat ini, kami berempat harus meninggalkan padepokan.Ada khabar kalau Istana Kerajaan Silla akan di serang, pengurus pemerintahan dari dalam melakukan kudeta, bekerjasama dengan Kerajaan Elea yang memang notabene ingin menguasai Silla.

“ Apa kau akan ikut?”

“ Tentu saja Angel, aku harus menemani kakak kakakku, anhiii.....," Rhea sedikit mengelengkan kepalanya," tentu saja bukan hanya karena itu, ini tugas Negara yang tidak mungkin aku abaikan.”

“ Aku tahu,” Angel mengangguk mengerti, perlahan diacak nya rambut Rhea.

“ Oyaa, bagaimana kemampuan mu sekarang , apa ada kemajuan?”

‘’ Neeee,”sahut Rhea  bersemangat. " Di luar yang pernah aku bayangkan, tinggal tahap akhir dari 7 elemen air yang belum aku kuasai. “Pedang Air” , neee, aku harus menemukannya  untuk mencapai tingkatan itu.

“ Konon pedang itu ada di Lembah Acacia (Lembah berduri), di pinggir Himalaya, sebelah selatan Kerajaan Elea. Aku dengar lembah itu tak berpenghuni, dan jalan menuju ke sana sangatlah berat, penuh dengan rintangan.’’

“ Si Pedang air itu sendiri ada di Goa Hampa, goa bagi siapapun yang masuk ke dalamnya akan merasakan kehampaan yang menggalaukan jiwa dan pikiran “kosong” dan “hampa”, selama ribuan tahu pedang itu di jaga seekor hyena raksasa yang hanya akan tunduk pada pemilik pedang pasangan nya  yaitu pedang langit.”

 “ iyaa, aku juga perna mendengar nya, jadi kapan kau akan berangkat kesana?”

“ Setelah perang ini selesai, ucap Rhea sedikit ragu, dipeluknya  lutut kakinya semakin erat.

” Aku tahu dalam peperangan seperti  ada sebuah asa yang dipertaruhkan ‘’hidup atau mati’’, satu pilihan akan mewakili ke arah mana takdir ini berjalan. Bukankah hidup memang seperti ini, Angel?” Rhea mendesah , menatap langit yang masih saja berpendar dengan bintang di sekelilingnya.

" Kamu benar , karenanya nyawa itu berharga karena ada batasnya, dan batas itulah yang membuat kita berjuang.." Rheaa-aa fighting...," Digenggamnya tangan Rheaa memberi semangat.

“ aaaaaa ,”Angel seperti teringat sesuatu .” Kenapa kita tidak mencari pemilik si pedang langit saja?’’

“ Aku juga perna berpikiran seperti itu, tapi setelah aku pikir pikir, kenapa aku tidak mencobanya sendiri? Berusaha dengan kekuatanku sendiri? Berjuang untuk sesuatu yang kita inginkan adalah nilai lebih tersendiri, memberikan kepuasan yang tiada tara,” Ucap Rhea dengan senyum yang penuh semangat.


“ Neee,  si kecil Rhea akan selalu bersemangat seperti ini, aku sangat memahami itu." ......aaa sudah malam waktunya istirahat,” Angel menyentuh pelan bahu Rhea.

Rhea tersentak  bangun dari duduk nya,” omoooo , untung kau ingatkan , sebentar lagi kakak-2 ku pasti kebingungan mencariku.” Ucap Rhea sembari bergegas hendak meninggalkan tempat itu, sedetik kemudian dia membalikkan badanya,” Angel-aa apa kau akan tetap di sini?”

Angel tersenyum menatapnya,” Anhii,  sebentar lagi aku juga harus kembali.”

‘’Oooooo,’ kalau begitu aku pergi dulu, gumawo telah menemaniku melihat bintang malam ini.”
 
Angel mengangkat tangan kenannya ke atas,” chonmaneyo.”

Sepeninggal Rhea, Angel sendirian terpekur menatap bintang,” Rheaa, gadis kecilku,bidadariku, sampai akhir pun jiwa ini akan menemanimu.
Jiwa sekuntum Dandelion yang setia melindungi dan menjagamu, saatnya aku kembali.’’

Sedetik kemudian tubuh Angel berangsur lenyap menipis bagaikan sebuah kabut, dan menjelma menjadi sekuntum Bunga Dandelion yang bersinar terang.






Istana Gaea / Goddess Of Fertility Palace
 
 
“ Omoooo, ada angin apakah sehingga  Sang Dewa Masa Depan datang berkunjung? Tidak ada seorangpun yang datang kemari, kecuali dengan kemauan besar, ada apa Theron hingga kau menyhambangi istanaku?,’’ Sambut Dewi Ghai,atas kemunculan Theron di istananya.

“ Kalau aku punya persediaan sudah pasti akan kusajikan  anggur kesukaanmu.” Sambung Dewi Ghaia seraya mempersilakan Theron duduk.

“ Dengan arak inipun sudah cukup Ghaia,aku datang terburu-buru, ada sebuah cerita yang ingin kubagi denganmu.”

“ Woo hooo kamu datang tergesa gesa? Tentunya bukan hanya untuk urusan sepele bukan?

‘’ Nee, jadi inti dari kedatanganku ini  bukan hanya kunjungan biasa dan untuk bersenang senang, tapi kita perlu membicarakan sebuah rahasia.” Kamu pasti ingat perang laut 5 tahun silam bukan? Dan kamu …  bahkan kita semua para Dewa pasti melihat bagaimana Zeva beraksi, bukan?’’

“ Yaa, aksi Zeva , kita semua melihatnya dengan jelas dari wadah air suci Argya .”

“ Syukurlah kamu menyadari kemana arah pembicaraan kita, karena itulah aku menemuimu, daripada menemui dewa dewa lain yang juga terlibat dalam maslah ini.”

“ Kalau begitu , kuharap kamu mengerti , dan menyadari akan satu hal yang sama seperti yang aku pikirkan.”

‘ “ Hemmm menarik, seingatku kamu yang paling sering menghindari masalah itu , Theron.”

 “ Biar ribuan tahun berlalu, bagaimana aku bisa melupakan kisah besar sepenting itu, lahirnya Zeva Sang Dewa Perang dan Kehancuran.”lanjut  Theron memulai kisahnya.

“ Sebenarnya dari 11 Dewa yang hadir itu sudah cukup, untuk mengisi kekosongan yang ada dalam diri Zeva,  tapi saat itu aku berpikir bahwa sebenarnya itu belum lengkap ,tanpa kehadiran Sang Dewa Kegelapan. Karena asumsiku kita Dewa Terang tidak lengkap tanpa dewa Kegelapan, yang kalau diperhatikan cuma satu perbedaannya yaitu beda tempat sucinya saja.”

“ Oh… jadi artinya kamu yang mengusulkan ide menarik  itu, mengikut sertakan Dewa Kegelapan dalam  kepribadian Zeva,…. Heemmm menarik.”  Ungkap Dewi Ghaia dengan senyum mengerti.

“ Jadi bisa dikatakan Sang Dewa Masa Depan Theron yang bijak  namun  tidak bisa dipercaya secara pribadi menceritakan kebenaran yang penting.”

“ Jangan bercanda Ghaia, aku juga bisa berbuat salah, aku menjadi Dewa Masa Depan karena rasa ingin tahuku , dan itu menjadi siksaan bagiku sebagai seorang Dewa..”

“ Neeee, arraso, aku jadi ingin tahu, kejadian yang besar itu intinya kau anggap sebagai apa ? suatu kecelakaan?”

“ Begitulah , itu kesalahanku dan aku anggap sebagai aibku, kejadian itu begitu membekas.”

“ hohohoho, Theron? Sekarang kamu begitu jujur, apa sedang berhati baik?’

“ Begitulah inti dari semuanya, aku sengaja datang kemari untuk masalah itu, karena aku yang meminta kalian untuk ikut andil dalam proses diciptakannya Zeva.”

“ yang mana satu kesalahan yang paling fatal  adalah mengikut sertakan Sang dewa Kegelapan, Jiwa kegelapan dari jiwa para perusuh. “

“ Penetapan wataknya itu seakan akan menujukan bahwa Dewa Kegelapan memang seperti itu. Kalau dia mempengaruhi perasaan dan perbuatan manusia, lalu apa yang menjadikannya sebagai Dewa?.” Theron kamu tidak dilahirkan untuk menyadari sesuatu setelah semuanya terjadi bukan?”

“ Ghaia?  Kelahiran Zeva dipengaruhi Helios (Planet Matahari). Dengan kekuatan itu, dia mampu menyerap keburukan itu? Dan perlu kamu tahu, aku tidak bermaksud menjadikannya sejauh itu,” Theron  berteriak berang.

“ Jadi dengan kata lain watak penghancur Zeva akan bisa diredam karena pengaruh helios?”jawab dewi Ghaia berusaha bersikap setenang mungkin.

“ Nee, satu hal lagi kekuatan Zevaa akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya usia kita (12 Dewa yang ikut mengisi Kepribadian Zeva) .”Karena aliran roh ke-12 Dewa  telah bercampur dengan roh-nya, yang mana akan membuat dia semakin bertambah kuat dan tangguh, sementara kita akan kehilangan kekuatan dan rapuh, semuanya terserap di dalam jiwanya”

“ Lalu adakah suatu solusi untuk mengakhirinya, Theron?” Kuharap dugaanku tidak pernah keliru, kau tentunya telah mempunyai satu jalan untuk mengatasinya bukan?” tandas Dewi Ghaia  .

Theron menjentikan jari tangannya,” Tepat sekali Ghaia, daya nalarmu begitu cemerlang, hal inilah yang aku suka darimu, pintar dan cepat tanggap.”

“ Sebenarnya ini bukan kehendakku, karena ini berhubungan dengan takdir.” Kau tahu bukan Takdir Yang Maha Kuasa adalah sebuah ‘’Titah’’.

“Takdir seorang Zevaa adalah Perang dan Kehancuran, untuk saat ini hal  itu yang lebih mendominasi, karena dia sedang berada di jalan takdir itu, sehingga pribadi dia yang pemberontak lebih kuat menguasai jiwanya, Sehingga satu jalan takdir yang lain tertutup oleh semua itu.
“ Ya …. Takdir Zeva dengan seorang anak manusia.” Anak gadis manusia inilah yang nantinya akan meredam aksi Zeva.”

 “ Tahukan kau siapa gadis takdir Zeva itu?” Tanya Dewi Ghaia.

“ Rhea Feodhora, dia  sebatang kara, orang tuanya meninggal dalam perang laut 5 tahun silam, tapi dia berhasil diselamatkan si Eleanor, sekarang dia tinggal bersamanya  di Di White Lotus.”

“ Sekarang yang menjadi pertanyaanku, bagaimana caranya kau akan mengantar Zeva pada takdirnya itu?”

Seperti tersiram sebongkah salju, Theron sedikit menggigil mendengar itu, bagaimana tidak? Membawa Zeva menuju takdir cintanya? Bagaimana carinya? Ottoke?
 



End of Chapter 1 - TBC to d next Chap




Pojok Cerita
miannn, lama baru upadate chap perdana  [sweat],
banner nya gw ganti, coz banner yg kmaren keknya lebi pas bwat next chap ^^
di chap ini, mungkin msiy sedikit membingungkan, coz msiy awal-2 pengenalan tokoh [sweat]
dan Zevaa,belon keluar di chap ini, kmungkinan baru nungul di chap 3 nanti^^
akhirr kata ditunggu review dan comment -nya ^^ gumawooo :)






‘’ I don’t  need anyone else ,
" I never leaned on anyone but me”
“ I always took pride standing on my own two feet ”
 “ Cause I’m Stronger  than anything “

" I’m Zevaa - [ The God Of War ] "